Law of Natures 6: LONG LEGS

Law of Natures 6:

Long Legs

LoN Long Legs Poster copy

By:

thecuties

|Romance/Crime/Action | PG 15 | Series |

Cast:

Kim Woobin

Jo Hwanbi (OC)

Lee Soohyuk, Lee Jongsuk, Jo Hwanmi (OC), Jun Yoojin (OC)

Jo Sungha, Yoon Yooseon, Kang Minhyuk

Cameo:

Lee Seunggi, Lee Joonhyuk, Song Joongki, Jo Jeongseok

Kwon Heemi (OC)

: 1. The Court | 2. Sweet Defendant 1 |

| 3. Sweet Defendant 2 |4. Prosecutor 1|

| 5. Prosecutor 2

A/N : Part ini adalah part terakhir yang tidak di password, mulai part depan, kami akan memberlakukan sistem password lagi. Bagi yang sering RCL kalian bisa menanyakan password pada kami melalui inbox dengan menyebutkan username yang sering kalian gunakan saat RCL di part-part sebelumnya.

Tidak usah terlalu banyak intro lagi, happy reading all ^^

ώ Long Legs ώ

The Partner Law Firm, Itaewon, Yeongsan-gu,

Kamis, 24 Oktober, 10.30 am KST.

Hwanbi baru saja tiba di ruang kerjanya, dan dia terkejut saat melihat Lee Seunggi Byeonsa, Sunbae sekaligus rekan kerjanya di The Partner Law Firm, sudah duduk manis di sofa panjang yang ada di sana.

Sunbae? Apa yang Sunbae lakukan di ruanganku?” tanya Hwanbi.

“Kau dari mana saja? Kenapa baru datang, huh?” cecar Seunggi sambil bangkit dari duduknya dan menarik tangan Hwanbi menuju sofa.

“Tadi aku ke rumah sakit dulu,” jawab Hwanbi. “Ada apa mencariku?”

Byeongwon? Kau sakit?” Seunggi mengulurkan tangannya menyentuh kening Hwanbi.

Aniyo, bukan aku, tetapi sahabatku masuk rumah sakit,” jawab Hwanbi.

Nugu?”

“Lee Jongsuk Geomsa, tadi pagi dia dilarikan ke rumah sakit karena penyakit lamanya kambuh,” beritahu Hwanbi.

“Ah, sepertinya kasus pembunuhan CEO Buenos sangat menyita waktu ya, sampai-sampai jaksa muda itu sakit,” kelakar Seunggi. Kebetulan saat kuliah dulu, Seunggi sempat mengenal Jongsuk, selain itu mereka juga pernah bertemu di pengadilan.

“Ya untung saja, client-ku dinyatakan bebas dari status tersangka sebelum diadakan persidangan,” ucap Hwanbi sambil duduk di single sofa yang ada di dekat tempat Seunggi duduk. “Ada apa mencariku?” Hwanbi mengulang pertanyaannya.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

“Membicarakan masalah apa, Sunbae?”

“Kau ingat kasus Captain Ji?” tanya Seunggi.

Ne, bukannya kemarin sudah sidang putusan, kan?” Hwanbi ingat betul dengan kasus yang ditangani oleh Sunbae-nya ini. Pilot Korean Air bernama Ji Jinhee dituduh menjadi pembunuh seorang profesor sekaligus aktivis yang biasa menulis banyak artikel di media massa dengan menggunakan racun. Kasus yang memakan banyak waktu penyelidikan.

“Ya, tetapi aku ingin mengajukan banding untuk client-ku itu,” ujar Seunggi. “Dan untuk itu aku membutuhkan bantuanmu.”

“Bantuanku?”

“Rencananya untuk sidang banding nanti, aku ingin menggunakan putusan dari juri, sehingga aku membutuhkanmu sebagai partner-ku,” kata Seunggi. “Toh, kau sudah tidak menanggani kasus apapun, kan?”

“Ya, tetapi ada satu kasus kecil yang harus aku tanggani,” balas Hwanbi. Dia ingat, saat sedang menanggani kasus Yoojin, Jo Jeongseok datang ke kantornya dan meminta bantuannya, tetapi saat itu karena sedang menanggani kasus Yoojin, Hwanbi menolaknya. Sekarang karena Yoojin sudah bukan tersangka lagi, Jo Jeongseok kembali meminta bantuannya, kali ini pria itu, ingin menuntut balik CEO-nya yang sudah menuduhnya membocorkan rahasia perusahaan pada pesaing.

“Kasus kecil apa?”

“Jo Jeongseok Oppa meminta bantuanku untuk menuntut balik CEO-nya yang sudah menuduhnya membocorkan rahasia perusahaannya pada pesaing,” beritahu Hwanbi.

“Jo Jeongseok mantan kekasihmu?”

Eoh, saat aku sedang menangani kasus Yoojin Eonni, dia menghubungiku, dan meminta bantuanku, tapi karena aku berhalangan, jadi dia menggunakan pembela lain untuk membebaskannya. Sekarang dia ingin aku menjadi pembelanya untuk menuntut balik.”

“Kasus menuntut balik tidak akan serumit kasus pembelaan, jadi aku harap kau bisa membantuku, Hwanbi-ya,” kata Seunggi dengan wajah menyakinkan pada Hwanbi.

Apa yang dikatakan oleh Seunggi memang benar, kasus menuntut balik tidak serumit kasus pembelaan, dan tidak ada salahnya membantu Seunggi. “Baiklah, Sunbae. Aku setuju untuk membantumu dalam sidang banding,” putus Hwanbi yang membuat Seunggi menyunggingkan senyum.

Gomawo, Hwanbi-ya. Nanti aku akan memberikan berkas-berkasnya padamu, agar kau bisa mempelajarinya,” ucap Seunggi sambil menggenggam erat tangan Hwanbi. “Kalau begitu, aku pergi menemui Kim Bujangnim dulu, aku akan memberitahunya kalau kau setuju membantuku,” Seunggi bangkit dari duduknya pergi meninggalkan ruang kerja Hwanbi.

05.30 pm KST

Hwanbi mendengus kecil melihat catatan kecil yang ada di agendanya. Catatan jadwal kegiatan yang biasa dilakukan Woobi setelah pulang kerja.

Senin dan Jumat : taekwondo di Dong-ah Dojang Sinsu-dong.

Selasa dan Kamis : fitness di Heathly Center Hongdae.

Rabu : berenang di swimming pool indoor Lotte City Hotel.

Sabtu atau Minggu : wall climbing.

“Kenapa hobinya lelaki sekali? Benar-benar menyulitkanku,” gerutu Hwanbi sambil mengetuk-ngetukan ujung penanya di meja.

Omo, Jo Byeon! Jangan katakan padaku kalau kau ingin melakukan semua itu?”

Sebuah pekikan yang Hwanbi kenali berasal dari mulut Yoseob asistennya, membuat Hwanbi menatap tajam lelaki berwajah cute yang berdiri di depannya.

“Sejak kapan kau menyukai kegiatan yang mengeluarkan keringat seperti itu, Jo Byeon?” tanya Yoseob dengan wajah penuh keterkejutan.

Waeyo? Apakah ada yang salah?” Hwanbi balik bertanya.

“Bukannya status Jun Yoojin sudah bukan tersangka lagi? Kenapa kau melakukan kegiatan itu sebagai gantinya?” ucap Yoseob lengkap dengan cengirannya.

Hwanbi kembali mendengus kencang. Yoojin memang sudah dibebaskan dari status tersangka, tetapi yang membuatnya melakukan hal ini bukan karena Yoojin, melainkan karena lelaki berkaki panjang bernama Kim Woobin yang berhasil merusak sistem kerja otaknya.

“Aku ingin mencoba kegiatan baru saja, Yoseob-ssi,” ucap Hwanbi sambil merapikan barang-barangnya.

“Kau sudah mau pergi?”

Eoh, aku mau pergi ke pusat kebugaran, karena hari ini ada jadwal fitness,” jawab Hwanbi sambil menyampirkan tote bag-nya di bahu.

“Sampai jumpa besok, Yoseob-ssi.”

ώ Long Legs ώ

Heathly Center, Hongdae. 06.30 pm KST.

Hwanbi berlari di atas treadmill sambil sesekali mengedarkan pandangannya. Sebenarnya Hwanbi bukan orang yang senang dengan kegiatan olahraga seperti ini, tetapi demi menarik perhatian Kim Woobin, dia akan mencoba untuk mulai berolahraga, lagipula olahraga baik untuk kesehatan.

Setelah berlari selama lima belas menit, Hwanbi merasa ada seseorang yang menggunakan treadmill yang ada di sebelah kanannya, Hwanbi menoleh dan seketika itu juga jantungnya berpacu dengan cepat. Kim Woobin. Akhirnya lelaki berkaki panjang yang sejak tadi ditunggunya muncul juga.

Merasa ada yang memperhatikannya, Woobin menoleh. “Jo Byeon?”

Annyeonghaseyo, Kim Hyeongsa, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini,” kata Hwanbi lengkap dengan senyum andalannya.

“Aku member yang rutin datang ke tempat ini, tapi aku jarang melihatmu, apa kau member baru?”

Ne, asistenku yang memberikan rekomendasi tempat ini,” bohong Hwanbi. “Dan ternyata kau member di sini juga. Sepertinya kita ditakdirkan bertemu lagi.”

