Midnight in Perth (2)

Midnight in Perth

 ˛* ˛*˛* ˛* The night I count the stars ˛* ˛*˛* ˛* 

new midnight

by:

Chelsea

|Drama/Romance | PG17 | Two Shots |

 

Starring :

BEAST LEE GIKWANG

SISTARKIM DASOM

Choi Jiwoo as LEE CHAERIN

Cameo : SONG JONGHO

Jong-ho_Song

Disclaimer : Pernah dipost di FB dan Wattpad.

“Annyeong haseyo Elegances! I’m so sorry for posting the second part so late. I wasn’t at home for several days and I didn’t bring the file of this story. Enjoy reading. Kamsahamnnida :-)”

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

—> Midnight in Perth (1)

 

Gikwang menghabiskan malam di Burswood Entertainment Complex, kawasan hiburan di mana terdapat kasino dunia. Setelah puas bermain dan sedikit mabuk, Gikwang kembali ke hotel tengah malam. Saat dia tiba di depan kamarnya, ada beberapa pelayan.

Excuse me, what are you doing here?” tanya Gikwang.

Seorang pelayan menjelaskan bahwa nona Kim memesan dinner yang harus diantarkan tengah malam tapi tidak ada yang menyahut dari dalam. Gikwang membuka pintu kamar dan membiarkan pelayan membawa masuk roda dan menata meja dan menyiapkan makan malam. Dia tidak menemukan Dasom di kamarnya. Setelah mereka pergi, Gikwang menengok meja makan. Para pelayan itu menyiapkan dinner untuk dua orang. Gikwang masuk ke kamar Dasom, dia melihat ponsel gadis itu di atas ranjang.

“Mungkin dia sedang frustasi dan mencari hiburan.”

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

This night I can’t fall asleep in So sad tonight

This night I can’t spend with you

In the midnight a a a midnight

This midnight I can’t sleep from my thoughts of you

This night that found me again so sad tonight

This night I greet again without you

In the midnight a a a midnight a

This midnight I can’t fall asleep without you

 

Dasom menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Tak ada perasaan dingin dan lelah yang mendera tubuhnya setelah sepanjang malam berjalan tanpa tujuan. Dasom berdiri agak lama di tepian Swan River sampai dia memutuskan untuk berjalan lagi meski tidak jelas ke mana. Dasom merasa langkahnya berat kalau harus kembali ke hotel.

 

Dia menatap jalanan yang masih ramai padahal sudah lewat tengah malam. Dasom larut dalam pikirannya.

 

‘Ini sangat menyakitkan, tapi aku tak mampu membencimu. Kenapa makhluk itu menyembunyikan monster di dalam dirinya?’

 

Kaki yeoja itu membawanya sampai ke Hay Street, mendekati hotel. Dia menatap gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Karena itu, dia tak melihat sesuatu di depannya. Kaki Dasom menginjak ekor anjing.

Anjing itu menggonggong keras dan membuat Dasom takut. Dia seolah mau menerkam Dasom yang memang takut pada anjing. Gadis itu berlari.

 

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Gikwang bangun pagi-pagi sekali dan dia melihat meja makan yang terletak di dekat jendela itu masih sama. Gikwang membuka pintu kamar Dasom dan mendapati yeoja itu belum kembali. Tak ada perasaan cemas sedikit pun dan dia memilih mandi lalu pergi dengan penampilan casual, jeans, T-shirt putih dibalut kemeja warna mint dan sun glasses.

Di pagi yang cerah itu, Gikwang berjalan kaki menyusuri Hay Street, terus ke Hay Street Mall lalu belok kanan menyusuri Barrack street. Gikwang melihat gedung-gedung perkantoran modern  sebelah kanan jalan yang menjulang tinggi di kawasan Centre Business District.  Dia mendengar percakapan beberapa orang di sekitar sana.

Is it true that there was an accident in the midnight?” tanya seorang pria pegawai salah satu kantor di sana.

Rekannya menjawab, “The guard have just told me about that.”

 

Gikwang menghiraukan mereka dan terus berjalan menuju ujung selatan jalan sampai tiba di Barrack Square. Gikwang menatap Swan Bell Tower yang menjadi salah satu ikon kota Perth. Menara setinggi 82,5 meter itu menjadi rumah kaca bagi 12 lonceng St. Maryin in the Fields Elizabeth dari abad ke-14.

