Mystery

MYSTERY

And everywhere I am there you’ll be

Mystery

By :

Chelsea

|Drama/Romance | PG15 | One Shot : 4100 words |

Starring :

BEAST YOON DOOJOON

Jung Jooyeon as JO EUNHWA/Chelsea Jo

LEE YOOBI / YUBI

2PM HWANG CHANSUNG

Disclaimer : Inspired by Doojoon’s cast in Iris 2

..* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛

London,

Neon jeongmal Mystery Mystery girl

Mystery Mystery scene. Mystery Mystery love

Aldagado moreuneun neo. Igeot cham Mystery Mystery girl

Mystery Mystery scene. Mystery Mystery love

Seorang lelaki mengemudikan Ferrari putih di jalan kawasan London barat. Karena lampu merah, dia menghentikan mobilnya di belakang sebuah double-decker. Lelaki yang mengenakan sunglasses dan suit warna navy serta T-shirt putihnya itu bernama Yoon Doojoon. Namja berkebangsaan Republik Korea itu adalah seorang  sebagai agen NIS yang sedang dalam tugas di ibukota England itu. Kali ini dia akan membawa Ferrari rentalan itu menuju Stamford Bridge, sebuah stadion salah satu klub raksasa dunia yang terletak di Fulham, London, SW6 1HS.

Dari balik sunglasses-nya, Doojoon termangu menatap Double-decker di depannya. Salah satu ikon kota London itu mengingatkannya pada seseorang. Dia sempat mengeluh kenapa harus ditugaskan menajalankan misi di kota ini, tempat yang menjadi kota impiannya semasa remaja.

..* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛

 

Blue is the colour, football is the game. We’re all together and winning is our aim.

So cheer us on through the sun and rain. Cause Chelsea Chelsea is our name.

Seisi Stamford Bridge stadium melantunkan official song Chelsea Football Club diiringi permainan alat musik yang sengaja dibawa fans. Bocah, remaja, tua, muda, semuanya duduk santai dan tertib menyaksikan pertandingan yang baru saja dihibur melalui sebuah gol yang ditorehkan Frank Lampard ke gawang Tottenham Hotspurs.

Yoon Doojoon kini duduk di antara deretan kursi VIP stadion yang resmi dibuka tahun 1887 saat Korea berada di masa-masa terakhir dinasti Joseon. Dia tidak fokus pada pertandingan. Selain kedua klub yang sedang berseteru di rumput hijau itu bukan klub favoritnya, dia harus mengamati sesuatu. Matanya mengawasi seorang wanita yang berada di posisi jam 2.

Pertandingan sedang memasuki injury time dan skor sementara 2 – 1 untuk Chelsea. Satu gol dari Frank Lampard dan satu lagi dari striker asal Spanyol, Fernando Torres. Sementara gol tunggal Spurs dicetak oleh midfielder asal Belanda, Rafael Van Der Vaart.

Doojoon melihat targetnya berdiri. Wanita yang memakai coat putih dan menuntun seorang bocah yang sedari tadi dia awasi, berjalan meninggalkan seat. Doojoon segera mengikutinya. Dia kini menaiki tangga yang akan membawanya keluar dari deretan seat yang semuanya punya warna biru itu. Dia sempat menoleh ke deretan penonton yang masih menyaksikan jalannya pertandingan. Sepasang matanya menangkap sebuah objek.

Doojoon hendak terus melangkah tapi dia berhenti, kembali melihat objek tadi. Seorang gadis berambut cokelat panjang dibalut dress hitam dengan turtle neck.

Yeppuda!” gumannya.

Ada desiran aneh melihat gadis berwajah Asia berkulit milky dengan sepasang mata yang punya tatapan lembut itu.

Deg!

Jantung agen profesional itu menghentak. Seketika tubuhnya terkena radiasi yang terpancar dari wanita itu.

Terdengar bunyi peluit panjang ditiup wasit dari tengah lapangan. Beberapa penonton berdiri, memberikan standing applause bagi Chelsea. Wanita Asia itu terhalang lelaki-lelaki Inggris yang bertubuh tinggi. Seketika, Doojoon pun sadar bahwa dia hampir melupakan tugasnya.

Sekali lagi, Doojoon hanya ingin memastikan objek tadi. Dia mencari-cari sosok wanita itu, tapi matanya tak menangkap ujung rambutnya sekalipun. Doojoon menarik nafas dan melangkah cepat, mengejar targetnya.

..* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛

Tak sampai satu jam setelah meninggalkan The Bridge, Doojoon kini berada di kantor polisi bersama seorang pegawai kedutaan Republik Korea. Doojoon berhasil menjalankan misinya, menangkap pelaku trafficking yang menjual-beli anak-anak dari negeri ginseng.

