A Walk to Remember : Like a Wind

A Walk to Remember

[Chapter 2]

From Nicholas Sparks’s Novel and A Walk to Remember the movie

AWTR1

Love is like a wind,

You can’t see it, but you can feel it

By :

Chelsea

Drama, RomancePG15Two Shoots

 Starring :

Bae Sooji[Miss A]

 [INFINITE]

Kim Myungsoo

Kim Sunggyu LeeSungyeol Nam Woohyun

Jang DongwooLeeHowon Lee Sungjong

Choi Jinri [FX] Yoo Ara [Hello Venus]

 

Music : A Walk to Remember original soundtrack

Click here --> [Chapter 1]

A Walk to Remember  

Sepekan ini Sooji sering mendapat teror. Dia menerima cacian dan hinaan dengan kata-kata kasar melalui pesan singkat, e-mail, akun-akun media sosial, telepon. Dia juga pernah menerima kardus berisi ayam mati berlumuran darah di lockernya dan sekantong darah esok harinya.

Saat sedang berjalan di sekitar sekolah, dia sering mendapat lemparan gulungan kertas. Tapi dia tak melihat siapa yang melemparnya. Sooji sangat ketakutan tapi tak tahu harus bagaimana.

Saat jam istirahat siang ini, Sooji merasa aneh dengan gelagat semua orang yang tersenyum geli melihat dirinya. Lalu Jinri datang.

Annyeong Bae Sooji!” sapa Choi Jinri yang tampak menunggu Sooji lewat di tangga. “Ayo kita makan siang bersama! Aku sedang tak ada teman,”  kata Jinri ramah sambil menarik tangan Sooji.

“Baiklah,” respon Sooji pada gadis berwajah lugu itu.

Kedua gadis itu pun berjalan bersama sampai masuk kantin. Sooji makin merasa aneh melihat semua orang tersenyum geli.

“Si bintang seksi kita telah datang,” teriak Dongwoo dan Woohyun bersamaan.

Sungjong memberikan selembar kertas pada Jinri. Sooji dan Jinri sama-sama melihat semua orang memegang kertas yang serupa.

Dengan pura-pura terkejut sambil memasang tampang innocent-nya, Jinri berkata, “Aigo! Sooji-ya, pasti ini bukan dirimu.”

Lalu ia memperlihatkan selembar kertas pada Sooji berisi foto  Sooji dengan bikini super minim bertuliskan ‘Un-virgin Sweet Sooji. Foto editan yang tampak seperti asli

Sooji terkejut, tiba-tiba semua orang tertawa keras. Nafasnya terasa mulai sesak melihat tatapan melecehkan yang dia terima dari semua orang. Mereka melemparinya dengan popcorn, milkshake, air mineral, kacang-kacangan, chips, dan lain-lain sambil tertawa terbahak-bahak dan memakinya. Ia makin merasa sesak dan pusing. Wajahnya pun berubah pucat.

Sooji segera membalikan badan untuk lari tapi dia menabrak seseorang di belakangnya. Kepalanya tepat menabrak dada Myungsoo, yang sudah berdiri di belakangnya. Myungsoo mengelus kepala gadis itu dan Sooji menengadah. Kedua bola matanya membening, membuat Myungsoo geram.

“Tenanglah! Ini urusanku,” ucap Myungsoo lembut lalu melangkah mendekati meja di mana The Chaser duduk.

“Myungsoo-ya, lihatlah!” kata Nam Woohyun sambil memperlihatkan foto, “Seksi, bukan?”

Myungsoo tersenyum masam lalu melihat Woohyun dengan tatapan membunuh. Kilatan di matanya tampak menakutkan sementara Woohyun terkekeh tanpa dosa.

Buk!

Hya Kim Myungsoo!” teriak Lee Howon terkejut.

Tanpa berkata apapaun, baru saja Myungsoo meninju wajah Woohyun dan membuat suasana kantin hening. Sunggyu berdiri karena terkejut sementara Sungjong memuntahkan tteok yang baru dia suapkan.

Woohyun merasakan nyeri di rahang kanannya. Dia berdiri tegak dan menatap Myungsoo benci.

Sekia!” umpatnya lalu melayangkan tinju ke perut Myungsoo.

Mereka berdua saling pukul dan tendang. Suasana kantin mendadak gaduh. Beberapa siswa lari keluar sementara yang lain menyaksikan perkelahian itu, bahkan ada yang iseng merekam melalui ponsel.

Geumanhae!” teriak Sunggyu.

