Forsythia

Forsythia

두려워하지않고거짓말을하지않는다

[Don’t be Affraid and Don’t Lie]

 Forsythia

By :

Chelsea

Thriller, Horror, Mystery, Romance PG15One Shot

 Starring :

Lee Jongsuk Lee Howon [Infinite Hoya]

Kim Myungsoo [Infinite L] Son Dongwoon [Beast]

Ryu Hyoyoung [5 Dolls] as Kwon Jinhye

Park Jiyeon [T-ara] as Sung Hyesang

Lee Ahreum as Jo Eunbi & Jo Eunhwa

 Forysthia

Seoul, World Cup Park,

February 25th 2014

    Seorang gadis berambut pendek berjalan dengan langkah gontai. Kakinya tak terasa lelah meski dia sudah berjalan lama. Dia duduk di bangku pinggir sungai di Nanji Hangang Park. Ditatapanya panorama sungai senja itu. Kepalanya terasa penat dan pusing, seolah minta diantarkan ke aliran sungai. Siswa Daehan Art School itu baru pulang dari kantor polisi setelah menjalani serangkaian pemeriksaan.

Dua hari lalu, empat orang siswa kelas 3 ditemukan tergeletak pingsan di halaman belakang sekolah seperti habis jatuh dari atap gedung. Sampai sekarang, mereka masih berada di rumah sakit dalam keadaan koma. Penyebab jatuh belum jelas dan kasusnya menyebar luas. Pihak sekolah sudah menyerahkan kepada kepolisian  setempat. Beberapa siswa dipanggil sebagai saksi, termasuk gadis yang memakai masih mengenakan seragam itu, teman sekelas keempat siswa tadi.

“Kwon Jinhye!”

Gadis yang pikirannya sedikit menerawang itu tersentak. Dia melihat seorang pemuda cute yang punya tahi lalat kecil di bawah mata kanannya.

 “Menunggu sunset?” tanya pemuda bernama Lee Jongsuk yang juga masih memakai seragam itu sambil duduk di samping Jinhye.

Jinhye terseyum kecil pada teman sekelasnya itu. “Kenapa kau bisa tahu aku di sini, Jongsuk-ah?”

Lee Jongsuk menatap Jinhye serius. “Aku mengikutimu.”

Jinhye terkekeh. “Kau pasti tahu sesuatu tentang mereka kan?” tanya Jinhye.

Jongsuk mengangguk. “Maja, karena itu aku mengikutimu.”

Jinhye mengernyitkan kening sementara Jongsuk tersenyum misterius. Jongsuk kemudian mengajak Jinhye pergi dan pemuda itu mengatakan dua teman mereka sedang menunggu di Haneul Park.

Forysthia

 

Jinhye dan Jongsuk kini bergabung bersama dua temannya, duduk mengelilingi meja bulat yang tersebar di sebuah kawasan rumput di taman yang terletak di atas bukit itu. Di sana pemuda tampan yang punya alis tebal dan seorang gadis berambut panjang dan tebal.

Cha!” ucap pemuda yang memakai atasan seragam tanpa jas itu sambil menaruh dua minuman kaleng di meja. Dia hanya kemeja, dasi, dan rompi.

Komawo, Howon-ah,” ucap Jongsuk dan Jinhye.

“Jinhye-ya, maukah kau bergabung untuk menyelamatkan empat senior kita?” tanya Sung Hyesang.

“Menyelamatkan mereka? Otte?” tanya Jinhye.

Jongsuk mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah buku kecil dengan sampul tebal warna merah, tampak seperti buku kuno. Pada cover-nya terdapat ukiran bunga forysthia.

Jinhye membacanya, “Truth or Dare? Apa ini buku peninggalan orang Barat dari abad kemerdekaan?” canda Jinhye sambil terkekeh.

“Ini bukan permainan Truth or Dare yang biasa,” ucap Lee Howon yang punya pembawaan kalem itu.

Jinhye habis menyesap minumannya dan menatap mereka bertiga. Tampaknya hanya dia seorang yang tidak mengerti.  Lalu Jongsuk menjelaskan bahwa Kim Myungsoo, Son Dongwoon bersama si kembar Jo, Eunhwa dan Eunbi, bermain Truth or Dare setelah menemukan buku itu di gudang asrama. Ada sembilan tantangan yang harus diselesaikan dan mereka baru menyelesaikan lima. Selama permainan, Dongwoon memasang alat perekam suara di sakunya. Hasil rekaman langsung terkirim pada Jongsuk, yang cukup akrab dengan Dongwoon karena mereka roommate.  

Myungsoo memilih dare dan dia membuka lembar pertama buku itu. Di sana ditulis : melemparkan empat kursi ke rumput tapi jangan sampai tertangkap petugas taman.