Gikwang pergi ke dermaga yang terdapat di Barrack Square. Di sana terdapat terminal feri untuk cruising. Namja imut itu memilih cruising. Saat menikmati sarapan di atas kapal, tiba-tiba saja dia ingat Kim Dasom.

‘Apa yeoja itu sudah pulang? Ah, aku tidak peduli.’

Gikwang berpikir berkali-kali untuk menghubungi Dasom dan dia butuh 30 menit untuk memutuskan memanggilnya. Gikwang menghubungi Dasom tiga kali tapi tak ada jawaban. Dia melirik arlojinya, sudah jam 9.33.

‘Apa dia belum kembali?’ Gikwang mulai merasa cemas. Karena sedang cruising, dia tak bisa kembali ke hotel secepatnya.

 

 

Gikwang begegas masuk ke kamar Dasom begitu tiba di hotel. Keadaan kamarnya masih sama. Gikwang melihat ponsel Dasom masih tergeletak di ranjang. Gikwang memeriksa lemari dan dia menemukan sebuah kotak. Gikwang meraihnya dan membuka kotak itu. Sebuah arloji dan kartu ucapan.

 

Gikwang mengerutkan kening. Dia memeriksa lagi ponsel Dasom dan menemukan pesan di sebuah aplikasi chat.

 

[Bora Unni] : Bagaimana surprisenya? Apa Lee Gikwang menyukainya?

 

Gikwang mengenal Yoon Bora, aktris di BIG Ent, sahabat Dasom. Gikwang memeriksa chat history mereka. Gikwang baru tahu kalau Dasom menyiapkan pesta kecil. Dia minta banyak pendapat pada Bora. Dasom mau menyiapkan kejutan kecil tengah malam tadi untuk kelulusan Gikwang. Dia tidak bisa pergi ke acara wisuda Gikwang di Jerman.

Dasom mengatakan meskipun dia sakit hati karena Gikwang menganggap pertunangan mereka sekedar kepentingan bisnis, tapi Dasom masih menyukainya. Dasom merasa bersalah pernah mengaku bertunangan demi mencari sensasi dan membuat mereka melakukan kesepakatan.

Tanpa berpikir panjang, Gikwang pun menghubungi Bora.

 

Namja bertampang cute itu duduk tidak nyaman sambil berpikir. Dia baru tahu bahwa Dasom menerima perjodohan karena menyukainya. Di mata Dasom, Gikwang adalah orang baik yang bersikap manis. Dia begitu mengagumi kepintaran Gikwang. Walaupun semakin lama, Dasom merasa Gikwang semakin acuh tapi Dasom masih mengaguminya. Baru beberapa bulan bergabung di Geumsan, Gikwang sudah melakukan banyak hal. Gikwang juga menemukan foto-foto dirinya di dalam ponsel Dasom. Bahkan foto Gikwang sedang tidur.

 

Gikwang putus asa mencari Kim Dasom. Dia tidak tahu harus mencarinya ke mana. Gikwang berjalan lemas di suatu kawasan Hay Street. Dia masih menggenggam ponsel Dasom, berharap yeoja itu menghubungi ponselnya sendiri. Gikwang kembali ke hotel, berharap Dasom pulang.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Wajah Gikwang tampak panik luar biasa. Dia sedang berlari begitu memasuki entrance rumah sakit Royal Perth Hospital. Dasom mengalami kecelakaan tadi malam dan yeoja itu baru siuman dan pihak rumah sakit menghubungi Holiday Inn Hotel.

Gikwang berhamburan mendekati tunangannya. Tapi dokter mengatakan Dasom baru saja tertidur karena pengaruh obat. Dasom mengalami pendarahan di kepala dan sudah dilakukan tindakan operasi.

Gikwang memegang tangan Dasom. Dia manarik napas yang berat dan terasa sesak dan  mengutuk dirinya.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Langit-langit berwarna putih adalah hal pertama yang dilihat Dasom saat terbangun dari tidurnya. Dia tahu dirinya terbaring di rumah sakit setelah mengalami tabrakan tadi malam. Dasom merasa seseorang memegang tangannya. Dia menoleh dan melihat Gikwang tertidur sambil menggenggam tangannya.