Lima member The Chaser berusaha memisahkan mereka. Sunggyu dan Sungyeol menahan Myungsoo sementara Woohyun ditahan oleh Dongwoo dan Howon.

“Kita bukan teman lagi,” teriak Woohyun.

“Lagi pula aku tak butuh teman kurang ajar sepertimu,” umpat   Myungsoo sambil mengibaskan lengan Sungyeol dan Sunggyu.

Myungsoo membalikan tubuh dan melangkah pergi sambil menarik tangan Sooji. Sementara itu, Choi Jinri berdiri dengan tatapan kosong sambill merasakan sekujur tubuhnya panas.

A Walk to Remember  

 daejeoncheon

 Dari hari ke hari, Sooji dan Myungsoo semakin dekat. Setiap hari mereka berangkat dan pulang sekolah bersama. Mereka juga sering menghabiskan waktu untuk belajar atau sekedar menyanyi diiringi petikan gitar. Myungsoo sudah jarang bermain-main yang tak berguna, berhura-hura dan tidak lagi nakal seperti dulu. Sejak perkelahian dengan Woohyun, dia tak pernah berkumpul dengan The Chaser meski beberapa di antara mereka tetap menghubunginya. Bahkan dia menolak bergabung untuk mengikuti festival band.

 Ia lebih banyak belajar untuk mempersiapkan kelulusan demi mencapai cita-citanya menjadi dokter seperti ayahnya. Mereka sama-sama menyukai tentang astronomi dan sering mengamati langit dengan teleskop kuno di sebuah bukit dekat sungai Geum atau di daerah danau Daecheongho.

Malam ini sepulang les tambahan, keduanya mengunjungi  Daejeoncheon, salah satu dari tiga sungai di kota metropolis Daejeon yang  mengalir ke sungai Geum itu cukup ramai dikunjungi orang. Mereka berjalan bersama, berbaur dengan pengunjung lain.

Myungsoo mengajak Sooji duduk di atas batu tepat menghadap air mancur yang memantulkan warna cahaya lampu. Banyak orang duduk di bebatuan yang tampak alami itu membentang sepanjang pinggiran sungai.

“Semua orang punya impian. Kau ingin tahu impianku?” tanya Myungsoo disambut anggukan Sooji. “Ketiga, kembali ke masa lalu. Kedua, aku ingin bisa dansa dengan seseorang yang spesial. Pertama, aku ingin menjadi seorang dokter yang sukses. Neo?”

Sooji menatap percikan air mancur. “Ketiga, aku ingin punya tato. Kedua, ingin berdiri di dua tempat berbeda pada saat bersamaaan,” kata Sooji.

“Yang pertama?” tanya Myungsoo.

Sooji tersenyum, “Lain kali aku jawab.”

Aissh!” umpat Myungsoo.

 ∞ A Walk to Remember  

Myungsoo tampak semakin tampan dengan balutan formal suit nuansa hitam dengan kemeja biru muda. Dia tersenyum kagum menatap Sooji yang duduk di hadapannya dibatasi meja makan. Sooji tampak cantik dan manis dengan balutan mini dress putih. Aksen kerah berenda mempermanis gaun itu. Keduanya sedang menikmati kencan makan malam di sebuah restoran dengan suasana romantis setelah usaha keras Myungsoo untuk mendapat izin dari ayah Sooji.

Setelah menikmati dessert, Myungsoo menaruh sebuah kotak dengan hiasan pita di depan Sooji.

“Apa ini?” tanya Sooji.

“Buka saja,” jawab Myungsoo.

Sooji membuka kotak berwarna ungu muda itu dan melihat sebuah trench coat.

winter-Coat-Wholesale-Korean-Style-Rabbit-Fur-White-Coat.jpg

“Berhentilah memakai sweater lusuh itu. Ini akan lebih hangat untuk musim dingin nanti,” ucap Myungsoo.

Sooji tersenyum lebar. “Gomawo.”

Sooji teringat salah satu impian Myungsoo. Dia pun mengajak Myungsoo berdansa. Tapi Myungsoo menolak karena merasa tidak bisa dansa. Sooji memohon dan terus memaksa. Akhirnya Myungsoo menerima ajakan itu.

Diiringin iringan musik live, mereka berjalan ke lantai dansa, bergabung dengan beberapa pengunjung resto lain. Gerakan Myungsoo cukup kaku dan itu tampak lucu bagi Sooji.

