Complexity [Part 3]

COMPLEXITY

poster new complexity
ansicangel

Drama, Family, Romance |Chapter | PG-17

Cast :

Song Joongki
Kim Junghoon
Song Nun-ah (OC)
Kang Minhwa (OC)
Byun Baekhyun (EXO-K) as Kang Baekhyun
Park Chanyeol (EXO-K) as Kang Chanyeol

Previous Chapter :

Part 1 | Part 2

This FF I present for Nana Eonni 🙂
Please, forgive me if I have mistakes *deep bow*

complexity

Minhwa meremas jemarinya. Pikirannya mendadak kacau. Ia tak mengerti apa arti semua ini. Ia baru saja menemukan sebuah bukti foto Nun-ah bersama seseorang yang disinyalir sebagai Joongki saat mereka kecil. Pikiran-pikiran negatif berkecambuk di benaknya. Apakah ini alasan Nun-ah yang sampai saat ini tak kunjung merestui hubungannya dengan Joongki?

Sebenarnya kapan Nun-ah mengenal Joongki? Mengapa Nun-ah menyembunyikan padanya selama ini? Mengapa ia tak pernah menceritakannya? Apakah Nun-ah menyukai Joongki? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berada di otaknya. Dan ini cukup membuatnya gila.

Jelas, ia cemburu. Sangat cemburu. Adiknya yang ia sayangi mempunyai perasaan khusus pada calon suaminya. Tidak, kejadian itu tak boleh terjadi. Minhwa dan Joongki saling mencintai, dan sebentar lagi mereka akan menikah. Ia tak ingin pernikahan yang sudah diatur secara matang, gagal begitu saja. Itu adalah pernikahan impiannya dan sudah cukup lama ia nantikan.

Dadanya terasa sesak sekarang. Rasanya ia ingin menangis, meraung sekeras-kerasnya jika kejadian itu benar-benar terjadi. Ia menggigit bibir bawahnya kencang dan menghentikannya segera saat lidahnya mengecap rasa asin.

Ia harus memastikannya sendiri. Ya, agar tak mempunyai pikiran macam-macam, ia harus bertanya langsung pada adiknya itu. Namun, ia tak bisa menunggu sampai Nun-ah pulang. Ia mau kepastian itu sekarang. Saat ini juga.

Dengan panik ia mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja kerjanya, berusaha menghubungi Nun-ah. Namun sayang, nomor adiknya tak dapat dihubungi. Minhwa pun berteriak frustasi melampiaskan kekesalannya.

Sementara itu di luar kamarnya, si kembar non identik si imut Baekhyun dan si jangkung Chanyeol berdiri di depan pintu kamar mereka sendiri, memandangi kamar Minhwa dengan memamerkan tampang cemas yang jarang ditunjukkan kepada orang lain. Teriakan Minhwa yang cukup keras membuat mereka mengalihkan pekerjaan mereka, bermain game. Chanyeol menggigit bibir bawahnya lalu menyenggol bahu Baekhyun pelan.

“Hyunie, Minhwa Noona tak apa-apa ‘kan? Dia terlihat marah dan kesal saat kita memperlihatkan foto Nunie Noona. Sebenarnya siapa anak laki-laki yang bersama Nunie Noona? Kenapa Minhwa Noona tak memberitahu pada kita?” cerocos Chanyeol.

Baekhyun memandang sekilas adik kembarnya dengan tampang prihatin. Dari mereka berdua Chanyeol lah yang gampang panikan dan sedikit polos. Ia akan merasa bersalah jika membuat orang lain tersinggung atau marah. Tidak seperti Baekhyun yang cenderung keras kepala dan cuek. Ia akan menghajar siapa saja yang mengganggu adiknya. Termasuk sosok seorang kakak yang amat menyayangi adiknya.

Baekhyun mengedikkan bahunya, “Molla.”

“Sepertinya Minhwa Noona mengenali anak laki-laki itu,” ujar Chanyeol, “Itu bukan Joongki Hyung, kan?”

Baekhyun terperangah mendengar penuturan adik kembarnya, “Dari mana kau mempunyai pikiran seperti itu?”

“Entahlah, aku hanya menebak saja. Bukankah di belakang foto itu, tertulis nama Ki Oppa? Kalau itu bukan Joongki Hyung kenapa Minhwa Noona tampak uring-uringan?” sahut Chanyeol menjabarkan opininya.

Baekhyun mengangguk, “Kau benar, Yeolie. Ah, tapi kita belum bisa ikut campur sekarang. Kita perhatikan kondisinya terlebih dahulu, kalau keadaan sudah genting kita harus mengambil alih.”

Chanyeol menautkan alis lalu mengangguk, “Ne.”

Sepertinya aroma detektif ala mereka sudah bisa tercium. Lalu tiba-tiba Chanyeol teringat sesuatu. Ia pun menyeringai melirik kakak kembarnya. Baekhyun yang merasa ada sesuatu yang aneh, segera melayangkan tatapan pada Chanyeol dengan pandangan bertanya ada apa.

“Karena kau kalah, kau harus mengambil es krim di bawah. Ppali!” suruh Chanyeol membuat Baekhyun mendesis teringat taruhannya.

complexity

Nun-ah baru saja keluar dari pabrik pembuatan perhiasan. Langkahnya terhenti saat ponselnya berdering dari Junghoon. Seulas senyum tersungging di bibir gadis itu. Pria itu menyuruh agar Nun-ah menghubunginya, tetapi entah mengapa Junghoon sendiri yang melanggarnya.

Ye, Oppa.”

“Apa kau sudah selesai?” tanya Junghoon di seberang line.

Ne. Untuk perhiasaan Lee Minah dan Shin Gaeul akan sudah selesai dalam 3 hari ke depan. Aku sudah tak sabar menunggu hasilnya,” kata Nun-ah antusias.

“Kenapa tak menghubungiku?” tanya pria itu.

“Aku baru saja ingin menghubungi Oppa, tetapi Oppa yang menghubungiku terlebih dahulu. Sudah tak sabar, eoh? Atau terlalu merindukanku?”

