대한 왕자 (Daehan Wangja)

대한왕자

Daehan Wangja

[Lives of Korean Prince]

A Prologue

Daehan wangja - Lee Junki

By :
♔ Chelsea ♔

| Kingdom, romance, family | PG 17 | 1.600+ words / Series |

Starring :

cast wangja

 

Annyeong Elegances!

Here I bring a prologue of my upcoming series story which was originally written on 2012 entitled “Wangseja”, means Crown Prince. It was a pure fiction then I rearrange into a fan fiction. But this part is written today. The previous modern kingdom story (Daehan Gongju), doesn’t have any corellation with this one.

Hopefully you’ll enjoy this story and I apologize or any mistakes.

대한왕자

Vondelpark, Amsterdam, 2013

Langit yang menaungi kota Amsterdam memamerkan warna biru cerah seolah tanpa batas, begitu serasi dengan pepohonan yang berdaun penuh. Nuansa colourful spring berkilau terang oleh bunga beraneka warna dan dedaunana hijau. Kebun Tulip memamerkan kecantikannya membuat setiap mata tergoda untuk meliriknya. Di antara begitu banyak pengunjung, seorang lelaki bermata sipit dan tajam duduk di atas rumput. Dia berbicara pada seorang lelaki berambut hitam yang sedang membidikan kamera ke arah sungai di seberang jalan kecil.

“Junki Hyung, aku bermimpi punya kehidupan sepertimu,” ucap lelaki yang membidikan kamera itu. “Hidup hanya untuk keluarga dan bebas bepergian ke tempat umum seperti ini.”

Lee Junki tertawa kecil. Diliriknya seorang perempuan yang sedang bersepeda bersama gadis kecil lewat di depan mereka. Gadis kecil itu melambai padanya dan tentu saja Junki juga balas melambai. Saudara sepupu Junki memotret adegan tadi.

“Seperti bagaimana?” tanya Junki sambil menoleh.

Lelaki yang memakai tees panjang motif garis hitam putih dengan syal abu yang melingkari lehernya itu memperlihatkan foto yang baru saja dia capture dengan digicam-nya.

“Seperti ini. Hyung pasti bahagia melihat senyuman ceria mereka,” jawabnya tidak begitu jelas.

Lee Junki tersenyum lebar melihat foto istri dan anaknya yang barusan lewat di depan mereka.

Daegun[1], apa berarti kau akan pulang ke Korea?” tanya Junki

Lelaki yang disebut Daegun itu menoleh dan tersenyum lebar. Sepasang mata indahnya tampak mengecil saat dia tersenyum.

“Aku bosan mendengar bujukan Eomma dan Raja untuk pulang.”

“Pulanglah, Daegun. Ibumu pasti sangat merindukanmu,” ungkap Junki.

Hyungnim, kenapa kau senang sekali memanggilku Daegun?” keluh lelaki yang sudah lebih lama tinggal di Eropa dibanding sepupunya itu. “Apa dosa bagimu memanggil namaku? Lagi pula aku bukan raja, Junki-gun.”

Junki tertawa mendengar akhiran –gun di belakang namanya.

“Selain ayahku, hanya kau yang punya gelar Daegun di Korea. Jadi kapan kau akan pulang?” tanya Junki yang tak kalah kasual dari sepupunya dengan balutan blue jeans, T-shirt, dan rompi.

Daegun menyeringai dingin. “Tahun ini. Mungkin aku akan mengajar di Sungkyungkwan.”

Pangeran itu belajar di Inggris sampai menyelesaikan pendidikan magister di usia 23. Lalu dia mengambil program doktoral di Jerman.

“Baguslah. Semoga setelah kau pulang, orang yang menghasutku untuk mendekati tahta akan bosan,” ucap Junki.

Daegun tertawa. Mereka banyak membicarakan topik ringan seperti kehidupan masing-masing dan keluarga mereka.

Beberapa saat kemudian, gadis kecil berumur lima tahun lari menghampiri mereka dan langsung merangkul Junki.

Appa!” panggilnya gadis bernama Lee Chaemi itu manja.

“Chaemi-ya,” panggil Daegun. “Mau beli es krim?” tawarnya sambil merentangkan tangan.

