Before the Dawn

Before the Dawn

[Special L’s Birthday FF]

BTD new

By :

  Chelsea

| Romance |Songfict  | PG 17| One shot |

 

Casts :

Kim Myungsoo [Infinite L]

Kim Jiwon as Jo Eunhwa (OC)

Supporting Casts :

All Infinite members, Infinite’s manager and cordy,

Kim Moonsoo (Myungsoo’s little brother), parents.

 

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

 

Previously was posted in School of Fanfiction for Myungsoo’s birthday last year.

This part contains some editing.

Apologize for any mistakes.

 

 

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

 I Myungsoo-ya, I miss you… as much as the leaves fall in autumn, as much as snow covering the ground all winter, as much as flowers bloom in the spring and as much as sunlight all summer.

 

Taxi yang kutumpangi berhenti di depan rumah tingkat dua yang tidak besar dan tidak kecil. Aku segera turun dan rasanya ingin berada di dalam ruangan di balik jendela samping kanan rumah lantai atas. Di sana ada kamar yang sudah kutinggali sejak kecil. Saat mau membuka gerbang, aku melirik pada rumah sederhana di seberang. Aku tersenyum mengingat banyak kenangan masa kecil yang kualami di sana.

Begitu aku masuk, eomma memanggil.

“Eunhwa-ya, bergegaslah mandi. Kita makan malam di luar.”

Aku berhenti di anak tangga pertama. “Eomma malas masak ya?” godaku.

Kulihat ibuku berkacak pinggang sambil berdecak. “Bukan begitu,” ucapnya lembut. “Cepat saja mandi dan dandan yang cantik.”

“Aku sudah cantik, Eomma,” candaku sambil terkekeh.

Aku pun menanjaki anak tangga dengan cepat.

“Dalam 30 menit kau sudah siap,” teriak Eomma begitu aku sampai di lantai atas.

Mwo?” keluhku. Baru saja aku tiba dengan tubuh lelah dan kepala penat setelah menjalani perkuliahan yang padat.

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

 

Aku bisa selesai tepat waktu. Setelah sedikit memoles wajahku dengan natural flawless make up harianku dan blus putih selutut berlengan panjang dari bahan rajut yang lembut dan hangat, aku bergegas turun. Tak lupa kupakai legging dan wedges untuk menghangatkan kakiku.

Tak lama kemudian, kami bertiga sudah berada di dalam mobil. Appa, eomma dan aku. Kami tinggal bertiga setelah kakak perempuanku menikah tahun lalu dan menempati apartemen suaminya.

“Kita mau makan di mana, Appa?” tanyaku antusias.

“Lihat saja nanti,” ucap appa santai.

Aku sedikit heran karena mobil appa tidak melaju menuju jalan raya. Malah memasuki kompleks ini lebih dalam. Apa ada restoran baru? Dari jauh, aku melihat sebuah pohon peach besar di depan sebuah rumah yang juga cukup aku kenal. Peach blossom akan memenuhi pohon itu di puncak musim semi nanti. Mobil ini bergerak makin pelan saat mendekati rumah berlantai dua yang sedikit lebih besar dari rumahku. Aku cukup terkejut ketika mobil ini berhenti di depan rumah itu. Rumah orang tua Kim Myungsoo.

      “Ayo turun,” ucap eomma.

      “Ye?” tanyaku bingung.

Tapi eomma dan appa turun cepat dan sudah berada di luar. Aku pun mengikuti mereka yang sudah berdiri di depan gerbang, di dekat pohon peach. Seorang wanita yang lebih muda dari eomma membukakan pintu itu, Ahn ahjumma.

 “Annyeong haseyo!” sapanya ramah. “Eonni dan Oppa sudah menunggu anda,” ucapnya kemudian, menyebut ayah dan ibu Myungsoo.

Ahn ahjumma adalah tetangga kami dulu. Karena dia tak punya keluarga, dia sering berada di rumah paman Kim untuk membantu pekerjaan sehari-hari istrinya. Dia juga sering membantu eomma memasak.

 

Paman Kim dan istrinya menyambut kami. Kami dipersilahkan duduk di ruang tengah. Seorang remaja tampan juga ikut menyambut kami, Kim Moonsoo, adik Myungsoo yang cukup mirip dengan kakaknya. Tapi sayang Moonsoo tak bisa bergabung. Dia ada janji dengan teman-temannya. Para orang tua saling menanyakan kabar mengingat mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.

Annyeong haseyo, Jo Ahjusshi, Jun Ahjumma!”

Suara ngebass yang lembut itu membuatku menoleh pelan ke belakang, dan kudapati seorang namja yang mengenakan training dan baseball hoodie warna marun berdiri tepat di belakangku. Dia baru saja menyapa kedua orangtuaku. Aku cukup terkejut melihat namja yang sedang tersenyum manis itu mengingat kami tak bertemu dalam waktu lama.

Annyeong haseyo, Myungsoo-ya!” jawab kedua orangtuaku.

Kemudian sepasang mata indah dan tajam di wajah tampan itu menyorot padaku.

   Dia menyeringai sambil menepuk kepalaku. “Annyeong, Sagwa ip!” (Bibir apel)

   Aku cemberut sambil menepis tangannya. Sialnya dia tertawa melihat reaksiku, juga para orang tua. Itu panggilan yang menyebalkan.

   “Annyeong, Beoseos Meoli!” (Kepala jamur) balasku sambil mendelik menghindari tatapannya dan dia malah terkekeh.

   Aku berusaha menguasai diri saat pria itu duduk di sampingku dan berbincang dengan orang tuaku. Mereka menanyakan perjalanan Myungsoo ke Indonesia untuk tampil di Music Bank.

   “Ya!” panggilnya terpaksa membuatku menoleh. “Ayo bantu aku menyiapkan makanan.”

   Tanpa menunggu jawabanku, dia berdiri dan pamit pada para orang tua. Aku pun mengikuti langkahnya menuju ruang makan. Ahn ahjumma menaruh piring-piring berisi makanan dan Myungsoo memberikanku kotak berisi es balok.

   “Tuangkan esnya ke dalam gelas,” perintahnya.

    “Ne,” ucapku singkat.

   Aku pun memakai dessert spoon dan mencapit satu persatu es balok kecil dan menaruhnya ke dalam gelas-gelas wine. Dia menuangkan wine di gelas sudah berisi es.

   “Bagaimana kuliahmu?” tanyanya tanpa menoleh.

   Aku meliriknya, menatap wajah tampan itu dari samping. “Baik.”

   Kulihat bibir sensualnya menarik senyuman kecil. “Kau pasti tak mengalami banyak kesulitan kan?”

   “Eoh,” jawabku malas. Aku lebih ingin mendengar suaranya dan memandang wajahnya itu yang dulu bisa kulihat setiap hari.

   Dia menoleh padaku, membuatku seketika menyorotkan tatapan ke arah gelas-gelas besar ini. Aku ingin mengeluh, kenapa dia tak membiarkanku memandangnya lebih lama. Kudengar dia tertawa kecil lalu kurasakan telunjuknya menjitak keras keningku.