Dancing in the moonlight
Everybodys feeling warm and bright
Its such a fine and natural sight
Everybodys dancing in the moonlight

 


Myungsoo dan Sooji sudah meninggalkan restoran dan berada di dalam mobil yang diparkir di dekat sebuah taman. Myungsoo memberi Sooji tato body painting kupu-kupu yang dipasang di punggungnya. Lalu dia melajukan mobilnya kembali, mengajak Sooji ke suatu tempat. Mobil Myungsoo melaju menuju utara Daejeon, melewati kawasan danau Daecheongho. Lalu Myungsoo menghentikan mobil di pinggir jalan.

          “Ayo, kemari!” kata Myungsoo sambil menarik tangan Sooji.

Sooji tidak boleh bertanya. Lalu Myungsoo menyuruh Sooji menghadap ke arah kanan di tengah-tengah jalan.

          “Beri jarak lebar kedua kakimu, dan lihatlah papan!” kata Myungsoo.

          Sooji tertawa melihat papan “Selamat datang di Cheongju,dan papan satu lagi di kiri “Selamat datang di Daejeon.” Sooji berdiri di garis batas Cheongju-Daejeon.

          “Berada di dua tempat pada waktu yang sama,” kata Myungsoo.

          Sooji tertawa dengan perasan bahagia sekaligus terharu. Dia tidak menyangka Myungsoo memberinya surprise seperti ini. Malam ini Myungsoo mewujudkan dua impiannya. Memiliki tato dan berdiri di dua tempat berbeda dalam waktu yang sama.

A Walk to Remember  

 Akhir pekan berikutnya, Myungsoo mengajak Sooji ke danau Daecheongho untuk melakukan hobi fotografinya. Begitu turun dari bus, mereka langsung memasuki kawasan danau yang terletak di antara kota Daejeon dan kota Cheongju itu. Setelah cukup lama berjalan, mereka beristirahat di dekat tepian danau dan duduk di atas tikar sambil memakan bekal yang disiapkan Sooji, kimbap, buah-buahan, dan teh.

Saranghanda, Bae Sooji,” ucap Myungsoo tiba-tiba.

Sooji tersentak dan menatap lelaki yang duduk di sampingnya itu. Dia menatap pemuda tampan yang dibalut jaket hitam dan celana jeans itu. Myungsoo tampak menatap danau dengan pandangan teduh dan membiarkan Sooji tertegun beberapa saat. Lalu Myungsoo memutar kepalanya ke kanan, menatap lembut Sooji dan memberinya senyuman hangat, menunjukan dimple pipi kanannya. Sooji melihat wajah lelaki itu secerah mentari.

Mwo?” tanya Sooji nyaris tak terdengar.

Myungsoo malah tersenyum lebar disertai tawa kecil. Dia mengacak-acak poni gadis yang mengenakan rok panjang dan lebar dengan motif bunga dan trench coat pemberian Myungsoo.

I think I love you,” ucap Myungsoo.

 Sooji juga mengatakan perasaannya pada pemuda itu dan mengatakan impian pertamanya untuk menikah di gereja. Myungsoo senang mendengarnya. Ditatapnya Sooji diraihnya kedua tangan gadis itu.

          “Mungkin kau tak bisa melihat seberapa besar cintaku. Cause love is like a wind, we can’t see it. But we can feel it,” kata Sooji.

         “I can feel your love like I feel this wind,” kata Myungsoo sambil menghirup udara. “Kau membuatku kembali ke masa lalu, pada diriku yang sudah lama hilang,” lanjut Myungsoo. “Gomawo.”

          Sooji tersenyum lembut. Myungsoo mendekatkan wajahnya sambil memejamkan mata. Sooji juga ikut memejamkan mata begitu merasakan hembusan napas Myungsoo di wajahnya. Bibir mereka pun bersentuhan dalam sebuah ciuman lembut.

A Walk to Remember 

 

          “Kau tak bisa seperti itu Sooji,“ kata ayah Sooji.

          Sooji menjelaskan tentang kesungguhan Myungsoo dan Sooji juga memiliki perasaan sama.

          “Tapi ia tidak tahu keadaaanmu yang sebenarnya,” kata ayahnya lagi. Sooji menunduk, raut wajahnya berubah layu. “Katakan padanya sebelum terlambat!” lanjut ayahnya.

A Walk to Remember  

 

          Sooji dan Myungsoo pulang sekolah bersama. Mereka memang selalu besama, di perpustakaan, di kantin, di taman. Sooji merasa belum sebahagia ini sebelumnya. Begitu juga dengan Myungsoo yang telah benar-benar berubah.