Gadis imut yang memakai dress bahan katun itu tersenyum ceria dan segera berlari ke pelukan pamannya.

“Kau punya bakat mencuri hati perempuan,” ucap Park Hasun, istri Junki yang duduk di samping Junki.

“Chaemi mengkhianati ayahnya, Noonim,” komentar Daegun lalu memangku Chaemi dan beranjak dari sana.

Adik raja yang tinggal di kota Munchen itu sengaja terbang ke Belanda dan tiba tadi pagi di Amsterdam. Dia mendengar sekelompok orang mendatangi Lee Junki. Junki merasa tidak nyaman setiap ada orang yang membahas statusnya sebagai anggota keluarga raja.

Kini Junki membuang napas berat dan mendaratkan tatapannya jauh di permukaan air sungai seberang jalan.

Mianhae. Aku tak bisa memberikan kalian kehidupan yang damai.”

Hasun tersenyum lembut. “Oppa adalah suami dan ayah terbaik. Oppa memutuskan tinggal di luar negeri demi kami, kan? Oppa juga tak tertarik dengan urusan kerajaan karena hanya ingin menjadi ayah yang hanya mengurus anaknya “

Junki tersenyum. Perasaannya sedikit lebih tenang. Dia hanya seorang lelaki yang punya impian sederhana, hidup bahagia membangun keluarga bersama perempuan yang dicintainya.

Lee Junki-gun[2] adalah anak Lee Hyojeongdaegun, paman raja. Sudah lima tahun, Junki tinggal di Belanda begitu dia menikah. Dia bosan dengan hasutan orang-orang yang tak menyukai kepemimpinan raja. Mereka ingin Junki mengganti kedudukan raja yang sekarang. Junki merasa itu hanya usaha memecah belah keluarga kerajaan.

Menjelang sunset, Junki dan sepupunya duduk di Blauwe Theehuis, sebuah tea room yang berada di kawasan taman. Hasun sedang menemani Chaemi ke kamar kecil. Mereka berbincang sambil menikmati teh dan cake di meja teras lantai atas. Dari sana, orang bisa melihat pemandangan taman.

“Kalau orang-orang itu mencarimu untuk provokasi, anehnya tak ada yang merayuku untuk menjadi pewaris tahta.”

Lee Junki tertawa. “Geurae. Karena itu, semua alasan yang mereka ungkapkan padaku hanyalah bualan. Mereka bukan ingin mengganti raja tapi ingin menghancurkan kerajaan.”

“Padahal raja cukup jinak,” komentar daegun.

Junki tertawa kecil mendengarnya. “Sudah lama aku tak bertemu Raja. Menurutmu siapa di balik orang-orang berkedok demi negara yang datang merayuku itu?”

Jayu?” tanya lelaki itu santai, menyebut nama kelompok teroris yang diduga ingin meruntuhkan kerajaan Korea.

Junki tersenyum kecil. “Siapapun itu. Mereka tak mungkin bergerak tanpa dukungan. Jayu sejak dulu ingin melenyapkan kerajaan. Usaha seperti itu adalah hal menarik bagi pihak-pihak tertentu.”

“Selama aku hidup, aku akan melindungi keluargaku,” ucap lelaki berumur 27 itu.

Junki tertawa sejenak. “Mengingat usaha mereka nyaris berhasil melalui tangan penjajah Jepang, mereka akan mengancurkan kita seperti kerajaan Perancis,” ucap Junki.

Lawan bicaranya tampak hanya ingin menyimak dulu dan Junki pun melanjutkan.

“Teroris atau pemberontak di negara manapun, mereka tak bergerak sendiri. Pasti ada backing. Bahkan mereka berhasil membelah Korea jadi dua. Kita tidak sekuat Jerman yang mampu meruntuhkan tembok pemecah itu.”

Lelaki yang juga punya mata tajam itu menyeringai mendengar pemaparan Junki barusan.

“Apa setelah kita terbelah dua, masih tertarik menghancurkan sebuah kerajaan negara kecil? We aren’t France nor Germany.”

