Autumn Story

poster pf autumn story

Autumn Story

ansicangel

Fluff, Romance | Oneshot | PG-17

Cast :

Lee Minho
Emma Watson as Joanne ‘Jo’ Stalin (OC)

Annyeong!! Sebenernya FF ini adalah project FF bulan lalu, tetapi karena masih terkena WBS akut, saya menundanya T_T. Rencana buat Ficlet, tetapi ternyata kebablasan jadi Oneshot wkwkwk.

Jeongmal mianhae kalau bahasanya rada amburadul alias berantakan *deep bow*

ѠAutumnStoryѠ

Angin berhembus pelan menggerakan dedaunan yang kering berwarna coklat, membuat sebagian berguguran menyapu jalan. Bahkan sebagian kecil berterbangan menerpa boots seorang pemuda bermantel hitam yang sedang duduk di sebuah kursi taman yang tak jauh dari sebuah pohon yang berguguran tadi.

Lee Minho, seorang pemuda berperawakan tinggi dengan rambut hitam cepak rapi dan kulit putih orang Korea Selatan kebanyakan menghembuskan napasnya kasar. Sesekali ia melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Sungguh ia tak suka menunggu. Apalagi menunggu seseorang yang selalu datang tak pernah tepat waktu. Jangan tanyakan mengapa ia datang 30 menit lebih awal. Ia hanya tak sabar melakukan kencan dengan kekasihnya.

Dengan rasa kesal ia menghentakkan boots-nya di trotoar dan berjalan hilir-mudik seraya mendecakkan lidahnya. Tanpa ia perdulikan orang-orang yang berlalu lalang di kawasan Picadilly Street sambil berbisik-bisik atau menatapnya heran. Ia bahkan lupa jika dirinya  mungkin dikenal oleh mereka.

Lelaki tampan itu menyipitkan kedua matanya saat melihat sosok yang ia nantikan tengah berlari menuju ke arahnya. Melipatkan kedua tangannya sambil memasang wajah dingin nan angkuh, menatap sosok itu yang semakin mendekat. Seorang gadis cantik bersurai coklat keemasan mengatur napasnya yang terputus-putus.

I’m so sorry, I’m late. I don’t know if the meeting had been long time. We had serious conversations about my novel project. I hope you’re not angry with me,” ujarnya cepat dengan nada menyesal dan terengah-engah.

Minho mencoba mempertahankan mimik wajahnya yang terkesan marah pada gadis itu. Sebenarnya ia ingin sekali tertawa karena mendengar suara gadis itu yang kental dengan dialek British-nya. Ia selalu suka mendengar suaranya karena menurutnya setiap gadis itu berbicara ada nada di setiap kata-katanya, seperti bernyanyi. Bahkan jika gadis itu mengomel padanya, ia pun ingin tertawa. Namun, ia harus mengesampingkan perasaan itu.

Jinjja? Tell me Miss Joanne Caroline Stalin ah, ani but Miss Jessie Stalin what did you promise to me? You said that you’d come at twelve thirty and what time is it now? You made me wait long time,”

Minho meluapkan kekesalannya pada gadis itu dengan bahasa yang campur aduk dan agak berlebihan. Beruntung Joanne atau yang kerap dipanggil Jo paham apa yang dimaksud oleh pemuda itu. Ia bahkan dapat berbicara bahasa Korea meskipun sedikit.

Jo mengerucutkan bibirnya yang merah sambil memasang wajah memelas pada Minho, “Please, forgive me. I’ve told you about the reason, right? Jeongmal mianhae,”

Minho terdiam sejenak sebelum mencoba menahan senyum. Ia benar-benar tak bisa marah pada gadis itu yang sudah mencuri hatinya sejak 6 tahun yang lalu.

“Baiklah, kuterima maafmu.” ujarnya setengah tak acuh, “Sebaiknya cepat kita pergi. Aku sudah lapar,”

Ia pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kekasihnya itu.

Wait me!” teriak Jo yang dibalas senyuman yang tak mungkin bisa dilihat oleh gadis itu.

Jo menangkupkan tangannya di dagu setelah melihat daftar menu dan memesannya. Menatap pria yang berada di hadapannya yang terlihat bingung memilih menu. Ujung bibirnya melengkung sempurna ketika Minho tak kunjung memutuskan.