Nun-ah terkikik pelan ketika tak mendengar jawaban dari Junghoon. Ia paling suka menggoda Junghoon.

“Sudahlah. Sekarang datanglah ke Gyeongbokgung,” ujar pria itu dengan nada yang tak ingin terbantahkan.

Sebelah alis Nun-ah terangkat heran, “Kenapa di Gyeongbokgung?”

“Aku hanya ingin berjalan-jalan. Sudah lama aku tak pergi ke Museum Nasional. Sepertinya akan sangat menyenangkan kalau kita berdua berjalan-jalan bersama. Kau tak ingin menyia-nyiakan waktu kencan kita yang terbatas, bukan?” kata Junghoon.

Lagi-lagi Nun-ah tersenyum. Karena kesibukannya bekerja, Junghoon jarang mengajaknya berkencan, kecuali hari libur, itu pun Nun-ah yang memaksanya.

“Baiklah, tunggu aku di sana.”

“Hati-hati menyetir. Jangan menerima telepon saat menyetir. Arraseo?” nasehat Junghoon.

Arra. Saranghae,” ucap Nun-ah sebelum Junghoon memutuskan sambungan teleponnya.

Aissh! Seenaknya. Setiap kali aku yang mengatakannya, dia tak mau membalas. Tapi, kalau aku yang tak membalas pernyataannya, dia akan marah-marah. Egois!”  gerutu Nun-ah sambil masuk ke dalam mobilnya.

Nun-ah melirik ponselnya yang berdering sekali lagi, terlihat nama Minhwa terpampang di layar smartphone-nya. Ia memutuskan untuk mengabaikannya karena kondisinya yang sedang menyetir. Namun, lama-lama ia mulai jengah juga. Ia pun memutuskan untuk mengangkatnya, sepertinya ada sesuatu yang penting hingga Minhwa menghubunginya beberapa kali.

Ye, Eonni.”

“Nunie-ya, mengapa kau baru mengangkat teleponku?” tanya Minhwa cemas.

Mianhae, aku sedang menyetir. Bisakah Eonni menghubungiku kembali 30 menit ke depan? Atau mungkin aku saja yang akan menghubungi Eonni. Tidak terjadi apa-apa, kan?” kata Nun-ah mencoba fokus.

Jujur, ia agak kesusahan jika harus menelepon sambil menyetir. Ia berusaha mengurangi laju kecepatan mobilnya.

Ani. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu,” sahut Minhwa tersendat.

Nun-ah menunggu, tapi Minhwa tak kunjung mengatakannya. Membuat ia semakin penasaran.

Eonni…,”

“Apa hubunganmu dengan Joongki Oppa?” potong Minhwa.

Mwo?!”

“Aku menemukan foto kalian sewaktu kecil. Apa itu benar? Apa hubungan kalian?” cecar Minhwa.

Ia menyadari suara kakaknya terdengar bergetar. Jelas ada nada kecemburuan dan posesif di sana walaupun sepertinya Minhwa telah berusaha menekannya seminim mungkin, tetapi Nun-ah bisa merasakannya meskipun sedikit.

Nun-ah mencoba berkonsentrasi, tetapi tiba-tiba pikirannya mendadak kosong saat mendengar penuturan Minhwa. Otaknya seakan-akan berhenti bekerja saat itu juga. Tidak ada satu pun reaksi yang diberikan Nun-ah saat mendengar Minhwa membentaknya. Perlu waktu beberapa detik bagi Nun-ah untuk mencerna kata-kata yang diucapkan Minhwa sebelum kedua iris gadis itu melebar sempurna.

Foto, sewaktu kecil, dirinya, dan Joongki. Nun-ah mulai menyambungkannya satu-persatu. Bibir merah Nun-ah terbuka saat nama Ki Oppa melintas di benaknya. Jangan katakan kalau Ki Oppa yang dimaksud adalah Song Joongki.

Bola matanya bergerak liar, bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? Ia merasa tak pernah mengenal sosok Joongki sebelumnya. Yang ia tahu, pertama kali berkenalan dengan Joongki saat ia dan Minhwa mendatangi pesta ulang tahun Geunsuk.

“Benarkah Ki Oppa itu Song Joongki-ssi?” bisik Nun-ah yang masih dapat terdengar jelas oleh Minhwa.

“Nunie-ya, jawab aku!” seru Minhwa parau.

Tangan Nun-ah terasa kebas, matanya pun mendadak kabur. Tanpa sadar ia menjatuhkan ponselnya, sementara kepalanya menggeleng lemah.

Tak mungkin, rapalnya dalam hati.

Tangannya mencengkeram kemudi mobil. Sangat erat. Seolah-olah apa yang ia rasakan dapat tersalurkan, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Ia terus melajukan mobilnya, tetapi kini dengan menambahkan kecepatan. Semua tampak buram. Semuanya buyar.

Seorang ibu yang sedang membawa sebuah kereta bayi dan belanjaan menyebarangi jalan setelah tikungan yang dilewati Nun-ah. Ibu itu terperanjat, bahkan berteriak histeris ketika melihat mobil Nun-ah melintas ke arahnya. Nun-ah yang juga kaget dengan refleks membanting setir ke kiri agar dapat menghindari wanita tersebut.

Belum sempat bernapas lega sebuah truk berwarna putih melaju cepat ke arahnya. Bunyi klakson truk terdengar nyaring, sontak membuat mata Nun-ah terpejam saking takutnya. Mobil yang dikendarainya berhasil menghindar dari truk itu, tetapi ia tak berhasil membuat mobilnya tidak menghantam besi pembatas jalan, mendesak kap mobil hingga penyok tak berbentuk, dan berakhir terbalik di tengah jalan lalu lintas.

