L-Nino and the Duchess of Stamford Bridge

L-Nino

And the Duchess of Stamford Bridge

Somewhere over the rainbow, bluebirds fly.
L-nino4

By :

Chelsea

Sports, Romance,PG15One long shot

Starring :

Kim Myungsoo

Imogen Poots asRowena Hudson

Cameo

Yoon Doojoon Jung Jooyeon as Ryu Eunhwa

Chelsea FC:

Jose MourinhoEden Hazard Marco Van Ginkel

 

Music : Judy Garland – Over The Rainbow

Disclaimer : This story contains real events which is adapted into  fiction.   

 

Sequel Kick Off ini adalah request dari CS Unni. Mian kalo garing dan aneh 😦

Ini juga prequel epilog Kick Off 😉

Unniya, bertahun-tahun jadi pecinta The Blues, baru kali ini nulis fiksinya 😀

I use mix plot here, so please read the time given the first and second scenes.

and I apologize for any mistakes

L-Nino  

 

Green Park, West London,

April, 2014, 04.43 pm GMT

 

Londoners sering memilih kawasan rumput hijau menjadi pilihan tepat untuk duduk bersantai. Musim semi sedang berada di puncaknya dan suasana kota tampak berwarna. Banyak Londoner tampak berjalan-jalan di salah satu taman kota itu. Sebagian duduk di atas rumput dan di bangku.

Di bawah sebuah pohon, seorang lelaki menekan senar gitar membentuk kunci G. Lalu terdengar musik dan nyanyian berbaur dengan angin yang menggoyangkan bunga dan rumput. Myungsoo memainkan lagu Over the Rainbow  dan gadis yang duduk di sampingnya bernyanyi.

 Somewhere over the rainbow,way up high,
There’s a land that I heard of
Once in a lullaby
Somewhere over the rainbow
, skies are blue,
And the dreams that you dare to dream
Really do come true

Keduanya tertawa begitu lagu selesai. Lelaki yang tampil kasual dengan polo shirt putih dan blue jeans itu memakai menaruh gitarnya dan membukakan sebuah minuman kaleng untuk gadis itu.

Not bad,” ucap Myungsoo.

Thanks,” respon gadis itu lalu menyesap minumannya.

Gadis blonde yang memakai topi bulat lebar dan vintage dress lengan pendek motif daun itu melirik gitar yang tergeletak di antara mereka. Dia memangkunya, pada posisi akan memainkan gitar.

Will you teach me playing guitar?”

Myungsoo berdecak. “Jangan. Nanti tanganmu kasar.”

Gadis itu terkekeh sementara Myungsoo menyesap minumannya. “Oppa!”

Myungsoo sukses tersedak.

L-Nino  

 

Hyde Park, West London,

March, 5th 2014,

Seorang lelaki dengan tinggi badan kisaran 180 tampak memarkirkan sepeda. Lelaki Asia itu adalah Kim Myungsoo, pemain Chelsea FC yang bergabung sejak musim liga 2013-2014. Karena budaya bersepeda di London cukup kuat, itu menjadi hobi barunya meski dulu dia gemar bersepeda di Hangang park. Lelaki yang memakai kemeja lengan panjang motif kotak nuansa hitam-putih dibalut rompi wool hitam itu berjalan menuju the Grand Entrance Hyde Park. Sepulang latihan, sore ini dia ingin memuaskan hobi fotografinya di taman terluas ibu kota Britania raya yang tidak jauh dari markas Chelsea di Stamford Bridge itu.

Dengan santai sambil membidikan kamera, Myungsoo melangkahkan kakinya yang dibalut jeans hitam dan sepasang sneakers merk sponsor Chelsea. Sebuah baret yang melekat di kepalanya membuat gayanya sangat British. Myungsoo tersenyum puas melihat foto the Grand Entrance di monitor kameranya.

Time to hunt!” gumannya begitu memasuki gerbang.

Meski ini bukan pertama kalinya mengunjungi Hyde Park, tapi ini pertama kalinya untuk musim semi. Myungsoo tak melewatkan situs-situs di taman itu seperti Marble Arch, Speaker’s Corner, Tyburn Gallowd, memorial Lady Diana, Holocaust Memorial, dan rose garden. Tak terasa sudah dua jam dia mengelilingi taman luas itu dan istirahat beberapa kali. Myungsoo kini sudah berada di parkiran sepeda dan dia membidikan kameranya ke atap gedung-gedung di sekitar sana dengan latar langit senja. Lalu dia memasukan kameranya ke dalam back pack sebelum menaiki sepeda.

