Law of Natures 5 : PROSECUTOR (2)

Law of Natures 5:

Prosecutor (2)

FF prosecutor 2 by @LoveyChelsea

By :

Chelsea feat Christie Sue

| Romance/Crime/Action | PG 15 | Series |

 Starring :

Lee Jongsuk 

Jo Hwanmi (OC)

Kim Woobin, Lee Soohyuk, Jo Hwanbi (Oc)

Jo Sungha, Yoon Yooseon, etc

 Special appearances:

photo board

♫ LoN: Prosecutor♫

Previous Part :

1. The Court | 2. Sweet Defendant 1 |

| 3. Sweet Defendant 2 |4. Prosecutor 1|

 

Mianhae for any mistakes. Please look at the time given in every scene.
 Kamsahamnida 🙂

♫ LoN: Prosecutor♫

Seoul, Mapo-gu, Hapjeong-dong,

Selasa, 22 Oktober 2013 07.13 pm KST,

      Jongsuk masuk ke dalam kamarnya dan langsung berjalan menuju sebuah sebuah rak buku di sebelah kiri ranjang. Dia mendorong rak itu untuk masuk ke ruangan kecil di baliknya. Jongsuk menatap white board di mana foto Diego dan Omar Choi dipajang dekat foto Go Eunsoo dan Jin Kazuya.

      Lelaki itu menatap foto dua orang perempuan. Yang satu bertubuh kurus dan satu lagi montok. Si kurus tak lain Evita Choi, keponakan Omar sekaligus anak Diego. Jongsuk menatap perempuan di sebelah Evita, Han Soobyung, sahabat dekat Evita yang punya tubuh montok. Soobyung adalah penulis skrip drama dan film. Dia menulis beberapa film panas yang laku keras di Jepang. Di Korea, drama terakhirnya diproduksi Buenos tapi rating-nya rendah. Han Soobyung, seorang wanita asal Jepang yang juga anak Mr. Kazuya. Dia sudah lima tahun menetap di Korea dan menggunakan nama Han Soobyung.

Whiteboard JS

        Jongsuk menatap foto Daphne yang meninggal di tahun yang sama dengan kedua orangtuanya. Jongsuk sudah lama mencari informasi tentang aktris bernama lahir Lee Soojin itu. Tapi yang dia temukan sama saja dengan informasi profil aktris itu di Buneos. Dia hanya tercatat sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh di sebuah panti asuhan. Jongsuk melirik foto Joo Sangwook. Dia sudah memikirkan kemungkinan Buenos Ent berhubungan dengan kematian CEOnya. 

Ponsel di dalam saku celana Jongsuk berdering. Lelaki itu mengeluarkan ponsel dan membuka flip cover, terpampang nama ayah angkatnya di layar.

Yoboseyo, Abeoji!”

“Jongsuk-ah, aku sudah menemukan bocah bernama Kim Donghyun.”

Jongsuk langsung menampakan ekspresi serius. “Ye? Di mana dia sekarang?”

“Tadi pagi dia meninggalkan Yongin bersama pamannya untuk pergi piknik ke Busan.”

Abeoji, bisa beritahu siapa nama paman bocah itu dan apakah Abeoji tahu tempat tujuan mereka di Busan?”

Jongsuk segera mendekati meja tulis lalu meraih kertas dan pulpen. Dia mencatat informasi yang diberikan ayahnya. Dia berencana pergi ke Busan saat itu juga.

“Aku sudah meminta Sung Joon mengikutinya. Kau bisa menghubungi Sung Joon saat tiba di sana.”

Jongsuk pergi ke kamar mandi. 10 menit kemudian, dia sudah ganti pakaian. Lelaki yang kini memakai celana jeans hitam dan sweater warna turqoise itu menyambar trench coat hitamnya. Dia segera meninggalkan apartemennya.

Saat berada di dalam lift, dia mengirim pesan pada Soohyuk. Jongsuk memintanya untuk melakukan video call dengan kembar Jung dini hari nanti khawatir tidak bisa begadang setelah kemarin hanya tidur 4 jam.

♫ LoN: Prosecutor♫

 

Busan, Haeundae, 09.20 pm

KDH SJ

Jongsuk memasuki kamar sebuah motel bersama seorang pria yang dia kenal, orang kepercayaan Ahn Kilkang. Dua lelaki lain yang bertubuh kekar berada di kamar itu, mereka membungkuk memberi hormat pada Jongsuk. Seorang bocah yang tak lain adalah Kim Donghyun duduk di ranjang bersama pamannya. Tangan paman bocah itu tampak diikat. Sung Joon memberitahunya kalau mereka terpaksa mengikat pria itu karena mencoba melarikan diri.

“Kemarilah, aku tak akan menyakitimu,” ucap Jongsuk sambil duduk di kursi.

Kim Donghyun menatapnya ragu. Sung Joon membentaknya untuk segera menghampiri Jongsuk.

“Siapa yang menyuruhmu mencuri kunci milik seorang wanita di bandara Gimpo hari Sabtu?” tanya Jongsuk begitu Donghyun duduk di depannya.

Bocah itu melirik pamannya ragu.

Sung Joon menjitak kepala Donghyun. “Apa kau tidak tahu siapa tuan muda ini? Dia seorang jaksa dan dia bisa memasukanmu ke penjara kalau kau berbohong.”

Jongsuk menyalakan alat perekam dan menatap anak itu dengan pandangan teduh.

“Aku benar-benar tidak kenal ahjusshi itu. Dia datang ke pasar dan menawariku sejumlah uang asal aku melakukan hal kecil. Aku menerima uang di muka. Lalu dia memberi tambahan setelah mencuri kunci itu.”

“Siapa nama orang itu? Apa kau punya nomor ponselnya?” tanya Jongsuk.

Donghyun benar-benar tidak tahu. “Ahjusshi itu berkata jangan banyak bertanya dan lalukan saja pekerjaan itu. Setelah aku memberikan kuncinya, dia pergi dan tak pernah datang. Dia berpesan untuk meninggalkan kota Seoul tanpa sepengetahuan siapa pun.”

Jongsuk menghela napas berat. “Bisa kau sebutkan ciri-ciri lelaki itu?”

Donghyun berpikir untuk mengingatnya. “Dia tinggi. Geomsanim sedikit lebih tinggi darinya. Matanya lebih kecil dari mata Geomsa. Wajahnya tirus, hidungnya sangat mancung dan tulang pipi menonjol.”

Jongsuk mengingat sosok pria yang memasuki apartemen Jang Nayoung yang punya tinggi badan sekitar 180 cm.

 

“Kau akan langsung pulang ke Seoul?” tanya Sung Joon .

Saat ini dia bersama Jongsuk duduk di kedai pinggir pantai.

Ne, Hyungnim,” jawab Jongsuk. Dia menepuk bahu lelaki dengan tinggi badan 187 cm itu. “Kamsahamnida atas pertolonganmu. Tolong jaga Abeoji dan Eomma,” pinta namja itu lalu menyesap cappucino.

Geokjeongmal. Keluarga Ahn Sajang sudah kuanggap keluargaku sendiri. Kalau lain kali butuh bantuanku, jangan sungkan,” ucap Joon yang menjabat GM di resort milik Ahn Kilkang. “Kalau bukan karena Ahn Sajang, mungkin aku hanya seorang gelandangan.”

Jongsuk tersenyum mendengarnya. Sung Joon dulu hanya seorang anak jalanan. Ahn Kilkang membawanya ke Gyeongju dan Joon disekolahkan sampai perguruan tinggi.

 

 Setengah jam kemudian, Jongsuk mengendarai New K7-nya untuk meninggalkan Busan dan kembali ke Seoul.

♫ LoN: Prosecutor♫

 

Seoul, Rabu,23 Oktober 2013 07.30 am

Deringan ponsel yang berulang untuk kedua kalinya membuat Jongsuk terbangun. Semalam dia tiba di apartemennya lewat tengah malam dan segera mencari obat maag-nya. Lambungnya terasa perih dan Jongsuk tertidur setelah makan obat.

 Lelaki itu meraih ponsel yang masih ada di dalam sakunya dan menjawabnya tanpa melihat si penelpon.

Yoboseyo!” sapanya salam keadaan masih terbaring di ranjang.

“Jongsuk-ah, aku menemukan mobil yang kau cari.”

Jongsuk mengenali suara rendah yang sangat berat itu. “Di mana, Woobin-ah?”

“Di depan sebuah rumah di Gwangnaru,” jawab Woobin. “Mobil itu sudah berada di sana sejak Minggu pagi. Aku juga mendapat CCTV saat kedatangan mobil itu. Sekitar pukul 12 tengah malam. Si pengemudi adalah orang yang sama yang berada di depan gedung apartemen korban.”

“Identitas kepemilikan?” tanya Jongsuk sambil duduk.

“Plat nomor palsu,” jawab Woobin. “Dari nomor mesinnya, mobil ini barang curian yang hilang dua hari sebelum kejadian.”

Pabo!” umpat Jongsuk pelan.

Ye?” tanya Woobin.

Jongsuk terkekeh. “Pria itu bodoh atau pintar? Pintar karena kita belum menemukan identitasnya dan bodoh karena meninggalkan jejak di mana-mana.”

Terdengar Woobin terkekeh. “Aku kembali ke Mapo sekarang. Kau di mana?”

Jongsuk terkejut melihat jam dinding. “Astaga! Aku terlalu lama tidur.”

Hya! Pastikan kau tidak terlambat sarapan atau maag-mu kambuh lagi.”