Nun-ah merasakan keningnya memanas, berdenyut sakit karena terbentur kemudi setir dengan cukup keras. Napasnya memburu. Ia meringis begitu mencoba menggerakkan tubuhnya, ngilu karena tubuhnya terutama kakinya terjepit. Samar-samar ia mendengar suara Minhwa yang terdengar panik, tetapi ia tak menemukan di mana letak ponselnya.

Akhirnya ia menemukannya tergeletak tak begitu jauh dari dirinya. Ia ingin meraihnya, tetapi ia tak sanggup sebelum kegelapan menyergapnya.

complexity

Junghoon berlari dengan tergesa menelusuri lorong rumah sakit. Ia benar-benar tekejut saat Minhwa menghubunginya kalau Nun-ah mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia sudah merasa ada yang tidak beres pada kekasihnya tersebut ketika ia tak kunjung muncul dari waktu yang telah dijanjikan.

Awalnya ia menganggap alasan keterlambatan Nun-ah karena terjebak macet. Namun, setelah lebih dari satu jam menunggu, gadis itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ia mulai cemas dan mulai meneleponnya, tapi sayang ponsel Nun-ah tak aktif. Ia memutuskan untuk menunggu, sama sekali tak terpikirkan untuk menghubungi orang lain.

Satu jam kemudian Minhwa meneleponnya dengan isak tangis yang membuatnya bingung. Dan satu yang ia takuti. Ia takut kehilangan Nun-ah.

Lorong rumah sakit terasa amat panjang baginya. Ia merasa sudah berusaha berlari cepat, tapi entah mengapa ia tak kunjung menemukan ruang ICU, tempat Nun-ah dirawat. Ia menghentikan langkahnya sejenak begitu melihat Minhwa sedang menangis di pundak Joongki.

Sedikit menarik napas, ia melanjutkan langkahnya kembali. Joongki yang menyadari kehadiran pria itu, segera menoleh ke arahnya.

Hyung,”

Junghoon hanya menatapnya sekilas. Matanya beralih pada tunangan Joongki yang sudah menegakkan tubuhnya untuk melihat dirinya.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanyanya ingin tahu.

“Ini kesalahanku. Tak seharusnya aku meneleponnya saat ia sedang menyetir,” sesal Minhwa.

Seketika tubuh Junghoon lunglai. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi, tak meyangka. Ia baru saja memberinya peringatan jangan menerima telepon saat ia sedang mengendarai mobil. Ia mengusap wajahnya perlahan. Ia benar-benar tak mempercayainya.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya lagi.

“Saat ini Nun-ah masih belum sadar karena benturan di kepalanya cukup keras, tapi dokter berkata kalau keadaannya tak apa-apa. Kita hanya menunggu sampai ia sadar. Ia sedang ditemani si kembar. Sementara Eomma dan Appa sedang berada di ruangan dokter yang memeriksa Nun-ah, membicarakan tentang kondisinya lebih lanjut. Dokter menyuruh kami untuk menengoknya secara bergantian,” tutur Minhwa.

Junghoon menyandarkan punggungnya lemah.

Tak lama kemudian kedua orang tua Minhwa muncul. Seketika mereka semua berdiri menyambutnya. Wajah Tuan Kang tampak datar, tak menunjukkan hal apapun. Kebalikan dengan Nyonya Yoon, wajahnya tersirat kebingungan yang bercampur kecemasan. Junghoon memperhatikan kedua tangan wanita itu meremas, tak cukup keras tapi dapat ia rasakan sedikit gemetar.

“Apa kata Uisanim?” tanya Minhwa pada Bumonim-nya.

“Seperti kata dokter sebelumnya, kita harus menunggu sampai ia sadar.” ujar ayahnya, Kang Woojae dengan suara berat.

Mereka pun kembali duduk, kecuali istrinya, Yoon Hajung.

Yeobo,…”

“Aku butuh kopi untuk menenangkan pikiranku,” ujar wanita itu.

Tanpa menunggu persetujuan dari suaminya, ibu Nun-ah segera pergi meninggalkan mereka. Kang Woojae hanya diam memperhatikannya, sama sekali tak melarang.

Eomma,” panggil Minhwa lalu berlari menyusulnya.

“Minhwa-ya!” seru sang ayah yang kali ini tak diindahkan oleh anaknya.

Ekor matanya mengawasi kedua orang tersebut yang berjalan semakin menjauh dari pandangannya. Menghembuskan napasnya. Ia tahu saat ini Minhwa ingin meminta maaf pada istrinya. Sorot mata rasa bersalah tercetak jelas di mata Minhwa.

Di saat yang bersamaan pintu kamar rawat Nun-ah terbuka. Keluarlah dua sosok pemuda dengan wajah dan tinggi badan yang jauh berbeda. Mereka berdua tampak lesu, tak ada guratan-guratan kejahilan yang muncul saat ini.

Abonim, aku ingin menemani Nun-ah. Bolehkah?” tanya Junghoon meminta izin pada Woojae.

Woojae mengangguk setuju. Detik kemudian Junghoon berjalan dan menghilang di ruangan rawat Nun-ah.

“Apakah ada kemajuan?” tanya Woojae pada anak kembarnya.

Baekhyun menggeleng lemas.

“Belum ada, Appa.” ujar Chanyeol.

Di sisi lain tanpa diketahui orang lain, Joongki meremas kedua tangannya di sisi tubuhnya. Sorot matanya meredup, terlihat sekilas raut wajahnya menunjukkan kecemasan meskipun samar.

complexity

Minhwa menyeruput caramel macchiato-nya dengan tangan bergetar sesekali melirik ibunya.

Eomma,”

“Cukup, Minhwa-ya. Jangan meminta maaf padaku,” kata ibunya kalem, “Itu sama sekali bukan salahmu.”

Mata Minhwa berkaca-kaca. Ia sama sekali belum mengutarakan permintaan maaf pada ibunya, tetapi wanita itu dengan mudah mengetahuinya. Apakah raut wajahnya terbaca dengan jelas seperti buku yang terbuka? Ingin sekali ia membenturkan kepalanya kini. Tidak hanya ibunya, Nun-ah, ayahnya bahkan Joongki mengatakannya seperti itu.