Mendengar jawaban dari Hwanbi tadi, Woobin hanya menyunggingkan senyumannya yang mampu melumpuhkan Hwanbi saat itu juga. Mati-matian Hwanbi menjaga agar wajahnya tidak merona.

“Oh ya, apa kau tahu kalau tadi siang Jongsuk sudah keluar dari rumah sakit?” tanya Woobin.

Eoh, tadi siang Hwanmi memberitahuku, kalau Jongsuk memaksa untuk dirawat di rumah saja, dan dia yang mengantar Jongsuk kembali ke apartemennya,” jawab Hwanbi. “Si Donald tidak akan betah menginap lama-lama di rumah sakit,” tambah Hwanbi sambil terkekeh dan karena hal itu dia tidak sadar kalau kakinya tidak seirama lagi dengan treadmill, sehingga dia tergelincir.

A-appo~” Hwanbi mengusap tangannya yang sakit karena telah mencium lantai.

Gwaenchanayo, Jo Byeon?”

Hwanbi begitu terkejut saat melihat Woobin sudah berjongkok di sebelahnya bermaksud membantu Hwanbi berdiri. Hwanbi mengulurkan tangannya dan saat kakinya akan menapak ke lantai, Hwanbi merasakan linu. Sepertinya terkilir.

A-appo~” rintih Hwanbi.

“Sepertinya kakimu terkilir,” tanpa banyak bicara, Woobin langsung meletakkan tangannya dipunggung dan lipatan lutut Hwanbi, dan dengan mudahnya lelaki itu menggendong tubuh Hwanbi.

“Seharusnya sebelum melakukan latihan tadi, kau melakukan pemanasan terlebih dahulu,” ucap Woobin.

“Bagaimana kalau kau menjadi personal trainer-ku?” goda Hwanbi sambil mengeratkan rangkulannya pada leher Woobin.

Bukannya menjawab, Woobin hanya memperbaiki posisi Hwanbi dalam gendongannya dan membawa Hwanbi menuju rumah sakit terdekat.

ώ Long Legs ώ

Hospital, 08.47 pm KST,

“Syukurlah kakimu hanya terkilir saja, dan dalam beberapa hari akan sembuh,” ucap seorang dokter berwajah ramah pada Hwanbi. “Tetapi untuk sementara kau dilarang menggunakan high heels dulu,” tambahnya yang membuat Hwanbi meringis.

“Jadi dia tidak harus menginap di rumah sakit, Seonsaengnim?” Woobin yang sejak tadi berada di samping Hwanbi melihat dokter mengobati kakinya bertanya.

“Ya, hari ini juga dia sudah bisa pulang,” jawab dokter itu. “Kalau begitu, saya tinggal dulu,” dokter berwajah ramah tadi pergi meninggalkan Hwanbi dan Woobin.

“Hari ini sudah dua kali aku mengunjungi rumah sakit,” gerutu Hwanbi pelan yang sayangnya terdengar Woobin.

“Hanya terkilir, nanti juga sembuh,” balas Woobin yang berhasil membuat wajah Hwanbi merona. “Kau tunggu di sini, aku akan mengurus administrasi sekaligus mengambilkan obat untukmu. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang,” Woobin lalu berjalan keluar dari bilik rawat Hwanbi. Seketika itu juga Hwanbi bisa bernafas dengan baik, sejak Woobin berada di dekatnya tadi, dia merasakan paru-parunya tidak bekerja sebagaimana mestinya.

ώ Long Legs ώ

Nogosan-dong, 09.12 pm KST,

“Apa ini rumahmu?” pertanyaan basa-basi, karena sebenarnya Woobin sudah tahu kalau Hwanbi adalah anak dari Kepala Polisi Seoul, Jo Sungha. Atasan dari atasan Woobin. Dulu Jongsuk pernah bercerita kalau ayah Hwanbi adalah Kepala Polisi Seoul, tidak heran kalau saat dia meminta agar Yoojin menjadi tahanan kota, keputusan itu bisa datang dengan cepat. Sudah bisa dipastikan Hwanbi meminta pertolongan dari ayahnya.

Eoh,” jawab Hwanbi sambil melepas seatbelt-nya.

“Aku bantu,” Woobin keluar dari mobilnya dan membantu Hwanbi keluar dari mobil. Woobin memapah Hwanbi sampai di depan pintu. Dia berharap jangan sampai Jo Sungha yang membukakan pintu, karena jujur saja, Woobin tidak ingin atasannya itu berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.

Hwanbi mengetuk pintu dan tak lama ada seseorang yang membukakan pintu. Woobin menarik nafas lega saat melihat sosok mirip Hwanbi yang membukakan pintu. Jo Hwanmi.

“Hwanbi-ya, apa yang terjadi denganmu? Apa kau terluka?” tanya Hwanmi dengan pandangan khawatir.

Eoh, nan gwaenchana, Hwanmi-ya. Kakiku hanya terkilir saja,” jawab Hwanbi. “Kim Hyeongsa, terima kasih untuk bantuanmu hari ini, aku sudah banyak merepotkanmu,” ucap Hwanbi sambil melepaskan tangannya yang Woobin genggam.

“Ah, iya. Ini obatmu, diminum tiga kali sehari setelah makan,” Woobin menyerahkan paper bag berisi obat untuk Hwanbi.

“Sekali lagi terima kasih banyak, Kim Hyeongsa,” ucap Hwanbi lagi.

“Kalau begitu aku permisi dulu, get well soon, Jo Byeon,” pamit Woobin.

Begitu Woobin masuk ke dalam mobilnya, Hwanmi membantu memapah Hwanbi. “Kenapa kau bisa sampai terkilir?”

“Karena dirinya,” jawab Hwanbi polos.

Mworago?” Hwanmi menatap Hwanbi dengan pandangan tidak mengerti.

Najungae, sekarang lebih baik kau membantuku ke kamar, aku tidak mau Appa melihat keadaanku seperti ini,” pinta Hwanbi dengan wajah memelas.

“Huh! Kalau Appa tahu dia lelaki yang telah membuatmu terluka, maka dia akan habis dipukuli oleh pedang kayunya,” ucap Hwanmi yang disambut anggukan serta kekehan oleh Hwanbi. Ayah mereka berdua memang terkenal over-protective, jika ada lelaki yang mengganggu kedua putri kembarnya, maka lelaki tersebut harus siap berhadapan dengannya di halaman belakang untuk tanding kendo.

“Hwanbi-ya, kenapa kakimu?” sebuah pertanyaan yang meluncur dari mulut seorang pria paruh baya membuat Hwanmi dan Hwanbi membeku di tempatnya.

Sial! Kenapa Appa harus melihat keadaan kakiku ini,” gerutu Hwanbi pelan.

“Habislah kau! Sekarang Appa sudah melihat keadaanmu dan tidak ada jalan lain, selain berkata jujur,” bisik Hwanmi. Setelah itu tanpa aba-aba, Hwanmi dan Hwanbi menoleh ke belakang dan melihat Jo Sungha, ayah mereka sudah berdiri di sana.

A-appa, sudah pulang?” gelagap Hwanbi.

Ne, dan tadi Appa melihat ada mobil yang baru saja pergi dari sini, apakah itu temanmu?” tanya Jo Sungha dengan pandangan menyelidik.

N-ne, Appa. Itu tadi mobil Kim Woobin Hyeongsa,” jawab Hwanbi terbata. “Tadi dia yang mengantarku pulang.”

“Lalu kenapa dengan kakimu?” Sungha mengalihkan pandangannya ke arah kaki Hwanbi yang terbebat kain tebal.

“Oh, ini,” Hwanbi mengangkat sedikit kakinya. “Hanya terkilir biasa saja,” tambahnya lengkap dengan cengiran. Hwanbi juga menggerak-gerakan kakinya untuk menyakinkan ayahnya kalau kakinya tidak apa-apa.

“Benarkah?” Sungha berjalan mendekati Hwanbi dan Hwanmi, kemudian dengan santainya dia menepuk telapak kaki Hwanbi yang terbebat kain.

Kontan Hwanbi langsung memekik kesakitan. “Aaa~ sakit!”

Yoon Yoseon yang kebetulan mendengar pekik kesakitan Hwanbi dari living room langsung bergegas mendekati sumber keributan. “Wae? Wae? Apa yang terjadi, Hwanbi-ya?” tanya Yoon Yoseon dengan wajah panik. “Sesange! Apa yang terjadi dengan kakimu?” Yoon Yoseon semakin panik saat melihat kaki Hwanbi yang terbebat kain.

“Kita bicarakan sambil duduk saja,” putus Jo Sungha sambil berjalan menuju sofa yang ada di living room. Di belakangnya Yoo Yoseon, Hwanmi, dan Hwanbi berjalan mengikuti.

“Jadi, bisa kau ceritakan kronologis kenapa kakimu bisa sampai seperti itu?” Jo Sungha memulai mengintrogasi Hwanbi.

Hwanbi meringis, sebelum akhirnya menceritakan bagaimana kronologis kejadian tadi di tempat kebugaran. “Ini murni buah kecerebohanku, Appa. Kim Hyeongsa sama sekali tidak bersalah, dia yang membantuku,” Hwanbi mengakhiri ceritanya. Dia berusaha sebaik mungkin tidak membuat nama Woobin buruk di depan ayah dan ibunya.

