그리움이 닿는 곳에 [Still I Miss You]

그리움이닿는곳에

Still I MissYou

[Sequel of Before the Dawn]

still I miss you- 

By :

  Chelsea

| Romance, Birthday Fict | PG 17 | One shot |

 

Casts :

Kim Myungsoo

Ryu Eunhwa (OC)

Supporting Casts :

Infinite member, Infinite’s manager : Geonam

Joo Sangwook & Lee Minjung

 

 

#HappyLday

Wish every good things for you.

Yeongwonhi saranghae ❤

 

FF ini supppper geje sekali coz I’m lil bit unwell and this week is so tiring. So mianhae coz this is so weird and boring

Apologize for any mistakes

그리움이닿는곳에 

 

Myungsoo-ya…

 Still, I miss you… as much as the leaves fall in autumn, as much as snow covering the ground all winter, as much as flowers bloom in the spring and as much as sunlight all summer.

 

Großer Tiergarten, Berlin,

 

 Selesai memotret Haus der Kulturen der elt, di siang awal bulan Maret yang cerah  Jo Eunhwa mengunjungi untuk bersantai menikmati hari terakhirnya di ibukota Berlin itu. Dia kini duduk di salah satu bangku taman terindah kota, di area Luiseninsel, menatap pemandangan sungai kecil yang memberinya jarak dengan replika monumen yang dulu diresmikan Ratu Luise. Eunhwa menundukan kepala, membuka buku yang penuh coretan pensilnya. Dia menatap sketsa wajah seorang lelaki yang sedang tersenyum kecil. Gadis berambut cokelat terang itu menarik napas berat. Dia tahu tak akan mudah membawa hati yang selalu diisi lelaki itu. Dia sadar, sulit sekali menghapus sedikit saja nama lelaki itu dalam kepalanya meski dia sudah berusaha.

Empat musim sudah berlalu sejak Eunhwa melihat Myungsoo untuk yang terakhir kalinya. Andai Infinite tidak membatalkan konser Jerman, mungkin Eunhwa bisa melihat langsung lelaki itu. Angin seolah mendorong Eunhwa untuk mengikuti arahnya. Gadis itu pun mengangkat wajah menatap lurus mengikuti dorongan yang tak tampak itu. Energi lemah matanya kini jatuh lebih dalam dari permukaan sungai.

Besok gadis itu akan pulang dan kini dia menikmati hari terakhirnya di Berlin.

 

 

 “Berapa lama?” tanya Myungsoo.

“Satu tahun.”

Myungsoo menatap datar Eunhwa lalu tertawa kecil. “Berlin atau Greenland sekalipun, apa kau sanggup hidup sendiri?”

Eunhwa mendaftar program Study of Cross Cultural untuk homestay di Eropa. Mahasiswa tingkat akhir fakultas sastra Universitas Sungkyungkwan itu lulus dan akan ditempatkan di Berlin. Dia akan belajar sekaligus magang di sana.

Eunhwa mengangguk percaya diri. “Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Myungsoo menyeringai. “Good luck!”

“Apa kita…” Eunhwa menggantungkan pertanyaannya.

“Hmm?” tanya Myungsoo sambil memetik gitar. Karena Eunhwa tak kunjung bicara, dia menoleh pada gadis yang menatapnya datar. “Wae?”

Eunhwa menggembungkan pipinya dan mendesah, membuang udara yang tertahan di alat pernapasannya.

Myungsoo tertawa renyah. Dia menjawil hidung Eunhwa. “LDR maksudmu?”

Eunhwa menepis tangan Myungsoo. “Sepertinya kau tidak peduli aku pergi atau tidak.”

Myungsoo menyeringai dan terus memainkan gitar. Eunhwa pun diam sampai lagu selesai. Myungsoo menaruh gitar dalam posisi berdiri di samping kursi.

“Aku hanya bisa mendukungmu. Satu tahun tak akan lama. Lagi pula jadwal Infinite sangat padat tahun ini.”

 

Tak ada perpisahan sendu saat Eunhwa terbang ke negara Panser. Hampir setiap hari, keduanya selalu sibuk meski berusaha menjaga komunikasi. Eunhwa senang mengetahui Jerman ada di daftar tujuan ‘One Great Step’ meski belum pasti. Myungsoo pernah menceritakan seorang gadis yang mendekatinya dan Eunhwa menganggapnya bercanda. Eunhwa malah berkata tidak ada salahnya kencan. Myungsoo juga tidak menganggapnya sebagai ketidak pedulian. Tapi lelaki itu semakin dekat dengan gadis itu dan semakin jauh dari Eunhwa. Ketika hubungan Myungsoo dan gadis itu mencuat ke publik, Eunhwa semakin menghilang. Sekali Myungsoo menghubungi saat Infinite berada di London. Tapi saat itu Eunhwa terlalu sibuk dan dia tak bisa terbang ke London.