Wae?”

Hajung menggenggam tangan Minhwa lembut, “Karena kita keluarga.”

Perkataan wanita itu tepat menghujam jantungnya, membuat hatinya sejuk. Seketika air mata tak dapat dibendungnya lagi. Bulir-bulirnya mulai mengalir dari irisnya. Menangis terharu.

Yakk! Kenapa kau menangis, chagiya?”

“Kadang aku merasa iri pada Nunie karena dia anak Eomma, bukannya aku,” ungkapnya tersedu, “Bahkan sikap Eomma kandungku tak seperti Eomma.”

Hajung tersenyum penuh arti, “Walaupun kau tidak lahir dari rahimku, kau lahir dari hatiku, Minhwa-ya.”

Minhwa benar-benar beruntung memiliki Hajung. Meskipun ia adalah ibu tirinya, ia bahagia bisa merasakan kasih sayang darinya. Dulu ia sama sekali tak menyukai Hajung, ia takut Hajung akan memperlakukannya buruk. Ia takut Hajung merebut perhatian ayahnya. Dalam pemikirannya, ibu tiri itu adalah seorang wanita jahat. Dan ternyata persepsinya salah. Hajung sosok yang hangat dan sama sekali tak membedakannya dengan Nun-ah dan si kembar.

Ia pun teringat kembali pada Nun-ah.

“Nunie …”

“Dia pasti baik-baik saja,” potong Hajung lalu menarik napasnya sejenak, “Hanya saja ada suatu hal yang sangat ku khawatirkan.”

Minhwa mengernyitkan dahinya, bingung.

“Apa itu?” tanyanya penasaran.

“Kau masih ingat kecelakaan yang menimpa Nun-ah saat ia berumur 10 tahun yang membuat sebagian ingatannya menghilang?”

Dan Minhwa benar-benar terhenyak mendengarnya.

complexity

Seorang gadis kecil berumur 10 tahun berlari menuju rumahnya dengan bersemangat sementara di belakangnya seorang gadis yang lebih tua berlari tak mau kalah menyusulnya. Berusaha mengimbangi langkah si adik meskipun sedikit tersendat dengan beban bawaannya yang lumayan berat. Sedikit mendengus kenapa adiknya dapat berlari sangat cepat.

Mereka baru saja pulang dari sekolah, itu dapat terlihat dengan jelas dari seragam yang berwarna biru dongker yang tampak kusut setelah sepanjang hari mereka pakai.

Eomma,” teriak si adik begitu ia membuka pintu.

Sang ibu yang sedang membuat cake menghelakan napasnya dengan berat mendapati tingkah anaknya yang tak berubah.

“Berapa kali Eomma bilang kalau pulang ucapkan ‘aku pulang’, Nunie-ya?” sahut ibunya dengan sabar.

Nun-ah hanya meringis mendengar omelan ibunya.

“Aku pulang,” seru seorang gadis lain yang tak lain kakaknya.

“Belajarlah seperti Eonni-mu,” ujar ibunya sedikit memanasi anaknya.

Nun-ah mengerucutkan bibirnya tak suka sementara ibunya menyambut kakaknya.

“Bagaimana dengan sekolahmu, Minhwa-ya?” tanya ibu mereka.

Seonsangnim membagikan hasil ulangan matematika hari ini,” beritahu Minhwa sembari meletakkan tasnya di sebuah kursi di depan counter dapur.

“Seperti biasa Eonni mendapat hasil tertinggi di kelasnya,” sela Nun-ah sambil meminum air mineral, “Eomma tidak menanyakannya juga padaku?”

Wajahnya merengut karena ibunya lebih perhatian pada Minhwa yang notabene adalah kakak tirinya. Sedikit cemburu.

“Ya, ya. Kau benar-benar tak mau kalah,” kata ibunya maklum yang disambut tawa dari Minhwa.

Ia mengulang pertanyaan yang ditujukan untuk Minhwa pada Nun-ah. Dan Nun-ah memberikan cengirannya yang khas.

“Aku ditunjuk Seonsangnim untuk mengikuti lomba melukis antar sekolah minggu depan,” beritahunya menggebu.

Jinjja?” kata ibunya takjub yang diangguki oleh anaknya. Ia pun menyuruh kepada kedua anaknya untuk mengganti pakaian dan juga untuk tidak lupa mencuci tangan mereka.

Minhwa menatap bahan-bahan makanan yang tersaji di counter dapur dengan pandangan ingin tahu, “Eomma sedang membuat apa?”

Cheese cake untuk kalian. Sebentar lagi akan matang. Siapa yang ingin membantu Eomma menghias cheese cake-nya?” kata wanita itu dengan suara riangnya.

Minhwa dan Nun-ah saling berebut untuk membantu yang dibalas dengan kekehan sang ibu. Dengan cepat mereka berlari menuju kamar dengan tak lupa membawa tas sekolah mereka. Kamar mereka kini terpisah, berbeda saat mereka pertama kali tinggal bersama. Rupanya sang ayah membeli rumah baru yang lebih besar untuk mereka tinggali.

Minhwa yang sudah selesai terlebih dahulu mengetuk kamar adiknya.

“Nunie-ya, ppali! Kau tak ingin ketinggalan ‘kan?” teriaknya yang diselingi ketukan di pintu yang bercat putih itu.

Ne!” seru Nun-ah dari dalam.

Minhwa yang tak ingin membuang waktu segera bergegas menuju dapur. Sementara itu Nun-ah yang masih bergelut dengan pakaian gantinya, melempar seragamnya asal-asalan. Ia benar-benar tak mau ketinggalan saat-saat menyenangkan untuk menghias cake kesukaannya. Ia sudah membayangkan akan menghias dengan keju parut yang banyak dan juga strawberry yang segar.