♫ LoN: Prosecutor♫

 

Seoul Western Public Prosecutor Office, Mapo-gu,03.10 pm

      Jongsuk memasuki ruangan atasannya, Jeong Donghwan. Jo Sungha juga ada di ruangan itu. Lelaki yang mengenakan celana hitam, kemeja abu tua, dan dasi hitam itu duduk setelah memberi salam pada keduanya. Jongsuk duduk berhadapan dengan Jo Sungha yang saat itu memakai baju dinasnya yang membuatnya tampak semakin berwibawa.

      “Chief Jo datang kemari untuk mengetahui perkembangan kasus kematian Joo Sangwook,” ucap kepala Jaksa Jeong.

      “Aku akan mengumumkan pembebasan Jun Yoojin dari tuduhan menjelang sore,” ucap Jongsuk.

      “Apa hasil penyelidikanmu mendukung bahwa Jun Yoojin tidak bersalah?” tanya Sungha.

      Jongsuk mengangguk dan menyerahkan tumpukan berkas yang dia bawa kepada Sungha dan Donghwan. Keduanya mempelajari laporan Jongsuk sambil menjelaskan rincian tiap poin yang dia tulis. Selesai pertemuan itu, Jongsuk berkata akan menghubungi Hwanbi lalu membuat pengumuman resmi tentang kasus itu. Jeong Donghwan menerima laporan yang Jongsuk serahkan dan memintanya untuk segera menemukan pelaku sebenarnya.

♫ LoN: Prosecutor♫

 

04.50 pm

Jo Hwanmi turun dari taksi di depan gedung kantor kejaksaan. Gadis yang mengenakan English cape wind coat warna camel yang membalut mini dress hitam selututnya itu dihubungi Jongsuk tentang pembebasan Yoojin. Dia langsung pergi menuju kantor Jongsuk untuk mendapatkan akses langsung tentang informasi perkembangan kasus.

Annyeong haseyo!” sapa Hwanmi.

Han Junhee yang sedang mengetik sambil makan peppero mengangkat muka.

“Apa Lee Geomsa ada di ruangannya?” tanya Hwanmi.

Junhee menatapnya sinis. “Ne, Jo Byeon,” ucap Junhee acuh sambil terus mengetik.

Hwanmi menatapnya tajam, tidak suka sikap juru tulis itu.

“Hwanbi-ya!”

Hwanmi menoleh ke belakang dan mendapati Lee Soohyuk. “Annyeong haseyo, Penyidik Lee! Lee Jongsuk Geomsa mengundangku kemari.”

Soohyuk mengerutkan kening. Seingatnya Jongsuk sudah menghubungi Hwanbi tentang pembebasan Yoojin. Lelaki berhidung tajam itu memperhatikan Hwanmi yang berambut cokelat gelap tergerai. Tak ada poni yang menutupi dahi gadis itu dan dia memanggilnya penyidik Lee. Soohyuk pun tahu kalau gadis itu Hwanmi.

“Dia berada di ruang jaksa Shin. Bagaimana kalau kita tunggu saja di Hollys?” tanya Soohyuk.

Call.”

 

Hollys Coffee,

Annyeong haseyo Soohyuk Oppa!” sapa kasir yang memakai baju ketat itu. Dia melirik Hwanmi sekilas. “Mau pesan apa?”

Americano,” ucap Soohyuk lalu melirik Hwanmi.

Citron crush,” ucap Hwanmi.

Gadis itu duduk terlebih dulu di kursi dekat jendela lalu Soohyuk menyusul dan membawakan pesanan mereka. Hwanmi menyiapkan tabletnya dan membuka aplikasi word.

“Sebelum Lee Geomsa datang, bisakah penyidik Lee memberiku informasi tentang pembebasan Yoojin eonni?”

Soohyuk tersenyum kecil. Lelaki yang mengenakan kemeja lengan panjang warna navy dan blue jeans itu menyesap sedikit kopinya. “Ne.”

Tak sampai 10 menit, Jongsuk masuk ke coffe shop itu. Dia tampaknya menyimpan jasnya di kantor dan hanya memakai kemeja abu tua dengan dasi hitam motif garis putih. Dia menghampiri counter kasir dan memesan minuman lalu berjalan mendekati Soohyuk dan Hwanmi sambil memasukan dompetnya ke dalam saku belakang celana hitamnya itu.

Jongsuk duduk santai di samping Hwanmi. “Apa Soohyuk sudah memberimu cukup informasi?” tanyanya.

Ye. Tapi dia belum memberitahu rencana penyelidikan selanjutnya,” jawab Hwanmi.

“Bagaimana kalau kita makan bersama nanti?” potong Soohyuk. “Aku akan menghubungi Hwanbi.”

“Aku mengajak Hwanbi dan Yoojin eonni kemari. Mungkin mereka dalam perjalanan,” tambah Hwanmi.

Jongsuk tampak berpikir. “Tapi aku perlu pergi ke kantor polisi untuk mendiskusikan kasus ini.”

“Kalau begitu, kita berkumpul kembali setelah kau selesai dari sana itu,” ucap Soohyuk. “Kita bisa mengajak Woobin.”

Kasir bertubuh montok itu mengantarkan mocha hollychino pesanan Jongsuk. “Silahkan Geomsa Oppa!”

Kamsahamnida,” ucap Jongsuk.

Hwanmi langsung melirik kasir itu mendengar sebutan oppa. “Oppa?” tanyanya spontan.

Soohyuk dan Jongsuk menoleh, “Wae?” tanya keduanya.

Hwanmi tersenyum tipis. “Berapa usianya?”

Soohyuk mengangkat kedua bahu dan Jongsuk hanya mengikik. Jaksa itu berdiri sambil membawa cup mocha-nya.

“Kau ikut denganku atau di sini bersama Soohyuk?” tanya Jongsuk.

“Ikut saja,” Soohyuk mendahului Hwanmi. “Aku perlu mengerjakan beberapa hal.”

“Baiklah,” tanggap Hwanmi.

 

Jo Hwanmi duduk di dalam mobil Lee Jongsuk yang melaju menuju kantor polisi distrik Mapo. Jongsuk menjawab beberapa pertanyaan Hwanmi tentang pembebasan Yoojin.

“Kau tidak akan membocorkan rahasia penyelidikan kan?” canda Jongsuk.

Hwanmi memicingkan mata melirik lelaki itu. “Geokjeongmal, aku bukan wartawan infotainment.”

♫ LoN: Prosecutor♫

 

09.47 pm,

Seorang lelaki yang duduk di dalam SUV hijau army yang dia parkir di seberang sebuah bangunan karaoke. Dia melihat Lee Jongsuk keluar dari bangunan tiga lantai itu bersama Lee Soohyuk, Kim Woobin, kembar Jo, dan JunYoojin. Keenam orang itu tidak sadar pria itu menguntit mereka sejak berada di Hollys Coffee. Dari balik kacamata hitamnya, dia melihat mereka berenam bercanda dan tertawa.

    ♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Mapo-gu, Nogosan-dong, 10.12 pm,

“Hwanmi-ya! Tubuhmu bau alkohol,” cecar Yoon Yooseon begitu si kembar tiba di rumah.

“Dia tanding minum bir dengan Kim hyeongsa,” celetuk Hwanbi.

Hwanmi malah memeluk ibunya. “Eomma, yang penting aku tidak mabuk, kan?” ucap gadis itu lalu melepaskan pelukan dan mengedipkan mata kiri. Hwanmi menyapa Jo Sungha yang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.

“Kau tidak minum seperti kakakmu, kan?” tanya Yooseon pada Hwanbi.

Hwanbi menggeleng manja. “Eomma akan mengomeliku semalam kalau tubuhku bau alkohol seperti Hwanmi.

“Kenapa Appa belum tidur?” tanya Hwanmi lalu duduk di samping Sungha disusul Hwanbi yang duduk di sisi lain.

“Bagaimana bisa seorang ayah tidur ketika putri-putrinya belum pulang?” ungkap Sungha sambil melirik kiri-kanan.

Hwanmi dan Hwanbi terkekeh lalu merangkul ayah mereka. Yooseon berdiri sambil berkacak pinggang. “Cepat mandi dan tidur.”

Ne, Eomma!” tanggap mereka kompak.

Hwanmi dan Hwanbi mencium pipi ayah dan ibu mereka lalu pergi ke kamar masing-masing. Yooseon duduk di samping Sungha.

Yeobo, apa kita perlu mengatur kencan buta untuk mereka?”

Jo Sungha tertawa. “Apa kau mulai cemas karena mereka masih lajang?”

♫ LoN: Prosecutor♫

 

Park Hyatt Seoul, 10.19 pm

Dua orang perempuan duduk di depan counter bar. Sebotol wine ada di depan mereka bersama dua gelas yang mereka gunakan. Perempuan bertubuh montok dengan riasan tebal dan mencolok memakai kemben merah dan hot pants. Sementara seorang yeoja lain bertubuh tinggi kurus yang memakai jaket kulit warna cokelat dan mini dress warna krem tampak menengak segelas wine dalam satu shot. Dia adalah Evita Choi.

Geokjeongmal,” ucap si montok. “Mereka tak akan menemukan pelaku sebenarnya.”

Evita menoleh. “Keundae, pamanku mencurigaiku, Soobyung-ah.”

Yeoja yang dipanggil Soobyung terkekeh. “Aku sudah bicara dengan Choi Sajang. Pokoknya tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja.”

