Aníron [Part 1]

art-digital-art-dragon-elf-fairytale-Favim.com-332790

Aníron

ansicangel

Fantasy, Romance | Chapter | PG-15

Cast :

Lúthien Isilrá (OC)

Mark GOT7 as Mark / Elessar

markkk

Alatáriël (OC)

Elrohir (OC)

Finrod (OC)

Erestor (OC)

Storyline : Terinspirasi dari ‘The Lord of The Ring’, film, novel, dan beberapa FF lain. But, it’s real my idea.

Happy Reading!!!

No Plagiator! Don’t Do Copycat! No Silent Readers!!

***

~prologue~

Jubah hitam berkibar melambai seiring langkah halus tanpa jejak suara yang terdengar. Meliuk mengikuti lorong-lorong yang berliku. Begitu tenang tetapi melaju dengan cepat. Mata abu-abu yang bersinar teduh terlihat begitu tajam seperti sebuah belati yang selalu diasah. Namun, terlihat begitu sendu dan dingin secara sekaligus.

Princess of the Nand Mallorn, Lúthien Isilrá, merupakan perpaduan seorang gadis yang cantik, anggun dan juga mungkin berbahaya. Melewati sebuah undakan batu yang berada di sudut selasar setelah memastikan tak ada seorang pejaga pun yang masih berkeliaran di tengah malam buta. Ia masih harus berjalan melewati sebuah jembatan yang menghubungkan dengan sudut ruangan lain.

Langkahnya terhenti ketika ia menghadap sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu ek yang terukir dengan simbol-simbol Elf yang hanya dimengerti oleh mereka yang memahaminya. Tanpa menyentuhnya, secara tiba-tiba pintu itu terbuka dengan perlahan. Memperlihatkan sebuah ruangan dengan cahaya remang-remang walaupun api di perapian masih menyala.

Ia memasuki ruangan itu yang tak lain adalah sebuah kamar tidur. Dari matanya, ia dapat melihat sesosok pria dewasa yang masih terlihat muda dengan rambut panjang lurus berwarna hitam legam yang terurai dengan indah. Matanya terpejam sementara terdengar oleh pendengaran Isilrá yang tajam suara hembusan napas yang teratur. Ia tertidur pulas.

Sedikit menyingkapkan kelambu tipis yang menghalangi pandangannya, Isilrá pun menduduki tepi ranjang. Lalu menatap lekat-lekat wajah pria itu yang terlihat tampan dan menawan. Dengan gerakan perlahan Isilrá mulai mengusap pipinya kemudian menelusuri wajahnya yang mulus tanpa cela dengan ujung jarinya, melewati kening, pelipis hingga ujung hidungnya yang bangir.

Isilrá membelai dengan lembut rambut panjang pria itu sementara setitik air mata sudah menggantung di pelupuk matanya yang lentik.

Adar, Goheno nin. (Ayah, maafkan aku) ucapnya lirih, “Kali ini biarlah aku menuruti kata hatiku sekali saja. Aku hanya tak ingin menyesal. Walaupun Adar tak mengizinkanku, aku tetap akan pergi.”

“Kuharap Adar mengerti. Jaga diri Adar baik-baik. Aku akan merindukan Adar,”

Ia mengecup kening ayahnya dengan sayang sembari mencoba menahan tangisannya yang telah pecah. Kemudian ia melepaskan sebuah kalung yang selama ini bertengger di leher jenjangnya sejak kecil, berbandul pohon yang melingkar dengan warna emas yang cemerlang, simbol negaranya. Isilrá meletakkan di telapak tangan ayahnya dan membisikkan sebuah kalimat di telinga lancipnya tanpa suara.

GoldenTree

“Aku akan segera pulang begitu urusanku selesai. Le melin, Adar. (aku mencintaimu, ayah)

Ia tak ingin berlama-lama di sana. Ia takut ayahnya akan terbangun dan mendapati tatapan memelas di wajahnya, menahan agar Isilrá tidak pergi.  Dengan membawa perbekalan yang cukup, belati Elf kembar yang berwarna perak, dan sebuah busur beserta anak panah yang berada di balik punggungnya. Ia sudah siap untuk pergi.

Isilrá memasang tudung mantelnya menutupi rambut panjangnya sesekali melirik ke arah belakang tempat dimana ia menghabiskan waktunya lebih banyak di sana.