“Kim Hyeongsa, nugu?” tanya Yoon Yoseon.

“Kim Woobin, detektif yang waktu itu menangani kasus Yoojin Eonni,” jawab Hwanmi.

“Lalu bagaimana kakimu, Hwanbi-ya? Apa benar-benar sakit?” Yoon Yoseon menatap Hwanbi dengan pandangan khawatir.

“Tidak begitu sakit, Eomma. Hanya terkilir saja,” jawab Hwanbi sambil tersenyum menenangkan.

“Kalau begitu selama kakimu sakit, Appa melarangmu membawa mobil,” putus Jo Sungha.

“Lalu bagaimana aku pergi ke tempat kerja?” protes Hwanbi.

“Mulai besok, Appa yang akan mengantarmu,” jawab Jo Sungha.

Geundae, Appa. Aku tidak ingin merepotkan Appa, kakiku hanya…”

“Jo Hwanbi!” Jo Sungha memotong perkataan Hwanbi dengan memanggil nama lengkapnya yang sukses membuat Hwanbi bungkam. Saat ayahnya sudah memanggil nama lengkapnya, itu berarti beliau tidak mau mendengar bantahan lagi.

“Sekarang masuk ke kamarmu dan istirahat, besok Appa yang akan mengantarmu ke tempat kerja,” setelah berkata seperti itu, Jo Sungha bangkit dari duduknya meninggalkan living room.

“Hwanmi-ya, bantu adikmu masuk ke kamar, dan kau juga segera istirahat,” pesan Yoon Yoseon sebelum akhirnya dia menyusul Jo Sungha, suaminya ke kamar.

Kajja, aku bantu kau ke kamar,” Hwanmi mengulurkan tangannya membantu Hwanbi berdiri. Setelah itu mereka berdua berjalan menuju kamar Hwanbi.

ώ Long Legs ώ

Mapo Police Station, Seogyo-dong, Mapo-gu,

Jum’at, 25 Oktober 2013, 12.11 am KST

Siang itu, Hwanbi berdiri di depan kantor polisi tempat Woobin bekerja, dia bermaksud untuk mengajak Woobin makan siang sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya kemarin, sekaligus dia ingin mengenal Woobin lebih dekat lagi.

Hwanbi berjalan pelan menuju divisi Woobin dan saat sampai di sana, keadaannya tidak begitu ramai. Dia bisa memaklumi hal tersebut, divisi investigasi memang jarang berada di kantor, kebanyakan detektif yang bekerja di bagian ini, sering melakukan pengintaian di luar. Hwanbi mengendarkan pandangannya mencari sosok Woobin, dan tampaknya lelaki tinggi itu tidak ada di tempatnya.

Chogiyo, apakah Kim Hyeongsa sedang keluar?” tanya Hwanbi pada salah satu petugas yang mengenakan seragam.

“Ah, Kim Hyeongsa sedang menemui Kepala Jung, mungkin sebentar lagi dia akan kembali,” beritahu petugas tersebut.

“Apakah aku bisa menunggunya?” tanya Hwanbi.

“Tentu saja, kau bisa menunggu di mejanya,” petugas itu menunjuk meja kerja Woobin yang berada di tengah ruangan.

Gomapsumida,” Hwanbi lalu berjalan menuju kursi yang ada di hadapan meja kerja Woobin. Hwanbi memperhatikan meja Woobin yang berantakan, kertas-kertas dan alat tulis yang berserakan. Ingin rasanya Hwanbi merapikan meja tersebut, namun dia takut dinilai lancang. Dia dan Woobin belum begitu dekat. Hanya satu hal yang membuat mereka berhubungan, yaitu kasus Jun Yoojin.

Setelah hampir lima menit, Hwanbi menunggu, akhirnya sosok Woobin muncul juga. “Jo Byeon, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Woobin dengan suara beratnya yang mampu membangunkan ular tidur dalam perut Hwanbi.

Annyeonghaseyo, Kim Hyeongsa,” sapa Hwanbi dengan senyuman andalannya. “Aku ingin mengajakmu makan siang, kau tidak keberatan, kan?”

Salah satu alis Woobin terangkat. “Makan siang? Dalam rangka apa?”

Hwanbi menggerutu dalam hati. Mereka memang tidak begitu dekat, tapi apakah salah kalau mereka makan siang bersama?

“Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah menolongku kemarin,” ujar Hwanbi. “Kau mau, kan?” tambah Hwanbi dengan nada sedikit memohon. Dalam hati Hwanbi berdoa kalau Woobin menyetujui ajakannya ini.

Di saat menunggu jawaban dari Woobin, terdengar suara sapaan memenuhi ruangan. “Selamat siang semua!”

Hwanbi menoleh melewati bahunya dan menatap wanita yang sedang berjalan ke arahnya dan Woobin. Wanita itu mengenakan dress dari bahan silk lace berwarna broken white yang dia padukan dengan cashmere coat berwarna hitam. Kakinya dilapisi stocking hitam dan sebagai alas kakinya, wanita itu mengenakan stiletto branded dengan model pump to toe. Tas LV keluaran terbaru tersampir di tangan kanannya. Rambut sebahunya, terlihat halus dan lembut, pasti hasil perawatan di salon mahal. Dia mengenakan riasan natural namun tetap terlihat pada wajahnya yang bulat. Secara keseluruhan, Hwanbi menilai kalau wanita ini pasti seorang fashionista sejati.

Annyeong, Weobin-ah, senang melihatmu ada di sini,” ucap wanita itu dengan senyum merekah.

“Ayo, kita pergi makan siang bersama,” ajak wanita itu.

Andwae! Jangan terima ajakannya! Jebal!” mohon Hwanbi dalam hati. Dan sepertinya doa Hwanbi terkabul saat dia merasakan Woobin menyentuh lengannya.

“Jo Byeon, bukannya kau tadi memintaku untuk menemui saksi?” Woobin menatap Hwanbi seolah memberi kode.

Eeoh,” jawab Hwanbi pelan.

Kajja,” Woobin membantu Hwanbi bangkit dari duduknya. “Mianhamnida, Heemi-ssi. Aku harus pergi,” ucap Woobin pada wanita yang ternyata bernama Heemi tadi. Hwanbi hanya sempat membungkuk sebentar, karena Woobin sudah menyeretnya keluar dari kantornya.

“Kim Hyeongsa, boleh kah aku bertanya sesuatu?” tanya Hwanbi saat Hyundai Tucson yang dikendarai Woobin sudah melaju di jalan raya.

“Bertanya apa?” ucap Woobin tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali.

Akka, geu yeojareul nugusimnika? (siapa wanita tadi?)”

“Kwon Heemi, pemilik Queen Butik yang berada di dekat kantorku,” lagi-lagi Woobin tidak mengalihkan perhatiannya pada Hwanbi.

Ingin sekali Hwanbi menanyakan tentang hubungan apa yang terjalin di antara Woobin dan wanita bernama Kwon Heemi tadi, namun sepertinya Hwanbi harus menahan rasa ingin tahunya itu. Hubungannya dengan Woobin belum begitu dekat, mereka hanya terhubung dengan kasus Yoojin saja, walau sebenarnya Hwanbi menginginkan hubungannya dengan Woobin lebih dari itu.

“Kau ingin makan siang di mana?” Hwanbi mencoba mengubah topik pembicaraan.

“Bukannya tadi kau yang ingin mengajakku makan siang di luar?” kali ini Woobin menoleh pada Hwanbi dan menatapnya dengan satu alis yang terangkat.

Well… Memang aku yang mengajakmu makan siang di luar, tapi aku tidak tahu kau sedang ingin makan apa,” ucap Hwanbi dengan nada yang dibuat setenang mungkin. Mendapat tatapan dari Woobin, membuat jantungnya berpacu dengan cepat.

“Terserah kau saja, aku tidak pemilih terhadap makanan,” Woobin kembali memusatkan perhatiannya pada jalanan, karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.

“Kalau begitu bagaimana jika kita makan makanan Jepang saja? Sudah lama aku tidak makan Okonomiyaki di restoran Teppen,” usul Hwanbi. Woobin hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban, dan lelaki itu mengarahkan Hyundai Tucson-nya ke arah restoran Teppen yang berada di kawasan Mapo.

ώ Long Legs ώ

Teppen Restaurant, Mapo-gu, 12.59 am KST.

“Bagaimana keadaan kakimu?” tanya Woobin saat dirinya dan Hwanbi sudah duduk di Teppen, restoran masakan Jepang yang ada di kawasan Mapo.

“Sudah tidak sakit lagi, bahkan kain yang membebatnya juga sudah aku lepas tadi pagi,” jawab Hwanbi. “Tapi, aku masih belum bisa membawa si bantat, karena Appa melarangku,” tambah Hwanbi.

“Si bantat?” salah satu alis Woobin yang tegas terangkat.

“Mobil yang biasa aku gunakan, aku menyebutnya si bantat, karena bentuknya yang mungil,” jawab Hwanbi lengkap dengan cengiran yang membuatnya terlihat menarik di mata Woobin.

