Almost

Almost

Almost Poster copy

By :

thecuties

Romance | PG-13 | One-shot

Cast :

Nam Woohyun (INFINITE)

Han Hyojoo as Han Mirae (OC)

εΐз Almost εΐз


Han Mirae memandang cermin besar yang ada di kamarnya sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya. Sweater turtle neck warna broken white dan rok lebar bermotif kupu-kupu, melekat sempurna di tubuh mungilnya. Hari ini adalah hari yang sangat istimewa untuknya. Di saat banyak orang membenci angka tiga belas, Mirae malah sangat menyukainya, terutama tanggal 13 Februari, karena tepat tanggal 13 Februari, dua puluh tujuh tahun yang lalu, Mirae lahir ke dunia. Dan keistimewaan tanggal 13 Februari semakin lengkap saja, dengan kehadiran Nam Woohyun, lelaki yang selama ini selalu mengisi sebagian besar ruang di hati dan pikiran Mirae. Dua hari yang lalu lelaki itu datang ke Seoul dalam rangka memberikan pelatihan di kantor cabang tempat Mirae bekerja, dan hari ini lelaki itu mengajaknya untuk berkencan seharian.

Ya, sebenarnya kegiatan hari ini tidak bisa dikategorikan ke dalam sebuah kencan, karena hubungannya dengan Woohyun hanya sebatas rekan kerja saja. Walaupun, sudah tiga bulan terakhir mereka berkomunikasi secara rutin. Rencananya hari ini mereka akan makan, nonton, dan jalan-jalan bersama, bukankah semua aktivitas itu, apalagi yang dilakukan hanya berdua antara lelaki dan perempuan, disebut kencan? Apapun sebutannya nanti, yang pasti Mirae sangat senang. Setelah memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya, Mirae menyambar tas bersama trench coat berwarna soft pink yang ada di atas tempat tidurnya, dan bergegas keluar dari kamarnya. Dia tidak boleh terlambat menemui Woohyun di hotelnya.

Tidak lebih dari tiga puluh menit, taksi yang ditumpangi oleh Mirae tiba di depan hotel Seoul The Plaza. Setelah membayar, Mirae melangkah masuk ke dalam lobby hotel dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai tujuh, tempat kamar Woohyun berada.

Begitu sampai di depan kamar 707, Mirae menekan bel dan menunggu sampai tidak lama didengarnya ada suara langkah kaki dari dalam kamar. Saat pintu terbuka lebar, Mirae memandang lelaki di hadapannya dengan salah satu alis yang terangkat. Sekilas dia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya pukul 10.10, tetapi lelaki itu belum siap sama sekali. Kaos santai, celana tidur, dan rambut yang acak-acakan, menandakan kalau lelaki ini belum lama tersadar dari alam mimpinya.

“Kenapa kau belum siap?” tanya Mirae. Woohyun memamerkan cengirannya dan membukakan pintu lebih lebar.

“Mi…” Woohyun tak kuasa menahan mulutnya yang menguap lebar. Mirae hanya tersenyum kecil dan menutup mulut Woohyun dengan tangannya.

“Insomnia-mu masih belum sembuh?” tanya Mirae.

Eoh,” jawab Woohyun sambil menggaruk-ngaruk rambutnya. Melihat kelakukan Woohyun tersebut, Mirae hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum. Sudah seminggu, Woohyun selalu mengeluh pada Mirae tentang penyakit sulit tidurnya ini. Dan selama seminggu ini, Mirae selalu menemani Woohyun untuk berbicara di telepon selama berjam-jam, walau pada akhirnya Mirae tak kuasa menahan kantuknya, sehingga dia sering meninggalkan Woohyun berbicara sendiri di telepon, sedangkan dirinya terlelap.

Bukannya berjalan menuju kamar mandi, Woohyun malah melangkahkan kakinya menuju tempat tidur, dan menghempaskan tubuh di atasnya.

“Hei, kenapa kau tidak mandi?” protes Mirae.

“Sepuluh menit lagi,” jawaban Woohyun terdengar samar, karena mulut lelaki itu terhalang bantal besar. Mirae kembali menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Woohyun yang seperti anak kecil. Memang sebenarnya usia mereka terpaut cukup jauh, Woohyun empat tahun lebih muda dari Mirae. Tak lama setelah itu terdengar suara dengkuran halus di sebelah Mirae, dan itu menandakan kalau Woohyun sudah kembali terlelap.

