A Walk to Remember : Love is…

A Walk to Remember

[Chapter 1]

From Nicholas Sparks’s Novel and A Walk to Remember the movie

A walk to remember - infinite myungsoo miss a suzy @LoveyChelsea

By :

Chelsea

|Drama, Romance, | PG15 | Two Shoots|

Starring :

Bae Suzy[Miss A]

 [INFINITE]

Kim Myungsoo

Kim Sunggyu LeeSungyeol Nam Woohyun

Jang DongwooLeeHowon Lee Sungjong

Choi Jinri [FX]
Yoo Ara [Hello Venus]

 

Love is like a wind,

You can’t see it, but you can feel it

 

Disclaimer :

  • An assignment of Introduction to Literature subject, ChelseaTM 2006.
  • Taken from “A Walk to Remember” the movie

A Walk to Remember  

 

 

Daejeon, 2009

          Tengah malam itu di kompleks sebuah gedung yang sedang dibongkar untuk pembangunan pusat IT, sekumpulan remaja bermain di dekat kolam. Kim Myungsoo, Kim Sunggyu, Lee Sungyeol, Nam Woohyun, Lee Sungjong, Jang Dongwoo, dan Lee Howon. Mereka baru selesai latihan band di gedung kosong itu. Setelah menaruh peralatan band di dalam van, mereka akan melakukan tantangan meloncat ke dalam kolam dari ketinggian 15 meter. Myungsoo dan Dongwoo mendapat first round dan mereka sudah berada di balkon lantai empat.

          “Sijak!” teriak lima teman mereka memberi komando.

          Myungsoo dan Dongwoo pun  bersiap melompat. Dongwoo  meloncat tapi Myungsoo mengerem kakinya di tepian balkon. Dongwoo sukses tercebur ke dalam kolam.

Mereka heran karena Dongwoo tidak segera muncul dari kolam dengan kedalaman dua meter itu.

“Dongwoo-ya!” panggil Woohyun.

Tiba-tiba Dongwoo muncul dengan kepala berdarah akibat benturan. Baru saja Sunggyu mengulurkan tangan untuk menolong Dongwoo menepi, Saat itu juga terdengar suara sirine mobil polisi mendekat.

“Lari!” teriak Sungyeol.

Howon segera menarik Sunggyu dan mereka kabur meninggalkan Dongwoo yang terluka. Myungsoo menuruni tangga, berusaha menyusul teman-temannya. Dua orang polisi menolong Donggwo dan seorang lain melihat Myungsoo berlari. Dia mengejar Myungsoo dan pemuda itu akhirnya tak bisa melarikan diri karena terpeleset di parit. Tubuhnya terjerembab dan dia meringis kesakitan.

A Walk to Remember 

 

Kepala Myungsoo dibalut perban dan tangan kanannya memegang jangka. Dengan perasaan berdebar, pagi itu dia menunggu hukuman yang akan diucapkan oleh kepala sekolah di ruang BP.

Eom Hyoseop, guru BP kelas 3, memasuki ruangan itu dan tak lama kemudian dia membacakan keputusan rapat.

          “Setiap akhir pekan membantu mengajar anak-anak dengan mental terbelakang, membantu petugas membersihkan sekolah dan ikut klub drama untuk pementasan musim gugur.”

Kim Myungsoo menunduk mendengar hukuman yang harus dia terima, akibat laporan polisi kepada pihak sekolah tentang penyusupannya di area pabrik semalam. Semalam, polisi yang melakukan patroli mendapat laporan dari beberapa warga kalau hampir setiap malam, ada sekelompok pemuda yang menggunakan gedung kosong untuk latihan band dan membuat kegaduhan.

          Myungsoo bergabung dengan teman band-nya bernama The Chaser. Selama dua tahun ke belakang, mereka cukup terkenal dengan imej anak nakal di sekolah. Ketujuh pemuda itu tengah asyik bercana di luar kelas mereka. Di sana juga ada dan Choi Jinri, yeoja yang selalu menempel pada  The Chaser. Saat asyik bercanda, seorang gadis berambut lurus panjang lewat. Dia adalah siswa kelas sebelah, Bae Sooji, si culun yang sweaternya tak pernah ganti.

          “Sweatermu bagus,” kata Jinri dengan senyum manis padahal maksudnya hanya meledek.

          “Gomawo, “ jawab Sooji pendek dan segera masuk kelasnya.

Mereka menertawakan si culun Sooji ketika ia berlalu.