   “Ya!” bentakku sambil melotot. Sialnya namja itu tampak senang saat aku kesakitan.

   Kulihat dia mendekatkan tubuhnya dan mencondongkan kepalanya. Jantungku mau meledak saat mata tajam itu menusuk tepat ke dalam mataku. Dia menepuk-nepuk pelan kepalaku.

   “Sudah lama tidak mengerjaimu, Sagwa Ip. Bwe!” ucapnya lalu menjuluran sedikit lidahnya.

   Aku menepis tangannya cukup kasar dan menghindari tatapan mautnya. Aku takut dia melihat kedua pipiku blushing padahal tidak memakai blush on.

   “Aku juga sudah lama tidak menghajarmu, Kepala jamur!” umpatku.

   Aku selesai mengisi gelas dengan es dan melirik namja itu dengan tatapan senang. Aku menyeringai sebelum menginjak keras kakinya. Dia meringis dan aku tertawa. Betapa beruntungnya dia karena aku hanya mengenakan sandal rumah. Kalau tahu si keras kepala ini ada di rumahnya, aku mau minta izin mengenakan wedgesku di dalam rumah.

   “Ya!” umpatnya dengan tatapan sadis karena wine yang dia tuangkan nyaris membasahi lengan sweater yang ia pakai.

   Aku berlari menghindar sebelum dia menjambak rambutku atau menjawil hidungku sampai aku tak bisa bernapas. Dan aku beruntung karena para orangtua masuk ke ruang makan. Aku juga bersyukur karena tak duduk di dekatnya. Mungkin dia akan memukul kepalaku dengan sumpit atau sendok. Aissh, namja tampan itu sebenarnya sangat mengerikan. Aku heran pada gadis-gadis yang sering mengerubutinya sejak sekolah. Bersorak ketika dia olahraga, memberinya cokelat, lollipop bahkan hadiah-hadiah kecil.

   Setelah dicasting Woolim Ent, aku merasa ada jarak antara kami. Dia semakin tampan dan manis, membuatnya semakin digilai gadis. Apalagi setelah dia debut. Dia tak pernah lagi tampil dengan rambut tebalnya bak jamur payung. Selama makan, pembicaraan diisi dengan topik pekerjaan Myungsoo dan kegiatan orang tua. Saat membahas tentangku, aku menanggapinya singkat. Aku sedang tak ingin banyak bicara karena ingin menikmati momen langka ini, duduk satu meja dengan si keras kepala itu.

Myungsoo-ya, sebenarnya aku merindukanmu sebanyak daun jatuh di musim gugur, sebanyak salju  menuruni bumi di musim dingin, sebanyak bunga bermekaran di musim semi dan sebanyak sinar matahari jatuh sepanjang musim panas.

   Dia teman sepermainanku. Kami selalu memasuki sekolah yang sama dan berpisah saat lulus SMA. Dia belajar di Daekyung University dan aku pergi ke Sungkyungkwan. Dia sudah menyelaikan pendidikan sampai tingkat diploma dan aku harus menunggu tahun depan untuk menyelesaikan pendidikan strata satu.

   Saat ini aku ingin menangis terharu karena bisa merasakan lagi masakannya. Masakan seorang pria tampan yang pernah mempermalukanku sebagai perempuan. Kalau bukan karena dia, aku tak akan pernah suka memasak. Rasanya aku ingin menghabiskan sup buatannya ini tanpa harus berbagi dengan para orangtua.

   Selesai makan, para orang tua bermain kartu di ruang tengah sambil memakan dessert. Myungsoo pamit sebentar ke kamarnya dan kembali dengan paperbag di tangannya. Dia memberikan eomma dan appa satu paperbag berisi baju dari kain batik. Oleh-oleh yang dia beli di Indonesia kemarin. Aku tersenyum senang melihat kedua orangtuaku senang menerimanya meski ada perasaan iri karena dia tak memberikanku apapun.

   “Sagwa Ip, ikut aku!” ucapnya seperti biasa, tanpa menunggu jawabanku.

     Jantungku berdebar, mungkin si kepala jamur itu akan memberiku hadiah. Ternyata dia menggiringku ke dapur.

    “Bantu aku cuci piring ya. Ahn ahjumma sudah kusuruh pulang. Aku khawatir dia lelah,” ceritanya.

    “Eoh,” tanggapku singkat dan kami berdiri di depan bak cuci piring.

    “Ya!”

    Aku menoleh dan lagi-lagi mendapat tatapan pangeran es yang membunuh itu. “Ye?” tanyaku heran.

    “Hanya ‘eoh’ saja yang bisa keluar dari bibir apelmu?” tanyanya dengan tatapan mengerikan. Tatapan kesal yang bisa memporak-porandakan hatiku.

    “Ye?” tanyaku lagi.

    Dia mendengus kesal.  Tanpa kuduga, dia menjawil hidungku, bahkan mencubitnya keras. “Kenapa kau jadi pendiam hah?”

    Aku berusaha melepaskan diri dari siksaan ini. Kalau hidungku artfisial, mungkin sudah rusak dan harus segera pergi ke ahli bedah plastik. Sempat terpikir kalau hidungku yang bangir dan runcing ini akibat jawilan Myungsoo sejak kami kecil. Kalau benar, aku sangat berterima kasih. Tapi tidak untuk rasa sakit ini. Aku mencubit kulit pergelangan tangannya agar hidungku bebas dari jajahan jemari besarnya.

    Aku berhasil melepaskan diri dan dia tertawa tanpa dosa.

    “Apo!” keluhku sambil memukul lengannya yang kekar.

    Tawa renyah masih mencerahkan wajah tampannya yang dingin itu. Dia mengenakan sarung tangan dan mulai menggosokan spons berbusa ke piring.

    Aku membaca novel keduamu,” ucap Myungsoo seraya menyerahkan piring itu untuk kubilas.

   Ah, tak kusangka monster sepertimu mau membaca novel,” ungkapku menyembunyikan rasa girang luar biasa dalam diriku.

  “Asssh!” umpatnya kesal. “Jo Eunhwa selalu memberiku sebutan mengerikan.”

  Aku tertawa kecil. Mianhae Myungsoo-ya. Sebenarnya hatiku berkata bahwa aku tak menyangka idol sibuk sepertimu sempat membaca tulisanku. K-pop idol yang paling tampan.

  Dulu kami sering melakukan hal ini, mencuci piring bersama. Tak jarang momen seperti ini diakhiri dengan perang busa atau cipratan air.

   “Pabo! Dulu aku adalah namja pertama yang berminat membaca tulisanmu,” ucapnya seraya memberikan piring kedua.

   Pandangan kami bertemu dan aku hanya tersenyum.  Sewaktu SMA, aku sering menulis fanfiction. Sebagai salah satu temanku, dia mengetahui hal itu dan ingin membaca tulisanku. Dia penasaran karena mendengar fanfiction jelekku membuat orang lain menangis.

