Law of Natures 4 : PROSECUTOR (1)

[4] Law of Natures:

Prosecutor (1)

paradise fiction lee jongsuk

By :

Chelsea 

| Romance/Crime/Action | PG 17 | Series |

 Casts :

Lee Jongsuk

Lee Soohyuk, Kim Woobin

Jo Hwanmi (OC)

And others potrayed below

♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Previous Part :

1. The Court | 2. Sweet Defendant 1 |

| 3. Sweet Defendant 2 |

Warning : Look at the timeline carefully. Every Flashback signed by date 

Yongin city, Jum’at 16 Januari 1998 05.52 pm KST

Lee Seojin, seorang jurnalis untuk sebuah majalah baru saja pulang ke rumahnya. Istri dan anaknya yang berusia 13 sedang menyaksikan berita di TV yang menayangkan kematian seorang aktris remaja. Daphne, aktris berumur 17 dari agensi baru Buenos Entertainment, dua hari lalu ditemukan sudah jadi mayat dan mengambang di sungai Han dekat jembatan Banpoo. Daphne dinyatakan bunuh diri dengan meloncat ke sungai Han setelah sebelumnya meninggalkan pesan di buku hariannya.

Yeobo, aku membeli galbi kesukaan Namsun.”

Park Eunhye berdiri dan mengambil bungkusan yang diberikan suaminya, “Kasihan, dia masih muda tapi memilih jalan pintas untuk bunuh diri,” ucapnya mengomentari berita.

Lee Seojin duduk di samping Namsun, bocah lelaki yang sedang mengerjakan PR Matematika. “Bagaimana sekolahmu hari ini Namsun-ah?”

Namsun menengadah menatap ayahnya. “Abeoji, aku mendapat nilai tertinggi ulangan IPS.”

Chukae! Benar-benar momen yang pas. Abeoji membeli galbi untukmu,” ucap Seojin sambil mengelus  rambut bocah lelaki itu.

Daphne  tidak tewas bunuh diri, sebuah surat kabar menulis berita bahwa Daphne diculik dan dibunuh. Beberapa foto menampakan kalau gadis remaja itu tampak diseret beberapa preman.”

Seojin segera kembali ke ruang tengah mendengar apa yang diucapkan pembaca berita.

Yeobo, siapa yang menulis berita itu?” tanya Park Eunhye mengenal surat kabar di mana suaminya bekerja.

“Aku yang menulisnya,” jawab Seojin santai.

Park Eunhye terkejut. “Jeongmal?”

Seojin tertawa, “Ketika kita menemukan kebenaran, kita tidak boleh tinggal diam. Semoga gadis itu mendapat keadilan dan pelakunya ditangkap.”

Lelaki berumur 43 itu pun mengatakan mendapat bayaran besar karena menulis berita itu. Dia akan membawa keluarnya liburan ke pulau Jeju.

 

Yongin city, Jum’at 16 Januari 1998 02.10 pm KST

Namsun sedang berjalan bersama beberapa temannya mendekati gerbang sekolah. Dia melihat Ahn Kilkang, teman baik ayahnya, berdiri di dekat jeep miliknya.

Ahjusshi!” panggil Namsun sambil menghampiri.

Wajah Kilkang tampak tegang. “Namsun-ah, aku datang menjemputmu,” ucapnya sambil berusaha tersenyum manis.

Dalam perjalanan, Kilkang hanya berkata kalau dia disuruh ayah dan ibu Namsun. Tapi kemudian mobil memasuki rumah sakit. Kilkang belum terus terang sampai mereka berdua memasuki sebuah lift. Bocah itu terkejut saat Kilkang mengatakan bahwa kedua orangtuanya mengalami kecelakaan satu jam lalu. Lee Seojin menjemput istrinya yang sehari-hari mengajar balet. Sebuah truk menabrak mobil Lee Seojin di sebuah tikungan karena rem blong. Dokter mengatakan bahwa detak jantung Park Eunhye berhenti selamanya. Sementara Lee Seojin masih ada di ruang bedah. Lee Seojin sempat siuman tengah malam tapi meninggal tak lama setelah itu.

