Request

REQUEST

A selfish greed and a clinging obsession

request -- an Infinite fanfiction

By :

Chelsea

|Songfict Romance | PG15 | One Shoot : 2150words |

Starring :

Lee Sungyeol [INFINITE]

Han Boreum

Kim Myungsoo Nam Woohyun

 

 Ide FF ini terlintas waktu ngerjain deadline kerjaan ditemani full playlist Infinite. Inget lirik lagu ‘Request’, terpikirlah bikin FF trus saya muter MVnya buat nyari sosok yang pas jadi tokoh. Kalo di MV, tokoh utamanya Hoya dan Dongwoo yang paling keren, saya malah merasa Sungyeol eyecatching waktu scene ngedance di rooftop. Mungkin faktor tubuhnya yang tinggi dan posisi dance deket kamera. Well, actually I don’t like giving any introduction on my fiction, but I need to claime that the idea is based on the song lyric. Copyright belongs to Woolim Ent and Samsung.

Request  

 Geuga gobaeghae watdago chughahae dallago cheom boneun haengboghan miso

Himdeulge mannat damyeonseo yeong wonhal georago han kkeot deultteo eulpgo isseo

 

“Lee Sungyeol!”

Lelaki yang sedang sibuk mengaransemen ulang sebuah lagu di dalam studio musik itu dikejutkan saat headphone-nya dicopot oleh seseorang yang langsung memanggil namanya.

Sungyeol melihat seorang perempuan berambut panjang wajah natural flawless look. Sepasang bibirnya menarik senyuman ceria membuat kedua tulang pipinya tampak menonjol. Dia terkekeh kecil dan duduk di samping Sungyeol.

“Kau mengganggu saja,” keluh Sungyeol sambil mau memasang kembali headphone-nya.

Gadis itu malah menutup laptop, membuat Sungyeol menoleh dan menatapnya sebal.

Hya!” umpat Sungyeol.

Gadis itu malah terkekeh. “Dengarkan aku sebentar saja, eoh? Aku sedang berbahagia.”

Sungyeol pun menaruh headphone di samping laptop dan memutar kursinya sehingga mereka berhadapan.

“Kau mendapat lotere? Atau mendapat tiket ke Alaska?” sindir lelaki berambut cokelat terang dengan potongan poni miring itu.

Gadis itu, Han Boreum, mengeluarkan smartphone dari dalam LV model cube-nya. “Chang!” ucapnya sambil memperlihatkan layar ponsel itu.

INFINITE-L_1380161613_af_org

Sungyeol mengerutkan kening melihat foto selca Boreum dengan seorang lelaki yang sangat dia kenal, sahabatnya sendiri, Kim Myungsoo. “Ige…”

Gadis yang memakai loose shirt putih motif bunga kecil warna hitam itu menggoyangkan ponselnya. “Ini salah satu fotoku bersama pacar baruku. Ucapkan selamat!”

Lelaki yang memakai sweater abu muda dengan aksen garis hitam itu tersenyum aneh. “Mworago? Pacarmu? Kim Myungsoo?” tanyanya agak gagu.

Boreum menyandarkan punggungnya pada kursi berputar itu dan menempelkan kedua tangannya yang dia kepalkan di depan dada. Dia menengadah menatap langit-langit dan matanya terpejam.

“Ah, andai saja adegan pernyataan cinta Myungsoo semalam direkam!”

Sungyeol menatap gadis yang tampak semakin manis dengan ekspresi itu. Tapi hati lelaki itu mulai berdesir tidak nyaman. Boreum duduk tegak dan menatap sahabatnya itu dengan pandangan tidak suka.

“Kenapa bengong, eoh? Tidak mau mengucapkan selamat?”

Sungyeol memaksakan sebuah senyuman, “Myungsoo menyatakan cinta? Dia menyukaimu?”

Boreum tersenyum manja. “Mianhae, selama sebulan ini aku tak pernah bercerita kalau kami berkencan. Aku takut kalau sahabatmu itu tidak serius.”

Sungyeol hanya bisa tertawa di balik perasaannya yang tidak jelas itu. “Sebulan katamu? Aigoo, kalian berdua berkencan tanpa sepengetahuanku?”

“Tanpa sepengetahuan yang lain juga,” jawab Boreum.

 Ponselnya berdering. Dia menunjukan monitor ponselnya pada Sungyeol, menunjukkan nama pemanggil sambil tersenyum senang.

Jamsiman.”

