Midnight in Perth (1)

Midnight in Perth

The night I count the stars

 

new midnight

By :

Chelsea

|Drama/Romance | PG17 | Two Shots |

 

Starring :

BEAST LEE GIKWANG

SISTAR KIM DASOM

Choi Jiwoo as LEE CHAERIN

 

Disclaimer : Pernah dipost di FB dan Wattpad

Joseonghamnida for any mistakes 🙂

 

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

Perth, Australia, 2014

          Seorang gadis bertampang oriental berjalan dengan langkah gontai. Kakinya tak terasa lelah meski dia terus berjalan sepanjang malam summer. Gadis berambut cokelat itu berdiri di dekat Swan River. Dia menatap panorama malam kota Perth yang terpantul dalam air sungai. Air matanya menetes, seolah minta diantarkan ke aliran sungai. Dia pikir, dia akan melakukan hal yang membahagiakan di summer midnight itu.

 

Jam-i oji anhneun bam so sad tonight

Geudae wa hamkke halsu eobtneun i bam

In the midnight a a a midnight

Ni saenggak-e jam mot deuneun Midnight

Dashi chaja on i bam so sad tonight

Geudaega eobshi dashi matneun i bam

In the midnight a a a midnight a

Niga eobshi jam mot deuneun Midnight

 

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

Korea, Seoul, September 2013

Sebuah sofa putih besar menerima hempasan tubuh seorang namja. Dia menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Rasanya otaknya mau meledak.

“Aku lelah!” umpatnya.

Dia membuka mata dan meraih botol wine di sampingnya. Pemuda tampan itu meneguk wine dan membiarkan tenggorokan sesaknya dilalui cairan hangat itu. Dia menaruh botol lalu membuka dasinya yang terasa mencekik padahal longgar.

Lee Gikwang, anak presdir Geumsan group. Pemuda yang baru melanjutkan studinya di Munich itu sedang mengeluhkan nasibnya.

Dia berharap menjadi pemuda normal yang bisa bekerja tanpa beban, bermain sampai puas dan mendapatkan gadis yang mencintainya dengan tulus. Alasan mendambakan kebebasan itulah yang membuatnya memutuskan mengambil pendidikan magister di negara Michael Schumacher itu tak peduli bagaimana tentangan kedua orangtuanya.

Gikwang membuka jas mahalnya dan melemparnya sembarang, membuka tiga kancing kemeja yang membuat otot dadanya terekspos lalu membantingkan tubuhnya di sofa besar. Dia lelah dengan perjamuan yang dihadirinya tadi. Gikwang menendang-nendangkan kakinya agar kedua sepatunya lepas. Dia memilih tidur agar bangun lebih pagi dan mengambil penerbangan pertama ke Jerman besok.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 Lee Gikwang menuruni tangga lebar dan panjang di mansion keluarganya. Dia tahu ini pagi buta, bahkan matahari belum terbit. Gikwang berpenampilan casual dan membawa back pack-nya. Dia melangkah cepat agar bisa keluar as soon as possible. Baru saja memegang gagang pintu, suara seorang yeoja membuatnya terdiam.

“Mau ke mana kau, bocah nakal?”

Gikwang membalikan badannya perlahan dan mendapati seorang yeoja cantik dengan pinggang ramping memakai training dan sleeveless T-shirt.

Annyeong haseyo, Noona!” sapanya. “Noona bangun pagi sekali untuk olah raga ya?”

Yoeja dengan rambut ekor kuda itu melangkah mendekati adiknya yang terlihat gugup. “Kau sendiri, mau ke mana sepagi ini setelah kabur dari pesta pertunanganmu tadi malam?”

Gikwang meringis memperlihatkan senyuman yang dipaksakan. “Aku mau hiking,” dustanya.

Yeoja cantik bernama Lee Chaerin itu merampas back pack Gikwang dan membuka isinya,

Noona, apa yang kau lakukan?”

Chaerin melihat passport dan tiket milik Gikwang. Dia akhirnya tahu bahwa adiknya akan kembali ke Jerman. “Neo!” tunjuk Chaerin pada wajah cute adiknya.

 

 

Setelah melalui perdebatan ringan, Gikwang duduk di perpustakaan pribadi Chaerin di lantai 3 mansion mereka. Yeoja itu menuangkan honey black tea untuk adiknya. Chaerin tahu, Gikwang sangat tertekan. Tapi dia lebih tahu kalau adiknya tidak sanggup keluar dari tekanan itu.

