BLACK TIME

image

Chapter 1
Tittle: Crazy People
Author: Kuruta Winn
Genre: Sci-fi, Life, History, Adventure
Length: Chapterd
Cast:
Lee Jong Suk (Pierre Weber)
Kim Woo Bin (Gerhard Seiler)
So Ji Sub (Heinrich Franz Kohler)

Hallo, saya mencoba FF dengan genre Sejarah dan Fisika. Beberapa kejadian, lokasi, waktu, dan tempat di FF ini sesuai dengan fakta.

No Bash|No Plagiat|Happy Reading

Heinrich Franz Kohler seorang fisikawan, ahli kosmologi dan pemimpi berkebangsaan Korea Selatan yang sudah menetap lebih dari 20 tahun di Jerman untuk mengejar mimpinya membuat sebuah Black Time. Sebuah mesin yang dapat mengembalikan seseorang ke masa lalu.

Albert Franz Kohler, buyut dari Heinrich merupakan seorang keturunan Yahudi yang menetap di Hungaria untuk melanjutkan penelitian bersama teman-temannya. Pada tahun 1908 menjabarkan bagaimana perjalanan waktu bisa dilakukan, menemukan portal menuju masa lalu, atau menemukan sebuah jalan pintas ke masa depan. Untuk melihat bagaimana perjalanan waktu bisa terjadi, ia meneliti  studi tentang empat dimensi. Tidak sesulit yang diduga, ia menemukan materi memiliki obyek fisik dalam tiga dimensi, yaitu panjang, lebar dan tinggi. Tetapi ternyata ada sebuah ukuran lain yang belum dijabarkan, yakni panjang waktu. Ada perbedaaan antara manusia yang mampu hidup dalam waktu 80 tahun, Stonehenge ribuan tahun dan sistem tata surya yang bertahan hingga miliaran tahun. Setiap materi memiliki panjang waktu sebagaimana ruang angkasa. Menjelajah waktu berarti melewati dimensi ke-empat tersebut. Manusia normal setiap hari bergerak dalam garis lurus berarti berjalan di dimensi pertama, belok ke kanan atau ke kiri berarti berada di dimensi kedua dan ketika jalan menanjak atau menurun maka hal tersebut merupakan dimensi ketiga. Tapi, ketika Perang Dunia 1 meletus, situasi Hungaria semakin tidak stabil dan kakeknya pun meninggal .

Situasi di Hungaria semakin semerawut pada akhir Perang Dunia I. Paul Erdos, patner dari Albert Franz Kohler merupakan satu-satunya ilmuwan yang masih hidup pada saat Perang Dunia I meletus. Paul Erdos ditarik oleh Rusia untuk menjadi tentra perang.  Setelah 5 tahun di kontrol dari Hungaria, Paul Erdos melarikan diri ke Wina ketika pasukan Rumania menyerang Budapest pada bulan Juli 1919. Ketika di Wina, ia segera memberi berkas-berkas itu ke Wilhelm Franz Kohler yang menetap di Ibukota Austria itu, dan menyuruhnya mengasingkan diri dari wilayah Eropa.

Wilhelm Franz Kohler pergi dari Wina dan menetap ke Negeri Ginseng, Korea Selatan. Disana ia menikahi seorang Dokter muda, So Eun Ji. Ia membangun keluarga kecil sambil tetap melanjutkan penelitian kakaknya yang tertunda. Hingga akhir hayatnya ia tetap tidak bisa membuat mesin yang diimpikan oleh kakaknya itu.

Musim dingin 1977 lahirlah keturunan Kohler yang lain, So Ji Sub. Keluarga besar So memberhentikan sistem pemberian nama yang menggunakan nama belakang Kohler. Ia ingin seluruh keluarga tetap memakai marga keluarga.

So Ji Sub sejak kecil sudah menunjukkan kejeniusannya. Saat berusia 7 tahun ia berhasil memecahkan sistem kerja bom atom yang digunakan untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki. Saat berusia 20 tahun, ia menyelesaikan gelar Sarjananya di Seoul National University jurusan Teknik Elektro. Setelah lulus, ia masuk ke camp militer selama 2 tahun. Karena kejeniusannya, ia ditarik dalam pasukan khusus pembuat bom.