“Ah, I choose the same menu like her.” ujarnya pasrah pada sang waitress dengan kasual, lalu beralih pada Jo, “Don’t look at me like that!”

“Aku tak akan menyia-nyiakan kejadian seperti ini di mataku. C’mon, I seldom see you every day.” sahut Jo yang diselingi tawanya yang ringan.

Minho mendengus.

Tell me, what have you done today? You’ve gone somewhere?” tanya Jo sembari menyesap Marocchino-nya dengan menggunakan sendok.

marocchino

Nope,” sahut Minho cuek.

What?! Kau menyia-nyiakan waktu liburanmu, kau tahu? Kau sudah berada di sini selama 3 hari, dan kau tak pergi kemana-mana?” kata Jo tak habis pikir.

“Oh, ya? Lalu siapa yang menjanjikanku akan pergi menemaniku berkeliling? Rupanya ada yang sudah melupakan janjinya,” cecar Minho.

Okay, I’m wrong. So, what do you want?” ujar Jo mengalah.

Gadis itu memutar bola matanya ketika melihat Minho menyeringai.

Minho menggandeng tangan Jo dengan erat seakan tak ingin terlepas. Sore itu mereka lebih banyak menghabiskan waktu di sungai Thames dengan menaiki Thames River Boat Cruise melewati Gedung Parlemen Inggris, Jembatan London, London Eye, Menara Big Ben, Menara London, Gereja Katedral Saint Paul, dan Pasar Ikan Billingsgate.

460029-river-thames-london1

Mereka pun bahkan tak menyia-nyiakan untuk melakukan selca. Kadang Minho tak membuang kesempatan untuk mencium pipi kekasihnya itu yang dibalas dengan cubitan sayang darinya.

Appo!” adunya manja sambil meringis kesakitan.

“Rasakan,” kata Jo seraya menjulurkan lidahnya.

“Kau yakin kita harus menaiki ini?” tanya Minho beberapa saat kemudian dengan bingung tatkala menatap ngeri roda raksasa yang berada di depan matanya.

Yup,” sahut Jo tanpa ragu-ragu, “Semua orang yang berkunjung ke London belum akan merasa puas jika belum menaiki London Eye.”

“Tapi,…”

Jo melayangkan tatapan tajam ke arah pemuda itu, “Jangan katakan kau masih takut ketinggian.”

“Si-siapa bilang aku takut?” ucap Minho sedikit tergagap, “Ayo, kita naik,”

Ia pun menarik tangan Jo ke arah antrian tiket.

Jo mengamati tangan Minho yang tak kunjung melepas genggaman tangannya, dapat ia rasakan sedikit licin karena keringat. Ia tahu saat ini pasti Minho menahan rasa takut untuk menjaga gengsinya. Ia sangat mengenal pemuda itu.

“Kita bisa membatalkannya jika kau takut. Aku tak mau terjadi sesuatu padamu saat kita berada di dalam nanti,” ujarnya cemas.

Aniyo, gwaenchanha.” sahut Minho tegas.

Jinjjayo? You’re not lie, right?” kata Jo memastikan.

Minho menggeleng, “Kau ingat saat aku bermain di drama pertamaku, aku harus menaiki cable car menuju Namsan Tower. Aku harus melakukan syuting di sana selama 4 jam di malam bersalju,” cerocosnya.

Jo tergelak, “Ne. Dan karena pengambilan gambar itu, kau berlatih menaiki cable car selama setengah hari di hari sebelumnya. It’s so funny,”

Hey, dari mana kau tahu itu?” tanya Minho heran sambil berjalan memasuki kapsul.

Gadis itu tersenyum, “Oh, ayolah apa sih yang tak ku ketahui dari seorang Mr. Popular sepertimu?”

Minho memutar bola matanya bosan. Namun, detik kemudian ia terkesikap ketika roda raksasa itu mulai bergerak perlahan. Tubuhnya kaku, peluh mengalir dari kening di wajah pucatnya. Ia meringis sembari sesekali menghembuskan napasnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Gwaenchanha?”

