Author : A Joseon’s Tale

Author

A Joseon’s Tale

Joseon's-

By:

Chelsea

Saeguk PG17One Shot:-1.500 words

 

Starring :

Park Hasun Han Hyojoo as Queen

Kim Soyeon as Yoon Soyeon Lee Yeonhee as Park Wol

Kim Kibum [Suju]  Song Jongho 

Lee Junki Song Joongki as King

 

Previously posted on Summer Fiction

A Joseon’s Tale

 

Naeri[1], sebenarnya ada masalah apa?” tanya gadis yang memakai hanbok sutera warna cerah bernama Park Hasun.

Gadis itu baru dipersilahkan duduk oleh seorang lelaki yang memakai hanbok cendekiawan benama Kim Kibum. Pengurus perpustakaan istana itu tersenyum kecil.

“Tentang Hyeseong,” jawab lelaki yang cukup tampan dengan kumis tipis itu. “Apa benar roman yang kau tulis itu tentang dirinya? Dia mengadukan perbuatan tidak sopanmu yang menghinanya sebagai penulis.”

Park Hasun tersenyum anggun. Kim Kibum juga bertugas mengawasi karya-karya sastra yang dicetak atau pun cerita yang tersebar secara oral.

Geurae, aku menulis Hyeseong sebagai nama ular yang ditemukan di sebuah parit. Apa Naeri sudah membacanya?” tanya Hasun yang tahu betul kalau Kibum tak akan memintanya datang tanpa membaca roman yang dia maksud.

Lagi-lagi Kibum hanya tersenyum. “Kau juga menulis nama Hyeseong sebagai pimpinan kelompok penyihir.”

Hasun tertawa kecil. “Keureom, di sebelah mana saya menghinanya sebagai seorang penulis? Apakah saya menyinggung tentang tulisannya? Atau saya menghina karyanya? Hyeseong, nama itu tidak hanya milik dia seorang. “

Kibum terkekeh. “Algesseumnida. Tapi, sebaiknya Park Hasun-ssi menemui Hyeseong dan jelaskan agar dia mengerti.”

“Dia tidak akan faham, Naeri,” ucap Hasun. “Dia selalu menghindari tapi dia membicarakan ke mana-mana.”

 

Pertemuan itu tak berlangsung lama. Hasun akan menghadiri perjamuan di istana siang harinya. Ratu mengundang beberapa penulis roman. Dia pikir bisa bertemu Hyeseong di sana.

A Joseon’s Tale

 

Gyeongbokgung Gyeonghoeru-02

Beberapa perempuan duduk berjajar dan saling berhadapan di lantai atas Gyeonghoeru,pavilium yang sering digunakan untuk perjamuan. Di depan mereka terdapat meja berisi kue-kue dan teh. Ratu duduk di tengah, memimpin acara perjamuan. Ratu gemar membaca karya sastra roman apalagi ditulis oleh perempuan.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Park Wol dan Park Hasun yang sedang saling berbisik, tersentak seketika.

Joseonghamnida, Jungjeon Mama[2],” ucap keduanya sambil membungkuk dalam posisi duduk itu.

Ratu Han hanya tersenyum. “Aku hanya ingin tahu apa yang kalian bicarakan.”

Animnida, Jungjeon Mama. Kami hanya membicarakan pemandangan dari atas sini yang sangat indah,” ucap Park Wol masih dalam posisi membungkuk.

Keureohamnida, Mama. Kami berpikir pemandangan ini untuk tulisan kami,” timpal Hasun yang juga masih membungkuk.

Ratu tersenyum, “Angkat kepala kalian. Itu bukan kesalahan. Karena pertemuan ini membahas tentang roman.”

Yoon Soyeon, pemimpin perkumpulan penulis perempuan, tahu kalau kedua gadis itu membicarakan hal lain. Tapi ratu malah asyik berdiskusi tentang penulisan tempat dalam karya sastra.

A Joseon’s Tale

 

Dalam perjalanan meninggalkan istana, Park Hasun dan Park Wol menghampiri Yoon Soyeon, meminta bicara sebentar. Ketiga perempuan itu pun memilih pergi sebuah taman istana yang tak jauh dari sana.

“Katakan, apa yang ingin kalian tahu dariku,” tembak Yoon Soyeon.

“Yoon Manim, bagaimana bisa Anda menebak kami ingin tahu sesuatu?” tanya Hasun.

Soyeon menatap tenang kedua gadis itu. “Cepat katakan.”

“Kenapa Hyeseong tidak datang ke jamuan ini?” tanya Wol.

Soyeon tersenyum tipis. “Hyeseong? Kenapa kalian pikir dia akan datang?”

“Bukankah dia juga seorang penulis?” tanya Hasun.

Geurae,” jawab Soyeon. “Tapi dia bukan anggota perkumpulan kita.”

“Sudah kuduga.” Ucap Wol. “Dia hanya orang yang lebih sering berteriak tentang orang dari pada menghasilkan karya.”

“Ah, bukankah dia juga sering mengkritik penulis roman?” tanya Hasun. “Aku pernah dengar, dia berkata kalau seorang penulis sastra yang hanya bisa menulis roman, kemampuannya sebagai penulis patut diragukan.”