Tahun 2000, So Ji Sub melanjutkan kembali studynya ke Jerman dan disana ia mulai mencoba kembali apa yang telah dilakukan buyutnya dulu. Ia berubah menjadi seorang ilmuwan gila. Dalam 2 tahun, ia menengak kopi, minum pil kafein, dan amfetamin, demi tetap terjaga untuk berkutat dalam proyeknya selama 19 sampai 20 jam sehari.

Berkat pikirannya yang fokus, segala upayanya terbayar. Tahun 2003 ia mempublikasikan karya ilmiahnya tentang Wormhole dan mendapatkan penghargaan Nobel di bidang Fisika.

[Karlsruhe, Jerman, 2014]

“Masuk tidak?” tanya seorang pria Asia berbadan tegap dan beralis tajam kepada temannya yang sedang berdiri tepat di sampingnya. Ia begitu ragu untuk membuka kenop pintu yang berbentuk seperti palu itu.

Perlahan ia membuka kenop pintu itu dan memasuki ruangan seorang ilmuwan gila di Universitas tempat mereka menuntut ilmu, Heinrich Franz Kohler. Ruangan persegi empat yang cukup besar. Jangan bayangkan barang-barang mewah di dalam ruangan itu, yang ada hanyalah tumpukan kertas-kertas yang berisi rumus-rumus, tabung-tabung kimia yang sesekali mengeluarkan asap putih, serta beberapa komputer yang sesekali huruf di dalamnya bergerak sendiri tanpa di perintah.

“Siapa yang membuka pintu?” tanya ilmuwan itu, Heinrich Franz Kohler. Dia melirik ke belakang sekilas lalu kembali melanjutkan percobaannya lagi ketika mengetahui siapa yang datang berkunjung ke rumah keduanya itu.

Pria asia beralis tajam itu menarik bangku kecil yang ada di meja samping televise, begitu pun dengan temannya. Mereka memandang takjub ruangan ini sambil sesekali melirik hewan-hewan aneh hasil rekayasa genetic yang dilakukan Heinrich. Belum lagi bau alum yang tercium dari ruangan ini sangat menyengat.

“Sejak kapan kalian tiba di Karlsruhe?” Heinrich menghentikan kegiatannya dan mengambil beberapa kaleng soda di lemari es dekat rak sepatu.

Kedua pria Asia itu hanya memandang botol kaleng soda itu tanpa berniat membukanya. Banyak alasan mengapa mereka tidak membuka kaleng soda itu. Pertama, mereka yakin minuman soda ini sudah kadarluasa. Kedua, minuman di dalam kaleng ini pasti cairan dari hasil percobaan yang ia lakukan, lalu ketika ada tamu berkunjung, Heinrich menawarkan minuman itu untuk melihat reaksi kimia yang terjadi di tubuh manusia.

“Sudah satu minggu. Kami berada di Jurusan yang sama, Teknik Elektro,” jawab pria Asia yang mempunyai belahan bibir seksi itu. Ia berusaha tenang menghadapi ilmuwan ini. Karena biasanya berbicara dengan orang gila ini membutuhkan waktu paling sedikit 3 jam.

“Bagaimana keadaan ibumu, Gerhard?” tanya Heinrich sambil sesekali menatap dua kaleng soda itu berharap kedua pria itu segera membuka dan meminumnya.

Kedua pria Asia itu saling menatap ketika si ilmuwan itu menyebutkan nama yang terdengar asing di telinga mereka.

“Kau memanggil siapa?” tanya pria beralis tajam itu.

“Apa ada orang lain selain kita disini?” tambah pria berbibir seksi itu sambil melirik ke seluruh penjuru ruangan.

Heinrich menatap iba kedua pria dengan postur altetis itu dan kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan nama Pierre Weber dan Gerhard Seiler.

“Bagaimanapun kita adalah keturunan Jerman dan kini menetap di Jerman, jadi kalian harus mempunyai nama Jerman sepertiku. Dan aku sudah membuatkan nama untuk kalian,” Heinrich menyerahkan kertas bertuliskan nama yang akan mereka gunakan.

“Lumayan,” ucap pria beralis tebal sambil menaikan ujung bibirnya.

“Tidak begitu buruk,” timpa pria berbibir seksi itu.