  “Ah ye, komawo. Karenamu juga, aku bisa menulis sudut pandang sebagai namja,” ucapku tulus.

  Keurae, Myungsoo-ya. Karena kau, aku mengetahui banyak tentang namja. Bagaimana cara seorang namja memandang dan menilai yeoja. Juga isi pikiran dan perasaan namja.

  “Keundae,” ucap Myungsoo sambil menyerahkan lagi piring untuk aku bilas. Dia melirikku melalui sudut matanya. “Kenapa aku merasa mirip dengan Nathaniel?” tanyanya membuatku tersentak.

  Aku nyengir kaku mendengarnya menyebut nama tokoh utama pria dalam novel keduaku. “Geer,” komenku pendek. Kulihat matanya tertuju pada piring lagi dan bibirnya membentuk senyum kecil.

  “Hampir semua ciri-ciri fisiknya mirip denganku, kecuali mata hazelnya,” ucapnya membuatku gugup. “Tapi mata hazel itu digambarkan memiliki energi tajam yang bisa memporak-porandakan perasaan yeoja.”

 Aku terkekeh geli. “Memangnya namja tampan dengan dagu runcing, hidung bangir dan bermata elang itu Kim Myungsoo seorang?”

 “Aku suka lukisan kota Milan dan Amsterdam yang kau tulis,” ungkapnya lagi.

 Ya Tuhan, berikan aku kemampuan untuk menghilang saja. Dan kenapa namja ini harus membaca novelku. Milan dan Amsterdam, waktu SMA Myungsoo pernah berkata ingin pergi ke sana. Dan Milan adalah kota impiannya. Aku hanya bisa terkekeh sambil berdebar cemas, khawatir dia membicarakan satu penggalan paragraf dalam novel itu.

 “Yoori merasa Nathaniel adalah cermianan dirinya.”

 Oh brawling love, oh loving hate! Dia baru saja memulai pembicaraan itu. Aku terpaku melihatnya dalam tatapan bodoh. Bibirnya menyeringai kecil dan dingin, khas seorang Kim Myungsoo.

 “Saat Yoori berpikir seperti itu, Nathaniel berkata : [“Kenapa kita punya banyak persamaan? Semua yang kau suka, aku juga menyukainya.”] Kebetulan yang sederhana tapi bagus,” ucapnya diakhiri senyum kecil yang manis, bukan seringaian kecil yang dingin.

 “Komawo sudah membaca tulisan jelekku bahkan mengingat dialognya,” ucapku pelan lalu mengalihkan pandangan ke kucuran air.

 “Selasa malam nanti datang ke private party-ku ya.”

 Aku menoleh dan menatapnya dengan mulut setengah menganga, “Pesta?”

 Aku dikejutkan lagi padahal belum lama dia menyambarkan petir yang melemahkan tubuhku karena membahas tokoh utama novelku, Nathaniel yang memang menggambarkan dirinya.

 Dia melirikku tajam. “Aissh!” umpatnya seraya menaruh segumpal busa beraroma lemon di pucuk hidungku. “Kau lupa hari ulang tahunku?”

 Bukan itu Myungsoo-ya, bahkan aku sudah lama menyiapkan kadonya. “Sae-saengil?” aku hanya bisa bicara terbata-bata sambil membersihkan hidungku.

 Kulihat Myungsoo meniupkan udara ke poninya dengan kesal. “Ah, pantas saja kau tak pernah memberiku kado ulang tahun. Kau melupakan hari ulang tahunku rupanya,” keluhnya dengan ekspresi dingin.

 “Hehe,” aku terkekeh, merasa mengalahkannya dalam satu hal. Merasa senang dia kecewa karena aku tak pernah memberinya kado ulang tahun.

 “Aku jemput jam 10.30 PM. Aku sudah minta izin Jo ahjusshi.”

  Aku hanya bisa terpana memandangnya. Diundang ke private party? Bertemu dengannya di hari biasa saja sudah menjadi barang langka bagiku.

   “Pakailah black dress,” ucapnya ketus.

   “Eoh,” responku sambil menahan tawa. Rasanya aku ingin melompat.

   Ini undangan istimewa dan kudengar dia tadi mau menjemputku bahkan minta izin pada appa.

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

 

   Aku hampir tak bisa tidur mengingat pertemuan singkat kami di rumahnya tadi. Aku hanya berbaring sambil memeluk bantalan kecil berbentuk apel pemberian Myungsoo waktu SMP.  Si rambut jamur payung itu membelinya untuk hadiah ulang tahunku karena merasa bibirku memiliki kurva yang sama dengan lekukan bantal apel hijau ini. Sejak itu dia memanggilku ‘Sagwa Ip’, si Bibir apel.

Kutatap sebuah benda yang kupajang di meja belajarku. Sepasang garpu dan sendok dari logam kuningan yang ditaruh dalam kotak merah sebagai alas dan tutup plastik tranparan. Kedua ujung garpu dan sendok itu berbentuk puppet, tokoh wayang yang cukup terkenal di Indonesia. Itu adalah oleh-oleh pemberian Myungsoo. Dia membelinya saat berada di negara itu kemarin.

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

  Aku sudah siap berangkat. Dengan balutan black mini dress dan riasan pesta malam yang tetap natural flawless look. Aku sedikit menata rambutku, membuat bagian tengah sampai bawah curly. Tentu saja aku tak boleh membuat seorang L malu. It’s okay kalau aku terlalu percaya diri. Tentunya dia akan datang bersamaku. Aku tak mau namja keras kepala itu dipermalukan karena punya teman yang kuno.

  Aku membuka lemari pakaian dan jongkok. Aku mengeluarkan kardus seukuran ranjang bayi. Aku membukanya. Di sana kusimpan barang-barang penting semasa SMA dan ada lima buah kado. Aku mengambil salah satunya, sebuah kotak dibalut kain warna hitam dengan hiasan pita putih berisi hadiah ulang tahun ke 22 Myungsoo tahun ini. Lalu kupandangi empat kado lain.

  Sebuah kotak kecil berisi arloji sport yang aku beli untuk ulang tahun ke 18 Myungsoo. Lalu kulirik sebuah kotak yang dibungkus kertas warna kuning pear. Aku ingin memberikannya pada Myungsoo untuk ulang tahunnya yang ke 19. Aku tahu dia sangat ingin pergi ke Belanda, jadi kubelikan benda yang berhubungan negara itu. Lalu sebuah kotak panjang ukuran 20 x 8 cm. Aku pernah kerja paruh waktu selama sebulan dan menyisihkan setengah gajiku untuk membeli sebuah benda mahal beli untuk ulang tahun Myungsoo ke 20. Mungkin bisa dia gunakan untuk menuliskan catatan kuliah. Satu kotak lagi berisi parfum untuk ulang tahunnya tahun lalu. Aku tak pernah memberikan mereka.

