Unspoken

UNSPOKEN™

POSTER UNSPOKEN copy

[Kick Off Sequel]

By :

Christie Sue

|Friendship/Sport/Romance/Drama/Comedy |

|PG 17 |

Casts :

Cha Seungwon, Lee Chaerin (Choi Jiwoo) Kim Namgil, Nam Woohyun

[OC] : Lee Kwangsoo, Lee Sungjong

Kim Sunggyu, Lee Sungyeol

Ok Taecyeon, Nichkhun Horvejkul, Hwang Chansung

Park Sungrin, Ji Eunbi and the others

Cameo : Kim Myungsoo

Unspoken™

Cha Seungwon menggapai tangannya ke sisi ranjangnya mencari-cari sosok Lee Chaerin yang bisa membuat tubuhnya menjadi panas. Namun sayangnya ia tidak menemukan sosok istrinya berbaring di sampingnya dan kekecewaannya membuatnya segera bangun dari tidurnya.

Schöne Dame,” [Wanita Cantik, Jerman]panggilnya dalam bentuk desahan berat. Tidak ada jawaban.

Seungwon bangkit dan menyeret kakinya keluar dari kamar namun sebelum melangkah meninggalkan ranjang, ia melihat catatan yang ditinggalkan Chaerin di nakas dekat ranjangnya.

Aku tidak membangunkanmu karena tidurmu pulas sekali. Aku berangkat duluan karena ada yang harus kudiskusikan dengan Manajer PR kita. See you at club. CR.

Cha Seungwon mendesah. Haruskah Chaerin meninggalkannya sendiri hanya untuk berdiskusi dengan Kim Namgil sepagi itu? Mengapa Chaerin tidak membangunkannya saja dengan ciuman selamat pagi lalu mereka akan bergelora lagi dan melupakan tugas-tugas mereka di klub?

Ah, tiba-tiba Seungwon ingin mandi air dingin.

Unspoken™

Cha Seungwon menggertakkan giginya melihat pemandangan itu. Mereka berdua, Kim Namgil, manager PR yang menggantikan posisi Ryu  Eunhwa di klub sedang duduk di ruang makan bersama dengan istrinya. Keduanya sedang membicarakan sesuatu dengan serius sehingga tidak menyadari kehadiran Seungwon. Namja itu ingin sekali menjadi pengganggu bagi mereka berdua namun sebelum ia melaksanakan niatnya, Hwang Chansung pemain tengah yang sekarang menjadi incaran klub luar menyapanya.

Gutten Morgen, Hit… er… Manajer Cha!” [Selamat pagi, Jerman] sapanya riang meskipun Manajer Cha memberinya tatapan tajam. Bukannya ia tidak tahu kalau di belakangnya anak-anak PFC memberinya julukan Hitler tapi ia memang membiarkan hal itu. Julukan Hitler bukan berarti buruk. Itu berarti anak-anak segan padanya.

Dikarenakan suara Chansung yang terlalu kuat, baik Chaerin dan Namgil menoleh ke arah datangnya Cha Seungwon. Kim Namgil segera berdiri dan mengangguk pada Manajer Cha dan dibalas Cha Seungwon dengan anggukan ala kadarnya. Namun ia tetap menghampiri keduanya meninggalkan Chansung yang mulai merasa ada aura membunuh  di dekatnya.

Cha Seungwon mengecup pipi Chaerin dan mengabaikan kehadiran Namgil. Ini di luar kebiasaannya. Ia tidak pernah mempertontonkan kemesraannya ketika berada di klub kecuali hanya ada mereka berdua dalam satu ruangan.

“Mengapa kau meninggalkanku, Jagiya?” bisiknya. Kim Namgil mendehem dengan sengaja sementara Chansung mulai sadar apa yang sedang terjadi di sini.

“Pergilah Manajer Cha, aku sedang sibuk dan kau sedang ditunggu anak-anak di lapangan. Ayo, jangan malas! Kau tidak ingin mereka seperti dirimu kan?” usir Chaerin sambil mendorong Manajer Cha menjauh. Agak risih karena Manajer PR yang baru itu berada di depannya sementara suaminya sedang mengeluarkan jurus maut merayunya.

“Hm, baiklah. Tapi kau janji akan makan  siang denganku ya?”