L-Nino  

 

          Myungsoo sedang mencuci peralatan makannya di dapur flat tempat dia tinggal. Pasta, fruit salad, es krim, dan  500 ml sports drink menjadi pilihan makan malamnya. Meski  makan di luar klub, dia harus mengikuti anjuran ahli gizi. Makan malam  tidak kurang dari 200 gram dan tidak berlebihan, sesuai dengan nutrisi kebutuhan seorang pesepak bola. Lelaki yang mengenakan hoodie hitam dan training bu itu tersenyum geli mengingat dua pekan pertamanya di London. Meski sejak Cha Seungwon datang ke PFC dan membuat menu makan para pemain bervariasi, tetap saja Myungsoo sering merindukan masakan home made Korea.

          Myungsoo kini duduk di depan desk samping ranjang, menyalin foto-foto ke laptop. Dia melihat satu persatu hasil jepretannya tadi sore. Myungsoo agak lama menatap sebuah foto. Dia memperjelas objek yang tertangkap kameranya. Sebuah foto di rose garden, di mana seorang gadis tampak menyentuh kelopak bunga yang masih kuncup. Gadis pirang itu tersenyum tipis dan matanya tampak menatap kagum bunga itu. Myungsoo merasa familiar dengan wajah itu. Tapi ponselnya berdering, sebuah panggilan dari kantor Paradise FC. Terdengar suara kencang Sungyeol begitu Myungsoo menjawab panggilan. Sungyeol bergantian dengan beberapa pemain PFC lain. Mereka memanfaatkan telepon klub hanya untuk minta saran menghadapi ‘Hitler’ yang memang moody. Perbincangan lama dan konyol itu membuat Myungsoo lupa tentang foto itu.

L-Nino  

 

March 8th 2014, 05.30 PM GMT,

 Fulham Road, Stamford Bridge,

Chelsea v Tottenham Hotspur - Premier League         

Peluit kick off babak pertama terdengar, The Bridge dipenuhi gema dan sorak penonton yang menyaksikan derby antara Chelsea kontra Tottenham Hotspurs.

Chelsea tampil dominan tapi sulit menjebol gawang tim tamu sekotanya itu. Jose Mourinho, pelatih kharismatik kebangsaan Portugal, duduk di bench setelah memberikan sedikit arahan pada anak-anak asuhnya yang belum mencetak gol. Dia melirik Myungsoo yang duduk sambil membidikan kameranya ke arah lapang. Mou pernah melihat Myungsoo tidak ikut berlari merayakan kemenangan, malah memotret teman setimnya yang melakukan winning celebration.

Did you caprture nice scenery?”

Myungsoo tersentak. Dia tersenyum kaku sambil mengusap rambut menyadari kalau pelatih setipe Cha Seungwon itu duduk tempat di sampingnya.

Aye, Sir,” jawab pemuda itu dengan senyum lepas yang membuat wajahnya tampak rileks. “Bahkan saya bisa belajar beberapa teknik setelah melihat hasil foto.”

Mou tersenyum datar. Dia pernah menegur Myungsoo. Tapi dia juga pernah melihat pemuda itu mendiskusikan permainan dari temannya sambil melihat hasil jepretan kameranya.

Menit terus bergulir dan pemimpin klasemen sementara Premiere League itu tampil perkasa dengan menyarangkan dua gol ke gawang Spurs. Pertama, melalui gol Samuel Eto’o yang melewati dua kaki penjaga gawang, kedua dari tendangan penalti Eden Hazard di menit ke 60.  Mou memasukan Myungsoo meski tidak sebagai striker.

Myungsoo tampil semangat dan brilian karena kerja sama tim yang kompak. Dia pun ikut andil menggempur kubu Spurs sampai akhirnya duat tercipta lagi-lagi lewat kaki striker kulit hitam, Demba Ba. Stamford Bridge dipenuhi gema nyanyian Keep the Blue Flag Flying High.

Para pemain kini sedang berada di ruang ganti.

Hey, Kim! Do you know her?” tanya Marco Van Ginkel, pemain asal Belanda yang sedang memegang kamera Myungsoo.

