It Was Snowing In My Heart.

IT WAS SNOWING IN MY HEART
PosterSnow

By Christie Sue @chaerinlee_lee fb : Christie Sue
| Genre : Romance, Sad, PG13|

Cast :

Kim Kibum (SJ) Kim Jimin (OC)

Cho Kyuhyun(SJ), Yoon Eunhye

Note : Dulu pernah dipublish dengan judul yang sama tapi dengan cast yang berbeda. Jadi jangan heran jika rasanya pernah membacanya di page atau wattpad.

Salju pertama di tahun ini, Oppa.

Aku menengadah menatap langit. Air mataku jatuh tanpa dapat kutahan.

Urimanieyo Oppa? Apakah kau melihat salju dari Surga?

Flashback.

Tiga tahun lalu.

“Jimin ah!”

Aku menoleh dan tersenyum pada pemilik suara itu. Kim Kibum Oppa, uri namdongsaeng.

Oppa!”

Aku berlari menghampirinya. Ia tersenyum dan membuka tangannya menyambutku dalam pelukannya. Aku mengurungkan niat untuk memeluknya. Semua orang akan mengira kami pasangan kekasih.

“Mengapa kau menjemputku, Oppa?”tanyaku sambil menepuk tangannya. Kurasa ia sedikit kecewa karena aku tidak memeluknya.

“Apa aku memerlukan alasan untuk menjemput uri yeodongsaeng?” tanyanya pura-pura kesal. Aku terbahak.

Kajja. Aku kedinginan. Kita cari kopi dulu,”ajaknya sambil menarik tanganku. Tangannya memang sedingin es meskipun salju belum turun. Setengah berlari, kuikuti langkahnya.

Tapi tiba-tiba ia berhenti melangkah dan mengangkat tanganku yang digandengnya.

“Kau tidak memakai sarung tangan. Tanganmu hampir beku,” tukasnya. Aku menyeringai.

Mianhae, Oppa. Aku lupa membawanya.”

Ia menjentik kepalaku.

Appo!”

Lalu ia membuka sarung tangannya dan memakaikannya ke tangan kananku.

Oppa!”

Yaa, jangan kira aku sebaik itu. Kau sebelah dan aku sebelah,” katanya. Lalu tangan kanannya yang tidak memakai sarung tangan mengandeng tangan kiriku yang juga tidak memakai sarung tangan.

“Begini lebih baik,” sambungnya sambil tersenyum padaku. Senyum yang selalu tampak istimewa bagiku.

Oppa.”

Lalu ia memasukkan tanganku dan tangannya ke saku mantel tebalnya. Ah, ini lebih hangat daripada memakai sarung tangan.

“Kalau kita begini Oppa, kau tidak akan punya yeoja chingu. Semua orang akan mengira kita pacaran,” kataku menggodanya.

“Siapa yang butuh pacar?” ejeknya.

“Oppa kan sudah cukup umur untuk punya yeoja chingu,”godaku lagi.

Ia mencibir. Bibirnya tampak sedikit menggigil karena menahan hawa dingin.

Oppa rasa kau yang terlalu kuatir kalau tidak ada namja yang mendekatimu,” katanya.

Oppa!”

Ia tersenyum. Senyum yang bisa melelehkan salju di bulan Desember.

***

“Kibum ah, Jimin ah, nanti malam kita makan malam bersama keluarga Yoon,” beritahu Eomma kepada kami begitu kami tiba di rumah.

Ne, Eomma,” jawab kami. Namun kulihat Oppa mengerutkan kening.

Lima belas tahun aku menjadi bagian keluarga Kim dan aku tahu bila Oppa mengerutkan kening tandanya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Oppa,” panggilku ketika Eomma sudah meninggalkan kami. Ia masih kelihatan berpikir tapi ia mencoba tersenyum padaku.

Ne, Jimin ah

“Kau sedang memikirkan apa?” tanyaku.

Ia menggeleng.

“Tidak apa-apa,” jawabnya tenang.

Oppa.”

Ia tersenyum.

“Sungguh, tidak apa-apa. Istirahatlah. Nanti malam kita akan makan bersama eoh?”

Aku mengangguk lalu meninggalkan dia. Namun aku tetap penasaran dengan apa yang dipikirkannya.

***

Yeoja itu duduk di depan Kibum Oppa.

Dia cantik!

Namanya Yoon Eun Hye.

Dia calon istri Kibum Oppa.

Begitulah yang direncanakan Appa dan keluarga Yoon.

Entah mengapa hatiku sakit.

Aku ingin pergi dari tempat ini. Tapi aku tidak mampu melakukannya. Appa dan Eomma sudah membesarkan aku seperti anak sendiri, aku tidak sanggup mempermalukan mereka di hadapan keluarga Yoon.

