I’m Not a Monster

poster i'm not a monster

I’m not a Monster by ansicangel

PG – 15 | Oneshot | Romance, School Life

Cast :

Kwon Jiyong (G-Dragon Big Bang),  Han Yewon (OC)

Other Cast :

Ryu Hyoyoung, Ryu Hwayoung, Park Yoochun (JYJ)

Storyline    : Romantic Egoist by Bisco Hatori

_Don’t judge a book by its cover_

A/N : Annyeong, maaf baru bisa muncul kembali *deep bow* setelah hampir 6 bulan hiatus karena WBS T_T Saya masih berusaha keras mengerjakan FF yang selama ini tertunda, jadi mohon dukungannya 🙂 Mohon maaf jika ada kesalahan. FF ini pernah diposting di School of Fanfiction.

Ѡ I’m not a Monster Ѡ

“Ini ramuan cinta yang dapat membuat orang jatuh cinta seketika.”

“Resepnya merupakan rahasia perusahaan. Masa berlakunya kira-kira 2 minggu.”

“Sekarang kami sedang memberikan service istimewa, ‘lho.”

“Kalau ramuan itu berguna saja, kami sudah sangat senang sekali, Yewon-ah.”

Han Yewon, gadis manis dan imut dengan rambut panjang hitam sepunggung nan lurus, memandang dua orang lawan bicaranya dengan tatapan tegang.

Aniyo. Bukankah ini terlalu berlebihan Hyoyoung-ah, Hwayoung-ah?” ujar Yewon was-was sembari memegang sebuah botol kecil yang sebesar telapak tangannya yang berisi cairan berwarna bening.

Entah mengapa, dia tak tahu bagaimana bisa berhadapan dengan sepasang gadis kembar yang terkenal aneh dan misterius itu di sekolahnya. Yang menurut kabar, mereka adalah keturunan penyihir atau semacam dukun atau apalah namanya, ia tak tahu. Ryu Hyoyoung dan Ryu Hwayoung adalah kakak-adik yang bisa dibilang memiliki semangat tersendiri dalam hal percintaan.

Ia teringat kejadian saat tadi siang. Yewon mengendap-endap berjalan di antara susunan rak buku di perpustakaan. Tangannya mengambil sebuah buku, sementara pandangannya lurus menatap seorang pemuda tampan yang sedang duduk tak jauh darinya, membaca sebuah buku dengan serius. Yewon memang sudah menyukainya selama setahun ini dan hanya bisa berani memandanginya dari jauh.

Perlu diketahui kalau Yewon adalah gadis yang pemalu. Sangat. Ia bahkan perlu tenaga ekstra hanya sekedar untuk memandang wajah pemuda itu.

Park Yoochun, pemuda tampan dan tegap yang berada satu tingkat di atas Yewon, selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk belajar. Wajahnya yang terlihat intelek dan tenang, membuat Yewon jatuh hati. Mereka sama sekali tak pernah berbicara. Bahkan, Yewon sangsi kalau pemuda itu mengenalnya.

Ia menghelakan nafasnya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan perpustakaan.

“Tunggu dulu, Agassi.” kata seseorang tiba-tiba yang disertai tepukan di atas bahunya sebelah kanan dan kiri secara bersamaan, membuat Yewon hampir jantungan karena saking kagetnya.

“Sepertinya anda memendam masalah percintaan, ya?” lanjut orang yang satunya yang sangat identik dengan orang pertama.

Mereka, tak lain dan tak bukan, adalah si kembar Ryu Hyoyoung dan Ryu Hwayoung. Dan akhirnya Yewon pun berakhir di sini -di sebuah laboratorium kimia yang sudah tak terpakai di lantai dua di sebelah selatan gedung sekolah- yang sudah dirombak menjadi ruangan pribadi si kembar.

Yewon tampak terkejut melihat ruangan itu yang berubah total dari ruangan aslinya. Ia tak heran mengapa adik-kakak itu dapat melakukannya, karena mereka adalah anak dari salah satu pemilik sekolah.

“Yewon-ah, kami sangat memahami perasaanmu.” ujar Hyoyoung pelan.

Ne. Walaupun kau sangat ingin, tapi kau tak mempunyai keberanian untuk menegurnya,” lanjut Hwayoung dengan tampang sedih yang dibuat-buat.

“Hanya bertemu pandang saja, jantungmu sudah bedegup kencang dan dada pun bergemuruh,” kata Hyoyoung puitis.

“Terjebak di antara perasaan yang malu-malu dan keinginan yang menggebu. Sampai-sampai sulit untuk bernafas,” sambung Hwayoung.

“Benar-benar perasaan cinta yang menyedihkan dan sungguh suatu perasaan yang indah,” seru mereka serempak sambil memegang tangan Yewon dengan erat, membuat Yewon terlonjak.

“Jadi, apakah kau mengerti Yewon-ah?” tanya salah satu dari mereka setelah beberapa saat kemudian.