Sejak pertama melihat Hwanbi di Hollys Coffee saat dia memarahi Jongsuk, Woobin tahu benar gadis berponi ini memiliki daya tarik. Rambutnya coklat gelap bergelombang melewati bahu, mata yang ekspresif, hidung yang mungil, serta bibir tipis yang berwarna pink alami.  Tetapi Woobin tidak mau terlalu banyak mengartikan ketertarikannya pada gadis yang ada di depannya saat ini, karena biarpun gadis ini cantik dan menarik, sifatnya yang cerewet membuat Woobin perlu mempertimbangkan perasaannya lagi. Selain itu, bisa saja gadis ini sudah memiliki kekasih, sulit membayangkan gadis secantik dan semenarik Hwanbi belum memiliki kekasih.

“Kudengar kau dan Jongsuk berteman sejak SMA, ya?” Hwanbi mencoba membuka obrolan dengan Woobin.

Eoh,” jawab Woobin singkat.

“Apakah hubungan kalian sangat dekat?” tanya Hwanbi lagi.

“Begitulah,” Woobin menyuap sayuran ke dalam mulutnya.

“Bagaimana dengan Lee Soohyuk?”

“Jongsuk yang mengenalkan.”

Hwanbi yang mengharapkan jawaban panjang dari Woobin hanya bisa menelan ludah getir.

“Sial! Kenapa dia sangat irit berbicara?” gerutu Hwanbi dalam hati.

“Oh ya, apakah kau sering pergi bersama Jongsuk dan Soohyuk?” Hwanbi tidak menyerah. Dia berharap lelaki yang duduk di hadapannya saat ini menjawab pertanyaannya dengan panjang.

Ne,” lagi-lagi jawaban pendek yang meluncur dari mulut Woobin, dan hal itu sukse menyulut kekesalan Hwanbi.

Hya Kim Hyeongsa! Apakah setiap kata yang keluar dari mulutmu itu ada harganya? Kenapa kau irit sekali bicara?” omel Hwanbi sambil melempar serbet yang ada di pangkuannya ke atas meja. Dia frustasi, baru kali ini dia berhadapan dengan lelaki yang irit berbicara.

Melihat wajah Hwanbi yang kesal, mau tak mau membuat bibir Woobin mengulaskan segaris senyuman, yang mampu membuat kekesalan Hwanbi sirnah. Kesan galak yang selama ini terpeta jelas di wajah Woobin, hilang hanya dengan seulas senyum yang tampak menggoda bagi Hwanbi.

“Jo Byeon, aku ini bukan Jongsuk yang banyak bicara,” ucap Woobin sambil menyesap minumannya.

Hwanbi mendengus kencang. Jongsuk si Donald memang sama cerewetnya seperti dirinya, tidak heran mereka bersahabat.

“Aku kira Soohyuk pendiam, tapi ternyata kau jauh lebih pendiam darinya,” gumam Hwanbi. Lagi-lagi Woobin tersenyum mendengar perkataan Hwanbi tadi. Pengacara muda ini bukan perempuan pertama yang mengomel karena sifat pendiamnya ini, tapi Woobin memang jarang berbicara banyak pada seorang perempuan.

Saat kembali melihat senyuman Woobin, Hwanbi hanya bisa terpaku. Lagi-lagi ada yang menekan tombol pause pada remote kehidupannya.

Damn! Bagaimana bisa dia menyembunyikan senyum menawannya ini?” gerutu Hwanbi dalam hati.

“Jo Byeon, aku rasa kita harus segera kembali, jam makan siangku akan segera berakhir, dan masih banyak yang harus aku kerjakan,” ucap Woobin sambil melirik jam tangannya.

Hwanbi ikut melirik jam tangannya. Pukul 01.33 pm. Sebenarnya dia masih punya banyak waktu kosong, tetapi dia tidak mungkin bertahan di sini tanpa Woobin. “Baiklah, kajja,” Hwanbi bangkit dari duduknya dan membayar semua pesanan mereka tadi.

“Di mana aku harus menurunkanmu?” tanya Woobin saat Hyundai Tucson-nya sudah meninggalkan restoran Teppan.

“Aku turun di kantormu saja,” jawab Hwanbi yang disambut anggukan oleh Woobin. Dan setelah itu, sepanjang perjalanan menuju kantor Woobin di Mapo, hanya keheningan yang mengisi. Demi Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya, Hwanbi benci kondisi sepi seperti ini.

Gomapsumnida, Kim Hyeongsa. Kau sudah mau makan siang bersamaku,” ucap Hwanbi sambil turun dari Hyundai Tucson milik Woobin.

“Seharusnya aku yang mengucapkan itu, terima kasih untuk makan siangnya,” balas Woobin.

“Ah iya, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” semenjak mengurusi kasus Yoojin sampai detik ini, Hwanbi belum memiliki nomor ponsel Woobin, terdengar aneh tetapi itulah kenyataannya, dan sebenarnya Hwanbi bisa saja meminta nomor ponsel Woobin pada Jongsuk atau Soohyuk, tetapi Hwanbi ingin mendapatkannya langsung dari Woobin.

Woobin menaikkan salah satu alisnya yang tegas. “Untuk?”

“Siapa tahu saja aku membutuhkan bantuanmu,” Hwanbi memberikan alasan. Dalam hati dia kembali berdoa agar Woobin mau memberikan nomor ponselnya.

Tetapi doa Hwanbi tidak terkabul. Bukannya memberikan nomor ponselnya Woobin hanya tersenyum kecil pada Hwanbi dan berkata, “Jja keurom, terima kasih untuk makan siangnya,” setelah itu, dengan tidak berperasaannya, lelaki berkaki panjang itu meninggalkan Hwanbi.

“Sial! Kenapa sulit sekali mendekatinya!” maki Hwanbi. Tetapi tak lama kemudian sebuah ide melintas dalam benak Hwanbi. Dia tidak bisa menyerah begitu saja, kan? Dengan langkah cepat, Hwanbi masuk ke dalam kantor Woobin.

“Kim Hyeongsa! Kim Hyeongsa!” panggil Hwanbi dengan nafas terengah-engah. Dia sengaja berpura-pura memasang wajah panik saat berada di depan Woobin.

“Jo Byeon? Ada apa lagi?” tanya Woobin dengan tatapan bingung. Dia kira pengacara muda ini sudah pergi, tetapi kenapa dia kembali?

“Bolehkah aku meminjam ponselmu?”

“Untuk apa?”

“Aku tidak bisa menemukan ponselku, mungkin saja saat kita makan tadi aku menjatuhkannya,” ucap Hwanbi dengan wajah panik.

Melihat wajah panik Hwanbi, Woobin sedikit tidak tega. Dia mengeluarkan S4-nya dari saku celananya. “Berapa nomor ponselmu?” tanya Woobin.

“010-0103-8888,” Hwanbi menyebutkan nomor ponselnya pada Woobin. Tak lama terdengar lagu Spice Up Your Life yang dinyanyikan oleh Spice Girls dari dalam tote bag yang ditenteng oleh Hwanbi.

Woobin menatap Hwanbi dengan kening berkerut. Dengan cepat Hwanbi merogoh tote bag-nya dan mengeluarkan G-Note dengan case bergambar teddy bear dari sana.

Gomawo, Kim Hyeongsa untuk nomor ponselnya,” ucap Hwanbi dengan cengiran tidak bersalah, kemudian dia melenggang pergi meninggalkan Woobin yang masih tercengang tidak percaya kalau dirinya berhasil dikerjai oleh pengacara muda berwajah menarik itu. Dan tanpa Woobin sadari, bibirnya kembali mengulaskan sebuah senyuman. Hari ini sudah tiga kali, pengacara cerewet itu membuatnya tersenyum.

“Apa dia mempelajari trik seperti ini dari Jongsuk?” gumam Woobin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

ώ Long Legs ώ

Mangwon Hangang Park, Mapo-gu

Minggu, 26 Oktober 2013, 06.30 am KST.

Minggu pagi itu, Hwanbi sengaja pergi ke Mangwon Hangang park. Dulu saat dia masih menjalin hubungan dengan Jo Jeongseok, lelaki itu sering mengajaknya jogging di tempat ini. Bukannya ingin mengenang masa lalu, tapi hanya tempat inilah yang sering dia datangi untuk jogging. Hwanbi ingin melatih pergelangan kakinya yang terkilir tiga hari lalu.

Selama hidupnya Hwanbi hanya memiliki tiga orang mantan kekasih. Kekasih pertama waktu baru masuk universitas, Lee Joonhyuk seorang asisten dosen di kampusnya, mampu bertahan dua tahun. Song Joongki, seorang pilot, bertahan satu setengah tahun. Dan, terakhir, Jo Jeongseok, seorang manager hotel, kurang dari satu tahun.

Kenapa dia bisa putus dengan mereka semua?

Lee Joonhyuk adalah salah satu asisten dosen paling charming yang pernah Hwanbi temui. Hwanbi putus dengannya karena Hwanbi tahu lelaki itu sama sekali belum bisa melupakan mantannya. Saat mantannya kembali ke Seoul, Hwanbi tahu dia harus melepaskan Joonhyuk, karena dia tidak mau jadi yang kedua.