“Siapa yang memberimu nama Jerman ‘Heinrich’?” tanya mereka serentak. Dan Heinrich menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

“Kim Woo Bin, kau pakai nama Gerhard Seiler, dan Lee Jong Suk kau pakai nama Pierre Weber,” Heinrich berjalan meninggalkan mereka yang hanya mengangguk-ngangguk.

“Mengapa nama belakang tidak disamakan saja sepertimu, Franz Kohler. Kita kan masih punya hubungan darah,” tanya Gerhard.

“Kalian belum pantas menyandang nama belakang itu. Akan ku berikan ketika kalian sudah ku nilai cukup untuk berada di Zona Franz Kohler,” Heinrich menjawab sambil memegang pundak kedua sepupunya itu.

“Kami tidak meminta, hanya bertanya,” sergah Gerhard.

“Hanya sebuah nama dan aku tidak akan mempermasalahkannya,” timpa Pierre.

Tak lama Heinrich kembali dengan membawa kertas-kertas tebal yang penuh dengan gambar-gambar mesin. Gerhard dan Pierre memperhatikan kemahiran Heinrich yang membuat gambar teknik tersebut. Setiap goresan tangan yang dihasilkan oleh Heinrich pasti akan berubah menjadi bentuk nyata.

“Kali ini apa yang akan kau buat?” tanya Pierre sambil mengangkat kertas kalkir berukuran A-3.

“Ini akan menjadi sesuatu yang hebat,” jawabnya sambil tersenyum bangga menatap kedua sepupunya ini. Mereka bertiga merupakan saudara sepupu yang sama-sama merantau ke Negeri tempat Hitler menjalankan kekuasaannya tersebut.

“Kau masih Yahudi?” tanya Gerhard sambil menatap mimik wajah Heinrich.

Heinrich hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian ia mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas kalkir dan menggambar sebuah benda berbentuk elips dengan poros di tengahnya. Gambar yang begitu detail mulai dari keterangan bahan yang dipakai, ketinggian, ketebalan, suhu, dan daya yang akan digunakan, “Hanya Yahudi yang bisa melakukan semua ini.”

“Kau benar-benar sudah tidak percaya Tuhan?” tanya Pierre sambil mendengus melihat kegilaan saudara sepupunya terhadap ilmu Alkimia.

“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?” Heinrich bertanya balik kepada mereka berdua. Ia tetap melanjutkan kegiatannya di atas kertas kalkir itu.

“Tentu saja. Kau ini ada karena Tuhan menciptakanmu, bodoh!” sahut Gerhard sambil tersenyum mengejek.

Heinrich menggelengkan kepalanya. Baginya Yahudi adalah sesuatu yang begitu besar. Agama yang melahirkan para jenius-jenius di dunia. Walau kebanyakan orang menganggap Yahudi itu adalah agama sesat dan harus dimusnahkan.
“Aku punya teka-teki logika untuk kalian. Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan,” ucapnya sambil tersenyum.

Baik Pierre maupun Gerhard sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Yang harus mereka lakukan sekarang adalah meladeni debat singkat antara mahasiswa dan ilmuwan gila yang sudah tak punya arah hidup. Yang ia tahu hanya percobaan dan percobaan guna mengetahui tentang masa lalu kaumnya, Yahudi.

“Apa dingin itu ada?” Pierre bertanya balik sambil mencoba menggambar tentang rekontruksi pesawat yang menjatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki.

“Untuk penelitian lanjutan?” tanya Gerhard berbisik.

“Ya. Aku mencoba membuat gambar 2D,” jawab Pierre.

“Tentu saja,” jawab Heinrich singkat. Ia menyukai perdebatan kecil jika kedua sepupunya ini datang berkunjung. Tak salah ia merekomendasikan sepupunya ini untuk mengikuti jejaknya ke Jerman karena ia tahu bahwa kedua sepupunya ini mempunyai obesesi untuk mengetahui peristiwa mengenai bom atom yang jatuh di Hirosima dan Nagasaki.

Gerhard menyalakan televise dan mencoba mencari siaran yang bisa ia nikmati, matanya tetap focus melihat tayangan televise tapi pikirannya masih tetap tertuju pada pecakapan aneh itu.

“Kenyataannya, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas,” jawab Gerhard sambil mengganti-ganti channel televise.