Tanpa sepengetahuan Boreum, Sungyeol menatapnya nanar, merasakan ulu hatinya seperti diiris sedikit demi sedikit sampai permukaan jantungnya mulai tergores. Paru-parunya tercekat, membuat oksigen sulit menembus raganya. Dada Sungyeol terasa sesak dan sakit. Tapi sepasang bibir merahnya yang seksi itu masih bisa tersenyum tipis melihat ekspresi bahagia di wajah Boreum. Sungyeol pun terpaksa mendengar semua kata yang terlontar dari bibir gadis itu. Membuat dia yakin kalau gadis itu benar-benar berpacaran dengan sahabatnya.

‘Meskipun kau pacar lelaki lain, aku masih menyukaimu. Bahkan kalau aku tak bisa memilikimu, itu bukan masalah.’

Di balik mata jenakanya, Sungyeol mengunci sosok Boreum melalui energi lembut dari tatapannya. ‘Aku selalu melihatmu dengan perasaan berdebar tapi sekarang kau terlarang. Sayangnya, aku menginginkanmu.’

Request  

 

“Ini apa?” tanya Han Boreum begitu Sungyeol meletakan sebuah kotak yang dibungkus kain kotak.

“Buka saja,” ucap lelaki itu santai lalu melemparkan pandangan ke belakang, pada sekelompok anak yang sedang bermain bola di lapang dekat sungai Han itu.

Angin sunset menusuk kulit wajah mereka, membuat rambut mereka bergerak. Boreum bembuka bungkusan kain dan mendapati sebuah meal box. Dia membuka kotak itu dengan sekat-sekat yang membetuk ruang-ruang kecil..

Boreum terbelalak melihat kimbap, fruit sallad, dan pie. “Ini untukku?”

Sungyeol menoleh sambil meringis. Dia mengacak poni Boreum. “Ne, kudengar kau melewatkan makan siang karena mengerjakan deadline akhir bulan.”

Boreum terkekeh, “Rasanya tidak mungkin kalau kau membuatnya sendiri,” candanya.

“Kau meremehkanku, eoh?” ungkap lelaki yang mengenakan sweater abu tua dilapis rompi hitam dengan aksen resleting di bagian dada itu.

Kamsahamnida,” ucap Boreum lalu mencapit seiris kimbap dengan sumpit.

Sungyeol menoleh melalui ekor matanya. Dilihatnya Boreum tampak makan dengan lahap.

Boreum menoleh dan berbicara dengan mulut penuh, “Kau tahu? Dua hari ini aku kurang tidur dan makan seadanya. Dahaengnida, akhirnya tadi semua pekerjaanku bisa selesai.”

Sungyeol berdecak lalu menatap sungai. “Jangan memperlakukan tubuhmu seperti robot. Bahkan robot perlu recharge.”

Geurae, otakku rasanya sesak. Besok libur. Aku mau jalan-jalan ke Suwon, sekedar memotret pemandangan tempat-tempat bersejarah,” ceroscos Boreum lalu menyuapkan pie.

Sungyeol menyeringai dan kembali melarutkan tatapannya ke dalam air sungai. Dia ingin membiarkan Boreum menikmati makanannya.

“Kau mau ikut?” tanya Boreum beberapa saat.

Sungyeol menoleh. “Ke mana?”

Boreum mendengus. “Tadi kau tidak dengar, eoh?”

“Ke Suwon?” tanya Sungyeol disambut anggukan Boreum. Sungyeol mendesah panjang. “Shireo. Memangnya aku ini pemain cadangan.”

“Maksudmu?”

“Karena Myungsoo masih belum pulang, kau mau aku menemanimu untuk menggantinya kan?”

Mwo? Kau marah Lee Sungyeol?” tanya Boreum lalu melepaskan tawa.

Sungyeol malah menarik bibir, menaikan kedua alis, dan memainkan bola mata membentuk wajah burung hantu. Boreum semakin tergelak dan memukul lengan si jangkung itu.

owl face

Ya ya ya! Kau lebih jelek dari burung hantu,” ledek Boreum puas.

Sungyeol membuka tutup tumbler berisi orange tea dan memberikannya pada Boreum. Yeoja itu berhenti tertawa saat menyesap teh.

Keundae, apa Myungsoo menyuruhmu menjagaku selama dia pergi?”

Mwo?” tanya Sungyeol sambil melirik tajam.

“Karena itu kau mengirim makanan ini?” tambah Boreum.

Hya! Apa aku tampak seperti bertindak di bawah perintah seseorang?” ungkap Sungyeol sinis.