     Aku minder karena dia menerima banyak hadiah dari para gadis di sekolah dan setelah Infinite debut, aku semakin merasa kecil. Aku hanyalah teman sepermainannya yang berharap dia mengenang kado pemberianku. Tapi aku tak pernah berani mengambil resiko tersaingi. Apalagi dia punya banyak Element yang selalu memberinya hadiah dan cinta.

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

March 12th 10.45 pm

Kim Myungsoo  mengendarai mobil ini dengan seorang gadis duduk di samping kanannya.

 “Kenapa tidak mengomentari penampilanku?” tanya Myungsoo memecah keheningan.

 Eunhwa menoleh dan menatapnya dari ujung kepala ke ujung kaki. Myungsoo memilih celana putih dipadu kemeja hitam dan jas biru untuk private party tahun ini. Jas biru ini bisa membuatnya mencolok di tengah ruangan tempat pesta yang remang.

 “Tidak jelek,” ucap Eunhwa singkat.

 Myungsoo meliriknya tajam dan dia sedang bercermin melalui kamera depan smartphone-nya. Eunhwa tak pernah memuji Myungsoo secara berlebihan. Tapi Myungsoo suka. “Bercermin, eoh?” tanya namja itu lalu mengalihkan pandangan ke jalanan.

 “Ye. Aku tak mau terlihat jelek di depan namjadeul tampan nanti.”

  “Mwo?” tanya Myungsoo kesal. Namjadeul tampan? Tentunya ditujukan pada member Infinite lain. Myungsoo nyengir malas. “Woohyun hyung sudah punya pacar. Howon hyung juga.”

 Eunhwa tertawa kecil. “Aku tetap suka Woohyun oppa meskipun dia menikah. Dan hey, Howon oppa  akan tetap tampan meskipun dia beranak tujuh.”

 “Hahaha!” Myungsoo sukses tertawa. “Beruntung, pacar Woohyun tak bisa datang.”

 “Jeongmal?” tanya Eunhwa girang.

 Myungsoo meliriknya lagi dengan tatapan menyepelekan, “Jadi Woohyun hyung berada di singgasana daftar idolamu menyingkirkan Song Joongki?”

               

 

 

Myungsoo menyewa sebuah large room di dalam pub. Enam member Infinite lain bersama manager mereka sudah berkumpul. Jang Dongwoo, Lee Howon ‘Hoya’ bersama pacar mereka. Lee Sungyeol mengajak gadis yang sedang dia dekati. Lee Sungjong, Nam Woohyun, dan Kim Sunggyu yang datang tanpa yeoja tampak berbaur dengan dua yeoja, mereka cordy Infinite.

 Mereka bernyanyi, bersulang, minum dan menikmati snack. Goo Min-ah, salah seorang cordy membuat berbagai permainan seperti truth and dare dan cover dance. Empat namja kalah dalam permaian batu kertas gunting dan harus melakukan cover dance lagu Sistar ‘Na Honja’. Si tuan pesta ikut apes. Dia bersama Yadong couple (Hoya & Dongwoo) dan Woohyun. Mereka berperan sebagai Sistar dan bergoyang, mengocok perut penonton.

  Mendekati jam 12, pelayan mengantarkan birthday cake. Sungjong menyalakan lilin dan mereka menyanyikan lagu Happy Birthday dengan paduan suara yang kacau. Myungsoo meniup lilin setelah make a wish.

 Myungsoo menerima beberapa hadiah dari teman-temannya dan namja itu membukanya satu persatu.

  “Mana kadomu, Eunhwa Noona?” tanya Sungjong.

  “Oh? Jamkankan,” ucap Eunhwa seraya meraih tasnya.

  Tangan Myungsoo mencengkram lengannya dan membuat Eunhwa menatapnya kaget. “Aku takut hadiahmu akan memalukan,” ucap Myungsoo membuat Eunhwa melongo. “Berikan saja nanti,” lanjutnya sambil melepaskan cengkraman tangannya lalu dia melirik semua mata yang menatapnya.

  Woohyun tertawa seketika, “Ehm!” dehemannya itu terdengar dibuat-buat. “Eunhwa-ya, Myungsoo ingin dia seorang yang pertama melihat kado spesialmu.”

 “Hyung!” umpat Myungsoo.

  Sunggyu terkekeh, “Hmm, rupanya Myungsoo akan segera mendapat seorang gadis dan tak akan menungguku sampai punya pacar.”

 Eunhwa hanya bengong sambil mencerna candaan itu dan Myungsoo merangkul Sunggyu, lebih tepatnya untuk mencekik si leader itu.

 Dongwoo juga melemparkan godaan, “Sudah kau siapkan sebuket bunga krisan untuk Eunhwa?”

  Mata tajam Myungsoo menyorot pada Dongwoo yang tertawa puas. Myungsoo segera merangkul namja yang punya bibir tebal dan lebar itu.

 “Dongwoo Hyungku yang tampan, bukankah kau sendiri yang suka bunga krisan?” tanya Myungsoo.

 Dongwoo melepaskan diri dari pelukan lebay Myungsoo. “Eunhwa-ya, cepat pacari dia. Kami tak tahan jadi sasaran pelukan raja skinship ini.”

 Eunhwa tersenyum kaku, merasa hatinya dipenuhi peach blossom. Dia meraih gelas yoghurtnya dan menyesapnya agak banyak.

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

     “Sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Eunhwa saat mobil yang dikendarai Myungsoo bergerak terus ke arah barat.

     “Ke suatu tempat yang ingin aku kunjungi  tentunya,” ucap Myungsoo dengan nada datar. “Tidur saja dulu, nanti kubangunkan.”

     Eunhwa melirik jam digital di depannya. 02.48 am. Eunhwa bertanya-tanya dalam angannya, apa Myungsoo ingin pergi ke pantai? Baru saja kemarin Eunhwa terkejut karena tiba-tiba novel keduanya berjudul ‘Milano Sunrise’ itu banyak dicari dan dibicarakan orang. Ternyata Myungsoo mengupload twitpic cover novel itu dan menulis : Aku mirip dengan tokoh utama novel ini.

Apa saat ini Myungsoo mau melakukan apa yang Nathaniel lakukan di hari ulang tahunnya dalam novel itu? Gadis itu tahu bahwa Myungsoo sangat suka pantai dan sunrise. Di dalam ‘Milano Sunrise’, Nathaniel ingin menyaksikan sunrise pertama di pantai saat hari ulang tahunnya bersama Yoori, gadis Korea teman satu kelasnya di University of Milan. Sayangnya Milan tak memiliki pantai dan Nathaniel terlalu sibuk untuk berencana pergi ke pantai. Nathaniel mengajak Yoori melihat sunrise di danau buatan Idroscalo. Lalu di malam ulang tahun Yoori, Nathaniel membawanya ke kota eksotis Rimini, menyaksikan sunrise dari pantai indah di kota yang terletak di Italia timur itu.