“Itu terjadi di sini,” jelas Jongsuk.

Forysthia

 

February, 23nd 2014, 06.00

Sunset sudah berlalu dan beberapa orang tampak masih betah duduk mengelilingi meja di sebuah area Haneul park. Empat remaja duduk melingkari salah satu meja itu. Son Dongwoon, pemuda jangkung yang mirip orang Turki, menyesap latte-nya cepat. Si kembar yang bisa dibedakan dari model rambut tampak saling pandang. Myungsoo, si tampan berwajah dingin yang punya mata bersinar itu memberikan tatapan teduh pada gadis yang punya rambut lurus sebahu.

Jo Eunhwa kalah dari permainan batu, kertas, gunting, dan dia harus memilih tantangan. Eunhwa memilih Truth. Lembar kedua buku itu menyuruhnya mengatakan nama siswa yang paling dibenci di kelas.

Eunhwa mengehela napas dan melirik saudara kembarnya. “Eunbi,” jawabnya.

Gadis yang serupa dengan Eunhwa tapi punya rambut panjang berwarna cokelat terang itu terbelalak. “Mwora? Naega wae?”

Eunhwa memalingkan wajah dan memilih melirik Myungsoo sejenak. Karena tatapan tajam namja itu malah terasa mendamaikannya.

“Aku hanya berusaha jujur, Eunbi-ya. Aku pikir ini tidak perlu diperpanjang.”

Eunbi yang sedikit sensitif itu malah menggebrak meja. “Dari 29 siswa di kelas kita, kau paling membenciku?”

Eunhwa menatapnya malas. “Geumanhae. Tapi kalau kau penasaran, di antara 29 teman sekelas kita, tak ada yang membuatku kesal setiap hari selain dirimu.”

Wae? Aku pikir kau adalah orang yang paling memahamiku, ternyata selama ini kau tak pernah tulus padaku,” Eunbi memberondong Eunhwa karena tak mengerti alasan saudaranya itu.

Dongwoon menyentuh bahu Eunbi dan membuat gadis itu menoleh. Tatapan dan sentuhan Dongwoon seolah memberi mendinginkan bara api di dalam kepala Eunbi. Gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk mendesak Eunhwa lebih jauh. Dia hanya mendelik pada kembarannya.

“Kita lanjutkan,” ucap Myungsoo.

Dongwoon memilih dare. Lembar ketiga buku itu menyuruhnya berjalan dengan kaki telanjang sampai depan gerbang sekolah.

Maldo andwae!” Dongwoon frustasi mengingat jarak antara taman dan sekolah tidak begitu dekat.

Myungsoo menepuk bahunya sambil mengangguk. “Hwaiting.”

Keempat remaja itu beranjak dan Dongwoon melepas sneakers-nya. Lalu Myungsoo memasukannya ke dalam kantong plastik. Dongwoon memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket putih yang dia kenakan lalu mulai melangkah diikuti ketiga temannya.

Begitu sampai di blue bridge, Eunbi berjalan di samping namja cool itu. “Dongwoon-ah, apa kau pernah membenci Dongha tanpa alasan?” tanya Eunbi menyebut nama adik Dongwoon. Gadis itu melirik tajam ke belakang.

Aniyo. Aku sering kesal pada adikku ketika dia bersikap manja,” jawab Dongwoon.

Eunhwa yang berjalan bersama Myungsoo di belakang mereka malah terkekeh, membuat Eunbi mendelik.

“Sepertinya itu bukan kesal,” ucap Eunbi sambil menatap wajah Dongwoon. “Mungkin kau iri ketika adikmu mendapat perhatian lebih dari orangtuamu.”

Nappeunom!” ucap Eunhwa kesal.

Tapi dia merasakan tangan Myungsoo menaruh satu earphone di telinga kanannya. Eunhwa mendengarkan sebuah lagu ballad melalui earphone yang terhubung ke smartphone Myungsoo. Gadis itu menatap Myungsoo.

Pemuda itu tersenyum tipis. “Jangan dengarkan lagi.”

Eunhwa menatap lurus ke depan dan Eunbi sedang tersenyum sinis padanya. Gadis itu merasa tangan kanannya digenggam Myungsoo dan dia kembali menoleh pada namja itu.

Myungsoo tersenyum lebar, membuat dimple di pipi kanannya tampak jelas. “Let’s walk slowly,” ucapnya berusaha membuat Eunhwa lunak.

Sikap Myungsoo seperti itu perasaan kesal Eunhwa perlahan sirna. Gadis itu mengangguk dan mengikuti irama langkah kaki Myungsoo sehingga mereka menjaga jarak dari Eunbi dan Dongwoon. Eunbi mencibir melihat saudaranya berbagi earphone dan berpegangan tangan dengan Myungsoo

Komawo,” ucap Eunhwa pelan.