Minho hanya mengangguk sebagai jawaban. Jo mencoba mengalihkan perhatian pemuda itu dengan mengajaknya terus berbicara. Mendesah lega begitu melihat Minho sudah tampak lebih tenang sekarang.

“Ah, aku jadi teringat saat aku berada di Seoul.” tutur Jo, “Kau ingat saat pertama kali kita bertemu di sana?”

Minho tersenyum simpul, “Kau pingsan di depan rumahku dengan pakaian kumal. Aku mengira aku menemukan seorang pengemis aneh,”

Jo mengernyitkan dahinya mendengar ledekan Minho, setengah tak percaya.

A beggar?! Oh my God, jadi kau mengira aku adalah pengemis? Seandainya tasku tak dijambret, aku pasti tak akan bertemu denganmu.”

Pemuda itu tertawa keras melihat wajah Jo yang memerah seperti kebanyakan cuka.

Jinjja?” godanya sambil memeluk tubuh gadis itu dari belakang.

“Bukankah dulu gadis kriteriamu adalah wanita Korea? Kau masih bisa mendapatkannya sekarang, mereka bahkan rela mengantri di depanmu. Bukankah dulu kau tak menyukai gadis asing?” rengut Jo.

Minho mengeratkan dekapannya pada tubuh Jo. Tercium olehnya aroma apel yang bercampur dengan raspberry yang menguar dari tubuh gadis itu. Mengecup pelipis kanannya sekilas. Jo sendiri menyamankan posisi tubuhnya di dalam pelukan posesif Minho.

“Dulu ya, sekarang tidak lagi,” sahut lelaki itu, “Cara pandangnya yang membuatku berubah,”

Jo terkekeh, “Like that? I see. You have to say thank you to her,”

Gumawo,” bisik Minho di telinga gadis itu yang membuatnya tersipu.

“Ah, I want to eat bungeoppang,” gumam Jo yang membuat alis Minho terpaut.

Ye? Bungeoppang?”

Jo mengangguk, “Kau mau?”

Minho mengerjapkan kedua matanya kemudian melepaskan pelukannya dan membawa Jo menghadapnya, “Memangnya di sini ada yang menjual bungeoppang?”

Aigoo! Don’t be silly! Di sini bukan Korea, sangat sulit untuk menemukan makanan Korea seperti itu, kecuali kau membuatnya sendiri.” jelas Jo gemas sembari mencubit hidung bangir Minho menggunakan telunjuk dan jari tengahnya.

“Kau membuatnya sendiri?” kata Minho tak percaya.

“Aku belajar melalui internet,” sambar Jo.

“Ah, arraseo,”

Mereka menikmati panorama kota London di atas London Eye. Jo terpana melihat sinar matahari sore di musim gugur kali ini. Semburat cahaya kekuningan tampak indah di matanya. Langit yang mulai berubah warna pun terlihat sama menakjubkan.

london eyelondon eye in autumn

Ekor matanya melirik ke arah Minho yang juga tampak terpesona melihat pemandangan di bawah sana. Hatinya menghangat begitu melihat sosok tersebut berada di sampingnya. Sudah lama sekali mereka tak melakukan hal seperti ini berdua karena kesibukan Minho di bidang keartisannya.

Mereka bahkan pernah bertemu hanya setahun dua kali, itu pun Minho harus memaksa pada managernya untuk menyusun ulang jadwalnya supaya ia dapat bertemu dengan Jo. Apapun caranya.

Jo tersenyum mengingat dulu Minho sangat ingin menjadi bintang iklan atau model untuk membantu perekonomian keluarganya. Namun, sepertinya dewi fortuna membantunya melampaui harapan. Ia malah ditawari mengikuti casting untuk sebuah drama saat mereka tengah mengikuti lomba makan mie ramen di kawasan Namdaemun. Dan dari sana karir Minho mulai terbentuk hingga sekarang.

So beautiful,” gumamnya setelah kembali memusatkan perhatiannya pada sekitar.

Minho mengangguk setuju, “Ne, yeppeuda.”

Ia terdiam sebelum memperhatikan wajah Jo dengan seksama dan tersenyum penuh arti, “Miss Joanne Stalin, would you marry me?”

Jo yang terkejut dan tak sanggup berkata apa-apa hanya tertawa untuk menutupi kegugupannya, “Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu akan kupikirkan terlebih dahulu?”