“Gikwang-ssi?” ucap Dasom lemas. Dia mencoba menyentuh wajah Gikwang. Jemarinya mendarat di kepala Gikwang dan mengusap pelan rambutnya.

Gikwang membuka mata dan bangkit, “Kau sudah bangun?” tanyanya dan semakin menggengam erat tangan Dasom.

Dasom tersenyum dan mengangguk.

Mianhamnida,” ucap Gikwang dengan suara serak.

Dasom ingin bangun tapi Gikwang melarangnya, “Kau tidak boleh banyak bergerak.” Gikwang menunduk. “Entschuldigung.” [German : Maaf]

“Gikwang-ssi,” panggil Dasom membuat Gikwang mengangkat wajah. “Apa kau habis menangis?”

Gikwang tersenyum kecil. “Kau benar-benar membuatku mati ketakutan.”

Dasom merasa tangan mungilnya berada dalam pelukan erat kedua tangan Gikwang. “Kau mengkhawatirkanku?”

Gikwang terdiam sesaat lalu dia mengangkat tangan Dasom dan didekatkannya ke dadanya. Gikwang menundukan kepala dan mencium punggung tangan gadis itu. Gikwang menatap lembut Dasom. Dia mendekati kepala Dasom lalu mencium kening yeoja itu.

“Aku tak berharap kau memaafkanku,” bisik Gikwang di dekat telinga Dasom.

“Gikwang-ssi,” Dasom tersenyum haru sampai matanya berkaca.

Gikwang menyentuh pipi gadis itu. “Kenapa kau mau menangis?”

Dasom hanya bisa tersenyum. Dia sudah menangkap apa yang dirasakan Gikwang. Namja itu tampak luar biasa cemas dan sedih. Dia ingin sekali merangkul tunangannya yang tampan dan imut itu.

“Istirahatah,” ucap Gikwang. “Aku mau keluar sebentar.”

Dasom menahan tangan Gikwang saat namja itu berdiri, “Kajima.”

Gikwang tersenyum kecil. “Hanya pergi ke kamar kecil, tidak boleh?”

Dasom terkekeh meski badannya terasa lemas.

“Aku baru tahu kalau tunanganku begitu posesif, sampai melarangku ke toilet,” canda Gikwang.

 

 

Di malam hari, tuan Lee bersama istrinya dan Chaerin datang ke Perth menengok Dasom. Begitu juga ayah Dasom. Gikwang dimarahi keluarganya. Tapi Dasom membelanya.

“Aku yang pergi tanpa memberitahunya. Aku juga tidak hati-hati di jalan,” bela Dasom.

Ayah Dasom tak banyak bicara. Dia sudah cukup lega melihat anak tunggalnya tidak terluka parah.

Chaerin menarik Gikwang keluar.

“Kalian bertengkar kan?” selidik Chaerin. “Akting kalian sungguh buruk di mataku.”

Gikwang meringis. Chaerin menjewer telinganya, “Aaah. Noona, stop!

“Kau bukan membuatnya berlutut di hadapanmu tapi kau membuatnya hampir mati, hah?”

Noona, I’m not a little boy. Stop, please! Es ist verletzt.” [Ini sakit]

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Dasom stay di Perth Royal Hospital selama sepekan. Chaerin ikut menemaninya, sementara para orang tua harus kembali ke Korea karena kesibukan masing-masing dan mempercayakan Dasom pada Gikwang dan Chaerin.

Hari itu Dasom boleh pulang. Chaerin dan Dasom duduk di ranjang sambil menunggu Gikwang menjemput.

Sunbae, mianhamnida,” ucap Dasom.

“Kenapa kau minta maaf?” tanya Chaerin datar.

“Kritikku pada novel Sunbae.”

Chaerin hanya tertawa kecil.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Dasom sudah duduk di dalam pesawat, di antara Gikwang dan Chaerin. Gikwang menggenggam tangan Dasom sejak take off tadi.

“Dasom-ah,”panggil Chaerin. “Kalau bocah nakal itu berani menyakitimu dan membuat ulah, katakan saja padaku.”