“Kau suka lagunya?” dilihatnya Eunhwa mengangguk. “Ini lagu ciptaanku sendiri.”

 “Jinja? Nanti saat ujian kelulusan, kau bisa membuat album kompilasi lagu ciptaan sendiri.”

Myungsoo terkekeh, “Itu berlebihan. Aku belum sebagus itu.”

Berjalan bersama Myungsoo melewati blue bridge sambil mendengarkan lagu ciptaan lelaki itu, seperti kencan di awal musim semi bagi Eunhwa.

 

Naeka deo noryeokhae bolke naeka deo jalhae bolke

Niga keonnen heuimang jeoldaero nohji aneulke

Hamkke geureottdeon haneul

Kati keoleokal saesang

Naega chata olke jokeumman jikyeojulrae

This song for you

[I will work even harder I will show you I’ll do even better

The hope that you gave me, I will never let it down

Drawn together with the sky

Walking this world together

I will find it, please watch over me for a while

This song for you]

{Kim Myungsoo– Song For You}

 

 “Tidak dingin, Dongwoon-ah?” tanya Eunbi sambil menatap kaki telanjang Dongwoon.

“Kalau kau terus mengajakku berbicara, aku tak akan merasa dingin atau lelah,” canda si blesteran itu.

Eunbi meninju pelan lengannya. “Aku tak mudah dirayu. Keundae, kau bilang aku cerewet?”

Forysthia

Keempat remaja itu beristirahat di sebuah kedai ramyeon untuk makan malam. Lalu mereka melanjutkan game di taman sekolah yang sepi. Dongwoon mendapat giliran lagi dan memilih Truth. Halaman keempat buku itu menyuruhnya mengatakan apa yang paling dia benci dari sekolahnya. Dongwoon menjawab tidak ada.

Jinjayo?” tanya Myungsoo heran.

Dongwoon mengangguk mantap meski hatinya ragu. Tiba-tiba terdengar suara anjing menyalak, terasa begitu dekat. Keempat remaja itu terkejut melihat empat ekor anjing muncul dan berlari ke arah mereka.

Eo… Eommoni!” jerit Eunbi ketakutan sambil meremas lengan  Dongwoon.

“Lari!” teriak Myungsoo spontan diikuti Eunhwa.

Dongwoon menarik lengan Eunbi dan berlari bersama. Myungsoo berlari mendekati sebuah gedung kelas. Mereka terus berlari tanpa menoleh ke belakang karena anjing-anjing itu menggonggong tanpa henti. Kini mereka menaiki tangga dan Myungsoo berhenti di ujung tangga teratas sambil memegang pintu jeruji besi.

Palli!” teriaknya.

Ketiga temannya sampai dan Myungsoo langsung menutup jalan masuk dengan jeruji itu. Dongwoon membantunya mengaitkan gembok. Anjing-anjing kotor dan menyeramkan itu mendekat dan mereka mendorong-dorong jeruji. Eunhwa dan  Eunbi menjerit.

“Kita pergi ke atap,” ucap Dongwoon disambut anggukan Myungsoo.

Forysthia

 

Gwaenchana?” tanya Dongwoon cemas melihat Eunbi duduk menjatuhkan diri begitu tiba di atap.

Eunbi mengangguk dan tak sanggup berkata apapaun. Eunhwa duduk dan bersandar pada tembok atap, napasnya memburu dan detak jantungnya terasa menghentak. Myungsoo menyeret pot bunga, bangku, dan benda lain yang kira-kira bisa membuat pintu tak mudah didobrak.

Buku kecil itu terjatuh dari tangan Dongwoon, tepat di depan Eunhwa. Gadis itu menendangnya. Kemudian angin kencang berhembus dan membuat keempatnya merinding.

Neo!” Eunbi menunjuk wajah Eunhwa. “Apa kau mau dicekik dementor seandainya buku itu rusak?”

“Aku lebih senang mengayun pedang Gryffindor untuk menyincang si Kudo.  Lalu akan kupanggangkan untukmu,” tanggap Eunhwa diakhiri seringai dingin.

Eunbi melotot jijik membayangkan ular yang ada di dalam sebuah kotak kaca transparan di meja scurity asrama. Tiga hari lalu, beberapa siswa yang dihukum membersihkan saluran pembuangan, menemukan seekor ular gemuk warna cokelat gelap. Seorang security asrama membawanya dan para siswa menaminya si Kudo.

“Sepertinya kita harus melanjutkan permainan,” ucap Dongwoon sambil duduk lesu di antara si kembar.

 “Ne,” ucap Myungsoo yang duduk di depan Dongwoon.

Eunbi kalah permainan memilih Dare. Di halaman kelima buku itu tertulis : Pukul orang yang membuatmu marah hari ini sebanyak tiga kali.