Noro lim, (larilah cepat)” ujarnya lirih pada kudanya ketika melintasi Golden Gate meninggalkan Nand Mallorn. Berpacu bersama angin yang menusuk, berlalu cepat membelah malam.

ᾦÒ~Aníron~Óᾧ

I môr henion i dhu:
Ely siriar, êl síla
Ai! Aníron …

From darkness I understand the night:
dreams flow, a star shines
Ah! I desire …

~Min (one)~

Langkah-langkah pelan menggema di dalam hutan Nand Mallorn Utara. Kadang terdengar cepat seperti suara tapak kuda yang tengah berlari, tetapi juga kadang lambat. Kilau rambut yang berwarna coklat madu terpantul jelas diantara pepohonan besar dan bengkok yang selalu gelap tak pernah diterpa cahaya matahari.

Sesekali ia melompat melewati sulur-sulur yang merambat menghalangi jalannya. Bergerak kilat seiring napasnya yang memburu. Tak ia pedulikan mata-mata hitam yang bersembunyi di balik pohon. Ia merasa tak terganggu dengan makhluk-makhluk yang tinggal di sana, toh mereka tidak akan menyerang. Setidaknya ia sudah mengenal dan berteman dengan mereka sejak beribu-ribu tahun.

Ia sudah terbiasa menjelajahi kawasan hutan itu yang menjadi tempat ia berlatih setiap hari. Belajar memanah bahkan mengayunkan pedang. Hutan adalah jiwanya. Jiwa bagi seorang Elf Nand Mallorn.

“Isilrá,”

Sebuah suara yang dikenali memanggilnya dan dengan seketika menghentikan langkahnya, ia berdiri tak jauh dari Golden Tree yang tumbuh kokoh di pinggir air terjun. Ia menghadap ke arah seorang Elf yang tampak bercahaya memamerkan keelokan rupanya yang bersurai sama sepertinya. Jangan hiraukan pakaian yang membalut tubuh rampingnya dengan sutra yang berwarna putih keabu-abuan.

Hanar (kakak),”       

“Kemana saja kau? Aku sudah mencarimu ke semua tempat,” keluh kakak lelakinya, Alatáriël.

Terdengar helaan napas kelegaan dari pemuda Elf itu.

“Ada apa mencariku? Tak biasanya,” kata Isilrá heran sambil menyarungkan pedangnya.

Adar dan Hanar Elrohir telah kembali,” jawab Alatáriël dengan senyum yang mengembang.

Mereka berjalan beriringan melewati jembatan yang membelah Brown Forest River. Cahaya matahari bersinar terik menerpa bangunan-bangunan putih membuat mata Elf Isilrá yang tajam menyipit saking silaunya. Terkadang ia berpikir bahwa Nand Mallorn begitu tenang dengan pepohonan yang rindang dan hijau. Damai dengan alunan khas nyanyian para Elf.

Mereka kemudian menelusuri sebuah lorong panjang dan melewati sebuah taman dengan air mancur yang berada di tengah-tengah. Taman tampak indah di mata Isilrá, tetapi di sisi lain ia menangkap sesosok anak laki-laki berambut pirang terang yang berkisar berusia 10 tahun. Berlari kian kemari seperti ada pegas yang berada di kakinya, begitu lincah. Satu yang ia ketahui bocah itu bukan Elf.

Alatáriël dapat menangkap sinar keheranan yang terpancar dari mata adik perempuannya.

“Anak itu…”

“Aku tak tahu secara pasti, tapi aku yakin dia anak salah seorang anggota council yang diadakan Adar.” potong Alatáriël, “Mereka masih mengikuti pertemuan saat ini, ku harap Adar dapat menjelaskannya kepada kita nanti tentang kekacauan ini.” 

Isilrá tak menanggapi perkataan kakaknya. Ia sangat tahu apa yang dirasakannya. Middle-Earth (Dunia tengah) sedang kacau saat ini. Kekuatan kegelapan mulai menyebar dan meninggalkan banyak terror di seluruh penghuni Middle-Earth. Penyebab ini semua adalah dari seorang penyihir gelap –yang menamai dirinya sebagai Môrgorth- yang ingin menguasai Middle-Earth.