 

 

Eunhwa menutup buku itu dan mulai beranjak dari kursi taman. Dia membawa kakinya mendekati pinggiran sungai. Dia tersenyum melihat beberapa anak berlarian. Melihat pemandangan indah atau objek unik, mengingatkan gadis itu pada Myungsoo. Dia sering memotret pemandangan di setiap sudut kota Berlin dan berharap memberikannya dalam bentuk album foto untuk Myungsoo.

 

 그리움이닿는곳에 

 

Yangsu-ri, Yangseo-myeon, Yangpyeong-gun, March 13th

Kabut tipis melapisi seluruh permukaan tanah dan air. Eunhwa menghentikan mobil di tempat yang menyimpan kenangan di barat laut kota Seoul itu. Sebentar lagi matahari akan mulai naik di langkit timur di atas lembah di mana sungai Han membelah. Gadis itu melangkahkan kakinya di tepian Dumulmeori. Tepat setahun lalu, Eunhwa menyaksikan matahari terbit bersama Myungsoo. Tapi kini dia berdiri sendiri di tempat yang sama.

Neoneun eodijjeum-eiss-eulkka eotteohge jinaelkka
naui geulium-i dahneun gos-en iss-eulkka
Eojjeomyeon neodo eojjeomyeon
Nawa gat-eun balaemdeullo geuliwohalkka

Naneun niga eobs-eohimdeul-eo modeunge eolyeowo
Sumswineun sungan
mada ni saeng-gag-i goelobhyeo
Aesseodo aesseodo
Doesal-ananeun neouiheunjeog-e nan dulyeowo

 I wonder where you are and how you’re doing
Are you at the place where my longing touches?
Maybe, maybe are you longing for me with the same hopes?
It’s so hard for me without you, everything is hard
In each moment I breathe, thoughts of you torture me
I try and I try but
Your traces come back to life and I’m afraid

 

Saengil chukae, Myungsoo-ya,” guman Eunhwa pelan sambil membacakan pesan yang dia ketik di smartphone-nya. Lalu dia mengirimkannya untuk Myungsoo.

 

Dua jam kemudian, Eunhwa sudah berada di restoran Jinjisanguntuk sarapan. Baru saja dia menyuapkan olgaengi haejangguknya, ponselnya berbunyi.

“Apa kau membawa hadiah dari Jerman?”

Eunhwa tersenyum tipis. Lalu dia membalas pesan itu.

Ne,” tulisnya singkat.

Tak ada lagi pesan balasan sampai dia menghabiskan sup hangat itu. Eunhwa pun keluar dari sana menuju mobilnya. Baru saja dia menyalakan mesin, ponselnya berdering. Jantungnya berdebar melihat nama si pemanggil. Eunhwa tertegun sejenak sebelum menjawab panggilan itu.

Eoddisseo?” tanya Myungsoo sebelum Eunhwa menyapa.

Eunhwa melihat sekeliling, ragu mengatakan di mana dia berada. “Baru keluar dari Jijinsang.”

Mwo?” tanya Myungsoo. Hening beberapa saat dan Eunhwa speechless. “Sagwa ip, apa yang kau lakukan di Yangsuri?”

Eunhwa tersenyum tipis. “Hanya kemari untuk sarapan. Di lembah sungai Spree tak ada Jijinsang.”

Gadis itu mendengar dengusan Myungsoo. “Jawaban yang tidak lucu.”

“Myungsoo-ya, aku akan melajukan mobil sekarang. Bisakah kita putuskan sambungan?”

Hya!” umpat Myungsoo cuek. “Apa kau muak berbicara denganku?”

Eunhwa mengusap keningnya. Tentu saja bukan itu. “Geurae,” dustanya.

Hening.

“Aku tutup ya.”

Eunhwa pun menaruh ponsel di kursi kanan. Dia mengatur napas sebelum melajukan mobil.

그리움이닿는곳에 

 

Hapjeongdeong, Mapo-gu, Seoul,

 

Waeyo?”