“Eh?” kata Yewon tak mengerti.

“Sekarang yang kau butuhkan hanya kesempatan,” sahut Hwayoung.

“Apakah kesempatan itu dibuat olehmu atau didapat secara kebetulan? Hanya masalah kecil kalau dibandingkan dengan kebahagiaan yang akan didapat,” lanjut Hyoyoung.

“Percintaan itu seperti pertempuran,” kata Hwayoung santai.

“Bila dalam 2 minggu ini kau benar-benar mendapatkan hatinya, berarti kau menang,”

“Tapi, kalau kau kalah setelah 2 minggu khasiat ramuan itu berakhir, maka berakhir pula hubunganmu dengannya.”

Yewon hanya dapat membelalakkan kedua matanya. Seserius itukah? Hei, tunggu dulu!

Ѡ I’m not a Monster Ѡ

Yewon berjalan dengan langkah berat dan ragu-ragu memasuki perpustakaan. Di tangannya kini sudah ada segelas jus jeruk yang sudah berisi ramuan dari si kembar tentunya. Jujur ia agak menyesali keputusannya mengikuti saran mereka yang bisa dibilang cukup ekstrim, menurutnya.

“Dekati dia dengan santai. Tukar saja minumannya tanpa diketahui. Arasseo?” kata salah satu dari si kembar sebelum Yewon meninggalkan ruangan pribadi mereka.

‘Tenang. Dengan santai. Santai,’ rapal Yewon dalam hati saking gugupnya.

Ketika sudah hampir sampai mendekati pemuda tampan itu, tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya. Ia berdiri gelisah di antara susunan rak buku. Rasanya ia ingin menangis saja dari pada dipaksa melakukan hal itu.

Namun, kalau tidak melakukannya, sisa waktu selama setengah tahun ini dia tidak akan melihat Park Yoochun lagi. Karena pemuda itu dipastikan akan lulus SMA 6 bulan yang akan datang.

Ia menghelakan nafas. Berpikir ulang.

‘Memang. Sepertinya percuma saja. Dari awal aku sudah meragukan khasiatnya. Aku memang bodoh karena terbawa suasana dari mereka,’ pikirnya sambil mengelus alis sebelah kanannya.

Park Yoochun Sunbae.

Yewon sudah puas hanya sekedar melihatnya saja.

‘Hah. Biar bagaimana pun, tak akan terkabul. Asal dia tidak membenciku juga, sudah tidak apa-apa.’ katanya dalam hati pasrah, ‘Maka dari itu, tidak apa-apa kalau begini terus.’

Ia lebih baik menyerah saja sekarang. Ia terlalu takut. Ia bahkan sama sekali tak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya ketika ia sedang bergumul dengan pemikirannya.

“Han Yewon,” panggil orang itu yang tak lain seorang pemuda, “Kau sedang apa?”

Belum sempat gadis itu menjawab, pemuda itu langsung merebut gelas yang berisi jus jeruk dari tangannya.

“Kalau tidak diminum, untukku saja, ya?” ujarnya.

Gadis itu terkejut dan segera mendongakkan wajahnya karena tubuh pemuda itu lebih tinggi darinya. Ia ingin membuka suaranya, tapi sudah terlambat karena pemuda itu sudah meminumnya sampai habis. Yewon hanya dapat menelan ludahnya ketika melihat siapa pemuda itu.

“Han Yewon-ah, maukah kau menjadi pacarku?” tanya pemuda itu setelah sesaat meminum minuman itu.

Perlu beberapa detik bagi Yewon untuk mencerna hal itu sebelum ia terperangah, tak percaya. Dan tubuhnya menegang bagai tersambar petir.

Mwo?!” serunya.

Ѡ I’m not a Monster Ѡ

“Aku Kwon Jiyong –atau orang-orang memanggilku G-Dragon atau GD- dari kelas 2-A,” ujar pemuda itu santai, “Terserah kau ingin memanggilku apa, aku tak mempermasalahkannya. Ah, kita sama-sama kelas 2.”

Yewon benar-benar sangat tak mempercayai apa yang baru saja ia alami.

Gadis itu mencoba mengasah otaknya yang terasa tumpul. Dan akhirnya ia pun menyadari kalau laki-laki itu menyatakan cinta padanya.

“Aku bisa dikatakan orang sangat periang, cuek, dan berbuat seenaknya,” tutur pemuda itu.

Yewon memutar bola matanya. Ia sudah tahu tanpa laki-laki itu menjelaskannya, karena itu bisa dilihat dari penampilannya yang bisa dikatakan tidak rapi sama sekali. Terkesan berandalan dan sangar.

Rambutnya dipotong aneh, kadang dicat macam-macam dan jangan lupakan beberapa tindikan di telinganya yang membuat Yewon merinding disko melihatnya. Yang membuatnya aneh, mengapa GD tak pernah sekalipun dipanggil oleh guru karena penampilannya?