Pintu tempat pertemuan itu terbuka lebar, diikuti beberapa orang yang keluar dari ruangan tersebut. Isilrá dapat melihat berbagai ras dan suku di Middle-Earth yang baru saja berkumpul. Ada bangsa Hobbit, Dwarft, manusia, bangsa Dragonian, suku Naur, Negara Cahaya, bahkan Wizard. Mereka semua menepi dan membungkuk hormat, memberi jalan kepada kedua kakak-adik itu memasuki ruangan pertemuan.

Terlihat tiga pria yang sedang bercengkerama dengan serius. Salah seorang dari mereka menoleh ke arah Isilrá dan Alatáriël. Ia pun berdiri diikuti oleh dua pria yang lain. Dengan tenang ia maju selangkah sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

“Alatáriël, Isilrá.” sambutnya.

Adar,” seru Alatáriël lalu berhambur ke dalam pelukannya.

Isilrá terdiam sejenak memperhatikan dua orang laki-laki yang berada di samping kanan-kiri ayahnya. Di sebelah kirinya adalah Elrohir –kakak tertuanya- yang merupakan pangeran mahkota penerus kerajaan Nand Mallorn. Tubuhnya tegap dan penampilannya persis seperti Adar mereka layaknya pinang dibelah dua. Wajahnya terlihat bijaksana dan tenang, seorang calon pemimpin yang kuat.

Sementara di kanannya, tampak seorang pemuda yang tak kalah tampannya dengan Elrohir. Dengan jubah biru tua dan sebilah pedang yang tersandang di pinggangnya. Tatapan matanya tajam, tetapi lembut secara bersamaan.

“Erestor,”

My go-vah-nen, Riel Isilrá (Senang bertemu, Putri Isilrá).” sapa Erestor sembari memamerkan senyumannya.

Isilrá menganggukkan kepala sebagai balasan kemudian tersenyum, “Lay swee-lonn (aku menyambutmu), Lord of Dragonian.”

Iell- nîn (putriku),” panggil ayahnya pada gadis Elf itu selepas memeluk Alatáriël, “Kau tak merindukan Adar?”

Isilrá tersenyum, mengangguk. Lalu berlari ke arahnya, memeluk dan mencium aroma tubuh ayahnya yang sudah lama ia rindukan.

Ni milya tye (aku merindukanmu), Adar .” ujar Isilrá dengan mengeratkan dekapannya pada ayahnya.

“Oh, aku dilupakan.” gerutu Elrohir yang merasa diacuhkan.

“Maafkan aku, Hanar.” ungkap Isilrá menyesal lalu beralih memeluknya.

Setelah mereka melepas rindu, mereka berempat duduk dengan formasi melingkar di sebuah bangku yang terbuat dari batu cadas yang dikelilingi sebuah meja batu bundar yang besar.

“Sejauh ini belum ada pergerakan yang berarti dari Môrgorth, tetapi kita harus berhati-hati jika bertemu kumpulan Orc, Nazgûl yang beterbangan, kaum Gorgor, bahkan pasukan Uruk-Hai.” tutur Erestor.

Isilrá menghelakan napasnya, ia sangat mengerti bahwa kaum-kaum tersebut adalah pendukung Môrgorth. Penyerang yang membabi-buta dan brutal.

“Aku beserta 6 utusan yang lain akan mencoba menelusuri ke daerah Timur karena ku dengar pasukan Uruk-Hai mulai menguasai Ten Alder. Kami akan pergi ke benteng terakhir Ten Alder, Govannas. Selain itu aku ingin meminta bantuan kalian,” lanjut Lord of Dragonian itu sambil membalas tatapan pandangan para Elf yang sedari tadi memperhatikannya.

“Apakah kalian sudah bertemu dengan Elessar kecil?” ujar Elrohir pada kedua adiknya.

“Oh, ternyata anak kecil itu anakmu, Erestor. Pewaris tahta bangsa Dragonian,” kata Alatáriël dengan takjub.

“Ya, aku ingin meminta tolong untuk menjaganya sementara aku pergi. Kuharap kalian bersedia,” ucap Erestor.

“Tentu saja. Isilrá dapat menjaganya dengan baik. Dia sangat menyukai anak-anak. Benar begitu ‘kan, Isilrá?” ujar Alatáriël dengan senyum yang jenaka sedangkan tatapannya sarat dengan intimidasi.