Myungsoo memakaikan T-shirt sambil menghampiri Marco. Dia mengerutkan keningnya. “Duches of Stamford Bridge?” tanya Myungsoo melihat seorang gadis pirang memakai jersey biru dihujani kertas-kertas kecil perpaduan biru dan putih.

Have you ever met her?” tanya Eden Hazard, bintang Chelsea yang berdiri di samping kursi Marco.

 “Sure. She’s nice and beautiful,” jawab Myungsoo sambil mengedipkan sebelah kata.

She asked about you on fan signing last week,” tukas Eden sambil terkekeh.

Really?” tanya Myungsoo tidak percaya.

Dia tidak mengikuti fan signing pekan lalu karena dijadwalkan check up setelah mengalami cedera ringan. Melihat foto itu, Myungsoo teringat foto seorang gadis di rose garden.  

‘Ah, it was her,’ gumannya saat yakin kalau gadis ada di rose garden adalah penggemar Chelsea yang dikenal dengan julukan Duchess of Stamford Bridge. Namanya Rowena Hudson, seorang gadis bangsawan yang dikenal fanatik The Blues. Gadis pirang itu hampir tak pernah melewatkan satu pun pertandingan Chelsea.

“Kim, ada dua orang Korea mengaku keluargamu,” tukas seorang official staf yang baru masuk ke ruang ganti itu.

“Siapa?”

“Mereka hanya mengaku sebagai kerabatmu dan sekarang menunggumu di Marco Pierre White restaurant.”

Myungsoo pun membereskan tasnya dan segera keluar.

“Tidak ikut pesta?” tanya Marco.

“Kirim saja wine dan turkish delight ke flat,” jawab Myungsoo lalu keluar.

L-Nino  

Marco Pierre White restaurant, Fulham Road, 08.17 pm GMT

Marco Pierre White restaurant

Myungsoo sudah memasuki restoran yang tak jauh dari stadion biru itu. Dia mengedarkan pandangan ke setiap meja, mencari sosok orang Korea yang mengaku keluarganya.

‘Siapa yang datang memberi kejutan untukku?’ gumannya.

Myungsoo menghampiri pelayan dan bertanya apa ada yang meninggalkan pesan untuknya.

In the right corner over there,” si pelayan menunjukan letak meja setelah berkata ada orang menunggunya di sana.

Thank you.”

Dia mendekati meja dan melihat seorang lelaki berambut hitam dan seorang perempuan berambut cokelat panjang duduk membelakanginya. Dia penasaran dan mempercepat langkah. Dia kini berdiri di samping meja itu dan terkejut melihat wajah mereka. Kedua orang itu berdiri.

Annyeong, L-Nino! Good evening!” sapa lelaki tampan dan manly yang mengenakan jersey Chelsea dilapis trench coat hitam. Lelaki itu tersenyum hangat.

Annyeong!” sapa perempuan yang sangat Myungsoo kenal.

Myungsoo tertawa lalu dirangkulnya lelaki itu. “Is this a surpise, Doojoon Hyung?” Meski sering bertemu Doojoon dalam kegiatan timnas, tetap saja dia merasa terkejut dengan kedatangannya.

Kedua lelaki itu tertawa. Doojoon menepuk bahu Myungsoo. “Kau benar-benar keren saat berlari di rumput The Bridge.”

Gomawo.” Myungsoo melirik Eunhwa. “Annyeong, La Nina! Maaf aku tidak datang ke pernikahan kalian,” sapanya sambil mengedipkan sebelah mata dan mengulurkan tangan kanan.

Eunhwa menjabat tangan Myungsoo. “Gwaenchana, Myungsoo-ya. Terima kasih atas hadiah yang kau kirim.”

Myungsoo melirik usil Doojoon. “Hyung, boleh aku memeluknya seperti memelukmu?”

Doojoon melotot lalu mendelik sementara Eunhwa dan Myungsoo tertawa.

Let’s have a seat,” ajak Myungsoo lalu duduk di depan mereka.

Mereka berbincang banyak sambil makan malam. Doojoon bercerita kalau Eunhwa menagih salah satu ungkapan dalam lamarannya, mengajak perempuan itu menonton live Chelsea di Stamford Bridge. Kebetulan Doojoon sedang terkena sanksi akumulasi dua kartu kuning.

“Jadi Hyung kabur?” tanya Myungsoo terkejut mengingat Doojoon cukup disiplin.