Tapi melihat mereka merencanakan pertunangan Oppa dan yeoja itu membuat hatiku hancur berkeping-keping.

“Kami setuju kalau pertunangan ini dapat dilakukan secepatnya,” tukas Eun Hye Appa. Ia adalah rekan bisnis Appa, pebisnis yang sukses. Jadi wajar kalau Eun Hye kuliah di London.

Ne, kami juga setuju. Setelah Kibum dan Eun Hye bertunangan, kami bisa mencari pasangan untuk Jimin.” tukas Eomma sambil tersenyum menatapku.

Eomma!” potong Oppa.

Eomma tertawa.

“Lihat, Kibum sangat perhatian kepada adiknya. Aku kira Eun Hye akan sangat bahagia mendapatkan calon suami seperti dia,” puji Yoon Sajang.

“Yoon Sajang, apa kau punya kenalan yang pantas dikenalkan kepada Jimin?” tanya Eomma.

Jebal, berhentilah sekarang. Pertahananku hampir runtuh.

“Mungkin aku bisa mengenalkan saudara sepupu Eun Hye kepada Jimin. Anak itu baik dan satu-satunya penerus keluarga Cho,” kata Eun Hye Eomma.

“Wah, rencana bagus.” tukas Eomma.

Eomma.”

Eomma!

Suaraku dan suara Oppa bertabrakan. Kutatap Oppa namun Oppa tidak sedang menatapku namun menatap lurus pada Eomma.

Waeyo?”

Eomma, aku masih muda dan belum memikirkan itu. Aku masih ingin berbakti pada  Appa dan Eomma,” tukasku.

“Anak bodoh, kami tidak menyuruhmu cepat menikah. Kau kenalan dulu dengan sepupu Eun Hye,” tukas Eomma disetujui anggukan Appa.

Aku menunduk dan kugigit bibirku seolah itu dapat menahan rasa sedihku.

Tanpa kuduga, tangan Oppa menggenggam tanganku memberiku kekuatan. Semua ini tanpa sepengetahuan Appa dan Eomma karena tangan kami berada di bawah meja.

Kuangkat wajahku menatap wajah Oppaku tapi ia sedang memandang lurus ke depan. Keningnya berkerut dan ia sedang memikirkan sesuatu.

***

Annyeonghaseo, Chagiya,” sapa seseorang padaku ketika aku berada di luar gedung kantor Appa tempatku bekerja. Kubalikkan badanku menoleh ke arah suara. Rasanya aku tidak mengenal namja ini. Namja dengan mata nakal dan senyum jahil yang menghias bibirnya.

Aku pasti salah mengira ia menyapaku. Kubalikkan badanku lagi dan melangkah keluar.

“Kim Jimin ssi!” panggilnya.

Namja itu tahu namaku. Aku menoleh.

Jogiyo.”

Nan Cho Kyu Hyun imnida, tunanganmu,” ujarnya sambil memperkenalkan diri. Aku mengerutkan kening. Kapan aku bertunangan? Apa aku sudah hilang ingatan sehingga aku lupa pada tunanganku sendiri?

Kutatap namja yang memperkenalkan dirinya sebagai tunanganku itu. Namja yang cukup tampan sebenarnya. Kalau saja ia tidak memamerkan seringai seperti iblis.

“Mengapa kau memandang calon tunanganmu seperti ini? Aku terlalu tampan?” tanyanya lagi-lagi menyeringai.

Yaa!”

“Aku tahu, kau entah yeoja ke berapa yang terpana melihatku karena ketampananku. Aku tidak bisa menghitungnya lagi dengan kedua tanganku,” katanya.

Langsung kutinggalkan namja sok itu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tapi ia mengejarku.

Yaa, yaa, tidak sopan meninggalkan calon tunanganmu ketika kita sedang berbicara,” protesnya sambil menjejeri langkahku.

“Kau yang bicara terus dari tadi,” bantahku tanpa menghentikan langkahku. Ia tertawa.

“Kau pasti bingung karena aku mengaku tunanganmu,” katanya.

“Kau entah namja ke berapa yang mengaku tunanganku, aku tidak bisa lagi menghitungnya dengan kedua tanganku,” balasku membuat ia tertawa terpingkal-pingkal.

“Luar biasa! Tunanganku luar biasa!”

Tiba-tiba Yoon Eun Hye muncul di belakangnya dan menjitak kepala namja itu hingga ia mengaduh kesakitan.

Noona, mengapa kau memukul kepalaku?”

“Kau sedang apa teriak di sini? Mengganggu calon adik iparku.”

Ah, kepalaku sakit, hatiku juga. Mengapa ada lain orang yang mengingatkan kalau Oppa sudah bertunangan?