Noona, kenapa bukan kau saja yang menikah? Kenapa harus aku yang melakukan pertunangan? Lee sajang kan bisa memilihkan putera mahkota pewaris perushaan besar untuk dijodohkan dengan noona,” cerocos Gikwang yang menyebut ayahnya Lee sajang

Chaerin yang sedang memegang sendok teh, menggetokan sendok itu ke kepala Gikwang. “Hya!”

“Mau sampai kapan noona menunggu pemain sepak bola itu?” Gikwang terus membuat kakaknya itu kesal.

Chaerin meniup poninya. “Akan kulaporkan pada Appa kau mau kabur.”

“Sudah kukatakan aku mau menyiapkan presentasi proposal.”

“Kau masih libur, Gikwang­-ah!”

Noona sebaiknya tidak ikut mengaturku seperti Lee sajang dan Omma,” Gikwang mulai kesal.

“Baiklah, pergi dan lakukan apapun sesukamu,” umpat Chaerin lalu melangkah pergi. Sebenarnya dia berniat mengajak adiknya berdiskusi dan mencarikan jalan terbaik agar keadaannya tidak semengerikan pikirannya. Tapi ucapan Gikwang tadi, menyebut ‘pemain sepak bola’, membuat Chaerin ingin marah.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 Seorang gadis dengan long sleeve dress dengan aksen pita di bawah dadanya duduk berhadapan dengan Lee Chaerin di dalam sebuah dinning room di Sun Tower hotel milik grup Geumsan. Chaerin menatapnya lekat.

“Aku mau langsung bicara, kenapa kau mau bertunangan dengan adikku?”

Gadis bermata bulat itu memberikan pandangan tenang pada Chaerin. “Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa keluarga grup Geumsan menjodohkan adikmu padaku?”

Chaerin menatap yeoja itu bagai elang yang siap menerkam mangsanya. “Karena menurut kami, kau yeoja yang tak akan menolak adikku yang tampan dan kaya itu, Kim Dasom.”

Kim Dasom, nama tunangan Lee Gikwang, tersenyum pahit. Dia tetap bersantai, “Chaerin Sunbae, adikmu tidak kaya. Dia masih kuliah kan?”

Sebelum Gikwang protes menolak pertunangan, Chaerin adalah orang pertama yang tidak setuju dengan pilihan ayahnya. Kenapa harus Kim Dasom? Hoobae-nya di kampus yang paling dia tidak suka. Well, Lee Chaerin adalah seorang novelis sukses yang terkenal. Sedangkan Kim Dasom adalah penyanyi pop balad yang bernaung di bawah tallent agency milik ayahnya. Dasom yang punya angelic face itu pernah mengkritik tulisan Chaerin di blog pribadinya. Chaerin tidak suka dengan itu. Di pihak lain, Dasom merasa novel itu sedikit menyindir dirinya. Dalam novel itu, tokoh antagonis yang ditampilkan di novel Chaerin adalah seorang anggota idol group yang tak punya bakat tapi bisa debut karena ayahnya pemilik tallent agency.

Chaerin menyunggingkan cold smirk misteriusnya, “Kau senang bukan karena namamu headline infotainment? –Kim Dasom bertunangan dengan pewaris grup Geumsan, Lee Gikwang-.”

Dasom tertawa, “Senang sekali, sampai aku tak bisa tidur.”

“Aku peringatkan lagi, lebih baik kau mundur sebelum menyesal.”

Justru Dasom menebar senyum tipis di wajah kecilnya itu. “Aku bosan mendengar peringatanmu. Kalau tak ada hal lain yang mau dibicarakan, aku permisi, calon kakak ipar.”

Chaerin menatap punggung Dasom lalu berdiri dan melangkah menyusulnya. Chaerin mencengkram lengan Dasom, “Terima kasih sudah memberi inspirasi baru.”

Ye?” tanya Dasom bingung.

Chaerin memasang sun glass­es-nya, “Aku punya tema untuk novelku selanjutnya. Pasti laris manis. Mau dengar? ‘Kisah tragis seorang K-idol yang dicampakan tunangannya.’”