Eunbi menatap Eunhwa yang duduk di hadapannya dengan kaki terjulur. “Mind letting me to slap your cheek, Twiny?”

Eunhwa menelan ludah dan membuang napas kesal. Dia duduk lebih dekat dengan kaki bersila dan menatap Eunbi.

Plak!

Dongwoon dan Myungsoo melotot. Mulut Eunhwa menganga merasakan pipinya begitu panas. Pukulan Eunbi terlalu keras .

Forysthia

 img1393218378180

Haneul Park, February 25th 2014, 04.12

“Aku mendengar mereka menjerit ketakutan dan berteriak minta tolong,” ucap Jongsuk. “Sampai terdengar jeritan panjang dan rekaman berakhir setelah terdengar suara benda-benda bertabrakan.”

Jinhye merasa ngeri mendengarnya, dia pun menyeruput iced caramel latte-nya. Howon menjelaskan bahwa itu buku kutukan. Kalau tidak jujur atau menyelesaikan tantangan, para pemain akan menerima hukuman.

“Awalnya aku tak mau percaya. Tapi apa yang dialami Yoseob membuatku takut,” ungkap Hyesang. “Mereka tidak akan bangun sebelum ada yang melanjutkan game,” lanjut gadis bermata tajam itu.

“Dari mana kalian tahu?” tanya Jinhye sambil menatap mata tiga temannya itu.

“Buku itu,” jawab Howon. “Semua lembarannya kosong sebelum kita memilih tantangan. Tantangan kita akan muncul di halaman sesuai nomor tantangan. Setelah selesai, ada tanda silang di halaman itu. Kini buku itu mengatakan hal yang sama di kelima halaman pertamanya.”

Jinhye meraih buku dan menemukan tulisan yang Howon maksud. ‘Kalau tidak ada yang melanjutkan permainan, selamanya keempat orang itu tak akan bangun.”

“Kamu sudah memegang dan membacanya. Kamu harus ikut,” ucap Hyesang. “Kalau tidak, kamu akan mengalami kejadian buruk seperti Yoseob.”

Tiupan angin terasa membelai tengkuk Jinhye dan membuat gadis itu merinding. “Jin..jinja?”

Ye,” jawab Jongsuk. “Yang Yoseob membacanya kemarin siang tapi dia menolak bergabung. Rumahnya mengalami kebakaran tadi malam.”

Forysthia

 

Setelah berbincang agak lama, akhirnya Jinhye setuju dan mereka memulai game dengan permainan batu-kertas-gunting.

Babak pertama, Hyesang kalah. Dia memberanikan diri memilih Dare. Howon membuka halaman enam buku itu.

“Berjalan mundur sampai blue bridge.”

Hyesang menghela nafas. Ketiga temannya memberi semangat. Gadis itu pun berdiri dan mulai berjalan mundur.

 Ketiga temannya berjalan bersama Hyesang tapi tidak mundur. Mereka menuju menyusuri jalan setapak sampai tiba di ujung bukit di mana 291 tangga berderet rapi dengan design zigzag sampai ke bawah. Hyesang tak peduli saat orang-orang membicarakan kelakuannya.

Howon mengulurkan tangan kanannya saat gadis itu mulai menuruni tangga.

Mwo?” tanya gadis itu sambil menatap Howon heran.

Howon berdehem pelan dan tetap mengulurkan tangannya. “Berpeganganlah. Kalau kau jatuh, misimu gagal dan aku takut kita semua mengalami hal buruk.”

Hyesang meringis. Tangan kirinya pun meraih tangan kanan Howon dan mereka berjalan berhadapan, Hyesang dengan langkah mundur dan Howon maju.

“Wooh, benar-benar romantis,” pekik Jinhye. Kemudian dia merasakan jitakan di kepala bagian kiri. “Hya, Lee Jongsuk!”

Jongsuk berdecak. “Tidak usah iri seperti itu. Kau bisa menggenggam tanganku kalau kau mau,” ucap namja jangkung itu sambil memamerkan senyuman manisnya.

Jinhye melotot. “In your dream.”

Mereka bersorak gembira begitu menginjak anak tangga pertama dan tinggal beberapa langkah untuk sampai ke blue bridge, jembatan yang punya penyangga biru melengkung seperti busur panah.

Tawa mereka pecah saat menyelesaikan misi. Angin awal musim semi yang dingin meniup rambut mereka dan menggoyangkan kincir-kencir kecil yang berjajar di pinggi jembatan. Mereka pun mencari tempat untuk istirahat. Sebuah ice cream shop di sekitar kompleks World Cup park dijadikan pilihan. Mereka pun melanjutkan permainan batu, kertas, gunting.