Soyeon tertawa kecil. “Dia juga berkata, cerita yang lebih dari 5.000 kata akan membosankan.”

Keureom, dia sendiri yang sering menghujat penulis, kenapa dia menuduhku menghina pekerjaannya sebagai penulis?” keluh Hasun.

Soyeon memicingkan mata dan Wol malah tertawa kecil.

Manim pasti tahu roman pendek Hasun berjudul bunga gaenali?” tanya Wol direspon anggukan kecil Soyeon. “Mungkin Hyeseong merasa tersinggung karena itu.”

“Aku tak pernah menghina seseorang sebagai penulis seperti yang dia katakan. Kalau aku mengkritik sebuah karya, itu hanyalah kritikan,” jelas Hasun. “Kalau aku menghujat pribadi seseorang, tak peduli dia penulis atau pedagang, itu karena kepribadian dia.”

“Sudahlah, orang seperti dia tak akan mengerti,” ucap Wol.

A Joseon’s Tale

 

Ketiga perempuan itu kini sedang berjalan di kawasan perdagangan kota Hanseong[3]. Soyeon menemani kedua gadis yang sedang memilih norigae[4]. Perempuan itu ingat betul Hyeseong, tapi dia berharap tak pernah mengenal nama itu.

Terdengar keributan dan ketiganya menghampiri kerumunan orang-orang. Mereka melihat seorang gadis diseret oleh petugas Euigeumbu[5] menuju lapangan.

“Bukahkan itu Hyeseong?” ungkap Wol dan Hasun bersamaan.

Yoon Soyeon melihat sosok lelaki yang sangat dia kenal. Berada di sana. Orang-orang berbisik tentang eksekusi.

Yoon Soyeon segera menghampiri lelaki tinggi dan gagah berkulit kecokelatan yang memakai pakaian militer warna merah lengkap dengan jeonrip[6].

Naeri, kenapa dengan Hyeseong?”

Lelaki itu terkejut, tak mengira orang yang memanggilnya adalah Yoon Soyeon, istrinya sendiri. “Apa yang kau lakukan di sini? Sebaiknya pulang dan jangan melihat.”

“Setelah kau menjawab pertanyaanku,” ucap Soyeon.

Lelaki itu bernama Song Jongho, seorang komandan di Euigembu. Hasun dan Wol menghampiri dan membungkuk hormat.

“Wanita itu melakukan kejahatan besar,” ucap Jongho. “Dia melakukan penipuan dan pengkhianatan besar. Dia akan dieksekusi hari ini.”

Ye?” tanya ketiga perempuan itu dengan mata melotot karena syok.

“Kenapa kau tak pernah bercerita?” tanya Soyeon agak gagap karena terkejut. “Kapan gadis itu kau tangkap?”

“Aku menangkapnya dua hari lalu,” jawab seorang lelaki lain dari belakang ketiga perempuan itu.

Mereka melihat seorang lelaki yang juga memakai pakaian militer dan jeonrip. Lelaki itu punya raut wajah tegas dan sepasang mata kecil yang tajam. Park Hasun sedikit terkesiap melihatnya.

“Apa kau mau menyaksikan eksekusi?” tanya Song Jongho pada lelaki bernama Lee Junki.

Lee Junki menyeringai. “Aku hanya masih tidak percaya. Aku pikir selama ini mengejar seorang pembunuh ahli, pengawal pejabat tinggi, atau penyusup dari Ming. Ternyata penjilat yang menyebabkan masalah di antara beberapa pejabat kota adalah seorang perempuan.”

Lee Junki mendengus kesal dan dia baru menyadari kehadiran Park Hasun. “Agasshi, kenapa kau ada di sini? Eksekusinya menakutkan, aku akan mengantarmu pulang.”

Song Jongho berdehem dan Yoon Soyeon menatap Junki dan Hasun heran. Sementara Wol baru memberi salam, menyapa Lee Junki.

“Jadi, calon istri Inspektur Lee adalah teman baik istriku?” tanya Jongho pada tentara di departemen pertahanan itu.

Soyeon menatap Junki seksama lalu melirik Hasun, “Benarkah, Hasun-ah? Tapi kenapa suamiku bisa tahu?”

Jongho tersenyum kecil. “Baetssi daenggi[7] yang dipakai Park Agasshi, aku yang memilihnya saat Kapten Lee membelinya untuk hadiah.”

Hyeongnim, kenapa kau terlalu jujur?” keluh Junki merasa agak malu sedangkan Hasun dan Wol saling menahan tawa.

Sebelum menjelaskan, Jongho dipanggil bawahannya.

“Inspektur Lee, tolong antarkan ketiga perempuan ini. Aku tak mau mereka melihat hukuman paling mengerikan,” pesan Jongho.

“Itu…” Wol melihat lima ekor kuda disiapkan petugas eksekusi. Seketika tubuhnya lemas, tak berani membayangkan eksekusi.

“Hyeseong akan dihukum seperti itu?” tanya Hasun syok.