Apakah itu karena ia salah satu anak donatur di sekolah? Entahlah. Yang Yewon tahu dari GD adalah pemuda itu sangat energik dan banyak mempunyai teman laki-laki maupun perempuan.

Dan kini, Hyoyoung dan Hwayoung hanya dapat memandangi gadis itu yang duduk di hadapan mereka dengan pandangan membunuh. Sementara itu Yewon menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Apa kau bodoh!?” tanya mereka serempak dengan nada mengintimidasi.

Pernyataan mereka membuat Yewon seperti jatuh tertimpa besi satu ton, dan itu membuat kepalanya menunduk semakin dalam.

“Bagaimana bisa begitu?” tanya  Hyoyoung heran.

“Lalu apa jawabanmu?” sambar Hwayoung.

“Aku menjawab, ‘Tolong beri aku waktu dan kesempatan untuk berpikir’.” jawab Yewon polos.

Si kembar itu hanya mendengus.

“Hyoyoung-ah, Hwayoung-ah, apa yang harus aku lakukan?” kata Yewon frustasi.

“Kalau itu, kami tak bisa berbuat apa-apa,” sahut si kembar serempak dengan nada yang tegas.

“Yang perlu kau ingat, obat itu sangat manjur. Tapi, hanya berlangsung 2 minggu,” ujar Hyoyoung.

“Bagaimana kalau kau mencoba berkencan dengannya, selagi kau menunggu sampai efek obat itu habis?” saran Hwayoung sambil tersenyum licik.

Omo! Aniyo!” seru Yewon tak percaya sambil menggoyangkan kedua tangannya.

Wae?” tanya mereka lagi, “Kau bahkan belum mencobanya.”

“Itu… Sepertinya G-Dragon orang yang menakutkan, suka pergi keluyuran, dan sangat suka mendengarkan musik keras. Lagi pula, aku sangat tak suka mendengarkan musik keras. Kami berdua sangat berbeda dunia. Pokoknya dia orang yang menyeramkan,” raung Yewon panik.

“Kau harus mencobanya. Lagi pula tinggal 13 hari lagi,” ucap mereka santai.

‘Tinggal 13 hari lagi!? Itu masih cukup lama,’ jerit Yewon dalam hati.

Yewon berjalan menelusuri koridor setelah bel pulang dengan tampang lesu. Pikirannya sangat kacau saat ini, belum tugas-tugas PR yang menumpuk ditambah lagi kehadiran pemuda aneh yang kini mendadak muncul di kehidupannya.

“Yewon-ah, akhirnya aku menemukanmu!” seru GD di tikungan koridor ketika mereka berpapasan.

Yewon sangat terkejut melihat sosok yang tak diinginkannya muncul di hadapannya. Jantungnya pun mendadak kumat. Berdetak tak karuan saking takutnya. Ingat. Takut.

“Ayo, kita pulang bersama.” ajaknya sambil menggandeng tangan gadis itu.

Chankanmanyo!” kata Yewon ragu-ragu.

GD seketika menghentikan langkahnya dan segera mentapnya tajam. Yewon menelan ludahnya gugup karena risih ditatap seperti itu.

“Hmm, aku ingin ke perpustakaan dulu,” jawab gadis itu pelan.

“Baiklah. Akan kutemani,” kata pemuda itu ceria.

“Eh, tapi… Tapi, mungkin agak lama,” ujar Yewon mencoba menahannya karena ia tak mau berada di dekat lelaki itu.

“Akan kutunggu,” sahut GD cepat.

Yewon menghelakan nafasnya. Pasrah. Tak mungkin ia melarang GD ikut ke perpustakan ‘kan?

‘Kenapa aku selalu begini?’ tanya gadis itu dalam hati.

Yewon sering bertanya-tanya, mengapa sikapnya demikian. Ia selalu tak bisa menolak dan terkesan pasif. Ia tak dapat mengatakan hal yang ingin ia katakan. Kali ini pun sama, sebenarnya ia bisa saja menolak GD dari awal.

Yewon memandangi sosok Park Yoochun yang sedang membaca buku seperti biasa dari kejauhan dengan tatapan mengharap.

“Wah, mau diapakan buku sebanyak ini?” tanya GD takjub melihat rak-rak buku yang tinggi yang penuh berisi buku-buku.

“Apakah kau baru pertama kali datang ke sini?” tanya Yewon heran.

GD mengangguk, “Aku hanya suka membaca komik,” sahutnya sambil menggaruk dagunya.

“Apakah kau sering datang kemari?” kata lelaki itu balik bertanya.

Ne. Aku suka buku,” jawab Yewon.

‘Dan Yoochun Sunbae, tentunya’ katanya menambahi dalam hati.