Boreum malah terkekeh. “Memangnya kau tulus?”

“Yang pasti, aku tidak melakukan apapun karena orang lain.”

“Oh, jadi kau melakukannya kerena peduli padaku?”

Sungyeol melirik arloji. “Aku ada janji menjemput tante. Na khanda.”

Boreum cemberut melihat Sungyeol berdiri dan mengabaikannya. “Hya! Kau mau meninggalkanku sendiri setelah mengajakku bertemu di sini?”

Sungyeol meringis. “Jadi?”

“Setidaknya biarkan aku pulang bersamamu. Bukankah kantor tantemu searah dengan apartemenku?”

Choa,” ucap Sungyeol sambil membalikan tubuh dan berjalan.

Boreum mendengus kesal. Dia segera menutup meal box dan membawanya sambil berjalan menyusul lelaki jangkung yang punya bahu rata dan lebar itu. Pernah terpikir oleh Boreum, sepertinya nyaman sekali bersandar di salah satu bahunya.

Begitu duduk di dalam mobil Sungyeol, gadis yang memakai skinny jeans, blus motif bunga, dan trench coat warna kuning gelap itu tak berhenti mengomel. Itu karena selama perjalanan dari Hangang park menuju tempat parkir, Sungyeol berjalan cepat. Tapi lelaki itu tetap mengabaikannya sampai mobil yang dikendarainya berhenti di depan sebuah gedung apartemen.

“Lee Sungyeol, kenapa akhir-akhir ini aku merasa kau lebih perhatian padaku sekaligus lebih acuh?”

Sungyeol tertawa renyah, “Bagaimana bisa aku melakukan dua hal yang berlawanan di saat yang sama? Jangan terlalu banyak berpikir, cepat turun saja.”

Boreum membuka sabuk pengaman tapi malah terdiam menatap Sungyeol.

Wae?” tanya Sungyeol. “Masih merindukanku?”

Aissh!” cibir Boreum.

 

 Baru saja Han Boreum memasuki rumahnya, ponselnya berdering. Gadis itu menaruh tas dan membuka sebuah pesan.

[Owl Sungyeol] :

Katakan kenapa aku harus ikut ke Suwon besok!

Kalau alasanmu bisa kuterima, aku ikut.

 

Boreum berjalan menuju pantry dan menuangkan air mineral ke dalam gelas lalu berpikir sebelum mengetik pesan balasan. Dia duduk di kursi meja makan.

“Karena aku ingin,” ucap gadis itu membacakan tulisannya di papan pesan.

Beberapa saat kemudian, pesan balasan diterima Boreum.

 

[Owl Sungyeol] :

Sayang sekali aku tak suka berkencan dengan yeoja yang sudah punyapacar :-p

 

Boreum malas membalas lagi. Dia sudah tahu kalau mau mendebat Sungyeol, pasti dirinya kalah.

  Request  

 

Pagi-pagi sekali Han Boreum sudah bersiap dengan balutan vintage dress lengan panjang warna beige.  Lalu dia meraih trench coat putih lalu berjalan menuju pantry sambil memakaikannya. Boreum menikmati sarapannya tapi bunyi bel terdengar menggema di rumah sepi itu. Boreum segera beranjak dan mengintip melalui monitor. Dia tersenyum riang begitu melihat Lee Sungyeol. Cepat, dia membuka pintu dan mendapat sambutan senyum manis Sungyeol.

Good morning!” sapa Sungyeol ramah dengan senyum cerianya.

“Aku tahu kau pasti datang dan akan ikut,” ucap gadis itu percaya diri. “Masuklah.”

“Kau sedikit salah faham,” tukas Sungyeol sambil melihat ke sekliling living room. “Kau sedang sarapan?” tanyanya sambil menghadapkan tubuh kepada Boreum.

How did you know?” tanya Boreum pada lelaki berkaki panjang yang mengenakan coat warna navy yang menutup sweater putih motif garis birunya itu.

Sungyeol tidak menjawab. Dia malah mengangkat tangan dan dengan telunjuknya, mengusap mayonaise di bawah bibir Boreum.

“Ini,” ucap lelaki itu sambil mengangkat telunjuknya.

“Kalau Myungsoo melihatmu seperti ini, dia akan cemburu,” ucap Boreum sambil berjalan ke pantry.