Mirae mengeluarkan smart phone-nya dari dalam tas. Dia memutuskan untuk membaca berita dari smart phone-nya sambil menunggu Woohyun bangun. Sudah lebih dari sepuluh menit Mirae membaca berita-berita yang ada di sebuah situs berita, tetapi Woohyun tak kunjung bangun juga. Perlahan Mirae bergerak mendekati Woohyun. Wajah lelaki itu tampak tenang dan napasnya naik-turun dengan teratur.

“Woohyun-ah,” panggil Mirae pelan. Tak ada respon berarti dari lelaki yang saat ini tengah larut dengan mimpinya.

“Kalau kau tidur terus, bagaimana dengan rencana kita hari ini, eoh?” tanya Mirae sambil menekan-nekan pipi Woohyun yang gempal dengan telunjuknya. Woohyun sedikit bereaksi dan itu membuat Mirae meneruskan usahanya membangunkan Woohyun.

“Woohyun-ah, ireona,” Mirae terus menekan-nekan pipi Woohyun, bahkan sekarang Mirae sudah mencubit-cubit kecil pipi Woohyun yang menggemaskan. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Mirae, Woohyun hanya menggerutu dengan mata tertutup.

“Baiklah, karena kau terus saja tidur, lebih baik kita batalkan saja semua rencana hari ini,” Mirae bermaksud untuk beranjak dari duduknya, namun dengan cepat sebuah tangan besar menggenggam erat pergelangan tangannya, sehingga membuat Mirae kembali terduduk di atas tempat tidur.

Mirae menoleh melewati bahunya, bermaksud untuk memprotes perbuatan Woohyun tadi, tetapi sesuatu yang lembab telah membungkam bibirnya. Reflek, kedua mata Mirae menutup dan cukup lama dia menikmati ciuman lembut dari Woohyun.

“Kau menggunakan lip-gloss pemberianku kemarin, ya?” tebak Woohyun dengan tatapan jahil. Belum sempat Mirae menjawab, Woohyun sudah bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi, tanpa menghiraukan wajah Mirae yang sudah memerah seperti tomat busuk.

Saat Woohyun berada di dalam kamar mandi, tanpa sadar tangan kanan Mirae bergerak ke arah bibirnya yang baru saja dicium oleh Woohyun. Ini semua seperti mimpi. Nam Woohyun, lelaki yang dicintainya baru saja menciumnya, lebih tepatnya Woohyun telah mencuri first kiss Mirae. Terdengar kuno, tetapi ini memang kenyataan, bahwa sampai hari ini, usianya menginjak angka dua puluh tujuh, Mirae baru pertama kali mendapatkan sebuah ciuman di bibir. Dan Nam Woohyun lah yang berhasil mencurinya. Ini benar-benar seperti mimpi. Berulang kali Mirae menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang terus melonjak-lonjak di dalam rongga dadanya.

Noona, apa kau tahu tempat makan samgyetang yang enak di dekat sini?” tanya Woohyun setelah hampir dua puluh menit berada di dalam kamar mandi untuk bersiap-siap. Terkadang Woohyun memanggil Mirae dengan sebutan ‘Noona’, tetapi lelaki itu lebih sering menggunakan banmal padanya dan Mirae tidak keberatan.

“Kalau tidak salah, di dekat Myeong-dong ada restoran yang menyediakan samgyetang,” jawab Mirae. “Kau mau mencobanya?”

Woohyun mengangguk mantap. “Kajja, perutku sudah berdemo meminta diisi,” kelakar Woohyun sambil mengulurkan tangannya pada Mirae.

εΐз Almost εΐз

Begitu sampai di Gaya Samgyetang yang berada di Eulji-ro, Jung-gu. Woohyun langsung mengajak Mirae menuju salah satu meja yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Dan tanpa menanyakan terlebih dulu apa yang ingin Mirae makan, Woohyun langsung memesan dua porsi samgyetang untuk dirinya dan Mirae.

Setelah menghabiskan samgyetang-nya. Mirae lalu mengajak Woohyun untuk berkeliling ke pasar Namdaemun yang berada tidak begitu jauh dari Gaya Samgyetang. Di sana, Mirae menemani Woohyun mencari hadiah untuk ibunya dan juga oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Ulsan besok. Puas menjelajah pasar Namdaemun, Mirae mengajak Woohyun untuk menikmati pasta di Gilji restoran yang berada di dalam kawasan teater Chongdong tempat di mana mereka bisa menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional Korea.