“Ah, kau juga selalu membaca buku di kelas, bukan? Kau bisa memberitahuku buku yang bagus dan menarik? Tapi, jangan yang susah-susah karena aku akan tertidur,” ujar GD sembari mengambil sebuah buku tentang fotografi.

“Mungkin aku bisa mencarikan sebuah untukmu,” sahut gadis itu mengangguk.

“Kau itu, orang yang mudah terpengaruh dan pendiam. Di antara teman-temanmu, kau pasti menjadi seorang pendengar dan tipe penurut,” kata GD tenang.

Mendadak jatung gadis itu merasa seperti ada yang menghunusnya. Yewon membenarkan itu, bahkan dia pun berpikir kalau ia pasti dianggap sebagai orang yang pemurung dan tak mempunyai semangat hidup.

“Tapi, sebenarnya kupikir itu hanya karena kau tak tahu caranya untuk mengatakan apa yang ingin kau katakan,” tutur GD. “Aku tak suka orang yang pasif dan pasrah begitu saja. Bukankah itu sama dengan kalah sebelum bertanding?”

Yewon terhenyak mendengar laki-laki itu berbicara. Baru kali ini ada orang yang berterus terang dengan sikapnya. Sementara itu, GD menatap Yewon yang seperti mayat hidup karena tatapan matanya yang kosong.

Mianhae. Apakah ucapanku terlalu kasar?” kata lelaki itu panik.

Sontak Yewon mengerjapkan kedua matanya. Tersadar dari lamunannya.

Aniyo,” sahutnya.

“Syukurlah. Hm, bagaimana kalau kita mampir sebentar ke toko CD?” ajak GD sambil menaruh kembali buku yang ia ambil tadi.

Ne.

Yewon sama sekali tak menyangka kalau pemuda itu mempunyai perasaan dan insting yang tajam. Padahal mereka jarang mengobrol. Mungkin dia tak menakutkan seperti yang gadis itu pikirkan.

Mereka pun memasuki sebuah toko CD di kawasan Myeongdong.

“Yooo, GD-ah!” sapa seseorang tepatnya seorang lelaki.

Annyeong. Sudah lama kau tak kemari,” lanjutnya.

Yewon membelalakkan kedua matanya melihat seorang pemuda bertubuh tinggi dan kurus dengan penampilan yang bisa dikatakan mirip GD, tetapi ini lebih menakutkan. Ia memakai eyeliner di kedua matanya dan bertatoo di sekitar leher dan lengannya. Aksesoris seperti kalung, gelang, anting-anting, dan cincin tak ketinggalan dikenakannya.

Sepertinya lagi-lagi ia harus berpikir ulang tentang GD.

‘Memang menakutkan,’ kata Yewon dalam hati dengan bergidik ngeri.

Annyeong, Hwangjun Hyung,” balas GD dengan cengirannya yang khas.

“Album yang kau ceritakan waktu itu, apakah sudah ada?” tanyanya.

Ne, chankanman.” sahut Hwangjun.

Tiba-tiba mata pria itu menangkap sosok Yewon yang tengah berdiri di depan pintu masuk. Gadis itu pun menyadarinya.

Annyeong,” sapa Yewon kaku sambil membungkukkan badannya.

“GD-ah, apakah dia pacarmu? Manis juga pilihanmu,” tanya Hwangjun.

Yewon menggeleng wajahnya cepat, sementara itu GD hanya tertawa menganggapinya.

“Itu yang aku inginkan. Sudahlah, aku ingin melihat ke bagian sana dahulu,” ujar GD sambil berjalan meninggalkan mereka berdua, “Tolong jaga dia, ya.”

Yewon melihat punggung GD yang menjauh sembari menghela nafasnya.

Agassi, biarpun dia kelihatan norak, seenaknya, dan santai, tetapi sebenarnya dia itu polos sekali,” kata Hwangjun.

‘Benarkah?’ kata Yewon tak menyangka dalam hati.

“Teman perempuannya banyak, tetapi dia tak pernah menegur perempuan yang disukainya,” tutur Hwangjun, “Katanya waktu dia duduk di SMP, dia pernah mengajak perempuan yang di sukainya selama 2 tahun untuk pergi berkencan.”

“Dan dia menunggunya di tempat janjian mereka di atas jembatan sungai Han selama 6 jam,” lanjutnya sambil diselingi tawa, “Dasar bodoh. Biasanya orang tidak akan menunggu selama itu ‘kan?”

“Dasar pemurung!” ledeknya pada GD, “Setelah itu kau mengurung diri di kamar selama sebulan ‘kan? Hanya mendengarkan lagu Avenged Sevenfold atau Green Day.”

Yakk! Kau cerita apa saja padanya?!” seru GD.

Aigoo! Sudahlah, itu ‘kan masa lalu yang tak perlu diungkit-ungkit,” ujarnya sambil memalingkan wajahnya.

Yewon terkejut melihat ekspressi wajah GD yang memerah dan tampak malu. Seperti yang bukan ia lihat setiap hari. Dan bukan seseorang yang ia kenal.