Chaerin menggeleng.

“Aku dan Manajer Kim akan sibuk seharian mengurus sponsor untuk klub,” jawab Chaerin membuat Cha Seungwon menelan kekecewaannya. Meski jengkel ia tetap menjawab dengan gaya yang tenang, “Ara, jangan terlalu lelah.”

Lalu Manajer Cha meninggalkan Chaerin setelah mencuri ciuman di pipinya lagi membuat Kim Namgil lagi-lagi mendehem.

Brengsek! Aku sedang mencium istriku. Mengapa kau sewot?

Kajja, Chansung! Kita harus latihan berat pagi ini! Latihan ala kamp konsentrasi milik Nazi,” tukas Manajer sambil berjalan menjauh.

Andwae!”

Unspoken™

 “Hitler sial!” umpat Nam Woohyun sambil merebahkan dirinya di atas rerumputan lapangan milik  PFC. Beberapa teman seklubnya seperti kapten Gyu, Ok Taecyeon, Hwang Chansung, Lee Seungyeol, Lee Sungjong, serta pangeran Thai Nichkhun dan Chansung juga ikut tidur-tiduran di atas rumput hijau itu.

Mereka baru saja disiksa oleh Hitler. Begitulah istilah yang diberikan oleh beberapa pemain inti PFC itu. Hitler memerintahkan semua pemain berlari keliling lapangan, ah bukan berlari tapi lompat kodok sebanyak lima puluh kali. Lalu latihan menembak ke gawang yang gawangnya bisa bergerak sendiri digerakkan oleh mesin dan mereka harus menembak ke sisi jauh dari gawang. Setiap kegagalan dari seorang pemain berakibat hukuman untuk keseluruhan tim berupa push up lima puluh kali. Dan sialnya hari ini sepuluh orang pemain gagal mengeksekusi jadinya mereka harus melakukan 500x push up di bawah terik matahari.

“Setan apa yang sedang merasukinya hari ini? Dia sedang bersemangat membully kita,” keluh Sunggyu sambil mengusap peluh yang membanjiri wajahnya dengan handuk kecil yang disampirkan di lehernya.

“Setan itu namanya cemburu, Caps,” jawab Chansung sambil meminum air dari botol minuman bertuliskan Paradise Football Club.

Andwae!”

Maldo andwae!”

“Katakan apa saja yang kau tahu dan hentikan penyiksaan ini buat kita!” tukas Ok Taecyeon sambil mencekik leher Chansung. Chansung protes sambil terbatuk-batuk berusaha melepaskan diri dari Taecyeon.

Hyung, hentikan! Kau bisa membunuh Chansung Hyung!” tukas Woohyun berusaha menarik tangan kiper rakus itu.

Masih terbatuk-batuk, Chansung berkata, “Huks, a-aku melihat tatapan Hitler kepada Manajer Kim. Rasanya ia bisa membunuhnya dengan pistol revolver jika pistol  itu disodorkan ke wajahnya saat itu.”

Nichkhun meringis.

“Dia cemburu pada Manajer Kim. Yang benar saja! Tadinya kupikir dosis Thai Powder itu kurang kuat baginya sampai aku berencana untuk menelepon temanku  dan mengirimkannya lagi.”

“Ah, aku ingin eL Nino ada di sini! Hanya dia yang terang-terangan bisa melawan Hitler,” desah Sungjong sambiol menerawang jauh.

Sungyeol juga mendesah.

“Aku ingin dia ada untuk menendang bola ke kepala Hitler supaya ia bisa tetap waras,” tambahnya.

“Jam berapa sekarang di  sana? Apakah kita boleh meneleponnya sekarang?” tanya Ok Taecyeon.

“Telepon saja!”

Sungyeol mengeluarkan smartphone dari dalam sakunya  dan menghubungi nomor telepon Kim Myungsoo di London. Begitu wajah Myungsoo muncul di layar video, Sungyeol langsung dihadiahkan tatapan khas membunuh milik Myungsoo.

“Apa kau tahu jam berapa sekarang di sini?”

Dan semua anak-anak berebutan bicara dengan pesepakbola Korea yang sekarang merumput bersama Chelsea.

