I Just Can’t Stop Loving You

I Just Can’t Stop Loving You

 I Just Cant Stop Loving You_PF

by amymoet │Genre: AU, Romance │Length: One Shot │Rated: PG 13

Cast: Kim Myungsoo (INFINITE’s L); Hyeri (OC); and support cast

 ***

Hmmm…. Aku bayangin L lebih tua dikisah ini. Bukan tua juga siii, tapi bukan 92line. Aku bayangin dia cowok 28 tahunan, kayak di Cunning Single lady gitu *malu* *tutup mata* Well, anggap saja begitu ya. Idenya author suka aneh-aneh. Wkwkwk

Udah pernah dipublis di SOFF

***

Myungsoo hanya bisa tertegun mendapati pintu rumah ditutup di depan wajahnya. Ia bahkan merasa sebuket bunga dipelukannya seketika mendadak layu. Apa salahnya? Apa ia melupakan sesuatu yang penting? Hmm, dia sama sekali tidak memiliki ide, apa yang membuat Hyeri—kekasihnya—memusuhinya. Hyeri bahkan tak peduli padanya yang telah menunggu satu jam penuh di depan apartemen gadis itu.

Gadisnya langsung memberenggut begitu mendapati Myungsoo di depan pintu apartemen. Dan, wuus, seperti angin, gadisnya langsung masuk ke dalam tanpa melirik Myungsoo. Seolah Myungsoo adalah makhluk tak kasat mata.

Myungsoo mengerjap. Menatap dalam diam pintu di hadapannya. Sebelah tangannya terulur hendak memencet bel. Tapi, ia tahu, gadisnya tak akan membukanya. Tidak, sampai gadisnya memaafkannya. Memaafkan atas kesalahan—entah apa—yang dibuatnya.

“Hyeri-ya,” desah Myungsoo.

Dengan lunglai, Myungsoo berbalik. Melangkah pergi seperti kalah perang. Sebenarnya, kesalahan apa yang sudah dilakukannya? Apa ia lupa ulang tahun gadisnya? Tidak, ulang tahun gadisnya sudah lewat dan mereka merayakan bersama. Hari jadi? Bukan juga. Lalu apa? Apa ia lupa janji? Seingatnya, ia tak berjanji pada gadisnya untuk berkencan atau apa pun. Toh mereka baru bertemu seminggu yang lalu. Minggu lalu, mereka masih baik-baik saja.

Myungsoo hendak membuka pintu mobil saat sesuatu melintas di benaknya. Seketika matanya terbelalak. Tidak mungkin!

Gadisnya salah paham! Ia harus menjelaskan secepatnya. Tapi, tentu saja ia ragu. Apa gadisnya akan menerima penjelasannya. Di saat seperti ini, justru terdengar seperti pengakuan kesalahan. Alasannya akan terdengar mengada-ada. Myungsoo yang hendak menaiki tangga apartemen mendadak berhenti. Ia harus meminta maaf dengan cara lain.

***

Myungsoo menjatuhkan diri di kursi berlengan. Menatap datar kotak besar di meja kecil di tengah ruangan. Semua berasal dari itu.

Kotak besar itu, berisi puluhan hadiah yang pernah Myungsoo berikan pada Ahjung. Kemarin, Ahjung datang sambil membawa semua itu. Huh, seolah ia lah yang meninggalkan Ahjung, padahal kenyataannya, Ahjung yang mendepaknya setelah bertemu dengan Howon.

Myungsoo sendiri heran, kenapa pula Ahjung mesti repot-repot mengantarkan barang-barang itu. Kalau memang tak ingin menyimpannya, kenapa tidak membuang atau membakarnya saja? Itu jelas lebih praktis.

Setelah meminum segelas wine, Ahjung pulang. Dan, saat itulah masalah ini terjadi. Ahjung meminta pelukan selamat tinggal. Awalnya dirinya ragu. Benar-benar seperti dirinyalah yang mencampakkan Ahjung. Jadi, terjadilah pelukan itu. Rasanya sulit untuk menolak permintaan Ahjung. Selalu seperti itu, dari dulu. Pelukan itu, entah berapa lama terjadi. Ahjung memeluknya dengan erat, seolah tak mau melapaskan.

Tapi, bagaimana Hyeri tahu kejadian itu? Apa ada seseorang yang memberitahunya? Atau, apa semalam Hyeri datang? Bukankah Hyeri bilang akan berada di kantor redaksi semalaman?

Oke, tidak penting bagaimana gadisnya itu tahu. Yang penting sekarang adalah ia harus mendapatkan maaf dari Hyeri. Tapi, bagaimana caranya?