Myungsoo tersentak saat Sunggyu menepuk bahunya dari belakang.

“Bukan apa-apa, Hyeong.”

“Barusan kau menghubungi siapa sepagi ini?” tanya lelaki yang memegang secangkir teh ginseng panas itu.

Myungsoo dan Sunggyu berdiri di balkon, menatap pemandangan di bawah gedung apartemen itu.

“Jo Eunhwa,” jawab Myungsoo. “Tadi dia mengirimku ucapan ulang tahun.”

“Oh ya?”” Sunggyu cukup terkejut. “Apa kalian pernah bertemu sejak dia pulang dari Berlin?” tanya lelaki yang memakai sweater abu itu.

Myungsoo menggeleng, “Dia seperti menghindar.”

“Sunggyu, Hyeong! Geonam Hyeong memanggilmu!” teriak Sungyeol dari ambang pintu.

Sunggyu pun meninggalkan Myungsoo sendirian di balkon.

 

Myungsoo diam di balkon selama beberapa menit.Pagi ini Infinite akan latihan persiapan comeback dan Myungsoo harus berangkat ke lokasi syuting siang harinya setelah latihan. Myungsoo pun beranjak dari sana dan masuk.

“Myungsoo-ya, kemarilah,” panggil Geonam, salah satu manager Infinite.

Myungsoo duduk sementara enam temannya masuk ke kamar.

“Teman-temanmu akan berangkat ke studio sekarang. Kau akan syuting This is Infinite di sini, menyelesaikan sebuah tantangan,” ucap lelaki tinggi besar itu.

Ye?” Myungsoo terkejut. Tapi dia tersenyum lebar. “Tantangan apa?”

Di dalam living room dan dapur, sudah dipasang kamera. Myungsoo harus membuat menyiapkan snack untuk kru syuting drama.

Pemuda yang memakai T-shirt warna abu dan training  warna maroon itu menganga sesaat lalu tertawa kecil.

“Waktumu hanya satu jam,” ucap Geonam.

 

Myungsoo kelabakan. Dia berusaha membujuk teman-temannya tapi mereka sudah bersiap pergi. Dia memohon pada Woohyun tapi si Namu malah berlari. Semua segera keluar tapi Myungsoo berhasil mendekap Howon.

“Ayolah, Hyung. Bantu aku.”

Howon hanya tertawa ketika Geonam membantunya melepaskan diri dan menggiringnya keluar. Myungsoo kini sendirian dan sejam kemudian, manager itu akan menjemputnya.

Myungsoo mengacak-acak rambutnya dan tak berhenti ngomel sampai dia berada di dapur.

“Tantangan apa ini?” gumannya sambil membuka lemari es.

그리움이닿는곳에 

 

 

Komawo, Myungsoo-ya,” ucap Lee Minjung begitu menerima sepiring kecil kimbap dan pajeon saat break syuting siang itu.

Ne, Noona.”

“Kau membuatnya sendiri?” tanya Joo Sangwook yang baru mengunyah jeon.

Ne, Hyeongnim,” jawab Myungsoo sambil nyengir.

 

Jam 8 malam, Myungsoo duduk di sofa sambil membaca naskah.  Lelaki yang memakai baju resmi, kemeja abu dan dasi motif garis, berada di sebuah ruangan di apartemen tempat adegan akan dilakukan. Jaket hitam tebalnya membuat dia hangat dan terlelapmerasa nyaman.

Myungsoo mendengar pintu dibuka dan saat itu hampir semua aktor-aktirs dan kru ‘Cunning Single Lady masuk sambil menyanyikan Saengil Chukahamnida. Sunggyu datang membawa cake , diikuti member Infinite lain.  

Setelah itu mereka berkumpul untuk makan malam bersama. Woohyun dan yang lain membawa banyak makanan malam itu. Saat itu juga Myungsoo baru tahu kalau tadi pagi dia dikerjai. Adegan dia menyiapkan masakan, tidak ada dalam acara ‘This is Infinite’.

그리움이닿는곳에 

 

Nogosandong, Mapo-gu,

 

“Aku ada di depan rumahmu.”

 

Eunhwa melotot. Belum lama masuk kamar dan memeriksa ponsel, dia membuka pesan mengejutkan yang dikirim 15 menit lalu dan ini sudah tengah malam. Eunhwa beranjak menuju jendela dan melihat sebuah mobil terparkir di depannya. Gadis yang memakai celana seltutut dan loose tee itu menyambar baju hangat panjangnya. Baru saja dia memegang gangang pintu, dia membalikan tubuhnya untuk mengambil sesuatu.