Doojoon hanya tertawa kecil.  Setelah agak lama, Myungsoo pamit permisi ke toilet. Keluar dari restroom, lelaki itu membasuh tangan. Dia menatap wajahnya sendiri di cermin.

Myungsoo tersenyum tipis pada pantulan wajahnya sendiri. Dia sudah benar-benar melepaskan perasaannya pada Eunhwa dan hubungannya dengan Doojoon cukup baik ketika bertemu di timnas. Setelah mengeringkan tangan, Myungsoo menarik napas pelan dan segera keluar dari sana.

Entah kenapa dia merasa lebih baik menyukai seseorang meskipun kehilangan kesempatan memilikinya dari pada hatinya kosong. Myungsoo tidak merasa kesepian tapi ingin kembali memiliki perasaan itu. Sekali dicampakan mantan pacarnya, dan sekali lagi menyerah dengan perasaannya.

“Kim Myungsoo!”

Lelaki itu menoleh pada dua orang perempuan yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Dia tersenyum ramah karena kedua gadis itu memakai jersey Chelsea.

Could we take a picture, please?” pinta si rambut hitam panjang bermata biru.

I’d love to,” jawab lelaki itu.

 “Apa penggemarmu sangat banyak?” tanya Doojoon tentang fans Chelsea yang minta berfoto begitu Myungsoo duduk.

“Tidak juga,” jawab Myungsoo. “Tapi kalau kita jumlah penggemarku di Korea ditambah fans Chelsea, jelas lebih banyak dari penggemarmu, Hyeong,” candanya.

Aissh!” umpat Doojoon sementara Eunhwa terkekeh.  “Keundae, apa kau punya pacar di sini?”

Myungsoo tertawa. “Aku baru berpikir untuk punya pacar.”

“Apa terlalu sibuk?” tanya Eunhwa.

“Tidak juga. Sekarang sudah menyelesaikan kuliah dan beradaptasi dengan kota London.”

“Jangan sampai kau terbang ke Brazil tanpa WAGs,” sindir Doojoon membuat Myungsoo tertawa.

“Bukankah Lee Byeonsa sudah hamil?” tanya Doojoon lalu melirik Eunhwa, “Bagaimana dengan Eunhwa?”

Eunhwa dan Doojoon saling melirik dan tersenyum.

“Sebernarnya aku curiga dia hamil karena memaksa ingin terbang ke kota ini,” ucap Doojoon sambil melirik istrinya.

Eunhwa tertawa kecil. “Semoga saja,” ucapnya.

L-Nino  

 

Fulham Road, Chelsea FC, March 10th 12.16 pm GMT

So, the lawyer of your previous club is my big fan?” tanya Jose Mourinho sambil menulis tanda tangan pada sebuah foto hasil jepretan Myungsoo.

Aye, Sir,” jawab Myungsoo. “And you’re exactly her ideal type. That’s why she gets married with a guy who’s similar to you.

Mou tertawa mendengar jawaban Myungsoo tentang pengacara PFC, Lee Chaerin. Seusai latihan siang itu, Myungsoo meminta semua pemain Chelsea untuk menandatangani dua poster. Khusus untuk Frank Lampard, John Terry, dan Jose Mourinho, Myungsoo juga meminta tanda tangan di atas foto.

L-Nino  

 

Hillingdon, Heathrow Airport, March 10, 01.12 PM GMT

Myungsoo mengantar Doojoon dan Eunhwa sampai ke airport.  Dia memberikan paperbag pada Eunhwa. Dia duduk di waiting area bersama mereka sambil minum latte. Myungsoo memberikan dua paper bag pada Eunhwa.

“Apa ini?”

“Poster dengan tanda tangan pemain Chelsea dan foto Frank Lampard. Yang merah ini untuk Lee Byeonsa,” jawab Myungsoo.

“Kau benar-benar memotret Mou dan meminta tanda tangannya untuk kakak iparku?” tanya Doojoon.

Mereka bertiga berbincang sampai tiba waktunya bagi Eunhwa dan Doojoon memasuki pesawat.

L-Nino  

 

Mobil yang dikendarai Myungsoo berhenti di antara deretan kendaraan lain di depan lampu merah. Lampu hijau menyala dan semua mobil perlahan melaju. Beberapa meter di depannya, Myungsoo melihat seorang gadis yang cukup dia kenal tampak menghentikan taksi. Tapi taksi itu tampak sudah terisi penumpang. Myungsoo pun menepikan mobil dan berhenti di depan gadis pirang itu.