Dasom terkekeh sambil melirik Gikwang. Gikwang protes, “Noona, seharusnya kau tak memberitahunya bahwa aku paling takut padamu.”

Gomawo, Sunbaenim,” ucap Dasom.

 

Gikwang tertidur, mungkin karena beberapa hari ke belakang dia tidak banyak istirahat.

Sunbae, aku pikir kau membenciku,” ucap Dasom.

“Aku yang berpikir begitu,” tanggap Chaerin.

“Waktu itu aku terlalu kekanak-kanakan dan sensitif.”

Chaerin tersenyum kecil. “Syukurlah kalau kau sadar.”

“Aku tahu sunbae begitu tidak menyukaiku,” lanjut Dasom. Kedua yeoja itu saling menatap.

Chaerin tersenyum. “Ne, sampai sekarang aku belum menyukaimu. Sampai kau sembuh dan membuat adikku tertawa setiap hari.”

Dasom tersenyum ceria. Dia merasa Gikwang begitu beruntung punya seorang kakak yang sangat menyayanginya.

“Gikwang bukan orang jahat, meski dia mengatakan hal-hal yang buruk padamu,” ucap Chaerin. “Dia menganggap semua orang di sekitarnya hanya ingin memanfaatkannya dan dia banyak menemukan fakta seperti itu. Dia membenci identitasnya dan berharap menjadi orang lain yang punya kebebasan.”

Dasom juga menceritakan pertemuan pertamanya dengan Gikwang.

 

          Kim Dasom memakai T-shirt longgar dan hotpants ditambah topi baseball. Sejak debut, dia sulit mendapat waktu luang bersama teman-temannya. Dasom menunggu teman-temannya di sebuah cafe. Tiba-tiba ada seorang pria duduk di sampingnya.

          “Anda Kim Dasom, penyanyi dan putri pemilik direktur BIG-ent?”

          Dasom menoleh dan mendapati wajah seorang ahjussi yang cukup dia kenal. Dia adalah wartawan Ahn yang sering mencari berita artis-artis BIG.

          “Aku ingin bertanya, apa benar Kim sajang punya kekasih seorang artis di BIG?”

          Dasom berdiri dan meninggalkan cafe. Wartawan Ahn mengejar. Dasom berlari di sekitar jalan dan dia mencari tempat bersembunyi. Dasom membuka pintu sebuah mobil yang berhenti karena lampu merah dan masuk. Gadis itu buru-buru menunduk.

Ich ruf dich spater an,” ucap seorang namja dalam bahasa Jerman. [Aku akan menghubungimu nanti.

Dasom menoleh ke kursi kemudi dan mendapati seorang namja cute menatapnya heran. Dasom menempelkan kedua tangan, pertanda memohon. “Jebal, izinkan aku bersembunyi. Aku sedang dikejar orang.”

“Apa kau stalker yang mengikutiku?”

“Bukan. Aku benar-benar dikejar orang,” jawab Dasom sambil tetap menunduk.

“Aku baru tahu ada trik seperti ini untuk mendekatiku,” ucap pria itu ketus.

“Hya! Aku bahkan tidak tahu siapa dirimu. Aku hanya bersembunyi.”

Tok! Tok! Tok!

Namja itu melihat seorang pria mengetuk jendela mobilnya.

Dasom memohon, “Jebal, bawa aku menjauh dari sini dan aku akan pergi.”

“Lalu berterima kasih dan meminta nomor ponselku?” ucap namja itu ketus.

“Kim Dasom-ssi!” panggil wartawan Ahn.

 

Namja itu melihat lampu hijau dan melajukan mobilnya.

“Di mana kau mau turun?” tanya namja itu setelah jauh dari cafe tadi.

Dasom mengedarkan pandangannya. “Di sana,” dia menunjuk pemberhentian bus sekitar 10 meter di depan mereka.

Namja itu menghentikan mobil. “Turunlah dan tak usah berterima kasih apalagi meminta nomor ponselku.

Dasom mencibir kesal. “Gomawo,” ucapnya lalu keluar.

 

Dua tahun berlalu dan Dasom bertemu pria jutek itu lagi dalam pertemuan yang diatur keluarga mereka.