“Dia calon adik iparmu tapi dia juga calon istriku,” tukas namja itu.

“Tapi kau dan dia sama sekali belum resmi berkenalan,” balas Eun Hye. Namja itu mengangguk.

Annyeonghaseo, chonen Cho Kyu Hyun imnida,” tukasnya lantang sambil mengulurkan tangannya.

Semua orang yang lalu lalang di dalam gedung ini sudah mulai memperhatikan kami karena kelantangan suara namja yang bernama Cho Kyu Hyun ini.

Bagaimana kalau aku pergi saja, meninggalkan dia dalam keadaan begini? Tidak sopan! Bukankah ia mengajakku berkenalan dengan cara yang baik?

Baiklah, aku mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya. Tapi ia menarik tanganku dan mengecup punggung tanganku.

Yaa!”

Dan tepat di saat itu, aku melihat Oppa turun eskalator, menatap tajam padaku dan namja setan ini.

Matanya dingin, sedingin salju Desember. Aku menggigil. Bukan karena udara dingin. Tapi karena tatapannya.

***

“Kau suka namja itu?” tanya Oppa ketika kami berjalan-jalan ke taman.

Namja yang mana maksud Oppa?” tanyaku bingung. Aku belum pernah dekat dengan namja manapun meskipun usiaku sudah 23 tahun. Satu-satunya namja yang dekat denganku hanya Oppa.

Namja yang bermarga Cho itu,” jawabnya.

“Oh, namja itu,” tukasku.

“Kau suka dia?” desaknya. Apakah ini hanya perasaanku atau memang Oppa nampak tidak suka pada Cho Kyuhyun?

Oppa, aku baru bertemu dengannya sekali,” tukasku.

“Dia sepupu Yoon Eun Hye,” ujarnya sambil menghela nafas. Nafasnya nampak berat.

Oppagwaenchana? Kau nampak kesulitan bernafas,” tukasku kuatir. Oppa memang ada kelainan jantung. Jadi sejak kecil, Appa dan Eomma menjaganya dengan ekstra hati-hati.

“Aku tidak apa-apa. Geokjeongmaseoyo. Aku hanya ingin tahu apa kau suka namja itu. Appa ingin menjodohkanmu dengannya,” tukasnya. Kuusap punggungnya berkali-kali, kuatir akan kesehatannya.

Oppa.”

“Jawab!”

Ani!” jawabku.

Oppa menarik nafas lega dan tersenyum padaku.

“Aku akan bilang ke Aboji agar mengurungkan niatnya.”

Aku mengangguk padanya.

Oppa bisakah kau membatalkan pertunanganmu juga? Jebal. Aku tidak bisa hidup dalam keluarga Kim jika kau menikah dengan yeoja lain. Aku menyukaimu Oppa. Bukan rasa suka seperti saudara. Walau aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukaimu, walau aku tidak tahu apa yang menjadi alasan rasa suka ini.

Oppa.”

Ne.”

“Aku boleh bertanya sesuatu?” tanyaku ragu.

Oppa mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang selalu menghangatkan hatiku.

“Eun Hye Eonni, Oppa menyukainya?” tanyaku. Ia menatapku dalam-dalam. Aku menunduk.

Mianhae Oppa. Oppa tak perlu menjawab. Sungguh.”tukasku.

“Jimin ah.”

Oppa memegangi kedua pipiku. Mau tak mau kini aku dan Oppa saling bertatapan. Lalu Oppa mengecup bibirku.

Oppa mengecup bibirku.

Air mataku merebak. Aku tidak bisa melakukan ini. Aku menyukainya tapi aku berhutang budi pada keluarga Kim. Appa dan Eomma telah membesarkanku dan inikah balasanku?

Kudorong tubuh Oppa.

Oppa, waeyo?”

“Aku tahu.”

Oppa menghapus air mataku dengan tangannya.

“Aku akan bilang pada Aboji dan Eomma untuk membatalkan pertunangan kami.”

Keunde Oppa… Kita tidak bisa bersama. Kita bersaudara.”

“Kau dan aku tidak ada hubungan darah,” bantahnya.

Oppa.”

Oppa memelukku.

“Percayalah padaku.” bisiknya.

Lalu salju turun. Salju pertama di tahun ini.

“Lihat Oppa. Salju.”

“Aku selalu menyukai salju. Kita akan selalu bersama melihat salju pertama turun, yakso?”

Kuanggukkan kepalaku sambil menatap wajah Kibum Oppa yang sedang menatap jatuhnya salju.

***

Namja setan itu muncul lagi di hadapanku.

Annyeong Chagi,” sapanya sok akrab. Aku melengos.