          Sore ini saat pulang sekolah, mereka ketinggalan bus. Keduanya  pun berjalan kaki sambil menunggu bus berikutnya. Myungsoo pura-pura mengeluh menyalahkan Sooji yang mengajaknya bermain gitar sambil bernyanyi di ruang musik.

          “Karena itu kita terkambat,” ucap Myungsoo ketus.

          Sooji terkekeh. “Aku hanya merasa jenuh dengan padatnya jadwal Senin ini.”

          Myungsoo berlari kecil dan mengambil posisi di depan Sooji sambil berjalan mundur.

“Bae Sooji, saranghae,” goda Myungsoo sambil membentuk hati dengan kedua tangannya di atas kepala lalu melakukan gerakan seperti melemparkan hati pada Sooji, gerakan khas Woohyun yang sering dia lakukan untuk fans The Chaser yang cukup banyak di sekolah mereka.

          Sooji mencibirnya tapi dia juga tersenyum bahagia mendengarnya. Myungsoo pun meraih tangan kanannya dan menggengamnya sambil berjalan bersama. Sooji menatap tangan mungilnya dan tangan Myungsoo bersatu dalam genggaman hangat yang mengayun sesuai irama langkah kaki mereka.

          Angin musim gugur menyapa kulit wajah mereka yang berjalan melewati pohon-pohon yang dedaunnya tampak memerah.

Sooji tertunduk dan tatapannya berubah sendu, ia menggelengkan kapala. Perasaannya bekecamuk. Dia benar-benar tak mau menyakiti Myungsoo. Tapi dia juga tak mau menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dari namja yang dicintainya.

“Jangan mencintaiku, Myungsoo-ya,” ucap Sooji parau.

          Myungsoo mengikik, “Jangan bercanda seperti itu.”

          Keduanya berhenti melangkah dan berhadapan dengan tangan yang masih saling menggenggam erat. Angin berhembus lembut membelai wajah mereka.

Myungsoo menangkap tatapan duka dari kedua mata kekasihnya.

“Aku sudah memperingatkanmu. Mianhae, karena aku tak mengulang peringatkanku agar kau tidak jatuh cinta padaku.”

Myungsoo malah memberi gadis itu senyuman kecil yang menawan. “Kau berani bercanda pada Kim Myungsoo, hah?” tanya Myungsoo sambil mengusap lembut kepala Sooji.

Sooji malah menunduk. “Ada hal yang tak kau ketahui yang hampir aku lupakan. Alasan kenapa dulu aku melarangmu jatuh cinta padaku,” ungkap Sooji lirih.

Dia juga merasakan genangan air mata menyeruak di permukaan kedua bola mata hitamnya. Rasanya begitu berat harus memberitahu Myungsoo tentang hal itu.

          Myungsoo menatap Sooji heran. Dia melepaskan genggaman tangannya begitu saja. Dia menatap Sooji tajam dan tersenyum masam “Apa yang kau bicarakan? Kita akan terus bersama, bukan?”

          Sooji berusaha mengumpulkan tenaga untuk menjawabnya. “Aku sakit, Myungsoo-ya,” jawab Sooji kemudian sambil terisak. “Mianhae karena selama ini menyembunyikannya darimu,” lanjutnya lirih.

          Myungsoo tercengang, “Sakit? Maksudmu?”

          Sooji memberanikan diri menatap Myungsoo. “Aku sakit, leukimia. Sama seperti mendiang ibuku dan waktu hidupku tak lama.”

          Gadis manis yang punya cute bunny teeth itu memalingkan muka. Dia pun melangkah pelan karena tidak tega melihat Myungsoo.

          “Maldo andwae!” bentak Myungsoo. “Jangan bercanda denganku Bae Sooji!”

“Aku tidak bercanda,” ucap Sooji sambil menyerahkan sebuah amplop yang baru saja dia keluarkan dari tas. “Mianhae.”

Myungsoo meraihnya dan mengeluarkan selembar kertas dan saat ini Sooji melangkah mundur perlahan. Selesai mengetahui apa yang tertera di sana, Myungsoo mengangkat wajah menatapnya. Bola mata Sooji tampak membening. Mata Myungsoo pun terasa memanas, sepanas bara yang tiba-tiba menyala di dalam jantungnya. Dia menatap Sooji begitu hampa. Belum lama mereka saling menyatakan cinta, sekarang Myungsoo merasa dijatuhkan dari langit mendung keabuan yang maha luas di atas sana.