Oo0oO

“GD-ssi, ini…”

Yewon menyerahkan sebuah novel yang berwarna jingga kecoklatan pada lelaki itu. GD mengernyitkan keningnya heran sambil menerima novel itu.

“Apa ini? Eommaleul Butakhae (Please, Look After Mom) oleh Shin Kyung Sook,” kata GD membaca sampul novel itu dengan bingung.

“Waktu itu, kau pernah bilang untuk memberitahumu sebuah buku yang menarik ‘kan?” ujar gadis itu.

Eotthoke? Bagaimana jika dia hanya basa-basi?’ pikirnya gundah.

“Sebenarnya aku mempunyai banyak. Tapi, kupikir novel ini diceritakan dengan pergeseran sudut pandang dari anggota keluarga – putri sulung, anak sulung, suami – yang mencari ibu. Jadi, kupikir kau pasti tak akan bosan membacanya.” katanya panjang.

“Aku tak menyangka, kau akan memikirkan sampai sejauh itu,” gumam GD.

Ne?”

Aniyo,” elak GD cepat, “Sepertinya ini sangat menarik. Dapat melakukan hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya yang tak menarik bagi kita, itu bagus juga.”

Lagi-lagi, Yewon terhenyak mendengarnya. Sejak sampai saat itu, ia merasa telah meremehkan GD. Ia merasa seperti melepaskan filter yang terpasang pada matanya. Dan sedikit demi sedikit ia bisa melihat dunia di sekitarnya dengan jelas. Mungkin seperti pepatah ‘melihat sendiri sekali saja sama dengan mendengar cerita dari 100 orang.’

GD yang selama ini dekat dengannya mencerminkan seorang pemuda yang baik, ceria, dan ramah. Sama sekali tak ada kesan berandalan yang selalu hinggap di pikiran Yewon.

Namun, ia harus kembali dihadapkan kisah nyata. Setelah 2 minggu, khasiat obat itu akan hilang dan perasaan GD padanya pun akan pudar. Ia berharap, ia dapat melewati waktu selama 2 minggu ini dengan baik.

Sementara itu di tempat lain. Di sebuah laboratorium Kimia.

“Sepertinya akan menjadi lebih menarik ya, Hyoyoung-ah?”

“Ah, Hwayoung-ah. Ini baru awalnya saja ‘kan?”

“Setelah ini akan sangat mengasyikkan.”

Terdengar suara terkikik yang melengking di dalam ruangan itu, yang membuat bulu kuduk berdiri jika mendengarnya.

Ѡ I’m not a Monster Ѡ

Oppa! Apakah kamus Bahasa Inggrisku ada di sana?” seru Yewon sambil mengetuk pintu kamar kakaknya.

“Masuklah!” seru kakaknya.

Gadis itu pun segera membuka pintu dan melihat kondisi kamar kakak lelakinya seperti kapal terbang pecah. Berantakan.

“Mungkin ada di sana,” beritahu kakaknya sambil menunjuk pada tumpukan buku-buku dan CD yang tercampur di atas karpet.

‘Ugh, kotor sekali. Dasar Oppa jorok,’ gerutunya dalam hati.

Setelah berkutat cukup lama, ia pun menemukan apa yang ia cari. Ia melihat sesuatu di bawah tumpukan kamusnya yang ternyata sebuah CD. Ia pun membaca judul album CD itu.

‘Green Day. Bukankah ini yang diceritakan di toko CD waktu itu?’ pikirnya.

“Eh, jadi kau mendengar lagu mereka juga?” tanya GD takjub keesokan harinya saat mereka berjalan beriringan ketika pulang sekolah.

“Hu um,” sahut Yewon sambil mengangguk, “Aku meminjamnya dari Oppa-ku,”

Aissh! Kenapa kau tiba-tiba ingin mendengarnya? Jika kau bilang padaku, aku pasti akan meminjamkannya padamu.”

“Aku hanya penasaran lagu apa yang kau sukai. Dan ternyata lagunya cukup bagus ‘kok.” ujar Yewon.

GD tersenyum lalu mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut, membuat perasaan Yewon terasa hangat akan sentuhannya.

Aigoo! Ternyata kau sangat manis sekali, ya.” pujinya.

Yewon menundukkan wajahnya sambil tersenyum. Entah mengapa, perasaannya senang sekali dan jantungnya berpacu cepat tak terkendali bersama waktu. Ia tak tahu perasaan apa itu. Tapi, yang jelas ia amat menyukainya.

Ѡ I’m not a Monster Ѡ

“Tinggal 4 hari lagi. Kenapa cepat sekali?” desah Yewon saat ia sedang duduk di atas ranjangnya.

Setelah 2 minggu khasiatnya berakhir, berakhir pula hubunganmu dengannya,’

Setiap malam, ia pasti selalu teringat perkataan si kembar itu. Ia pun menghela nafasnya panjang sembari menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur dengan memejamkan matanya. Mencoba berpikir jernih.