Pada saat itu, matanya menangkap gitar di sudut ruangan. Tring! Lampu ratusan watt menyala di otaknya. Ia bangkit, mengambil gitar kesayangannya. Menit berikutnya, ia sudah berkutat dengan gitar, kertas partitur, dan pinsil. Jemarinya lincah bermain di senar gitar. Memetiknya hingga menemukan nada yang diinginkan. Kemudian mencatat nada dalam kertas partitur.

***

Hyeri mencorat-coret kertas dengan kesal. Harusnya, ia memperbaiki desain cover sebuah novel. Tapi, ia sama sekali tak memiliki ide untuk melanjutkan menggambar. Sebenarnya, ia sudah selesai membuat desain sejak empat minggu yang lalu. Tapi ketua desain tak menyetujui desainnya. Ia meminta perbaikan di sana sini. Huh?!

Kemarin, ia berencana menyelesaikan semuanya. Makanya, ia bilang pada Myungsoo akan berada di kantor semalaman. Tapi, idenya macet, sehingga ia memutuskan untuk menemui Myungsoo dulu. Ia berharap dapat menemukan ide jika bertemu dengan kekasihnya.

Malangnya, untung tak dapat diraih. Saat ia berbelok di koridor apartemen Myungsoo, ia melihat kekasihnya sedang berpelukan dengan seorang perempuan—yang sangat dikenal Hyeri—di depan pintu masuk. Pelukan itu terlalu lama untuk disebut sebagai ‘pelukan biasa’.

Ia tak bisa melihat wajah Myungsoo, karena Myungsoo membelakanginya. Tapi, ia tak perlu melihat wajahnya. Untuk apa? Melihat senyum pengkhianatan? Tidak butuh!

Sebelum pelukan itu berakhir, Hyeri sudah terlebih dahulu pergi. Ia marah! Menangis? Tidak, itu bukan gayanya. Ia lebih suka memukul. Setidaknya emosinya tersalurkan.

Jadi, bukannya mengerjakan desain, semalam, ia justru pergi ke tempat latihan bisbol. Sambil membayangkan bola yang melayang dari mesin adalah Myungsoo, ia memukul dengan membabi buta. Mengumpat, mengeluarkan emosi. Setelah lelah, ia pergi ke sauna. Ia tak ingin pulang dan mendapati dirinya sendirian di rumah. Itu akan membuatnya terlihat menyedihkan.

Sebenarnya, mood-nya sudah cukup baik tadi pagi, apalagi setelah sarapan sup hangat. Tapi, begitu mendapati Myungsoo berdiri di depan pintu apartemennya, mood-nya kembali melesak ke dasar bumi. Sekuat tenaga ia mengabaikan Myungsoo dan melangkah cepat menuju apartemen. Membuka serta membanting pintu sebelum Myungsoo berbicara.

Sayangnya, meski ia mencoba mengabaikan Myungsoo, ia tak bisa mengabaikan bayangan-bayangan menyebalkan itu dari kepalanya. Huh?! Kenapa harus perempuan itu? Jika bukan dia, mungkin ia bisa tetap fokus membuat desain. Bisa sedikit menyingkirkan rasa sakit hatinya. Sayangnya, itu dia. Jung Ahjung. Penulis novel terkenal. Mantan kekasih Myungsoo. Dan, pengarang novel Sweet Summer yang desain covernya sedang dikerjakan Hyeri. Kurang buruk apa lagi?!

Hyeri benar-benar tak ingin melanjutkan revisi desainnya. Ia ingin mengalihkan tugasnya itu pada rekannya yang lain. Jika saja itu mungkin. Sayangnya, mustahil. Semua rekannya juga sibuk mendesain. Memang hanya satu novel yang akan terbit?! Terlebih, kepala desain pasti akan memenggal kepalanya jika ia melalaikan tugas.

“Aaarrgghhh!” Hyeri mengacak rambut, frustrasi.

Ia bangkit, melangkah lebar menuju kulkas. Berharap ada sebotol soju di sana. Binggo! Di kulkasnya yang hampir kosong—karena ia selalu lupa berbelanja—masih ada sebotol soju. Ia mengambil botol hijau itu dengan senyum tersungging lebar. Biasanya, ia tidak membiarkan dirinya meminum alkohol saat bekerja, tapi kali ini lain masalah. Ia perlu sedikit alkohol untuk menyelesaikan tugasnya.

Benar saja, soju membuatnya sedikit lebih baik. Ia berhenti minum setelah gelas ke dua.

“Cukup,” katanya. Jika dilanjutkan, ia akan mabuk dan justru tak bisa berkonsentrasi. Ia tipe yang tidak jago minum. Ia akan mabuk di gelas ke empat.