Heinrich tertawa mendengar jawaban Gerhard. Ia sudah mengamati watak Gerhard sejak dulu, tegas dan sangat teliti tapi terkesan cuek. Berbanding terbalik dengan Pierre. Pierre terlihat begitu serius mengerjakan sesuatu tapi terkadang ia kurang teliti karena masih ada sifat cepat puas dalam dirinya jika mengerjakan sesuatu. Tapi Pierre masih jauh lebih sabar dibanding Gerhard.

“Kau ingat mengenai kesesatan semantic dalam buku yang ku pinjamkan?” tanya Heinrich sambil meneliti kembali gambar yang ia buat.

Gerhard tersenyum dan beranjak dari depan televise untuk membuka kemeja cokelat yang ia gunakan, “Tentu saja aku ingat. Perlu aku ulangi?”

“Tidak perlu. Pierre, apa kau masih ingat?” tanya Heinrich sambil menoleh ke arah Pierre.

“Panas dan dingin adalah istilah subyektif. Menurut John Locke, keduanya merupakan contoh kualitas sekunder. Kualitas sekunder merujuk kepada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada, dan dalam kasus ini pergerakan partikel atomik. Istilah dingin dan panas merujuk kepada interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomik di lingkungan. Jadi apa yang sesungguhnya ada adalah suhu. Istilah panas dan dingin hanyalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan pengalaman kita mengenai suhu,” jawab Pierre mantap tanpa menoleh dari pekerjaan yang sedang ia geluti.

“Bagus kalau kalian ingat. Dengan begitu argument kalian salah. Kalian tidak membuktikan bahwa dingin itu tidak ada, atau bahwa dingin ada tanpa status ontologis, apa yang kalian lakukan adalah menunjukkan bahwa dingin adalah istilah subjektif. Hapuskanlah konsep subyektif tersebut, dan suhu yang kita sebut dingin akan tetap ada. Menghapuskan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut,” cerca Heinrich dengan intonasi datar.

Pierre dan Gerhard hanya mengangguk-ngangguk mendengar ocehan ilmuwan gila ini. Begitu banyak ilmu yang ia serap sehingga semakin salah kaprah ia mengenai kekuasaan Tuhan. Inilah ilmuwan sinting yang lahir di abad ini, Heinrich.

“Lalu, apa gelap itu ada?” tanya Gerhard yang kini sudah mengganti kemeja cokelatnya dengan kaus merah polos dan celana hitam pendek.

“Kau masih mengulangi kesesatan logika yang sama, hanya kualitas sekundernya diganti,” jawab Heinrich sambil menggaruk-garuk kepalanya setelah melihat hasil rancangannya yang ia rasa ada yang salah.

“Jadi, menurutmu gelap itu ada?” tanya Pierre berdiri dan beranjak menuju kamar mandi untuk membuang air kecil.

Pierre masih dapat mendengar suara Heinrich dan Gerhard karena jarak kamar mandi tidak begitu jauh. Pintu kamar mandi begitu rendah, ia harus menundukkan kepalanya karena tingginya 180cm sedangkan tinggi pintu ini hanya 178cm.

“Apa yang ku katakan tadi adalah kau mengulangi kesesatan logika yang sama. Kegelapan itu adalah kualitas sekunder,” sahut Heinrich.

Gerhard tersenyum mengejek mendengar jawaban Heinrich, “Kalau begitu kau salah. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

“Ahh, pantas aneh. Ternyata tidak tegak lurus,” gumam Heinrich sambil mengangkat kertas kalkir. “Gelap dan terang adalah istilah subyektif yang kita gunakan untuk mendeskripsikan bagaimana manusia mengukur foton atau partikel dasar cahaya secara visual. Foton itu memang ada, sementara gelap dan terang hanyalah penilaian subyektif kita, yang sekali lagi terkait dengan interaksi antara sistem saraf manusia dengan fenomena alam yang lain, yaitu foton. Jadi, sekali lagi, hapuskanlah istilah subyektif itu dan foton akan tetap ada. Jika manusia menyebut foton sebanyak x sebagai gelap sementara kucing menyebutnya ‘cukup terang untukku,’ foton sebanyak x yang kita sebut sebagai gelap tetap ada, dan akan tetap akan ada walaupun kita tidak menyebutnya gelap. Sudah paham, atau masih kurang jelas?” sahut Heinrich masih tetap focus terhadap gambarnya.