Minho mengusap keningnya, tak percaya.

“Untuk apa lagi kau memikirkannya? Kita sudah saling siap, jadi untuk apa kita menundanya?” tanyanya ingin tahu dan mulai kesal.

Jo tersenyum lebar, “Hey, Mr. Popular – Lee Minho-ssi, apakah kau sudah lupa dengan janjimu untuk menjadi seorang pria hebat dan mapan sebelum menikah dengan ku?” ujarnya tak mau kalah.

Minho membalasnya dengan seringaian yang tak kalah lebarnya, “Oh, Come on you should have known who I am. Naega Lee Minho, seorang aktor papan atas di Asia. Aku membintangi beberapa serial drama, film, iklan, dan aku juga seorang penyanyi. Ah, aku pun mempunyai 2 coffee shop, sebuah butik, dan sebuah salon. Tidak itu saja, aku juga mempunyai sebuah rumah besar serta sebuah apartement mewah di Seoul,”

Jo tersenyum mendengarnya, jelas ia mengetahui semuanya.

“Kupikir sekarang aku sudah pantas untuk melamarmu,” lanjut Minho penuh percaya diri sembari merogoh saku celananya.

Jo melihat Minho mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari beludru berwarna coklat dan membukanya. Terlihat dua buah cincin kembar yang terbuat dari emas putih dengan bertahta berlian di atasnya.

7f827cf4tw1dmnp2kd2lrj

“Jadi, maukah kau menikah denganku?” tanya pemuda itu sekali lagi.

“Baiklah, aku akan menikah denganmu.” jawab Jo tenang.

Seketika Minho mengembangkan senyumnya.

“Tapi dengan satu syarat.” sambung gadis itu membuat senyum pemuda itu menghilang saat itu juga.

Mwo?! Syarat?!” teriaknya, “Kau ingin aku bagaimana lagi? Tak cukupkah kita menunggu selama 4 tahun? Tak bisakah kau menerimaku apa adanya? Ternyata susah sekali mengajakmu menikah,”

Minho menggaruk rambutnya frustasi. Oh, apakah Jo tak mengerti kalau ia sudah menunggu kejadian ini begitu lama.

“Kau tahu, tak mudah mengajakku menikah.” ucap Jo santai.

Minho mendesah kemudian menghelakan napasnya kuat-kuat, mencoba mengalah.

Jinjja? Baiklah, apa syaratnya?”

“Setelah berjanji apakah kau akan melaksanakannya?” tanya Jo memastikan.

Yes, I promise.” jawab Minho tanpa berpikir.

Ia menahan napasnya ketika melihat Jo memamerkan senyumnya yang manis tetapi agak menyeramkan.

Okay, persyaratannya adalah aku ingin kau menjadi peran utama di film yang diadaptasi dari novelku ‘A New World’. Aku telah mediskusikan hal ini pada produser dan dia setuju kau bermain sebagai Park Jungwoo,” ungkap Jo.

What do you say?!” kata lelaki itu tak percaya, “Kenapa kau tak membicarakah hal seperti ini padaku terlebih dahulu? Kenapa selalu bersikap seenaknya?”

This is me. Jadi, kau mau menerimanya atau tidak? Kalau tidak, jangan harap bisa menikahiku.” ancam Jo.

Minho merasa terdesak dan terpojok. Tak lama kemudian ia mengambil sebuah cincin yang lebih kecil dan memakaikannya di jari manis gadis itu.

“Kau…,”

“Kalau hanya itu persyaratnya, aku bisa melakukannya.” potong lelaki itu lalu memasangkan sendiri cincin yang satu lagi di jari manisnya.

So?”

So what?” kata Minho balik bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya.

“Kita…,”

Belum sempat Jo menuntaskan perkataannya, Minho sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya yang dalam. Jo mencengkeram bahu Minho. Laki-laki tampan itu mendekapnya kuat sambil menciumnya kasar.

Minho melumat bibir tipis itu dengan kuat. Ia merasakan tangan Jo sedang berusaha mendorongnya. Perlahan, ciuman Minho melembut dan berubah menjadi lumatan-lumatan kecil hingga dilepasnya bibir itu tanpa menjauhkan wajahnya. Napas keduanya tersengal. Terasa hangat menerpa wajah masing-masing.