Dia membuka jendela dan menyapa gadis itu, “Need a ride, Lady?”

“Kim Myungsoo?” tanya gadis bernama Rowena itu, si Duchess of The Bridge.

Where have you been?” tanya Rowena begitu duduk dan memasang sabuk.

Drove my friends to the airport,” jawab Myungsoo ramah. “So, where I have to take you?”

Hammersmith,” jawab Rowena.

Dari obrolan selanjutnya, Myungsoo baru tahu kalau Rowena tinggal di distrik Hammersmith, dekat dengan markas Chelsea. Pantas saja staf Chelsea berkata kalau gadis itu penggemar Chelsea sejak lahir.  Mereka pernah bertemu beberapa kali tapi belum pernah berbincang banyak. Jalanan kota London tampak padat diselimuti udara sejuk. Angin musim semi tampak menggoyangkan dedaunan muda.

Di ruas jalan perbatasan distrik Ealing dan Hammersmith-Fulham, terjadi kemacetan. Tampaknya baru terjadi kecelakaan lalu lintas.

It seems won’t be long,” ucap Myungsoo.

Just wait,” saran Rowena.

Gadis itu melihat box besar di kursi belakang dengan tulisan “Happy birthday”

Is today your birthday?”

Sorry?” tanya Myungsoo. Lalu dia sadar kalau Rowena melihat box dibelakang yang memang tampak seperti kado. “Oh. My friends gave me that present early.”

Gadis itu bertanya kapan ulang tahun Myungsoo yang sebenarnya.  Lalu mereka membicarakan ulang tahun Samuel Eto’o yang jatuh hari itu. Rowena dan beberapa pengurus fan club akan ikut merayakan ulang tahun pemain senior itu.

L-Nino  

 

March 13th, 08.30 pm GMT

Eighty Six Bar & Restaurant, Fulham Road

 Myungsoo dan beberapa pemain Chelsea memasuki cocktail bar di resto Perancis itu. Mereka mengajak Myungsoo merayakan ulang tahunnya di sana. Beberapa teman perempuan para pemain juga datang.

Saat ini Myungsoo menuangkan cocktail untuk Rowena. Lelaki itu mengucapkan terima kasih atas kedatangan sang Duchess.

Your photo is awesome,” ucap Rowena membuat Myungsoo mengerutkan kening.

Which one?” tanya Myungsoo.

Rowena mengeluarkan ponsel dan mempelihatkan wallpaper-nya. Foto Dirinya dihujani kertas kecil waktu laga Chelsea vs Tottenham. Myungsoo terkejut. Dia tertawa kecil dan bertanya kenapa foto itu bisa dimiliki Rowena. Ternyata Eden Hazard mengirimnya pada admin fan page yang memasangnya di situs.

Rowena bertanya apa yang Myungsoo lakukan saat tidak ada jadwal latihan. Lelaki itu menjawab akan berburu objek kameranya.

          “Would you be guide to get awesome sceneries of London?” tanya Myungsoo waktu itu.

          “Are you asking me for a date?” Rowena balik bertanya.

          Myungsoo tertawa kecil. “If you please.”

Rowena menatap Myungsoo dengan tenang. Dia tahu kalau lelaki Asia sedikit berbeda dengan lelaki Eropa. Myungsoo melirik gelas sebentar lalu menatap lurus mata indah Rowena yang berwarna keabuan. Meski tatapan  Myungsoo tampak seduktif, tapi gadis itu tahu kalau itu bukan tatapan liar. Rowena malah mengajaknya ngobrol.

Beberapa saat kemudian, Myungsoo melirik arloji. “Oh, it’s already late. Would you like to leave with me?” tawar Myungsoo.

Rowena juga melirik arloji, baru jam 10, dan gadis itu tersenyum. “If you think it’s better for me to leave, let’s leave.”

Myungsoo tersenyum lebar. Dia pun beranjak dari kursi dan mempersilahkan Rowena melangkah lebih dulu.

  L-Nino  

 

March 16th, a road near The Royal Parks,

          Myungsoo mengendarai sebuah sedan biru milik Rowena.  Tadi pagi  mereka mengunjungi Greenwich Park. Mereka berjalan kaki di kawasan taman dan menikmati pemandangan indah dari Royal Obsevatory, National Maritime Museum dan Queen’s house di utara, Vanbrugh castle di bagian timur, dan tempat-tempat lainnya. Setelah puas berfoto, mereka meninggalkan taman itu menuju tujuan kedua.