JS's parents

♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Seoul, Mapo-gu,Mangwon Hangang Park,

Minggu, 20 Oktober 06.52 am KST

Lee Jongsuk dan Kim Woobin sedang jogging di Mangwon Hangang park. Jongsuk mengenakan stelan training dan jaket hitam sementara Woobin memakai stelan warna merah. Keringat menguap di wajah dan tubuh mereka. Matahari baru terbit 15 menit lalu dan mereka sudah berlari hampir sejam. Ponsel Woobin berdering. Dia melihat nama Lee Jihoon di layar. Namja itu memelankan kecepatan larinya.

Ye, Jihoon-ah?” tanya Woobin.

Jongsuk memperhatikan Woobin. Raut wajah sahabatnya itu tampak serius.

Ye, aku ke sana sekarang. Kirimkan alamatnya melalui pesan.” Woobin mengakhiri pembicarannya.

Wae?” tanya Jongsuk.

Jihoon memberitahu tentang laporan Joo Sangwook ditemukan tewas di apartemennya. Woobin segera pergi dan Jongsuk menghubungi Lee Soohyuk.

♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

12.07 pm KST

            Lee Jongsuk duduk di meja makan pantry apartemennya di kawasan Hapjeongdong distrik Mapo. Dia menikmati makan siangnya, semangkuk bubur, karena dua hari lalu maag-nya kambuh. Jongsuk terpaksa menjaga makanannya dan menahan untuk tidak meminum kopi dan susu. Soohyuk sudah memberi kabar tentang kasus Joo Sangwook dan kemungkinan besar Jongsuk akan mengambil kasus itu mengingat saat ini dia tidak menangani kasus apapun kecuali penyelidikan tentang Buenos Entertainment.

            Jongsuk mendengar nada dering dari ponselnya. Dia beranjak ke living room dan membuka flip cover warna kuning yang menutup smartphone-nya. Keningnya mengerut melihat nama Chief Jo Sungha di layar.

            “Ne, Abeonim.”

            “…..”

            “Aku ada di rumah,” ucap Jongsuk. Lelaki itu menyorotkan tatapan serius sambil menyimak ucapan kepala kepolisian kota Seoul itu.

            “Baiklah, aku sendiri berencana ke sana sekarang.”

2011-kia-k7-cadenza-5

            10 menit kemudian, Jongsuk sudah mengendarai New K7 hitamnya menuju kantor polisi distrik Mapo yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Jongsuk mengenakan blue jeans, kemeja hitam dan trench coat warna army. Jo Sungha menceritaka tersangka kasus kematian Joo Sangwook yang tak lain adalah Jun Yoojin, putri dari sahabat baik ayah Hwanmi dan Hwanbi itu. Sungha meminta Jongsuk mengambil kasus itu yang akan diserahkan kepadanya besok. Chief Jo sudah meminta kepala polisi Mapo untuk segera menyerahkannya begitu penyelidikan terhadap tersangka selesai. Jongsuk harus secepat mungkin menyelesaikannya karena bisa berpengaruh terhadap Jun Kwangryul.

            “Dengan kemampuanmu, kau bisa membuktikan Yoojin tidak bersalah secepatnya,” ucap Jo Sungha tadi.

♫ LoN 4 : Prosecutor♫

           

Senin, 21 Oktober, 09.50 am KST

            Jongsuk sudah menerima berkas resmi penyerahan kasus Joo sangwook tadi pagi. Setelah itu, Lee Soohyuk ditugaskan pergi ke rumah Hwanbi setelah pengacara itu memberitahunya bahwa Yoojin akan pergi ke pemakaman. Dia sedang mengendarai New K7 hitamnya dalam perjalanan kembali dari gedung Aurora Entertaiment, Apgeujong-dong, untuk menemui Sung Hyesang dan managernya. Setelah berbincang dengan Hyesang, Jongsuk menolong gadis itu untuk menyelesaikan masalahnya. Hyesang diancam oleh seorang penyanyi inisial JP, rekan Hyesang di agensi terdahulu. Dia baru saja menerima panggilan dari Jo Hwanbi. Dia akan datang ke kantor Jongsuk bersama Jun Yoojin setelah makan siang nanti.

♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Mapo-gu, Sinsu-dong,04.20 pm,

            Lee Jongsuk berada di dalam living room apartemen Joo Sangwook. Dia memeriksa seluruh apartemen yang hanya terdiri dari dua kamar, satu living room, satu dapur, satu kamar mandi di dekat dapur dan balkon.  Lee Soohyuk sedang meminta rekaman CCTV luar gedung. Jongsuk kini berada di balkon. Dia memeriksa beranda seluas 2 x 6 meter itu. Di sana hanya ada sebuah meja bulat yang diapit sepasang kursi. Jongsuk menutup pintu dari luar dan memeriksanya. Dia tak menemukan petunjuk apapun atau jejak kaki. Jongsuk beralih ke ujung beranda menengadah ke atas lalu menoleh ke bawah. Dia menggigit bagian atas bibir bawahnya dengan kening berkerut. Jongsuk kembali menoleh ke balkon atas.

            “Jongsuk-ah,” Lee Soohyuk membuka pintu balkon. “Aku sudah melihat CCTV, sebuah sedan hitam datang bersamaan dengan mobil korban dan diam di seberang gedung sampai jam 10 malam.”

            “Jinja?” tanya Jongsuk.

            “Aku sudah menyalin rekamannya,” tanggap Soohyuk.

            Mereka segera beranjak dari sana. Soohyuk meletakan laptopnya di atas meja makan dan mereka berdua duduk di kursi. Soohyuk memutar video yang memperlihatkan sebuah sedan hitam datang jam 07.43 pm. Soohyuk melakukan zooming untuk melihat pengemudi. Tampak seorang lelaki memakai topi hitam,jaket cokelat, hipster glasses bening dan masker warna putih.

            “Sial!” pekik Jongsuk saat dia tak bisa melihat wajah lelaki itu.

            Soohyuk memindahkan kursor untuk skip pada jam 08.49 saat mobil Yoojin meninggalkan gedung apartemen. “Dia keluar sebentar sambil melakukan panggilan telepon,” ucap Soohyuk.

            Lelaki dengan tinggi kisaran 180 itu keluar dari mobilnya dan melakukan panggilan telepon tak sampai satu menit. Dia masuk kembali dan keluar pada jam 10. Lelaki itu memasuki gedung apartement. Soohyuk membuka file lain yang menunjukan rekaman di dalam lift. Lelaki itu keluar di lantai 10 lalu memasuki apartemen nomor 95.

            “Apa kau sudah memeriksa apartemen nomor 95?” tanya Jongsuk.

            “Ne, tepat di atas apartemen korban,” jawab Soohyuk. “Apartemen itu atas nama Jang Nayoung, seorang pegawai YG Ent. Dia berangkat ke Jepang Sabtu siang dan kembali tadi malam. Aku sudah menghubunginya dan dia dalam perjalanan kemari. Dia melaporkan kehilangan smartkey pada pengelola apartemen dan sudah meminta smartkey yang baru.”

            Kedua lelaki berkaki panjang itu langsung keluar dari sana menuju apartemen di atas. Jang Nayoung datang dan mempersilahkan mereka masuk.

            “Kapan smartkey yang Anda miliki hilang?” tanya Jongsuk saat mereka bertiga berjalan menuju balkon.

            “Seseorang mengambil tasku saat aku keluar toilet di bandara. Petugas keamanan mengejarnya dan tak ada yang hilang,” jelas perempuan berambut sebahu yang mengenakan trench coat panjang warna hitam itu. Dia hendak menyentuh gagang pintu.

            “Jamkanman,” cegah Jongsuk, “Apa Anda pernah membuka pintu ini sejak pulang?”

            Perempuan itu menggeleng. “Semalam aku langsung tidur dan tadi pagi pergi ke gedung YJ.”

            “Jadi pencopet itu hanya mencuri smartkey?” tanya Soohyuk sementara Jongsuk memeriksa gagang pintu.

            “Kata petugas, dia tak sempat mengambil apapun karena cepat tertangkap. Sayangnya aku baru sadar kehilangan smartkey setelah sampai di Jepang. Saat aku tiba di bandara tadi malam, petugas keamanan sudah melepaskan pemuda itu.”

            Jang Nayoung mengatakan si pencopet berusia belasan tahun. Jongsuk pun membuka pintu karena tak ada sidik jari tertinggal di sana. Dia memeriksa lantai dan tembok. Dia melihat goresan di tembok.