I love you,” bisik Minho lalu melumat bibir itu lagi dengan singkat.

Jo masih memejamkan matanya. Bibir Minho menekan bibirnya sekali lagi, “Saranghae,”

Satu kalimat bisikan itu membuat dada Jo menjadi hangat. Kedua tangannya menangkup wajah Minho, menjauhkannya hingga ia dapat melihat dengan jelas wajah itu. Ditatapnya wajah itu dengan sorot mata penuh kasih. Laki-laki yang begitu menganggapnya berarti. Yang kehadirannya sejak awal tidak dapat ditolaknya. Lee Minho.

Nado saranghae. Jeongmal, ” bisiknya pelan sebelum mengecup bibir pemuda itu lembut. Dan dibalas oleh Minho sama lembutnya.

—THE END—

N/B : Joanne Caroline Stalin, saya menceritakannya sebagai seorang penulis novel yang terkenal di Inggris. Nama penanya adalah Jessie Stalin yang diambil dari nama inisialnya J dan C, jadi jangan bingung ketika Minho memanggilnya Jessie Stalin ^^ Mudah-mudah ini dapat membantu 🙂 No Prekuel and No Sekuel, karena otak saya lagi tumpul *deep bow* hehehe *apa itu?* #digeplakbareng-bareng

Advertisements

About ansicangel

I'm extraordinary girl. Like listening music, reading, and watching movie. Cassie, ELF_Cloud&Angel_ Inspirit 송눈아..^^

5 thoughts on “Autumn Story

  1. Ahahai, sebenarnya ini agak-agak menjurus ke bisnis ya. Si wanita tidak mau dirugikan karena menikah dengan LMH. Terlepas dari urusan ingin dirugikan, saya rasa pihak wanita memang ingin menikah tapi masih ragu, dan bisa jadi alasan yang dia pakai hanya untuk membuat hatinya yakin.

  2. sepertinya Minho sedikit merombak type perempuan idealnya. Astaga, ternyata kau takut ketinggian. Aku suka ff ini, biarpun penggunaan bhs. Inggris disini digunakan tapi gak terlalu mendominasi. Bang Lee mendingan cicin nya dipasang di jariku, mumpung lagi kosong ni jari 😀 …

  3. Idem sama Chelsea. London ngak asal nempel. Tahu apa yang ada di kota London bukan hanya sebagai pusat Inggris Raya. Suka dengan London Eye itu. Waktu nonton Queen of SOP kebetulan si cewe juga dijambret dan ditolong oleh Zhang Han, mereka berdua makan es krim di musim salju. Ah jadi melantur.

    Yang saya tambahkan Sica, biasanya orang melamar hanya bawa satu cincin. Dua cincin kalau di pernikahan.

  4. Sica, kita saling ga tau ya mau nulis ibukota negara sepakbola.
    kebetulan banget 🙂
    meski gee liat poster ini d galeri WP. Tapi gtaw samaan.
    bahkan Hanguk-Yongguk couple juga ga janjian 🙂

    well seperti biasa, I love the way you present a story just like on Zeeland. Latarnya ga asal nempel jadi pentas cerita tapi Sica bisa bawa pembaca ke sana.
    Ga hanya sekedar ditulis London, Inggris, tapi berasa bisa dilihat tanpa pic pendukung.
    soal English, Gee pribadi agak takut setiap nulis bahasa asing yg sifatnya alih bahasa dr Indo ke bahasa target. Soalnya kurang faham faktor culture. Tapi kita sama2 berani nulis bahasa di mana kejadian terjadi. Melenglengkapi unsur social setting sebuah fiksi. Kalo tanpa bahasa tempat tersebut sementara kita nulis tokoh pribumi, berasa menerjemahkan ya. wkwkwkw.
    So, keep using English even two sentences and even we don’t master the whole linguistics of the target language

    Masukannya, tanda baca akhir dialog tanpa keterangan ditutup sama titik. Terus nama tempat dan nama orang. jangan cetak miring. Kaya Thames n Joanna

    I love this
    Dipost ya yang zeeland itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s