 

“Kenapa tidak masuk saja?” tanya Eunhwa begitu duduk di kursi samping Myungsoo.

“Aku ragu orang tuamu akan memanggil anak gadisnya yang mendapat tamu lelaki di tengah malam. Kau saja yang sengaja membuatku menunggu lama,” ceroscos Myungsoo sambil bercermin pada spion untuk membetulkan rambutnya. “Apa itu hadiah untukku?” tanyanya saat menoleh.

Eunhwa menaruh paper bag yang dia bawa di pangkuan Myungsoo.

“Wah, apa ini?” tanya lelaki yang memakai jaket hitam itu.

Eunhwa melihat senyum yang sangat dia rindukan. Tapi gadis itu menatap Myungsoo tanpa ekspresi. “Kau bisa membukanya nanti kan?”

Myungsoo mengangguk-angguk. “Baiklah,” ucapnya sambil menyimpan paper bag itu di belakang. “Kamsahamnida.”

Keureom, kau akan pulang sekarang kan? Kau sudah mendapat kadonya.”

Myungsoo memasang tampang horror. “Hya! Kau pikir aku penagih hadiah?”

“Ini sudah larut, aku mau tidur,” ucap gadis itu sambil hendak membuka pintu. “Jalga!”

Myungsoo menahan lengannya, membuat Eunhwa tersentak. “Apa kau begitu membenciku?” tanya Myungsoo pelan.

Lelaki itu mengunci pintu mobil melalui remote dan dia menyalakan mesin.

그리움이닿는곳에 

 

Nanji Hangang Park,

 

Mobil hitam itu berhenti di kawasan sepi pinggiran sungai. Sedikit pun Myungsoo tak berbicara sepanjang jalan meski Eunhwa mengomel.

 

“Aku tak pernah membencimu, Myungsoo-ya, kau tak perlu membawaku kemari untuk bicara.”

Myungsoo menghadapkan tubuhnya. Dia menatap Eunhwa lembut meski gadis itu tetap merasa tatapan Myungsoo menyorot tajam. Myungsoo pikir, Eunhwa membencinya karena Kim Doyeon.

“Doyeoni…” pancing Myungsoo

“Jangan sebut nama wanita itu!” ucap Eunhwa tegas, membuat Myungsoo yakin pirasatnya.

Seringai dingin tergaris di wajah lelaki itu. “Keureom, kau membencinya…”

Keurae. Setelah dia memohon untuk melepaskanmu, dia hanya menjeratmu lalu menjerumuskanmu.”

Mwo?” Myungsoo terkejut.

Eunhwa menatap Myungsoo lekat. “Waktu itu aku bukan menyerahkanmu padanya. Aku hanya membiarkan semuanya berjalan sesuai keinginanmu.”

Myungsoo tersenyum masam. “Jadi dia pernah menghubungimu? Dan kau mengabaikanku karena itu?”

Eunhwa memalingkan wajah. “Mianhae. Apa yang kau alami, semuanya salahku. Aku yang tak bisa menjagamu, tapi aku tak pernah meminta maaf.”

Myungsoo mendengus kencang. Dia mulai faham kenapa Eunhwa dengan mudah menjauh. Kalau orang berpikir mengencani Doyeon adalah kesalahan besar, sepertinya benar.

“Dia melukaimu, Myungsoo-ya,” ucap Eunhwa pelan. “Dia melukai orang yang paling tak ingin aku sakiti seolah dialah yang menderita.”

Myungsoo melihat kilatan di mata Eunhwa.

“Aku tak akan memaafkanmu yang mengalah, juga membiarkanku berprasangka buruk padamu. Tapi, bisakah kita melupakan semuanya?”

Eunhwa menoleh dan kedua matanya tampak jelas berkaca.

Sagwa ip, aku benci suasana seperti ini,” ucap Myungsoo dengan suara beratnya. “Aku benci kau jauhi, aku benci kau abaikan, dan aku juga benci melihat wajahmu seperti itu. Lupakan semua dan buang semua hal yang kita benci. Lagi pula kapan kita sepakat mengakhiri hubungan?”

Eunhwa menatap Myungsoo datar, lalu tertawa kecil. “Maksudmu, kau selingkuh?”

Myungsoo meringis. “Geuman,” ucapnya pelan.