A Walk to Remember  

         

“Myungsoo-ya, irona! “ panggil ibu Myungsoo sambil mengguncang tubuh pemuda itu.

          “Sabtu libur kan, Eomma,” keluh pemuda itu malas sambil menutup kepalanya dengan selimut.

          “Kau lupa hukuman yang harus dijalani karena kenakalanmu?” tanya ibunya lagi yang sudah lima tahun ini membesarkan Myungsoo sendiri.

Setelah bercerai, ayah Myungsoo yang seorang dokter yang sudah menikahi perempuan lain tiga tahun lalu. Myungsoo segera bangkit mengingat hukuman yang harus dia jalani. Dengan kakinya yang masih pincang, dia bergegas ke kamar mandi.

A Walk to Remember 

 

Pemuda tampan tapi agak berantakan bernama Kim Myungsoo itu mencoba sabar melatih seorang anak yang mengalami depresi berat akibat kecelakaan. Tapi si anak malah berteriak memakinya. Myungsoo kesal dan ingin sekali pergi dari sana.

Di tempat sudut lain ruangan itu, Bae Sooji sedang melakukan aktivitas sama. Gadis berambut hitam itu memperhatikan Myungsoo yang tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik.

          Para pengajar anak-anak dengan mental terbelakang itu pulang menggunakan bus menjelang sore. Sooji duduk di samping Myungsoo yang mendengarkan Mp3 melalui earphone menempel di telinganya. Sooji mencoba berkomunikasi dengan orang yang selalu satu sekolah dengannya sejak TK tapi tidak pernah main bersama sejak kecil.

          “Kau harus lebih sabar menghadapi mereka,” ucap Sooji yang memakai blus selutut warna hijau motif bunga dipadu dengan sweater warna pink pucat yang selalu dia pakai setiap hari. “Mereka berbeda dengan anal normal.”

          Myungsoo mengabaikannya. Dia menaruh sikut kirinya di tepian jendela dan menyandarkan kepalanya di telapak tangan kirinya.

          “Anak yang tadi kau tangani bernama Kijoon,” Sooji menceritakan latar belakang bocah lelaki berumur 10 yang harus dibimbing Myungsoo.

Myungsoo kesal diajak bicara oleh gadis yang selalu jadi bahan olok-olokan teman segenknya itu. Sooji terus berbicara, bermaksud memberinya semangat agar tidak putus asa menghadapi anak-anak itu. Tapi Myungsoo acuh.

          “Aku rasa kau tidak mengenalku, “ kata Sooji.

          Lelaki yang memakai kemeja biru motif kotak dilapis sweater hitam itu melepas earphonenya. Melalui sepasang mata indahnya yang tajam, dia melirik sebal Sooji.

 “Aku tahu kau anak tunggal Bae seonsaeng, guru fisikaku saat SMP. Kau selalu memakai sweater yang sama. Kalau istirahat suka diam di perpustakaan, sukarelawan mengajar anak-anak menyebalkan itu dan anggota klub teater. Jadi sekarang diamlah!” katanya Myungsoo kesal lalu memalingkan wajah.

Gadis berkulit putih pucat, tanpa polesan make up dan jauh dari kata modis itu tersenyum kecil. 

“Digambarkan dengan sempurna.”

Itu pertama kalinya Myungsoo bicara pada Sooji meskipun selalu belajar di sekolah yang sama.

A Walk to Remember  

 

          Hari Minggu jam sepuluh, Myungsoo harus mengikuti latihan drama untuk pentas musim gugur. Sungyeol mengantarnya karena Myungsoo belum bisa menyetir dengan kakinya yang masih sakit akibat tabrakan saat kejar-kejran dengan polisi waktu itu.

          “Mianhae, aku tak bisa meringankan sedikit bebanmu,” ucap Sungyeol saat Myungsoo keluar dari mobilnya.

          “Gwaenchana,” respon namja berbadan tinggi dan  cukup tegap itu.

          “Aku kembali jam tiga nanti,” ucap si jangkung bertampang imut dan berkacamata itu sebelum melajukan mobilnya.

Sungyeol juga janji akan menjemputnya jam tiga sore ketika latihan usai. Semua anggota The Chaser  yang lain berterimakasih pada Myungsoo yang tak melaporkan mereka saat tertangkap polisi.