Junki meminta ketiga perempuan itu segera pergi dari sana. Hukuman itu akan diterima penjahat berat. Kaki, tangan, dan kepala, masing-masing akan diikat dan ditarik oleh lima ekor kuda sampai tubuh orang itu terpisah jadi lima bagian.

A Joseon’s Tale

 

Kim Kibum berdiri di samping raja yang sedang membaca beberapa buku yang baru dikirim dari Ming.

“Buku ini boleh disimpan di perpustakaan,” ucap raja.

Ne, Jeonha[8].”

Raja menatap Kibum. “Apa Cendekiawan Kim berpikir aku terlalu otoriter dengan menyeleksi buku-buku yang layak masuk perpustakaan istana?”

Animnida, Jeonha. Anda melakukannya karena kepedulian Anda,” ucap Kibum.

Raja tersenyum lalu berdiri. Dia mau meninggalkan ruang kerja Kibum. Tapi raja mendekat dan menepuk bahu Kibum.

“Kemarin aku melihat gadis yang akan kau nikahi,” ucap Raja.

Kibum terbelalak lalu tersenyum malu. Dia ingat bahwa kemarin siang, kekasihnya, Park Wol, datang ke acara perjamuan ratu.

A Joseon’s Tale

 

Raja mau mengunjungi pavilium anaknya yang baru berusia 9 tahun. Dari koridor luar ruangan, raja bisa mendengar pangeran berbincang dengan ratu. Rupanya pangeran membaca tulisan temannya di sekolah yang menceritakan eksekusi seorang pengkhianat besar kemarin.

Eommamama, kenapa perempuan itu harus dihukum sadis?” tanya pangeran.

“Karena dia melakukan kejahatan besar,” jawab ratu sambil mengelus rambut bocah yang terbaring itu.

“Apa benar dia seorang penulis?” tanya pangeran.

Ratu tersenyum ragu. “Aku tidak tahu, Wonja.”

Bocah yang memakai hanbok tidur bernuansa putih itu mengangguk sambil berpikir. “Apa yang harus kulakukan di masa depan agar orang tak jahat seperti itu? Agar hukuman seperti itu tak perlu terjadi,” tanya pangeran kecil.

Ratu tersenyum lembut. “Kau harus memberitahu mereka agar tidak jahat.”

“Itu tidak cukup.” Pangeran protes. “Aku akan mengajari rakyatku tentang kebajikan-kebajikan yang sudah kupelajari di buku-buku tebal itu. Aku akan menuliskannya kembali dan diberikan pada mereka.”

Ratu tertawa kecil. “Hati Wonja[9] sungguh mulia. Semoga nanti kau benar-benar melakukannya.”

Raja yang mendengar dari luar pun ikut tersenyum.

THE END


[1] Tuan, panggilan untuk pejabat junior atau seorang bangsawan

[2] Yang mulia Ratu

[3] Sekarang dikenal sebagai Seoul

[4] Aksesoris yang dipakai di hanbok

[5] Biro kejaksaan/investigasi dan penegakan hukum di bawah kendali langsung dari raja

[6] Topi khusus petugas militer dengan pangkat menengah ke atas

[7] Aksesoris rambut seperti bandana

[8] Yang Mulia (untuk raja)

[9] Pangeran tertua atau pangeran sulung yang belum diberi gelas putera mahkota

Advertisements

6 thoughts on “Author : A Joseon’s Tale

  1. Onnie-ya…

    Permisi mau numpang ngekek bentar boleh kah? Hehehehehehehe pantesan aja meradang, lah wong begini endingnya :p

    Dihukum dengan lima kuda, itu bener-bener menyeramkan, tapi pake sapi juga bisa kan ya Onnie? Itu kan hukuman buat penjahat berat dan penyihir gitu hhhiiii menakutkan

    Onnie selalu bisa nulis FF Saeguk, dan saya masih tetap tidak pernah bisa menulis genre ini hehehehehehe

  2. ªǪ pendatang baru di FP ini.
    Awal πÿ̲̣̣̣ά ªǪ krang ngerti sma crta ini,tapi setelah dibaca seluruh πÿ̲̣̣̣ά crta ini tentang sastra pda era joseon & hukuman bagi seorang penulis sastra Ɣª melanggar aturan pemerintahan pada saat itu.
    ªǪ suka cerita ini apalagi membayangkan seorang song joong ki menjadi seorang raja.
    Ditunggu karya selanjut πÿ̲̣̣̣ά Y‎​ªªª eonni…… ^-^

  3. eonni, ceritanya aku suka. Tentang saeguk *pelukeonni XD .. Ah ya, pas pertama baca di awal cerita, aku kurang memahami. Tapi setelah aku baca ulang aku sedit ngerti, penulis di jaman joseon. Beuuh, itu hukuman nya serem juga, ditarik sama 5 Kuda sampai tuguhnya terbelah menjadi 5 bagian. Tragis juga. Ada beberapa Typo yang nyelip .. Wait. Aku kah yang pertama komen 😀 #/lirik kiri kanan/ sepertinya iya 😀 .. Eonni ditunggu next story nya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s