Kini matahari tengah berada di puncak langit, Myungsoo duduk di atas rumput di taman Primrose hill. Dia melihat hasil jepretan kameranya di sekitar sana. Bangunan-bangunan, taman, dan pemandangan pusat kota dari bukit itu. Di sana, banyak orang bersantai menikmati siang musim semi yang sejuk.  Rowena yang pergi beberapa saat lalu, tampak menghampiri Myungsoo dan duduk di sampingnya.

          “What is this?” tanya lelaki itu.

          Rowena membuka kain penutup box dan mengeluarkan box-box kecil dari dalamnya.

          “Our lunch,” jawab gadis itu santai.

          Myungsoo terkejut saat semua tutup box dibuka. Isinya masakan Korea seperti kimbap, teokppoki, yaksik, kimchi, sundae, juga minuman Korea, bori cha dan makgeoli.

          “Is is surprise, My Lady?” tanya Myungsoo.

          “I learnt from K-drama dan my Korean friend,” jawab gadis yang memakai hipster jeans dan blue lengan panjang warna navy itu santai.

          “Thank you very much,” ucap Myungsoo.

          Mereka menikmati makan siang sambil berbincang ringan. Meskipun baru mulai akrab, tapi Rowena menyukai satu hal dalam diri Myungsoo. Lelaki itu sopan dan gentle.

Setelah menghabiskan bekal, Rowena menyarankan Port of London, tempat untuk menghabiskan sore.

          “Port?” tanya Myungsoo yang aksennya mulai tertular aksen British. “It would be nice to have spring cruising at Thames.”

          Mata Rowena melebar dan dia tersenyum manis membayangkannya. “Is it another date proposal?” godanya.

          Myungsoo tertawa kecil sebelum bicara. “People in Seoul like cruising on Hangang river. And it’s an honour to have the first Thames cruising with you, My Lady.”

          Rowena juga tertawa kecil. “At first sight, I thought you were a cold and shy guy.”

          Keduanya tertawa bersama. Lalu Myungsoo membereskan box dan mengajak Rowena beranjak dari sana.

          “Sebelum pulang, aku ingin memotret Buckingham palace,” ucap Myungsoo yang sedang berjalan santai.

          “Okay,” tanggap Rowena. “Haven’t you visit it?”

          Myungsoo tersenyum tipis. “Never for spring.”

  L-Nino  

 

Green Park, West London,

April, 2014, 04.55 pm GMT

 Green Park, London, England, UK

Taman ini tak punya danau dengan sedikit bangunan, tapi Londoners tetap menjadikan taman ini menjadi pilihan untuk berelaksasi dengan suasana hijau ditambah kebun-kebun yang memamerkan bunga.

Rowena, gadis yang memakai topi bulat lebar dan vintage dress tipis lengan pendek motif daun itu melirik gitar yang tergeletak di antara mereka. Dia memangkunya, pada posisi akan memainkan gitar.

Will you teach me playing guitar?”

Myungsoo berdecak. “Jangan. Nanti tanganmu kasar.”

Gadis itu terkekeh sementara Myungsoo menyesap minumannya. “Oppa!”

Myungsoo sukses tersedak lalu dia menatap tajam Rowena.

That’s Korean younger women call you, right?” tanya gadis itu.

Myungsoo meringis dan dilihatnya gadis itu memasang tampang puppy.

As you wish, My lady. Kalau kau suka, panggil saja seperti itu.”

Gadis itu tertawa. “Just kidding. I’d like calling you Wangja.”

Myungsoo tersenyum lembut. Lalu dia merentangkan tangan kanannya melingkari pundak gadis itu. Dia meraih tangan kanannya. Myungsoo menempatkan jemari kirinya di senar bagian atas.

“Kau belajar memetik gitar saja. Biar aku mengatur kuncinya,” ucap Myungsoo.

Rowena mengangguk dan mereka mulai memainkan lagu Over the Rainbow bersama.

Somewhere over the rainbow, bluebirds fly.
Birds fly over the rainbow.
Why then, oh why can’t I?

If happy little bluebirds fly beyond rainbow,
Why oh why can’t I? 