Unspoken™

Dengan perasaan jengkel Manajer Cha menendang bola hingga melambung jauh sampai ke ujung lapangan yang satunya lagi. Untuk yang kedua kalinya ia menendang lagi dan lagi dan lagi seakan tak ada habisnya. Ok Taecyeon dan Lee Kwangsoo yang ketiban sial harus memungut bola-bola itu.

Manajer Cha kesal karena Chaerin masih juga tetap sibuk dengan Manajer Kim dan melupakannya begitu saja.

Kemarin sore, ia menunggu Chaerin di klub agar mereka bisa pulang bersama. Seungwon sudah merencanakan akan makan malam berdua di restoran yang direkomendasikan oleh Park Sungrin namun ternyata rencana itu gagal. Chaerin yang saat itu berada di luar bersama Kim Namgil menghubungi Cha Seungwon dan mengatakan kalau  ia diantar oleh Kim Namgil langsung ke apartemen dan ia juga sudah makan malam bersama Manajer Kim.

Andai saja Manajer Cha memiliki kekuasaan untuk menjangkau pekerjaan PR, ia akan menendang pria bermata sayu dan sipit itu keluar dari klub atau paling tidak, ia menjauh dari istrinya Lee Chaerin. Dan siang ini ia menelepon petinggi klub agar Lee Byeonsa diberikan keringanan dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Manajer Cha jengkel, ia tidak pernah merasa begitu sebelumnya pada wanita manapun. Dulu sewaktu ia belum mengingatkan diri dalam satu pernikahan, ia tidak pernah merasa jantungnya akan berhenti karena seorang wanita, ia tidak pernah berpikir ia akan mati jika seorang wanita meninggalkannya. Yah, biasanya ialah yang meninggalkan para wanita itu.

Namun setelah bertemu Lee Byeonsa, ia cemburu pada Doojoon, adiknya karena Doojoon pernah mengatakan kalau Chaerin adalah type wanita idamannya. Ia bahkan cemburu pada John Terry dan David Beckham karena Chaerin mengidolakan mereka berdua. Dan parahnya sekarang  ia merasa akan benar-benar mati muda jika Chaerin terus peduli kepada Manajer Kim Namgil dan sibuk dengan pekerjaannya.

Yaa, Ok Cat, kau kurang makan? Tangkapanmu  seperti orang tidak makan selama seminggu!” tegur Cha Seungwon menjadikan kiper itu sebagai sasaran kemarahannya. Ok Taecyeon terengah-engah mengejar bola-bola yang terus ditendang Cha Seungwon tanpa henti ke arahnya.

“Dia gilaa!” geram Ok Taecyeon pada Lee Kwangsoo. Kiper kedua itu hanya tersenyum lemah.

Unspoken™

Lee Chaerin mengetuk pintu ruangan Cha Seungwon, suaminya yang berada tepat di depan ruangannya. Ia baru saja mendengar penuturan Lee  Sungjong, pemain muda favoritnya tentang kegilaan yang  dilakukan oleh suaminya kepada anak-anak asuhnya dikarenakan karena kecemburuannya yang tidak masuk akal. Ia juga mendapat telepon dari pemilik klub kalau ia boleh melimpahkan beberapa pekerjaannya pada Kim Namgil. Chaerin tahu kalau suaminya yang melakukan itu.

“Masuk,” tukas suara dari dalam.

Chaerin mendorong pintu dan mendapati suaminya duduk santai di  kursinya sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Dalam keadaan normal, Chaerin akan menutup pintu ruangan dan menguncinya dari dalam agar tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu keduanya. Lalu ia akan mencium suaminya dengan hasrat yang menggebu.

Tapi sekarang Chaerin menendang pintu itu dengan kaki belakangnya dengan jengkel sehingga menimbulkan bunyi keras di pintu bercat putih itu.

“Mengapa kau tidak mengunci pintunya, Jagiya?” tanya Cha Seungwon dengan nada menggoda. Matanya menyiratkan hasrat yang menggelora.

“Aku ingin bicara padamu!”

Cha Seungwon menaikkan alisnya.

“Kunci  pintunya dan kemarilah. Aku ingin memelukmu,” pintanya. Chaerin cemberut. Bagaimana namja ini masih bisa bertingkah seperti ini di saat mereka sudah menikah dan ia sedang hamil 3 bulan?