Pierre keluar dari kamar mandi dan mengambil sehelai kaus hitam dari dalam kopernya. Ia mengamati Heinrich dan Gerhard yang berceloteh tanpa memandang satu sama lain. Keadaan yang hanya dialami oleh mereka bertiga. Pembicaraan ini sebenarnya termasuk tahap serius tapi mereka selalu menanggapinya dengan biasa saja.

“Lebih baik kau ajak kami berkeliling Karlshure,” sela Pierre.

“Aku sibuk,” sahut Heinrich.

“Alasan klise,” sahut Gerhard.

“Tak ada yang menarik di kota ini. Kota ini hanya daerah inovasi di Jerman,” jawab Heinrich dengan datar.

Pierre dan Gerhard hanya mengangguk tanpa memperdebatkannya.

“Kau mau keluar?” tanya Gerhard melihat Pierre yang sudah mengambil kunci mobil.

Pierre mengangguk dan berjalan keluar disusul oleh Gerhard, “Kami pergi dulu.”

                                   ***
Sepanjang perjalanan, Pierre dan Gerhard tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah Heinrich yang semakin gila. Mereka tak meyangka bahwa di usia yang belum menginjak kepala empat, rambut Heinrich sudah dipenuhi uban.

“Kau lihat hidupnya? Menyedihkan. Apa ia masih mengharapkan gadis dengan sosok dan kepribadian seperti Maharani Myeongseong menemani hari-hari tuanya?” tanya Pierre yang masih focus menyetir melewati Marktplatz.

Gerhard tertawa kecil ketika Pierre menyebut nama itu, “Zaman kini mana ada sosok seperti Ratu Min (Nama dari Maharani Myeongseong setelah menikah dengan Raja Gojong). Kalau ia benar-benar tergila-gila, lebih baik ia menciptakan alat untuk kembali ke masa Joseon.”

“Jika ia bisa membuat alat yang membuat orang kembali ke masa lalu, aku akan kembali pada saat bom atom meletus di Hirosima dan Nagasaki,” sahut Pierre yang kini sudah berada di seberang Gereja St. Stephan.

“Aku akan membantu Heinrich membawa Ratu Min ke era 2014,” sahut Gerhard sambil tertawa.

Mereka berdua menghabiskan malam di depan balai kota tanpa tahu apa percobaan gila apa yang sedang dilakukan oleh Heinrich.

                                   ***
Sekitar pukul 11.29 malam mereka tiba di ruangan Heinrich dengan keadaan setengah mengantuk. Ketika mereka hendak membuka pintu, tiba-tiba Heinrich sudah berada di belakang mereka sambil memegang pundak mereka.

“Aku berhasil,” ucap Heinrich sambil meremas pundak mereka. Meraka terlonjak kaget ketika Heinrich tiba-tiba muncul di belakang mereka sambil tersenyum.

“Kau!” teriak mereka berdua sambil menghempaskan tangan Heinrich dari pundak mereka.

Tak lama Heinrich menyeret mereka masuk karena ia ingin menunjukkan sesuatu. Kedua pria itu hanya mengikuti Heinrich berjalan menyusuri pojok ruangan itu. Tak lama, Heinrich berhenti dan menekan tembok dengan pola batu bata, lalu menekannya.

Heinrich menyukai teka-teki di setiap hidupnya, termasuk sekarang ini. Ia menekan batu bata yang tersusun horizontal diantara susunan vertikal, tiba-tiba dinding di samping kami begeser ke samping kiri. Dan ternyata ada ruang rahasia di bawah sana. Ada tangga yang terbuat dari bebatuan kali yang mebantu kita untuk menuruni anak tangga.

Mereka bertiga kini sudah berada di bawah, lebih tepatnya di ruang bawah tanah pribadi milik Heinrich. Kedua pria itu tercenggang melihat keadaan yang ada di dalam ruangan ini. Beberapa kabel raksasa terhubung pada sebuah bendar elips yang berada di pojok ruangan.

Semua kabel besar ini teraliri listrik yang terhubung ke benda elips itu. Sesekali benda itu mengeluarkan cahaya hijau dan kilatan-kilatan biru seperti petir.

“Aku telah berhasil membuat mesin waktu,” teriak Heinrich sammbil tersenyum bangga.

