Black Time: Holocaust

wpid-received_m_mid_1390616173000_f4917447bf04ae0b47_0.jpeg

BLACK TIME

Chapter 2

Tittle: Holocaust

Author: Kuruta Winn

Genre: Sci-fi, Life, History, Adventure

Length: Chapter

Cast:

Lee Jong Suk (Pierre Weber)

Kim Woo Bin (Gerhard Seiler)

So Ji Sub (Heinrich Franz Kohler)

No Bash|No Plagiat|Happy Reading

Berlin, Jerman, 1933

Seorang petugas di luar toko Yahudi di Berlin menempelkan poster bertuliskan,  “Deutsche! Wehrt Euch! Kauft nicht bei Juden!” (“Jerman! Pertahankan dirimu! Jangan membeli dari orang-orang Yahudi!”

Pierre dan Gerhard melewati toko dan membaca tulisan itu. Kini mereka sedang menyamar sebagai seorang petugas Kamp. Konsentrasi dan Tenaga Kerja di kawasan Berlin.

“Kalau Heinrich berada di sini pasti dia akan merobek kertas ini,” gumam Pierre sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Saat ini mereka berada dalam rezim Hitler, khususnya pada masa Holocaust. Mereka menyamar sebagai tentara di salah satu Kamp yang dibuat oleh Hitler. Beberapa kali mereka mendengar pembicaraan Hitler dengan beberapa petinggi Militer untuk memusnahkan bangsa Yahudi.

“Kau tahu darimana gagasan mengenai pemberantasan Yahudi muncul?” tanya Gerhard sambil berjalan menyusuri pertokoan di daerah Berlin.

“Gerakan Völkisch. Mengapa bisa gerakan itu membuat gagasan aneh semacam itu,” jawab Pierre sambil membenarkan senapan yang sedang ia pegang. Mereka terlihat seperti orang bodoh dengan baju yang agak kebesaran dan topi yang sering kali melorot ke arah samping.

“Kau pasti terkejut jika mengetahui nama orang yang memberi gagasan itu,” sahut Gerhard sambil tersenyum.

“Siapa memang?” tanya Pierre penasaran.

“Heinrich Class.”

Mereka berdua saling memandang dan tak lama kemudian tawa mereka pecah ketika Gerhard menyebut nama itu. Bagaimana tidak? Ilmuwan gila yang mengirim mereka ke abad ini adalah seorang penganut Yahudi yang taat. Tapi nama yang ia gunakan adalah nama orang yang mencetuskan bahwa Yahudi harus di musnahkan. Apa itu bukan sesuatu yang bodoh?

“Heinrich Class mengatakan bahwa agar semua Yahudi di Jerman harus dihapuskan status kewarganegaraan Jermannya dan ditetapkan sebagai Fremdenrecht (status alien). Heinrich Class juga mendesak agar semua Yahudi ditiadakan dari semua aspek kehidupan Jerman, dilarang memiliki tanah sendiri, memegang jabatan publik, atau berpartisipasi dalam jurnalisme, perbankan, dan profesi liberal lainnya. Apa ilmuwan gila itu tahu tentang ini?” tanya Gerhard yang masih menahan tawanya.

“Ternyata si gila itu tidak sepenuhnya pintar,” sambung Pierre sambil menyikut bahu Gerhard.

“Apa kita akan selalu ikut serta dalam pembantaian yang dilancarkan Hitler terhadap Yahudi?” tanya Pierre sambil membayangkan pembunuhan massal yang terkenal sepanjang sejarah itu.

“Hitler memang sudah membuat rencana jauh sebelum ia menjadi penguasa. Kau ingat pada awal tahun 1922, Hitler mengatakan kepada wartawan Mayor Joseph Hell secara pribadi tentang rencananya?” kata Gerhard.