 

     Mereka memasuki Yangseo Township, di Seoul bagian barat. Setelah beberapa saat, mobil itu  mendekati Yangsuri. Myungsoo meliat Eunhwa benar-benar tertidur. Dia baru membangunkannya menjelang fajar. Myungsoo mengatakan dia ingin melihat matahari pertamanya di Dumulmeori, lembah di mana sungai Han bercabang. Dia beralasan ingin melakukan hal yang sama seperti Woohyun, melihat matahari pertama di hari ulang tahunnya di tempat yang indah.

Perasaan Eunhwa melayang lebih tinggi. Seperti yang dia perkirakan sebelumnya, Myungsoo melakukan apa yang Nathaniel lakukan. Seoul dan Milan sama-sama tidak punya pantai. Nathaniel memilih danau Idroscalo dan Myungsoo memilih lembah indah Dumulmeori yang membelah sungai Han menjadi dua.

 

     Kini keduanya berjalan di jalanan kecil sekitar Dumulmeori, memandang hamparan Han yang maha luas. Di musim gugur, tempat itu punya pemandangan hebat saat fajar. Panorama indah dengan selimut tipis dari kabut yang tertinggal di atas permukaan sungai dengan nuansa abu keperakan.

     Di bawah langit temaram, keduanya berjalan di atas jalan sepanjang pinggiran sungai yang diapit kolam lotus di sisi lain. Dari jauh, mereka bisa melihat pohon zelkova berumur 400 tahunan yang masih sering dijadikan tempat berdoa.

     Myungsoo berhenti di satu titik tepian sungai. Di mana sebuah perahu tradisional kecil dengan layar bentuk persegi yang melaju jauh di depan sana. Pulau kecil menjadi latar pemandangan di belakang perahu itu. Myungsoo tak banyak bicara. Eunhwa sendiri hanya mengikuti arah mata Myungsoo memandang sambil merapatkan coatnya.

  Ini bagaikan mimpi bagi Eunhwa, berdiri bersama Myungsoo di tempat seindah lukisan dalam karya fiksinya. Dia tidak memuja Myungsoo.  Tapi namja itu membuatnya cukup buta sampai hatinya tak mampu ditarik namja lain. Eunhwa baru sadar betapa dia menginginkan Myungsoo begitu hubungan mereka renggang. Myungsoo menjadi idol dan mereka jarang melewatkan waktu bersama. Myungsoo pindah ke dorm dan mereka tak pernah pulang-pergi sekolah bersama lagi. Mereka tak pernah lagi masak dan makan bersama meski keluarga mereka kadang berkumpul. Eunhwa juga kehilangan bodyguardnya yang tampan namun punya tatapan menakutkan itu. Dulu Eunhwa bahagia karena jauh dari godaan bocah iseng di kompleks dan siswa di sekolah karena kedekatan mereka. Eunhwa senang-senang saja digosipkan sebagai pacar Myungsoo dan namja itu juga tidak peduli.

Tapi Eunhwa terpaksa menjauhi Myungsoo. Tanpa disarankan siapapun, dia mulai menjaga jarak. Khawatir ada gosip yang bisa mengganggu karir namja itu. Eunhwa juga merasa sangat kecil ketika nama Myungsoo semakin besar. Sejak itu Eunhwa merindukan Myungsoo begitu banyak. Seolah tak rela temannya itu hanya dimiliki oleh Inspirit dan Element.

  Selama kegelapan memberi jalan pada fajar, lapisan kabut tipis melemahkan sketsa bumi di atas Han. Menghadap arah barat daya, mereka tidak benar-benar melihat matahari menaiki kaki langit.

  “Hadiah apa yang kau siapkan untukku?” tanya Myungsoo memecah keheningan suasana yang dilingkupi pemandangan keabuan itu.

  “Aku sudah lama membelinya,” ucap Eunhwa dengan pandangan menjatuhi sungai yang memantulkan sinar perak.

  Myungsoo menoleh dan menatap wajah yeoja itu dari samping. Gadis sembrono itu sudah berubah menjadi wanita dewasa.  Bagi Myungsoo, Eunhwa mirip Luna Lovegood, salah satu tokoh dalam Harry Potter. Pintar, centil, percaya diri dan punya mata belo yang besar. Myungsoo kini melihat Eunhwa tampak bagai malaikat Lily yang hangat dan lembut. Dia ingin menjadi Limone yang melindungi malaikat Lily itu. Sejak populer di sekolah apalagi setelah debut, Myungsoo merasa hubungan mereka menjauh. Myungsoo hanya sering mendengar kabar dari orang tuanya tentang gadis bernama Jo Eunhwa.

  

 

Alam di sekitar mereka perlahan bernuansa abu kebiruan dengan garis-garis tipis sinar putih begitu matahari menampakan diri. Tak banyak yang mereka bicarakan dan Myungsoo mengajak Eunhwa pulang sebelum pagi beranjak cerah.

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

Myungsoo menghentikan mobil di depan rumah Eunhwa.

“Apa isinya?” tanya namja itu seraya meraih kotak hitam dengan hiasan pita putih.

 Eunhwa menoleh sambil melepaskan sabuk. “Benda yang tak penting,” ucapnya merendah.

 “Jangan-jangan boneka jamur?” canda Myungsoo membuat Eunhwa terkekeh.

 “Kau sudah bukan si kepala jamur lagi.”

Keundae, ke mana saja Jo Eunhwa beberapa tahun ke belakang?” tanya Myungsoo.

 Eunhwa mengernyitkan kening, “Ye?”

 Myungsoo menatapnya datar tapi bagi Eunhwa, tatapan paling sederhana dan tidak peduli dari mata Myungsoo tetap menggetarkan hatinya. “Kau tak pernah lagi memberiku hadiah ulang tahun.”

Eunhwa tersenyum kecil seraya mengalihkan pandangannya ke depan. “Bukankah kau sering menerima banyak hadiah? Aku rasa aku tak perlu menambahnya. Hanya memenuhi lemarimu.”

Myungsoo tertawa kecil, “Aku kecewa,” ucapnya simple kemudian membuat Eunhwa menoleh.

Myungsoo menusukan tatapan langsung ke mata Eunhwa seolah menyelam ke dalam jiwa yeoja itu. Dia menguarkan gelombang energi melalui sorotan matanya untuk membunuh Eunhwa. Yeoja itu terkunci, terpaku menatap Myungsoo seolah dia berada di dalam ruang hampa tak berwarna dan hanya dihuni malaikat Limone tampan itu.

Lalu sebuah kalimat sederhana meluncur melalui bibir tipis-tebal Myungsoo, “Aku mengingankan hadiah tapi kau hanya memberiku ucapan selamat.”

Kalimat itu kemudian menghujankan peach blossom dari langit tak berujung di atas kepala Eunhwa. Warna bunga peach itu memantul ke pipi putih yeoja itu dan matanya membulat sempurna bagai full moon di atas puncak Hallasan.