Keduanya tertawa bersama dan wajah mereka begitu dekat. Saat mereka berhenti tertawa, keduanya saling menatap. Rasanya Myungsoo ingin menyelam ke dalam sepasang mata indah itu. Rowena juga merasa sudah kecanduan tatapan Myungsoo. Dia ingin terus mendapat lesakan panah dari sepasang mata hitam Myungsoo yang bisa mendebarkan jantungnya.  Dengan tangan kirinya, Myungsoo mengambil gitar hadiah dari Doojoon dan Eunhwa itu dari pangkuan Rowena. Dia meletakannya di depan mereka.

Dengan lengan kanan yang masih melingkar bahu gadis itu, Myungsoo mendekatkan wajah mereka sampai hidung mereka bersentuhan. Dilihatnya Rowena menutup mata begitu nafas mereka berbaur. Myungsoo mencium lembut bibir Rowena yang dipoles lipstik gradiasi merah dan beige. Dia merespon ciuman Myungsoo dan mereka bercumbu di tengah taman musim semi, di mana beberapa orang yang juga menikmati suasana senja di sana. Myungsoo tidak peduli, dia juga tahu tak akan ada orang yang peduli melihat sepasang manusia berciuman.

 ∞∞ THE END∞∞

 

Kalau endingnya ga jelas, bisa disambung ke epilog Kick Off 😉

 

Advertisements

12 thoughts on “L-Nino and the Duchess of Stamford Bridge

  1. Unsur kesopanan ala pria asia tidak hilang, dan hebatnya si wanita itu bisa menghargai. Saya pikir nanti dia akan menggoda L dengan cara-cara liar. Haha

    1. annyeong Win 🙂
      wah beneran ya rapel komen.
      di sini saya nulisnya L udah adaptasi culture London tapi ga merubah culture sendiri.
      terus si c cwek menghargai krn dia well educated dan bangsawan n secara ga langsung saya gambarkan punya attitude beda sama cwek2 working class
      terus orang Inggris agak beda sama orang Amrik 😀

      kamsahamnisa buat apresiasinya 😀

  2. haduh-haduh romantis bener,latar belakang kota london yg etnik…hmmmm bikin ngiri…
    el nino dh dpt pacar baru…..

  3. kyaaa~ L Nino, kenapa kau berpaling dariku, dan memilih gadis berdarah eropa itu *apaini? XD. Akhirnya hubungan mereka membaik juga, semoga saja dirimu hamin eunhwa-ssi 😀 … Haduhh, begitu yah budaya barat biarpun ditempat terbuka bebas lah berciuman. Eonni, kenapa harus pake bhs. Inggris, jujur aku kurang ngerti *mewekdipelukanDoojoon XD, lain kali bahasa inggris nya dikurangin yah eon. Biar gak semua percakapan didominasi bhs. Inggris :D, kasian sma reader yg gak ngerti, dan dia harus bolak balik translate :D.. Masih ada beberapa typo yang bertebaran untuk kesulurah aku suka 🙂

    1. Kekeke mian ya
      Saya juga baru nyadar kebanyakan in English tapi emang semuanya standar aja. Ga pake diksi yg ga umum 😀

      Ya ini cwek kan ada d epilog Kick Off
      Jadi ini awal mereka pacaran 😀
      Bukan hanya bebas juga, d Eropa ga akan ada yang peduli aja liat orang ciuman. Wkwkwkw

      Kamsahamnida

  4. Garing? Kau bilang ini garing? How dare u!
    1. Greenwich park teringat Thor

    2. Pas banget waktu Sungyeol dengan suara kencang telepon pantas L marah. Ternyata L kasih saran menghadapi Hitler (dilihat dr kronologi)

    3. “Kalau aku Hitler, aku akan memilih gadis bule itu.” (Part entah berapa) jadi nyata.

    4. Sekali dicampakan mantan pacarnya, dan sekali lagi menyerah dengan perasaannya. Suka dengan kalimat ini tp typo kkkkkk

    1. I said garing,
      abis berasa gda tension. wkwkwk.

      1. Nyari tempat yg agak jauh dr Chelsea
      2. Itu nyambung ke part unni 😀 bisa kasus sama atw beda.
      3. Part red devil. Makan ucapan sendiri. wkwkwk. asik jadinya bawa WAG ke Brazil.
      4. ㅎㅎㅎ mian 😉
      itu apes tapi ga bikin L hopeless

      kamsahamnida unni 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s