Maldo andwae,” ucapnya pelan. “Sooji-ya!” teriaknya tapi Sooji malah berlari lalu menghentikan sebuah taxi.

          “Sooji-ya!” panggil pemuda itu sambil berlari.

          Dia berhasil mendekati taksi dan menggedor jendela. Sooji meminta supir segera melaju. Pandangan mereka bertemu sejenak dan Sooji melihat buliran bening menetesi pipi Myungsoo. Gadis itu terus menatap Myungsoo saat taksi mulai menjauh.

          Sooji tak kuasa menahan ledakan tangisannya. Dia tak peduli supir taksi meliriknya heran melalui kaca spion. Dia hanya merasakan dadanya sesak dan ulu hatinya terasa perih.

 I’ll always remember

it was late afternoon

It lasted forever

But ended so soon

You were all by yourself

Staring up at a dark gray sky

I was changed

 

In places no one will find

All your feelings so deep inside (deep inside)

It was there that I realized

That forever was in your eyes

The moment I saw you cry

 ∞ A Walk to Remember  

         

 Myungsoo berusaha tidak mempercayai semua itu, ia tak mau menghadapi kenyataan. Sooji benar-benar telah merubah hidupnya. Myungsoo tak sanggup membayangkan kalau Sooji meninggalkannya.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian, Myungsoo pergi menemui ayahnya. Dia meminta bantuan pada ayahnya. Ia pikir karena ayahnya seorang dokter, Sooji bisa tertolong. Tapi ayahnya berkata tak bisa berbuat apapun. Myungsoo semakin frustasi. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia belum menemui Sooji karena tak mau mempercayai apa yang Sooji alami.

Myungsoo pulang ke rumah Sungyeol, ia tak mau sedih karena melihat Sooji. Mengingat rumah mereka sangat dekat.

 Sungyeol menyarankan Myungsoo untuk menemui Sooji, “Berilah dia dukungan dengan berada di sisinya. Ia sangat membutuhkanmu saat ini, sobat. Bahagiakan dia selagi kau bisa.”

Sungyeol meraih stik drum dari meja dan memasukannya ke dalam back pack.  Dia mengajak Myungsoo ke tempat latihan.

“The Chaser bukan apa-apa tanpa gitaris andalannya. Kembalilah. Kami membutuhkanmu.”

Myungsoo pun menyanggupinya. Terpikir olehnya, bermain musik bisa membuat perasaannya lebih tenang. The Chaser punya tempat latihan baru. Bibi Sungyeol yang seorang aktris senior, membeli sebuah studio musik dan Sungyeol bisa menggunakannya kapanpun.

Sunggyu dan kelima member lain menyambut Myungsoo. Woohyun pun meminta maaf dan menyesali perbuatannya.

“Bisakah kau bergabung untuk festival band tahun ini?” harap Woohyun. “Jebal!”

Butak halkkae!” ucap Sunggyu.

Myungsoo tersenyum tipis. “Mullon. Tapi kita juga harus mengambil pelajaran ekstra mendekati ujian akhir nanti.”

Woohyun merangkul Myungsoo, membuat Sunggyu tersenyum lega. Dongwoo dan Howon melakukan high five dan bersorak. Sungyeol menggebuk drum sambil bersorak dan si pianis Sungjong segera menyiapkan coke untuk bersulang.

A Walk to Remember  

 

Myungsoo menemui Sooji dua hari kemudian. Dia berkunjung ke rumah gadis itu setelah dua malam menginap di rumah Sungyeol dan selama itu tak datang ke sekolah. Dia memberi Sooji hadiah teleskop besar. Sooji sangat bahagia dengan keberadaan Myungsoo. Myungsoo memberinya dukungan dan membuatnya merasa lebih baik. Sooji juga membuat persaaan Myungsoo lebih baik.

“Aku akan selalu bersamamu. Kita hadapi semua ini bersama.”

Sooji terharu mendengarnya lalu ia merangkul kekasihnya.

 

Sepulang dari rumah Sooji, Myungsoo meminta ibunya untuk mengajari berdansa. Sampai ia bisa berdansa dengan sempurna, ia akan melakukannya dengan Sooji.

A Walk to Remember  

 

February 2010

Mereka mempersiapkan ujian kelulusan bersama. Anggota The Chaser yang lain pun belajar serius menjelang masa-masa akhir mereka di sekolah.