Hanya membayangkannya saja membuat air liurnya hampir menetes. Ketika ingin membuka pintu kamarnya, alih-alih melajutkan, ia menghentikan langkahnya karena teringat sesuatu. Ia pun berjalan kembali menuju meja belajarnya mengambil sesuatu di dalam tasnya, sebuah formulir pendaftaran lomba melukis yang siang tadi diberikan oleh gurunya.

Tersenyum lebar sebelum meninggalkan kamarnya dan berlari penuh semangat. Ia sungguh tak sabar menyerahkannya pada ibunya dan meminta untuk menandatanginya. Saking terburu-burunya ia tak berhati-hati saat menuruni tangga. Terpekik kaget ketika tubuhnya oleng dan kakinya membentur lantai yang menyebabkan dirinya terjatuh, berguling di sepanjang anak tangga.

Ia ingin berteriak meminta tolong, tetapi lidahnya kelu. Otaknya pun terasa berputar cepat. Sakit mulai menjalar di seluruh tubuhnya, terutama bagian kepala. Keningnya terbentur lantai dengan keras yang meyebabkan luka hingga berdarah. Tubuhnya pun lunglai di ujung tangga dan sulit untuk digerakkan.

Matanya berusaha untuk tetap terjaga, tetapi tidak begitu mudah karena sebagian matanya tertutup dengan darah yang mengalir dari keningnya. Ia ingin menangis, tetapi lagi-lagi itu pun sulit untuk dilakukan.

Eomma,” bisiknya hampir tak terdengar dengan napas tersengal. Kertas formulir lomba melukis terlepas dari tangannya bersamaan dengan hilang kesadarannya.

Hajung menaruh whipped cream di atas cake yang sudah ditaburi keju parut oleh Minhwa. Sudah 10 menit berlalu dan Nun-ah belum kunjung tiba. Ia mulai khawatir apa yang terjadi dengan anaknya itu. Nun-ah sama sekali tak pernah melewatkan jika ia sedang sibuk membuat kue.

“Minhwa-ya, mengapa Nunie lama sekali? Bisakah kau menengok apa yang sedang dilakukannya?” katanya mulai cemas.

Ne, Eomma.” sahut Minhwa lalu berjalan meninggalkannya.

Dan beberapa detik kemudian teriakan Minhwa yang terdengar ketakutan membahana di gendang telinga Hajung.

complexity

Minhwa mengerjapkan kedua matanya. Memori itu terlintas di benaknya, kejadian yang membuat Nun-ah kehilangan sebagian memorinya. Ia bahkan lupa dengan Baekhyun dan Chanyeol yang saat itu berumur 1 tahun. Setidaknya Minhwa dapat bernapas lega karena Nun-ah sama sekali tak melupakannya meskipun ia harus menghadapi Nun-ah yang bersikap seperti baru mengenalnya.

Ketakutan mulai menghinggapi hatinya. Ia takut apa yang akan terjadi dengan adiknya itu setelah siuman nanti. Ia hanya berdoa dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Semoga.

Joongki yang sedang berjalan untuk mengantarkan minuman hangat berhenti sejenak melihat wajah tunangannya yang agak kacau. Ia sangat memprihatinkan keadaan Minhwa saat ini. Namun, ia harus bersikap tegar di hadapannya. Ia memasang senyuman terbaiknya sebelum kembali berjalan menghampirinya.

Gwaenchanha?”

Ye,” balas Minhwa dengan senyum yang dipaksakan.

Joongki tersenyum maklum. Ia tahu, sangat tahu kalau Minhwa sedang dalam keadaan tak baik. Ia meletakkan baki yang berisi dua cangkir teh di atas meja.

“Minumlah,” kata Joongki.

Gumawo,” ucap Minhwa sembari mengambil sebuah.

Joongki memperhatikan Minhwa yang sedang menyesap tehnya. Mengelus kepalanya lembut sambil memberikan senyumannya. Minhwa membalas senyumannya.

“Jangan terlalu memikirkan Nun-ah. Dia pasti baik-baik saja,” hibur Joongki.

Minhwa kembali tersenyum lalu mengangguk, “Semua orang bilang begitu.”

“Lalu apa yang kau cemaskan?” tanyanya lalu menangkupkan wajah Minhwa.

‘Dirimu. Aku takut kehilanganmu,’ jawab Minhwa dalam hati.

“Lihatlah matamu merah dan membengkak. Aigoo! Wajah tunanganku tampak jelek sekali,” katanya mendramitisir.

Minhwa tersenyum simpul, sambil meletakkan kedua tangannya di punggung tangan Joongki yang bertengger di wajahnya, “I’m okay.

Ia menarik tangan Joongki dan membawanya di pangkuannya.

“Apakah kau ingin berbagi padaku?” tawar Joongki kemudian menggenggam tangan tunangannya dengan erat.

Ia tahu ada suatu beban pada Minhwa, tetapi ia tak tahu apa itu. Ia hanya mencoba mengulur, tak ingin mendesak jika Minhwa tak ingin menceritakannya. Sementara itu Minhwa menggigit bibir bawahnya. Mencoba berpikir apakah ia akan menceritakannya atau tidak pada Joongki.

Ia merengkuh pemuda itu ke dalam pelukannya, membiarkan kebimbangannya larut dengan sendirinya. Menghirup aroma tubuh pemuda itu dalam-dalam dan membawanya menuju otaknya. Merekamnya. Matanya menatap wajah Joongki dengan sendu. Joongki sendiri tak mengerti dengan arti tatapan Minhwa. Begitu kompleks, ada rasa marah, kesal yang bercampur sedih dan penyesalan.

Dengan gerakkan cepat Minhwa mengikis jarak di antara mereka, bibir mereka bersatu dalam ciuman. Terkesan agresif dan menuntut. Bahkan ia menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Joongki. Joongki yang awalnya kaget, agak kewalahan menerimanya. Namun, dengan segera ia mengimbangi ciuman Minhwa bahkan mendominasi.

Minhwa menggeram lirih saat lidah Joongki membelai lidahnya. Ia mengambil napas sedetik lalu melumat bibir itu lagi. Punggungnya bersandar pada sofa dan tangannya melingkar di tengkuk Joongki, memperdalam pagutannya. Dan ia tidak keberatan dengan tubuh Joongki yang semakin menghimpitnya.