Chaerin melambaikan tangan lalu pergi, meninggalkan Dasom yang terbakar emosi.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 Gikwang duduk santai di berandai sebuah kapal pesiar mini. Dia berkutat pada tabletnya. Seorang yeoja duduk di sampingnya dan menyodorkan segelas jus.

Komawo,” ucap Gikwang dengan senyum yang dibuat seperti tulus.

Dasom tersenyum senang. Dia berpikir kenapa Gikwang berbeda dengan Chaerin yang judes. Gikwang itu cute dan manis. “Sedang melihat apa?”

“Mencari bahan penelitian,” jawab Gikwang simple.

“Woah, Gikwang-ssi rajin sekali. Aku sangat bangga,” ungkap Dasom.

Gikwang menoleh pada tunangannya itu dan tersenyum. Senyuman manis yang membuat Dasom terpana. “Komawo. Ini terpaksa kulakukan agar bisa lulus tahun ini.”

Dasom menatap Gikwang yang kembali mengalihkan pandangannya pada tablet. Mereka berada di laut lepas barat pulau Jeju. Gikwang ingin bersantai di resort milik ayahnya. Dasom menyusulnya. Meski selama ini sikap Gikwang cukup baik, tapi Dasom tidak yakin dia mendapatkan hati namja itu.

“Kuliahmu sendiri bagaimana?” tanya Gikwang cukup membuat Dasom terkejut.

Gikwang memang bersikap baik tapi jarang memberi perhatian. Namja itu hanya merespon dengan baik. “Aku juga ingin cepat lulus dan meraih nilai cumlaude seperti Chaerin Sunbae.”

“Kau mengagumi noona-ku?” tanya Gikwang kali ini menatap langsung mata Dasom.

Dasom tersenyum kecil, “Ah, ye. Chaerin sunbae membanggakan para dosennya. Dia sudah menjadi penulis hebat ketika masih menjadi mahasiswa.”

Gikwang tersenyum lepas. Bagi Dasom, senyuman itu tampak keluar dengan perasaan sepenuh hatinya. “Karena noona hebat, aku sedikit tertekan.”

Gikwang kini mengabaikan tabletnya dan bercerita tentang Chaerin. Orangtua mereka sangat membanggakan Chaerin dan sebaliknya, Gikwang sering ditegur. Gikwang pernah ingin punya grup band sewaktu sekolah. Tapi orangtuanya tidak mendukung. Gikwang iri pada Chaerin yang didukung sepenuhnya di dunia sastra. Bahkan mengizinkan Chaerin bekerja di sebuah perusahaan penerbit. Mereka juga tidak menekan Chaerin agar bekerja untuk Geumsan. Satu lagi, mereka tidak memaksa Chaerin memiliki pasangan secepatnya bahkan untuk kepentingan bisnis. Gikwang sangat menyayangi noona-nya, dan dia lebih menurut pada Chaerin dibandingkan kedua orang tuanya. Karena memiliki noona, dia selalu berusaha memperlakukan perempuan dengan baik.

Dasom tertegun menyimaknya. “Apa Gikwang-ssi merasa kita bertunangan hanya karena kepentingan bisnis kedua orang tua?”

Pertanyaan itu sukses melemparkan pandangan Gikwang pada tabletnya lagi, “Eoh,” jawab namja itu singkat.

Dasom mendengus kesal. Rupanya seperti itu Gikwang sebenarnya. “Kenapa saat ada rencana itu, kau tidak menolak?”

Telunjuk Gikwang tampak menekan-nekan layar tablet. Lalu namja itu mengambil napas kecil.  “Harga dirimu di mana kalau aku menolak?”

Dasom merasa mendapat tamparan. Ini lebih menyakitkan dari pada penolakan.

“Kau sendiri Kim Dasom­-ssi, kenapa menerima pertunangan itu?” tanya Gikwang tanpa menoleh.

“Aku mau mencari sensasi,” jawab Dasom membuat Gikwang menoleh dan membuka sun glasses-nya.

“Oh, benarkah? Putri pemilik BIG Entertainment memanfaatkan pertunangan untuk mencari sensasi?”

Dasom memasang senyum kemenangan, “Geurae. Sorry. Itu terlintas saja di benakku saat keluarga Geumsan membicarakannya dengan appa-ku.”

Gikwang mengangkat alis, “Woah, sounds good. Akhirnya kita tahu bahwa kita menganggap pertunangan ini tidak benar. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan saja?”