 

Senin, 21 Oktober 2013 08.00pm

Evita sedang break dalam sebuah syuting di ruang rias. Managernya memberikan ponsel aktris itu.

“Choi Sajang meminta Eonni segera menghubunginya,” ucap si manager berkebangsaan Jepang itu.

Gomawo, Maki,” ucap Evita.

Aktris yang mengenakan skinny jeans dan tube mini dress itu segera menghubungi pamannya.

Ye, Samchon. Ada masalah apa?” tanyanya begitu Omar Choi menjawab panggilan.

Evita menyimak sambil menatap cermin dan merapikan riasanya.

Kenapa jaksa Lee Jongsuk menghubungimu setelah dia pergi ke toko ayahmu untuk menanyakan data penjualan sebuah merk wine?” todong Omar to the point.

Evita mendengus. Pasti Maki yang memberitahu samchon kalau aku dihubungi jaksa itu. “Aku tidak tahu, Samchon. Aku belum bicara dengannya.”

Dia menanyakan merk wine yang ditemukan di apartemen Joo Sangwook. Kau mengambil salah satu wine itu kan? Apa kau terlibat dengan kematian tunanganmu?” Lagi-lagi Omar langsung menodong keponakannya.

Evita syok. “Samchon, aku tidak membunuhnya.”

Terdengar tawa renyah sang direktur Buenos Ent. “Kapan paman berkata kau membunuhnya? Kalau pun benar, jangan khawatir. Paman tak akan menyerahkanmu.”

Samchon…” ucap Evita tegang.

Nanti hubungi Lee Jongsuk dan bicaralah dengan nada santai.

Lalu Evita mendengarkan pesan pamannya.

 

Rabu,23 Oktober 2013 10.30 pm

Soobyung tertawa menyimak penuturan Evita. “Aku sudah menyuruh Hongsik bersembunyi dengan baik setiap dia melakukan aksi. Dia cukup ahli.”

Evita tersenyum tipis. Soobyung menatapnya intens dan dia membelai rambut Evita. Aktris itu merasa was-was karena Jun Yoojin dibebaskan dan Joo Sangwook dinyatakan bunuh diri.

♫ LoN: Prosecutor♫

 

Seoul-si, Mapo-gu,Hapjeongdong,

Kamis,24 Oktober 2013 07.00 am

 

Hapjeongdong apartment, Infinite dorm

      Kim Woobin menekan bel apartemen Jongsuk. Sudah tiga kali dia menekan tapi tidak ada respon. Lelaki yang memakai sleeveless T-shirt hitam dibalut kemeja warna navy tanpa kancing itu mendatangi apartemen Jongsuk yang berhadapan dengan apartemennya itu. Jongsuk tak membalas pesan singkat atau menjawab panggilan telepon ajakan jogging menjelang matahari terbit tadi.

      Woobin pun memasukan password  yang dia tahu dan membuka pintu.

      “Jongsuk-ah!” panggilnya begitu masuk dan melangkah ke living room. “Lee Jongsuk!” panggilnya lagi sambil mendekati pantry. Dia tak melihat sahabatnya itu.

      Woobin pun berjalan mendekati pintu kamar tidur si jaksa dan mengetuknya sebanyak dua kali sambil memanggil tapi tetap tak ada sahutan. Dia membuka pintu dan masuk. Woobin tidak melihat sahabatnya di sana. Dia pun segera keluar dan memasuki ruang baca. Dia melihat Jongsuk tertidur di sofa. 

      “Lee Jongsuk, kau masih tidur, eoh?”

      Woobin langsung mendekat dan mengguncang tubuh sahabatnya. “Hya! Sejak kapan kau tidak disiplin?” teriak Woobin mengingat Jongsuk setiap hari bangun pagi.

      Kening Jongsuk tampak berkerut dan alisnya bertautan. Woobin melihat keringat mengembun di wajah pucat Jongsuk.

      “Jongsuk-ah, gwaenchana?” tanyanya cemas.

      Dia menyentuh kening sahabatnya itu dan baru sadar kalau kedua tangannya memegang perut. Jongsuk tampak kesakitan antara sadar dan tidak. Woobin melotot karena syok.

♫ LoN: Prosecutor♫

 

Jung-gu, Chung-ang University Hospital,08.10 am

Chung Ang University Hospital

      Woobin baru saja mau keluar dari sebuah ruang inap VIP tapi dia mendengar deringan di ponsel Jongsuk. Woobin segera menghampiri meja di samping ranjang dan mengambil ponsel, khawatir Jongsuk terbangun. Dia melihat nama ‘Duffy Lawyer’ di layar.

      “Yoboseyo!”

      “Yobose…yo!” terdengar respon Hwanbi agak gagap karena gadis itu tahu bukan Jongsuk yang menjawab.

      “Ne, Jo Byeon? Woobin imnida.”

      “Kim Hyeongsa, bagaimana keadaan Jongsuk?”

      Woobin melirik Jongsuk yang tampak pulas terbaring di ranjang. “Dia di bawah pengaruh obat, sedang tertidur. Sekarang sudah lebih baik.”

      “Dahaengnida,” ungkap Hwanbi.     

      “Apa kau mau menengoknya kemari, Jo Byeon?” tembak Woobin.

      “Ah, ye. Sebentar lagi aku akan ke sana bersama Hwanmi.”

      “Boleh aku minta sedikit bantuan?” tanya Woobin.

      “Silahkan. Katakan saja.”

♫ LoN: Prosecutor♫

Room in Chung Ang Universiti hospital

08.50 am

      Jongsuk sudah siuman dan  lelaki itu sedang memakan bubur. Dia mendengar suara pintu dibuka dan melihat dua orang gadis dengan wajah sama.

      “Donald Duck! Kenapa kau bisa langsung tumbang seperti itu, eoh?” cecar gadis yang mengenakan kemeja loose warna peach dan rok midi warna hitam.

      Dari ucapanya barusan, Jongsuk memastikan bahwa dia Hwanbi. Gadis itu menaruh trench coat dan tasnya di sofa lalu menarik kursi untuk duduk di kursi di samping Jongsuk.

      “Benar kau sampai pingsan karena serangan yang diderita lambungmu?” tanya Hwanbi.

      Jongsuk meletakan mangkuk di atas meja di samping ranjang. “Ye, wae?” tanyanya agak kesal karena dia memprediksi Hwanbi akan menceramahinya. Buru-buru dia menoleh pada gadis yang mengenakan skinny jeans, loose top putih dengan turtle neck, dan trench coat warna orange. “Hwanmi-ya, terima kasih sudah datang.”

      “Ne. Orang tua kami juga mencemaskanmu,” jawab Hwanmi lalu berjalan mendekati lemari untuk menyimpan tas berisi baju.

      “Ah, eomma akan menjengukmu nanti siang,” timpal Hwanbi.

      “Mwo?” tanya Jongsuk lemas membayangkan nyonya Yoon yang sama berisiknya dengan Hwanbi.

      Hwanbi memukul lengan Jongsuk. “Hya! Belum sebulan kau baru sembuh, kenapa tidak bisa berhenti merokok, minum kopi dan susu sebulan saja?”

      Jongsuk nyengir. Serangan Hwanbi sedang dimulai.

      “Kau juga pasti kurang tidur dan makan tidak teratur, lupa mengkonsumsi obat dan…”

      “Geumanhae! Ibuku saja tidak cerewet sepertimu,” protes Jongsuk sambil mengambil lagi mangkuknya. Dia menyuapkan lagi bubur yang menurutnya tidak enak.

      “Itu karena ibumu jauh. Ah, aku akan menghubungi keluargamu,” ucap Hwanbi.

      “Andwae!” protes Jongsuk sewot. “Aku bukan anak kecil.”

      “Tapi kau tak bisa mengurus tubuhmu sendiri. Bagaimana kau mau mengurus kasus kejahatan yang terus berdatangan silih berganti,” timpal Hwanbi.

      “Shut up! Aku sedang makan,” ucap Jongsuk lemas. Dia menyuapkan lagi sesendok bubur.

      Hwanmi duduk di sofa sambil memangku bantal.

      “Ah ara! Kau harus menikah agar ada seorang istri yang mengurusmu,” celetuk Hwanbi.

      Jongsuk tersedak. Dia menyambar tissue untuk membersihkan bibirnya yang belepotan karena muntahan bubur.

      “Hya!” teriaknya kesal melihat si kembar cekikikan. Dia sambil meraih gelas lalu minum. “Hwanmi-ya, tolong suruh dia pergi. Dia hanya mengganggu ketentraman pasien,” ucap Jongsuk.

      “Geokjeongmal,” respon Hwanbi. “Aku akan segera pergi dan Hwanmi akan menemanimu.”

      “Ye?” tanya Jongsuk terkejut. “Memangnya kau tidak pergi ke kantor Hwanmi-ya?”

      Hwanbi menjawab. “Eomma meminta kami menemanimu sampai dia datang dan Hwanmi yang bisa izin. Dia bisa menulis berita di sini. Benar kan, Eonni?”

      “Ne. Geokjeongmal. Lagi pula hari ini aku agak bebas dan akan ke kantor nanti sore,” jelas Hwanmi.

      “Ibu kalian benar-benar menganggapku anak kecil,” keluh Jongsuk sambil mengambil lagi mangkuknya. “Tapi nanti juga aku akan pulang, Duffy.”

      Hwanbi berdiri dan memukul lengan Jongsuk. “Jangan banyak protes. Kau hanya cukup berterima kasih atas perhatian kami.”