Wanita di stadion tadi bernama Kate Moore, warga negara Skotlandia yang tertangkap saat melakukan transaksi mau menjual seorang bocah laki-laki berusia 4 tahun berkebangsaan Republik Korea. Kate Moore pun membeberkan informasi penting tentang jaringan pelaku trafficking yang memiliki jaringan luas di wilayah Asia itu. Mereka sudah melakukan bisnis jahat itu selama bertahun-tahun.

..* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛

The next day,

Big Ben menunjukan waktu jam 09.30 pm GMT. Di sudut lain kawasan sungai Thames, Yoon Doojoon duduk di pinggiran sungai sambil memandang London Eye di seberang sana. Ferris Wheel yang berada di South Bank of the River Thames, London Borough of Lambeth, juga mengingatkannya pada satu kenangan pahit.

Doojoon memilih menunduk, memandangi air sungai. Dia membiarkan dirinya seolah larut ke dalam aliran Thames. Semakin dia menatap ke dalam sungai itu, perlahan dia seperti berada di sungai lain dan dimensi waktu yang lain.

..* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛

Seoul, South Bank of Han River, Banpo Hangang Park, October 2000,

Doojoon remaja sedang mengendarai sepedanya di pinggiran sungai Han. Dia masih memakai seragam SMA-nya, kemeja putih lengan panjang dengan dasi merah dan jas hitam, lalu celana panjang warna beige.

Gidaryo, Doojoon-i!” teriak seorang gadis di belakangnya yang mengendarai sepeda putih. Gadis yang memakai seragam yang sama itu mengayuh sepedanya lebih cepat. Dia menatap tajam punggung Doojoon.

Doojoon menoleh ke belakang, mendapati gadis berkepang dua itu menatapnya sebal.  Gadis manis itu membuat sore ini lebih terang di mata Doojoon. Karena sedikit terpaku menatapnya, Doojoon tak melihat ada batu di depannya. Dia kehilangan keseimbangan begitu ban sepedanya melindas batu itu. Sepeda Doojoon jatuh ke samping kanan jalan, ke atas rerumputan hijau yang menurun.

“Doojoon-i!” gadis itu histeris. Dia menghentikan sepeda dan lari menghampiri Doojoon. Dia tak peduli sepedanya jatuh.

Doojoon tergeletak di atas rumput, tak jauh dari sepedanya. Dia meringis. Keningnya terasa perih. Gadis itu meraih lengan Doojoon dan menatapnya khawatir.

“Doojoon-i, gwaenchanayo?”

“Oh,” keluh Doojoon seraya menyentuh kening kanannya.

Gadis itu menyibak rambut yang menghalangi kening Doojoon dan wajahnya berubah semakin cemas melihat ada torehan luka dan sedikit darah di sana. “Doojoon-i!” pekiknya.

Doojoon bangkit dan duduk. Dia melihat temannya itu menurunkan backpack dan membuka resleting di kantong kecil. Gadis itu mengeluarkan tissue dan membersihkan luka Doojoon. Jemari mungilnya menekan luka itu dari balik tissue.

“Tekan seperti ini, eoh! Aku akan membeli antiseptik,” perintah gadis itu sambil hendak berdiri.

Tapi Doojoon menarik lengannya, “Kajima, Eunhwa-ya!”

Gadis itu diam dan kini mereka duduk di atas rumput, saling berhadapan. Doojoon menekan tissue di atas luka di keningnya seperti yang disarankan Eunhwa. Doojoon memandang gadis itu lalu tertawa.

“Hya! Kenapa kau tertawa, huh?”

Doojoon tersenyum lebar sambil menjawil hidung Eunhwa karena gemas. “Kau sangat mengkhawatirkanku bukan?”

Eunhwa mengerucutkan bibirnya. “Tentu saja. Melihat kucing yang jatuh karena nyaris terserempet saja aku khawatir.”

Senyum di wajah Doojoon sirna dan dia membuang muka. “Aigoo, ternyata kau mencemaskanku sama seperti mencemaskan kucing tetanggamu itu, Jo Eunhwa,” keluh Doojoon.

“Lukamu bisa terinfeksi,” ucap Eunhwa tak menanggapi ucapan Doojoon barusan.

Keureom, cepat beli obat sana!” ucap Doojoon kesal.

Setelah mengoleskan antiseptik di kening Doojoon, Eunhwa menempelkan plaster. Doojoon memberinya sekaleng milkis.

Cha!”

Eunhwa menerimanya. Dia melihat Doojoon membuka tutup kaleng coke yang dia pegang lalu meminumnya. Eunhwa pun meminum milkis pemberiannya. Mereka duduk di atas rumput sambil memandang sungai di hadapan mereka.

Doojoon menyalakan disc-man dan berbagi headset dengan Eunhwa. Dia memutar salah satu lagu favorit Eunhwa, dari Faith Hill berjudul There You’ll be.

In my dreams I’ll always see your soul above the sky.

In my arms there always be a place for you. For all my life

I’ll keep a part of you with me. And everywhere I am there you’ll be

Eunhwa melirik arlojinya, “Omo! Aku bisa terlambat.”

