Confession

Confession

confession_2

by amymoet
Genre: Fluff, Romance │Length: Ficlet │Rated: G
Cast:
Lee Sungjong Infinite, Yoomi (OC) and Woolim (Kucing CEO Woolim ^^)

 postingan pertama di PF ^_^

Udah dipublish di SOFF (mungkin ada yang udah baca di sana) FF-nya tercipta waktu gak bisa move on dari MV Man In Love. Seneng liat member-member Infinite senyum bahagia gitu.

Well, Happy Reading

***

“Uwaaah…,” Sungjong menguap lebar. Ia merentangkan tangan, melemaskan otot. Sebelah matanya terbuka, mengintip sinar matahari yang menelusup masuk. Kesadarannya bahkan belum penuh, saat sesuatu yang basah mengenai pipinya.

“Ah, Woolim-ah.” Tangan Sungjong terulur setelah mengenali siapa yang melompat ke ranjang, menjilati pipinya. Kucing belang kesayangannya.

Kucing itu adalah hadiah ulang tahun dari sahabatnya, Yoomi. Mereka sudah bersahabat sejak kelas lima SD, sejak Yoomi pindah ke kompleks rumahnya. Persahabatan itu masih berlanjut hingga mereka kuliah.

Pagi hari tanggal tiga September, Sungjong menemukan kotak merah berbentuk hati besar di depan rumah. Dan saat membukanya, taraaa, seekor kucing belang lucu menyambutnya. Di dalamnya ada sebuah kartu. Dari kartu itulah ia tahu, kalau Yoomi yang mengirim si kucing.

Dalam kartu itu, Yoomi menulis,

Untuk sahabat yang paling ku sukai, Sungjongi.

Sahabat. Sebenarnya, Sungjong tidak terlalu suka dengan istilah itu. Karena, sejak melihat senyum Yoomi untuk pertama kalinya, hatinya sudah berdebar-debar. Ya, ia menyukai Yoomi. Ia tak ingin selamanya hanya dianggap sebagai sahabat.

Sungjong mengelus bulu Woolim penuh sayang. Mengajaknya mengobrol, seolah Woolim mengerti ucapannya.

Sambil menggendong Woolim, ia keluar kamar. Mendapati rumah sudah sepi, apa ia bangun terlalu siang?

Sungjong meletakkan Woolim di meja dapur. Ia membuka kulkas. Menarik keluar sekotak susu.

“Woolim-ah, sarapan.”

Sungjong mengangsurkan mangkuk makan Woolim yang sudah terisi susu, sementara dirinya juga menuang susu ke gelas untuk dirinya.

Sambil meneguk susunya, ia memperhatikan Woolim. Saat berikutnya, bayangan Yoomi melintas.

“Woolim-ah, kamu tahu, aku sangat menyukai orang yang telah memberikanmu padaku.” Woolim mengeong sekali. “Apa? Aku tidak bohong. Apa menurutmu, Yoomi juga menyukaiku? Ah, aku sangat penasaran.”

Woolim sudah menghabiskan susunya. Kini, Ia sibuk menjilati tubuhnya. Sesekali mengeong lemah.

“Woolim, aku sudah menyukainya sejak dulu. Apa aku harus mengungkapkannya?”

Meoooong~

Woolim mengeong panjang. Turun dari meja dan melingkar di kaki Sungjong.

“Woolim-ah, apa itu artinya kamu setuju aku menyatakan cinta? Aku memang harus mengatakannya kan? Sebelum aku tak memiliki kesempatan untuk itu?”

Tiba-tiba saja, Sungjong jadi sangat bersemangat. Ia akan melakukannya. Menyatakan cinta.

***

Satu jam penuh Sungjong mengelilingi toko, sebelum akhirnya menemukan hadiah untuk Yoomi. Hadiah untuk pernyataan cintanya. Sebuah boneka beruang besar warna putih dengan pita pink di leher. Terlihat lucu dan manis. Ia berharap Yoomi menyukainya.

Setelah memastikan Yoomi akan datang ke taman komplek, ia mulai mencari baju yang cocok. Ia membongkar isi lemari. Tapi, rasanya tidak ada baju yang cocok. Bajunya bahkan bertebaran di ranjang dan di karpet.

Sungjong duduk bersila di tepi karpet. Mendesah panjang. Apa yang harus dikenakannya? Baju seperti apa yang cocok untuk pernyataan cinta?

Meong~

Tiba-tiba Woolim mengeong dari sisi kanan Sungjong. Ia duduk di atas kaus putih dengan blazer biru. Menepuk-nepuk bajunya seolah menunjukkan pada Sungjong.

Sungjong tersenyum. Mengambil baju yang ‘ditunjukkan’ Woolim.

“Baju ini? Oke?”

Sungjong mengelus Woolim penuh sayang setelah mengganti bajunya.

“Woolim, doa kan aku ya. Semoga Yoomi juga mencintaiku.”

Setelah yakin dengan penampilannya, ia melangkah keluar rumah sambil menggendong boneka beruang besar. Sungjong memeluk boneka penuh sayang, seolah boneka itu adalah Yoomi. Ia bahkan mencium si boneka.

Sungjong duduk di satu-satunya kursi panjang di taman. Untung saja, tak ada siapa pun selain dirinya. Ia mendudukkan si beruang di sebelahnya. Membenarkan pita pink di leher beruang.

Jantung Sungjong semakin berdebar saat melirik jam tangan. Sebentar lagi. Sebentar lagi, Yoomi akan datang. Apakah ia sanggup? Tiba-tiba saja ia merasa tak bisa bicara.

“Sungjongi?” suara lembut yang sangat Sungjong kenal, memanggil dari arah belakang.

Sungjong menoleh, mendapati Yoomi di belakang. Yoomi terlihat begitu manis dengan baju musim panas warna putih. Rambutnya diikat dua. Mirip dengan Yoomi saat pertama kali Sungjong lihat.

“Yoomi-ya,” senyum Sungjong melebar. Detak jantungnya semakin menggila.

“Wuah, lucunya,” ucap Yoomi begitu matanya menatap boneka beruang di sebelah Sungjong.

“Untukmu,” Sungjong buru-buru mengangsurkan si boneka.

“Untukku?” Senyum Yoomi merekah.

“Ehm…. Yoomi-ya, aku mencintaimu.” Kalimat sakti itu, akhirnya meluncur dari bibir Sungjong. Tidak sesuai bayanganya, karena sebenarnya ia ingin mengungkapkan perasaannya sambil berlutut. Tapi, ia hanya berdiri kaku sambil menunduk. Mampu mengucapkan kata itu saja sudah cukup. Rasanya ia tak bisa bernafas.

Yoomi terkejut, tentu saja. Tapi, sepuluh detik berikutnya, ia tersenyum. Tersenyum lega. Penantiannya telah berakhir. Akhirnya, orang yang selalu diperhatikannya, mengungkapkan isi hatinya. Ia mengeratkan pelukan pada si berauang. Menyembunyikan pipinya yang merona.

_END_

 

 

 

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Confession

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s