Junki tertawa. “Apa aku perlu menyebutkan satu per satu negara yang pemimpinnya ditumbangkan dengan berbagai alasan yang dibuat-buat? Entah itu tuduhan kejahatan, pelanggaran HAM, korupsi, dan kepemilikan senjata ilegal. Seolah tidak boleh ada pemimpin kuat di sebuah negara.”

Daegun tertawa lagi. “Tapi raja kita bukan pemimpin yang kuat.”

Junki menyeringai. “Kau membicarakan kakakmu sendiri, eoh?”

“Bukan begitu. Ah tampaknya Hyung terlalu banyak membaca sejarah,” candanya.

Junki menyeringai. “Kau harus tahu, aku tidak pernah percaya pada sejarah.”

Daegun memberikan tatapan menyelidik. “Apa itu berarti Hyung tidak percaya leluhur kita Lee Songgye mendirikan Joseon? Atau Hyung tidak percaya Yonsangun dan Jang Okjung melakukan tindakan kejahatan? Termasuk cerita Deokhye Gongju?[3]

Junki tertawa kecil. “Kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi. Yang aku fahami, sejarah sering kali direkayasa untuk kepentingan kaum tertentu. Misal tentang Marie Antoinette dan Raja Louise. Mereka dijebak untuk menggelembungkan hutang dan berfoya-foya. Upaya sukses menghapus kerajaan Perancis. Kenapa kau ambil empat contoh fakta kerajaan kita?”

Daegun tersenyum lebar. “Keureom, Hyung meragukan kebeneran semua tragedi yang terjadi di dunia?”

Zeker,” jawab Junki (tentu). “Bahkan aku setuju salah satu pernyataan Hitler, bahwa faham komunis dan liberalis diciptakan untuk memecah belah dunia.”

Daegun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tentang hal itu, aku sangat setuju. Dua faham itu bagaikan woldo yang akhirnya membelah Joseon atau Daehan jadi dua, Utara dan Selatan. Terjadi perang saudara dan sampai sekarang ketegangan bisa meledak kapanpun.”

Junki menghela napas setelah menyesap teh. “Sebelum itu terjadi, kerajaan kita nyaris hilang seperti yang dialami Perancis.”

“Otak di balik semua itu pasti seekor iblis atau iblis yang berada dalam otak manusia,” ungkap lelaki bergelar pangeran agung itu.

Het is volkomen terecht,” tanggap Junki. (Itu tidak diragukan). “Pada dasarnya manusia hanyalah makhluk lemah yang mudah diperdaya.”

“Tentang hal itu, kadang aku ingin menyalahkan Tuhan yang membiarkan kita berada dalam satu dunia bersama iblis,” ucap Daegun. “Manusia sudah punya sisi jahat alami dalam dirinya, tanpa bisikan iblis pun manusia bisa melakukan kejahatan.”

Lee Junki tertawa dan keduanya mengangkat cangkir lalu menyesap teh.

“Apa setelah kau pulang, akan menerima penobatan sebagai putera mahkota?”

Daegun terbelalak. “Hyung, sudah aku katakan, aku ingin hidup sepertimu. Hanya memikirkan keluarga. Tapi, tampaknya aku akan menjalani takdir lain yang harus kulakukan untuk menangkap pembunuh ayah.”

Junki melirik sepupunya sekilas. Matanya selalu berkilat setiap membicarakan mendiang raja yang meninggal tahun 2002, tak lama setelah Piala Dunia berakhir.

Hasun dan Chaemi kembali. Belum lama duduk, Chaemi membujuk ayahnya untuk meninggalkan taman terbesar di ibukota Belanda itu. Dia ingin mengakhiri acara jalan-jalan hari itu dengan berlayar di kanal sampai malam. Gadis itu ingin menunjukan pemandangan malam Amsterdam yang indah di sepanjang kanal seperti di Keizersgracht. Chaemi ingin suatu saat nanti, Daegun akan mengajaknya jalan-jalan di Jerman.

대한왕자

 

polaroid Lee Junki

Park Hasun menata makanan untuk sarapan dibantu Chaemi. Di Minggu pagi itu, kedua pangeran sudah meninggalkan rumah Junki dengan mengendarai sepeda sebelum matahari terbit. Budaya bersepeda di kota Amsterdam sangat kental, menunjang hobi Junki di waktu senggang. Tak lama kemudian, keduanya kembali ke rumah berlantai dua di kawasan Zuid itu.