      “Aku tidak bisa membayangkan kalau kau menjadi dokter. Semua pasienmu tak bisa istirahat karena non stop mengomel,” ledek Jongsuk sambil menyuapkan bubur.

      “Karena itu pengacara adalah profesi yang tepat untukku,” jelas Hwanbi.

      Dokter Kwon Sangwoo masuk ke ruangan itu. Mereka bertiga menyapanya.

      “Lee Geomsa, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya ahli penyakit dalam yang sudah hampir dua tahun ini menangani Jongsuk.

      “Sudah lebih baik, Kwon Seonsaeng,” jawabnya.

      Kwon Sangwoo mendekati Jongsuk dan melihat cairan infus yang masih banyak lalu matanya melirik obat di meja. “Sebaiknya Anda cepat habiskan buburnya dan segera minum obat dan vitamin.”

      “Ini gara-gara pengacara cerewet ini yang terus mengajakku berdebat seperti di ruangan sidang,” tukas Jongsuk sinis.

      “Ara, ara. Aku akan pergi sekarang,” ucap Hwanbi sambil berdiri. “Seonsaengnim,         sepertinya dia akan sering menemuimu karena pola makannya kacau. Dia sangat tidak disiplin.”

      Kwon Sangwoo tertawa mendengarnya.

      “Dia masih selalu merokok, minum kopi dan susu padahal Anda sudah menyarankannya untuk mengurangi konsumsi makanan minuman beresiko,” cerocos Hwanbi.

      “Kha!” kata Jongsuk sambil melotot.

      Beberapa menit setelah dokter Kwon pergi, Jongsuk mengajak Hwanmi berbincang. Lelaki itu tampak ingin tahu banyak tentang masa kecil si kembar. Jongsuk tertawa saat Hwanmi bercerita dia pernah menyumpal mulut Hwanbi dengan tiga iris kimbap karena kesal dengan omelannya.  Hwanbi menangis dan Hwanmi dihukum karena itu. Setengah jam kemudian, Jongsuk merasa matanya berat. Hwanmi meminjamkan headset untuk dipasang di ponsel Jongsuk. Lelaki itu pun tertidur tak lama setelah memejamkan mata dan mendengarkan musik.

♫ LoN: Prosecutor♫

 

11.40 pm

      Hwanmi memasuki kamar rawat Jongsuk. Dia baru kembali setelah satu jam lalu dia pergi ke distrik Jongno untuk melihat lokasi terjadinya kecelakaan tabrak lari. Dilihatnya Jongsuk masih tertidur pulas, sama seperti saat dia pergi. Hwanmi pun duduk di sofa sambil mengetik update berita yang baru dia dapat melalui e-mail yang dikirim sekretaris ayahnya.

      Sekitar 10 menit kemudian, Jongsuk terbangun. Hwanmi memberitahu perawat yang sebelumnya memintanya menghubungi kalau Jongsuk bangun. Tak lama kemudian, perawat mengantarkan menu makan siang untuk Jongsuk. Terdengar lagu Backstreet Boys dari video-tone ponsel Hwanmi. Yoon Yooseon menghubunginya dan memintanya menjemput di bawah.

      “Aku keluar menjemput eomma,” ucap Hwanmi. “Bersiaplah mendengar omelannya nanti.”

      Jongsuk hanya nyengir. Setelah Hwanmi pergi, dia melanjutkan makan siangnya. Lelaki itu tersenyum senang mengingat keluarga si kembar. Meskipun Yoon Yooseon dan Hwanbi sangat cerewet, tapi itu tanda perhatian yang mereka berikan. Chief Jo juga sering membantunya dalam banyak hal. Jongsuk merasa punya keluarga selain orang tua angkatnya di Gyeongju. Lelaki itu mendengar pintu diketuk dan seseorang yang sangat dia kenal masuk.

Yaa, mengapa kau lama sekali?” tanya Jongsuk begitu melihat Soohyuk muncul di kamarnya. Saat itu ia sedang bersiap untuk makan siang.

Mianhae, aku harus meninggalkan beberapa pesan yang harus kucatat pada juru tulismu. Kalau dibiarkan, dia tidak akan melakukan apa pun yang berguna,” tukas Soohyuk merujuk pada Junhee.

“Kau bawa berkas yang kupesan?” tanya Jongsuk dengan suara lemah menahan sakit di lambungnya.

“Istirahatlah Geomsanim, jangan memaksakan diri,” sindir Soohyuk. Dilihatnya wajah Jongsuk tampak pucat. Soohyuk menyerahkan berkas yang diminta.

“Kalau kau tidak apa-apa, aku mau pergi. Aku meninggalkan Jun Yoojin bersama dokter,” tukas Soohyuk pamit. Lagi-lagi Jongsuk menaikkan sebelah alisnya. Tangannya mengaduk-aduk bubur menu makan siangnya.

“Ada apa dengan si autis itu?”

Yaa, jangan memanggil dia autis!” protes Soohyuk sebal. Jongsuk terkekeh.

“Jatuh hampir tertabrak tadi. Tangannya terluka jadi aku mengantarnya ke sini sekaligus memberikan berkasmu,” jawab Soohyuk.

Jongsuk mencibir. Bibirnya bertambah lagi ukurannya. “Baik sekali kau!” ledeknya.

Soohyuk terkekeh. Jongsuk menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya dan berusaha menelannya.

“Kemarin malam sepulang dari noraebang, ia diikuti orang. Aku sudah mengecek CCTV tapi tidak melihat wajah orang itu,” tukas Soohyuk.

Kening Jongsuk berkerut. Ia tampak berpikir meskipun otaknya menolak untuk dipacu karena tubuhnya yang masih agak lemas.

“Soohyuk-ah, kau benar-benar sudah memerika CCTV di sekitar gedung? Orang itu benar-benar tidak tertangkap kamera?” tanya Jongsuk dengan wajah masih pucat.

Soohyuk menggeleng. “Aku juga memeriksa CCTV sekitar noraebang tempat kita pergi kemarin malam tapi tetap saja…” Soohyuk menggelengkan kepalanya lagi.

Jongsuk menatap Soohyuk dengan tatapan tajam membuat penyidik itu meringis. Lalu dia meraih beberapa berkas yang baru diserahkan kepada Jongsuk dan membacanya. Ia yang membuat berkas itu dan harusnya itu menjadi tugas Han Junhee. Tapi pekerjaan Han Junhee tak pernah beres. Ia mendesah.

Keundae, mengapa kita harus memakai Betty La Fea sebagai sekretaris. Kita berdua tahu bagaimana penulisan bahasanya,” tukas Soohyuk sambil melempar berkas itu ke sisi Jongsuk.

Gwaenchana, Soohyuk-ah, seperti kita tahu kalau masa percobaannya tiga bulan. Kita akan memberikan penilaian sesuai dengan kapasitasnya,” jawab Jongsuk.

Jinja? Kau benar-benar tidak akan merasa iba padanya?” sindir Soohyuk.

Jongsuk menghentikan suapannya, melirik tajam ke Soohyuk.

“Kurasa kau yang akan menaruh iba pada kucing itu,” balas Jongsuk sebal.

Soohyuk merasa bibir jaksa itu bertambah beberapa senti kalau sedang kesal. Soohyuk tertawa.

“Bagaimana kalau dia ikut kuliah seperti yang diusulkan Hwanbi?” tanya Soohyuk. Jongsuk mencibir. Sebelah alisnya dinaikkan.

“Apa ada gunanya?” pertanyaan itu hanya direspon tawa kecil Soohyuk. “Coba saja,” tukasnya sambil menyendokkan bubur ke dalam mulutnya.

“Miaw! Miaw!”

Kontan Jongsuk menyemburkan bubur baru masuk mulutnya mendengar suara yang dibuat oleh Soohyuk. Suara kucing mengingatkan ia akan sudut Hello Kitty yang ada di kantornya.

Neon chukulae?” teriak Jongsuk geram sambil membersihkan bibir dan bajunya.

Soohyuk malah terkekeh. “Lee Geomsa miau!”

Jongsuk tak bisa berkata-kata saking kesalnya. Diambilnya sandal rumah sakit yang ada di bawah ranjang dan dilemparkannya ke arah Soohyuk dan jatuh tepat di jidat Soohyuk. Soohyuk berdiri dari kursi yang didudukinya dan menyumpah-nyumpah. Dan seakan belum puas, Jongsuk melempar sendok yang ada di tangannya dan mendarat di dada Soohyuk.

Yaa! Akan kutuntut kau melakukan kekerasan pada mitra kerjamu, Lee Geomsa!” teriak Soohyuk.

“Kau akan kutuntut duluan karena mengganggu ketenangan pasien rumah sakit!” balas Jongsuk tak mau kalah.

Yaa!”

Yaa!”

“Melihat hasil lemparanmu, Jongsuk-ah, kurasa kau sudah sembuh.”

Soohyuk dan Jongsuk sama-sama menoleh. Hwanmi berdiri di ambang pintu dengan nyonya Yoon dan tampaknya mereka menyaksikan Jongsuk dan Soohyuk bertengkar.

“Kebetulan Anda datang, Eommonim. Tolong usir dia. Dia sangat mengganggu,” pinta Jongsuk emosi.

Yoon Yooseon melirik Soohyuk yang hanya tersenyum mengejek Jongsuk.

“Aku memang berniat pergi. Na kalge, Jongsuk-ah. Aku sudah meninggalkan Yoojin terlalu lama,” tukasnya. “Permisi Eommonim, Hwanmi-ya!”

“Yoojin di mana?” tanya Yooseon.