Dasom sadar dia sudah lepas kendali. Bukan itu tujuannya. Dia terpancing emosi karena Gikwang memuji kakaknya setinggi langit dan kenyataan alasan lelaki itu tidak menolak pertunangan.

Gikwang menawarkan kesepakatan untuk berpura-pura manis di depan kedua keluarga. Tapi tidak saling mencampuri urusan pribadi. Bahkan Kim Dasom boleh punya pacar dan Gikwang juga bebas berkencan dengan gadis manapun.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Seoul, January 2014

 

Tiga bulan berlalu. Gikwang dan Dasom tak pernah berkomunikasi setelah keduanya sepakat menganggap pertunangan mereka sekedar pura-pura. Gikwang pulang ke Seoul setelah menyelesaikan kuliahnya.

 

Gikwang berbaring di sofa panjang di perpustakaan pribadi Chaerin. Dia menghalangi matanya dengan melintangkan lengan di wajahnya.

Noona, kau tahu bukan alasanku pergi ke Jeman?”

Chaerin duduk santai di depan meja kerjanya sambil mengerjakan sesuatu, mengedit tulisan novelis amatir. “Ye. Kau muak dengan identitasmu sendiri.”

“Sejak kecil, orang memperlakukanku dengan baik karena aku Lee Gikwang. Gadis-gadis di sekolah berebutan mencari perhatianku karena aku Lee Gikwang. Preman sekolah pun takut padaku karena kehadiran bodyguard yangs setia menunggu di depan sekolah.”

Chaerin tersenyum kecil dan merasa adiknya menghentikan buih yang berputar di kepalanya karena pusing melihat tulisan cerita yang acak-acakan dari penulis amatir.

Gikwang  melanjutkan, “Bahkan Kim Dasom menganggap perjodohan kami adalah hal menarik untuk dijual ke media massa.”

Chaerin melepas kacamata bacanya dan menatap Gikwang yang masih menyembunyikan wajahnya di balik lengan kekarnya. “Mworago?”

Gikwang terkekeh, “Apa tak ada orang yang benar-benar tulus mencintaiku?”

Hya! Apa yang dikatakan wanita itu?”

Gikwang menanggapinya santai, “Ah, meski kami sepakat bahwa ini pertunangan terpaksa, tetap saja aku sakit hati begitu dia berkata bahwa baginya pertunangan kami adalah sensasi.”

Chaerin bangkit dan duduk di sofa, di samping pinggang adiknya. Dia menyentuh lengan Gikwang dan menurunkannya dari wajah tampannya, “Kapan dia mengatakannya? Kenapa kau baru bicara sekarang, eoh?”

Gikwang melihat kilatan kemarahan di mata Chaerin. “Sudah lama, Noona. Memangnya kenapa? Aku juga tidak menyukainya.”

Chaerin membuang napas kesal, “Akhiri saja pertunangan itu.”

“Tidak, sebelum aku membuatnya berlutut di hadapanku,” ucap Gikwang dengan senyum misteriusnya.”

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

Australia, Perth,

Gikwang dan Dasom memasuki kamar hotel Holiday Inn di Hay street, di kawasan Perth Central Business District. Gikwang sebenarnya melakukan perjalanan bisnis ke sana. Tapi dia juga mengajak Dasom  yang akhirnya terpaksa ikut.  Dia pikir ini sebuah liburan menarik dan menikmati musim panas di negeri Kanguru, yang berbanding terbalik dengan Korea yang dilanda kebekuan musim dingin.

Dasom membuka pintu kamarnya. Gikwang memanggilnya, “Dasom-ssi,” Gikwang memelihat gadis berambut cokelat terang dan bermata bulat itu menoleh. “Kau boleh pergi ke mana pun.”

Dasom menatap Gikwang sebal sampai namja itu menghilang di balik pintu kamarnya. Gikwang meninggalkan Dasom di malam hari. Dasom memilih shopping di Hay Street Mall yang tak jauh dari hotel. Dia menikmati belanjanya di kawasan khusus pejalan kaki yang berlantaikan batu-batu persegi. Di sana berjejer toko-toko yang menjual barang-barang bermerk dan berkelas. Dasom kembali ke hotel hampir tengah malam. Gikwang belum kembali sampai Dasom tidur.