“Aku tidak peduli,” celetuk si chodding Sungyeol seenaknya sambil dikut berjalan. “Memangnya dia akan peduli padaku kalau kami tukar posisi?” lanjutnya begitu duduk berhadapan dengan Boreum.

Aissh!” Boreum mengeluh dalam hati kenapa lelaki cerdas itu selalu membalikan kata-katanya. “Jadi, untuk apa kau kemari?”

“Karena aku ingin,” jawab Sungyeol cuek.

Boreum melotot, “Kenapa kau selalu membalikan semua kata-kataku, eoh?” protesnya lalu meraih cangkir kosong untuk diisi teh hangat yang dia berikan pada Sungyeol.

“Aku mau menjawab pertanyaanmu kemarin,” ungkap Sungyeol lalu menyesap teh hangat itu.

“Yang mana?” tanya Boreum lalu menyuapkan sandwich-nya yang belum habis.

Sungyeol menopang dagu dan menatap langit-langit. “Lee Sungyeol, kenapa akhir-akhir ini aku merasa kau lebih perhatian padaku sekaligus lebih acuh?” ucapnya dengan ekspresi yang dibuat-buat meniru ucapan Boreum kemarin.

Boreum membuang napas panjang sebelum menanggapinya. “Apa itu ada jawabannya, Chodding?”

“Kalau aku katakan karena aku menyukaimu bagaimana?” ungkap Sungyeol acuh sambil mengetukan telunjuk dan jari tengahnya di meja, membentuk nada musik seperti tabuhan drum.

Mwo?” ungkap Boreum sambil melongo.

Sungyeol mencondongkan badannya ke depan. “Joahae,” jawabnya cuek lalu menegakan kembali tubuhnya.

Boreum meledakan tawa yang membuat wajahnya cerah berseri. “Bbung!”[1] umpat gadis itu.

Sungyeol tersenyum lebar, lebih tepatnya nyengir. “Itu jawabanku. Na khanda!” ucapnya enteng sambil berdiri.

Ya! Apa maksudmu, huh? Jangan bercanda seperti ini,” protes Boreum sambil berdiri.

Sungyeol terkekeh. “Aku tak akan mengulangi. Itulah kenyataannya. Jadi, kau harus menjaga perasaanku saat kau dan Myungsoo bertemu denganku.”

 “Heol!” rutuk Boreum.

Sungyeol tersenyum jail lalu menunjukan Boreum pose owl face-nya.

Hya!” hardik Boreum tapi Sungyeol malah ceikikan dan dia melangkah menjauh.

Gadis itu mau mengabaikan Sungyeol dengan memilih duduk.

Request  

 

IMG_2151-682x454

Daebak!” ungkap Myungsoo dan Boreum bersamaan mengomentari foto-foto jepretan masing-masing.

Sepasang kekasih itu sedang menikmati galbi malam ini di sebuah restoran yang terletak di lantai 10 gedung Seoul Express Bus Terminal. Myungsoo menggerak-gerakan telunjuknya di atas layar tablet milik Boreum, melihat foto-foto hasil bidikan Boreum di Suwon dua hari lalu. Sementara Boreum meihat-lihat foto-foto hasil bidikan Myungsoo melalui layar digicam seri Canon EOS yang selalu di bawa ke manapun oleh lelaki itu. Myungsoo mengambil banyak pemandangan indah di London saat dia mengikuti pameran fotografi di sana.

Melihat dua orang lelaki yang dikenalnya memasuki area restoran rooftop itu, Myungsoo melambaikan tangan.

Nugu?” tanya Boreum sambil menoleh.

Gadis itu melihat dua lelaki berpakaian kasual, Woohyun dan Sungyeol, berjalan mendekat. Myungsoo berpindah, duduk di samping Boreum.

Mianhae, jalanan macet,” ucap Woohyun sambil duduk di kursi tempat Myungsoo duduk sebelumnya.

Boreum sedang menyesap teh. Sungyeol menyeringai melihatnya. Dia menepuk punggung yeoja itu.

“Tidak mengirimku oleh-oleh dari Suwon?” tanya Sungyeol iseng lalu duduk di samping Woohyun.

Boreum tersedak seketika. Dia terbatuk-batuk dan menggulung tisseu lalu melemparnya ke wajah Sungyeol.

Chukkulae?” bentak Boreum lalu melirik Myungsoo. “Kenapa mengundang si burung hantu kemari?”

Myungsoo terkekeh. “Dia datang sendiri,” candanya iseng.

Tiga lelaki yang bersahabat sejak SMA itu tertawa bersama. Woohyun langsung mencapit irisan galbi dan menyuapkannya.