Howon kalah dan memilih Dare. Dia membuka halaman ketujuh dan membacakan isinya. “Masuk ke hotel Hilton. Lalu keluar memakai jubah tidur motif bunga dan sunglasses sampai kembali ke tempat ini.”

Jongsuk tertawa tapi Howon menatapnya tajam.

Forysthia

 

Howon dan Jongsuk sampai di hotel Hilton yang tak jauh dari kompleks World Cup Park setelah sebelumnya membeli jubah tidur. Mereka terpaksa menyewa kamar termurah.

Begitu sampai di kamar, Howon melepas celana seragamnya dan kakinya hanya dibalut boxer. Lalu dia memakai jubah tidur motif bunga yang tentunya beraroma baju baru. Lalu cowok manly itu mengenakan sunglasses besar, membuat Jongsuk tertawa renyah.

Jongsuk memasukan celana Howon ke dalam back pack lalu mereka keluar. Orang yang mereka temui sepanjang koridor menatap Howon dan menertawakannya. Bahkan saat berada di lift, tak ada yang tidak tertawa atau menatap heran. Saat mau melewati pintu keluar, petugas security menghampiri mereka.

“Apa yang kalian lakukan, anak muda?” tanya petugas bertubuh gemuk itu.

Fashion show,” jawab Howon acuh. Security itu hanya berdecak.

Forysthia

 

Sementara Jongsuk memegang perutnya yang sakit karena tak berhenti tertawa, Howon memasang muka setebal kulit badak selama perjalanan dari hotel menuju ke ice cream shop. Lagi-lagi dia jadi sorotan publik sepanjang jalan. Orang-orang pasti meliriknya dan tertawa.

“Apa itu Lee Howon?” tanya Jinhye begitu melihat pria yang memakai jubah tidur memasuki cafe itu.

Hyesang tidak menjawab. Dia segera tertawa saat Howon dan Jongsuk mendekat.

Ib dagchyeo!” hardik Howon pada ketiga temannya.

Setelah Howon mengganti pakaian, mereka melanjutkan lagi permainan. Kali ini Jongsuk kalah. Dia berpikir beberapa saat sebelum memutuskan pilihan. Dia ingat tantangan Truth yang didapat Eunhwa, jawaban temannya itu memicu keributan.

Dare,” jawabnya lalu membuka sendiri halaman ke sembilan.

Keempatnya membaca bersama. “Menggiring bola sepanjang pinggir sungai Nanji Hangang Park dan tidak boleh lepas.”

Keempatnya saling pandang. “Dribbling?” tanya mereka bersamaan.

Setelah membeli sebuah bola football, Jongsuk memulai aksinya.

Hwaiting!” ucap Jinhye.

Forza!” ucap Howon disambut anggukan Hyesang.

nanji hangang park

Mereka sudah tiba di Nanji Hangang Park. Jongsuk mengatur nafas dan berdoa sebelum memulai tantangan berat itu. Jongsuk mulai menggiring bola di ujung barat track pinggir sungai. Dengan perasaan berdebar, dia berusaha mengontrol bola sepanjang jalan. Ketiga temannya berjalan bersama. Mereka melewati kawasan taman Nanji.

 Seperti Hyesang dan Howon, Jongsuk menghiraukan orang yang menatapnya heran dan berusaha berlari pelan sambil dribbling. Sebentar lagi mereka tiba di ujung timur track.  Jongsuk menedang pelan bola, mengejarnya, dan menedangnya lagi.

“Hampir finish!” seru Hyesang.

Jongsuk menatap lagi menara itu. Dia menendang pelan tapi tiba-tiba seekor anjing berlari, menabrak bola dan membuatnya melambung. Jongsuk tersentak.

“Bawa kembali!” teriak Howon.

Jongsuk melompat, mencoba meraih bola dengan kakinya. Bola menggelinding ke pinggir sungai. Jongsuk berusaha meraihnya dengan menjatuhkan diri dalam posisi sliding di rumput. Ujung kakinya menyentuh bola. Dia akan mencapitnya dengan kedua kaki tapi gagal. Sentuhan kakinya malah membuat bola menggelinding lebih cepat sampai tercebur ke sungai.

Jongsuk menganga menatap bola yang jatuh ke air. Jantungnya berdebar cemas. Howon, Hyesang, dan Jinhye segera menghampiri.

Mianhae,” ucap Jongsuk lemas. Matanya menyorotkan kecemasan dan sepasang alis tebalnya nyaris bertautan.

Gwaenchana,” hibur Jinhye.

Angin kencang terasa menerpa tubuh mereka. Keempatnya bisa melihat sekumpulan orang mendekat.

“Itu pencurinya!” teriak salah satu di antara mereka.

Mereka terdiam beberapa saat sampai Howon sadar mungkin ini efek dari kegagalan Jongsuk, dikejar orang dengan tuduhan mencuri.