Pierre menjawab sambil bermain mata dengan beberapa gadis Jerman yang berlalu-lalang dan mereka membalas tatapan Pierre, “Setelah saya berkuasa, tugas saya yang pertama dan terutama sekali adalah memusnahkan orang Yahudi. Saya akan membangun tiang gantungan di Munich, kemudian orang-orang Yahudi akan digantung tanpa pandang bulu, dan mereka akan tetap digantung sampai mereka membusuk, dan lalu kota-kota lain akan menyusul, sampai keseluruhan Jerman telah benar-benar bersih dari orang-orang Yahudi. Kurang lebih seperti itu.”

Selama kurang lebih satu jam mereka berkeliling pertokoan, kini mereka dipanggil untuk segera ke kembali ke Kamp. Mereka ditugaskan untuk melakukan eksekusi bagi para Yahudi yang baru saja diangkut menggunakan kereta api barang.

“Sebenarnya aku menderita melihat pembunuhan massal di kamar gas itu,” lirih Pierre dengan raut wajah sedih.

Gerhard pun menunjukkan reaksi demikian. Bagaimana tidak? Ketika mereka melakukan tugas itu, terdengar suara jeritan, rintihan dari para korban.

Mereka tiba di salah satu bangunan persegi empat yang besar. Gedung yang dibangun di atas tanah gersang itu sudah membuat berbagai macam sejarah pembantaian. Saat ini Gerhard sedang memberi pengarahan bagi para Yahudi yang baru saja tiba.

“Di ruangan itu ada bilik yang bertuliskan kamar mandi dan sauna. Kalian cepatlah mandi karena segelas kopi hangat sudah menanti kalian,” ucap Gerhard mengelabuhi para Yahudi untuk menghindari kepanikan. Di tempat ini, semua pakaian mereka dan harta benda lainnya akan disita oleh Nazi yang kemudian digunakan untuk membantu mendanai perang. Para korban kemudian digiring telanjang ke dalam kamar gas.

Untuk semakin mempertegas kesan mandi tersebut, beberapa pancuran ditempatkan di dalam kamar dan mereka kadang-kadang diberi sepotong kecil sabun dan handuk, serta diberitahu untuk mengingat di mana mereka telah menempatkan barang-barang mereka untuk alasan yang sama.

Gerhard melihat seorang nenek dan dua anak kecil Yahudi Hongaria sedang dalam perjalanan menuju kamar gas di Kamp. Ia hanya bisa menghela napas kecewa melihat akhir kehidupan nenek dan dua anak kecil itu.

Ketika semua tahanan sudah masuk ke dalam Bunker, kini tugas Pierre untuk membunuh mereka. Ia menutup rapat pintu Bunker itu. Ada dua Bunker. Bunker 1 menampung 800 orang dan Bunker 2 menampung 1.200 orang. Setelah itu Pierre mengaliri zat beracun zyklon-B, HCN, atau hidrogen sianida melalui ventilasi udara.

Semua yang ada di dalam kamar tewas dalam waktu 20 menit, kecepatan kematian tergantung pada seberapa dekat jarak para korban dari ventilasi gas. Air mata turun dari sudut mata Pierre mendengar teriakan dan jeritan para korban terdengar dari awal, dan sudah jelas bahwa mereka sedang berjuang untuk kehidupan mereka.

Saat mayat-mayat disingkirkan, beberapa korban ditemukan tewas dengan setengah berjongkok akibat penuhnya ruangan, kulit mereka berwarna merah muda dengan bintik-bintik merah dan hijau, mulut berbusa atau pendarahan dari telinga.

Setelah dieksekusi, gas beracun kemudian dipompa keluar, dan mayat-mayat disingkirkan (yang akan memakan waktu hingga empat jam), emas tambalan di gigi para korban akan diekstraksi dengan tang oleh para dokter gigi, dan rambut para wanita dipotong. Selanjutnya, lantai dan dinding kamar gas dibersihkan. Inilah tugas yang dilakukan Pierre dan Gerhard selama berada di Kamp. Jika mereka menolak, sebagai hukuman mereka akan dilempar hidup-hidup ke tungku pembakaran.

“Sudahlah,” ucap Gerhard sambil menepuk pundak Pierre yang selalu murung ketika selesai menjalankan tugas.

“Jika si gila itu berada disini pasti dia sudah menjadi anjing gila melihat semua itu. Dan mungkin juga ia akan memangkas habis kumis Hitler,” sahut Pierre sambil membenarkan letak topinya.