“Mengapa kau bertindak  seperti itu, Seungwon ah?”

Cha Seungwon memicingkan matanya menatap istrinya.

“Bertindak seperti apa?”

“Seperti Barbarian. Kau cemburu pada Manajer Kim? Lalu menyiksa anak-anak dengan latihan yang tak masuk akal! Kau juga menggunakan kekuasaanmu untuk mengurangi pekerjaanku,” tuding Chaerin.

“Siapa yang mengatakan itu padamu?” tanya Cha Seungwon dengan nada datar.

“Aku tahu. Kau sengaja eoh, mempertontonkan drama di depan Manajer Kim. Hanya untuk menunjukkan kalau barang ini milikmu. Omoni! Cha Seungwon, kita sudah menikah dan aku sedang hamil! Kau tidak perlu menunjukkan apa pun di depan semua orang!”

“Chaerin, nan…”

Childish! Kau anggap aku  apa Seungwon? Aku ini istrimu, kau kira aku perempuan gampangan yang bisa segampang itu tertarik pada namja lain?”

Oh oh, gawat! Chaerin benar-benar marah.

 “Bukan begini Chaerin,” tukas Cha Seungwon membela diri. Ia bangkit dari kursinya dalam sekali loncatan dan mendekati istrinya, ingin memeluknya namun Chaerin malah mundur dan menjauh seolah ia jijik disentuh olehnya.

“Jangan sentuh aku!”

Liebing!”

Chaerin mundur lagi.

“Kau tahu, aku benci sifatmu yang otoriter dan sok berkuasa! Kau sama sekali tidak mengerti perasaan perempuan!”

Chaerin membalikkan badannya dan membuka pintu ruangan Manajer Cha.

“Apa kau menyesali pernikahan kita?” tanya Seungwon lirih. Chaerin menelan ludahnya dan merasakan sakit di hatinya. Meskipun dengan hati yang sakit ia tetap harus memberi hukuman kepada suaminya yang suka berlaku seenaknya.

Ne!”

Lalu dengan kepala tegak ia meninggalkan Manajer Cha yang terbengong mendengar jawabannya. Sementara Dongwoon,  dokter yang menggantikan Ji Eunbi baru saja mendengar kalimat yang diucapkan Lee Byeonsa terakhir.

Unspoken™

Syndrom awal kehamilan.

Cha Seungwon berpikir kepada dokter blasteran itu menjelaskannya dengan begitu susah dimengerti oleh otaknya. Ia sama sekali bukan orang bodoh tapi ketika mendengar penjelasan dari sang dokter, ia merasa seperti anak yang paling bodoh di kelasnya.

Dongwoon mengingatkan dirinya kalau wanita yang hamil muda perasaannya lebih sensitif dan cenderung gampang menangis. Seungwon mengerutkan keningnya dan berpikir darimana dokter itu tahu karena ia sendiri belum punya istri tapi kemudian ia mengakui kebodohannya. Dongwoon adalah seorang dokter dan ia tak perlu punya istri untuk mengetahui hal-hal seperti ini.

Seungwon mengusap-ucap tengkuknya sambil memperhatikan kaca jendela di gedung office PFC yang merupakan kaca jendela Lee Chaerin dan memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh istrinya itu sekarang ketika seseorang menyodorkan minuman dingin padanya. Cha Seungwon menoleh. Kim Namgil menyeringai.

“Cocok untuk mendinginkan kepalamu yang panas itu,” tukasnya tajam. Cha Seungwon menerima kaleng dingin itu dan mendekatkan kaleng itu ke dahinya. Kim Namgil benar, kepalanya benar-benar panas sekarang.

Namja berwajah tirus dengan mata sipit itu  duduk di samping Manajer Cha.

 “Aku dengar dari salah seorang pemain yang sekarang merumput di London kalau semua isi PFC tidak ada yang waras. Sekarang aku percaya,” kilahnya sambil membuka minuman  di tangannya. Manajer Cha juga membuka minumannya dan langsung menegak isinya.