Joongki melepas cumbuan panas mereka, tersenyum tak menyangka jika Minhwa akan seagresif ini jika sedang kalut. Mengusap pipi Minhwa dengan seduktif sementara mata gadis itu masih terpejam, mengatur napasnya yang menderu.

Perlahan kedua matanya terbuka. Seketika rona merah menjalar di pipinya ketika ia mengingat apa yang telah ia lakukan tadi pada Joongki. Ia baru saja menyerang lelaki itu. Untuk menutupi rasa malunya ia menyeruak kembali ke dalam dekapan Joongki.

I love you,”bisiknya.

Love you too, dear,” balas Joongki lalu mengecup puncak kepala gadis itu.

“Jangan tinggalkan aku,” ujar Minhwa pelan.

Joongki terkekeh, “Aku tak akan pernah meninggalkanmu,”

Entah mengapa mendengar perkataan Joongki membuat Minhwa tenang. Ia menatap lelaki itu yang juga tengah menatapnya lamat-lamat.

“Apakah sudah lebih baik?”

“Hum?”

“Apakah dengan menciumku, hatimu sudah lebih baik?” goda Joongki yang disambut pukulan Minhwa di pundaknya. Joongki meringis karena pukulan kekasihnya cukup keras.

Minhwa berpikir sejenak sebelum menarik napas lalu menghelakannya. Ia bertekad akan menceritakannya, tapi ia belum siap bercerita tentang foto itu.

“Ini tentang Nun-ah,” tutur Minhwa beberapa saat kemudian.

complexity

Beberapa kaleng bir yang sudah kosong tergeletak di atas meja. Sepulang Minhwa dari apartementnya, Joongki memutuskan untuk minum. Menganggap jika dengan minum, mungkin akan menjernihkan pikirannya. Tetapi ternyata tidak. Pikirannya semakin rumit.

Ia menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Memijat pangkal hidungnya dan sesekali mengusap wajahnya dengan tampang frustasi. Matanya bergerak liar. Kepingan-kepingan ingatannya secara cepat melintas di benaknya membentuk seperti puzzle.

Oo0oO

Suasana pesta pernikahan kakak sepupunya begitu meriah di mata Joongki. Anak lelaki berusia 12 tahun itu merengut karena kebosanan berjalan mengelilingi tempat pernikahan. Ia menolehkan wajahnya saat ada seseorang yang memanggilnya.

Ne,” sahutnya.

Sedikit terkejut pada mulanya ketika ia menemukan sosok lain di samping ibunya. Ia melihat seorang gadis kecil yang lebih muda darinya. Berwajah kecil seperti telur dengan rambut hitam panjang yang digerai. Matanya sangat kecil hingga ia yakin jika gadis itu tertawa, matanya tidak akan terlihat. Sangat manis, itu adalah kesan pertama baginya.

“Perkenalkan dia Kang Nun-ah,” ujar ibunya memperkenalkan anak itu pada Joongki, kemudian beralih pada Nun-ah.

“Nun-ah-ya, dia Joongki. Anak Ahjumma. Bermainlah dengannya. Kalau dia nakal padamu, bilang saja pada Ahjumma. Arrachi?” lanjutnya lembut sambil mengelus puncak kepalanya.

Ne, Ahjumma.” kata anak perempuan itu patuh.

“Kau dengar itu, Joongki-ya? Jangan bertengkar. Eommoni masih harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda,” kata ibunya tajam.

Ye,” ujar Joongki malas sebelum kepergian ibunya.

“Jadi, namamu Nun-ah?” kata Joongki memulai perbincangan dengan nada memastikan.

“Huum,”

Nunmul (air mata),” ujar anak lelaki itu dengan nada sedikit mengejek.

Nun-ah mengerutkan keningnya sejenak lalu menggeleng cepat, “Aniyo.” serunya kesal.

“Nun dari kata nun naerida (turun salju),” ralatnya.

Oo0oO

“Ki Oppa!”

Aisshh! Sudah berapa kali ku bilang namaku Joongki, Song Joongki. Bukan Ki. Lagi pula nama apa itu?” omel Joongki tak suka sambil menatap jengkel pada Nun-ah.

Nun-ah merengut sembari mengambil biji bunga matahari dan memasukkannya ke sebuah keranjang, “Bukankah nama ‘Ki’ sangat bagus?”

Ini adalah hari pertama mereka tiba di Daejeon. Semenjak menghadiri pernikahan saudara jauh dari pihak neneknya di Ulsan, Nun-ah diajak serta oleh keluarga Joongki –ibu Joongki, lebih tepatnya- untuk berkunjung ke Daejeon ke tempat kakek dan nenek Joongki tinggal.

Mereka tengah membantu kakek Joongki mengambil biji bunga matahari. Kakek Joongki mempunyai sebuah lahan bunga matahari di samping rumahnya. Di sana juga dapat ditemui beberapa tanaman lain, seperti sayur dan buah-buahan.

“Ki Oppa anak bungsu?” tanya Nun-ah seolah tak memperdulikan decakan Joongki yang tak suka dengan panggilan yang diberikan Nun-ah untuknya.

Joongki menghelakan napasnya, menyerah.

“Aku anak satu-satunya,” sahutnya.

Perkataannya seketika membuat Nun-ah menghentikan kegiatannya. “Eoh?”

Joongki mengerutkan dahinya, heran, “Wae?”

Ani. Aku juga dulu anak satu-satunya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku mempunyai seorang Eonni dan sebentar lagi kami akan mempunyai adik,” jawab Nun-ah sambil menerawang.

Joongki dapat melihat roman wajah anak itu yang terlihat gembira.

“Apakah Eonni-mu orang yang baik?” tanyanya ingin tahu.