“Myu—Myungsoo-ya…” ucap yeoja itu terbata-bata, tak mampu menyembunyikan tarian salsa dalam jantungnya.

Myungsoo tertawa sambil mengalihkan pandangannya sejenak. “Hahaha! Kenapa seserius itu, Sagwa ip?” tanyanya lalu kembali menoleh pada Eunhwa.

Myungsoo menjawil hidung Eunhwa, memencet dan menariknya cukup keras, “Hya! Aku hanya bercanda.”

Myungsoo merubah suasana seketika. Menghapus gelombang yang mendebarkan dalam diri Eunhwa meski desiran kecil masih dirasakan yeoja itu.

“Aww!” keluh Eunhwa sambil memukul lengan Myungsoo.

Namja itu malah senang dan terkekeh melihat Eunhwa tersiksa. “Sudah cepat turun sana. Aku harus segera kembali ke dorm,” ucap namja itu sambil melepaskan cubitannya.

Eunhwa hendak keluar tapi Myungsoo mencegahnya, “Jamkanmanyo, Sagwa ip!” pinta namja itu sambil mengambil sesuatu dari kursi belakang. “Untukmu.”

Eunhwa melihat sebuah paperbag ditaruh di pangkuannya, “Apa ini?” tanyanya.

Myungsoo menatap lurus ke depan dan menjawab Eunhwa, “Lihat saja nanti dan cepat turun.”

Eunhwa mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan datar barusan. “Ye, Mr. Kim. Komawo!”

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

 

 

Setibanya di kamar, Eunhwa membuka paperbag putih dan kecil itu. Dia mengeluarkan sebuah kotak. Eunhwa terbelalak melihat kotak itu. Myungsoo  memberinya sekotak cokelat putih. Mata Eunhwa memutar mencari  kalender di dinding kamarnya. Hari ini tanggal 13, hari ulang tahun Myungsoo dan besok adalah 14 Maret, White Day.

“Apa si kepala jamur memberiku cokelat untuk White Day?” guman Eunhwa percaya diri.

Saat White Day, namja memberikan hadiah pada yeoja sebagai balasan hari Valentine. Eunhwa mengingat satu momen di hari Valentinenya dengan jelas. Saat itu dia baru kelas 1 SMA. Karena banyak teman-temannya membicarakan Valentine day, Eunhwa pun berniat membuat cokelat untuk Myungsoo.

Sore menjelang malam tanggal 13 Februari, Myungsoo disuruh mengirim kue buatan ibunya ke rumah Eunhwa. Saat itu Eunhwa berada di dapur, mau memasukan cokelat buatannya yang sudah beku ke dalam kotak kecil. Myungsoo merebut kotak itu. Eunhwa merasa lega. Setidaknya dia tak perlu malu untuk memberikannya pada Myungsoo keesokan harinya.

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

            

 

Sebelum turun dari mobil yang dia hentikan di tempat parkir sebuah gedung apartemen, Myungsoo membuka kado dari Eunhwa. Dia membuka pita putih yang tampak mencolok dan cute di atas bungkusan kain hitam dengan nuansa garis-garis keabuan. Myungsoo tersenyum karena tahu alasan Eunhwa memilih warna itu untuk bungkus kadonya, warna hitam favorit namja itu.

   Myungsoo mendapati box dan membukanya. Sebuah replika kecil Katedral Milan. Myungsoo juga menemukan sebuah kartu kecil.

   [Buon compleanno, Kim Myungsoo] (Happy birthday)

    Myungsoo tersenyum lebar. Dia senang karena Eunhwa memberinya hadiah yang berhubungan dengan kota impiannya, Milan.

 ♪♪♪ •*•     L’s : B.T.D    •*• ♪♪♪

 

 

March 17th 2013,

 Jo Eunhwa bangun pagi-pagi sekali. Ini hari liburnya tapi dia punya beberapa agenda untuk menyelesaikan tugas mini research-nya. Setelah mandi, gadis itu berniat turun untuk sarapan

Sebelum meninggalkan kamarnya, Eunhwa menatap pajangan sepasang sendok dan garpu dengan ujung sepasang puppets tokoh wayang, suvenir  pemberian Myungsoo dari Indonesia. Saat ini Myungsoo berada di Thailand setelah tampil untuk Konser MBC Korean Wave.           

‘Apa si kepala jamur akan memberiku lagi suvenir?’ harap Eunhwa.

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

A few days later,

 Di tengah kesibukan persiapan album comeback, Myungsoo menyisihkan waktunya sebentar untuk pulang. Setelah pulang dari Bangkok untuk konser MBC Korean Wave, Moonsoo mengirim text beberapa kali.

  “Sebenarnya ada apa?” tanya Myungsoo begitu Moonsoo membuka pintu rumah.

 “Ada sesuatu yang harus Hyung lihat. Aku menyimpannya di dalam lemari,” jawab Moonsoo yang sedang home alone saat itu.

 Myungsoo mendengus kesal, “Ya! Barang penting apa yang harus kulihat?”

Moonsoo mengangkat kedua bahunya dengan santai sambil duduk di sofa.

 Myungsoo segera beranjak ke kamarnya di lantai atas dan mendekati wardrobe-nya. Dia melihat paperbag besar ditaruh di bawah baju-bajunya yang menggantung. Myungsoo meraihnya dan duduk di ranjang. Dia menemukan empat buah kado dan satu buah buku memo kecil di dalam paperbag itu. Myungsoo membuka buku memo itu dan membaca tulisan di halaman pertamanya.

   Kotak navy kecil, untuk ulangtahun  ke-18 Kim Myungsoo

Namja itu meraih kotak berwana navy itu dan membukanya, dia melihat sebuah arloji sport.

   Myungsoo membaca halaman selanjutnya.

 Kotak yang dibungkus kertas warna kuning pear untuk ulang tahun ke-19 Kim Myungsoo

Namja itu meraih kotak dengan bungkusan kertas warna kuning pear dan membukanya. Dia mendapati miniatur replika kincir angin khas Belanda. Myungsoo berdebar melihatnya. Dia sudah tahu siapa yang memberinya hadiah itu.

Halaman ketiga buku memo itu tertulis :

Kado dengan bungkusan warna merah untuk ulang tahun ke-19 Kim Myungsoo

Namja itu membuka kotak balok tipis di balik kertas bungkusannya dan menemukan sebuah ballpoint model fountain pen merk Visconti yang tampak elegan. 

Ya, Sagwa ip! Apa kau menghabiskan tabunganmu demi membeli pulpen Visconti ini?’ guman Myungsoo dengan sedikit senyum menggaris bibirnya.

Halaman keempat berisi:

Kotak silver untuk ulang tahun ke-21 Kim Myungsoo

Myungsoo membuka kotak keempat berisi parfum jenis eu de toilete. Namja itu membuka lembaran buku memo berwarna peach itu.