 

          Myungsoo malas sekali mengikuti latihan mulai dari olah vokal, olah tubuh, olah sukma, dan reading naskah yang ia rasa sangat membosankan. Dalam sebuah drama Inggris klasik itu, sutradara memberinya peran utama sebagai lelaki bangsawan. Lawan mainnya adalah Bae Sooji dan Yoo Ara.

          A Walk to Remember  

 

Saat di rumah, Kim Myungsoo terus mengeluh dengan aktivitas-aktivitas membosankan yang harus ia jalani selama sebulan. Tapi ibunya mengingatkan kalau Myungsoo harus menjalani hukuman itu kalau tidak mau dikeluarkan dari sekolah. Apalagi ini tahun terakhir di SMA.

          Saat melihat Sooji berjalan di depan rumah seberang, Myungsoo keluar dan menghampirinya.

          “Bae Sooji!” panggil Myungsoo sambil setengah berlari mendekati gerbang rumah Sooji.

          Sooji menoleh dan tidak jadi membuka pintu. Dia berjalan ke gerbang. “Ye, Kim Myungsoo?”

          Lelaki itu memintanya berbicara sebentar. Mereka berdiri berhadapan dibatasi pagar besi setinggi satu meter. Myungsoo  meminta bantuan Sooji untuk latihan naskah.

“Baiklah, aku bersedia membantumu. Tapi ada syaratnya,” ucap Sooji.

Marhaebwa!” pinta Myungsoo.

“Kau tidak boleh jatuh cinta padaku.”

Seketika si tampang dingin Kim Myungsoo tertawa terbahak-bahak. Dia berpikir memangnya dia buta atau gila, harus jatuh cinta dengan si culun Bae Sooji.

 “Tentu saja,” ucapnya enteng sambil tetap terkekeh.

A Walk to Remember  

 

Sooji menceritakan pada ayahnya setiap pulang sekolah Myungsoo akan ke rumah untuk latihan drama.

          Bae seonsaeng terkejut, “Apa? Si anak nakal itu? Jangan dekat-dekat dengan dia!”

          “Appa, kalau dengan hukuman itu Myungsoo bisa berubah kenapa aku tidak boleh membantunya untuk berubah? Aku yakin ia sebenarnya anak baik. Aku tahu dia seperti setelah kedua orangtuanya bercerai, “ kata Sooji.

 금강 대전

          Sejak hari itu, Myungsoo dan Sooji sering berlatih bersama setiap sore sepulang sekolah. Mereka selalu berlatih di sebuah taman di dekat kompleks rumah mereka, atau di rumah Sooji. Sore ini mereka memilih latihan di sebuah bukit kecil tepian sungai Geum. Lama-lama Myungsoo jadi tertarik dengan peran yang ia bawakan itu.

          “Ternyata kau punya bakat akting yang bagus,” puji Sooji.

          Myungsoo tersenyum kecil, “Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik.”

          “Pentas akan dilakukan sepekan lagi. Kau siap?” tanya Sooji.

          Myungsoo tersenyum lebar, membuat lesung di pipi kanannya terlihat jelas. “I’m ready,” jawabnya sambil menatap langit sore yang mulai bernuansa jingga.

          Sooji menatap wajah tampan itu dari samping. Dia tersenyum tipis mengagumi salah satu keindahan ciptaan Tuhan itu. Dilihatnya Myungsoo membidikan digicam yang selalu dia bawa ke langit barat. Senyum manis merekah karena pemuda itu puas melihat hasil jepretannya, pemandangan sunset di sungai Geum.

Bagi sebagian besar siswa di sekolah, Myungsoo adalah sosok yang menakutkan. Dengan tampangnya yang dingin ditunjang tatapan matanya yang setajam pedang. Tapi selama tiga pekan ini, Sooji menemukan sosok lain Myungsoo yang sebenarnya sering dia lihat sebelum perceraian orang tuanya. Myungsoo kecil adalah anak manis yang periang, berbeda dengan sosok yang setiap hari Sooji lihat di sekolah.

          “Kita pulang,” ucap Myungsoo sambil berdiri.

          Sooji pun ikut berdiri dan mereka pulang bersama.

A Walk to Remember  

 

          Bel tanda pulang berdering jam 2.30. Para siswa segera meninggalkan kelas mereka. The Chaser dan Choi Jinri berkumpul di depan gerbang sekolah. Mereka menunggu jemputan Sungjong dan Sungyeol. Bae Sooji lewat saat itu.

          “Mana sweatermu?” ledek Jinri melihat Sooji hanya memakai jas seragam sekolah, tanpa sweater maskotnya.