Doojoon tersenyum hampa. Sudah dua bulan sejak ayahnya meninggal, Eunhwa mengambil part time job di sebuah restoran. Eunhwa harus tetap sekolah dan menghidupi keluarganya yang tersisa, ibu tirinya dan adiknya. Selain itu, rumah yang dulu ditinggalinya disita karena ayahnya meninggalkan hutang. Kini Eunhwa tinggal di rumah sewaan kecil di kompleks padat di kawasan perbukitan. Setiap hari, Eunhwa baru bisa pulang ke rumah jam 9 malam.

Bagi Doojoon, Eunhwa adalah teman istimewa. Gadis itu kuat dan tegar menghadapi perubahan siklus hidupnya. Doojoon menatapnya dan memberinya eye smile yang manis.

“Aku antar ya?” tawarnya dan Eunhwa hanya mengangguk.

Doojoon berdiri terlebih dulu dan mengulurkan tangan pada Eunhwa. Eunhwa tersenyum dan menjabat tangan Doojoon yang terulur. Namja itu menariknya agar berdiri. Mereka berjalan bersama dan Doojoon belum melepaskan pegangan tangannya sampai mereka harus mengendarai sepeda masing-masing.

Eunhwa mengganti seragam pelayan dengan seragam sekolahnya dan dia keluar dari resto itu untuk pulang. Eunhwa melihat Doojoon sudah menunggu dengan sepeda merahnya. Doojoon melambaikan tangan dengan senyuman menawannya.

“Yoon Doojoon! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Eunhwa senang saat menghampirinya.

“Menjemput kekasihku,” canda Doojoon membuat Eunhwa blushing. Doojoon tiba-tiba menjitak kening Eunhwa. “Hya jangan geer. Aku tahu ini tanggal penerimaan gajimu. Traktir aku!”

Eunhwa menginjak kaki Doojoon dalam hentakan yang keras.

“Appo!” keluh Doojoon dan Eunhwa mau pergi dengan sepedanya.

Setelah makan bersama di kedai udon pinggir jalan, Doojoon mengantar Eunhwa pulang. Dia mlakukannya hampir setiap hari kalau tak ada kesibukan, mengantar Eunhwa ke restoran sepulang sekolah dan menjemputnya di malam hari.

Kini kedua siswa SMA berumur 16 itu berjalan sambil menuntun sepeda mereka di jalanan menanjak mendekati rumah Eunhwa. Dari kawasan itu, mereka bisa melihat pemandangan malam kota Seoul.

“Doojoon-i, apa kau masih bermimpi kuliah di luar negeri?” tanya Eunhwa.

Doojoon menoleh lalu mengangguk. “Hmm. Kau juga kan?”

Eunhwa menunduk, menatap jalanan. “Aku sudah tidak percaya diri sekarang. Kau tahu prestasiku menurun. Aku mungkin tak bisa bersaing untuk mendapat beasiswa kuliah di negara impian kita, Inggris.”

Doojoon terkekeh, “Kalau tidak denganmu, aku tidak mau.”

“Hya! Kau tidak boleh begitu.”

Doojoon menatap Eunhwa lembut. “Kita masih kelas satu, kau masih punya banyak waktu. Jangan menyerah sekarang, hwaigting!”

Eunhwa tertawa senang mendengar ucapan Doojoon.

“Kenapa harus Inggris, Eunhwa-ya?” tanya Doojoon.

Wajah Eunhwa masih menyisakan senyum hangatnya. “Karena kau sering menceritkan negara itu. Aku ingin sekali tinggal di negara sepakbola itu selama beberapa waktu. Belajar bahasa Inggris lebih baik di negara penuturnya. Menaiki double-decker yang ada di teks pelajaran tadi. Berlayar di sungai Thames seperti yang pernah kita lakukan di sungai Han. Aku juga ingin mengunjungi London Bridge, nursey rhyme yang pertama aku hafal semasa TK.”

“Apa lagi?” tanya Doojoon.

Eunhwa menatap langit yang tak begitu cerah. “Karena Yoon Doojoon penggemar Liga Inggris, aku ingin menemaninya menonton pertandingan sepakbola di Wembley,  Highbury, Old Trafford, Stamford Bridge, Anfield.”

Doojoon tertawa, “Dan kita semakin tergoda setelah mendengar cerita Ahn Sonsaeng yang kuliah di sana selama dua tahun.”

Mereka terus berbincang sampai tiba di gang kecil menuju rumah Eunhwa. Tepat di depan rumah kecil itu, keduanya mendengar pertengkaran hebat dan suara perabotan dibanting ke lantai. Eunhwa berlari masuk begitu mendengar tangisan adiknya yang baru berumur enam tahun.

“Eunhwa-ya!” panggil Doojoon sambil ikut masuk.

Eunhwa memeluk adiknya yang menangis hebat. “Yubi-ya, gwaenchana?”