“Lari!” ucap Howon.

Forysthia

 

Mereka berempat berlarian di sekitar taman, menghindari orang-orang yang tiba-tiba saja datang mengejar. Mereka terus berlari memasuki area Nanjicheon dan kembali mendekati pinggir sungai. Jongsuk menunjuk dermaga dan bersembunyi di dalam kapal ferry.

Forysthia

 

Keempat pelajar itu duduk di geladak kapal yang akan berlayar di sungai Han, membawa penumpang yang ingin menyaksikan sunset.

 “Ayo kita mainkan yang terakhir,” ajak Hyesang.

Semua mengangguk. Jinhye berharap dirinya kalah, agar bisa mendapat giliran membantu temannya menyelsaikan permainan ini. Harapannya pun terkabul.

Truth or Dare?” tanya Hyesang.

Jinhye menatap buku itu agak lama. “Truth.”

Hyesang membuka halaman ke sembilan buku itu. Dia ingin membacakannya untuk Jinhye.

“Sebutkan nama pria yang kau sukai!”

Matahari mulai turun di langit barat. Air sungai Han tampak gemerlap memantulkan cahaya orange dengan bauran nuansa pink. Angin menggoyangkan rambut mereka. Dan Jinhye menunduk bingung.

Gwaenchanayo?” tanya Hyesang.

Jinhye mengangguk dan tersenyum kecil. Lalu menatap ketiga temannya satu per satu. Dia melangkah lebih dekat pada Jongsuk.

“Lee Jongsuk,” ucap Jinhye sambil menatap Jongsuk.

Sepasang mata kecil Jongsuk juga menatap mata hitam Jinhye, membuat gadis itu menunduk malu. Bibir Jongsuk menarik senyum kecil. Howon dan Hyesang ikut tersenyum. Jongsuk meraih kedua tangan Jinhye, membuat gadis itu mengangkat wajah.

Gwaenhcana,” ucap Jongsuk dengan tatapan lembut dan senyuman manis.

Jinhye pun mengangguk pelan. Mereka berempat saling berangkulan, berharap permainan aneh itu benar-benar selesai.

Tapi sesuatu yang tidak diharapkan tiba-tiba terjadi. Langit berubah mendung, tertutup awan hitam pekat dan angin bertiup sangat kencang. Bahkan mengusik air sungai.

“Ayo masuk!” ajak Howon.

Para penumpang kapal berlarian dan berusaha masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba kapal berguncang.

“Kamu tidak bohong kan?” tanya Howon pada Jinhye.

Aniyo,” jawab Jinhye.

Petir menggelegar hebat seolah memecah langit. Orang-orang menjerit. Kapal meluncur cepat dan menabrak daratan. Beberapa orang terlempar ke sungai.

Hyesang jatuh diikuti Jinhye. Howon dan Jongsuk tak bisa meraih tangan mereka. Keduanya mendengar jeritan mereka di bawah sana. Jongsuk malah meloncat untuk menolong. Melihat itu, Howon tak bisa tinggal diam.

Begitu berenang di sungai dan berusaha menolong kedua teman mereka, air tiba-tiba bergelombang. Angin kencang menghebus kuat. Jongsuk berhasil meraih tangan Jinhye.

“Bertahanlah!” teriak Jongsuk.

Tapi keduanya tidak bisa melihat Hyesang dan Howon.

“Hyesang-ah! Lee Howon!” teriak Jongsuk.

Entah apa yang terjadi tapi kedua remaja itu merasakan tubuh mereka terseret air, terbawa arus. Mereka tetap berpegangan tangan sampai tak sadar apa yang terjadi.

Forysthia

 

Jung-an University Hospital, 08.10 PM

  “Jinhye-ya! Kwon Jinhye!”

  Jinhye tersentak dan membuka mata. Dia mengatur napas dan perlahan sadar sedang berada di mana.

Gwaenchanayo, Jinhye-ya?”

Jinhye menoleh ke samping kirnya, melihat seorang wanita yang sangat dia kenal. “Eomma?”

Perempuan itu meraih tangan anak sulungnya.

Jinhye ingat tiga temannya. “Eomma, bagaimana dengan Hyesang, Jongsuk, dan Howon?”

Wanita berumur 40 itu tersenyum lembut. “Mereka baik-baik saja. Hyesang dan Howon hanya menerima perawatan ringan dan Jongsuk dirawat di kamar sebelah. Tadi kemari sebentar menengokmu.”

“Jinhye-ya!”

Jinhye melihat pada seseorang yang baru datang. “Sung Hyesang?”

Hyesang menghampiri ranjang Jinhye. Gadis itu bangun dibantu oleh ibunya. Tak lama kemudian, Howon dan Jongsuk menyusul masuk. Ibu Jinhye pun keluar meninggalkan mereka.