 

“Kim Myungsoo, mianhae aku tak pernah memberikannya padamu. Aku terlalu egois dan kekanak-kanakan karena takut kau akan membuang dan melupakan hadiah kecilku. Aku tahu kau menerima banyak hadiah bagus. Jadi setiap tahunnya aku berusaha membeli benda yang lebih mahal dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk ulangtahunmu tahun lalu, mianhae aku hampir lupa. Jadi aku hanya membeli parfum  karena tak sempat memikirkan hadiah lain. Hey Kepala Jamur, aku harap kau tidak menertawakanku setelah melihat benda-benda ini, ara?”

 

Myungsoo tersenyum dalam cold smirk khasnya. “Pabo Sagwa ip!” umpatnya pelan.

♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

 

05.36 am

10 days after Myungsoo’s birthday,

  Jo Eunhwa tertidur di dalam mobil dengan balutan coat dan masker tidur menempel di matanya. Dia menggeliat pelan dan merasakan suasana aneh. Dia segera bangkit dari sandarannya dan membuka masker matanya. Eunhwa terkejut dan terhenyak mendapati dirinya duduk di dalam mobil dengan suasana luar yang gelap. Perlahan dia menoleh ke sampingnya. Jantungnya hampir copot karena dia takut diculik.

  “Hahaha! Good morning, Sagwa Ip!” sapa seorang namja yang sedang menyetir dengan tawa renyah.

  “Kim Myungsoo?” tanya Eunhwa tak percaya.

  Myungsoo menoleh dan tersenyum lebar melihat tampang syok Eunhwa. “Ini memang aku dan kau tidak sedang bermimpi,” ucapnya sambil menjitak keras kening yeoja itu.

 “Aw, apho!” keluh Eunhwa sambil memegang kening.

Myungsoo terkekeh.

   “Kita mau ke mana? Kau menculikku?” tanya Eunhwa memberondong melihat suasana di sekitar seperti sudah meninggalkan kota Seoul.

 Seingat Eunhwa, dia tidur di kamarnya jam 10 malam. Myungsoo berkata dia memang menculik Eunhwa.

  “Pantai Eurwangni,” Myungsoo menyebut tempat tujuan mereka. Dia melirik Eunhwa yang bengong menatapnya. “Wae? Pernah ke sana?”

  “Tentu saja. Dengan mantan pacarku,” jawab Eunhwa polos menyembunyikan perasaan berdebarnya.

Myungsoo merasa sedikit panas mendengarnya. Dia tidak tahu kapan Eunhwa punya pacar bahkan saat ini dia tidak tahu apa Eunhwa punya pacar atau tidak. Myungsoo berpikir tentu saja Eunhwa tidak susah mendapat namja. Dia menarik, cantik, cerdas dan tidak nakal. Tapi bukan empat alasan itu yang membuat Myungsoo selalu menyimpan nama Eunhwa di hatinya. Myungsoo sudah menyukai Eunhwa sebelum gadis itu tahu bagaimana caranya agar terlihat cantik, sebelum dia bisa menata rambutnya dengan benar. Dia masih menyimpan ingatan tentang Eunhwa kecil dan remaja yang ceroboh dan cuek.

  Sementara Myungsoo larut dalam pikirannya sendiri, pikiran Eunhwa melayang jauh. Dia ingat betul ini hari ulang tahunnya. Dia mengira-ngira kemungkinan Myungsoo mengajaknya melihat sunrise pertama di pantai di pantai Eurwangni. Seperti yang dilakukan dua tokoh fiksi dalam tulisannya, Nathaniel yang membawa Yoori menyaksikan sunrise di pantai Rimini di pagi ulang tahun wanita itu.

Mobil yang dikendarai Myungsoo sudah memasuki Eurwang-dong, Jung-gu, Incheon dan tak lama kemudian sangat dekat dengan pesisir pantai Eurwangni.

 “Kajja!” ajak Myungsoo begitu mematikan mesin. Namja itu pun membuka pintu tanpa menunggu tanggapan Eunhwa.

  Eunhwa segera menyusul keluar dan Myungsoo sudah berjalan mendekati pasir putih. Eunhwa mengikutinya.

   “Ya! Kau membawaku ke sini tanpa permisi. Apa kau pikir aku tidak marah?” ungkap Eunhwa dengan tatapan kesal.

   Myungsoo melirik yeoja yang berdiri di sampingnya itu. Dia malah memberinya cold smirk begitu mendapati wajah geram Eunhwa yang terlihat cukup jelas meski matahari belum muncul.

  “Sejak kapan aku butuh izinmu? Kau juga tak pernah menolak ke mana pun aku bawa pergi,” ucap Myungsoo enteng dengan suara bernada rendah dan lembut.

   “Ya!” bentak Eunhwa kesal. Seberapa besar dia menyukai Myungsoo, dia tak mau terlihat begitu gampang di mata namja itu.

    Myungsoo meliriknya malas. “Tak perlu berteriak, aku tidak tuli. Bukankah kau memanggilku kepala batu berbentuk jamur? Keurae, aku memang keras kepala dan suka berbuat semauku.  Kita sama-sama makhluk planet Mars yang keras kepala, kan?”

  “Aissh!” umpat Eunhwa sambil memalingkan wajah ke horison. Myungsoo meneybut diri mereka sebagai mahkluk planet Mars. Sebuah ungkapan candaan sewaktu mereka sekolah karena mereka sama keras kepala dan lahir di bulan yang sama. “Kau pikir kau senang, eoh?” Eunhwa menyembunyikan ledakan perasaan senang dalam hatinya.

    Myungsoo menatap yeoja yang punya bentuk wajah oval itu yang tentu saja tanpa polesan make up sedikitpun kecuali night cream tentunya. Mata belonya yang punya sorotan terang bahkan Myungsoo merasa matanya kalah tajam. Hidung bangirnya yang sering dia cubit dan jawil karena gemas. Pipinya putihnya yang sudah tidak se-chubby waktu SMA. Rambut sepunggung berwarna cokelat tuanya  yang sesekali terbang diterpa angin pantai dan sepasang bibir yang dia bilang mirip bentuk bantalan apel. Myungsoo menyukai sepasang bibir itu, tidak tipis dan tidak tebal. Ingin sekali dia melayangkan ciuman.

  Kali ini Myungsoo tersenyum manis. Senyuman lebar yang membuat dimple di pipi kanannya terlihat. Dia pernah mencium bibir apel itu. Ciuman pertama mereka waktu SMP. Myungsoo membonceng Eunhwa suatu sore dalam perjalanan menuju taman. Sepeda Myungsoo melindas batu dan terjerembab ke samping jalanan. Tubuh Eunhwa berguling menuruni areal tanah berbukit berumput hijau. Myungsoo lepas dari sepedanya dan berguling. Tubuh Eunhwa terlentang dan tiba-tiba saja Myungsoo jatuh menindihnya. Accidental kiss terjadi saat itu. Hidung mereka bersentuhan dan bibir mereka bertemu.

 “Sagwa ip!” panggil Myungsoo.