“Sekarang kita harus bersiap mengeksekusi kaum homoseksual,” tutur Gerhard.

Gerhard dan Pierre di jemput oleh kendaraan militer untuk berpindah tempat ke salah satu Kamp untuk melancarkan aksi berikutnya.

“Kau tentara baru?” Tanya salah seorang yang berada di kendaraan itu. Mereka semua adalah petugas baru yang dikirim Hitler sebagai tentara uji coba.

Pierre hanya mengangguk sambil tersenyum. Gerhard membungkukan kepalanya sebagai tanda salam kenal.

“Ini bukan Korea. Kau tak perlu menundukkan kepalamu,” bisik Pierre.

Gerhard tersenyum kikuk sambil menyunggingkan sedikit ujung bibirnya.

“Lebih baik kau julurkan tangan kananmu seperti ini,” Pierre menjurlkan tangan kanannya ke arah Gerhard.

“Kalian berasal dari daerah mana?” Tanya pemuda tadi yang sejak tadi melihat gerak-gerik Pierre dan Gerhard.

Pierre dan Gerhard memutar cepat otaknya untuk menjawab pertanyaan pemuda dengan corak kecoklat-coklatan di kedua pipinya. Pemuda ini nampak masih muda.

“Munich.”

“Berlin.”

Pemuda itu menautkan kedua alisnya, “Oh, jadi kalian berasal dari daerah uang berbeda?”

Pierre dan Gerhard hanya mengangguk canggung.

“Haah, aku merindukan keluargaku. Tapi kita hanya sebagai tentara uji coba jadi harus menjalani ini,” kata pemuda itu sambil menatap lurus ke depan.

Pierre dan Gerhard hanya mengangguk tanda setuju. Mereka juga merindukan sesuatu, yaitu bermain bola. Bagaimana dengan keluarga? Mereka bukan tipe yang harus merindukan mereka setiap saat, yang mereka tahu adalah melindungi keluarga bukan merindukan keluarga.

Setelah tentara tiba, mereka semua diberi arahan untuk mengikuti captain yang akan menjelaskan cara mengeksekusi para kaum homoseksual. Selang waktu 30 menit, para tentara dibagi ke beberapa titik.

“Mereka sudah tiba,” jawab Pierre sambil mengarahkan matanya kepada segerombolan manusia yang diberi segitiga merah muda di keningnya.

Gerhard menarik napas panjang ketika melihat rombongan itu. Antara 5.000 hingga 15.000 homoseksual berkebangsaan Jerman diperkirakan sudah memenuhi Kamp.

Hitler menyatakan bahwa hal yang penting bagi Nazi untuk menyiksa seseorang adalah berdasarkan kemungkinan untuk berbuat kriminal dan karakter mereka, bukannya tindak kriminal mereka, dan gesundes volksempfinden (sensibilitas sehat dari warga) menjadi prinsip normatif dari hukum-hukum Nazi. Homoseksualitas dinyatakan bertentangan dengan sentimen yang disukai rakyat, dan homoseksual dianggap mengotori darah Jerman. Gestapo, salah satu tentara yang menggerebek bar-bar gay, kaum homoseksual dilacak melalui buku-buku alamat, melalui daftar pelanggan majalah-majalah gay, dan warga dipaksa untuk melaporkan perilaku homoseksual tetangga atau orang-orang terdekat mereka yang dicurigai. Seperti itulah cara Hitler member arahan ke bawahannya untuk memangkas habis kaum Homoseksual.

Puluhan ribu homoseksual dihukum dan dikirim ke kamp-kamp untuk ‘direhabilitasi’. Di sana, mereka diidentifikasikan dengan gelang lengan berwarna kuning, dan kemudian dengan lencana segitiga merah muda yang dikenakan di sisi kiri jaket atau di kaki kanan celana panjang, dengan tuduhan mengidap kelainan seksual. Ratusan dari mereka di kebiri atas perintah pengadilan. Mereka dipermalukan, disiksa, digunakan untuk eksperimen hormon oleh Dokter SS (Dokter khusus pada masa Holocaust), dan dibunuh.