“App…Apa?” tanya Pierre memastikan.

“Apa aku tidak salah dengar?” tanya Gerhard memastikan.

“Kalian mau coba kembali ke masa lalu?” tanya Heinrich sambil memandang mereka dengan tatapan ‘Ini keinginan kalian, kan?’

Heinrich duduk di depan komputer untuk membenarkan beberap syntax yang tadi sempat error. Kemudian ia kembali mencoba memasukkan software rekayasa genetik di proyek besarnya itu.

“Kau benar-benar hebat. Apa kini kau memandang Tuhan sebagai sesuatu yang dapat diukur?” tanya Gerhard yang masih memandang ciptaan yang besar itu.

Heinrich meminum kopinya dan kembali berjalan mendekati kedua sepupunya itu, “Aku tidak pernah mengatakan seperti itu.”

“Segala hasil percobaanmu mengatakan demikian,” sahut Pierre.

“Jika kalian menempatkan Tuhan di luar jangkauan nalar, logika, dan sains dan membuatnya ‘tak terukur,’ maka yang tersisa hanyalah misteri yang kalian buat sendiri. Jadi jika kalian menggunakan dalih bahwa Tuhan ada di luar jangkauan untuk menyelesaikan masalah, kalian juga tak bisa mengatakan bahwa Tuhan kalian bermoral. Bahkan kalian tak bisa menyebutnya sebagai apa pun kecuali tak terukur. Jadi solusi kalian tidak ada bedanya dengan membersihkan ketombe dengan memangkas rambut,” ucap Heinrich mantap.

“Bukan aku yang menempatkan Tuhan di posisi ‘tak terukur’. Tapi tingkahmu yang membuat seolah-olah kau berusaha melampaui segala logika manusia dan kekuasaan Tuhan. Kau mencoba kekuasaan Tuhan menjadi tolak ukur,” tutur Gerhard.

Heinrich meninggalkan mereka mengambil dua buah alat komunikasi berbentuk tahi lalat. Ia menempelkan tahi lalat buatan itu di sudut bibir Pierre dan Gerhard.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Pierre yang terkejut karena tiba-tiba tahi lalat itu tidak bisa dilepas dari sudut bibirnya.

Gerhard berusaha menarik tahi lalat buatan itu namun tak berhasil, “Sial!”

“Aku mohon, kalian lakukanlah perjalanan menjelajahi waktu,” Heinrich memohon sambil berlutut di hadapan mereka dan memasang wajah sendu.

Mereka berdua saling pandang dan berjalan meninggalkan ilmuwan gila yang menyuruh mereka kembali ke masa lalu.

“Kumohon! Bukankah kalian mempunyai obsesi juga terhadap sejarah masa lalu?” seru  Heinrich sambil mengejar mereka dan mencoba menahan mereka.

Diam. Mereka tak bergerak.

“Ayolah. Ini tak berbahaya. Aku akan mengontrol kalian dari sini,” sahutnya lagi.

Diam. Tak bergerak bahkan menahan napas.

“Kalian akan mengetahui setiap detail apa yang kalian pertanyakan selama ini. Bukankah itu yang kalian tunggu?” tambahnya lagi.

Diam. Mereka menghela napas panjang sambil berdecak pinggang.

“Aku sudah memprogramnya dengan software-software yang membantu penyamaran kalian jika ingin mengetahui seluk-beluk sejarah yang kalian inginkan,” tuturnya dengan penuh keyakinan.

Diam. Mereka berbalik menatap tajam Heinrich.

“Aku juga sudah memasukan software rekayasa genetik guna membantu penyamaran kalian. Kalian bisa menjadi apapun dalam penyamaran,” tambahnya lagi.

“Benarkah?” tanya Pierre yang masih tidak percaya.

“Termasuk menjadi wanita?” tanya Gerhard.

Heinrich mengangguk dengan yakin. Mereka berdua nampak mempertimbangkan permintaan Heinrich. Setelah tiga puluh menit berkutat dengan pikiran mereka akhirnya mereka menyetujui permintaan Heinrich.

“Kau ingin kami melakukan apa?” tanya Pierre.

“Selidiki pengaruh kaum Yahudi terhadap perang dunia 2 dan selidiki tentang Ratu Min,” ucapnya mantap.