Semalaman, ia terjaga. Menyelesaikan revisi desain. Ia berhasil mengesampingkan perasaan kesalnya. Semoga kali ini, kepala desain puas dengan hasilnya. Ia sudah tidak ingin berurusan dengan desain cover untuk Jung Ahjung!

***

Myungsoo terbangun dengan lengan memeluk gitar. Ia meregangkan otot-otot sambil menguap. Tidur jam berapa ia semalam? Entah lah. Sepanjang malam ia menyelesaikan lagu untuk meminta maaf pada Hyeri. Syukurlah, lagu itu berhasil diselesaikannya.

Masih dengan mengantuk, ia melirik jam. Seketika itu juga, ia terkesiap. Jam delapan pagi, padahal ia harus berada di studio jam sembilan untuk rekaman. Seorang idol yang dikenalnya akan menyanyikan lagu ciptaannya. Mereka sepakat akan rekaman di studio jam sembilan.

Secepat kilat Myungsoo bangkit, mengganti baju, cuci muka serta menggosok gigi seperlunya, kemudian melajukan mobilnya di jalan raya. Semoga tidak terjebak macet.

***

Hyeri mampir di kedai kopi dekat kantor redaksi. Ia butuh caffeine untuk mengusir kantuknya. Semalam, ia tidak tidur sama sekali! Ah, belum apa-apa, ia sudah merindukan ranjang. Jika urusan desain selesai hari ini, nanti malam, ia bisa tidur nyenyak. Semoga saja semuanya lancar, ia akan langsung tidur begitu pulang kerja nanti.

***

Myungsoo menarik tas gitar dari jok belakang. Ia sedikit berdebar-debar membayangkan apa yang akan ia lakukan. Sedikit tidak percaya diri. Tapi, sudahlah. Cinta kan memang pelu diperjuangkan.

Ia menaiki tangga gedung apartemen Hyeri. Tapi, bukannya masuk ke dalam gedung apartemen, ia justru duduk bersila di dekat pintu masuk. Mengeluarkan gitar kesayangannya sambil mencari posisi nyaman.

Myungsoo melirik jam tangan, bernafas lega karena ia tidak terlambat. Gadisnya pasti belum pulang. Tadi, hampir saja ia terlambat. Rekamannya berjalan tak terlalu baik. Banyak part yang harus diulang. Dan, sebenarnya recording belum selesai, tapi karena si idol ada jadwal lain, rekaman dilanjutkan besok. Syukurlah. Dengan begitu, ia jadi bisa mencoba menyanyikan lagu ciptaannya sebelum benar-benar menyanyikannya di depan Hyeri.

Myungsoo mulai memetik senar gitar. Berdehem beberapa kali, berharap suaranya cukup bagus. Ia mulai menyanyi, tetapi bukan lagu utama. Ia memilih lagu lain, sengaja, untuk mengumpulkan massa. Ia tidak berharap mendapat banyak penonton, toh ia bukan melakukan pertunjukan di Hongdae, Myeongdong, atau di panggung. Tapi, ternyata cukup banyak yang mengelilinginya. Ia jadi bersemangat. Kini, yang ia harapkan, Hyeri mau melihatnya. Mendengar lagunya.

Sudah dua lagu yang dinyanyikan Myungsoo, tapi ia masih belum melihat Hyeri. Ia jadi cemas, jangan-jangan Hyeri sudah lewat dan masuk gedung apartemen tanpa peduli dengan kehebohan yang ditimbulkannya. Dari tadi, meski ia menatap pintu masuk, tapi ia tak benar-benar bisa melihat siapa saja yang lewat. Pandangannya terhalang oleh orang di sekelilingnya.

“Hyeri-ya, tolong lihat aku,” jerit hati Myungsoo.

Tepat saat lagu ketiga berakhir, Myungsoo melihat sosok itu. senyumnya seketika mengembang. Jantungnya mulai melonjak-lonjak tak beraturan. Semoga berhasil.

***

Awalnya, Hyeri akan langsung menuju apartemennya dan tidur. Harinya cukup berat dan melelahkan. Terlebih ia begitu mengantuk. Ia sampai meneguk lima gelas kopi seharian ini. Untungnya, desainnya disetujui kepala tim. Dan sebentar lagi naik cetak. Ahh, leganya. Meski selesai dengan satu desain, bukan berarti ia bisa liburan, tentu saja masih ada novel-novel lain yang harus ia buatkan desain covernya. Jadi, ia benar-benar perlu tidur.

Tapi, kerumunan di depan gedung apartemen mengusiknya. Ia sudah di pintu masuk gedung apartemen saat hatinya meminta untuk tinggal sebentar. Baiklah, hanya sebentar. Hanya untuk menilik, apa yang berada dibalik kerumunan itu.