          Sooji hanya tersenyum lalu ia mengalihkan pandangannya ke Myungsoo, “Sore ini, aku tunggu di rumah.”

          Myungsoo terkejut. Keenam temannya dan Jinri menatap mereka heran. Dia takut ketahuan temannya sering latihan bersama Sooji.

In your dream,” ucap Myungsoo dengan nada melecehkan disertai seringai dingin.

          Sungjong dan Woohyun tertawa seketika, diikuti Jinri dan yang lain. Sooji tersinggung. Wajahnya merah padam dan dia segera melangkah cepat menunggu bus. Tak lama kemudian, bus datang dan Sooji tak menoleh sedikit pun pada mereka.

A Walk to Remember  

 

Sekitar jam 4, Myungsoo datang ke rumah Sooji. Tapi gadis itu  marah dan tak mau latihan lagi bersama Myungsoo, ia mengusir Myungsoo dari rumahnya.

Hya! Bae Sooji! Aku kan hanya bercanda,” teriak Myungsoo saat Sooji membanting pintu. “Jangan seperti anak kecil.”

Pintu rumah Sooji kembali dibuka dan Sooji menatap Myungsoo dengan perasaan benci.

          “Latihan saja sendiri kalau malu berteman denganku. Ternyata aku salah menilaimu,” kata Sooji sambil menutup pintu.

          “Sooji-ya, mianhae. Aku terpaksa seperti itu karena bagi mereka kau…”

          “Kha!” teriak Sooji dari dalam.

Aissh!” gerutu Myungsoo. Dia benar-benar ingin minta maaf tapi Sooji tak mau dengar.

A Walk to Remember  

         

Gedung teater Daejeon Art High School itu dipenuhi siswa yang menyaksikan pertunjukan musim gugur. Para orang tua siswa juga hadir dan duduk di antara deretan tamu undangan.

          Kelompok Sooji sedang memainkan drama terakhir dari serangkaian pentas drama itu. Saat ini, Yoo Ara yang sedang memainkan perannya hendak meninggalkan panggung pentas, tapi seseorang masuk dengan jubah panjang warna abu. Hoodie jubahnya menutupi setengah wajahnya.

          “Oh, orang baru. Mungkin ia tahu tentang mimpi itu, “ kata Ara pada pemuda bangsawan yang memakai setelan formal zaman Titanic.

Pemuda tampan dengan tatanan rambut klimis dengan belahan pinggir yang memperlihatkan semua permukaan keningnya itu adalah Kim Myungsoo. Saat Ara pergi, orang misterius berjalan mendekati kursi yang diduduki Myungsoo. Dia membuka jubahnya bergitu berhadapan dengan Myungsoo. Myungsoo terpana melihat seorang gadis cantik bergelombang dan polesan make up yang tak lain adalah si culun Bae Sooji.

          ’Yeppuda,’ guman Myungsoo dalam hati.

Myungsoo terpaku menatapnya sehingga dia sedikit gugup. Tapi dia bisa menguasai pentas. Sooji duduk dan mereka mulai melakukan percakapan. Dialog-dialognya bersama Sooji berjalan lancar.

Myungsoo tampil atraktif dan ekspresif. Dia malah lebih nyaman karena merasa suasana pentas ini berbeda dibandingkan saat latihan.

          “Lalu apa yang kau sendiri ketahui tentang mimpimu?” tanya Sooji.

          Myungsoo menatapnya lembut, tatapan yang bisa melelehkan  hati seorang gadis.

“Yang aku tahu, bahwa kau begitu cantik. “ jawab Myungsoo.

Semua kru kaget termasuk Sooji karena apa yang dikatakan Myungsoo tak ada dalam naskah.

          Myungsoo beralagak melakukan improvisasi barusan. Dia pun melanjutkan, “Oh ya, bantu aku mengingat mimpi itu. Nyanyikan lagu itu!”

          Sooji berdiri dan alunan musik terdengar. Dia pun mulai menyanyi.

There’s a song that inside of my soul.

It’s the one that I’ve tried to write over and over again.

I’m awake inthe infinite cold, but you sing to me over and over and over again.

So I lay my head back down, and I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours. I know now you’re myonly hope.

Sing to me the song of the stars.

Of your galaxy dancing and laughing and laughing again.

When it feels like my dreams areso far,

Sing to me of the plans that you have for me over again.

So I lay my head back down, and I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours. I know now you’re myonly hope.