Pierre dan Gerhard saling pandang ketika mendengar permintaan Heinrich. Dan tanpa pikir panjang mereka menyetujuinya, karena permintaan Heinrich berhubungan juga dengan obesesi yang selama ini mereka inginkan.

“Persipakan diri kalian,” kata Heinrich mantap dan memberikan mereka 2 pasang baju biasa namun dilengkapi perisai khusus untuk melindungi diri.

“Bagaimana cara kami  menemukan jalan melalui dimensi ke-empat ini?” Tanya Pierre bingung karena yang ia baca di sains fiksi menyebutkan perjalanan waktu seringkali menampilkan sebuah mesin besar yang lapar akan energi. Mesin tersebut menciptakan sebuah jalur melalui dimensi ke-empat, sebuah terowongan waktu atau.

Heinrich telah lama berpikir tentang terowongan waktu juga, namun datang dalam sudut pandang yang berbeda. Ia penasaran jika portal ke masa lalu atau masa depan cocok dengan hukum alam, sesuai dengan penghargaan Nobel pertamanya yang ia namakan dengan wormhole. Tapi kebenarannya adalah wormhole tersebut ada di sekitar manusia, hanya sangat kecil untuk terlihat. Mereka bersembunyi di kanal ruang dan kanal waktu. Tidak ada yang datar atau solid.

“Jangan sampai kau salah mengim kami ke Zaman purba,” tambah Gerhard.

“Doakan saja semoga aku tidak salah memasukkan syntax,” jawab Heinrich enteng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Pierre dan Gerhard berjalan menghampiri benda besar berbentuk elips itu dan tiba-tiba setengah bagian dari elips itu bergeser ke samping, kemudian mereka memasukinya dan berpegangan tangan.

“Kalian siap?” tanya Heinrich yang sudah berdiri di depan computer yang ia gunakan untuk
menjalankan benda elips itu.

“Siap!” seru mereka berdua.

Bagian elips yang setengah terbuka tadi mulai tertutup dan elips itu berputar kencang dan terus berputar hingga mereka hilang menembus waktu.

“Maafkan kegilaan yang ku perbuat. Aku hanya ingin mengetes, apa Black Time hasil rancanganku ini berfungsi? Jika mengalami gangguan, maafkan aku karena kalian akan terjebak selamanya disana,” lirih Heinrich sambil memakan biscuit yang terletak di sampingnya.

–To Be Continue–

Advertisements

12 thoughts on “BLACK TIME

  1. Wina….

    Bener kata Cs Onnie, ini macem baca Science Fiction bukan FF, tapi asli keren. Wina selalu bisa membuat cerita-cerita yang membuat readernya berpikir keras hehehehehe

    Tante penulis terkenal pasti ngga nyampe baca tulisan Wina ini, pasti dibilang ngebosenin hehehehehehe

  2. Awal cerita aku sedikit ga mudeng, tapi pas udah baca sebagian mulai bisa memahami. :p

    Itu aja komennya… wkwkwk…

    Padahal di SF di post juga kan yah?
    Tapi belum sempat baca. kkkk :3

  3. Oke, Heinrich itu bener” menyebalkan -_-
    ane harap dia geger otak ketimpa dinding rumah dia, atau pohon.
    dia ngeselin wkwkwk

    awal” ane masih susah bedain karakter gerhard ama pierre *abang bin ai lopek yu* #abaikan wkwkkw
    tp ke bawah” ane bisa nangkep :v Horaayyy!!
    ternyata si gerhard lbh suka konfrontasi. Gk suka, bilang gk suka. Klo pierre lbh tenang keknya :v

    dan wina -_- jgn bilang wubin beneran jdi cwek pas di waktu sana. Ahhh! image sangar dia bkl ternoda T.T

    Ngmng” ane baca ini kek denger pak guru fikika ngmng :v
    Ente pasti riset ampe botak ye xixixxii
    keren-keren!

    ada lagi! Ada satu kalimat yg “menekan batu bata yang tersusun
    horizontal diantara susunan vertikal,
    tiba-tiba dinding di samping kami << apa Pov org tiba" masuk 😮
    mungkin Typo kli ye

    oke gud baii
    gud story
    gud cast
    gud rider (?)
    wkwkwkwk

  4. Ini udah banyak perubahan ya win. Kemarin itu awalan blm ada. Dan ini lebih detail dr yg gw kira. Mulai dr awal knpa ada si ilmuan gila itu sampe akhir. Gw terpesona akan bahasa dan penjabaran yg author pake ini, kaya kembali lg ke jaman SMA. Okee fisika , gw suka pelajaran ini walaupun gurunya agak bolot dikit #plaakk

    Tebak2an, gw rasa si pierre dan gerhard bakalan kejebak di dimensi waktu yg ga bgt. Gw tunggu mereka memulai petualangannya. Ahayyy.