“Apa yang terjadi?” tanya Jinhye.

          “Kamu tidak ingat?” tanya Hyesang bingung.

          Jinhye menggeleng pelan.

          “Kita membantu Yoseob memadamkan api di rumahnya,” jawab Jongsuk.

          Jinhye berusaha mengingat. Dia pun tersenyum. “Oh ya. Kita mau menengok adik Yoseob tapi terjadi kebakaran di rumahnya.”

          Hyesang mengangguk. “Kau terjebak saat mau menyelamatkan kucing Yoseob. Kau pingsan dan Jongsuk mengeluarkanmu dari ruangan itu.”

          “Dia juga pingsan beberapa saat setelah berhasil membawanmu keluar, karena kehabiskan udara,” jelas Howon.

          Jinhye menatap Jongsuk dengan haru. “Gomawo.”

          Tak lama kemudian, empat orang remaja masuk ke ruangan itu, Dongwoon, Eunbi, Eunhwa, dan Myungsoo. Keempatnya membawa parsel buah dan cake. Mereka mendengar cerita Jinhye dan yang lain selama membantu Yoseob.

          “Tapi kenapa sepertinya kau tidak mengingat apa yang terjadi?” tanya Eunbi.

          Jinhye nyengir. “Karena aku habis bermimpi buruk. Tenggelam bersama mereka bertiga di sungai Han.”

          “Aku juga mimpi buruk waktu tidur siang,” cerita Eunbi.

          “Mwo?” tanya semua.

          Eunbi melirik saudara kembarnya. “Aku bermimpi Eunhwa mengatakan aku adalah orang yang paling dia benci. Aku memukulnya lalu kami bertengkar sampai jatuh dari atap gedung asrama.”

          Beberapa di antara mereka terkekeh geli, termasuk Eunhwa. Eunhwa menepuk bahu Eunbi.

          “Kalau benar begitu, apa kau mau memukulku sekarang?” candanya.

          Eunbi mendengus kencang. “Jadi benar kau membenciku?”

          Eunhwa tersenyum tipis. “Hmm…begini. Setiap kita menjalin hubungan dengan orang lain baik itu teman, keluarga, kekasih, atasan-bawahan, guru dan murid, tidak selamanya kita terus merasa senang. Sesekali kita bisa merasa kesal karena kita semua tidak sempurna. Walau kadang-kadang kau membuatku kesal, tapi tak berarti aku membencimu.”

          “Geurae,” timpal Dongwoon dengan suara besarnya yang lembut. “Aku dan Dongha juga sering bertengkar sejak kecil tapi aku sangat menyayanginya.”

          “Kalian ingin tahu mimpiku?” celetuk Myungsoo membuat semua orang menatapnya.

          “Mwo?” Hyesang menatap si usil itu curiga.

          Myungsoo berkelakar. Lalu dia menatap Jongsuk dan Jinhye dengan seksama.

          “Ehm! Aku bermimpi Jongsuk dan Jinhye berjalan sambil pegangan tangan menaiki 291 anak tangga Haneul park. Benar-benar romantis,” ucapnya diakhiri seringai jahil.

          Kontan Jinhye meraih bantal dan melemparnya ke wajah Myungsoo.

          “Kha!” teriak Jinhye.

          Myungsoo malah melempar bantal itu ke wajah Jongsuk.

          “Aissh,” umpat Jongsuk sambil melotot.

          Jongsuk bermaksud melemparnya lagi tapi Eunhwa merebutnya. Dia memukuli Myungsoo dengan bantal itu.

          “Trouble maker! Kau harus dihajar agar lemparan bantal ini tidak berantai!” umpat Eunhwa tapi Myungsoo hanya tertawa sambil bersembunyi di belakang Eunbi.

          Dongwoon menyenggol pinggang Howon sambil memberi isyarat untuk melirik Jongsuk. Keduanya melihat Jongsuk tersenyum dan menatap lembut Jinhye yang sedang menertawakan Myungsoo.

          “Geumanhae, aku ada cerita penting,” ucap Howon yang tiba-tiba teringat sesuatu. Dia tersenyum lebar sebelum memulai. “Aku dengar si Kudo kembali dilepaskan ke saluran pembuangan. Protes kita didengar kepala asrama.”

          “Hore!” jerit Hyesang sementara si kembar meloncat senang.

          Jinhye dan Jongsuk refleks melakukan high five. Sejak sepekan nangkring di dalam box kaca di ruang scurity yang bisa setiap hari dilihat siapapun yang masuk ke gedung asrama, beberapa siswa melayangkan protes.