Gadis Elf itu memutar bola matanya bosan. Kakaknya yang satu ini adalah seorang pemaksa yang ulung.

ᾦÒ~Aníron~Óᾧ

Isilrá dapat melihat raut wajah kesedihan anak lelaki berambut pirang seperti cahaya matahari sore, yang ia lihat saat di taman tadi. Berdiri menatap ke tujuh utusan yang pergi meninggalkan Nand Mallorn menuju Govannas dengan menunggang kuda. Ia dapat merasakan perasaan bocah itu. Jangan heran karena Elf diciptakan dengan perasaannya yang lembut dan peka.

“Halo,” sapa Isilrá hangat.

Anak lelaki tersebut mendongak. Mata biru lembayungnya menatap lekat ke arah iris hijau zamrud Isilrá. Ada sesuatu yang mengusik hatinya ketika melihat mata anak itu. Matanya berbinar indah seperti Laut Teduh dan tak bisa dijabarkan. Begitu berbeda dan menarik, seperti ada daya magnet yang selalu memaksanya untuk berdekatan dengannya.

Mára aurë (halo),” balas anak itu.

Isilrá memandang anak itu takjub.

Pedekh eneth lín? (Apakah kau berbahasa Elf?)” tanyanya kagum.

Anak lelaki itu menggeleng, “Ada (ayah) yang mengajariku.” jawabnya.

Isilrá mengangguk mengerti dan tersenyum. Ia sudah menduga secara pasti bahwa Erestor tidak mungkin tidak membekalinya ilmu. Seumurannya pasti sudah mempelajari minimal 5 bahasa.

“Man eneth lín? (Siapa namamu?)”

“Mark eneth nîn, (namaku adalah Mark)” jawab anak lelaki itu.

Mark. Itulah nama yang diketahuinya, jati diri yang disembunyikan Erestor, ayahnya. Merupakan  nama kecil pemberian ibunya sebelum menginjak umurnya yang ketujuh belas. Di bangsa Dragonian jika seseorang telah memasuki umur tujuh belas –dimana kedewasaan diukur- akan menyandang nama yang telah disiapkan sebelum ia dilahirkan. Biasanya nama tersebut diberikan sang ayah saat anaknya masih berada di kandungan. Itu yang Isilrá tahu.

“Kau pasti putri bungsu Anar (Raja) Finrod dan adik Elrohir, Riel Isilrá.” ujar Mark.

Gadis itu tersenyum sambil mengangguk, “Ada-mu yang memberitahumu?”

Mark berpikir sejenak. Ia mengangguk lalu detik kemudian berubah menjadi menggeleng, membuat Isilrá mengenyitkan dahinya.

Ada sempat menceritakan tentang kalian secara garis besar, tetapi Elrohir yang menjelaskanku semuanya.” jawab Mark.

Isilrá dapat menyimpulkan bahwa hubungan Mark dengan kakak lelakinya itu cukup dekat, itu dapat ia dengar dengan panggilan Mark padanya. Belum sempat mencerna keadaan, ia tersentak begitu merasakan sesuatu asing menyentuh rambutnya yang lurus dan panjang.

“Apakah Riel baru saja berjalan-jalan di dekat air terjun?” tanya Mark dengan pandangan mata mengamati rambut gadis itu sementara jari-jarinya masih menempel.

Belum sempat Isilrá menjawab, Mark menarik tangannya dan menunjukkan sebuah daun kering yang berwarna emas.

“Ketika rombongan memasuki gerbang Nand Mallorn, aku melihat sebatang pohon yang berwarna emas tumbuh di dekat air terjun,”

Isilrá tertawa kecil, anak ini sungguh pintar. Ia pun mengacak rambut Mark yang beraksen ikal dengan pelan, rambut yang berbeda dengan miliknya.

“Analisamu benar sekali, anak muda. Oh, ya panggil saja aku Isilrá.” katanya.

Anak itu mengangguk cepat, setuju.

“Isilrá, maukah kau menemaniku mengelilingi Nand Mallorn?” katanya setelah beberapa saat.

“Tentu saja, Mark. Sebagai tuan rumah yang baik, aku akan mengajakmu berkeliling. Mari,” ajak gadis Elf itu sambil mengulurkan tangan kanannya.