    1. Gurunya kolot karena liat muka lu mungkin, Lan. Hahahha
      Gw pastikan mereka berpetualang ke Bendungan Katulampa. Uyeeee

  5. ㅎㅎㅎㅎ ㅋㅋㅋㅋ
    ngikik di ending
    sintingnya so jisub malah kebayang gerakan ngusir khas dia di Master’s Sun
    Jongsuk 180 +nya enam ya 😉

    Idem ma CS unni.
    harusnya Wina kirim dalam bentuk cerbung k majalah sastra 😀
    ini Fisika tapi mempermasalahkan linguistik euy, dasar ilmuan sinting

    kalo Empress Myeongseong diselamatkan, ntar sejarahnya berubah. Dia bukan dibunuh Jepang, tapi diselamatkan orang misterius ㅋㅋㅋ
    andai datangnya pas Emperor aka Raja Gojong masih anak2, bisa ketemu Dokter Jin. wkwkwk

    yang dateng ke masa second world war, tolong selamatkan Adolf Hitler ㅎㅎㅎㅎ *ditebas kaum Jews*

    Saran buat next, lebih komplit kalo sisipkan unsur sociolinguistik. Maksud G, bahasa di mana sosial kultur cerita terjadi. Ke depannya bisa tuh bahasa Joseon dll 😉

    Dear, masih ada beberapa error preposisi sama awalan.

    I love this story. Nambah variasi genre di PF. Danke.
    Si author ‘lama’ yg sok bener ini pasti muntah baca story ini, coz ga akan nyampe ma otak dia yg kapasitas RAMnya ga nyampe setengah GB 😀

    1. Nah, itu dia. Saya masukin unsur sociolinguistik tapi gak mau asal juga. Mau pakai GoTe takut salah, soalnya kan kadang kalau terlalu paradoks bahasanya artinya jadi gak sesuai hahhaa

      Hitler itu mah pasti ada. Justru itu klimaksnya hahahahaha

      Author lama kan taunya lemeh-lemeh aja. Hahahhaa

  6. Huhuhu aq kurang mengerti.. Maaf kalo menurutku ff’y berat trus baca’y uga. Aq suka sejarah tp fisika aq gak suka #plaaakgaknyambung 😀 tp ntr aq coba baca lg berulang2…

  7. First Comment. Author, bila kau menyebut ini ff, kamu salah tempat. Saya memasukkan ini dalam historical and science fiction. Tidak perlu memakai cast korea. Saya bisa membayangkan seorang ilmuan yang sebenarnya bertampang lumayan tampan dengan kacamata di atas kepala tapi masih bertanya di mana ia meletakkan kacamatanya. Bila saya jadi sepupunya, ogah jadi kelinci percobaan ilmuan sinting. Ia ngak salah portal kan? Beginikah cara menyebutnya? Maunya mengirim ke PD 2 tak tahunya muncul di era raja Sejong. Lumayan deh bisa ketemu pembunuh sadis nan tampan wkwkwk. Oke, saya anggap ini prolog yang bagus. Thanks karena dah share cerita science di sini. Good work. And I love it! Spt lagi baca komen Octa membaca kalimat demi kalimat dari ilmuan itu. ㅎㅎㅎㅎ

    1. Thank you, CS Eon yang sudah post FF ini.
      Sengaja kirim cerita ke PF soalnya topi FF di PF biasanya berat-berat dan gak lemeh-lemeh jadi mencoba untuk menyesuaikan. Hha

      Ahh, itu. Sengaja pake cast Korea terus dibara-baratin biar orang tau visualnya.

      Maunya sih mereka nanti menjelajah ke segala waktu dan petuangalan dimulai tanpa mengubah peristiwa di masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s