“Aku tidak perlu ikut campur masalahmu dengan Lee Byeonsa, Manajer. Tapi kurasa pria dengan harga diri yang tinggi juga ada saatnya harus meminta maaf,” tukas Namgil sambil melirik ke lantai 4 gedung office bercat biru putih itu. Manajer Cha mengedikkan bahunya.

Kim Namgil menepuk bahu Manajer Cha lalu meninggalkan Manajer Cha yang masih mencerna kata-katanya.

Unspoken™

Seungwon berdiri di depan pintu ruangan bercat putih yang di depannya bertulis Lee Chaerin, pengacara PFC. Sedetik yang lalu tangannya terangkat ingin mengetuk pintu itu namun kemudian ia mendesah  dan mengurungkan niatnya. Ia tidak tahu bagaimana harus bicara dengan istrinya itu sementara Chaerin terus menghindarinya seharian ini.

Tapi kurasa pria dengan harga diri yang tinggi juga ada saatnya harus meminta maaf.

Tiba-tiba terdengar suara tawa Chaerin dibarengi dengan suara tawa khas milik Manajer Kim dari dalam ruangan.

Ah sial!

Seungwon menendang pintu itu tanpa repot-repot mengetuknya lagi. Ia membayangkan hal-hal yang membuatnya ingin muntah. Pintu terbuka dan  ia melihat Chaerin duduk di kursinya sementara Kim Namgil duduk di kursi di depannya. Ini benar-benar jauh dari yang dibayangkannya.

Dan sekarang aku benar-benar serupa seperti Barbarian!

Seungwon merutuki dirinya sendiri. Namun Kim Namgil tahu diri dan segera bangkit dan mengangguk pada Manajer Cha.

“Bisa tinggalkan kami, Manajer Kim, ada yang harus kubicarakan dengan Lee Byeonsa,” pinta Seungwon dan memberi penekanan pada panggilan Byeonsa menandakan kalau ia ingin bicara tentang masalah pekerjaan dengan Chaerin.

Ne, algeuseumnida, Manajer Cha,” jawabnya dibarengi senyum penuh arti. Lalu ia menyingkir dari sana. Seungwon menutup pintu dari dalam tapi tidak menguncinya. Chaerin masih diam dan tidak bangkit dari duduknya karena masih sebal dengan suaminya.

“Lee Byeonsa, nan…”

Kalimat Manajer Cha terpotong karena anak-anak yang sedang keliling lapangan sedang meneriakkan “KAMI TIDAK AKAN LALAI LATIHAN LAGI.”

Diikuti oleh suara ngerap dari Ok Taecyeon dan Nichkhun.

Dalam tiga langkah lebar, Seungwon mendekati jendela dan menutup kaca jendela itu untuk meminimalkan suara teriakan anak-anak tapi tetap saja suara itu masuk melalui celah kaca jendela itu. Seungwon mengingatkan dirinya segera setelah ia berbicara dengan Chaerin, ia akan meminta pergantian kaca jendela Chaerin menjadi kedap suara. Bila perlu seluruh ruangan ini kedap.

“Apa yang ingin kau bicarakan, Manajer Cha?”

Suara Chaerin dingin bagai air es yang disiram ke kepala Seungwon tapi karena kepalanya memang sudah terlanjur panas, Seungwon bersorak. Paling tidak Chaerin masih mau mendengarkan dirinya.

“Aku pria barbar yang tak tahu diri,” aku Seungwon. Chaerin melirik namja itu dengan pandangan jengkel.

“Aku childish! Aku sok berkuasa! Aku egois!”

Masih, Chaerin menatapnya dengan tatapan meremehkan.

“Tapi itu karena kau Liebing. Kau terlalu  sibuk sampai kau melupakan aku. Aku benci  di pagi hari ketika aku bangun kau tidak ada di sampingku. Aku tidak suka kau bekerja sampai larut malam hingga kita tidak bisa makan malam bersama. Aku frustasi bahkan ketika kau berada begitu dekat di sini, aku tidak bisa memelukmu,” tukas Manajer Cha putus asa. Chaerin bersidekap menatap suaminya hampir tertawa sebenarnya.

“Manajer Cha,” panggilnya datar. Ia mengusahakan sedatar mungkin.

Ja, Liebing,” gumam Seungwon sambil menarik tangan Chaerin dan menggenggamnya.