Dasom bangun pagi hari dan dia penasaran apa Gikwang pulang atau tidak. Dasom mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada yang menyahut. Dia pun membuka pintu. Dasom masuk ke kamar Gikwang dan memeriksa keadaan kamar. Ranjang tampak rapi.

‘Apa namja menyebalkan itu tidak pulang? Memangnya dia menghabiskan malam di mana?’ guman Dasom. Berbagai pikiran negatif singgah di otaknya, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ah memangnya kenapa kalau dia bersama yeoja. Aku tidak peduli.”

Dasom melangkah mau keluar. Tapi dia mendengar suara pria di belakang.

Hya, kenapa kau kemari?”

Dasom membalikan tubuh dan dia melotot, sangat terkejut dengan pemandangan di depannya. Gikwang berada di depan pintu kamar mandinya hanya dengan balutan handuk. Tubuhnya basah dan membuat otot dada dan abs-nya yang punya skintone kecokelatan itu tampak seksi. Rambutnya basah dan tetesan air turun ke wajah imutnya. Dasom membalikan badan seketika.

Hya! Berpakaianlah!” umpatnya.

Gikwang terkekeh, “Ini kamarku. Mau telanjang pun terserah aku. Salahmu sendiri masuk ke sini.”

Dasom mau membalikan badan lagi dan tapi Gikwang berjalan mendekatinya, membuat bintang Hallyu itu tetap membelakanginya. “Mianhae, aku masih ngantuk dan salah masuk kamar.”

Dasom cepat-cepat melangkah keluar.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

Saat ini, keduanya tengah sarapan bersama di restoran hotel. Dasom sebenarnya mau tahu ke mana namja itu semalaman. Tapi dia menepis keinginan itu.

“Aku mau menemui klien,” ucap Gikwang.

“Oh, kau sibuk sekali.”

Yes. Lee sajang memberiku banyak tugas. Tampaknya dia ingin menguji penerusnya.”

Dasom melihat Gikwang berdiri. Namja itu pamit dan meninggalkannya sendiri. Dasom mendengus kesal, tidak suka dengan situasi ini.

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

 

 

 Yeoja itu pun menghabiskan harinya dengan mengunjungi Swan Valley, 25 km ke arah timur kota Perth. Dia bergabung dengan wisatawan lain bersama sebuah travel agent. Dalam perjalanan, dia mampir di toko kecil yang menjual produk peternakan lokal. Dasom membeli satu keranjang kecil jeruk dan stroberi. Saat memasuki kawasan Swan Valley, Dasom singgah di Guildford, kota tua yang sudah ada sejak tahun 1829 yang merupakan pemukiman pertama di lembah sungai Swan itu. Dasom juga mengunjungi kota tua Fremantele, yang dikenal sebagai kota pelabuhan. Dasom memotret berbagai spot di kota itu karena banyak terdapat bangunan asli dengan arsitektur khas kolonial Inggris.

Dasom mengunjungi tempat-tempat lain di sana, seperti taman yang berisi koleksi hewan, Caversham Wildlife Park, menyicipi cokelat khas Australia di The Margaret River Chocolate Company. Lalu dia bersama turis lain mampir ke Lacaster Wine, salah satu rumah wine terbaik di Aussie.

 

*˛.* *˛.* midnight ˛* ˛*˛* ˛*

 

Dasom kembali ke hotel di malam hari. Dia sudah mengisi hari kesepiannya dengan perjalanan yang menyenangkan sekaligus melelahkan.

 

Dasom berbaring santai di ranjang sambil melihat ponselnya. Tiba-tiba Gikwang masuk tanpa mengetuk pintu. Dasom bangkit.

“Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?”

Gikwang menatapnya serius tapi santai. Dia melempar tabletnya ke samping Dasom. Gadis itu meraihnya. Dia melihat foto dirinya sedang berdua dengan seorang aktor di sebuah coffe shop. PR sebuah situs entertainment mengirimkan foto itu untuk Gikwang. Dasom sebenarnya sudah tahu lebih dulu tentang foto yang juga dikirim PR BIG Ent.

“Bukankah kita sepakat untuk tidak ikut campur urusan pribadi masing-masing?”

Gikwang menatapnya tajam, “Ini bisa jadi berita hebat.”

“Kau mau memberitakannya?” tanya Dasom.