 Suara merdu Sooji dengan teknik vokal yang baik membuat semua orang terpesona. Termasuk Myungsoo yang hampir melakukan kesalahan berekspresi. Dia seharusnya menunjukan raut berpikir meski matanya tetap mengikuti Sooji. Myungsoo malah terpaku menatap gadis culun itu yang kini sangat berbeda dengan balutan simple long dress dan sapuan make up.

I give you my destiny.

I’m giving you all of me.

I want your symphony.

Singing in all that I am.

At the top of my lungs,

I’m giving it back.

So I lay my head back down,

and I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours.I pray to be only yours.

I know now you’re myonly hope.

 

          Myungsoo berdiri dari kursi dan menghampiri Sooji begitu musik berhenti.

 “Nyanyian itu ada dalam mimpiku,” ucap pemuda itu begitu berdiri berhadapan.

          Sooji mengadapkan tubuhnya pada Myungsoo dan menatapnya sambil tersenyum tipis.

          “Kau orang itu,” lanjut Myungsoo. “Orang dalam mimpiku yang selama ini aku cari.”

          Myungsoo melangkah lebih dekat dan meraih kedua tangan Sooji. Sepasang mata menawan lelaki itu menyorotkan kehangatan dan kelembutan di saat yang sama. Penonton sangat kagum pada kemapuan akting Myungsoo. Tapi dengan tatapan seperti itu, perasaan Sooji berdebar tak karuan meski dia tahu itu hanya akting.

Myungsoo pun menaruh kedua tangannya di pundak Sooji. Layar siap ditutup dan akan mengakhiri pentas drama itu dengan adegan pelukan.

          Myungsoo pun menarik tubuh Sooji ke dalam pelukannya. Tapi dia menariknya kembali dan mendekatkan wajah mereka.

          Sooji melihat jarak wajah mereka kian dekat dan mata Myungsoo berada tepat di depan matanya. Myungsoo mendaratkan ciuman di bibir gadis itu. Layar ditutup sempurna dan semua orang bertepuk tangan kecuali Choi Jinri.

A Walk to Remember  

 

          Semua kru sedang membereskan peralatan di belakang layar. Setelah ganti kostum, Myungsoo seperti mencari Sooji yang menghilang sejak pentas usai. Myungsoo tahu Sooji sangat marah. Tadi Sooji mendorong keras tubuh Myungsoo setelah adegan ciuman. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.

          “Aktingmu hebat, Nak! Mari kita makan siang bersama, “ kata orang itu.

          Myungsoo menatap lelaki itu seksama. “Untuk apa Kim Seonsaeng ke sini?” tanyanya sinis.

Pria itu adalah dokter Kim, ayahnya. “Tentu saja menyaksikan pentas drama seperti orang tua lainnya.”

Myungsoo menatapnya tidak suka, “Mianhamnida, aku sedang malas makan.”

A Walk to Remember  

 

A week later,

          Suasana perpustakaan di jam istirhat siang itu sedikit berisik saat semua orang melihat Kim Myungsoo masuk. Semua siswa yang memakai jas seragam warna navy dan dasi burgundy itu saling berbisik.

          “Lihat, siapa yang datang,” kata seorang siswa yang sedang membaca.

          “Namja tampan itu untuk pertama kalinya ke sini,” kata yang satunya.

          “Tapi jangan pernah melihatnya, ia tak akan suka. Walau tampan, ia tidak punya sikap yang manis kepada orang lain,” ungkap gadis berambut panjang.

          Semua siswa yang ada di perpustakan menatap Kim Myungsoo heran karena gitaris grup band sekolah, The Chaser, yang dikenal berandalan itu hampir tak pernah menginjakan kakinya di perpustakaan.

Kim Myungsoo tidak mempedulikan tatapan orang-orang. Dia terus berjalan dan mengedarkan pandangan, mencari seseorang. Akhirnya ia menemukan Sooji di salah satu kursi lalu duduk di sampingnya.

          “Bae Sooji, sampai kapan kau tak mau memaafkanku?”

 

          Sooji melirik flower boy berwajah dingin itu sekilas, “Kau hanya membuang waktu. Bukankah orang sepertimu malu berteman denganku?”

          “Itu sudah berlalu. Aku mohon, aku menyesal. Aku benar-benar ingin berteman denganmu,” pinta Myungsoo sungguh-sungguh.