Doojoon melihat rambut ibu tiri Eunhwa berantakan dan perabotan berserakan di lantai kayu itu. Dia melihat tiga preman berada di sana.

“Ada apa ini, Ahjusshi?” tanya Eunhwa.

“Hey gadis kecil, ibumu ini belum membayar hutangnya,” jawab si ahjusshi.

“Hutang?” tanya Eunhwa.

Doojoon tak bisa berbuat banyak saat melihat Eunhwa terpaksa menyerahkan semua gajinya pada para preman itu. Mereka mengancam akan menjual Yubi atau Eunhwa kalau ahjumma itu tak segera melunasi hutangnya.

..* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛

Thames River, London, 2013

When I think back on these times. And the dreams we left behind

I’ll be glad cause I was blessed to get. To have you in my life,

When I look back on these on these days. I’ll look back and see your face

You were right there for me

Doojoon kembali menatap London Eye yang memancarkan lampu warna-warni. Ferris wheel tertinggi di Eropa itu adalah salah satu impian Eunhwa. Dia ingin berada di atas London eye bersama Doojoon di malam indah.

Sudah 13 tahun lebih Doojoon kehilangan Eunhwa. Dia tidak tahu keberadaan gadis itu. Di suatu malam yang beku penghujung tahun 2000, Doojoon menjemput Eunhwa seperti biasa dan mengantarnya sampai rumah. Para preman itu kembali datang untuk yang kesekian kalinya. Mereka memukul ibu Yubi dan mengatakan akan menjual Yubi. Tapi begitu melihat Eunhwa, ibu Yubi menyuruh para preman itu membawanya.

Eunhwa berontak, Doojoon tak tinggal diam. Tapi dia malah dihajar habis-habisan oleh mereka. Eunhwa menjerit menangis melihatnya babak belur dan berdarah. Mereka memaksa Eunhwa masuk ke dalam mobil. Doojoon susah payah bangkit dan mencoba menarik Eunhwa. Kedua tangannya sempat meraih tangan Eunhwa setelah nekad memukul para preman dengan sisa tenaganya.

Kedua tangan mereka saling menggenggam erat.

“Kita lari, Eunhwa-ya!” ungkap Doojoon lirih. Eunhwa yang juga berdarah di ujung bibirnya mengangguk lemas.

Tapi Doojoon tak mampu membawanya lari. Para preman dengan mudah memisahkan pegangan tangan mereka sampai arloji Doojoon lepas dan dipegang erat Eunhwa. Doojoon dijatuhkan sampai berguling di jalanan menurun itu.

Doojoon yang telungkup memeluk jalan dengan badan dikuasai rasa sakit dan tak mampu bangkit hanya bisa berteriak menatap Eunhwa yang memandangnya sedih dari balik kaca mobil. Doojoon menangis saat mobil itu menjauh dan hilang dari pandangannya.

“Eunhwa-ya,” ucap Doojoon pelan.

Kini perasaan Doojoon teriris pedih mengingat kejadian itu. Dia hampir gila mencari Eunhwa bahkan melaporkan ibu tirinya ke polisi sampai di penjara. Doojoon emosi dan kalap. Akibatnya, Yubi seorang diri setelah ibunya masuk penjara. Karena keluarga Doojoon tak cukup kaya, dia tidak bisa memohon orang tuanya agar Yubi tinggal di rumah mereka. Yubi pun tinggal di panti asuhan.

Doojoon beranjak dari sana dan mengendarai mobilnya. Dia hanya berputar di sekitar jalanan kota London yang ramai sampai tiba di dekat pinggiran lain sungai Thames. Dia berhenti dan kembali berjalan mengitari pinggiran sungai. Doojoon menatap Tower Bridge dari jauh yang tampak kokoh itu. Bayangan Eunhwa kembali melintasi benaknya.

I’m here, Eunhwa-ya. Where are you now?” tanya Doojoon.

Ponsel Doojoon berdering, sebuah e-mail masuk. Dari rekannya sesama agen NIS di Seoul. Temannya memberikan kabar tentang jaringan trafficking yang mereka selidiki. Atas informasi yang didapat dari Kate Moore dan teman-temannya yang tertangkap, NIS menangkap pelaku trafficking di Korea yang sudah lama dicurigai.  Dia tahu bahwa preman yang dulu menculik Eunhwa menjualnya pada agen trafficking. Doojoon berharap bisa menemukan Eunhwa dengan membongkar sindikat organisasi kejahatan itu.

..* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛

Good morning agen Yoon!” sapa seorang lelaki terdengar di ponsel Doojoon yang belum bisa membuka matanya.

Morning, hah? Ini jam 1 am,” umpat Doojoon. Mengenali suara yang mennghubunginya. Temannya dari Seoul, Hwang Chansung, sesama agen NIS.

“Oops! Aku lupa. Di Seoul aku sedang sarapan. Haha!” canda Chansung.