Perasaannya terhadap Yoochun Sunbae tidak berubah. Namun, tak tahu mengapa ia ingin efek obat itu terus berlangsung. Bersama GD. Bersama seorang pemuda yang bahkan sama sekali bukan tipenya, yang sempat ia pikir beringas, sangar, dan menyeramkan seperti monster. Tapi, semua pikirannya itu menghilang seketika ketika ia mengenalnya.

Sepertinya pepatah yang mengatakan ‘Don’t judge a book by its cover’ memang benar untuknya.

Ѡ I’m not a Monster Ѡ

Mwo? Pameran lukisan Kieron Williamson?” kata Yewon takjub saat mereka berada di atas rooftop sekolah.

Ne. Mulai akhir minggu depan. Aku sangat suka karyanya,” sahut GD.

“Ah, ternyata selera kita sama. Aku juga sangat mengagumi karya bocah 9 tahun itu. Wah, pasti akan sangat menyenangkan sekali,” kata Yewon girang.

Sementara itu tanpa disadari olehnya, GD terdiam, tak berbicara apa-apa dan tampak murung. Seperti ada beban yang ia sembunyikan di depan gadis itu. Kemudian ia tersenyum simpul sambil membelai puncak kepala Yewon.

“Kalau begitu, bisakah kita pergi bersama?” tanyanya pelan.

“Hmm, minggu depan, ya?” kata Yewon memastikan.

GD menganggukkan wajahnya sambil menatap lekat-lekat ke dalam matanya, sampai-sampai ia bisa melihat bayangannya sendiri di bola mata gadis itu.

“Mungkin bisa,” jawab Yewon ragu-ragu lalu menundukkan wajahnya.

‘Dasar babo!’ umpatnya dalam hati, ‘Pasti janji itu tak ‘kan berlaku lagi. Seminggu lagi ‘kan sudah…’

Tanpa ia sadari air bening meleleh dari kedua kelopak matanya yang indah. Aniyo, ia tak boleh menangis sekarang apalagi di depan pemuda itu.

Omo! Yewon-ah, kenapa kau menangis? Apakah aku salah bicara?” tanya GD dengan panik.

Aniyo. Gwaenchana,” sahut Yewon sambil mengusap kedua matanya, “Mataku hanya kemasukan debu. Bukan masalah yang perlu dibesar-besarkan.”

Aisshh! Jangan kau usap seperti itu. Kau akan iritasi nanti. Aku akan membantumu,” ujar pemuda itu sambil memegang kepala Yewon untuk menghadap pada wajahnya.

Begitu dekat, hingga Yewon dapat mendengarkan detak jantungnya sendiri berdetak begitu kencang di telinganya. Pemuda itu meniupkan kedua mata Yewon secara bergantian.

“Merasa lebih baik?” tanya GD.

Yewon mengangguk, “Gumawo,” ucapnya tanpa sekalipun menjauhkan wajahnya yang begitu dekat dengan GD.

Mereka bertatapan cukup lama. Dan bola mata Yewon menutup seiring wajah GD yang semakin mendekat dan menghapus jarak di antara mereka. Yewon pun meremas baju seragam GD saat tubuh pemuda itu menghimpit tubuhnya erat. Sangat erat sampai ia tak bisa bergerak.

Akhirnya, GD pun melepaskan ciumannya setelah beberapa menit. Entah mengapa suasana canggung tercipta usai ciuman itu. Yewon menundukkan wajahnya yang memerah seperti kebanyakan cuka, sementara GD memalingkan wajahnya menghadap ke arah lain.

“Hmm, aku ingin ke kamar mandi sebentar,” pamit Yewon dengan suara amat pelan tetapi, masih dapat ditangkap oleh telinga GD.

Yewon menyandarkan tubuhnya di pintu rooftop sembari menghela nafasnya panjang. Ia tak habis pikir kalau ia baru saja berciuman dengan GD.

‘Aku sungguh bodoh,’ rutuknya dalam hati.

‘Kalau memikirkan aku yang akan segera menjauh darinya, aku menjadi merasa kesepian dan sedih. Namun, yang lebih menyedihkan adalah senyumannya dan kata-katanya yang baik sejak awal, semuanya hanya palsu akibat obat itu. Bahkan ciuman tadi pun hanya kepalsuan belaka,’ katanya dalam hati.

Ѡ I’m not a Monster Ѡ

Yewon berjalan menaiki tangga yang akan membawanya ke sebuah ruangan yang jarang disinggahi murid-murid. Langkah kakinya berhenti tepat di depan ruangan laboratorium kimia. Ketika ia akan mengetuk pintu, ia seperti mendengar suara lelaki di sana.

“Aku benar-benar bingung,” kata suara itu.

Yewon merasa jantungnya berhenti berdetak ketika mendengar suara itu.