Lalu Eunhwa merasakankedua tangan Myungsoo menyentuh bahunya untuk menariknya ke dalam dekapan hangat.

Myungsoo memejamkan mata dan mendekap erat Eunhwa. Dia membuang napas yang mengeluarkan udara berat dari kepalanya. Dia merasakan lengan tangan Eunhwa melingkari pinggangnya.

“Aku ingin menggigitmu, Sagwa ip!” bisik Myungsoo setelah beberapa saat.

Eunhwa menengadah, mengangkat wajahnya. “Aku ingin menginjakmu,” ucapnya usil.

Myungsoo mendelik, memutar bola matanya. “Kau tahu, sangat sibuk sampai tak sempat mandi.”

Eunhwa tertawa dan tubuhnya masih dipeluk lelaki itu. Myungsoo menurunkan kepalanya pelan mendekati wajah Eunhwa. Gadis itu berhenti tertawa, merasakan sebelah tangan Myungsoo menahan kepalanya dan sebelah lagi menyentuh pipinya. Myungsoo menatap tepat ke dalam mata Eunhwa yang tebuka lebar itu. Wajah mereka sangat dekat dan ujung hidung mereka bergesakan.

Napas Eunhwa tercekat dan perutnya seperti dipenuhi bunga yang mendadak mekar. Dia bersiap memejamkan mata tapi dilihatnya Myungsoo menyeringai. Myungsoo lebih menurunkan kepalanya dan dia menggigit bahu Eunhwa.

“Kim Myungsoo!” jerit Eunhwa sambil mendorong lelaki itu.

Myungsoo tertawa renyah. “Sudah aku bilang aku mau menggigitmu, bukan mau mencium.”

Eunhwa memukul lengannya berkali-kali. Myungsoo malah meraih kedua tangan Eunhwa dan berlaga seolah mau menggigit jermari gadis itu.

“Aku sudah lama tidak menyiksamu, Sagwa ip!” ucap Myungsoo sambil mengedipkan mata kanan.

“Aku mau pulang,” tukas Eunhwa ketus.

“Baiklah, Gongjunim.”

Myungsoo menyalakan mesin. Lalu dia mencubit pipi kiri Eunhwa.

Gadis itu melotot. “Kau benar-benar minta diinjak?”

Myungsoo menggeleng sambil memasang ekspresi aegyo yang membuat Eunhwa mencibir sebal.

그리움이닿는곳에 

 

Nogosandong, Mapo-gu,

Myungsoo menguap pelan saat mobilnya berhenti di depan rumah Eunhwa.

“Apa perlu aku mengemudi dan mengantarmu?” tanya Eunhwa.

Ye?” Myungsoo tersentak. Dia menepuk-nepuk pelan kepala Eunhwa, “Kau pikir aku seorang namja yang membuat yeoja-nya kerja rodi?”

Eunhwa terkekeh. “Aku hanya khawatir melihat tampang kantukmu.”

Geokjeongmal,” ucap Myungsoo. “Aku masih cukup segar untuk mengemudi sampai Hapjeongdong.”

Eunhwa membuka sabuk pengaman dan bersiap turun.

Good night, Sagwa ip!” ucap Myungsoo.

 Dia menyentuh pundak Eunhwa dan mendekatkan tubuhnya. Dia mencium kening gadis itu lalu tersenyum manis.

Eunhwa membalas senyuman itu. “Be careful!” ucapnya.

Tanpa Myungsoo duga, gadis itu mencium pipinya.

“Setahun tinggal di Eropa membuatmu romantis, eoh?” tukas Myungsoo jail.

Sebelum gadis itu membuka pintu, Myungsoo menarik bahunya dan memangku kedua rahang Eunhwa. Dia langsung mendaratkan ciuman kliat di bibir gadis itu. Dia menjauhkan wajahnya sedikit untuk menatap mata Eunhwa. Lalu Myungsoo mencium lagi bibir gadis itu dan kali ini bukan ciuman kilat. Eunhwa membuka sedikit bibirnya. Perasaan gadis itu terhenyak cukup dalam. Darahnya seolah beredar lebih cepat dan membuat seluruh lapisan kulitnya merasakan gelenyar hangat. Sengatan itu masih terasa meski mereka berdua sudah menarik ciuman.

Eomma?” tukas Eunhwa melihat ibunya membuka pintu gerbang.

Gadis itu segera turun dan Myungsoo ikut.

“Eunhwa-ya, kau sudah dari mana?” tanya nyonya Jung melihat putrinya berhamburan setelah keluar dari mobil.