“Kurasa Heinrich harusnya mengirim para Homoseksual ke masa ini agar mereka berpikir ratusan kali untuk menjadi homoseksual,” gumam Pierre setelah menyelesaikan tugasnya.

Gerhard mengusap kasar mukanya ketika beberapa saat lalu melihat salah satu kaum homoseksual dikebiri hidup-hidup. “Bisa kau bayangkan jika di Korea diberlakukan hukum memangkas kaum homoseksual seperti sekarang ini? Aku yakin hampir semua lelaki Korea pasti ditangkap.”

“Jangan bilang kalau kau membayangkan para boyband yang melakukan aegyo di atas panggung dianggap kaum homoseksual?” Tanya Pierre sambil tersenyum.

“Jika kau lihat gerak-gerik Gestapo meringkus para Yahudi pasti kelakuan beraegyo itu akan ditangkap. Ingat laki-laki tidak beraegyo,” tegas Gerhard.

Pierre tertawa dan mempraktekan cara ia pernah beraegyo waktu semasa sekolah menengah. Ia menggembungkan pipinya dan membuat tanda V di sekitar matanya, “seperti ini?”

“Mati kau jika Hitler melihat aegyo menjijikan ini,” ucap Gerhard sambil berlalu meninggalkan Pierre yang tertawa. Ia tahu bahwa Gerhard tak pandai untuk beraegyo. Pernah sekali ia melakukan aegyo dan itu sangat menjijikan.

“Besok kita harus ke Auschwitz,” teriak Pierre dari belakang melihat Gerhard yang sudah mulai menjauh.

***

            Heinrich menggertakkan giginya melihat aktivitas sehari-hari yang dilalui para sepupunya. Terlebih saat ia harus menyaksikan sendiri para nenek moyangnya disiksa, bangsa Yahudi.

“Hitler! Jika kau ada di masa ini, kupastikan kau menjadi budakku!” gumam Heinrich sambil mencengkram plastic yang berisikan snack.

“Apa hebatnya si kumis persegi itu. Harusnya ia menjadi seniman daripada pembunuh berdarah dingin. Mengapa para seniman itu tidak menerima karya-karya Hitler waktu itu. Jika ia menerima karya-karyanya pasti dia sudah berakhir sebagai seniman,” gumam Heinrich sambil berjalan ke arah kamar mandi.

***

            Saat ini Gerhard dan Pierre sudah berada di Kamp Dr. Josef Mengele. Mereka ditugaskan untuk mengantar obat-obat yang baru saja tiba untuk menunjang eksperimen yang dilakukan Dokter gila tersebut.

“Ini yang paling menyeramkan. Korbannya kebanyakan anak-anak,” gumam Gerhard pelan ketika sampai di depan Kamp.

Pierre segera melapor ke petugas Kamp maksud kedatangan mereka, dan ketika mereka masuk ke dalam ruangan eksperimen, suasananya sungguh menyeramkan.

“Kupastikan Dokter ini lebih gila dari Heinrich,” gumam Pierre.

“Mereka satu spesies,” balas Gerhard.

Pierre meremas tangannya ketika melihat eksperimen Dokter gila ini, seperti menempatkan subyek dalam ruang bertekanan, pengujian obat-obatan pada subyek, membekukan subyek, berusaha untuk mengubah warna mata dengan cara menyuntikkan bahan kimia ke dalam mata anak-anak dan berbagai eksperimen amputasi serta operasi brutal lainnya. Sebagian besar subyek yang berhasil selamat dari eksperimen selalu berakhir dengan dibunuh, atau dibedah setelah eksperimen.

“Lihat itu!” gumam Gerhard sambil menggepalkan tanggannya menahan marah.

Napas Pierre tercekat melihat kedua anak kembar yang kira-kira berusia 4 tahun keluar dari sebuah ruangan. Mereka berdua dijahit menyatu, saling membelakangi, seperti kembar siam. Luka-luka mereka terinfeksi dan bernanah. Mata mereka sudah memerah karena menangis tak henti-henti.