Mark menyambutnya dengan senang hati. Saat jemarinya menyentuh telapak tangan Isilrá, ia dapat melihat mata anak itu bersinar indah. Jernih dan terlihat tak berdosa, polos. Isilrá begitu terhanyut.

“Isilrá,” panggil Mark, “Ayo, aku sudah tak sabar untuk berkeliling.”

Isilrá tersenyum melihat kelakuannya yang melompat-lompat girang dan antusias.

“Tentu. Gwaem! (Ayo!)” ujar Isilrá kemudian mulai berjalan menuntunnya.

ᾦÒ~Aníron~Óᾧ

Hitam pekat menyelimuti pandangan Mark. Angin berhembus pelan menggoyangkan gorden yang berjendela terbuka. Ini sudah lewat tengah malam dan api di dalam perapiannya sudah mulai padam, tetapi ia tak kunjung tertidur. Ia benar-benar tak bisa tidur.

Bocah berumur 10 tahun itu beringsut bangun dan mulai meninggalkan ranjangnya. Tanpa alas kaki dan dengan langkah perlahan juga takut-takut, ia berjalan keluar kamarnya menuju sebuah kamar yang berada persis di sebelah. Tanpa mengetuk pintu bermaksud agar tak menganggu si empu kamar, ia membukanya secara perlahan.

Ia mengerjapkan kedua matanya begitu melihat sesosok gadis cantik sedang berdiri di balkon kamarnya. Memandang bulan purnama yang tampak besar. Mark mengurungkan niatnya untuk masuk, tetapi sebelum ia sempat beranjak dari tempatnya berdiri Isilrá sudah menoleh kearahnya. Membuat Mark terperanjat.

“Mark,” panggilnya lembut, “Kau belum tidur?”

Mark menggeleng pelan sembari mengerucutkan bibirnya, dan itu terlihat lucu di mata Isilrá.

“Kemarilah,”

Dengan patuh Mark menuruti perkataan gadis itu. Ia berjalan menyongsong tangan Isilrá yang terulur padanya. Kemudian Isilrá pun berjongkok menyamai tingginya dengan anak itu.

“Mengapa kau belum tidur?” tanyanya ingin tahu.

“Aku tak bisa tidur,” sahut Mark pelan.

Isilrá mengerti jika anak seusia Mark akan mengalami kesulitan tidur jika jauh dari rumahnya.

“Kalau kau mau, kau bisa tidur di sini.” tawarnya yang disambut anggukan dari anak itu.

Mereka akhirnya berbaring di tempat tidur. Mark berusaha menyamankan dirinya sebaik mungkin. Kalau saja ayahnya tidak meninggalkannya, ia mungkin sudah merengek untuk memintanya menemani tidur. Namun, kini kenyataannya berbeda. Ayahnya tak mengatakan kemana akan pergi dan hanya berpesan supaya ia berhati-hati. Selain itu ayahnya juga berjanji akan kembali secepatnya untuk membawanya pulang.

Jujur, ia sangat kehilangan ayahnya dan amat merindukannya. Namun, perasaannya itu dapat ditekannya kuat ketika ia berada di Nand Mallorn. Ia sama sekali tak merasa kesepian dan melupakan kesedihannya karena keberadaan Isilrá dan kedua kakak laki-lakinya. Ia merasa tenang dan nyaman tinggal di sini, ia merasa Nand Mallorn seperti rumahnya di Ivor yang terletak di ujung Barat Middle-Earth.

Mark mengeratkan selimutnya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Isilrá. Ada sesuatu yang menarik hatinya, ia tak tahu perasaan apa itu. Saat pertama kali melihatnya, ia sangat tertarik pada gadis Elf itu. Wajahnya cantik, halus, dan putih tanpa cela. Sejak dahulu ia ingin sekali mempunyai satu atau lebih saudara, tetapi sayangnya ibunya meninggal saat melahirkannya. Ia harus menyimpan keinginannya, kecuali ayahnya berniat menikah lagi. Tapi, sampai saat ini ia tak melihat tanda-tanda ayahnya tertarik dengan seorang wanita.

“Kata Elrohir, kau pandai memanah. Sehn teer? (Apakah itu benar?)” tanyanya.

Isilrá tersenyum, “Elrohir sepertinya sudah cerita banyak padamu. Kalau boleh tahu, apa yang dia ceritakan?”