Kemudian Song Joongki. Lelaki ini membuat Hwanbi tertawa dan menangis di saat yang bersamaan. Annoying and adorable. Joongki adalah tipikal lelaki yang selalu menjaga Hwanbi dari belakang agar tidak pernah jatuh, meski gayanya seperti tidak peduli. Seluruh keluarga Hwanbi menyukai Joongki. Hwanbi bahkan tidak bisa mendeskripsikannya dengan sempurna. He’s just too perfect to be true. Tapi, biar bagaimanapun, kesibukannya sebagai seorang pilot membuat mereka jarang bertemu. Apalagi saat Joongki memutuskan pindah ke Kuwait City. Hubungan mereka semakin renggang dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah.

Dan yang terakhir adalah Jo Jeonseok. Lelaki yang bekerja sebagai manajer sebuah hotel, mereka berkenalan, saat Hwanbi membantu salah satu karyawan di hotel tempat Jo Jeonseok bekerja. Mereka berdua sering bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan. Sayangnya, keluarga Jeonseok tidak menyetujui hubungan mereka. Ibu Jeonseok terlihat sangat galak setiap kali bertemu dengan Hwanbi. Keluarga Jeonseok berpikir Hwanbi tidak cukup baik untuk menjadi pasangan Jeonseok. Jadi, in short, Hwanbi memutuskan untuk berpisah. Implikasi ketika hubungan tidak disetujui orang tua adalah kompleks.

Saat sedang berlari sambil mengenang masa lalu, ada seorang lelaki bertraining hitam dengan kaki panjang yang menyalipnya, Hwanbi kenal betul siapa lelaki itu. Kim Woobin. Hwanbi tidak menyangka akan bertemu dengan Woobin di tempat ini. Sepertinya Tuhan memang menakdirkan mereka untuk selalu bertemu.

“Kim Hyeongsa!” panggil Hwanbi sambil mempercepat larinya. Tetapi sepertinya Woobin tidak mendengar panggilan Hwanbi itu.

“Kim Woobin Hyeongsa!” Hwanbi kembali memanggil Woobin, tapi usahanya tetap sia-sia. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Hwanbi mengejar Woobin.

Di saat Hwanbi merasa nafasnya sudah hampir habis, dia berhasil menyejajari Woobin. “Kim Woobin Hyeongsa!” ucap Hwanbi sambil menyentuh bahu Woobin. Lelaki bermata tajam itu menghentikan larinya dan menatap Hwanbi dengan satu alis terangkat. Dia melepas salah satu earphone dari telinganya.

“Pantas saja dia tidak mendengar panggilanku, telinganya tersumpal earphone,” gerutu Hwanbi dalam hati.

“Jo Byeon, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Woobin masih dengan satu alis terangkat.

“Menurutmu apa yang sedang aku lakukan di sini? Aku sedang mengenakan training, sepatu olah raga, dan juga aku berkeringat. Apa aku terlihat seperti sedang berjalan-jalan, huh?” ucap Hwanbi sambil mengatur nafasnya kembali normal.

Mendengar jawaban dari Hwanbi tadi, mau tidak mau membuat Woobin kembali mengulaskan segaris senyum. Woobin sadar, dia tidak bisa bersikap acuh pada pengacara cerewet ini. Entah kenapa gadis berponi ini selalu bisa membuatnya tersenyum. Woobin sadar benar kalau dia adalah tipe lelaki yang sulit tersenyum pada lawan jenis. Dulu hanya ibu, adiknya, dan wanita masa lalunya itu yang bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa lepas. Tetapi semenjak wanita itu memutuskan menikah, Woobin semakin sulit tersenyum. Dan Jo Hwanbi membuat pengecualian.

“Kau sering jogging di sini?” Woobin berinisiatif membuka obrolan.

Kedua mata Hwanbi yang ekspresif melebar. Ini benar-benar diluar dugaannya. Kim Woobin bertanya lebih dulu.

“Cukup sering,” jawab Hwanbi. “Kalau aku tidak sibuk, setiap akhir pekan, aku akan jogging di sini. Kim Hyeongsa sendiri?”

“Kadang-kadang.”

“Lagi-lagi jawaban yang pendek,” gerutu Hwanbi pelan.

“Kakimu tidak apa-apa?” tanya Woobin sambil melihat pergelangan kaki Hwanbi.

“Kakiku hanya terkilir saja, Kim Hyeongsa. Dan semenjak kemarin aku sudah tidak merasakan sakit lagi, aku juga sudah bisa berjalan normal,” jawab Hwanbi.

“Kebetulan bertemu denganmu di sini, bagaimana kalau kita sarapan bersama? Ada sebuah coffee shop di dekat sini,” tawar Hwanbi.

“Baiklah, kajja,” Woobin menyetujui tawaran Hwanbi.

Hwanbi merasa sepertinya ada yang salah dengan Woobin pagi ini, karena menurut informasi yang dia dapatkan, Woobin adalah tipe orang yang sulit untuk diajak pergi bersama, tetapi sekarang dia baru membujuk satu kali dan lelaki itu sudah menyetujuinya. Menyenangkan sekali, itu artinya dia bisa memenangkan taruhan dengan Jongsuk.

“Si Donald harus siap berlari topless di pinggir sungai Han,” gumam Hwanbi dalam hati.

“Jo Byeon, ankka?” Woobin menoleh memanggil Hwanbi. Hwanbi setengah berlari menghampiri Woobin. Mereka berdua lalu berjalan menuju coffee shop yang berada tidak jauh dari stadion Sangnam.

“Sebenarnya aku jarang sarapan dengan menu seperti ini,” ucap Woobin sambil menyesap espresso-nya.

“Benarkah?” kedua mata Hwanbi yang ekspresif membesar. “Lalu biasanya kau sarapan apa? Nasi?”

Aniyo,” jawab Woobin singkat.

Hwanbi memutar kedua bola matanya. “Lagi-lagi jawaban pendek, apa kau tidak bisa menjawab sedikit lebih panjang lagi, Kim Hyeongsa?”

Woobin tersenyum. Pengacara muda ini kembali memprotes sifatnya yang irit bicara. “Aku biasa sarapan telur dan susu murni,” ucap Woobin. “Tapi itu pun jarang terjadi, kalau aku sedang melakukan pengintaian, sulit mencari waktu untuk sarapan. Apakah jawabanku sudah cukup panjang, Jo Byeon?” tambah Woobin yang membuat Hwanbi terkekeh, tetapi dia membuat catatan dalam ingatannya. Lain kali dia bisa mengirimkan telur dan susu murni ke kantor Woobin untuk sarapan.

“Kalau begitu, hari ini kita buat pengecualian, jal mokgoseumnida,” Hwanbi menyendok waffle-nya. Woobin juga melakukan hal serupa.

“Kim Hyeongsa, sepertinya kita ditakdirkan selalu bertemu, ya?” ucap Hwanbi sambil menyesap earl grey tea-nya. Semenjak menangani kasus Yoojin, Hwanbi dan Woobin hampir setiap hari bertemu.

“Tapi pertemuan kedua kita di Hollys Coffee, kau tidak menyadari keberadaanku, kan?” kata Woobin yang disambut cengiran oleh Hwanbi. Ya, saat pertemuan keduanya, Hwanbi sedang sibuk menumpahkan kekesalannya pada Jongsuk.

Mianhae, saat itu aku benar-benar tidak tahu kalau Donald sedang bicara denganmu,” ucap Hwanbi.

“Oh ya, bolehkah aku bertanya sesuatu yang sedikit pribadi?” tanya Hwanbi hati-hati.

“Bertanya apa?” Woobin kembali menyesap espresso-nya.

“Kenapa kau menjadi seorang detektif?” Hwanbi tahu pertanyaan darinya tadi terdengar konyol, tetapi dia ingin mengenal Woobin lebih banyak lagi, sehingga dia nekat mengajukan pertanyaan konyol tadi.

Woobin tersenyum kecil. “Jo Byeon sendiri kenapa memilih menjadi seorang pengacara?”

Hwanbi mendengus. Sama seperti Jongsuk, dia tidak suka jika seseorang membalas pertanyaannya dengan pertanyaan lagi.

“Aku yang bertanya terlebih dulu, jadi seharusnya kau jawab pertanyaanku dulu,” protes Hwanbi.

Woobin terkekeh. “Baiklah baiklah,” Woobin melap mulutnya dengan tissue. “Sejak kecil aku senang menonton serial detektif, dan aku sangat mengidolakan Sherlock Holmes. Bagaimana denganmu?” balas Woobin.

“Tidak ada alasan yang khusus, dulu Appa menginginkan salah satu dari anaknya mengikuti jejaknya, tetapi baik aku dan Hwanmi tidak ada yang mau menjadi polisi, maka kami mencari alternatif dengan bekerja di bidang hukum. Dan kalau kau ingin bertanya kenapa aku tidak memilih menjadi seorang jaksa seperti si Donald, jawabannya adalah, aku lebih senang membela orang yang belum tentu melakukan kesalahan dibandingkan membuat orang yang belum tentu bersalah menjadi bersalah,” jawab Hwanbi panjang.

“Tetapi tidak selamanya orang yang kau bela itu benar, kan?”

Ne, majjayo,” Hwanbi menyetujui perkataan Woobin. “Tetapi, setiap orang yang dituduh bersalah, perlu mendapatkan pembelaan, kan? Perkara dia benar-benar bersalah atau tidak akan muncul setelah dilakukan penyidikan.”