Myungsoo yang sebenarnya cukup cerdas, bisa kembali berprestasi di sekolah. Guru-guru dan kepala sekolah yang sering memberinya hukuman sekarang memberinya pujian. Ketika hasil ujian kelulusan diumumkan, bersama Sungyeol, Myungsoo masuk top five nilai ujian tertinggi Daejeon Art High School. Selain itu, grup band The Chaser memenangkan lomba band remaja tingkat nasional dan mereka mendapat tawaran kontrak dari sebuah talent agency. Karena prestasi itu, mereka mendapat kesempatan kuliah seni musik dengan beasiswa penuh. Dalam acara kelulusan, Kim Sunggyu tampil sebagai perwakilan siswa untuk membacakan pidato sambutan.

 

Keesokan setelah kelulusan, keadaan Sooji makin memburuk, ia dibawa ke rumah sakit. Myungsoo sangat takut dan dia selalu menemani Sooji. Tapi keesokan harinya Sooji boleh pulang. Ternyata ayah Myungsoo membiayai perawatan di rumah. Myungsoo menemui ayahnya. Ia pun menemuinya dan memeluk ayahnya.

Mianhamnida, Abeoji. Kamsahamnida.”

“Hanya itu yang bisa ayah lakukan,” ucap dokter Kim.

A Walk to Remember  

 

Sooji dan Myungsoo menikah sebelum masa perkuliahan dimulai. Sooji merasa menjadi wanita yang paling bahagia. Sisa hidupnya saat bersama Myungsoo adalah yang paling berarti sepanjang hidupnya. Sooji memberikan buku yang dulu ia dapat dari ibunya. Bukunya berisi tentang kumpulan pemikiran-pemikiran para ilmuan, sastrawan, dan orang-orang yang pernah berkuasa di masa lalu mulai zaman Mesir dan Yunani kuno sampai zaman revolusi industri.

A Walk to Remember  

 

Daejeon, 2014

          Sebuah mobil berhenti di jalan antara dua rumah. Rumah yang satu pernah ditempati Myungsoo dan ibunya. Myungsoo keluar dari mobil itu dan pergi ke rumah di seberangnya.

          Myungsoo menekan tombol bel lalu seorang nenek tua membuka pintu dan mempersilahkan Myungsoo masuk. Myungsoo duduk di sofa. Ia tersenyum melihat foto-foto yang dipajang tidak berubah. Lalu Bae Sonsaeng datang.

          “Oh, Myungsoo-ya. Kapan pulang dari Seoul?”

          Myungsoo berdiri. “Baru saja, Abeonim.”

          Bae Seonsaeng memeluk pemuda itu. “Ayo duduk. Bagaimana kabarmu?”

          “Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Abeonim?” jawabnya sambil duduk bersama ayah mertuanya.

          “Baik. Aku dengar kau bisa tetap kuliah sambil berkarir.“

          Myungsoo tersenyum lebar, memperlihatkan lesung di pipi kananya. “Kamsahamnida. Sekarang sudah lulus dan tinggal menunggu upacara wisuda.”

          Myungsoo tetap mengambil jurusan kedokteran seperti cita-citanya. Dan dia sanggup melewati masa-masa sulit kerna sering bentrok dengan jadwal The Chaser.

          Myungsoo memberikan buku yang dulu Sooji berikan padanya.

          “Mengapa kau kembalikan?”

          “Aku sudah cukup mengenali isi dan semua maksud buku itu. Aku hanya ingin Abeonim tahu bahwa Sooji telah membuat aku benar-benar hidup. Buku itu milik mendiang istri Anda, bukan?”

A Walk to Remember  

DJ lake

Kim Myungsoo mengendarai mobilnya ke arah utara kota Daejeon. Dia mau mengunjungi danau Daecheongho, danau asrtifisial terbesar ketiga di Korea yang terkenal dengan air jernihnya itu. Tempat itu bisa memuaskan hobi fotografinya. Air yang dihasilkan dari pembendungan sungai Geum itu merefleksikan nuansa puncak pegunungan di sekitarnya.

Lelaki itu memakai sweater motif garis hitam-merah yang membalut T-shirt putihnya. Sedangkan kaki jenjangnya dibalut jeans warna navy. Sunglasses pun menutup mata indahnya agar orang tidak mudah mengenalinya.

Kini dia berdiri di tepian danau lalu menghirup udara dalam-dalam sambil menatap pantulan sinar matahari di permukaan air. Sepasang bibirnya menggariskan senyum saat bayangan seseorang yang masih terekam jelas di benaknya seolah bisa dia lihat di permukaan air.