“Dia berkata kalau adiknya sangat cantik, pandai memanah, berkuda, berpedang, bahkan melihat masa depan.” tutur Mark.

“Dia terlalu membesar-besarkan,” sahut Isilrá.

“Elrohir juga berkata kalau adiknya itu sangat rendah hati,” tukas Mark cepat.

Isilrá terhenyak mendengarnya. Lagi-lagi ia hanya tersenyum menanggapinya. Mark sungguh pintar dan ia kagum dengan jalan pemikiran anak itu.

“Bisakah kau menyanyikan sebuah lagu untukku? Kata Elrohir suaramu bagus. Lagipula aku bisa cepat tertidur jika ada seseorang yang menyanyikan lagu untukku,” pinta Mark dengan sangat.

Isilrá menghelakan napasnya sebelum mengiyakan. Dan ia pun mulai menyenandungkan sebuah lagu.

Tiriel arad ‘ala môr
minnon i dhû-sad oltha
Ai! Aníron Mark

Tiro! El eria e môr
I ‘lir en êl luitha ‘uren
Ai! Aníron Mark

Having watched the day grow dark
I go into the night – a place to dream
Ah! I desire Mark

Look! A star rises out of the darkness
The song of the star enchants my heart
Ah! I desire Mark

Lambat laun Mark sudah jatuh tertidur, pergi ke alam mimpi meninggalkan Isilrá yang masih terjaga. Mark menggeliat perlahan dan mendekatkan tubuhnya ke arah Isilrá. Isilrá agak terkejut begitu melihat tangan mungil itu berada di atas dadanya. Ia menatap Mark yang tertidur pulas sambil menahan senyumnya. Ia pun mengelus puncak kepala bocah itu secara perlahan seakan-akan seperti benda yang dapat pecah kapan saja.

Isilrá pun mencoba memejamkan kelopak matanya. Bayang-bayang gelap merasukinya, membuatnya sesak. Namun, detik kemudian bayangan gelap itu berpendar membentuk warna-warna cerah. Ia dapat merasakan angin menerpanya pelan menerbangkan rambutnya. Melewati kabut tebal yang menghalangi jalannya, tetapi ia tak merasakan kakinya berjalan. Ada sesuatu yang membawanya dan ia tak bisa melihat apa itu. Yang ia rasakan adalah tubuhnya berada di awang-awang, melayang.

Kabut itu mulai menipis dari pandangannya. Dan akhirnya ia terbebas dari kabut yang diketahuinya sebagai awan. Hamparan padang rumput nan berbukit menyapanya. Ia merasa sama sekali tak terkejut melihat apa yang membawanya. Seekor naga besar bersisik berwarna hijau zamrud, berduri tajam di bagian ekornya, bertanduk panjang serta bergigi taring dan lancip.

Matanya yang besar dan berwarna emas kekuningan menatap tajam ke arah Isilrá yang berada di punggungnya. Isilrá tidak berteriak atau memanahnya, melainkan tersenyum ke arah naga itu yang sedang membawanya.

Ribo lim (terbanglah cepat), Mark.” bisiknya.

Isilrá terbangun dengan napas yang memburu. Bernapas lega mengetahui dirinya masih berada di atas tempat tidur. Aman, tak ada naga yang membawanya. Dengan cepat ia menoleh pada Mark yang sama sekali tidak terganggu dengannya. Ia pun bangkit dan meyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur, mencerna hal yang ia mimpikan tadi. Matanya menatap lurus bocah yang tengah tertidur lelap di sampingnya.

“Eldanár, apakah ini yang kau maksudkan?” ucapnya pelan yang disahuti tiupan angin.

ᾦÒ~Aníron~Óᾧ

Suara anak panah yang dilepaskan dari busurnya terdengar berdesing cepat. Satu-satu daun dari dahan pohon berguguran meninggalkan sarangnya. Jatuh secara perlahan, terbawa angin. Gaun panjang menyapu tanah yang tertutupi dedaunan yang kering berwarna coklat. Begitu rapuh ketika langkah-langkah kaki menginjaknya, menimbulkan suara gemerisik renyah.

Isilrá mengambil beberapa anak panah yang meleset jatuh dari sasarannya dan menatap seorang bocah lelaki berambut pirang yang mengerucutkan bibirnya sempurna. Terdengar olehnya desahan napas bocah itu. Terdengar kesal dan kecewa. Bukan karena Isilrá, melainkan kesal pada dirinya sendiri.