Perjalanan mereka berdua tidak berakhir sampai di sana. Mirae dan Woohyun melanjutkan perjalanan mereka ke sungai Cheonggyechon yang berada di tidak jauh dari hotel tempat Woohyun menginap. Di sana mereka melihat jembatan Narae dan juga jembatan Gwanggyo yang dikenal cantik. Kedua jembatan tadi adalah hanya dua dari banyak lagi jembatan cantik yang melintasi sungai Cheonggyechon.

Saat matahari sudah kembali ke peraduan, Mirae mengajak Woohyun ke jalan Deoksugung di mana terdapat stone wall road yang terkenal dengan pemandangannya yang cantik. Mirae sangat menyukai jalan Deoksugung karena setiap musimnya penampilan dan atmosfer dari jalanan ini berganti sesuai dengan cuaca yang berlangsung seperti bunglon.

“Kenapa kau mengajakku ke tempat ini?” tanya Woohyun.

“Karena dekat dengan tempatmu menginap,” jawab Mirae sambil menyisipkan tangannya di lengan Woohyun.

“Bukannya tempat ini memiliki mitos bisa membuat hubungan sepasang kekasih berakhir?” tanya Woohyun lagi. “Ah, iya. Kita kan bukan sepasang kekasih, jadi hubungan kita tidak akan berakhir,” tambah Woohyun sambil terkekeh.

Mendengar kelakar Woohyun tadi, kontan membuat Mirae menghentikan langkahnya.

Wae?” Woohyun menoleh ke arah Mirae dan menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.

“Apa hubungan kita akan seperti ini terus, Woohyun-ah?”

Woohyun hanya mampu terdiam saat mendengar pertanyaan dari Mirae. Dia tahu sekali, kalau cepat atau lambat Mirae akan menanyakan tentang arah hubungan mereka ini. Tetapi, jujur untuk saat ini Woohyun masih belum bisa memastikan ke mana arah hubungan mereka. Satu hal yang Woohyun sadari, dia memang mencintai Mirae, tetapi ada beberapa hal yang masih menjadi bahan pertimbangan untuk Woohyun, salah satunya adalah perbedaan usia mereka yang terpaut cukup jauh.

“Tidak bisakah kita membiarkan hubungan ini berjalan seiring waktu?”

Mirae sudah menduga ucapan seperti itu akan meluncur dari mulut Woohyun. Sehingga saat ini Mirae hanya bisa menarik napas panjang untuk menghilangkan rasa nyeri di hatinya.

“Aku mencintaimu, Mirae-ya. Tapi maaf sekali, saat ini kita masih belum bisa bersatu, ada beberapa hal yang masih harus aku pikirkan,” tambah Woohyun dengan nada suara pelan.

Sekali lagi, Mirae tahu betul apa yang Woohyun pikirkan. Dan kalau boleh bertaruh, apa yang Woohyun pikirkan pasti sama dengan yang Mirae pikirkan belakangan ini. Di mata Mirae, Woohyun masih labil dan juga belum mapan, sehingga dia masih belum mantap menjadikan Woohyun sebagai pendampingnya.

“Ya mungkin, saat ini kita memang tidak bisa memaksakan untuk bersatu. Aku berharap jika suatu saat nanti masing-masing dari kita menemukan seseorang yang bisa dijadikan pendamping, maka kita akan membiarkannya bahagia, deal?” Mirae mengulurkan tangannya ke arah Woohyun, sebenarnya berat bagi Mirae untuk mengatakan hal ini, tetapi dia tidak bisa terus-terusan menaruh harapan lebih pada hubungan tanpa kejelasan seperti ini.

Woohyun juga terlihat sama beratnya saat membalas jabatan tangan Mirae. “Mudah-mudahan saja sebelum ada seseorang yang datang, aku sudah mantap dengan hubungan serius bersamamu, Han Mirae.”

εΐз Kkeut εΐз

Advertisements

About thecuties

Ordinary girl... My 1st boyfriend is chocolate and my 2nd one is ice cream... I love reading, writing, and dreaming... Why I like dreaming? Because when you dreaming, you will get something that impossible to be possible... ;)

13 thoughts on “Almost

  1. lagi2 tentang perbedaan usia, ck, ayolah woohyun-ah cinta itu tidak memandang perbedaan usia. Cukup taulah kalau dirimu belum siap mejalani hubungan dengan mirae, tapi kasian juga si mirae digantungin..