          Ada orang lain berdiri di ruangan itu tapi mereka tak bisa melihatnya. Dia seorang perempuan berambut pirang lurus dan bermata biru terang. Kulitnya putih bercahaya. Perempuan itu memakai gaun broken white panjang. Dia tersenyum.

          “Terima kasih sudah membebaskanku dari penjara buku itu,” ucapnya lalu pergi.

          Dia adalah dewi penjaga lembah forsythia, lembah yang tak dapat dilihat manusia. Dia disihir oleh pemimpin orcs bernama Kudo yang ingin menguasai lembah itu.

          Tanpa para siswa itu sadari juga, sebuah vas berisi bunga forsythia berdiri manis di meja samping ranjang.

forysthia 

THE END

Advertisements

13 thoughts on “Forsythia

  1. Onnie-ya, setuju sama Wina, kenapa harus Kudo nama ularnya dan yang mengutuk Dewi Penjaga Lembah Forsythia? Kudo terlalu bagus hehehehehehe

    Ini beneran kayak lagi masuk ke dalam permainan Jumanji sama Zatura gitu Onnie, seru. Dan mereka ngga sadar ya kalau abis main permainan dari buku itu hehehehe

    Seru Onnie ^^

  2. Haloo lohaa :3

    Numpang baca ya 🙂 dapat rekomend dari ‘hyung’ wulan kkkk.

    Sukaaa.. Ini emg agak mirip jumanji/zatura gamenya. Cuma eksekusinya beda, dan cukup bagus ^^
    Padahal aku ga kenal castnya looh 😀

    Cara pemceritaannya simpel, interaksi tiap tokohnya keren. Berasa banged seru dan tegangnya. Jd kesimpulannya setelah permainan mereka ga ingat sama sekali sama bukunya? Hanya ingat dari sepenggal(?) mimpi.

    Oh iya tdi ada dikit typo, kata jd kaja(kalo ga salah) trus tumpang tindih kalimat yg sama : memakai masih mengenakan seragam itu, seolah memberi mendinginkan.

    terlepas dari itu aku suka. Good 😉

    1. Annyeong 🙂
      Welcome to this blog, enjoy reading here

      Kamsahamnida buat kritikannya. I’m totally bad bout that. I’m so sorry

      Wah film2 itu sangat bagus n ini hanya tulisan kecil
      kamsahamnida

  3. Chel, setelah saya membaca ini, tiba2 saya ingat Jumanji. Memang kategori film anak tapi kenapa saya berdebar menontonnya. Ini kategori horor atau adventure ya? Bagus pakai banget. Kalau A walk bisa ditulis ulang knp ngak coba nulis HP?

    1. Annyeong, Eonni.
      Wah jangajn dibandingkan sama Jumanji, terlalu bagus.
      Ini thriller-nya dikit koq. Jumanji kan tiap game wah banget keteganganya.
      Harpot? Aigoo, it’s very hard 😉
      by the way, baru nyadar ya ane banyak pengaruh barat 😀
      Kamsahamnida

  4. Wadaw, berasa main Jumanji jadinya. Hha
    Ahh, jadi semua ini karena dikutuk Kudo? OMG! Kudo bisa mengutuk? Apa dia nenek sihir? Tidak, tidak, dia tidak punya kekuatan, ia hanya pintar bermain kata. Kenapa harus Kudo? Jadi ingat Shinichi, dan Kudo asli adalah seorang yang memecahkan masalah, bukan pencari masalah.
    Jongsuk! Harusnya jangan berkata ‘gwenchana’ saat Jinhye menjawab tantangan, tapi jawab ‘nado saranghae’ lol

    1. nah itu Kudo, perasaan ada juga yg protes sama Gee kenapa Kudo, inget sinichi. Tapi mungkin dia mikir lagi cuma nyamain nama 😀

      iya berasa Jumanji. Klo jumanji setiap babak, ada konsekuensi. Ini kalo misi gagal 😀

      Jongsuk tipe cwok yang menunjukan dengan tindakan 😉
      kalo versi bule-nya lebih romance sih

      kamsahamnisa

  5. Itu bahaya ga kalo si kudo dilepas lagi? Astaga ane takut dia gigit manusia -,- apa ada orcs dan ketua orcs itu bernama sama kaya si ular kudo wkwkwkwk

    Jd mereka jatuh dr gedung krn bertengkar? Ane kira krn msh dikejar sm anjing2 ganas itu un. Oia un ada beberapa kalimat rancu kaya ketuker penempatannya gitu.

    1. kekekeke
      tadinya mau siluman tapi inget film yg kita obrolkan kemarin jadinya Orc 😀
      tadi kelewat edit kayanya 😦

      si kudo kalo dilepasin bisa gigit 😀
      iya abia bertengkar, ada sesuatu gitu yg bkin mereka jatuh. Tapi ga digambarkan di sini
      kamsahamnida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s