          “Sooji-ya, apa duniamu jauh lebih indah dari ini? Aku harap iya. Aku baru kembali lagi sekarang untuk berterima kasih. Karenamu, aku telah menemukan diriku lagi. Kau mengajariku semuanya. Kau membuatku mencapai semuanya. Andai kau ada di sini sekarang, mungkin semuanya lebih indah dan sempurna. Sesempurna mimpi yang dulu kita pentaskan. Sesempurna cinta yang masih tetap milik kita.  Kau yang terbaik bagiku. Tuhan mengirimku seorang dewi. Walau kini Dia mengambilnya kembali. tapi aku tahu …”

          Angan Myungsoo berhenti berguman dan dia menatap langit, menunggu angin menyentuh wajahnya dan membuat tubuhnya terasa dingin.

          “Cause your love is like a wind. I can’t see it, but I can feel it,” ucapnya.

 

Setelah puas memotret panorama danau hingga sunset tiba, Myungsoo membalikan tubuhnya. Dia melangkah pelan menjauhi pinggiran danau tadi, tempat di mana dulu dia dan Sooji menyatakan cinta. Dia pun berjalan menyusuri jalan kecil di dekat tepian danau.

Myungsoo tidak begitu memperhatikan sekitar. Dia hanya berjalan santai. Beberapa meter di depannya, dia melihat seorang perempuan yang sedang duduk di bangku kecil di pinggir danau. Dia tampak sedang melukis. Gadis itu menarik napas dan menoleh ke arah kanan. Saat itu, dia melihat Myungsoo berjalan. Andai tidak memakai sunglasses, mata mereka pasti bertemu. Gadis itu tampak berpikir begitu Myungsoo lewat di belakangnya. Dia menatap punggung lelaki itu.

“Gaya berjalannya tampak tidak asing,” gumannya pelan.

Gunung Yasan yang berada di dekat danau itu menciptakan pemandangan indah membuat banyak orang betah berlama-lama di sana. Tak terasa Myungsoo sudah jauh melangkah dan sampai di tempat di mana dia memarkirkan mobilnya.

“Kim Myungsoo!”

Myungsoo tertahan saat mau membuka pintu mobil. Dia menoleh ke sumber suara perempuan yang tadi didengarnya. Mungkin seorang penggemar The Chaser, pikirnya. Band yang dimotori Sunggyu itu cukup sukses di industri musik Korea.

Myungsoo tersenyum kecil dan mengangguk pada gadis yang mengenakan dress selutut warna pink dibalut cardigan abu itu. Lalu Myungsoo membuka membuka pintu.

Gadis itu segera berlari. Saat Myungsoo memasangkan sabuk, dia mengetuk jendela.

Sasaeng fan?’ guman Myungsoo pelan.

“Kim Myungsoo! Apa kau tidak mengenal temanmu setelah menjadi selebriti terkenal?” teriak gadis itu begitu mendengar Myungsoo menyalakan mesin.

Myungsoo tersenyum kecil. Itu trik basi.

Mobil berwarna hitam metalik itu mundur sebelum belok dan melaju. Gadis berambut sepunggung bermata bening itu mencibir.

Hya! Apa kau kira aku penggemarmu?” teriaknya kesal.

Gadis yang memakai bando kecil itu melangkah kesal sambil memegang kedua tali back-pack. Melalui kaca spion, Myungsoo melihat gadis itu yang mulai menjauh.

Wajahnya tampak tidak asing.

Gadis itu masih geram dan menatap mobil Myungsoo sebal. Dia menghentakan boots-nya seolah ingin menginjak Myungsoo. Dia pun berjalan dengan perasaan kesalna. Baru beberapa langkah, dia tampak menaikan sebelah alis melihat sedan hitam itu tampak mundur. Semakin lama semakin dekat sampai mobil itu berhenti di sampingnya.

Mungkin nappeun namja itu baru sadar siapa aku.

Gadis itu tetap melangkah acuh, tak mempedulikan Myungsoo yang menurunkan kaca mobil.

“Yoo Ara!”

Gadis itu menghentikan langkah. Dia memutar kepala melewati bahu kiri dan mendapati Myungsoo tersenyum kecil.

Long time no see. Need a ride?” tawar Myungsoo.

Yoo Ara mendelik dan mendengus kencang. “Aku pikir kau terkena sindrom amnesia karena sudah terkenal.”