Woobin hanya mengangguk-angguk kecil. Gadis yang sedang duduk di hadapannya ini benar-benar menarik. Walaupun dia cerewet, tetapi Woobin tidak pernah bosan mendengarkan celotehannya.

Aigo… AigoIge nuguya? Weobin-ah, senang bertemu denganmu di sini,” seorang wanita dalam balutan cocktail dress berwarna ungu menyentuh bahu Woobin. Kalau Hwanbi tidak salah ingat, wanita ini adalah wanita yang sama dengan wanita yang waktu itu bertemu dengannya di kantor Woobin kemarin.

“Kwon Heemi-ssi?” Woobin menatap wanita itu dengan satu alis yang terangkat. Sebenarnya Woobin tidak suka Heemi memanggilnya seperti tadi. Wanita ini seperti ingin terlihat akrab dengannya.

“Aku benar-benar tidak menyangka bertemu denganmu di sini, apa ini artinya kita jodoh?”

Ucapan wanita itu sukses membuat Hwanbi mencibir. “Jodoh? In your dream, Madam!” gerutu Hwanbi.

“Kebetulan kau di sini, kita sarapan bersama saja,” tanpa menunggu persetujuan dari Hwanbi dan Woobin, wanita bernama Heemi tadi sudah menghempaskan bokongnya di bangku yang ada di sebelah Woobin. Dia menyampirkan coat-nya di sandaran kursi.

Saat Heemi mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan, terdengar lagu Spice Up Your Life dari saku training Hwanbi. Cepat, dia merogoh saku trainingnya, mengeluarkan G-note dan melihat nama Hwanmi muncul di sana.

Eoh, Hwanmi-ya?”

Neo eoddiya? Apa kau lupa kalau pagi ini kita harusnya sarapan bersama? Appa dan Eomma sudah menunggumu,” beritahu Hwanmi dari seberang sana.

Seketika itu juga Hwanbi menepuk keningnya. Bagaimana dia bisa lupa kalau setiap weekend mereka ada acara sarapan bersama?

“Aku sebentar lagi kembali, tunggu aku,” Hwanbi buru-buru mengakhiri pembicaraannya dengan Hwanmi.

“Kim Hyeongsa, mianhae sepertinya aku harus pergi sekarang, keluargaku sudah menungguku di rumah, annyeong,” Hwanbi bangkit dari duduknya dan setelah membungkuk sekilas pada Heemi, Hwanbi berjalan keluar.

Namun, baru beberapa langkah, Hwanbi bisa merasakan Woobin menahan pergelangan tangannya. Hwanbi menoleh dan menatap Woobin dengan kening berkerut.

Kachi ka, biar aku mengantarmu,” ucap Woobin. “Permisi, Heemi-ssi.”

Hya Kim Weobin! Eoddiga?” seru Heemi yang tidak dihiraukan oleh Woobin.

“Kim Hyeongsa tidak perlu mengantarku, karena aku membawa si bantat,” kata Hwanbi pada Woobin yang berjalan di sampingnya.

Aro,” jawab Woobin singkat.

“Lalu kenapa kau mengikutiku?” Hwanbi menatap Woobin dengan kening berkerut. Namun, tak lama kemudian dia menyadari, kalau Woobin ingin menghindar dari wanita bernama Kwon Heemi tadi. “Ah, kau ingin menghindari wanita tadi, ya?” tebak Hwanbi.

Woobin menyunggingkan sebuah senyuman. “ddokddokhae (pintar sekali),” ucap Woobin.

“Kenapa kau menghindarinya? Apa kau ada masalah dengannya? Memangnya ada hubungan apa di antara kalian berdua?” Hwanbi sudah tidak mampu lagi menahan rasa penasaran yang bercokol sejak lama. Sudah dua kali dia bertemu dengan Kwon Heemi, dan dua kali juga Woobin mengajaknya untuk pergi meninggalkan wanita itu.

Woobin menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Hwanbi. Woobin menatap Hwanbi dengan satu alis terangkat. “Kenapa begitu banyak pertanyaan yang kau lontarkan, Jo Byeon?”

Hwanbi meringis. “Aku hanya penasaran saja, sudah dua kali kau menggunakanku untuk menghindarinya,” Hwanbi beralasan.

“Aku hanya menanggani kasus pencurian di butiknya saja, dan setelah kasus itu selesai, tidak ada hubungan apa-apa lagi,” jawab Woobin.

“Tapi kenapa dia menggunakan banmal padamu?” tanya Hwanbi lagi.

Molla,” Woobin mengangkat bahunya dan kembali berjalan.

“Jongsuk atau Soohyuk?” tanya Woobin tiba-tiba.

Ye?” Hwanbi tidak mengerti dengan perkataan Woobin tadi.

“Ah, tidak mungkin Soohyuk, karena dia sepertinya menaruh rasa pada seseorang,” gumam Woobin. “Kalau begitu pasti Jongsuk, ya?”

“Aku tidak mengerti, Kim Hyeongsa. Maksudmu Jongsuk?” Hwanbi benar-benar tidak mengerti dengan arah pertanyaan Woobin.

“Maksudku adalah kalau Soohyuk bukan kekasihmu, pasti Jongsuk, kan?”

Pertanyaan dari Woobin tadi sukses membuat Hwanbi tertawa kencang. “Hipotesis macam apa itu, Kim Hyeongsa,” ucap Hwanbi disela-sela tawanya. Dia tidak menyangka kalau Woobin akan mengira dia adalah kekasih Jongsuk.

“Jongsuk dan Soohyuk sudah seperti saudaraku sendiri, kami bersahabat sejak masuk kuliah. Kalau aku menyukai mereka berdua, itu sama saja incest,” tambah Hwanbi sambil menghapus air mata dari sudut matanya.

Mendengar itu Woobin ikut tertawa. Tadinya dia mengira Hwanbi pasti kekasih dari salah satu sahabatnya itu, ternyata Hwanbi hanya menganggap kedua lelaki itu sebagai saudaranya saja.

ώ Long Legs ώ

Jamsil. Senin, 28 Oktober 2013, 10.10 am KST.

Hwanbi mengendarai si bantat menyusuri jalanan di kawasan Jamsil, setelah melewati jembatan, dia merasa gerakan mobilnya terasa berat. Curiga ada yang salah dengan ban si bantat, Hwanbi memutuskan untuk menepi dan memberhentikan si bantat di samping coffee shop, dia membuka kaca dan melongok ke depan.

Bloddy hell! Kempes?!” gerutu Hwanbi. Dia kemudian mematikan AC dan radio, mematikan mesin mobil, mencabut kuncinya lalu berjalan ke luar. Setelah Hwanbi memeriksa dengan seksama, positif, bannya kempes, sepertinya terkena paku di jalanan. Hwanbi memutari si bantat dan menemukan kalau ban kiri belakang juga sama kempesnya dengan ban kanan depan.

Geez! Kenapa harus kempes bersamaan seperti ini? Di mana, Superman atau superhero lainnya saat benar-benar dibutuhkan?” Hwanbi mulai meracau tidak jelas.

Hwanbi mengeluarkan G-note dari dalam saku blazer-nya dia harus menghubungi semua orang yang ada di dalam daftar 911-nya untuk meminta pertolongan. Tetapi, dia mencoret Hwanmi dari daftar pertolongan pertama pada keadaan darurat karena saat ini Hwanmi sedang pergi ke Incheon, tidak mungkin kembarannya itu bisa membantu. Dua sepupu kembarnya, Jung Daeryong dan Jung Soryong juga harus dieliminasi, karena sudah bisa dipastikan kedua sepupunya itu sedang sibuk latihan, mengingat kedua sepupunya adalah atlit.

Orang selanjutnya yang bisa dia hubungi adalah Yoseob, asistennya. Cepat, Hwanbi men-dial nomor Yoseob. Pada dering ketiga, terdengar jawaban Yoseob dari seberang sana. “Byeonsanim, eoddiya? Kau tidak lupa kan kalau hari ini ada persidangan?” cerocos Yoseob.

Hwanbi menepuk keningnya. Dia baru ingat kalau satu jam lagi dia harus menghadiri persidangan. Tapi dia tidak mungkin meninggalkan si bantat di sini.

“Yoseob-ssi, aku terkena musibah, dua ban si bantat kempes, bisakah kau menjemputku di Jamsil?”

Mworagoyo? Jamsil? Byeonsanim, aku tidak mungkin menjemputmu, perjalanan ke Jamsil saja bisa menempuh waktu empat puluh menit, kau pasti terlambat, apa kau bisa meminta pertolongan yang lainnya?”

Hwanbi mendengus kencang. “Arasseo, kalau begitu aku mencari bantuan yang lain dulu, kkeutno,” Hwanbi memutuskan pembicaraan dengan Yeoseob.

Hwanbi kemudian menghubungi Jongsuk, namun sayangnya si Donald itu tidak menjawab panggilannya. Hwanbi tidak menyerah, dia lalu menghubungi Soohyuk, tetapi hal serupa kembali terjadi. Sahabatnya yang berwajah seperti mayat hidup itu tidak menjawab panggilannya.