“Bagaimana Woohyun-ah?” tanya Myungsoo tidak sabar.

Komposer itu menuangkan soju ke dalam gelas kecilnya. “Traktir aku karena mereka akan memakai jasamu.”

Jeongmal?” tanya Myungsoo tidak percaya.

Woohyun merekomendasikan Myungsoo pada CEO di perusahaan rekaman tempat Sungyeol, Woohyun, dan Boreum bekerja. CEO mereka akan menikah dengan seorang aktris muda yang cukup terkenal.

“Besok siang mereka memintamu bertemu untuk mendiskusikan konsep prewedding,” jelas Woohyun.

Keempat orang itu sama-sama lulusan jurusan seni musik. Karena hobi fotografinya, Myungsoo bekerja di bidang yang berbeda.

Kureom, kalian boleh memesan menu tambahan,” ungkap Myungsoo senang. Lalu dia berdiri dan permisi untuk pergi ke toilet diikuti Woohyun.

Sungyeol mengasongkan gelas kosong pada Boreum.

Mwo? Isi saja sendiri,” tukas Boreum ketus.

Sungyeol pun berdecak lalu menuangkan soju sendiri. Dia menyesapnya cepat lalu mengunyah seiris galbi.

Boreum menatapnya. “Ucapanmu tempo hari, kau tidak serius kan?” tanya gadis itu hati-hati.

“Menurutmu?” tanya Sungyeol.

“Jawab saja!” bentak Boreum sambil menggetok punggung tangan Sungyeol dengan sumpit.

Sungyeol malah menyuapkan lagi galbi dan mengabaikan Boreum.

“Lee Sungyeol!” panggil Boreum agar lelaki itu menoleh. “Kau juga agak menghindariku di kantor.”

Geurae, semua yang aku katakan benar. Jadi aku harap kau ingat pesanku, ara?” ungkap Sungyeol santai.

Boreum terpaku menatap lelaki berbibir seksi itu. “Hya! Jangan seperti itu,” ucap gadis itu pelan.

Geokjeongmal, aku tak akan mengganggu hubunganmu dengan Myungsoo. Aku hanya ingin kau tahu saja agar kau bisa menjaga perasaanku.”

Neo…” ucap Boreum bingung.

“Kalau aku tak punya kesempatan,” ucap Sungyeol sambil tersenyum jail. “Gwaenchana, I’ll be love, I believe. Tetaplah menjadi temanku, ara?”

Mereka terdiam beberapa saat. Boreum mau bicara tapi Woohyun dan Myungsoo datang. Sungyeol malah tersenyum santai tanpa menunjukkan eskpresi patah hati sedikit pun. Bagi lelaki itu, bukan masalah harus menyukai perempuan yang sudah punya kekasih. Dia menganggapnya sama seperti seorang fan yang mencintai idolanya meski sudah punya kekasih atau menikah.

 

(But I have my heart that onlyknows you, the times we spent together.

I’m revealing this damn loveand I sadly, sadly, call out. A selfish greed,

I hate myselffor being like this. A clinging obsession, I really hate it.

I shout for this damn love.  Crazily, sadly, sadly, I want you)

INFINITE “REQUEST”

 

THE END

Request  

 


[1] ungkapan untuk mengutarakan suatu seperti sebuah kebohongan atau lelucon

Advertisements

10 thoughts on “Request

  1. Hadeuuuuh Sad kayak ginih , jadi terbawa arus kenapa bisa sama yach
    aahhhh pokonya bagus ajah nich story ” gue bangeeet 😥 ”
    (y)
    terjebak diantara dua hatii … galauuu eommaaaa

  2. Hadeuuuuh Sad kayak ginih , jadi terbawa arus kenapa bisa sama yach
    aahhhh pokonya bagus ajah nich story ” gue bangeeet 😥 ”
    (y)

  3. Onnieya, mianhae for late comment

    Haduh FFnya kok bisa persis kayak keadaan saya sekarang ya? Cuman bedanya posisi saya adalah Boreum, terjebak di antara dua sahabat hehehehehehehe

    Sungyeol cool, sama sekali ngga nampakin dia patah hati ^^

    1. Annyeong Unni
      well, ane fokusnya ke part dance, dan mata tertuju sama Sungyeol. Meski di part dance yang akhir, baju mereka sama. kekeke.
      Kalo pake Hoya, karakternya mungkin ga setengil itu 😀
      Kamsahamnida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s