“Peraturan tidak ada skandal dalam tim, kau yang membuatnya,” tukas Chaerin. Manajer Cha memejamkan matanya lalu mengangguk.

“Seperti yang kita ketahui bersama kalau kita telah melanggarnya.”

“Tapi kau bukan bagian timku,” raung Seungwon.

“KAMI TIDAK AKAN LALAI LATIHAN LAGI!”

Seungwon rasanya ingin menendang satu-persatu bokong anak-anak sekarang juga.

“Kau memang namja paling egois yang pernah kukenal!”

Nan ara! Mianhae, Chaerin ah,” bisik Seungwon benar-benar dengan wajah penuh penyesalan. Ah, sekarang ia sadar kalau Manajer Kim memang benar, ada saatnya pria dengan harga diri tinggi dan sombong sepertinya harus mengakui kesalahannya dan itu tidak akan membuatnya rugi.

“Meskipun begitu, Seungwon ah, nan saranghanja. Aku mencintaimu dengan segala kelebihanmu dan kekuranganmu. Keegoisanmu, kekeraskepalaanmu, kesombonganmu,  aku bahkan bisa menerima kalau sampai saat ini kau tidak pernah mengatakan kau mencintaiku sekalipun,” tukas Chaerin. Seungwon tertegun.

“Benarkah aku belum pernah mengatakannya padamu?”

Ia heran bagaimana ia bisa lupa kalau ia memang tidak pernah mengucapkan ia mencintai Lee Chaerin. Ah, rasanya seluruh dunia tahu bagaimana ia mencintai istrinya ini.

Keureu, Lee Chaerin nan……….. ja.”

“KAMI TIDAK AKAN LALAI LATIHAN LAGI!”

Suara Seungwon dikalahkan oleh suaran teriakan anak-anak PFC yang melintas sekali lagi menjalankan hukuman berlari keliling lapangan oleh Seungwon. Seungwon benar-benar menyesali dirinya mengapa harus memberikan hukuman seperti itu di saat yang tidak tepat seperti ini.

Chaerin cemberut menatapnya.

“Lihat bahkan anak-anak juga tidak senang kau mengucapkan itu padaku!” tukasnya jengkel.

“Ah, itu gampang Chérie [Sayangku, Perancis], aku akan  menendang mereka ke kolam renang di dalam  ruangannya dan memerintahkan mereka di sana dua jam,” tukas Seungwon dengan gambaran nyata di wajahnya kalau ia akan melaksanakan niatnya. Chaerin bergidik.

Di musim seperti ini. Seungwon pasti gila.

Tapi bukan itu yang mengganggu pikirannya sekarang.

Jamkanman, Liebing, biar kulempar mereka semua ke kolam  dulu agar suara mereka tidak mengganggu kita nantinya,” tukas Seungwon berniat untuk menemui anak-anak di lapangan. Tapi Chaerin membuka jendela dan tepat saat itu anak-anak yang dihukum berdiri di bawah jendela.

Yaa, Manajer Cha! Turunlah! Kami tahu kau  di sana!” teriak Kapten Gyu.

“Mereka memanggilmu.”

Seungwon mendekati jendela memicingkan matanya untuk melihat apa yang membuat mereka berteriak di bawah gedung berlantai empat itu.

“Manajer Cha, Lee Byeonsa tidak pernah menutup kaca jendelanya. Kaulah yang selalu menutup kaca jendela jika kau berada di ruangan itu!”

Verdammt!” [Terkutuk.]

Anak-anak berhamburan meninggalkan tempat itu menghindari sesuatu yang ekstrim yang mungkin akan dilakukan oleh sang pelatih temperamental itu.

Tapi Seungwon tidak melakukan apa-apa. Ia hanya kembali menutup jendelanya dan mencium bibir Chaerin dengan hasrat menggebu.

“Kita bisa lanjutkan ini di rumah, Liebing?”

Unspoken™

 

Note : Huft! Tidak sampai 3 ribu words. Ditulis dalam waktu tiga puluh menit. Sebenarnya tak ada niat mau nulis sekuel tapi ini karena Chelsea. Maunya juga nulis yang romantis gitu tapi ternyata Manajer Cha tidak cocok seperti itu. Jadinya baik story awal sampai akhir dan side story, Manajer Cha sama sekali tidak bisa mengucapkan kata-kata ‘ajaib’. See you at the others ff.