Myungsoo terkekeh. “Mianhae. Ayo cepat masuk. Tawaranku tak berlaku dua kali.”

Gadis bermata bening itu mencibir sinis.

L-Ara

Someday we’ll know, Ii love can move a mountain
Someday we’ll know
, why the sky is blue
Someday we’ll know
, why I wasn’t meant for you…

 Someday we’ll know, why Samson loved Delilah
One day I’ll go
dancing on the moon
Someday you’ll know
That I was the one for you…

∞∞ THE END∞∞

 ∞ A Walk to Remember  

 

Advertisements

19 thoughts on “A Walk to Remember : Like a Wind

  1. duhh, enggak sengaja nyari ternyata terdampar di ff yang daebak banget.
    Wah.. bagus banget thor, keren, feelnya dapet. Rasanya mau nangis, sedih banget. Tulisannya juga bagus, keren bangetlah

  2. Chelsea Onnie, sukses bikin mata berkaca-kaca di pagi hari, walau udah nonton dan baca novelnya berulang-ulang tapi tetap saja feel sedihnya selalu dapet, Onnie sukses menulis ulang cerita favorite Nana ^^

  3. astaga kenapa setrgis itu kisah cintamu Myunsoo-ah.. Aku kira si Sooji gk punya penyakit atau apapun eh ternyata Leukimia menjalar di setiap tubuhnya *apaini .. Yaa~ mereka menikah setelah lulus sma? Sebegitu cintanya kah kau pada sooji?. myungsoo : iyalah, msalah buat loh! *abaikan 😀 .. Aku kira yang manggil Myungsoo itu sooji, eh ternyata Yoo Ara .. Ada beberapa typo yang bertebaran eon 🙂

  4. Ah pg2 dibuat sesegukan, mata ane berkaca2 #lebay wkwkwk. Sad ending dan ngefeel bgt un ini FF. Walau tau sooji sakit tp myungsoo ttp pada penderiannya. Dan mereka saling dkung untuk menjadi yg trbaik. Aku udh nebak sih endingnya bakalan begini. Di tgl seseorang yg myungsoo cintai. Dan yoo ara? Ah gantung. Apa ada kelanjutan hubungan mereka?? Cba sequel un haha

  5. sad ending ternyata, pdhl udh bayangin bakal happy ending.

    melakukan semua mimpi dlm hidup adalah hal yg paling di inginkan setiap orang…

  6. sad ending ternyata, pdhl udh bayangin bakal happy ending.
    melakukan semua mimpi dlm hidup adalah hal yg paling di inginkan setiap orang…

    1. kesal yang mana nih? ambigu 😉
      mian buat typosnya 😦
      Kalo ekspos sakitnya, ntar jadi melodrama dong 😉
      yang lebih saya ekspos, pesan dari narasi/fiksi ini
      sungyeol nakal juga, cuma dia paling deket sama L

      kamsahamnida

  7. Sad ending ternyata.
    Bad boy » Good boy. Peran Sooji di sini benar-benar berpengaruh walau posisi dia sakit. Kadang ada karakter yang sakit malah dibuat jadi bersedih-sedih ria. Lain halnya sama MyungJi. Di sini mereka saling mendukung walau tahu tidak akan bersama. Tapi ya, itu si Sooji di terror karena ada foto dia yang tersebar gitu apa karena ulah si Jinri?
    Endingnya tidak menyedihkan juga sih karena L tidak larut dalam kesedihan mendalam uyeeeee~

    1. Annyeong, Win 🙂
      Kaya lagu Miss A ganti noun → Bad girl good girl
      Ngikut alur cerita asli.
      Kebersamaan mereka jadi saling kasih power, that’s love should be, right? ㅋㅋㅋ
      Myungsoo juga ngikut karakter Landon Carter, ga berlarut mendayu duka, malah menjadikan motivasi buat menjadi orang yang lebih baik dan mencapai impian

      soal terror, yg saya tangkap waktu nonton, emang perbuatan cwek saingan Mandy sama beberapa temen Landon. Di ending chapter 1 udah ditulis Jinri plans something bad 😀

      Kamsahamnida buat read n review. As usual, I always like your review. Not only on my work but also others

  8. Sooji-ya, apa duniamu jauh lebih indah dari ini? Aku harap iya. Aku baru kembali lagi sekarang untuk berterima kasih. Karenamu, aku telah menemukan diriku lagi. Kau mengajariku semuanya. Kau membuatku mencapai semuanya. Hiks hiks..

    Lagunya pas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s