“Ini sudah sepekan lebih aku berlatih memanah, tetapi mengapa aku belum dapat berhasil?” keluhnya.

Isilrá menghampirinya, menepuk sebelah pundaknya sebagai tanda motivasi. “Baiklah. Sekarang perhatikan aku,” ujarnya.

“Kedua tangan harus stabil. Saat melepaskan anak panah, tanganmu yang memegang busur ikut bergerak. Cobalah lagi, dengan mempertahankan posisinya.” Isilrá mencoba memberikan contoh.

Ia mengambil satu anak panah, “Min (satu),” satu anak panah lagi. “Tâd (dua),” lagi, dan lagi. “Neledh, Canad, Leben.(tiga, empat, lima)”

“Hei, cukup! Hentikan! Kau menghabiskan jatah anak panah yang harusnya aku lemparkan,” gerutu Mark sebal.

Isilrá tertawa. Ia tahu kalau sebenarnya Mark iri padanya.

“Maaf. Baiklah, kita coba lagi,” katanya.

Dengan terpaksa Mark menuruti kemauan gadis Elf tersebut.

“Seperti ini?” Mark mencoba busurnya. Dan Isilrá berjongkok di belakangnya, dengan tangan menjulur ke depan, membenarkan posisi tangan bocah lelaki tersebut.

“Tahan,” ucap Isilrá, tepat berada di sisi kepala Mark. “Kau harus memperhatikan dengan baik sasaranmu, dan arahkan anak panahnya dengan benar.”

Dan anak panah pun diluncurkan, tetapi tak sesuai yang diharapkannya.

“Aku memang payah dalam memanah,” keluhnya kecewa.

“Lebih baik aku berhenti saja,” lanjutnya dengan melempar busurnya ke tanah.

Isilrá memungut kembali anak-anak panah yang berserakan seraya tersenyum.

“Benarkah? Bukankah kau yang memintaku untuk mengajarimu memanah? Bukankah pula kau ingin mengalahkanku?”

Mark terdiam lalu mendongakkan wajahnya menatap iris Isilrá lekat, “Aku akan mengalahkanmu. Suatu saat nanti,” ujarnya yakin.

Senyum Isilrá mengembang mendengarnya.

“Kau sangat mirip ibumu,” katanya perlahan.

Mark menggeleng, “Baw (Tidak). Banyak yang bilang kalau aku mirip ayah,”

“Memang benar jika penampilan dan sebagian besar sifatmu menurun dari ayahmu. Tapi, kau harus menyadari jika sebagian sifatmu yang lain berasal dari ibumu,”

“Kau mengenal ibuku?” tanya Mark tertarik.

“Sangat. Kami tumbuh bersama di sini,” jawab Isilrá.

“Ibuku berasal dari Nand Mallorn?” kata Mark tak percaya.

Gadis Elf itu mengangguk.

“Seperti apa ibuku?” tanya Mark antusias melupakan busurnya yang sudah sedari tadi diletakkan di tanah.

Isilrá menatap Mark sendu, “Dia wanita yang cantik dan baik,”

Ia menyesali tindakannya yang bodoh dengan menceritakan tentang ibu bocah itu. Sepertinya itu bukan kapasitasnya untuk menceritakan hal itu kepadanya. Tidak saat ini. Terlebih Erestor belum bercerita banyak pada Mark tentang asal-usulnya.

Seulas senyum terpatri di wajahnya, menunduk dan membelai rambut Mark lembut.

“Jika waktunya sudah datang, kau akan tahu Mark.”

Seketika wajah Mark berubah. Senyumnya memudar. Isilrá dapat menangkap raut kekecewaan di wajahnya.

“Mengapa setiap orang selalu berbicara seperti itu padaku?” raungnya marah, “Mengapa aku harus menunggu? Mengapa tidak sekarang saja? Aku tak suka!”

“Mark!” panggil Isilrá ketika melihat bocah lelaki itu berlari meninggalkannya.

Mark tak memperdulikan panggilan Isilrá. Yang ia lakukan hanya berlari. Dengan sekuat tenaga kakinya ia langkahkan dengan cepat.  Matanya mulai basah, ia tak mau mengakui dirinya jika ia menangis.