          Gadis berponi itu tersenyum tipis, “Jeongmalyo? Tapi jangan bercanda, Kim Myungoo. Aku tak punya waktu bicara denganmu. Tidakkah kau lihat aku sedang belajar?“

          “Keundae,” ucap Myungsoo dengan suara yang agak keras. Hampir semua orang menoleh dan menatapnya. “Aku sudah minta maaf. Aku benar-benar tulus,” ucapnya kemudian dengan nada rendah.

          “Kha!” ucap Sooji dengan tatapan dingin. “Atau mau kulaporkan mengganggu ketentraman pengunjung?”

A Walk to Remember  

 

 

Choi Jinri merasa kalau Myungsoo akhir-akhir ini seperti mulai menjauh. Myungsoo juga jarang bergabung dengan The Chaser, padahal hukuman telah berakhir. Jinri cemburu mendengar gosip kalau Myungsoo sering mendekati Sooji si culun itu. Ia tidak percaya begitu saja. Tapi teman-temannya juga membenarkan berita itu terutama Sunggyu yang paling baik di antara mereka dan Sungyeol yang paling dekat dengan Myungsoo.

Tanpa sepengetahuan Sunggyu, Jinri mengajak The Chaser untuk merencanakan sesuatu. Meski terkenal paling usil, tapi kali ini Sungyeol memilih tidak ikut campur.

… TO BE CONTINUED …

A Walk to Remember  

Advertisements

21 thoughts on “A Walk to Remember : Love is…

  1. Unnie-ya….. Pas lihat ini kmrin dan baca sebagian, aku lgsg ngeuh. Dan inget kaya pernah baca di rmh lama. Dan bnr kan 😀 tp lupa dulu di rmh lama gmna ceritanya krn dulu baca itu gtw cast -_-

    Okeee myungsoo kena batunya, dijauhi sm sooji yg dulu dia sring acuhkan ahaha. Lanjut ah

  2. Onnieya, baca FF ini bikin Nana nostalgia ke jaman pas baca novel sama film A Walk to Remember. Film dan novelnya sama-sama keren. Cerita ini juga keren, sampe bingung mau komentar apa hehehehehehe cuman ada beberapa typo yang termaafkan kok Onnie 😉

    Ayo Onnie next story deh, kita buktikan kalau kita punya kehidupan sendiri, dan ngga pernah stalkerin orang hahahahahaha ^^

    1. ㅎㅎㅎㅎ
      Kurang teliti terus ya
      Ini bener keterlaluan sering injek ranjau typo

      Dulu pas dapet tugas literature, pas film itu tayang d TV swasta gitu
      Jadi langsung dipilih
      Berharap ini nostalgia yang indah ya

      Kamsahamnida

  3. Chelsea, Unni selalu ingin memiliki novel ini. Mau komen apa ya? Diksi ketinggalan zaman seperti kata Chelsea, sama sekali tidak. Hanya Unni sengaja minta lagu Cry dimasukkan di chapter 2. Pas banget lagunya. Pemilihan Suzy ini hanya pendapat sepihak, terlalu cakep.

    1. annyeong Unniya 🙂

      hmmm bukan maksud diksi kuno.
      I meant itu waktu G masih level intro to literature
      tapi udah edit beberapa yg agak2 aneh. kekeke.
      saran diterima banget Unni. Kamsahamnida

      1. woooah chonmaneyo eon hahaha ganggu mlm2 nih kyknya ^^ mian aq klo mlm emng suka begadang hehehehe…

        aaaah ff yg d wp eoni udh pada nangkring tuh d bromaks wp wie ^_^ eee iya brhubung newbi nih pake wp klo d bromaks seandainya ad pmbaharuan pd ff yg d bromaks bakal lngsung nambah g sih eon di wpnya?

        maklum eon blm ngrti bnget pake wp

  4. Dulu pernah lihat ini di page lama tapi belum pernah baca dan ternyata woww gege banget ya.
    Kirain oneshot. Oke, sekarang saya sangat penasaran kelanjutannya.
    L disini bad boy yang agak good boy. Ahh, michi! Suka karakter L disini. LANJUTTTTTT!!

    1. anyyeong Win…
      iya ini ada beberapa perubahan.
      1. Cast ga pake OC
      2. Setting
      3. Perubahan berapa kalimat
      4. Ending

      Mianhae ini diksinya simple. ㅎㅎㅎ.
      Tulisan taun 2006

      Kamsahamnida

  5. Omo ff baru euuung. Lee sungyeol kau mnk cute gak ikut2an ma mereka :D. Lagi2 gak bisa coment panjang2 #plaaaak yg pasti like this 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s