“Mengapa mereka masih terus saja menangis,” gumam Dokter itu sambil mengambil morfin di dalam laci.

Dokter itu melempar morfin ke Gerhard dan beberapa detik kemudian Gerhard sadar akan maksud Dokter itu.

“Membuat telingaku tuli saja,” gumam Dokter itu.

Pierre tak kuat melihat situasi dan ia keluar dengan alasan membuang air kecil.

“Adik kecil, minum ini. Ini obat agar kalian tidak kesakitan lagi,” ucap Gerhard sambil menyodorkan morfin ke mereka dengan menahan air mata.

Akhirnya anak kembar itu meminumnya dan tewas dalam seketika. Lalu mayatnya dilempar ke dalam tungku pembakaran.

“Setidaknya kalian tidak mengalami penderitaan berkepanjangan,” gumam Gerhard dalam hati sambil menahan air matanya yang sejak tadi terus saja mendesak untuk keluar.

***

            Kini Pierre dan Gerhard duduk di depan sebuah gedung tua tak terpakai. Mereka masih larut dalam pikiran masing-masing. Tak lama terdengar suara Heinrich dari tahi lalat yang terpasang di pipi mereka.

‘Bagaimana keadaan kalian?’

            “Sangat buruk,” jawab mereka berdua serempak.

‘Keadaanku juga begitu buruk ketika melihat kejadian itu.’

            “Sampai kapan kami akan seperti ini, Heinrich?” tanya Gerhard dengan intonasi lemah.

‘Sampai kalian menemukan hubungan Yahudi dengan Perang Dunia 2.’

“Itu masih lama. Perang saja belum dimulai,” sambung Pierre sambil menurunkan bahunya.

Beberapa menit berlalu dan mereka tak mendengar lagi suara Heinrich. Mereka hanya bisa menghela napas. Napas kekecewaan, penyesalan, atas semua kejadian di masa ini.

***

            Hari ini, Senin. Pierre dan Gerhard sedang bersiap-siap melakukan eksekusi untuk orang-orang Yahudi dari Kiev.

“Haa, aku sudah tidak kuat!” gumam Pierre menatap ratusan manusia yang ada di depannya.

Pierre dan Gerhard hanya ditugaskan untuk mengisi persenjataan hari ini. Tidak ikut ambil andil dalam pembunuhan massal kali ini.

Dari kejauhan mereka melihat seorang tentara menyuruh mereka berkumpul di sebuah pemakaman. Kerumunan tersebut cukup besar, sebagian besar laki-laki, perempuan, dan anak-anak tidak mampu mencari tahu apa yang terjadi hingga terlambat; pada saat mereka mendengar tembakan senapan mesin, tidak ada kesempatan untuk melarikan diri. Semuanya berlarian menyusuri barisan tentara, dan kemudian ditembak.

Para Yahudi yang selamat satu demi satu, mereka harus menanggalkan pakaian mereka; mantel, sepatu, dan juga pakaian dalam. Setelah telanjang, mereka dipersilakan memasuki jurang yang panjangnya sekitar 150 meter, lebar 30 meter, dan dalam 15 meter. Ketika mereka sampai di dasar jurang mereka disergap oleh anggota Schutzpolizei dan dipaksa untuk berbaring di atas orang-orang Yahudi yang sudah ditembak. Seorang polisi datang dan menembak seorang Yahudi di leher dengan senapan mesin ringan. Polisi tersebut berdiri di atas lapisan mayat dan menembak satu demi satu. Polisi itu berjalan dari mayat orang-orang Yahudi yang telah dieksekusi ke Yahudi berikutnya yang sedang berbaring, dan menembaknya.

Pierre melihat salah satu penembak itu terkena cipratan cairan berwana hijau. Kemudian ia mengambil saputangan dan mengusap pipinya yang terkena cipratan sepotong otak.

Gerhard berbalik ke belakang dan memuntahkan isi perutnya melihat kejadian itu.

“Harusnya kita membawa ponsel untuk merekam kejadian ini. Agar orang-orang tahu betapa kejamnya Hitler,” ucap Pierre sambil menggelengkan kepala.