 

Advertisements

13 thoughts on “Unspoken

  1. posesiv bener manajager cha,
    saking cintanya smpai cemburu buta.
    jangan-jangan nanti baby lg jadi posesiv daddy jg…hmmmmm

  2. Kya…. Kangen sama KO >. <

    Kangen sama gombalnya Woohyun, dan semua kegilaan para pemain dan official di PFC

    Manager Cha tetep ya kata ajaibnya ngga pernah keluar hehehehehe tapi mending ditunjukin pake sikap dari pada ngumbar omongan hahahahahaha

    Wondering apakah saya harus bikin side story juga? Ehm… Ngga ada ide hehehehehe

  3. thanks buat CS eonni yang udah buat squelnya…….

    aduwh…. bingung mau komen apa ya…..
    chukae… lee byonsa akhirnya hamil juga….. madame pasti seneng banget mau punya cucu….^^

    hitler kalo lg cemburu bnr2 nyeremin…… kshn anak2 pfc jadi sasaran….. wkwkwk^^
    jangan bosen2 buat squelnya ya eonn…….

  4. hahaha ngakak pas lagi enak2-nya ngomong suara para pemain PFC menggema *poorHitler XD ..suka kali sama konflik nya, terkesan sama hitler sangar2 kaya begitu bisa ngucapin kata ‘maaf’ 😀 .. Btw, baru nyadaar kalau CSW belum pernah ngucapin kata ‘aku mencintaimu’ sama Chaerin .. Ckckck msih sempat juga ciuman, btw nanti kalau dilanjut dirumah jangan kebablasan yah bang kasian sama baby nya *mesum wkwkwkwk 😀 :p

    1. Annyeong istri Yeye. Ureomanieyo.

      Hitler ngak pernah bilang kata-kata itu bahkan waktu dia melamar pun kata-katanya tegas. Aku baru beli mobil, maukah kau bersamaku mengisi jok belakang. ㅎㅎㅎㅎ.

      Lee Byeonsa bahkan menyukainya satu paket beserta anak2 asuh yang kepo dan selalu mau tahu urusan Manajer.

      Kamsahamnida singgah.

      1. hahaha eonni bisa aja, aku bukan istrinya bang yeye tapi ibu dari anak2-nya si Yesung *samaaja XD … Mungkin kalau hitler ngucapin kata ituh entah seseneng apa lee byeonsa 😀

  5. kyaaaaa,,,,,bs bca ko lg,,,ngakak deh liat klakuan anak yg gangguin mr cha,,wahhhh cherin lg hamil,,,slamat deh,,,mudah2an ada klanjutannya ,,, 🙂

  6. Wkwkwkwk kami tidak akan lalai latihan lagi :D… Sungyeol bogoshipo :* omo Lee byeonsa udh hamil, Hitler mau jadi appa.. Kim namgil penasaran ma orng’y :|.. Moga da sequel lg #ngarep

  7. Akhirnya ada side story dari Hitler.
    Terkadang saya suka bingung kalau mengomentari genre marriage life gini hahaha
    Gak lepas dari segi humor kalau udah urusan sama Hitler, mungkin dari segi pembaca dapatnya humor, tapi dari segi cast dapatnya ‘penyiksaan’.
    Untuk alur, feel, lokasi, dll tidak perlu dikomentari lagi karena sudah oke. Hahaha

  8. Annyeong Unni 🙂
    Pake akun ini, males log out log in, koneksi geje 😦
    Kyaaa kenapa karena Chelsea?
    Itu yang Honey Doojooni dipost karena ada reader yang suka DJ 😀

    Ini tetep ya ada komedinya, ngikik ngakak bacanya.
    Sungyeol nelpon Myungsoo ga ngitung waktu 😀
    Manager sama pemain tetap gila.
    Gapapa, SW ga bisa romantis juga. I like this.

    1. Thanks G! Tadinya juga niat bikin yang panas tapi ngak bisa karena kejadian di klub yang ada anak2 Taeguk Warrior ganggu. Seperti biasanya kepo dan selalu mau ikut campur. ㅎㅎㅎㅎ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s