 Eunhwa menoleh, dia melihat Myungsoo mengeluarkan sesuatu dari jaketnya. Myungsoo marih tangan kanan Eunhwa dan menaruh kotak kecil di atasnya. “Bukalah!” ucap Myungsoo lalu sambil melempar pandangan ke air pantai.

   Eunhwa menatap kotak kecil warna ruby itu sejenak. Dia melihat sebuah cincin garakji warna hijau yang berbaur dengan guratan putih. Di zaman Joseon, sepasang garakji diberikan dari seorang namja untuk istrinya. Dan seorang gadis menerima sebuah garakji dari namja yang mencintainya, memberi simbol bahwa namja itu ingin memilikinya. Setelah memakai cincin itu, yeoja itu hanya milik si pemberi cincin.

  Eunhwa tertegun. Tubuhnya lemas karena tak mampu membayangkan alasan Myungsoo memberinya benda kecil itu dan makna di baliknya.

  “Saengil chukae!”

Ucapan datar dan pelan itu Eunhwa dengar dari Myungsoo. Bahkan namja itu masih menghadapkan wajahnya ke arah lautan abu. Eunhwa masih saja menatapnya. Dia melihat Myungsoo perlahan menoleh dan menatapnya.

  Bibir Myungsoo menarik warm smirk yang kemudian menjadi senyum kecil yang manis. “Mau aku bantu pakaikan?” tanyanya enteng.

  Eunhwa seperti kehabisan kata-kata. Dia hanya balik menatap Myungsoo. Namja itu pun mencabut cincin dari kotaknya dan meraih tangan kiri Eunhwa. Dia memasangkan cincin itu di jari manis Eunhwa lalu mengangkat wajah menatap gadis itu.

  Kalau Myungsoo bisa mendengar, jantung Eunhwa mendentum keras tanpa henti. Tangan Myungsoo masih menggenggam tangan kirinya. Mata pembunuh yang dimiliki Myungsoo kini menusuk Eunhwa, melalui tatapan lembut. Pipi gadis itu bahkan menghangat sebelum matahari muncul. Wajah mereka terasa kian dekat.

  “I love you, noreul saranghae,” satu kalimat sederhana namun bermakna meluncur dari bibir Myungsoo dan langsung menghujam jantung Eunhwa.

 Belum sempat mengatur napas, kedua tangan Myungsoo memangku rahang Eunhwa. Namja itu mendekatkan wajah mereka. “Naekkeo haja,” bisik Myungsoo (Be Mine).

Myungsoo segera memejamkan mata mendaratkan ciuman di bibir apel yeoja itu. Mata Eunhwa membulat sempurna saat bibir Myungsoo menyentuh bibirnya. Bahkan dia merasakan bibir si keras kepala itu menghisap lembut bibir apelnya. Eunhwa mencoba menyadarkan diri bahwa ini bukan lamunan, bukan adegan kissing tokoh dalam novelnya. Dia melihat wajah namja tampan itu tepat di depan matanya dengan pipi dan hidung saling menempel. Mata elangnya yang terpejam di bawah payungan sepasang alis hitam tebal. Kedua rahangnya masih dipangku tangan Myungsoo. Sebelah tangan Myungsoo kemudian bersandar di punggung Eunhwa.

Myungsoo menciumnya lebih dalam. Eunhwa pun memilih memejamkan mata dan menikmati momen itu. Secara refleks, kedua tangannya turun dan melingkar di pinggang Myungsoo.  Tubuh mereka menempel dan ciuman mereka makin menghangat membuat Eunhwa sulit meraih oksigen. Eunhwa sendiri tidak peduli, kalau dia mundur demi mendapat oksigen, dia takut Myungsoo menjauh. Myungsoo seolah melepaskan semua asa yang dia simpan untuk Eunhwa. Energi ciuman itu terasa posesif seperti ucapan Myungsoo sebelumnya : naekkeo haja. Myungsoo ingin memiliki Eunhwa.

Air laut keabuan kini diterangi sinar kuning tipis. Ekor-ekor matahari akan merangkak dan mengganti temaram menjadi langit kemuning yang juga membiaskan warna itu ke air laut.

 5203970773_bd2c82197d_z

 

naekkeo haja, naega neol saranghae, ou~?

naega neol geokjeonghae, ou~?

naega neol kkeut kkaji, chaekim jil ge

naekkeo haja, niga nal aljanha, ou~?

niga nal bwat janha, eo?

naega neol kkeut kkaji, jikyeo julge

Do you hear me?


♪♪♪•*•    Before the dawn    •*•♪♪♪

To be Continued

 

Advertisements

15 thoughts on “Before the Dawn

  1. Wuih. Saya perlu baca ulang setelah tahun lalu dipos di rumah lama.

    1. Suara ngebass kalau diganti suara bass saja masih oke ya

    2. Sagwa ip (Bibir apel) saya masih ragu soal ini. Julukan panggilan spt Nona Pengacau apakah huruf besar kedua-duanya atau hanya depan? Kita mungkin harus bertanya pada yang lebih ahli. Di sini Chelsea tidak konsisten. Atau waktu edit terlewati?

    3. Masih banyak kata-kata yang harus italic juga lewat 🙂 gwaenchana.

    4. Yang paling utama, ada kata-kata yang membentuk suatu kalimat yang benar-benar membuat saya tertarik seperti : Masakan seorang pria tampan yang pernah mempermalukanku sebagai perempuan. Sederhana tapi artinya jleb!

    Ff ini jujur ya merupakan salah satu yang membuat saya pengen nulis Infinite. Chat-chat di room ngomongin Infinite lalu iklan yang ada hubungannya dengan Cha Seungwon. Dah setahun tak terasa.

    1. Unni dulu bacanya di rumah raib apa d SOFF?
      panggilan/julukan agak bingung 😛
      itu saya set huruf kedua kecil, kelewat.
      Kalo liat julukan Rossi sih dobel kapital The Doctor. RVP > The Flying Dutchman.
      Juventus → Si Nyonya Tua
      nanya bang Christ lagi 😀

      soal bass, gimana enaknya aja. Kalo full baku ga boleh ada nge-

      wkwkwkw iya beberapa lupa italic

      soal masak, terinspirasi fakta bahwa L suka n bisa masak meski ga rutin kaya WH 😀

      Iya ya udah setahun. iklan Fila 😉
      Duluan FF WH, baru ini, trus Man in Love. Waktu itu ada yg rikues destiny, ga dipenuhi kekeke

      kamsahamnida

      1. Wah…. cheonmayo author. Author hebat banget ya buat ff. Penuh makna sama pemilihan katanya itu lho. Berasa beneran ikut dalam ceritanya. Seandainya ada ruang aku pengen masuk di cerita itu. Hehhehehhe

        1. FYI, saya ga suka dibilang hebat. Wkwkwkwk. Banyak orang yang beneran hebat.

          Bisa aja pembaca masuk k cerita bahkan merasa jadi tokohnya.
          Sequelnya belum selesai
          Tapi kayanya ga seromance ini 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s