Gikwang tersenyum masam. “Itu peluang bagus untukku agar bisa lepas dari pertunangan yang memuakan ini. Sekaligus merusak karirmu.”

Dasom berdiri. “Apa maumu, Lee Gikwang?”

“Pergi dan memohon pada ayahmu untuk memutuskan pertunangan, atau kulakukan dengan cara itu,” ucap Gikwang sambil menatap tablet yang dipegang Dasom.

Dasom menatapnya nanar. “Kau tidak seriuskan?”

Gikwang mendekatkan dirinya satu langkah di depan Dasom. Dia tersenyum masam. “Anii. Ini permainan yang menyenangkan bagiku.”

Pandangan mereka bertemu dalam energi yang berbeda. “Kenapa kau harus melakukan ini padaku?”

“Cara yang pertama bisa kau lakukan agar kita bebas. Tapi plan B akan kulakukan kalau plan A tak kau jalankan.”

Perasaan Dasom hingar bingar dipenuhi berbagai warna yang tak jelas dan membuatnya speechless.

Gikwang mendekatkan kepalanya dan berjarak lima senti di depan wajah Dasom. “Aku tinggal mengatakan ya, sebuah berita akan menghebohkan dunia K-pop. Jadi, silahkan kerjakan plan A, untuk membayar jutaan won yang harus kukeluarkan karena foto pemerasan ini.”

Gikwang segera meninggalkan kamar Dasom dan yeoja terdiam sebelum mengejar Gikwang dan mereka berdebat di ruang tengah.

“Kalau kau penasaran kenapa aku melakukan hal ini, akan kukatakan,” ucap Gikwang. “Aku selalu melakukan hal yang sama pada orang-orang yang memanfaatkanku. Kim Dasom sudah memanfaatkanku untuk menaikan popularitas, mencari sensasi dan mendapat keuntungan bagi perusahaan ayahnya.”

Neo…” Dasom tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia tersentak dengan pernyataan Gikwang barusan.

“Kau mengatakannya di Jeju beberapa bulan lalu, kau mencari sensasi melalui pertunangan kita.”

 

Dasom merasa down, bagaimana mungkin dia meminta ayahnya memutuskan pertunangan? Saat ini jelas-jelas BIG Entertaiment tengah mengalami kesulitan yang ditutupi oleh grup Geumsan.

“Ternyata kau punya jiwa monster di balik wajah malaikatmu itu,” ungkap Dasom.

“Sama sepertimu. Being a beast or angel, it depends on you. And you made me a beast, Dear,” respon Gikwang dengan tatapan setan. Gikwang mengelus pelan kepala Dasom. “Plan A or B, tak ada yang lebih baik bukan?”

Dasom menepis tangan Gikwang. Matanya berkilat antara marah dan sakit hati. “Baiklah, akan kupikirkan. Sambil mencari plan C.”

Dasom pergi keluar, meninggalkan Gikwang yang termenung sendiri. Ini sedikit di luar harapannya. Gikwang ingin Dasom memohon. Tapi gadis itu malah pergi untuk memikirkan cara lain.

*˛.* *˛.* to be continued ˛* ˛*˛* ˛*

Advertisements

5 thoughts on “Midnight in Perth (1)

  1. Pernah baca FF ini di page FB gitu

    Gikwang kaget gitu karena Dasom malah mau cari plan C hehehehehe penasaran sama plan C-nya, mau langsung ke next partnya aja deh hehehehhehehe

    Onnie memang selalu keren deh buat settingan ^^

  2. Pertama, saya ingin bilang gumawo karena dah share ff ini lagi. Seandainya ff ini tidak memakai visual Jiwoo pun saya tetep menyukai ff ini. Penggambaran latar yang nyata. Saya banyak belajar di sini.

    Kedua, wajah sang visual cocok jadi noona gikwang ㅎㅎㅎㅎ

    Kalau aku jadi Dasom, aku akan berlagak tak peduli Gikwang pamer abs. Nikmati saja Midnight di Perth

  3. Wooooah tbc menghalangi’y #aaaaish kekekeke Gikwang udh membayangkan kalo Dasom mau lakukan tp syg kgk terjadi seperti dejavu bgi gikwang #plaaak dan tempat2 yg eonnie sebutkan s’akan2 q berada d’sana detil dan jelas 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s