Chaemi segera menuntun Daegun menuju ruang makan. “Daegun Mama[4], aku membuatkan pudding untukmu,” ucap Chaemi pada lelaki tampan itu.

Dia tertawa lalu menggendong Chaemi. “Kenapa memanggilku begitu resmi seperti, eoh?”

Chaemi hanya tertawa. Lalu Daegu mencium pipi chubby gadis itu dengan tatapan penuh rasa sayang.

“Kau sudah pantas jadi ayah,” canda Hasun.

“Benar, Samchon. Kalau Samchon punya anak, aku punya teman bermain,” ucap Chaemi polos.

Lelaki itu mendudukan Chaemi di kursi dan dia duduk di sebelahnya. “Paman belum menikah, Chaemi-ya,” ucapnya sambil mencubit gemas kedua pipi Chaemi.

“Setelah sampai di Seoul, aku yakin Daebi Mama[5] akan segera menikahkanmu dengan seorang gadis,” ucap Junki yang baru saja duduk di kursinya.

Lelaki itu tergelak mendengar ledekan sepupunya. “Hyung, menikah bukan alasanku pulang ke Seoul. Aku bukan pangeran yang hidup di zaman Joseon klasik. Meski sudah 27 tahun, keluarga dan dewan istana tidak akan mendesakku untuk segera menikah.”

Samchon, kalau kau harus menikahi yeoja seperti eomma yang cantik dan baik,” ucap Chaemi.

“Semua lelaki pasti menginginkan hal yang sama dan ayahmu sangat beruntung mendapatkan ibumu,” tanggap lelaki yang memakai T-shirt warna hitam itu.

Lee Chaemi tersenyum lebar. “Aku akan ke Seoul kalau Paman menikah, benarkan Eomma, Appa?”

Junki dan Hasun tertawa kecil.

Ja,” jawab Hasun. (Ya)

Junki menatap sepupunya yang bercanda dan tertawa ceria bersama anak dan istrinya. Di benaknya kini terpikir apakah tawa dan senyum manis sepupunya itu akan berubah setelah dia pulang ke Seoul untuk mencapai tujuannya, menemukan pembunuh raja terdahulu.

대한왕자

TO BE CONTINUED IN A SERIES

Apa ini terasa berat karena dialog dua pangeran di atas? Don’t worry, chapter 1 dan seterusnya lebih ke adegan dibanding obrolan seperti part ini. It’s better if Elegances leave any comment. Kamsahamnida

대한왕자

 

[1]Pangeran agung, gelar yang dimiliki anak raja dan ratu

[2]Pangeran, gelar yang dimilik anak raja dari selir, atau gelar yang dimiliki anak seorang daegun

[3]Puteri kerajaan Joseon, anak raja Gojong yang dinikahkan dengan orang Jepang tapi mengalami kehidupan tragis, ditulis dalam sebuah novel berjudul Princess Deokhye

[4]Yang Mulia

[5]Ibu suri/Ratu dowager

Advertisements

5 thoughts on “대한 왕자 (Daehan Wangja)

  1. Msh perkenalan karakter, aku agak sdikit krg familiyar sm cast nya tp krn itu juga aku tertarik bgt, bahasa yg ringan, emosinya juga dapet sepertinya bakal ada conflik yg lumayan berat/ aku salah??
    Sebagai reader baru yg baru buka wp nya juga.. aku tunggu klnjutannya..

    1. Annyeong 🙂
      Welcome to our blog
      Untuk karakter, saya suka menggunakan seleb K-drama dan K-pop. Gak hanya K-pop aja.
      Konfliknya tidak terlalu berat koq
      Sayang saya belum lanjut post chapter 1 n bahkan belum buka blog lagi 😦 😥
      Kamsahamnida

  2. Msh prolog un, perbincangan mereka berat ya soal tahta 😀 itu si Daegun itu akan ada visualisasinya ga? Ini mah castnya yg di twoweeks semua , emg cocok mereka wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s