‘Kenapa semua orang sama saja?’ pikirnya, ‘Aku kira selama ini Isilrá berbeda, tetapi ternyata dia sama dengan yang lain. Aku membenci mereka,’

Ia menghentikan langkahnya, mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah. Dengan bersandarkan pohon ek ia menduduki dirinya. Matanya menatap nyalang pemandangan sekitar. Ia mendecakkan lidahnya begitu tahu jika dirinya sudah memasuki kawasan hutan terlalu jauh. Samar-samar Mark dapat mendengar suara aliran air. Satu yang ia yakini, ada sungai di dekatnya.

Dengan langkah perlahan, ia mulai menelusuri hutan mencari sumber suara yang dapat dijadikannya petunjuk. Ia tak ingin berlama-lama ada di dalam hutan, terlebih lagi hutan yang belum pernah ia jamah sebelumnya.

Dan setelah berkutat dengan pepohonan yang rimbun, ia pun berhasil menemukan aliran sungai. Begitu tenang dan jernih, dapat ia lihat 2 anak rusa sedang meminum air sungai. Sama sekali tak tampak terganggu dengan kedatangannya. Tak jauh darinya, ia mendengar suara gemuruh air yang lumayan besar.

Dengan keingin tahuan yang besar, Mark menghampiri suara itu. Mulutnya menganga lebar begitu mengetahui ia berada di puncak air terjun Nand Mallorn. Dari ketinggian ia dapat melihat seluruh kota itu seluruhnya. Terlihat indah dan damai dengan bangunan yang mayoritas berwarna putih. Ia begitu terpesona, sampai-sampai ia melalaikan langkahnya. Kakinya terpeleset membuat seluruh tubuhnya terjembab masuk ke dalam sungai.

Ia berusaha berenang menuju ke tepian, tetapi arus sungai yang deras membuatnya tak dapat melakukan banyak. Tubuhnya mulai terseret arus sungai. Yang dapat ia ingat hanya sebuah teriakan yang memanggil namanya dan semuanya menjadi gelap.

___To Be Continued___

Bagaimana? Gaje? Bingung? Well, yang penasaran tunggu chapter selanjutnya, ya hoho #ketawasadis

Well, di FF ini saya menyelipkan beberapa bahasa Sindarin (bahasa Elf dalam novel TLoTR). Saya meminta maaf jika bahasa Sindarin-nya aneh plus ancur hehe.. *bow* saya sudah berusaha ngublek-ngublek di Mbah Google and cari kamusnya pula. Dan ketemu walaupun sedikit J selain itu bahasa ini saya dapet dari beberapa FF yang pernah saya baca.

Salut buat Mbah J.R.R. Tolkien yang menciptakan bahasa ini plus grammar-nya pula #prokprok

So, ada yang berminat meninggalkan jejaknya di sini? ^^

Advertisements

About ansicangel

I'm extraordinary girl. Like listening music, reading, and watching movie. Cassie, ELF_Cloud&Angel_ Inspirit 송눈아..^^

5 thoughts on “Aníron [Part 1]

  1. Actually I have no word to say ehehe
    Hanya td bertanya2 bahasa apa yg dipakai dlm FF ini? Ternyata terjawab di paling bawah.

    Pas lihat covernya, saya pikir mark itu adalah sesuatu yg di samping sang yeoja. Itu apa namanya ya? -.-v kalo dilihat kaya naga tp kaya anjing hutan jg #plook

    Oke I will be waiting for the next part

  2. Annyeong Sica,

    Dulu pernah liat di SOFF tapi belum baca, dan baru baca sekarang, sampe bingung mau komentar apaan, soalnya baru pertama kali baca FF seperti ini (belum baca The Lord of The Ring) hehehehe

    Setuju sama Gee Onnie, ini keren. Belum ada yang bisa nulis seperti ini (including me) hehehehehe

    Ditunggu next partnya aja ya ^^

  3. ah.. sorry too late commenting
    I’ve read the previous one on SOFF but I read this one
    I keep saying daebak while reading.
    really it’s a good work and I can’t do this way (or maybe just haven’t tried, kekeke)

    Thank you for sharing this here. And also komawo for choosing Marl 😉

    And so many SRs as usual
    maybe they’re just don’t know what to say to review your great job. Hopefully they’ll realize then start giving their comments

    Anticipating the next chapter.
    Fighting, Dear 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s