 

“Waktu itu, Gikwang-ssi begitu bebeda. Awalnya aku berpikir dia akan bersikap sama padaku. Ternyata dia baik dan manis,” ucap Dasom.

Chaerin tertawa kecil. “Gomawo.”

“Ye?” tanya Dasom tidak mengerti.

“Aku mendapat inspirasi baru.”

“Maksud Sunbae?”

“Bolehkah aku menulis cerita kalian menjadi novel?” pinta Chaerin.

“Tentu saja. Gomapseumnida, Sunbaenim.” Dasom tersenyum senang tapi tiba-tiba dia murung.

Wae?” tanya Chaerin.

“Aku tidak tahu perasaan Gikwang-ssi padaku.”

Chaerin tertawa lagi. “Aku tahu dia menyukaimu.”

Jeongmal?”

Chaerin bercerita. Setelah beberapa hari pulang dari Jerman, Gikwang sering marah-marah tidak jelas. Chaerin tidak tahu kenapa sampai Gikwang berkata, bahwa dia sakit hati karena Dasom menganggap pertunangan mereka sebagai ajang cari sensasi. Tapi Chaerin pernah mengintip adiknya sedang nonton Dasom menyanyi live.

“Gikwang itu paling tidak suka diacuhkan. Dan kau sudah mengacuhkannya,” jelas Chaerin. “Semua yeoja yang mendekatinya, tak ada yang mengacuhkannya. Dia membencimu, sekaligus menyukaimu. Kita lihat saja akhirnya seperti apa.”

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

 

Kim Dasom berada di Noraebang bersama Yoon Bora dan dua teman mereka. Tiba-tiba sekelompok preman masuk dan menodong mereka. Gadis-gadis itu menjerit ketakutan tapi mereka tidak berdaya.

Mata Dasom ditutup dan tangannya diikat. Entah bagaimana preman-preman itu membawa mereka keluar. Dasom tidak bisa melihat apa-apa tapi dia tahu kalau para preman memasukannya ke dalam mobil. Dasom sadar bahwa dia tidak bersama teman-temannya. Gadis itu sangat ketakutan dan tak berani membayangkan apa yang akan terjadi.

Setelah beberapa lama, dia merasa mobil berhenti dan preman itu meyeretnya keluar. Suasana sangat hening. Preman itu membuka ikatan lengan Dasom dan menyuruhnya diam tak bergerak. Ikatan mata pun dilepaskan. Tapi Dasom tak tetap tak bisa melihat apapun. Dia berada di ruangan yang gelap.

Dasom mendengar petikan gitar diikuti nyanyian. Di saat yang bersamaan, lampu menyala tepat di atas seorang namja yang duduk sambil memainkan gitar

Sarang ani geunyang heulleoganeun yeonae siganman
Ttaeul geomyeon charari naneun an hae
Igeotjeogeot ttajigo kkiwo matchul sigane
Ne nuneul hanbeonirado majuchigo useullae

Bogo itgiman haedo hamkke siganeul bonaeneun geotmaneurodo
Mueonga namji anteorado nan joheunde

Woo baby tell me, how to love
Dachin mameul yeoreo jogeumman
Meorissoge gadeuk chan saenggageul biwo bwa
How to love sangcheoga namado gwaenchanha
Saranghaneun sunganeun haengbokhal tenikka

How to love, love, love, love, love, love, love
Saranghajiman ttaeron heeojimeul saenggakhae
Seororeul da ajik alji motan chae
How to love, love, love, love, love, love, love
Jogeum deo cheoncheonhi nege matchwo galge
Gateun goseul hyanghae georeogal su itge how to love


Dasom melihat tunangannya, Lee Gikwang, tersenyum lembut lalu berdiri mendekatinya.

Happy birthday!” ucapnya sambil memperlihatkan kotak kecil berwarna ruby.

Gikwang membukanya dan Dasom terpana melihat sebuah kalung indah di dalamnya. Liontin kalung itu membentuk garis-garis dengan warna gold, merah, biru, putih. Gikwang memesan rancangan kalung itu agar semirip mungkin dengan pemandangan air sungai Swan di malam hari. Garis-garis itu seperti pantulan cahaya bangunan di sekitar Swan River kota Perth.

 

Dasom benar-benar speechless. Gikwang memakaikan kalung itu ke lehernya dan mereka saling menatap lembut.