Ish! Kenapa di saat seperti ini tidak ada yang bisa aku andalakan!” gerutu Hwanbi. Dia kembali menatap G-note-nya, masih ada dua orang yang mungkin bisa membantunya. Appa dan Eomma. Tetapi, Hwanbi langsung mengurungkan niatnya untuk menghubungi Eomma-nya, karena ibunya pasti akan panik dan itu sama sekali tidak menolong. Sedangkan Appa, dia sedikit enggan merepotkan Appa-nya. Dia tahu benar, pasti Appa-nya akan menyuruh anak buahnya untuk membantu Hwanbi, dan itulah yang membuatnya sungkan.

Di tengah keputusasaanya, sebuah motor Kawasaki Ninja putih berhenti di hadapannya. “Jo Byeon, apa yang kau lakukan di sini?” tanya orang itu sambil membuka kaca penutup helm-nya.

Kedua mata Hwanbi melebar. Dia tidak mimpi, kan? Kim Woobin ada di depannya. Perasaan hangat bercampur lega langsung membanjiri hati Hwanbi. “Kim Woobin Hyeongsa!” pekik Hwanbi tanpa bisa menghilangkan nada senang dari suaranya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Woobin mengulang pertanyaannya.

“Dua ban si bantat kempes di saat yang bersamaan, dan satu jam lagi aku ada persidangan, aku bingung harus melakukan apa, kau bisa menolongku?” cerocos Hwanbi.

Woobin mematikan mesin motor, melepaskan helm, dan turun. Dia memeriksa keadaan si bantat dengan seksama. “Lebih baik kau kembali ke Mapo bersamaku saja,” ucap Woobin.

“Lalu si bantat? Aku tidak mungkin meninggalkannya di sini,” ujar Hwanbi.

“Aku akan meminta salah satu temanku mengurusnya,” Woobin lalu mengeluarkan S4 dari dalam saku jaketnya dan terlihat sibuk bicara dengan seseorang.

Tidak sampai sepuluh menit, datang dua orang lelaki berseragam polisi menghampiri Woobin dan Hwanbi.

“Aku serahkan mobil ini pada kalian, tolong perbaiki bannya,” kata Woobin pada dua polisi berseragam itu.

Ne, algeseumnida, Hyeongsanim,” jawab dua polisi itu bersamaan.

Kajja, Jo Byeon,” Woobin memasang kembali helm-nya dan naik ke atas motor. Dia lalu menyerahkan sebuah helm pada Hwanbi.

Hwanbi mengambil helm dari Woobin sambil menatap Kawasaki Ninja putih itu dengan tatapan ragu. Saat ini dia mengenakan kemeja putih pas badan berlapis blazer hitam yang dipadukan dengan rok rimpel lebar berwarna peach.

“Kita akan lebih cepat sampai di Mapo kalau menggunakan motor,” ucap Woobin. “Ah, iya, kenakan ini, karena nanti pasti akan banyak angin,” Woobin membuka jaket kulitnya dan menyerahkannya pada Hwanbi.

Dengan ragu Hwanbi menerima jaket Woobin dan mengenakannya. Wangi rempah bercampur musk langsung menyapa indera penciuman Hwanbi. Demi Tuhan, dia menyukai aroma ini.

Kajja, kita harus cepat,” Woobin lalu mengulurkan tangannya pada Hwanbi.

Wait, aku ambil tasku dulu,” Hwanbi lalu mengambil tas, dan berkas-berkasnya dari dalam si bantat. Setelah itu dia langsung duduk di belakang Woobin. Begitu Hwanbi sudah duduk di belakangnya, Woobin lalu menyalakan mesin motor dan melajukannya dengan cepat. Reflek, Hwanbi langsung memeluk erat pinggang Woobin. Karena dia memeluk tubuh Woobin dari belakang, Hwanbi bisa merasakan kalau lelaki yang ada di depannya ini memiliki perut six packs di balik kemeja yang dikenakannya. Dan Hwanbi tahu pasti ini karena hasil fitness yang sering Woobin lakukan.

Gamsahamnida, Kim Hyeongsa,” ucap Hwanbi saat turun dari motor yang tadi dikendarai oleh Woobin. “Berkatmu aku tidak terlambat sampai di persidangan,” Hwanbi menyerahkan helm-nya dan bermaksud untuk langsung masuk ke gedung pengadilan, tetapi Woobin menahan tangannya. Hwanbi menoleh melewati bahunya dan menatap Woobin dengan kening berkerut.

Good luck for the trial,” kata Woobin sambil merapikan poni Hwanbi yang sedikit berantakan. Lalu, lelaki itu menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan Hwanbi yang masih tercengang dengan perlakuan manis Woobin tadi.

ώ Long Legs ώ

Kantor pengadilan Mapo, 02.12 pm KST.

Hwanbi baru saja ke luar dari ruang persidangan saat dirasakannya ­G-note yang ada di dalam saku blazer-nya bergetar. Hwanbi merogoh ponselnya dan melihat ada sebuah pesan baru untuknya.

From : Kim Woobin

Mianhae, aku tidak bermaksud menganggumu yang sedang dalam persidangan, aku hanya ingin memberitahukan kalau mobilmu sudah selesai diganti ban-nya, dan saat ini mobilmu berada di kantorku.

Tanpa sadar kedua sudut bibir Hwanbi tertarik ke belakang membuat garis simetris. Dia senang karena Woobin menghubunginya. Cepat, Hwanbi mendial nomor ponsel Woobin.

Saat nada sambung kedua, terdengar suara berat Woobin menyapa di seberang sana. “Yeoboseyo, Jo Byeon. Apa persidangannya sudah selesai?”

Ne, aku baru saja ke luar dari ruang sidang,” jawab Hwanbi tanpa bisa berhenti tersenyum. “Dan aku akan ke kantormu sekarang untuk menjemput si bantat,” tambahnya.

“Kau tidak perlu ke kantorku, Jo Byeon,” ucap Woobin di seberang sana.

Wae? Apa kau sedang tidak ada di kantor?”

“Bukan seperti itu, tetapi kantorku terlalu jauh,” jawab Woobin. “Bagaimana kalau kita bertemu di Hollys Coffee yang ada di seberang kantor Jongsuk? Bukannya jarak kantor pengadilan lebih dekat dengan Hollys Coffee?” tawar Woobin.

Senyum Hwanbi semakin lebar. Dia tidak menyangka kalau Woobin akan mengajaknya bertemu lebih dulu. “Baiklah, kita bertemu di sana,” putus Hwanbi.

“Bagus sekali, karena sekarang aku sudah ada di Hollys Coffee,” ujar Woobin yang disambut kekehan oleh Hwanbi.

“Kau sudah mengaturnya, Kim Hyeongsa?”

“Ya begitulah,” jawab Woobin santai. “See you, Jo Byeon,” Woobin mengakhiri pembicaraannya dengan Hwanbi.

Tanpa bisa menghentikan senyumannya, Hwanbi bergegas menuju Hollys Coffee.

ώ Long Legs ώ

Hollys Coffee, Mapo-gu, 02.15 pm KST.

Woobin meletakkan S4-nya di atas meja masih dengan senyuman lebar. Entah kenapa setiap kali berbicara dengan Hwanbi, dia tidak pernah bisa berhenti tersenyum. Dan semenjak pertemuan mereka di Hollys Coffee saat gadis itu mengomeli Jongsuk, Tuhan sepertinya menakdirkan mereka selalu bertemu setiap harinya. Woobin terkadang merasa heran, karena belakangan ini dia juga sering memikirkan pengacara cerewet itu, walau dia sendiri bingung, kenapa dia bisa memikirkannya. Dia tidak mungkin jatuh hati pada gadis cerewet itu, kan? Tetapi, Woobin tidak bisa memungkiri, kalau dia tertarik dengan Hwanbi. Walaupun cerewet, Hwanbi adalah gadis yang memiliki wajah cantik dan juga pintar.

Saat sedang memikirkan Hwanbi, ada seseorang yang meletakkan satu cup berisi iced americano di hadapan Woobin.

Woobin mengalihkan pandangannya dan melihat seorang pelayan Hollys Coffee yang sering mengenakan pakaian satu ukuran lebih kecil dari ukurannya sudah berdiri di sana. Kim Soohee.

“Woobin Oppa, tumben kau datang sendiri, ke mana Jongsuk Oppa dan Soohyuk Oppa?” tanya Soohee sambil menghempaskan bokongnya di kursi yang ada di samping Woobin.

Woobin mendengus pelan. Wanita ini tampak lebih tua darinya, tetapi entah kenapa, dia selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’. Dasar wanita tidak tahu diri.

“Aku sedang menunggu seseorang,” jawab Woobin datar.

Nugu? Jongsuk Oppa? Soohyuk Oppa?” Soohee mengerjap-ngerjapkan matanya yang membuat Woobin muak.

Tanpa pikir panjang Woobin menjawab, “Kekasihku.”

Soohee langsung melotot dan menatap Woobin tidak percaya. Seingatnya Woobin tidak memiliki kekasih, tetapi kenapa lelaki ini mengatakan dia sedang menunggu kekasihnya? Siapa wanita itu? Apa kekasihnya itu wanita fashionista yang pernah datang bersama Woobin beberapa waktu lalu? Atau… Saat sedang sibuk menduga, Soohee melihat Woobin melambaikan tangannya dan juga tersenyum ke arah belakang Soohee. Cepat, dia menoleh, dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang berjalan ke arah mereka.

“Bukannya dia pengacara yang juga teman Jongsuk Oppa dan Soohyuk Oppa?” gumam Soohee dalam hati.