Jongsuk memberi kode melalui matanya dan Soohyuk mengerti kalau dia tidak boleh memberitahu nyonya Yoon sekarang. 

“Yoojin sedang menungguku di cafe,” dusta Soohyuk.

Yaa, kau serius dengan si autis itu?” tanya Jongsuk. Soohyuk membalikkan badannya bersiap meninggalkan Jongsuk. Ia menoleh sejenak.

“Bukan urusanmu!” Soohyuk melambaikan tangannya tanpa menoleh lagi.

 

      “Eommonim seharusnya tak perlu repot-repot menjenguku apalagi meminta Hwanmi menemaniku,” ucap Jongsuk.

      “Gwaenchana. Apa kau sudah selesai makan?” tanya perempuan yang mengenakan rok midi di bawah lutut warna beige dengan atasan trench coat hitam itu.

      Nyonya Yoon mengambil obat yang berusaha digapai Jongsuk sementara Hwanmi menggeser letak kursi yang tadi terdepak Soohyuk.

      “Apa kasus Yoojin benar-benar mengorbankan kesehatanmu, Jongsuk-ah?” todong nyonya Yoon sambil memberikan obat lalu duduk di kursi kecil itu.

      Jongsuk meringis. “Bukan begitu, Eommonim.

      “Hwanbi bilang kau tak bisa mengontrol keinginanmu untuk merokok dan minum kopi,” ucap nyonya Yoon.

      Jongsuk pun harus merelakan diri menerima omelan nyonya Yoon. Tak lama kemudian, Kwon Sangwoo masuk lagi dan memeriksa Jongsuk. Dia berkata Jongsuk bisa pulang dengan syarat harus bedrest total minimal sehari. Nyonya Yoon tidak setuju.

      “Kwon Seonsaeng, dia tipe orang yang tidak tahan bed rest apalagi dia tinggal sendirian.”

      Jongsuk bersikeras ingin pulang dan nyonya Yoon tetap tidak setuju. Hwanmi bosan mendengar perdebatan mereka sejak tadi dan dia pun membujuk ibunya.

      “Eomma, aku akan menemani Lee Geomsa hari ini. Aku akan memastikan dia makan dan istirahat teratur.”

          ♫ LoN: Prosecutor♫

 

      30 menit kemudian, Jongsuk sudah berada di dalam mobil nyonya Yoon yang dikendarai Hwanmi. Saat sampai di depan gedung apartemen, Jongsuk dan Hwanmi turun sementara nyonya Yoon pergi untuk kembali ke kampus.

     

Mianhae merepotkanmu,” ucap Jongsuk begitu duduk di sofa di dalam living room-nya.

      “Gwaenchana. Anggap saja aku mewakili keluargaku yang tak bisa membantumu,” ungkap Hwanmi yang juga duduk di sofa.

      Jongsuk tertawa kecil. “Eommonim sampai menjenguk dan Hwanbi tak berhenti menanyakan keadaanku padamu. Kau juga kembali ke rumah sakit setelah mendatangi tempat kecelakaan. Aku benar-benar beruntung karena punya keluarga kedua seperti kalian.”

      “Oh ya. Lee Geom istirahat saja di kamar. Aku akan membuatkan sup dan bubur sebelum pergi.”

      “Tidak usah. Sebaiknya kau segera berangkat agar tidak terlambat meeting nanti.”

      Hwanmi berdiri. “Aku sudah berjanji pada eomma. Aku bisa diomeli kalau dia tahu aku tidak melakukannya.”

      Jongsuk melihat gadis itu berjalan ke arah pantry. “Aku akan membantumu berbohong dan dia tak akan memarahimu.”

      Hwanmi berhenti dan membalikan tubuh. “Apa Lee Geom benar-benar tak mau merepotkanku atau memang mau mengusirku?”

      Mulut Jongsuk sedikit menganga. Dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran Hwanmi. “Aniyo. Kenapa kau salah faham seperti itu? Aku hanya merasa sudah banyak merepotkanmu hari ini.”

      Hwanmi mendelik. “Kalau merasa berhutang, kau bisa membayarnya lain kali.” Gadis itu pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

      Jongsuk terkekeh. Dia beranjak dari sofa dan mengikuti Hwanmi ke pantry. Dia mau menuangkan air mineral ke dalam mug-nya.  Saat minum, dia melirk lemari transparan tempatnya menyimpan berbagai minuman serbuk seperti kopi dan susu. Jongsuk membuka lemari itu dan dia tak menemukan koleksi kopi dan susunya.

      “Ke mana semua kopi dan susu?” tanya Jongsuk lalu memeriksa lemari es dan juga mendapati susu cari kemasan kotaknya hilang.

      “Ah itu. Tadi Hwanbi menyitanya waktu mengambil bajumu,” jawab Hwanmi yang sudah mengambil beras dan mau mencucinya.

      “Mwo?” Jongsuk terkejut. “Jangan bilang dia juga mengambil semua rokokku.”

      Hwanmi tersenyum tipis dan mengangguk.

 

08.30 am

      Jo twins memasuki apartemen Jongsuk. Hwanbi memenuhi permintaan Woobin untuk membawakan beberapa baju Jongsuk. Hwanmi dan Hwanbi memasuki kamar Jongsuk.

      “Wah si Donald rapi juga,” komentar Hwanbi melihat penataan di dalam kamar kecuali selimut Jongsuk yang tak sempat dirapikan Woobin.

       Hwanbi meminta Hwanmi mengambil beberpa baju.

      “Kenapa aku? Aku takut salah memilih baju,” protes Hwanmi saat Hwanbi membukakan lemari itu.

      “Ada yang harus kulakukan,” jelas Hwanbi sambil menyeringai.

      “Mwo?”

      Hwanbi memeriksa setiap rak dan laci di dalam kamar itu.

      “Hya! Kau menggeledah kamar seorang jaksa,” tegur Hwanmi sambil mengambil sebuah jaket.

      Hwanbi tidak peduli. Dia tak menemukan barang yang dia cari lalu meninggalkan kamar. Sasaran pertama Hwanbi adalah ruang baca. Dan dia menemukan benda yang dicarinya di dalam laci meja tulis. Dia mengambil satu box rokok dari sana, termasuk bungkusan yang ada di atas meja berisi setengah lusin rokok. Gadis itu keluar dari sana dan pergi menuju pantry

      Lima menit kemudian, si kembar bertemu di ruang tengah. Hwanmi sudah memilih dua pasang baju dan memasukannya ke dalam tas travel.

      “Kau tidak melewatkan pakaian dalamnya kan?” tanya Hwanbi.

      Hwanmi mendengus kencang. Ditatapnya kantong plastik besar yang dipegang Hwanbi. “Apa yang kau rampok?”

      Hwanbi memperlihatkan isinya. “Rokok, kopi, dan susu. Inspeksi mendadak yang sempurna agar si bibir bebek cepat sembuh saat pulang nanti.”

      Hwanmi terkekeh mendengarnya.

 

01.10 pm

      Jongsuk memukul lemari es, “Aissh! Bocah itu lancang sekali.”

      Hwanmi terkekeh sambil memutar keran. Jongsuk meliriknya, menatap punggung yeoja itu sejenak sambil berpikir

      “Hwanmi-ya,” panggilnya.

      “Ne,” jawab Hwanmi tanpa menoleh.

      “Tadi kau bilang kalau aku merasa berhutang, aku bisa membayarnya lain kali.”

      “Eoh,” tanggap Hwanmi sambil menoleh sejenak.

      Jongsuk menyeringai. “Aku akan membayarnya dengan kencan.”

      Hwanmi menoleh seketika. “Ye?”

      Jongsuk hanya tersenyum kecil dan melambaikan tangan. Dia melangkah pergi sambil menyambar sebotol air mineral yang masih baru.   

      “Aku mau istirahat dulu,” ucapnya.

      Hwanmi mencibir. “Bagaimana dia bisa menggodaku? Aku kan saudara sahabatnya.”

          ♫ LoN: Prosecutor♫

 

Mapo-gu,nogosan-dong,

Jum’at,25 Oktober 2013 07.00 am

     

      Yoon Yooseon menghampiri Hwanmi di kamarnya. “Hwanmi-ya, bisa pulang dulu nanti siang?” tanyanya pada si sulung yang sedang merapikan rambutnya

      “Ye, Eomma. Ada yang bisa aku bantu?” sanggup Hwanmi sambil memakai blazer merahnya.

      “Eomma akan membuatkan makan siang untuk Jongsuk. Kau bisa mengantarnya kan?”

      Hwanmi mengerutkan kening, “Ke rumahnya?”

      Yooseon mendengus pelan. “Ke kantor. Hwanbi bilang jaksa keras kepala itu masuk kantor pagi ini. Jadi eomma mau membuatkanya makan siang nanti.”

♫ LoN: Prosecutor♫

 

Mapo-gu, Gongdeok-dong, Seoul Western Public Prosecutor Office,

12.03 PM

“Soohyuk Oppa, Lee Geomsa memintaku untuk mengikuti perkuliahan dan ia bilang Oppa bisa mengantarku,” tukas Junhee.

Eoh. Ye?”

Soohyuk agak terkejut karena mendengar Junhee mengatakan kalau Jongsuk menyuruhnya mengantar Junhee ikut kuliah.

Segera ia berdiri dari duduknya dan bergegas menemui Jongsuk di ruangannya yang terpisah dari ruangannya. Soohyuk masuk saja tanpa mengetuk pintu. Saat itu Jongsuk sedang sibuk menatap layar laptopnya.