    “Mudah- mudahan saja sebelum ada seseorang yang datang, aku sudah mantap dengan hubungan serius bersamamu, Han Mirae.” kata yang simple tapi memiliki makna yang kuat, aku tau kau sangat mencintai Han Mirae woohyun-ah semoga saja, 🙂 .. Kalau emang kalian beneran jadian jangan lupa undangan nya wkwkwk 😀

  2. Nana Eonni ^^

    Oh, oh, Sica kira bakalan happy end, tapi ternyata jreng, jreng, jreng. Oh, tidak. Kenapa berakhir sedemikian rupa?? Hahaha
    Saya malah berharap mereka melanjutkan hubungannya terus, tapi perbedaan usia yang menjadi kendala. Aduh, jadi inget Gaeul-Sungjong#plakkk

    Namu, masih mikir2 nih, kalo cinta ya bilang aja cinta. Jadi gemes sendiri ma Namu. kekekeke

    1. Annyeong Sica,

      I’m back with sad FF which is based on my friend love story hehehehehe

      Namu kudu mempertimbangkan banyak hal, kan rada susah tuh nemu lelaki yang mau lebih muda dari pasangannya hehehehehe

      Gomawo Sica untuk komentarnya ^^

  3. Perbedaan umur cuma 4 tahun tapi si Woohyun benar-benar memikirkan secara matang. Sayang sekali harus menjalani hubungan tanpa status. Padahal kalo diliat-liat itu wanita tidak terlalu tua (lihat poster) Hahhaha
    Sekali lagi, tulisan un ini selalu bisa mempermainkan emosi para pembaca.

    1. Mungkin Woohyun masih sulit menerima kalau perempuannya lebih tua 4 tahun dari dia, walau muka perempuannya ngga kelihatan lebih tua hehehehe

      Terima kasih banyak Wina untuk komentarnya ^^

  4. theCuties, ketika saya membaca ff ini, saya merasa ini bener2 riil. Nyata terjadi di sekitar kita. Tampak masalah yang sederhana tapi cukup mengganggu. Tidak bisa bersama karena perbedaan usia, sepele? Ya tapi tak berdaya karena masalah-masalah lain yang mengikutinya tetap ada. Semoga saja ketika saat Namu telah kuat saat itu sang noona belum bertemu dengan orang lain.

    Saya senang ketika alat perangmu sudah sembuh. We are on the track, Pal!

    1. Annyeong Christie Onnie,

      Terasa riil mungkin karena ini based true story-nya sahabat Nana hehehehehe masalah umur yang terlihat sepele bisa jadi runyam, apalagi kalau misalnya masing-masing pribadi belum yakin sama pasangannya

      Iya nie Onnie akhirnya perangkat perang sembuh juga hehehehehe

      Gomawo untuk komentarnya Onnie ^^

  5. trkadang saya ragu kalo cowo yg umurnya lbih muda [pngalaman],,,,tapi,,,aq saka dg crita cinta dg perbedaan usia yg jauh,,,entah itu si cw atau si cowo,,,sperti cinta yg mustahil tp bsa terwujud,,,,mengandalkan kebijaksanaan dg bumbu kkanakan!!!!!

    #hahakomenapaini?

    1. Ya perbedaan usia memang terkadang merepotkan, karena ada beberapa yang masih sulit menerima kenyataan punya kekasih lebih tua hehehehehe

      Terima kasih untuk komentarnya ^^

  6. Annyeong NewClear 😉
    This is simply awesome
    Woah I think there’s a few real side on the story you present, isn’t there? Kekeke
    Ends sadly 😦
    Perbedaan 4 taun ga jauh koq 😀 Jongsuk-Boyoung di I hear your voice malah 10 😉
    Ditunggu next stories
    Biar G kebawa produktif

    1. Annyeong Onnie,

      Sebenarnya ini cerita sahabat Nana gitu, kita punya cerita yang sama, tetapi berbeda eksekusi endingnya. Sahabat Nana endingnya persis seperti FF ini hehehehehe

      Next story udah ready gitu Onnie, ayo Onnie juga ditunggu FFnya 😀

      Gomawo Onnie untuk komennya ^^

  7. Hbungan tanpa status bagai sayur tanpa garam #plaaaak umur yg jadi persoalan. Kalo boleh aq berkata apa umur bisa jaminan untuk tdk merasakan jatuh cinta 😎 Aaach #Namu….

    1. Hai Rinie,
      Ya mungkin ada beberapa orang yang masih belum mantap menjalin komitmen, jadinya memutuskan hubungan tanpa status hehehehe

      Terima kasih sudah mau membaca danmeninggalkan komentar di tulisan saya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s