Mianhae aku membuatmu menunggu,” ucap Hwanbi dengan nafas terengah-engah. Lalu, dengan santainya Hwanbi mengambil cup berisi iced americano yang ada di hadapan Woobin dan menyesap isinya.

“Ew~ pahit,” gumam Hwanbi. Woobin terkekeh melihat Hwanbi yang tidak menyukai minumannya.

“Buatkan citrus blossom ice tea untuknya, Soohee-ssi,” Woobin menyebutkan salah satu minuman kesukaan Hwanbi pada Soohee. Kemudian dengan santainya, Woobin mengacak lembut poni Hwanbi. Yang sukses membangunkan ular tidur dalam perut Hwanbi.

“Kenapa dia melakukan ini padaku, huh?” gerutu Hwanbi dalam hati. Dia berusaha keras menjaga agar wajahnya tidak bersemu.

Soohee yang malas melihat adegan mesra yang tersaji di depannya, memutuskan segera bangkit dari duduknya dan membuatkan pesanan untuk Hwanbi.

“Kunci mobilmu,” Woobin menyerahkan kunci si bantat pada Hwanbi begitu Soohee pergi meninggalkan mejanya.

Gomawo, Kim Hyeongsa. Hari ini aku benar-benar sudah banyak merepotkanmu,” ucap Hwanbi sambil mengambil kunci si bantat dari Woobin.

“Kau tidak merepotkanku, kebetulan saja aku bisa membantumu,” balas Woobin. “Bagaimana persidangannya?”

“Semuanya berjalan lancar, client-ku dinyatakan tidak bersalah, karena saat kejadian pemukulan, dia berada di luar sedang menerima telepon, aku juga tadi sudah memberikan bukti percakapan yang dilakukan oleh client-ku saat peristiwa pemukulan itu terjadi,” jawab Hwanbi panjang, sedangkan Woobin hanya mendengarkannya sambil menyesap minumannya.

Tak lama Soohee kembali ke meja Woobin dan Hwanbi dengan membawa satu cup berisi citrus blossom ice tea. “Pesananmu, Oppa,” Soohee meletakkan cup itu di hadapan Woobin.

Gamsahamnida, Soohee-ssi,” balas Woobin tanpa menoleh sama sekali ke arah Soohee yang membuat wanita itu mendengus lalu pergi meninggalkan meja Woobin dan Hwanbi.

“Dia masih saja memanggilmu dengan sebutan Oppa? Memangnya berapa umur kasir genit itu?” tanya Hwanbi penasaran. Semenjak mereka berkumpul berenam beberapa hari yang lalu, dia mendengar kalau kasir genit itu memanggil Woobin, Jongsuk, dan Soohyuk dengan sebutan Oppa, dan itu sedikit menganggu pendengaran Hwanbi.

Molla, aku tidak pernah mau berlama-lama bicara dengannya, hanya Soohyuk yang ramah padanya,” jawab Woobin.

Mendengar itu Hwanbi langsung tertawa kencang. “Heol! Wanita itu tidak sadar kalau dia lebih tua dari kita, seharusnya aku yang memanggilnya dengan sebutan Ahjumma,” kata Hwanbi disela-sela tawanya. Woobin juga ikut tertawa. Apa yang baru dikatakan oleh Hwanbi tadi memang benar. Kim Soohee si wanita aneh itu lebih pantas dipanggil Ahjumma.

Tanpa Woobin dan Hwanbi sadari, Soohee memperhatikan mereka dari meja kasir. Pemikiran, kalau gadis itu bukan kekasih Woobin langsung sirnah dari pikiran Soohee. Sepertinya gadis itu benar kekasih Woobin, karena biasanya Woobin tidak pernah tersenyum bahkan tertawa pada lawan jenisnya. Tetapi berbeda dengan gadis itu, tadi Soohee melihat sendiri, kalau Woobin tersenyum dan tertawa.

“Huh! Kenapa Woobin Oppa harus memiliki kekasih!” gerutu Soohee.

ώ To be Continued ώ

Advertisements

About thecuties

Ordinary girl... My 1st boyfriend is chocolate and my 2nd one is ice cream... I love reading, writing, and dreaming... Why I like dreaming? Because when you dreaming, you will get something that impossible to be possible... ;)

20 thoughts on “Law of Natures 6: LONG LEGS

  1. mian karna baru baca fan baru komen krna aku bru nemu ff ini krn dishare tmenku,,
    klo boleh tau tolong kasih tau passwordnya buat Law Of Natures 7 :
    Insomnia Guardian,,,
    part ke part bikin tambah penasaran terutama pada sibebek 🙂

  2. entah kenapa aku suka sama pasangan ini, dan setiap kali baca adegan mereka berdua rasanya tuh bibir gak berhenti senyum *lebeh 😀 .. Kau sepertinya berhasil menghilangkan wajah datarnya itu dengan senyuman Hwanbi-ssi .. Sukalah sama sifat Hwanbi yang blak-blakan, .. Semoga kalian benar2 jadi pasangan kekasih 🙂

  3. KKYYAAA >< , AKU SUKA SEMUANYA EDISI MEREKA ^^

    Telur dan Susu Murni Sudah tercatat di Otaknya Hwanbi 😀

    Heemi ? Benarkah hanya sbatas hbungan Kerja sajah wktu itu ? :/

    Udah g Kehitung Woobin MengeluaRkan Senyumannya Saat Hidupnya belakangan ini di Hadirkan Makhluk tuhan yg cantik di mata woobin 🙂 *hwanbi* 😀

    Joging bareng, makan bareng, Naik motor, Mengacak poni Hwanbi, Memegang tangan hwanbi, Oooh ya Ampun, Woobin Benar-benar Bangkit Sekarang. 😀 dan Ternyata dia juga udah Punya Rasa Sma Hwanbi Sejak lama ^^

    Aku Udah kaya orang gila baca dan Senyum-senyum Sendiri ^^

    GOOD JOB 😉

    FIGHTING ^^

    Kirim Link wat Part 7 nya Yah. ^^ GOMAWO :*

  4. akhirnya.. muncul juga ni couple…………..

    darui dulu aku tunggu2 part hwanbi-woobin….
    entah knp aku plng suku ni couple.. mungkin krn aku suka tipe2 cowo kaya woobin…… so sweet banget…….

    cara hwanbi mnta no hp,a woobin cerdik bange.. wkwkwk

  5. yeiii akhirnya bisa ampe nulis coment 🙂
    aq jadi senyum Gaje nich baca ini kaya blosom yg terterpa angin ceilaah
    … seruu lucu juga liat kelakuan Hwanbi
    🙂
    dan kayaknya gak sebelah tangan tuh yg bertepuk tapi dua”nya
    hehe
    tapi … pengen cepet baca lanjutannya …..
    🙂 Hwanbi_woobin nice couple 😉

  6. Hallo, author.
    “Entah kenapa setiap kali berbicara dengan Hwanbi, dia tidak pernah bisa berhenti tersenyum.” Saya juga baca part ini gak pernah berhenti tersenyum karena perbedaan karakter mereka. Hha
    Kim Sohee kayaknya lebih cocok dipanggil ‘Sohee Halmoeni”
    Hwanbi pantang menyerah mendekati Woobin, cocok banget dengan pekerjaan dia sebagai seorang pengacara. Hha
    Semoga part selanjutnya ada adegan mereka terlibat dalam suatu kondisi yang makin mempererat hubungan mereka. Karena kasus Yoojin sekarang tidak membutuhkan banyak tenaga dan pikiran lagi bagi kedua belah pihak kkkkkkkk

  7. hwanbi lg pdkt ama wobin,,,ciahhhhh,,,smpe terkilir,tp enakkan di gendong ama woobin,,kim woobin tdk terlalu bnyak bisa pas tuh di pasangin ama si hwanbi yg crewt
    mudah2an hwanbi jadian ama woobin

  8. woaaahhhh,,,,kern,,,woobin namja idaman,,,,akh,,,Hwanbi emang cerdik,,,,!!!!dptin no hp dg cra pura2 hp ilang!!!!!

  9. Ternyata bukan hanya Soohyuk dan Jongsuk yang dipanggil oppa oleh kasir dengan baju dengan kancing baju hampir lepas. ㅎㅎㅎㅎ

    Di sini ada dua ahjumma tak tahu diri genit yang minta ditendang.

    Kalau namja type Woobin yang irit omong, yeojanya memang harus tancap gas. Ayo Appa pukul saja Kim Hyeongsa dengan pedang kayu ㅋㅋㅋㅋ

  10. Yee,,
    akhirnya couple favorit aku muncul ^_^

    tapi ngomong2 gak ada cara yg lain buat minta no hp???
    itu cukup memalukan.

  11. Hahahaha seperti’y percikan2 api asmara mulai membara d’hati Woobin #plaaaak dan taruhan i2 aaaish cpa yg bakalan menang’y Jonghyuk atw Hwanbi ea #penasaran

    Ahjumma genit jadi k’inget Inmin 😀

  12. Annyeong
    😀
    Ini full soal approaching Hwanbi sama Woobin.
    Si ceweret vs Si pendiam. hehe ngikik geje, lucu 😀
    Aseek nih indikasi ada adegan sidang lagi.
    Duet Lee Seunggi feat Jo Hwanbi.
    This is lovely, Sista 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s