Doojoon bangkit dan tenaganya terkumpul seketika setelah mendengar kabar dari Chansung. Salah satu pelaku trafficking yang tertangkap mengenali foto Eunhwa dan mengaku menjualnya pada orang asing. Tapi Eunhwa dan beberapa gadis lain berhasil kabur saat tiba di Perancis. Jaringan mereka di Perancis tak bisa menemukan keberadaan korban yang kabur itu.

Besok adalah hari terakhirnya di Inggris setelah semua anak korban trafficking dari Korea berhasil ditemukan.  Tugas Doojoon berakhir tapi dia tak berniat pulang ke negaranya. Doojoon ingin pergi ke Perancis.

..* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛

Taxi yang membawa Doojoon berhenti di London Heathrow Airport, di Hillingdon, London Barat. Tak lama kemudian, Doojoon berjalan sambil menenteng travel bagnya di dalam bandara tersibuk sedunia untuk penerbangan internasional itu. Coat dan turtle necknya T-shirt cukup membuat tubuhnya hangat. Dia akan mengambil penerbangan pagi ke Paris.

Doojoon duduk di waiting area sambil memeriksa emailnya. Dia membaca data-data yang dikirim Chansung. Setelah beberapa saat, Doojoon berpikir untuk pergi ke cafetaria dan mendapatkan cappucino panas.

Di depan pintu masuk cafetaria, Doojoon tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita dengan sunglasses cokelat yang berjalan dengan menenteng tas besar  sambil bercakap-cakap melalui ponselnya.

Ponselnya jatuh saat mereka bertabrakan. Tasnya juga ikut jatuh dan beberapa isinya keluar karena tasnya itu tanpa resleting penutup.

Pardon me,” ucap Doojoon seraya jongkok mengambil ponsel wanita itu.

That’s all right,” jawab wanita berambut hitam itu dengan aksen British English yang kental.

Dia juga jongkok di depan Doojoon sambil memungkuti dompet dan beberapa benda lain yang jatuh. Lalu dia segera meraih ponselnya yang disodorkan Doojoon. Tampaknya dia sibuk dengan percakapan pentingnya dan berlalu dengan langkah memburu.

Doojoon pun melanjutkan langkahnya menuju cafetaria. Tapi dia melihat sesuatu di samping kiri kakinya. Doojoon jongkok dan melihatnya lebih jelas. Sebuah post card. Tampaknya tadi terjatuh dan Doojoon mengingat letaknya. Sepertinya post card itu jatuh ke sana dan Doojoon membelakanginya waktu dia mengambil ponsel dan wanita itu memunguti barang-barang di depan mereka.

Doojoon segera beranjak dari sana dan mencari sosok wanita berambut hitam yang memakai coat putih dan baret British style abu tua. Doojoon mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang berlalu lalang di airport itu. selama beberapa menit berkeliling, Doojoon tak juga menemukan wanita tadi. Dia pun membaca post card itu, mencari identitas pemiliknya.

To : Chelsea Jo.

Doojoon mendapati huruf hangeul yang ditulis pengirim post card itu dan melihat foto di kartu pos itu : Sungai Han.

“Ah rupanya nona Chelsea Jo masih orang Korea,” gumannya.

Eonni, ini mungkin sangat klasik. Mengirim sebuah post card di zaman internet canggih. Keundae, ini post card terbaru dengan objek Hangang. Saat Eonni pulang ke sini untuk menjemputku, kita berlayar di sana. Seperti Eonni mengajaku berlayar di Thames.  Yubi.”

Tiba-tiba Doojoon tersentak. Dia memastikan lagi nama pengirim post card itu : Yubi. Doojoon mengatur nafas.

‘Di Korea pasti banyak orang bernama Yubi,’ gumannya. ‘Tapi…’ Doojoon berpikir keras. Mungkin hanya kebetulan, seorang gadis bernama  Yubi punya Eonni yang tinggal di Inggris.

Yoon Doojoon duduk lemas di dalam pesawat. Tadi dia sempat bertanya pada bagian informasi tentang penumpang bernama Chelsea Jo. Dia menggunakan ID NIS-nya demi mendapat informasi itu sampai mendapat informasi tujuan wanita itu. Chelsea Jo terbang ke Korea beberapa menit lalu. Lalu Doojoon menyalakan tablet dan mencari informasi tentang wanita bernama Chelsea. Dari sekian banyak nama yang muncul, dia menemukan foto salah satu Chelsea Jo yang membuatnya terkejut.

Foto seorang wanita Asia berambut cokelat dengan sepasang matanya memancar lembut.

Jantung Doojoon menghentak. Wanita itu mirip Jo Eunhwa-nya. Dia memanggil memorinya yang merasa pernah melihatnya. Doojoon berpikir keras dan mengingatnya. Dia melihat yeoja berwajah Asia itu tempo hari di stadion The Bridge.