”Ketuk pintunya jika kau mau masuk!” ucap Jongsuk tanpa mengangkat kepala.

Jaksa yang memakai kemeja warna dark beige dibalut sweater hitam bahan wool dengan aksen garis-garis di dada itu tampak mengetik.

Soohyuk berlagak tak peduli. Lelaki yang memakai turtle neck sweater warna army dan celana jeans itu dihempaskan bokongnya di kursi di depan Jongsuk.

“Kau serius Junhee ikut kuliah?” tanya Soohyuk sambil mendorong layar laptop milik Jongsuk.

Dengan ekor matanya yang sipit Jongsuk melirik Soohyuk.

“Bukannya kau yang mengusulkan itu kemarin?” balas Jongsuk sambil memperbaiki letak layar laptopnya.

Soohyuk menggelengkan kepalanya menatap atasannya dengan perasan bosan.“Tapi aku tidak minta menemaninya.”

Jongsuk terkekeh.

“Terima saja. Toh kau senang kan karena si autis itu jadi dosennya,” ejek Jongsuk.

Ya! Jangan panggil Jun Yoojin autis!” protes Soohyuk keras tapi malah membuat Jongsuk terkekeh.

Wae? Kau serius dengannya?”

“Urus saja urusanmu sendiri!” balas Soohyuk sebal sambil mengacak dokumen Jongsuk yang ada di mejanya.

“Lee Soohyuk! Apa yang kau lakukan?” teriak Jongsuk.

Kalau saja tidak ada ketukan di pintu ruangan Jongsuk pasti sudah terjadi keributan seperti sewaktu di rumah sakit karena Jongsuk sudah berencana untuk melempar mouse bekas di jidat Soohyuk.

Annyeonghaseyo!

Jongsuk segera berdiri tegak karena melihat kehadiran salah satu kembar Jo di depan ruangannya. Sekarang ia tak akan salah lagi. Yang berdiri di depan adalah Jo Hwanmi. Jo Hwanbi tidak akan menyapanya dengan sopan.

Annyeong, Hwanmiya,” balas Jongsuk. Soohyuk juga ikut berdiri.

“Kalian berdua menunjukkan kedekatan atasan bawahan dengan cara yang unik,” tukas Hwanmi datar. Jongsuk tertawa sambil merangkul Soohyuk.

Ne, kami memang begitu. Benar kan, Soohyukah?”

Soohyuk terpaksa ikut tertawakarena Jongsuk merangkul sambil meremas bahunya.

Eomma memintaku mengantarkan makan siang. Eomma mengkhawatirkan keadaanmu,” tukas Hwanmi sambil mengangkat goodie bag yang dibawanya.

Eommonim memang baik sekali,” tukas Jongsuk. Hwanmi melangkah masuk lalu meletakkan kotak makan siang itu di atas meja.

“Bukankah kau bilang kau mau ke luar, Soohyukah?”

Soohyuk mendelik menatap Jongsuk. Jongsuk memberikan tatapan seolah dia mengusir Soohyuk.

“Ah, ye, aku memang ada janji mau ke luar makan siang. Na kalge!”

Mungkin Jongsuk benar-benar menginginkan privasi, pikirnya.Kau berhutang padaku, Bebek Jelek!

Soohyuk ke luar dari ruangan Jongsuk sambil mengomel dalam hati.

Aku akan berhitung denganmu nanti.

Dan sekarang ia harus ke luar makan siang karena Jongsuk memintanya ke luar. Ia melirik sudut berwarna merah muda yang letaknya berdampingan dengan mejanya.

 

Dari balik tirai transparan, Jongsuk bisa melihat Soohyuk pergi bersama Junhee. Hwanmi mengeluarkan beberapa lunch box dari goodie bag yang dia bawa tadi. Dia menata kotak-kotak itu di meja. Jongsuk duduk di sofa berhadapan dengan Hwanmi. Gadis itu membuka satu per satu tutup box.

“Wah eommonim benar-benar menyiapkannya untukku?” tanya Jongsuk.

Eoh, karena Donald ini nakal,” jawab Hwanmi cuek.

Jongsuk meloto. “Ya, Jo Hwanmi! Kenapa kau memanggilku seperti si Duffy?”

Molla,” jawab Hwanmi tanpa ekspresi. “Ayo makan selagi hangat.”

Jongsuk mendengus. Dia pun meminum teh yang dikemas tumbler. Jongsuk makan dengan lahap karena dia sangat menyukai masakan ibu si kembar. Tentu saja ditambah dia jarang memakan masakan home made.

      “Selama di Jepang aku banyak mendengar gosip miring tentang agensi milik Omar Choi itu,” ucap Hwanmi saat Jongsuk baru saja menghabiskan menu makan siangnya itu.

      Jongsuk terkekeh sambil berdiri untuk mengambil obat. “Seperti?”

      “Banyak. Yang terburuk adalah isu bahwa Omar Choi seorang pedofil,” jawab Hwanmi tanpa ekspresi.

      Jongsuk tergelak. “Mungkin saja itu gosip yang dibuat media hiburan.”

      Hwanmi menatap punggung lelaki yang sedang meminum obatnya itu. “Aku pernah menguntitnya karena diajak seorang teman kuliahku yang bekerja untuk media infotainment.”

      Jongsuk segera duduk kembali di sofa. “Menguntitnya? Michyeosseo?”

      “Omar Choi datang bersama seorang artis muda Buenos dan menginap di villa milik Jin Kazuya di Aomori. Sayang sekali bodyguard-nya mengetahui keberadaan kami dan dia merusak kamera temanku.”

      Jongsuk menatap Hwanmi serius. “Aku memperingatkanmu. Jangan pernah berurusan dengan orang itu.”

      “Wae? Aku begini karena penasaran dengan kematian seorang jurnalis 15 tahun lalu.”

      Jongsuk menelan ludah mendengarnya. “Maksudmu?”

      “Jurnalis Lee Seojin dan istrinya mengalami tabrak lari yang menyebabkan kematian. Itu terjadi setelah dia menulis berita tentang kematian seorang aktris muda Buenos.”

      Penjelasan Hwanmi benar-benar membuat Jongsuk terhenyak. Tubuhnya terasa lemas seperti saat masuk rumah sakit kemarin. Lelaki itu menghela napas pelan lalu menatap Hwanmi serius.

      “Hwanmi-ya, aku menyelidiki hal itu dan beberapa dugaan lain tentang kejahatan Omar Choi. Jadi kau jauhi saja dia. Kalau aku mendapatkan hasil dari setiap penyelidikan, aku akan memberitahumu.”

      Hwanmi tersenyum tipis. “Aku tak pernah lagi menguntitnya.”

      “Dia sangat berbahaya. Jadi, jangan pernah tertarik dengan gosip kejahatannya.”

      Mereka mendengar suara ketukan pintu. Jongsuk pun beranjak dari ruangannya menuju ruangan besar di luarnya. Dia membuka pintu dan mendapati sosok perempuan tinggi kurus berambut panjang. Perempuan itu membuka sunglasses-nya.

      “Boleh aku masuk, Lee Geomsa? Aku perlu berbicara dengan Anda.”

      “Ye, silahkan.”

      Perempuan yang mengenakan blus motif bunga dan mantel tebal itu tak lain adalah Evita Choi. Dia duduk di sofa, berhadapan dengan Jongsuk.

      “Langsung saja. Bagaimana bisa Anda melepaskan Jun Yoojin dengan asumsi bahwa mendiang tunanganku meninggal karena bunuh diri?” todong Evita.

      Jongsuk meneyeringai. “Bukti kurang dan saksi tidak ada. Sebaliknya, bukti-bukti yang aku dapatkan mendukung bahwa tunangan Anda memang berencana bunuh diri.”

      “Jun Yoojin ada di tempat kejadian dan sidik jarinya ada di botol wine,” bantah Evita.

      “Arasseo…” ucap Jongsuk tenang.

      Evita memotong, “Anda pikir kami akan diam? Aku berencana mengajukan penyelidikan ulang terhadap Jun Yoojin sekaligus pengambil alihan kasus ini pada jaksa lain.”

       “Silahkan,” tanggap Jongsuk sambil tersenyum tipis.

      “Anda menganggapku bercanda, Geomsanim?” tanya Evita sinis.

      “Tapi itu ide bagus juga, Miss Choi,” ucap Jongsuk dengan suara rendahnya. “Kalau Anda mengajukan penyelidikan ulang, mungkin jaksa lain akan bekerja lebih keras dariku dan keinginan Anda terkabul.”

      “Keinginanku?” tanya Evita.

      Jongsuk menyeringai. “Bukankah Anda yakin bahwa CEO Joo dibunuh? Kalau memang ada pelaku pembunuhan dan dia tertangkap, Anda senang kan?”

      “Sudah jelas Jun Yoojin pelakunya,” sanggah Evita sambil menghindari kontak mata dengan Jongsuk sejenak.

      Bibir tebal Jongsuk menggariskan senyum tenang. “Menurutku bukan seperti itu. Tapi Anda begitu yakin bahwa ini kasus pembunuhan, mengapa?”

      Evita meremas gagang tasnya. “Tentu saja karena bukti yang berada di TKP.”

      “Jadi Anda meragukan keprofesionalanku?”

      Perempuan itu mendengus kencang. “Geurae. Karena Anda tidak bisa menangkap Jun Yoojin, semua orang akan sadar betapa tidak profesionalnya Lee Jongsuk Geomsa. Saya jamin Anda akan menyesal,” cecar Evita lalu berdiri.