Lagi-lagi Nun-ah mengangguk sementara tangannya masih sibuk bekerja, “Sangat. Biasanya kami bermain bersama. Aku bisa belajar dengannya. Aku juga bisa bertanya padanya jika ada sebuah pelajaran yang sulit. Ia akan membantuku mengerjakan PR,”

Joongki terdiam lalu tersenyum, “Sepertinya kau menyayanginya?”

“Tentu saja,” sahut Nun-ah tanpa berpikir panjang, “Suatu saat nanti aku pasti akan mengenalkannya pada Oppa.”

“Untuk apa?” tanya Joongki lagi dengan cuek sambil menaruh tiga biji bunga matahari di keranjangnya.

Pertanyaan yang terlontar di bibir anak remaja itu membuat Nun-ah merengut, tak suka.

Oppa tak ingin berteman dengan kami?” raungnya.

Joongki terhenyak mendengarnya, bukan seperti itu maksudnya. Tak sempat Joongki membalas perkataan Nun-ah, sebuah suara menginterupsinya. Dan begitu mereka menoleh, sebuah sinar blitz menerpa wajah mereka.

Oo0oO

Joongki menatap punggung Nun-ah yang berjalan sembari tersenyum di sisi neneknya menuju sebuah sedan putih yang akan membawa mereka kembali ke Seoul. Ia mendesah, liburannya di Daejeon sudah berakhir, dan ia pun akan kembali ke Ulsan. Sebenarnya ia masih ingin sekali tinggal di sana, tetapi sang ibu melarangnya karena sebentar lagi ia akan mengikuti perkemahan musim panas yang diselenggarakan sekolahnya.

Kebersamaannya dengan Nun-ah selama hampir sepekan ini, membuatnya menjadi sosok yang berbeda. Ia jadi ingin mempunyai seorang adik manis seperti Nun-ah, apalagi ia sudah melancarkan aksinya merayu ibunya untuk memberikan seorang adik. Ia benar-benar menginginkan seorang adik sekarang.

Alisnya bertaut tatkala Nun-ah berlari kecil ke arahnya.

Wae?” tanyanya penasaran.

Alih-alih menjawab, Nun-ah hanya tersenyum lalu memberikan sesuatu padanya. Joongki terdiam, tak menyangka ketika gadis kecil itu memberikan sebuah boneka yang sempat ia ledek karena bentuknya yang aneh.

“Untuk Oppa,” ujarnya.

Oppa benar-benar tak menyukainya karena bentuknya yang aneh?” ujarnya kecewa karena tak kunjung mendapat respon dari Joongki, “Ini memang jelek. Ya, sudah. Aku tak mau memberikannya pada Oppa. Ki Oppa menyebalkan!”

Nun-ah segera membalikkan tubuhnya. Ia benar-benar marah padanya. Saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Joongki mengamit tangan anak perempuan itu dan merebut boneka tersebut, membuat Nun-ah terperangah. Tak menyangka.

Yakk! Aku ‘kan belum mengatakan apa-apa, tapi kenapa kau marah?” ujar Joongki gemas.

Oppa mau apa? Kembalikan!”

Ani. Bukankah kau sendiri yang memberikannya? Untuk apa aku mengembalikannya lagi padamu?” tolak Joongki.

Senyum Nun-ah kembali merekah seketika, “Jinjja? Oppa mau menerimanya?”

Ne,”

“Rawatlah baik-baik. Boneka ini aku sendiri yang membuatnya. Jangan sampai dihilangkan atau Oppa tahu sendiri akibatnya,” ancam Nun-ah sambil memasang wajah yang tak ada seram-seramnya.

Oo0oO

Joongki tersenyum di sela-sela cegukannya. Terbatuk karena tersedak saat gas bir menyergap, menggerogoti hidungnya. Perih. Sedikit tertatih ia merogoh saku celananya. Matanya menatap sayu ke arah sebuah gantungan kunci apartemennya, yang tempo hari dilihat oleh Nun-ah. Sebuah boneka putih yang menurutnya aneh tapi lucu.

white doll

“Aku bahkan merawatnya sampai sekarang, tapi kenapa kau melupakanku? Kau jahat sekali, kau bahkan melupakan janjimu.” ocehnya lalu tertawa keras karena teringat sesuatu.

“Ini sangat lucu. Pantas saja kau tak mengenalku dan mengataiku player,”

Oo0oO

Joongki terbelalak saat Geunsuk memperkenalkannya pada teman-teman SMA-nya, lebih tepatnya adik perempuan dari salah satu teman SMA Geunsuk di pesta ulang tahun sepupunya tersebut.

Song Nun-ah.

Nama itu sungguh tak asing di telinganya, tetapi nama marganya berbeda. Bukan Kang yang ia ingat, meskipun sudah lebih dari 10 tahun, ia bersumpah tak mungkin lupa. Sedikit terkejut dan tak yakin apa Song Nun-ah yang ia temui adalah Kang Nun-ah yang dulu yang sempat dikenalnya. Ia sadar mungkin di luar sana banyak orang yang bernama Nun-ah.

Ia terus memperhatikan gadis itu di sepanjang pesta, hingga ia lalaikan kekasihnya sendiri yang sedari tadi merajuk karena merasa tidak diacuhkan. Ia bahkan tak tahu jika kekasihnya itu telah meninggalkan pesta. Ia pun mencoba mendekatinya di meja bar ketika melihat Nun-ah sendirian.

“Apa kau sendirian?” tanyanya berbasa-basi.

Ye,” sahut Nun-ah agak kaku.

“Keberatan jika ku temani?”

Aniyo,”

“Kau tak mempunyai kekasih?” tanyanya lagi mecoba menarik perhatiannya, “Sayang sekali jika kau tak mempunyai kekasih. Aku bisa mengenalkanmu beberapa kenalanku yang ada di sini,”

Algesseoyo, tapi terima kasih. Aku sama sekali tak memerlukannya,” sahut Nun-ah sambil menyibak poninya.