Yaa, yaa, aku bicara padamu, Chagi. Jangan tak menghiraukanku,” tukasnya sambil menarik tanganku.

“Lepaskan aku,” kataku sambil menghentakkan tangannya.

Jamkanman.

Lalu ia menarikku ke dalam pelukannya. Aku terkejut. Kudorong tubuhnya sekuat tenaga.

Wae? Kita akan tunangan kok. Besok keluargaku dan keluargamu akan bertemu.”

“Tidak mungkin!” desisku.

Ne. Mengapa kau tidak coba untuk mengenalku dulu. Aku tidak buruk kok. Kau akan bisa menyukaiku,” tukasnya penuh percaya diri.

“Aku tidak akan bisa mencintaimu.”

Andwae?”

“Tidak akan bisa.” gumanku.

***

Eomma, bagaimana  Oppa?” tanyaku begitu sampai di rumah sakit. Eomma terisak dan tidak bisa menjawab pertanyaanku. Appa merangkulnya.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Sabar, Jimin. Dokter sedang memeriksanya,” jawab Appa.

“Ada masalah dengan jantungnya?” tanyaku. Appa mengangguk.

Omoni!

Jangan sampai terjadi apa-apa. Jangan.

Air mataku mulai merebak. Tidak apa kalau ia hanya bisa menjadi oppaku selamanya asal ia bisa tetap hidup.

Tidak, jangan berpikir seperti itu. Bukankah selama lima tahun ini Oppa tidak ada masalah dengan jantung lagi? Ia sehat. Badannya kuat.

“Jimin ah.”

Ne Appa.”

“Kibum memintaku membatalkan pertunanganmu dengan Cho Kyuhyun,” tukas Appa.

Appa.”

“Yang tidak kumengerti ia juga minta agar aku membatalkan perunangannya dengan Eun Hye.”

Apa aku harus mengatakannya sekarang pada orang tua yang telah membesarkanku ini?

Appa na…”

“Karena masalah ini Oppamu bertengkar denganku.”

Aku terisak.

Appa..”

Kupeluk Appa dengan berderai air mata.

Tuhan…

Selamatkan Oppa

Aku rela selamanya menjadi saengnya. Aku akan tetap berada di keluarga in meski ia menikah dengan Yoon Eun Hye. Aku tidak akan menjadi orang yang egois. Aku akan membunuh rasa sukaku padanya.

“Kim Sajang.”

Seorang dokter mendekati kami. Aku dan Appa segera bangkit berdiri.

“Bagaimana keadaannya, Seonsaengnim?” tanyaku.

“Masuklah,” tukas dokter itu. Melihat wajah dokter itu, aku mulai sadar, mungkin inilah saat-saat terakhirnya.

Aku, Appa beserta Eomma masuk ke ruang UGD. Badanku bergetar hebat menyaksikan tubuh Oppa tergeletak lemah di ranjang.

Oppa…” bisikku. Oppa tersenyum.

“Kau harus hidup bahagia…”

Aku mengangguk.

“Jjaga Appa dan Eomma…”

Aku masih mengangguk.

Ssaranghae,” bisiknya lemah. Nafasnya mulai terputus sampai akhirnya hembusan nafasnya tidak terasa lagi di wajahku. Lalu kepalanya terkulai.

Tangisku meledak. Eomma jatuh terduduk, Appa segera menopangnya supaya tidak sampai terjatuh.

Oppa,” bisikku.

“Bukankah kau bilang kita akan sama-sama menyaksikan salju pertama turun setiap tahun? Mengapa kau mengingakari janjimu?”

Flashback end

***

Sekarang.

Oppa.

Kau kuatir tanganku beku kan? Sekarang aku selalu ingat memakai sarung tangan. Geokjeongmal,  Oppa, aku akan hidup baik-baik untukmu. Melihat salju pertama turun untuk setiap tahunnya.

Chagiya.”

Aku menoleh.

Setan itu lagi.

Kubalikkan badan meninggalkan dia.

Setelah kematian Oppa, Appa memutuskan mengurungkan niatnya untuk menjodohkanku dengan  Cho Kyuhyun tapi setan ini tetap mengejarku selama tiga tahun.

“Jimin ah, jamkanman.”

** The End **

Advertisements

6 thoughts on “It Was Snowing In My Heart.

  1. Onnieya, mianhae for late comment

    Nana baru inget, ini FF dulu didedikasiin buat Nana kan ya? heheheheh

    Haduh mendung-mendung baca yang sad ending gini, jadi gimana gitu T_T

  2. wah G baru inget FF ini setelah baca versi Kibum
    trus G baru sadar kalo ada sedikit persamaan dgn kisah dua tokoh d Amortentia tapi beda. Sad tapi ga tragis 🙂
    what a lovely fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s