Mengetahui itu kemungkinan dia memang Eunhwa, Doojoon mengganti tujuannya. Dia memutuskan pulang ke Korea mencari Yubi.

..* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛

Seoul,

Mworago?” tanya Doojoon kaget mendengar sesuatu yang baru saja dikatakan Hwang Chansung.

Kedua agen NIS itu duduk berhadapan di tenda kedai soju pinggir jalan. Saat mau take off dari London, Doojoon minta bantuan Chansung mencari Yubi. Tapi Yubi sudah meninggalkan rumah kontrakannya. Tak ada yang tahu ke mana Yubi pergi. Ahjumma pemilik rumah memberi Chansung alamat rumah teman Yubi. Dia mendapat informasi bahwa Yubi akan kuliah di Inggris. Chansung sudah berusaha menghubungi ponsel Yubi tapi selalu tidak aktif.

“Coba pikirkan, ke mana mereka bisa pergi?” saran Chansung.

Doojoon mendinginkan kepalanya. Mencoba menemukan titik terang. “Ah,” dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Post card milik Chelsea Lee. “Hangang. Di sini Yubi menulis, mengajak Chelsea cruising di Hangang.”

Chansung menengak sojunya. Dia menatap Doojoon dengan kening berkerut, “Jadi, kita akan menyilidiki semua perusahaan yang melayani pelayaran sungai Han?”

“Dan kau juga sudah memastikan semua hotel di Seoul? Mencari tamu dengan nama Chelsea Jo atau Jo Eunhwa?” ungkap Doojoon membuat Chansung menghembuskan nafas kesal.

*˛.* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛*

Chelsea duduk di depan meja makan Gureum cafe, sebuah restoran di bangunan yang disebut floating Island di Dongjak Bridge sungai Han. Dia memilih meja dekat jendela agar bisa memandang sungai Han di bawah sana yang diterangi lampu sekelilingnya. Dia memandang sungai yang menyimpan banyak kenangan masa remajanya sambil memegang sebuah arloji warna silver.

‘Doojoon-i, apa kau masih mengingatku? Kenapa kau tidak mencariku selama 12 tahun ini?’ guman Chelsea.

Gadis itu beruntung mendapat orang tua asuh kebangsaan Inggris. Itu karena usaha kerasnya. Dia sengaja mencari orang Inggris dan bekerja di restoran milik seorang wanita kebangsaan Inggris. Wanita itu kagum dengan kerja keras Eunhwa. Nenek yang tak punya anak itu pun membawanya pulang ke rumahnya di Newcastle Inggris.

Gadis itu berharap Doojoon benar-benar mencapai cita-citanya mendapat beasiswa kuliah di negara sepakbola itu. Dia punya identitas baru sebagai Chelsea, dia bisa sekolah dan menyelesaikan pendidikan tinggi di negara itu seperti cita-citanya. Selama itu, dia sering mengunjungi kota London, berharap Doojoon mengunjungi tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi bersama. Bahkan dia pindah ke London setelah nenek yang baik hati itu meninggal.

Seorang gadis remaja duduk di depannya. “Oh, makanannya sudah datang, Eonni?” ungkap gadis bernama Lee Yubi itu.

Chelsea tersenyum. “Ayo makanlah.”

Ne,” jawab Yubi sambil menggeser-geser telunjuknya di ponsel.

“Sudah menghubungi temanmu?” tanya Chelsea.

Yubi mengangguk. “Ne, Eonni. Untung aku masih ingat nomor Hwayoung.”

Saat menunggu Chelsea di Incheon Airport kemarin, Yubi kehilangan ponselnya.

Di tengah acara menikmati steak seharga 40.000 KRW, latte dan teh yang masing-masing 5.000 Won itu, Yubi mengatakan sesuatu, “Eonni, Hwayoung mengatakan ada orang yang mencariku.”

Nugu?”

“Katanya, seorang Oppa tampan bernama Hwang Chansung. Bahkan dia meminta teman-temanku menghubunginya kalau tahu keberadaanku,” ungkap Yubi.

“Apa mungkin suruhan Eomma?” tanya Chelsea.

Yubi menatapnya serius. “Molla.”

“Kita harus berangkat ke Inggris secepatnya sebelum Eomma menemukanmu.”

Eonni!” protes Yubi.

“Aku trauma dengan Eomma, Yubi-ya. Mianhae,” ucap Chelsea emosional.

Dia ingat bagaimana dulu ibu Yubi menyerahkannya pada para preman yang juga mau mengambil Yubi. Perasaan Chelsea perih mengingat bagaimana dia bertahan hidup di negara asing bertemu seorang nenek yang baik hati dan membawanya ke Inggris dan memberinya nama Chelsea. Yeoja itu takut untuk kembali ke Korea sebelum menemukan keberadaan Yubi.