“Semua pasti ada alasan mengapa si kumis persegi itu membunuh Yahudi,” sahut Gerhard sambil mengusap mulutnya.

***

Stalingrad, Februari, 1943

            Pierre dan Gerhard kini ditarik menjadi pasukan khusus perang. Dalam hitungan kalender, mereka sudah berada di masa lalu selama 10 tahun. Tapi bagi Heinrich jika di kalkulasikan itu sama saja 10 jam waktu masa depan.

“Gila…Ini benar-benar gila!” gertak Pierre yang kalang kabut ketika mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke Stalingrad.

Gerhard mengusap dagunya. Ia masih berpikir tentang keberangkatan mereka. Karena menurut sejarah yang mereka baca, penyerangan kali ini akan gagal karena Hitler tidak memperhitungkan kondisi cuaca di Stalingrad.

“Apa kita tetap ikut? Bagaimana kalau kita kabur saja?” ucap Pierre yang panic akan nasibnya berikutnya.

“Tidak bisa.”

“Lalu bagaimana?”

“Tetap ikut.”

“Aku tidak mau.”

“Oh. Ayolah kita kabur saat berada di sana.”

“Baiklah.”

Mereka berangkat menggunakan kapal perang ke daerah Stalingrad. Sebenarnya pertempuran ini dikatakan sebagai Turning Point. Titik balik kemajuan Jerman yang nyaris tidak terkalahkan selama 3 tahun peperangan.

“Mengapa si kumis persegi itu terobsesi dengan kota Stalingrad?” tanya Pierre yang kini sedang duduk di kabin kapal bersama Gerhard.

Gerhard memandang laut yang terbentang di depan matanya, “Kota itu mempunyai beberapa industri vital seperti sulfur yang cukup penting untuk membuat amunisi dan bahan peledak.”

Kini mereka semua sudah tiba di kota Stalingrad. Semua peralatan perang sudah diturunkan dari kapal. Mereka membuat markas di sepanjang sungai Volga. Perintah Jendral Jerman menginginkan agar Stalingrad dilewati saja atau setidaknya dikurung dari sisi luar.

Satu kapal yang sudah bersiap-siap kembali ke Jerman untuk mengambil persedian cadangan akan segera berangkat. Tak lama Gerhard dan Pierre segera melompat ke dalam kapal dan bersembunyi di balik karung-karung yang berisi gandum.

Mereka mengatur letak tubuh mereka agar tidak ketahuan. Kini mereka sudah berada di dalam tahap aman untuk persembunyian.

“Aman,” gumam Pierre dengan pelan.

“Pasti aman,” balas Gerhard.

“Siapa disana?” tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang. Semakin lama, semakin mendekat. Baik Pierre maupun Gerhard menahan napasnya ketika tangan orang itu akan meraih karung-karung gandum untuk memeriksa suara yang timbul dari balik karung itu.

–To Be Continue….

Advertisements

2 thoughts on “Black Time: Holocaust

  1. “Kurasa Heinrich harusnya mengirim para Homoseksual
    ke masa ini agar mereka berpikir ratusan kali untuk
    menjadi homoseksual,” gumam Pierre setelah
    menyelesaikan tugasnya.
    ㅎㅎㅎㅎ setuju

    a word for this fiction : Gorgeous!
    Mengingatkanku sama mini seri Band of Brothers, tapi ini dari view point Nazi.
    Narasi semua kejadiannya berasa nyata.
    Ya itu memang kejam dan tidak ada pembenaran dari segi perikemanusiaan. Tapi saya selalu tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dgn Hitler. Selalu ingin tau pemikiran2 kontroversialnya dan ada quote yang sama kaya isi kitab suci kita.

    Anticipating the next part
    Thanks for entertaining us

  2. Oh my….. Stalingard dipertahankan oleh Rusia karena merupakan simbol bagi mereka. Bahkan tanpa senjata kau harus mempertahankan kota itu. Serasa nonton Enemy at the gate dan Schindler’s List. Kena cipratan otak. Grgrgrh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s