      Evita membalikan tubuh dan melihat Jo Hwanmi di ambang pintu ruangan pribadi Jongsuk.

      “Kau siapa?” tanya Evita sambil mendekat.

      Hwanmi menatap Evita datar. “Anda baru saja mengancam seorang jaksa, Evita-ssi?”

      Evita melihat ponsel yang digenggam Hwanmi. “Mwora?”

      “Kalau tidak ada lagi hal lain, Anda bisa pergi, Nona Choi,” ucap Jongsuk sambil berdiri.

      Evita malah merebut ponsel Hwanmi. “Kau merekam pembicaraan kami?”

      Hwanmi menatapnya datar. “Tolong kembalikan ponselku. Aku sama sekali tidak melakukan apa yang Anda tuduhkan.”

      Evita mengibaskan tangan Hwanmi saat berusaha mengambil kembali ponselnya. “Maaf, aku akan kembalikan setelah memastikan rekamanmu dihapus.”

      “Aku tidak melakukannya,” tegas Hwanmi dengan nada datar.

      “Miss Choi, tolong jangan membuat keributan di kantorku,” ucap Jongsuk. “Dan kembalikan ponsel itu.”

      Evita malah memasukannya ke dalam tas limited Gucci edition-nya membuat Hwanmi kesal.     

      “Anda bisa dituntut karena merampas barang pribadi,” ucap Hwanmi.

      “Silahkan,” ucap Evita sambil melenggos.

      Hwanmi menahan sikut yeoja itu. “Tolong kembalikan,” pinta Hwanmi dengan suara lembut tapi tatapannya cukup menusuk.

      “Hwanmi-ya,” ucap Jongsuk berusaha melunakan Hwanmi agar tidak emosi.

      “Karena kau berani menyentuhku, akan aku berikan,” ledek Evita. Dia pun mengeluarkan ponsel Hwanmi tapi melemparkannya ke luar jendela. “Silahkan ambil, permisi.”

      “Hya!” teriak Hwanmi sambil berusaha mengejar Evita tapi Jongsuk menahan lengannya. “Kau bisa dituntut karena merusak barang pribadi,” teriak Hwanmi kesal.

 

      Hwanmi dan Jongsuk berdiri di area kiri luar gedung kejaksaan. Mereka melihat ponsel Hwanmi yang hancur karena dilempar dari lantai 9. Hwanmi mendengus kencang sambil meremas ujung trench coat-nya.

      “Mianhae,” ucap Jongsuk.

      Hwanmi menoleh, “Kenapa Lee Geom harus minta maaf? Ini salahku karena hendak keluar di saat yang tidak tepat.”

      Jongsuk terkekeh. “Jadi tadi kau mau keluar?”

      Hwanmi mengangguk. “Karena aku merasa kalian akan berdebat lama.”

      Jongsuk menepuk bahu Hwanmi. “Kajja, aku antar ke kantormu.”

      “Kamsahamnida. Tapi aku tidak mau merepotkanmu,” tolak Hwanmi. Dilihatnya Jongsuk mau bicara tapi Hwanmi memotong. “Aku bisa naik taksi.”

      Tanpa menunggu lebih lama, Hwanmi pamit dan segera berjalan ke tepi jalan.

♫ LoN: Prosecutor♫

 

Dongjak-gu, Dongjak bridge, Noeul cafe, 07.15 pm

Noeul cafe Dongjak bridge, SeoulSeorang lelaki berkulit kecokelatan berjalan menaiki tangga menuju lantai 5 sebuah bangunan yang mengambang di atas sungai Han. Lelaki yang cukup tampan dengan garis rahang tegas dan sepasang mata kecil runcingnya itu tersenyum tipis begitu melihat sosok Lee Jongsuk duduk di depan meja yang menempel di jendela.

Si macho berpenampilan rapi dengan suit nuansa hitam dan kemeja warna burgundy itu menepuk pelan bahu Jongsuk.

“Apa kau berencana kencan di sini, Jongsuk-ah?” tanya lelaki itu curiga.

Dia menghubungi Jongsuk tapi Jongsuk berkata sudah membuat janji. Jongsuk mengangkat wajah lalu tersenyum sinis pada temanya yang kini duduk di sampingnya itu.

“Ada hal penting apa sampai kau memaksaku bertemu saat ini juga, Inguk-ah?” Jongsuk balik bertanya.

Lelaki itu bernama Seo Inguk itu tergelak. “Aku sangat sibuk, jadi baru bisa santai sejenak untuk mengatakan hal penting padamu,” jawab Inguk lalu menyesap bir yang sebelumnya sudah dipesankan Jongsuk.

Mwonde?” tanya Jongsuk dengan mata memicing.

Inguk melirik dulu sekeliling lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Jongsuk. “Kemarin aku dinner dengan Park Insoo,” bisiknya lalu menjauhi kepala Jongsuk.

Jongsuk melotot, “Mwo?”

“Aku bertemu dengan penyanyi cantik itu di pesta pernikahan temanku dan kami berkenalan. Kami pernah bertemu di toko buku dan kemarin kami bertemu lagi setelah dia menerima ajakan dinner,” jelas Inguk innnocent.

Jongsuk menganga lalu tertawa ketus. “Hya! Kau sebut itu penting, eoh? Aissh!” Jongsuk mengumpat kesal dan segera menyesap latte-nya.

Seo Inguk yang bekerja sebagai jaksa di kejaksaan agung itu malah tertawa renyah. “Aku belum selesai, Lee Jongsuk.”

“Apa lagi?” tanya Jongsuk sambil mendelik.

Seo Inguk merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah flash disc. “Ini, rekaman pembicaraan kami.”

Jongsuk mengangkat sebelah alis, seolah bertanya untuk apa dia mendengarkan obrolan kencan Seo Inguk dengan penyanyi cute Park Insoo.

“Sebelum bergabung dengan agensinya yang sekarang, Insoo seorang trainee Buenos. Dia keluar sebelum debut. Kau tahu cerita itu kan?”

“Maksudmu, Insoo menceritakan alasan sebenarnya dia keluar dari Buenos?” tanya Jongsuk.

Majja. Dia juga memberikan informasi tentang keadaan trainee waktu itu,” ucap Inguk.

Gomawo,” ucap Jongsuk.

“Aku minta kau tidak membocorkan pada siapapun apa yang kau dengar dari Insoo,” pinta Inguk. “Sulit sekali membuatnya percaya padaku.”

Geokjeongmal,” ucap Jongsuk dengan seutas senyum. “Tapi, apa kau benar-benar mau mengencaninya?”

Inguk melirik Jongsuk sinis. “Bukan urusanmu,” ucapnya sambil tersenyum misterius.

Jongsuk tergelak. “Aku lega kalau kau memang menyukainya. Setidaknya seseorang yang mengetahui informasi tentang Buenos, aman bersamamu.”

“Hya! Jangan melebih-lebihkan.”

Jongsuk melirik arloji. “Kau boleh pergi kalau selesai.”

“Ah, tebakanku benar. Kau menunggu seorang yeoja di sini,” Inguk balas meledek.

Jongsuk melihat Hwanmi memasuki cafe itu. “Palli kha!” tegasnya pada Inguk.

Arasseo,” tanggap Inguk sambil berdiri. “Jalga!”

Ne, gomawo,” balas Jongsuk sebelum Inguk membalikan tubuhnya.

Seo Inguk berpapasan dengan Hwanmi dalam perjalanannya menuju pintu keluar. “Jo Hwanbi!”

Hwanmi menoleh pada Inguk.

“Kau berkencan dengan Jongsuk?” tanya Inguk sambil tersenyum lebar.

Belum sempat Hwanmi merespon, Inguk menepuk pelan bahunya. “Na galkae. Have a nice evening!” ucap Inguk lalu melangkah.

 

Annyeong!” sapa Hwanmi.

Annyeong, have a seat!” Jongsuk menarik kursi untuk Hwanmi.

“Lelaki tadi temanmu?” tanya Hwanmi saat duduk di samping kiri Jongsuk.

Jongsuk melambaikan tangan memanggil pelayan. “Ye. Dia seorang jaksa agung. Apa dia menyebutmu Hwanbi?” tebak Jongsuk.

Hwanmi mengangguk. Saat pelayan datang, gadis itu memesan jus. Mereka menghadap dinding kaca. Dari sana, tampak pemandangan Seoul Tower dari jauh. Juga pemandangan malam sungai Han ditambah gemerlap malam kota.

“Apa yang mau dibicarakan Lee Geom padaku?” tanya Hwanmi.

Jongsuk tersenyum tipis dan mengambil sebuah paper bag yang dia letakan di kursi samping kanannya. Sekitar jam 2.30, Jongsuk menghubungi kantor Hwanmi dan memintanya bertemu sepulang kerja.

“Aku hanya ingin memberikan ini,” ucap lelaki itu sambil mengasongkan paperbag.

“Ini?” tanya Hwanmi.

“Buka saja,” ucap Jongsuk lalu menyesap latte-nya dengan santai.

Hwanmi mengeluarkan sebuah dus warna cabinet. Dari dusnya saja dia tahu apa isinya, sebuah phablet, Galaxy Note 3. Hwanmi mengangkat muka menatap Jongsuk.

“Secara tidak langsung, aku yang membuat ponselmu rusak,” potong Jongsuk.

Hwanmi menatap Jongsuk serius. “Kau tidak perlu repot-repot begini, Lee Geom. Aku berencana membeli ponsel baru sebelum pulang.”