Ia merasa aneh dengan sosok asing di sebelahnya. Ingin sekali ia bisa cepat-cepat pergi, menghindar dari pria itu. Namun, entah mengapa di sisi lain dirinya tak ingin beranjak. Sosok di sampingnya tampan, sangat tampan malah. Namun, lagi-lagi perasaannya tak dapat diungkap. Sosok itu asing, tetapi tampak tak asing baginya.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Nun-ah tanpa tedeng aling-aling.

Joongki menatapnya sejurus kemudian, “Mungkin di suatu tempat,”

Nun-ah tersenyum miring, “Apakah ini adalah jurus seorang player merayu korbannya?”

Joongki terhenyak, “Mwo?!”

“Aku lihat kekasihmu pergi, karena kau sibuk dengan para gadis lain,” ujar Nun-ah ringan.

Hei, bukankah secara tak langsung Nun-ah mengatakan jika ia memperhatikan Joongki? Joongki tersenyum penuh arti.

Ia berdehem pelan sembari menggaruk tengkuknya, “Jadi, kau mengira aku ingin mendekatimu begitu?”

Nun-ah memincingkan matanya, manatap lelaki itu sengit, “Dengar, aku tak mengenalmu dan bahkan aku lupa dengan namamu.”

Joongki tergelak tak percaya, baru kali ini ada seorang gadis yang melupakan namanya. Ini sungguh menakjubkan bagi dirinya.

“Song Joongki, itu namaku.” potong Joongki mencoba membantu ingatan Nun-ah.

“Ah, Song Joongki-ssi, aku tak tahu apa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya, tapi aku benar-benar tak pernah merasa bertemu denganmu sebelumnya. Simpan kata-kata rayuanmu pada gadis lain. Dasar player,”

Joongki menatap punggung Nun-ah yang pergi meninggalkannya dengan sejuta umpatan untuknya. Ia tersenyum dengan raut tak percaya. Hei, ia sedang tak mencoba merayunya. Ia hanya berusaha menggali informasi apakah Song Nun-ah adalah Kang Nun-ah. Sepertinya yang ia ucapkan barusan salah. Ia agak merutuki kebodohannya yang ia buat.

Satu yang ia yakini saat itu, bahwa dia bukan Kang Nun-ah yang ia kenal karena tak mungkin gadis itu melupakannya.

Oo0oO

Nun-ah menatap Joongki sengit kala pemuda tampan itu sedang mengocok sebuah bola kaca favoritnya yang sengaja diletakkan di sebuah buffet di ruang keluarga. Ia paling tak suka jika ada orang asing yang mengutak-atik benda-benda kesukaannya. Sedangkan Joongki balas menatapnya tenang, tampak tak perduli.

“Jadi, kau mengoleksi benda-benda seperti ini?” tanyanya.

kristal-salju

Saat itu Joongki pertama kali datang ke rumahnya setelah resmi ia dan Minhwa berpacaran. Dan itu adalah hal yang paling menggemparkan bagi dunia Nun-ah. Entah mengapa sejak pertemuannya dengan Joongki di malam pesta ulang tahun Geunsuk ia tak menyukainya.

“Kau bisa melihatnya sendiri ‘kan?” kata Nun-ah sedikit ketus.

Ne, aku bisa melihat jika koleksimu ini sangat banyak. Ah, jika kau tertarik aku bisa membelikanmu benda seperti ini saat aku pergi ke luar negeri.” tawar Joongki.

“Terima kasih, tapi kurasa itu tidak perlu.” sahut Nun-ah.

Joongki menatapnya lalu mengerutkan dagunya sambil mengangguk, “Arraseo.”

“Song Nun-ah-ssi,” panggil Joongki kemudian lalu memperhatikan raut wajah gadis itu dengan pandangan tertarik.

Entah mengapa tubuh Nun-ah menegang mendengar suara Joongki yang terbilang cukup berat.

“Nun dari Nunmul ?”tanya lelaki itu dengan nada mengejek.

Nun-ah mengerutkan keningnya sejenak lalu menggeleng cepat, “Aniyo.” serunya kesal tak terima namanya dijelek-jelekkan.

“Nun dari kata nun naerida,”ralatnya.

Joongki terhenyak mendengarnya, dengan cepat memorinya berputar 16 tahun yang lalu. Kata-kata itu sangat mirip dengan yang dilontarkan oleh seseorang yang telah dianggapnya adik tersebut.

Ia tersenyum miring. Ternyata dugaannya selama ini tentang Nun-ah adalah benar. Apalagi ia telah menyuruh seseorang untuk mencari tahu latar belakangnya.

“Kau tahu, dulu aku pernah mempunyai seorang adik. Dan entah mengapa ia sangat mirip denganmu,” katanya sembari mengembalikan bola kaca yang dipegangnya ke tempat asalnya.

Nun-ah menegakkan tubuhnya, sedikit tertarik.

“Lalu, kemana adikmu?” tanyanya.

“Ia pergi. Aku tak tahu kemana. Itu sudah lama sekali dan kemungkinan ia sudah melupakanku,” tutur Joongki dengan mata yang berkaca.

“Berarti kau adalah kakak yang jahat. Jika aku jadi dirimu aku tak akan membiarkan adikku pergi,” sahut Nun-ah lalu meninggalkan Joongki sendiri.

Joongki menghelakan napasnya lalu tersenyum miris, “Sayangnya, ia bukan adik kandungku. Apa kau benar-benar lupa padaku, Nunie-ya?”

—To Be Continued—

Advertisements

About ansicangel

I'm extraordinary girl. Like listening music, reading, and watching movie. Cassie, ELF_Cloud&Angel_ Inspirit 송눈아..^^

4 thoughts on “Complexity [Part 3]

  1. Annyeong Sica,

    Hya! Nyaris berakar nunggu part ini dipost hehehehehehe

    Sama seperti judulnya, makin complex makin ngejelimet dan makin bikin penasaran. Ditunggu kelanjutannya aja deh, dan sepertinya ini cuman di FF ini sosok Minhwa masih hidup, karena sebenarnya sosok Minhwa sudah menghilang hahahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s