Perempuan itu melihat Myungsoo mendekat.

Annyeong haseyo, Eommonim!”

Nyonya Jung dan Eunhwa sama-sama terkejut mendengarnya.

Joseonghamnida, aku membawa Eunhwa jalan-jalan sebentar,” lanjut Myungsoo.

“Kim Myungsoo, neo…” tanya nyonya Jung.

Ye?” tanya Myungsoo bingung. Dia menunduk melihat nyonya Jung melotot. “Ah, Joseonghamnida. Aku tahu ini sudah larut. Aku hanya punya waktu senggang sekarang.”

“Tadi kau memanggilku apa?” tanya nyonya Jung membuat Myungsoo menengadah.

Myungsoo tersenyum kaku dan mengusap rambutnya yang ditutup hoodie.

Keureom, aku pamit dulu, Eommonim, annyeong!” ucap Myungsoo sambil membungkuk dalam lalu melangkah untuk menyebrang.

“Bocah itu…” nyonya Jung seperti kehabisan kata-kata sementara Eunhwa cekikikan. “Kalian pacaran?”

Ye?” tanya Eunhwa. “Ah, mungkin dia hanya menggoda eomma.”

Nyonya Jung memicingkan mata. Perempuan yang memakai coat panjang itu memberikan tatapan menyelidik.

“Sudah berapa lama kalian pacaran?”

Eunhwa hanya tertawa kecil. “Sejak kecil,” jawabnya usil.

Nyonya Jung melotot tapi Eunhwa mengandeng tangannya mengajaknya masuk.

그리움이닿는곳에 

 

 

T.H.E E.N.D

 

Advertisements

13 thoughts on “그리움이 닿는 곳에 [Still I Miss You]

  1. Uyeeeeee….Agak gege baca ini karena ada si pecun oplas >> Dayeon or etc.
    Apa ya? Agak bingung sebenarnya kalau mau komentar cerita romance wkwkwwkwk

  2. ahhh~ Myungsoo sama Eunhwa. Hati2 loh bang nanti digaplok Doojooni XD.. Aduh2 LDR, persis seperti diriku, dan itu gak enak banget 😀 *jadicurhat XD .. Sempet sebel pas disini ada nama Kim Doyeon, entah kenapa aku sebel banget sama Ulzzang yang satu ini. Btw, L sama Doyeon emang pacarankah eon?, di pertengahan aku sempet gak ngerti sama alurnya, dan itu bikin aku bingung :D, untuk keseluruhan aku suka, walaupun masih ada beberapa typo yang nangkring disana! 😀

    1. Kekeke
      Karena ane juga sebel sama nama itu, biar dipake alesan LDRnya berantakan 😀
      Kata Wooliment, mereka jalan 6 bulan
      Terus ada yang nulis juga kalo Wooliment kepaksa ngaku karena anceman c ulzzang itu #heol
      Kalo L ga ngaku, dia mw nntun Inspirit yang udah bully. Lebay ya

      Dulu nama Eunhwa emang pair Myungsoo. Cuma pas bahas draft KO, semua sepakat lebih condong ke DJ. Jadinya ganda #plak

      Kamsahamnida n mianhae

    1. annyeong Rin 😀
      iya ini emang dikonsep sweet
      kalo dikonsep pahit, ga cocok sama moment saengil

      skandal itu? aissh.
      endingnya kan L mengalah. Wooliment mengeluarkan pernyataan mengakui pernah kencan 5 bulan krn si baddoll ngancem mw nntun inspirit yg udah neror

      komawo 🙂

    1. wkwkwkwkwk
      itu bikin enek sumpah.
      karena mood ga membaik juga tiga hari ini, ganggu kinerja otak, saya ga eksplor soal si baddoll. Intinya so baddoll ‘meyakinkan’ EH buat melepaskan L karena jarak. Seolah L butuh orang d dekatnya. Eunhwa sakit hati n bersalah karena skandal heboh itu bukan hanya jealous. Inget waktu sekolah sampe L debut, dia malah sengaja menghindar demi L biar gda gosip macem. Nah baddoll malah ngumbar affair 😥
      Dia juga takut gitu makanya agak mengindar.

      malah di kerangka dasar story, endingnya sampe bahas foto2 di kado.

      kamsahamnida udah baca n komen
      kalo kinerja otak membaik, mw post series L genre modern Kingdom
      😥
      ah iya lupa nyatroni sosmed agti 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s