“Kau tidak perlu membelinya karena aku sudah melakukannya,” tanggap Jongsuk datar. “Meskipun itu tidak sama dengan ponselmu sebelumnya.”

Kamsahamnida. Keundae, bisakah kau membiarkanku mengganti biaya ponsel ini?” pinta Hwanmi yang merasa tidak enak.

Jongsuk terkekeh. “Shireo. Terima saja, Hwanmi-ya. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kebaikanmu selama aku sakit. Ah iya, lunch box set yang tadi kau bawa, ada di mobilku.”

Hwanmi tersenyum tipis. “Tapi aku tulus melakukannya.”

Jebal. Keluargamu sangat baik padaku, jadi biarkan aku melakukan hal kecil seperti ini. Ara?” Jongsuk memohon.

Hwanmi mengangguk setelah berpikir sejanak. “Baiklah. Aku menerimanya, Lee Geom. Gomapseumnida.”

“Kau bisa gunakan sekarang untuk memotret pemandangan dari sini,” ucap Jongsuk.

Eoh. Aku sering lewat sini tapi belum sempat mampir,” tanggap Hwanmi.

Gadis itu membuka dus dan mengeluarkan phablet yang dibalut flip cover warna aqua blue. Di saat yang sama, Jongsuk menerma pesan singkat dari.

 [Seo Inguk] “Kau berkencan dengan Jo Hwanbi?”

 “Aissh!” umpat Jongsuk sambil mengetik pesan balasan.

Hwanmi melirik dan menyadari kalau Jongsuk menggunakan phablet seri yang sama.

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

15 thoughts on “Law of Natures 5 : PROSECUTOR (2)

  1. Wow menarik bgt loh. Jd belajar kenal nama2 bbrp aktris jg aktor. Foto2 yg ada jg membantu bgt. Jd tau settingan dr cerita.

  2. ahh~ jangan2 pelakunya memang evita Choi, wanita itu licik juga .. Keluarga yang harmonis 🙂 … Ngakak pas baca adegan di rumah sakit pas Soohyuk sama Jongsuk bertengkar, .. Sepertinya semua yang kenal Hwanbi selalu mengira Hwanmi itu Hwanbi .. Jo Twins, yang terlintas dalam pikiran ku Jo Twins nya Boyfriend *bedawoy 😀 .. Sukalah sama pasangan ini — Jongsuk & Hwanmi — 🙂

  3. aduuuwhh……………..
    mian.. eonni… baru bisa komen.. abis bingung mau komen apa….

    akhirnya… yoojin bebas juga…… tapi aku gregetan banget sama evita… knp harus nuduh yoojin padahal menurut aku… evita pasti terlibat….

    tapi kalo ngga ada kasus yoojin…. soohyuk ngga bakal deket sama yoojin….

  4. Hallo eonniedeul ^^/

    Tiap baca FF LoN ini ane selalu gregetan sm si kucing heelo ketty -_- kelakuannya mcm2 aja. Apaan minta diantrin soo hyuk! Ih ogah bgt si soo hyuk pasti mual dkt2 dia.

    Ane curiga akan soobyung ini, apa jgn2 dia sm evita yg udah merencanakan pembunuhan?

    Yaa! Duo Lee maen lempar2an, ayo lempar si Jun Hee aja dr lantai 9 wkwkwk

  5. tuuh bener nich dugaan ku tunangan nya emang ikut andil dalam aksi pembunuhan ini
    ckckc dasar ..

    kayaknya ada couple baruuuu nich cieeeee aseeek

    aq jadi makin penasaran nich sama cerita inih kaya KO ajah bikin penasaran dan gak bica berhenti buat baca
    .. 🙂
    Hwanbi melakukan inspeksi mendadak hahahah keren Duffy 😉

  6. Hallo, author.
    Pertama, Jongsuk ini benar-benar bekerja keras. Dia bekerja sekeras ini karena berhubungan dengan kematian kedua orangtuanya. Bagaimana jika suatu kasus tidak ada hubungan dengannya? Bisakah ia bekerja sekeras ini? Hha ‘kepo
    Kedua, Evitamala sudah saya duga di part sebelumnya kalau ada yang dia sembunyikan dan ternyata terjawab di part ini. Han Soobyung? Terlibat jugakah? Atau dia yang mengusulkan trik kematian menggunakan skrip yang di tulis Yoojin? Hmmm
    Ketiga, penggambaran tentang artis-artis Korea disini benar-benar menggambarkan bagaimana ‘keadaan dalam’ sesungguhnya di Industri hiburan Negara tersebut.
    Kelima, Junhee. Againn, OMG! Tiap baca part dia bikin kesel. Membayangkan dia pergi kuliah dengan segala sesuatu yang berbau Hello Kity, pasti orang mengira dia bocah Taman Kanak-Kanak
    Oke, lanjut baca next part.

  7. Onnieya, haduh Nana keterlaluan banget baru bisa komen sekarang padahal bacanya udah lama banget

    Yippie… Yoojin Onnie bebas, thanks to Lee Gomsa yang udah bantuin nyari bukti

    Wkwkwkwkwkwk itu duo Lee ribut, kebayang kalau si bawel Hwanbi ikutan, bisa tambah rame tuh :p

    Hei, Evita Choi, bisa ngga, sehari aja ngga nyebelin? Asli deh pengen nimpuk grgrgrgrgrggr

    Omoni itu kenapa Jaksa Agungnya salah ngira Hwanmi sebagai Hwanbi heheheheheh

  8. GOOD JOB THOUR ^^

    Prosecutor 2 ini Tidak Terlalu Tegang.. Banyak Comedynya 😀

    Bwaahahahaha 😀 ngakak aku Thour Pas Duwo Lee Berantem di RS. 😀 Seohyuk Ampe di Lempar Sendal Sama JongSuk Karna udah bkin JongSuk Jantungan Mendengar Miaw…Miaw… 😀

    Cie,Cie, SeoHyuk Kencan Sama Si Hello Kity 😉 Cie..Cie… *Di Cekek Seohyuk*

    Hwanbi Sayang Bnget ya Sma Jongsuk,, 🙂 Sampe-Sampe Kopi,Susu dan Rokoknya Jongsuk Di Basmi dari Rumahnya JongSuk 😀

    Evita Kuya Banget,, -_- Kenapa tuh Nenek Sihir Nyolotin bnget ya ??? Disss >..< Aku jatuh Cinta sama dokter KWON SANGWOO woooeeyy 😉 😉 😉

    FIGHTING THOUR \^O^/

    PENASARAN SIAPA PEMBUNUH SEBENERNYA -_-

    GOOD THOUR ^^

    1. Annyeong 🙂
      Part komedinya ditulis CS Unni ;-), aku hanya nambahin dikit
      Iya Hwanbi sayang JS kan mereka sahabat menahun, kekeke.
      Ciye naksir dokternya nih. Ntar disalamin deh.
      Kamsahamnida.

  9. Aaaaaaish menyebalkan choi inmin bener2 pengen aq sumpal tuch mulut’y :@

    Satu persatu bukti sedikit terungkap,yg mengganjal apa s’inmin nie da sangkut paut’y ma k’matian Sangwook????

    Cia cia cia yg menang taruhan euuuuy,mana tablet’y sama’n bikin envy iiiiiich :p

  10. Evita artis jadi bisa saja ia bicara tenang pada Lee Jongsuk.

    Inguk salah mengira Hwanmi adalah Hwanbi wkwkwkwkwk. Yang Jaksa Agung kenal Jo Byeonsa bukan Jo Hwanmi. Cieeee, dapat gadget baru, setype pula. Thank to Evita Choi!

    Apes si kucing yang sangkarnya di sudut, dia ngak tahu kalau atasan dan rekan sekerjanya ngak suka sama hasil kerjanya. Si atasan bahkan mengatakan dia tak sopan. Iya sih, masa masuk ruangan bos ngak ketuk pintu. Eh, itu pas Hwanmi datang, Soohyuk ngajak ke mana tuh kucing? Miaw miaw. Betty La Fea. wkwkwkwkw. Bayangin suara berat Soohyuk mengeong, jatuhnya gimana?

    Yee, Yoojin bebas!

    Nona Choi marah! Ya, benar, kalau kau ingin mengusut kasus ini, harusnya kau senang kalau jaksa lain bisa menemukan pembunuhnya. Atau kau memang ingin menuduh Yoojin sebagai pembunuhnya. Dasar!

    Thor, pengen nanya, itu kasir di Hollys usianya berapa sih? wkwkwkwk

    Ternyata setelah digabung Jongsuk – Soohyuk bikin ngikik. Itu bawahan sengaja bikin Lee Geomsa naik darah. Next!

    1. Annyeong Eonni 🙂
      Makasih udah mengizinkan saya ambil scenes yang Unni tulis. kekeke.

      Hahaha, gadget yang tadinya dipake motret sama Kim Myungsoo di MV Request, diganti sama gadget yang mereka semua pake di sana *kecuali DIno*
      Iya harus say thanks buat Evita Choi 😀

      Jaksa agung itu ga pernah tahu kalo Jo byeonsa punya twin 😛
      Belum diungkap di sini isi rekaman yang dia kasih.

      Iya lucu banget Duo Lee di sini. Bagai Tom and Jerry. Untung aja itu sendal sama sendok tepat sasaran, coba kalo meleset ke nyonya Yoon.

      Kasir Hollys, ane kurang tau. Ngikut Unni aja tuh manggil Oppa. wkwkkwkw

      Kamsahamnida buat long long reviewnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s