Hwang Chansung dan Yoon Doojoon berada di dalam mobil di atas jembatan Dongjak. Doojoon menatap Floating Island itu dari jauh. Semakin dekat, dia menatap Gureum dan Noeul cafe yang berada di atas bagunan itu. Hwayoung menghubungi Chansung. Dari sana mereka tahu keberadaan Yubi.

Beberapa saat kemudian, Doojoon dan Chansung mencari sosok  Yubi di dalam cafe. Mereka bertanya pada beberapa pelayan dan pengunjung Gureum cafe. Seorang pelayan mengatakan bahwa gadis di foto yang mereka tanyakan itu baru keluar beberapa menit lalu bersama seorang yeoja. Mereka tampaknya meninggalkan sebuah benda. Doojoon terkejut melihat benda itu, arloji yang sangat dia kenal

*˛.* *˛.*♥mystery♥˛* ˛*˛* ˛*

Pagi-pagi Doojoon berada di Incheon Airport. Melalui jaringan intelegen NIS, dia mendapat informasi pemesanan tiket ke London atas nama Chelsea Jo yang akan terbang jam 10.00 am.

Perasaan Doojoon berdebar cemas. Dia tidak bisa duduk atau berdiri dengan nyaman dan tenang. Tentu saja dia tidak mengandalkan mencari Eunhwa-nya secara langsung dengan melihat satu persatu pengunjung bandara. Doojoon merencanakan sesuatu.

Chelsea dan Yubi tiba di Incheon airport. Chelsea merasa hatinya ditelisik jarum kecil dan terasa perih. Dia merasa jarum itu ingin menarik mundur tubuhnya agar kakinya tak meninggalkan Korea.

Chelsea dan Yubi duduk di waiting area. Mereka kemudian mendengar pengumuman yang ditujukan kepada pengunjung bandara yang kehilangan sebuah arloji.

This watch belongs to Chelsea Jo or Jo Eunhwa.”

Chelsea tersentak.

“Apa itu Eonni?” tanya Yubi.

Mereka melihat gambar jam tersebut di monitor LCD.

Chelsea tersentak kembali. Dia berdiri dengan tubuh lemas dan tampang syok.

Eonni, oddiga?” tanya Yubi melihat kakaknya berlari dengan wajah melankoli.

Doojoon-i,’ batin Chelsea. Dia menjerit dalam hatinya memanggil nama Doojoon.

Yeoja itu mengedarkan pandangan dalam perjalanannya menuju ruang informasi. Setibanya di sana, dia menanyakan orang yang meninggalkan pesan tadi. Yeoja itu tampak histeris begitu melihat arloji warna silver model tahun millenium itu. Dia menanyakan di mana orang yang meninggalkan benda itu.

“Jo Eunhwa!” panggil seorang namja di belakangnya.

Chelsea tersentak mendengarnya.

“Jo Eunhwa!”

Chelsea membalikan tubuhnya pelan. Dia melihat seorang namja dengan sepasang mata kecil dengan single eyelid tengah berdiri sambil tersenyum. Dia menatap intens wajah namja itu.

Benarkah dia Doojoon?’ guman Chelsea.

Doojoon terlalu banyak berubah dibanding 13 tahun lalu. Namja yang berada di hadapannya itu seorang namja dewasa dan tampan, dengan rambut klimis ditata rapi ditunjang penampilan stylish yang manly, dan tubuh tinggi tegap. Doojoon tersenyum hangat padanya seraya meneliti wajahnya. Eye smile Doojoon membuat Chelsea menatapnya dengan mata berkaca. Doojoon sangat yakin dia adalah Eunhwa-nya.

Chelsea atau Eunhwa gemetaran melihatnya. Apalagi saat Doojoon melangkah mendekatinya. Jantungnya berdegup kencang dan darahnya mendesir mengalir deras dalam perputaran siklusnya.  Nafasnya tertarik dan terhembus tak menentu.

Mianhae,” ucap Doojoon. “Aku tak mampu menemukanmu selama 13 tahun ini. Telebih lagi karena tak mampu menggengam erat tanganmu 13 tahun lalu.”

Airmata menetes begitu saja dari mata kiri Chelsea, diikuti tetesan lain dari mata kanannya. Dia benar-benar speechless dan suhu tubuhnya meningkat.

Doojoon menatapnya lebih dalam. Sepasang mata namja itu pun tampak membening dan berkaca.

“Mungkin kau tak mampu memaafkanku. Itulah yang membuatku gila. Sekarang aku seorang agen NIS, seperti cita-cita kecilku yang ingin menjadi James Bond. Setelah berhasil, aku ingin mencarimu. Karena aku tahu kau dibawa keluar negara ini oleh penjahat kelas dunia.”

Kaki Eunhwa melemas, hampir merobohkan tubuhnya. Dia sama sekali tak berusaha terkenal agar Doojoon menemukannya. Dia terlalu takut dengan penculikan dan penjualan yang pernah dia alami.