‘GD-ssi? Apa yang dilakukannya di sini?’ tanyanya dalam hati.

Ia pun mencondongkan telinganya untuk semakin mendekat ke arah pintu.

“Khasiatnya obatnya hanya sampai besok ‘kan? Entah mengapa, aku rasa Yewon tak mungkin percaya dengan hal-hal yang seperti ramuan cinta,” kata GD dengan suara yang terdengar jelas.

“Apa yang sedang mereka bicarakan?” tanya Yewon pelan dengan penasaran sambil memegang kenop pintu.

“Tapi memang kenyataannya….”

Yewon tak ingin mendengarnya lebih lanjut. Sudah cukup untuknya. Ia pun membanting pintu dengan keras dan berlari meninggalkan tempat itu. GD yang mendengarnya segera keluar dari ruangan tersebut.

“Ye Wo-ah!” panggilnya.

“Sial!” umpatnya kesal sambil berlari mengejar gadis itu.

Oo0oO

‘Semuanya bohong,’ batin Yewon sambil berlari memasuki halaman belakang sekolah.

‘Sejak awal, mereka semua hanya iseng terhadapku. Aku memang bodoh. Mereka membuatku bingung sendiri dan senang sendiri. Memang benar-benar bodoh!’

Ia terus berlari sambil mencoba menghapus air matanya yang telah mengalir deras membanjiri wajahnya. Sampai tiba-tiba ia menabrak tubuh seseorang.

Gwaenchana?” tanya orang itu agak khawatir.

Gwaenchana,” sahut Yewon sambil mendongakkan wajahnya.

“Oh, kau.” ujar orang itu.

“Yoochun Sunbae, kau mengenalku?” tanya gadis itu tak percaya.

“Kau yang sering ke perpustakaan itu ‘kan?”  kata Yoochun sambil tersenyum.

‘Yoochun Sunbae mengenalku,’ kata gadis itu dalam hati.

“Waktu itu kau bersama laki-laki berambut biru. Apakah dia namjachingu-mu?” tanya Yoochun.

Aniyo,” jawab Yewon.

“Sudah kuduga. Kau sepertinya anak yang baik dan kupikir kau tak mungkin berpacaran dengan anak berandalan bodoh sepertinya,” ujar pemuda itu lalu diselingi dengan tawa.

Yewon menyipitkan kedua matanya. Entah mengapa perasaannya mendidih mendengarnya. Ia tak suka mendengar GD dijelek-jelekkan. Ia pun teringat perkataan GD waktu pertama kali mereka berbicara.

Kau orang yang mudah menyerah

Ia meremas kedua tangannya kuat. Walaupun mungkin ucapan GD waktu itu dusta padanya, paling tidak ia ingin mengubah dirinya.

“Aku selalu memperhatikan Yoochun Sunbae.”

Arasseo,” sahut Yoochun dengan penuh percaya diri.

“Dan kupikir, aku tak ‘kan dapat mendekati Sunbae dan aku menyerah tanpa berbuat apa-apa. Aku sama sekali tak mengenal Yoochun Sunbae sama sekali. Dan Sunbae pun begitu. Sunbae tak mengenal GD dengan baik, tapi Sunbae mengejeknya macam-macam,” ujarnya emosi.

“Tolong, jangan berbicara buruk tentang orang yang kusukai. Karena aku…. Aku…”

Chankanmanyo!” teriak seorang pemuda lain yang tak lain adalah GD.

Ia berlari ke arah Yewon dan segera menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Mianhae, Sunbaenim,” ucap GD sambil tersenyum ke arah Yoochun dengan memeluk pundak Yewon, “Dia yeojachingu-ku. Tolong jangan ganggu dia.”

Yoochun mendesis, kesal.

“Aku sama sekali tak perduli,” ujarnya sambil berlalu.

Yewon mentap punggung kakak kelasnya itu yang semakin menjauh.

“GD-ssi.

“Yewon-ah, mianhae,” kata GD menyesal lalu merengkuh tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya.

“Sebenarnya, aku sudah tahu kalau kau selalu pergi ke perpustakaan untuk melihatnya,” lanjutnya membuat Yewon terkejut, tak menyangka.

“Tapi, hari itu si kembar aneh memanggilku,” tuturnya.

~flashback~

GD  berjalan di sebuah koridor yang menghubungkannya ke kelas-kelas. Ia menghentikan langkah kakinya ketika ada seseorang yang memanggilnya. Ia pun mengernyitkan dahinya saat melihat sepasang gadis kembar identik berjalan menghampirinya.

“Apakah tidak apa-apa dibiarkan begitu saja?” ujar gadis pertama yang GD tak tahu itu siapa.

“Kalian berbicara apa?” kata GD balik bertanya dengan bingung.

“Nanti Han Yewon tercinta direbut oleh Yoochun Sunbae ‘lho,” jawab yang satunya sambil menyeringai.