Hyeri menyeruak kerumunan. Memanjangkan lehernya demi memenuhi rasa penasaran. Begitu ia melihat siapa yang duduk bersila dengan gitar di pangkuan, matanya terbelalak tak percaya.

“Apa yang dia lakukan disini?” gumam Hyeri tak jelas. Sementara itu, Myungsoo, yang berada di tengah kerumunan angkat bicara.

“Dua hari yang lalu, aku melakukan kesalahan. Menyakiti hati kekasihku. Tapi, aku tidak sengaja melakukannya. Sungguh. Aku ingin meminta maaf. Dengan lagu ini, aku harap ia mau memaafkanku. Lagu ini, spesial aku buat untukmu, Hyeri-ya.”

Saat mengucapkan nama Hyeri, Myungsoo mengerling ke arahnya, membuat semua yang berkumpul ikut menatapnya. Hyeri menelan ludah tidak percaya. Apa-apaan itu? Ia hendak mundur dan pergi, tapi sesuatu menahannya.

Suara petikan gitar yang begitu lembut, menelusup ke setiap bagian tubuh Hyeri. Membuatnya ingin mendengar keseluruhan dari lagu—yang katanya tercipta untuknya. Hyeri mendengarkan suara lembut Myungsoo.

Tak ada kata rayuan, atau pujian, hanya ketulusan permintaan maaf. Dan syair penutupnya berbunyi:

Jangan berhenti mencintaiku, karena aku tak bisa berhenti mencintaimu. Aku hanya tak bisa berhenti mencintaimu.

Terdengar begitu manis bukan?!

Hyeri terpaku di tempat. Ia memang tak membutuhkan kata-kata rayuan yang berlebihan. Atau pujian yang mengada-ada. Dan Myungsoo, tahu benar akan hal itu. Lagu itu, mampu menghapus adegan berpelukan Myungsoo dan Ahjung.

Mendadak suasanah menjadi hening. Kerumunan disekitar juga diam, seolah menanti apa yang akan terjadi.

Myungsoo meletakkan gitanya. Bangkit berdiri dan mendekati Hyeri.

“Hyeri-ya, maaf. Yang terjadi kemarin lalu itu, tidak seperti yang kamu bayangkan.”

Hyeri masih tak bereaksi.

“Lagu tadi, aku ciptakan untukmu. Spesial. Karena kamu begitu spesial.”

Meski sebentar lagi musim gugur, tapi Hyeri merasa hari ini adalah musim semi. Dan, kelopak bunga sakura berguguran di sekitarnya.

“Maafkan aku, saranghae.” Myungsoo melebarkan tangan.

Apa yang bisa Hyeri lakukan dalam kondisi seperti itu? Berlari pergi? Tentu tidak! Setelah menggigit bibir ragu, ia mendekat. Menyusup dalam pelukan Myungsoo. Seketika suasanah berubah riuh.

Hyeri lupa, ada sekitar dua puluh orang di sekitarnya. Ia menarik diri, berniat melepaskan pelukan. Tapi, Myungsoo menahannya. Sehingga ia pasrah. Menenggelamkan wajah di dada bidang Myungsoo.

Pertunjukan kecil itu selesai. Kini, keduanya berada di apartemen Hyeri. Duduk berpelukan di sofa. Hyeri menyandarkan kepalanya di dada Myungsoo. Terasa begitu nyaman. Ia memainkan jemari Myungsoo di genggamannya. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia bahkan tak bisa bertanya apa yang sebenarnya terjadi kemarin lalu. Ia cukup tahu, kekasihnya bukan berencana untuk mengkhianatinya, ia tak ingin mendengar alasan. Takut akan menimbulkan pertengkaran baru.

Tiba-tiba, ponsel Myungsoo berdering. Ia menariknya dari saku celana. Menatap layar. Karena posisi pelukan mereka, Hyeri dapat melihat nama yang tertera di layar. Seketika ia bangkit, berbalik menatap Myungsoo.

Oppa!” rajuknya.

“Bukan apa-apa, sungguh.” Myungsoo terlihat salah tingkah. Kemudian ia melempar ponsel ke meja. Menarik tubuh Hyeri dan mengecupnya.

“Dia hanya mantan kekasih. Kamu lah kekasihku!”

Hyeri tidak menjawab. Bagaimana ia bisa menjawab, jika bibirnya terkunci?!

_END_

PS: Maaf kalo judulnya kurang cocok sama isi cerita. Tadinya mau di kasih judul I’m Sorry, tapi malah kepikiran lagunya BEAST, jadi ganti.

Advertisements

2 thoughts on “I Just Can’t Stop Loving You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s