Danke,” ucap Dasom dengan mata berbinar. (Terima kasih)

Gikwang mengelus rambut Dasom dan tertawa kecil. Lalu dia mendekatkan kepalanya dan berbisik tepat di telinga Dasom.

Ich liebe dich,” ucap Gikwang lembut tapi menghantarkan getaran hebat ke seluruh sel tubuh gadis itu.

Mereka saling memandang dalam jarak yang sangat dekat. Gikwang tersenyum kecil lalu mendaratkan ciuman di kening Dasom. Dia memindahkan ciumannya ke pipi yeoja itu lalu berakhir di bibir.

Dasom merasa ribuan peri sedang membawanya terbang melayang saat mereka bercumbu dan saling mendekap.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Lee Chaerin sedang sibuk melayani tanda tangan di acara launching novel terbarunya, “Midnight in Perth.”

Dia tidak melihat panjangnya antrian dan bersikap ramah kepada semua orang yang membeli novelnya dan minta ditandatangani.

“Nama Anda?” tanyanya sambil mengukir tanda tangan di belakang cover novel. Saat itu Chaerin tidak melihat orang yang berdiri di depannya.

“Song Jongho,” jawab orang itu.

Chaerin mengangkat wajah dan mendapati sosok namja tinggi tampan berkulit cokelat tersenyum manis padanya. Dia baru menyadari beberapa wanita berbisik melihat namja itu.

Long time no see, Lee Chaerin,” ucap Song Jongho yang dikenal sebagai pemain sepak bola Korea yang merumput di Hamburg SV.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Seoul, Sun Tower hotel,

 

          Direktur Lee dan nyonya Shin sedang menikmati acara weekly breakfast mereka di hotel mewah milik grup Geumsan mereka. Sepasang suami itu marasa suasana sarapan saat ini lebih bangat. Selain Gikwang dan Dasom, Chaerin juga ditemani Song Jongho.

          “Dasom-ah, tadi kau akan mengatakan sesuatu pada kami,” ucap Gikwang.

          “Ada apa, Dasom-ah?” tanya Lee Sajang.

          Dasom menatap Gikwang dan tersenyum. Lalu dia memandang semua orang di sana. “Aku akan merilis single baru. Aku sendiri yang menulisnya.”

          “Chukae!” ucap semuanya.

          Dasom melanjutkan. “Lagu ini sangat spesial karena aku persembahkan untuk seseorang.” Lalu dia menoleh pada Chaerin. “Setelah novelis terkenal menulis ceritaku, giliranku membuatkan lagu untuknya.”

          “Ye?” tanya Chaerin kaget.

          “Kisah cinta seorang novelis dan pesebakbola. Menarik bukan?” ungkap Dasom.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

*˛.* *˛.* THE END ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Advertisements

15 thoughts on “Midnight in Perth (2)

  1. Walau udah belasan kali baca tapi tetap aja greget bacanya. Aduh, enggak kebayang Gikwang yang polos bener2 menunjukkan sikap “bocah nakal beast”. Dan untuk pemilihan lagu yang direplace jadi how to love. Oh, kok, makin sweet ya? Ah, ada’kah epep Doo Appa macam gini? *harapan kosong-_-*

    1. Annyeong Elida..
      Jinja belasan kali?? Oddi?
      Doo siapa? Doojoon?

      Iya nih sejak CS Unni request buat post ulang ini, rasanya kurang gimana gitu kalo ga ada yang dirubah. Yang paling keliatan yang lagu itu. Inget DJ yang nyanyi live lagu ini, so sweet
      Sebelum ini ada, judulnya Mystery

      Kamsahamnida

  2. Onnie…. Gegara saling jaga harga diri, jadinya salah paham kan? untungnya happy end hehehehehehe

    Masih ada salah nama di bagian akhir gitu Onnie, ikan masih muncul heheheheheheh

  3. Aku masih ngakak waktu adegan, Chaerin : Siapa namamu?
    Song Dongho (dulunya ikan) wwkwkwkwkw. Cocok banget! Coba kalau Gikwang dan Dasom ngak sok2 jaim gitu, dua2nya suka sama suka kan. Thanks for repost Gee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s