~flashback end~

“Maka dari itu, waktu itu karena aku benar-benar menyukaimu tanpa memerlukan ramuan-ramuan yang aneh pun, aku tetap menyukaimu,” kata GD sambil mengeratkan pelukannya.

Always. And I always look at you,” bisiknya.

Yewon membalas pelukannya tak kalah eratnya sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada pemuda itu.

“Dari pertama melihatmu aku sudah menyukaimu, dan hanya dapat memandangimu dari jauh,” ujar GD setelah melepas pelukannya.

Ia pun mengamit tangan Yewon, hangat.

“Kupikir, memang ramuan itu ada khasiatnya,” katanya dengan suara parau, “Waktu itu entah darimana aku seperti mendapat keberanian untuk menyatakan cinta padamu.”

“Terlebih lagi aku berpenampilan seperti ini karenamu,” lanjutnya.

Moseun soriya?” tanya Yewon dengan kening berkerut.

“Aku ingin menarik perhatianmu pada awalnya. Tapi, ternyata aku menyukai penampilanku dan sepertinya itu membuat kau takut. Kau bahkan tak pernah menegurku dan selalu menghindar jika aku ingin mendekatimu. Lagi pula, aku sama sekali berbeda dengan yang kau pikirkan ‘kan?” tutur pemuda itu panjang.

Yewon menunduk malu dan menyesal dengan pemikirannya waktu itu, “Mianhae,” bisiknya.

Gwaenchana. Yang penting sekarang kau tahu perasaanku yang sebenarnya,” sahut GD sambil tersenyum.

Gadis itu pun tersenyum simpul dengan wajah yang memerah. Perasaannya sangat lega sekarang. Ternyata perasaan pemuda itu padanya tidak palsu. Dan perasaannya pada lelaki itu pun kini tengah berkembang subur di hatinya, seperti hujan di musim semi. Lalu, ia bergerak tiba-tiba dengan menjinjit kakinya dan mengecup pipi pemuda itu.

Jeongmal gumawoyo,” ujarnya.

GD yang semula terkejut dan tak percaya, kini tertawa lepas memandangi kekasihnya sekarang, “Aigoo! Kenapa pacarku ini begitu manis?”

Yewon mengerucutkan bibirnya sambil mencubit lengan GD dengan tangan kirinya, gemas.

“Auww! Appo,” pemuda itu meringis kesakitan.

Appo? Mianhae, mianhae.” kata Yewon kaget sambil mengusap lengan yang habis ia cubit tadi, sedangkan GD hanya tertawa melihat sikap polos Yewon barusan.

Sementara itu, tak jauh dari mereka. Sepasang gadis kembar memperhatikan mereka dari semak-semak pohon.

“Ternyata, memang seperti perkiraan Hyoyoung, ya? Ah, Eonni-ku memang hebat.”

“Aku tak bilang pasti ‘kan? Hanya perubahan perasaan Yewon saja yang tak dapat kita perhitungkan.”

“Lagi pula, kita sukses!” seru mereka serempak sambil ber-high five ria.

“Tidak percuma kita membuat rencana rumit berhari-hari,” ujar Hwayoung girang.

Mereka pun memandangi kembali pasangan yang baru saja jujur dengan perasaannya masing-masing itu yang sedang berpelukan.

“Ah, bukankah kalimat ‘kesungguhan ada dalam kegelapan’ terdengar indah?”

“Dunia itu dipenuhi cinta. Banyaknya hal yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata di dunia ini menandingi banyaknya rumput.”

__END__

Advertisements

About ansicangel

I'm extraordinary girl. Like listening music, reading, and watching movie. Cassie, ELF_Cloud&Angel_ Inspirit 송눈아..^^

6 thoughts on “I’m Not a Monster

  1. Annyeong Sica,

    Udah pernah baca di SOFF dan ceritanya simple dan ringan, judulnya juga menarik perhatian hehehehehehe

    Tadinya beneran dikira kena ramuan cinta ternyata tidak hehehehe tertipu deh :p

    Ditunggu karya yang lainnya ya ^^

  2. welcome back Dear Sica
    dulu pernah baca di soff tapi selewat n ga tamat 😦

    kirain beneran tuh efek amortentia aka ramuam cinta 😀
    bayangin GD SMA inget tokoh Taejun di Ma Boy. anak sMA berstyle GD gebetannya cengo 😀

    simple n nice
    yg pasti, idenya bagus
    keep posting your story please

    1. Annyeong Gee Eonni 🙂

      Yes, I’m back hehehe

      Hahaha itu cuma trik aja, Eon. 😀
      Aduh, pas ngebuat ini saya gak bisa ngebayangin siapa2 *toeng* Ini gara-gara efek ngeliat MV-nya I’m not a monster aja, jadi begini.

      Thank you Eonni atas komentarnya. Sica usahakan akan sering2 ngepost FF 🙂

      LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s