“Aku pertama melihatmu di Stamford Bridge pekan lalu,” lanjut Doojoon yang membuat Eunhwa sport jantung kesekian kalinya. “I thought I was dreaming. Melihat Eunhwa-ku duduk menyaksikan pertandingan liga Inggris seperti impian kita,” ucap Doojoon lirih.

Eunhwa melihat Doojoon meraih arloji yang dia genggam. “Kamsahamnida, belum melupakanku dan masih menyimpanku dalam ingatanmu,” ucap Eunhwa parau.

Doojoon meraih tangan Eunhwa yang gemetaran. “Kali ini aku akan menggenggam mereka lebih kuat, Eunhwa-ya.”

Pandangan mereka bertemu dan bebaur. Menyatukan perasaan yang meluap dan meledak. Mengkiaskan kerinduan yang tak pernah padam. Eunhwa terisak. Tak kuasa bicara dan merasa kepalanya mau meledak. Pandangannya kabur karena dihalangi airmata.

I miss you like crazy, Eunhwa,” ucap Doojoon lirih lalu merangkul tubuh lemah Eunhwa dan membawanya ke dalam dekapan eratnya.

Eunhwa merasakan angin yang menyejukan hatinya dalam pelukan itu. Dia tak sanggup memejamkan mata. Tetesan air mata menuruni wajah tampan Doojoon. Eunhwa benar-benar histeris. Dia terisak sampai membasahi jas Doojoon.

“Doojoon-i!” panggilnya dengan suara bergetar. “Miss you too, my Doojoon!”

Yeoja itu menguatkan dirinya untuk memeluk Doojoon lebih erat.

Cause I always saw in you. My right my strength.

And I want to thank you. How for all the ways.

You were right there for me. You were right there for me.

For always …

            In my dreams I’ll always see your soul above the sky.

In my arms there always be a place for you. For all my life.

I’ll keep a part of you with me and everywhere I am there you’ll be

*˛.* *˛.* ♥  The End ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Credit :

Songs

  • Beast – MYSTERY
  • Chelsea FC Anthem song
  • Faith Hill – There You’ll Be [OST Pearl Harbour]
Advertisements

14 thoughts on “Mystery

  1. Ceritanya bener-bener bikin kocak sendiri, trus tiba-tiba DUARR mata berkaca-kaca.

    Aku bener-bener menemukan gentle Doo doo yang penuh karisma #ciee

    tapi agak aneh, dapet name Yoobi di sini *coz I don’t like her sister as Geka’s GF at 20y.oLuv tuh~,~*

    di sini pokoknya perjuangan DJ bener2 enggak sia2. Pake masuk NIS lagi, same lik Lee Junki. Hehehe, aura IRIS 2 nya menguar seketika 🙂

    tapi Eonnie, ada beberapa typo(s), justs: mengajaku,menceritkan, chelsea Lee( Jo bukan?”, trus:

    Doojoon meraih tangan Eunhwa yang gemetaran. “Kali ini aku akan menggenggam mereka lebih kuat, Eunhwa-ya.”

    “mereka” itu dituju’in sama siapa, Eon? Penasaran nih~~

    Keep writing, n’ good job !!

    1. Annyeong, El! *berasa manggil Myungsoo*
      Wah kocak… 🙂
      Kalo boleh saya cerita, pas nulis scene akhir, terharu sendiri #lebay.
      Ini ditulis sebelum nnton Iris 2.
      Langsung kepikiran aja ada unsur football krn DJ suka bola n saya suka Chelsea, jadi masukin setting London dikit.

      Makasih banget loh review lengkap gini including critic and questions.
      Yoobi kepikiran gitu aja inget cast dia di Innocent Man
      Buat typonya maaf kelewat edit 😦
      Trus yabg dimaksud “Mereka” → menggenggam erat kedua tangan sampai jemari Eunhwa agar ga pisah lagi kaya dulu

      Hanbonman, kamsahamnida 🙂

      Semoga suka fiksi2 di sini

  2. Pertama waktu baca Mystery, waktu yang lalu, saya pernah protes soal lagu Faith Hill yang saya nilai terlalu Amrik untuk dipakai. Ini kedua kali saya baca ulang dan waktu chorusnya muncul, eh, saya bergidik dan kata2nya pas. Meski Hill terlalu Amerika.

    Dan saya masih ingin itu bagian pertandingan antara Chelsea- MUㅎㅎㅎㅎ

    Menunggu bagian Gikwang.

    1. Unni, sebenarnya G ga mikir dulu itu OST film Amrik 😀
      Cuma fokus sama liriknya aja.
      Emang bikin bergidik pas dulu denger lagu itu plus nonton filmnya. I was at junior high school at that time, kekeke.

      Pertandinganya diskip aja. Ini udah long shot menurutku.
      Gikwang akan segera dipost.
      kamsahamnida

  3. Huaaaaah eonnie pecinta sejati football, aq msh kalah #plaaaak couple favorit aq JoonHwa.. Berkaca2 pas ending’y…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s