            “Soohyuk-ah,” ucap lelaki itu. “Hubungi petugas keamanan bandara dan tanyakan identitas pencuri.”

            “Ye,” ucap Soohyuk sambil berjalan masuk.

            “Geomsanim, kenapa Anda memeriksa rumah saya? Bukankah pembunuh CEO Joo sudah ditangkap?” tanya perempuan itu penasaran.

            Jongsuk yang sedang memotret goresan di tembok tersenyum tipis. “Dia hanya tersangka. Belum tentu pembunuh sebenarnya. Kami melihat seorang pria masuk ke sini jam 10 malam. Ada goresan di sini seperti bekas logam pengait yang mungkin digunakan untuk tali sebagai alat agar dia bisa turun. Kemungkinan besar dia memasuki apartemen CEO Joo lewat sini.”

            Perempuan itu syok. “Ye? Kalau begitu, dia sudah mempelajari situasi di sini?”

            Jongsuk tersenyum kecil. “Sepertinya begitu. Geokjeongmal. Aku sudah meminta pengamanan ekstra di sini.”

            Soohyuk datang memberi kabar bahwa dia sudah mendapatkan identitas pencopet.

     ♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Noryangjin fish market, Nodeul-ro, Dongjak-gu,06.07pm,

            Jongsuk dan Soohyuk mencari bocah berumur 17 yang mencoba mencuri tas Jang Nayoung di bandara. Bocah bernama Kim Donghyun itu seorang yatim piatu yang bekerja di  pasar ikan Noryangjin sebagai kuli angkut barang. Bocah itu terbiasa tidur di stasiun bus terdekat.

            Jongsuk mengunjungi pasar ikan yang terkenal di kota Seoul itu. Menurut orang-orang di pasar dan di stasiun sana, dia tak kembali sejak hari Sabtu. Dia mengemasi barang dan berkata akan tinggal di rumah pamannya di Yongin. Saat ini Jongsuk berada di kios milik seorang Ahjumma yang sering mempekerjakan bocah itu

          “Apa Ahjumma pernah mendengar nama pamannya?” tanya Jongsuk.

“Tidak pernah.”

Jongsuk terlihat kecewa dan dia mengucapkan terima kasih pada ahjumma itu. Jongsuk menatap sungai Han di dekat pasar ikan itu. Dia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Soohyuk yang pergi mencari informasi di stasiun bus.

“Bagaimana Soohyuk-ah?” tanya Jongsuk begitu Soohyuk menjawab panggilannya.

“Tak ada seorang pun yang tahu. Tapi pada jumat malam, Kim Donghyun membawa banyak makanan untuk teman-temannya.”

“Makanan apa?” tanya Jongsuk.

“Sekotak bibimbap dan ayam goreng. Mereka berkata Kim Donghyun membelinya sendiri dan aku sudah memeriksa penjual makanan. Benar Kim Donghyun sendiri yang membelinya,” jelas Soohyuk. “Kim Donghyun berkata pada teman-temannya kalau dia mendapat uang setelah menolong seorang ahjusshi. Ah, bagaimana denganmu?”

Jongsuk mengela napas. “Aku tak menemukan apapun. Sekarang, kau pergi ikuti Jun Yoojin.”

Mwo?” tanya Soohyuk.

“Ikuti saja dia. Mungkin kau akan mendapat petunjuk. Aku akan mengatakan pada Woobin kalau kau mengganti Minhyuk mengawalnya.”

Arasseo.”

“Sekarang aku akan mengunjungi Tango wine house,” ucap Jongsuk sebelum mengakhiri panggilannya.

Jamkanman,” pinta Soohyuk membuat Jongsuk tak jadi menyentuh icon End. “Apa kau sudah menyimpulkan 100 % bahwa Joo Sangwook dibunuh dan Jun Yoojin bukan pelakunya?”

“Kita masih menyelidikinya Soohyuk-ah,” ungkap Jongsuk.

“Kalau keberadaan sedan hitam itu ditemukan dan ada pelanggan wine, kau akan membebaskan Jun Yoojin kan?”

“Aku harus menemukan Kim Donghyun dan sedan hitam itu.”

♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Gangnam-gu,Cheongdam-dong, 07.20 pm,

Lee Jongsuk menghentikan mobil di depan sebuah bangunan dua lantai. Bangunan itu tak lain adalah Tango Wine House yang dimiliki Diego Gabriel Choi alias Choi Eunsoo yang tak lain adalah calon mertua Joo Sangwook. Jongsuk menatap papan nama Tango Wine House. Pandangannya seolah melayang ke dalam ruang kecil di dalam kamarnya. Jongsuk memasang whiteboard di dinding ruangan itu. Di sana dia menempelkan foto dua orang lelaki, salah satunya adalah Diego Choi pria berumur 61 pemilik toko wine Tango.

Lee Jongsuk menekan speed dial angka 1 dan menghubungi seseorang.

“Bagaimana kabarmu, Abeoji? Mianhamnida, aku sangat sibuk dan jarang menghubungimu,” ujar Jongsuk bergitu panggilannya dijawab. “Oh, syukurlah kalau Abeoji, Eomma, Hyung, dan Chaewoo baik-baik saja. Bagaimana dengan bisnis Abeoji?”

“Berjalan lancar. Keundae, kenapa kau tiba-tiba menghubungiku, apa ada masalah?” tanya suara seorang pria dewasa yang terdengar rendah dan menggelegar.

“Aku butuh bantuanmu, Abeoji. Apa Abeoji bisa membantuku mencari orang?” tanya Jongsuk. “Kim Donghyun berumur 17. Punya seorang paman yang tinggal di Yongin. Dia sudah tiga tahun tinggal di Seoul.”

“Tentu, aku akan membantumu. Apa kau punya foto bocah itu?” tanya pria yang Jongsuk panggil Abeoji itu.

“Aku akan mengirimnya melalui pesan multimedia. Kamsahamnida, Abeoji. Kalau kasus yang kutangani selesai, aku akan menyempatkan diri mengunjungi kalian di Gyeongju.”

“Tentu saja. Kalau kau sudah punya pacar, kenalkan pada kami,” tanggap pria itu.

Jongsuk terkekeh. Setelah pembicaraannya berakhir, dia mengirimkan foto Kim Donghyun. Jongsuk terdiam sejenak dan ingatannya melayang pada kejadian 10 tahun lalu.

 

Gyeongju, 2003 06.52 am KST

 “Jadi kau sudah diterima di Fakultas Hukum Universitas Yonsei?” tanya Ahn Kilkang pada seorang remaja berumur 18 yang duduk berhadapan dengannya di dalam cafetaria.

Ye, Abeoji,” jawab bocah itu sambil tersenyum senang. “Abeoji mengizinkanku tinggal lagi di Seoul kan?”

Ne, tapi kau tak boleh bercerita pada siapa pun tentang dirimu, Jongsuk-ah,” ucap lelaki bertubuh tinggi yang punya wajah cukup menyeramkan itu.

Ayah tiga anak itu bercerita tentang kebenaran kematian orangtua kandung Jongsuk empat tahun lalu. Ahn Kilkang, mantan ketua gengster terbesar di kota Yongin bersahabat dengan ayah kandung Jongsuk, Lee Seojin yang berprofesi sebagai jurnalis untuk sebuah media massa. Suatu malam, Ahn Kilkang mendapat tamu di pub miliknya, pria itu mengaku sebagai asisten pribadi Omar Choi, direktur Buenos Entertaiment. Omar Choi menugaskannya mencari seorang aktris agensi itu yang melarikan diri dan terakhir terlihat di kota Yongin. Pria itu memberikan sejumlah uang pada Kilkang untuk menangkap si aktris yang dikatakan mencuri uang milik Omar Choi. Kilkang pun menyanggupi dan dia mengerahkan anak buahnya untuk mencari aktris berumur 17 yang baru debut setahun itu. Dalam dua hari, anak buah Kilkang menemukan Daphne . Lalu pria dari Buenos itu menyuruh anak buahnya, beberapa preman berpakaian rapi, untuk membawa Daphne ke dalam mobil. Pria itu mengancam Kilkang agar tidak menceritakan hal itu pada siapa pun.

Kilkang terkejut saat Lee Seojin mendatanginya keesokan harinya, menanyakan orang yang sama. Lee Seojin berkata bahwa Daphne  dikabarkan melarikan diri karena mengalami pelecehan seksual di agensi Buenos. Kilkang menceritakan tentang Daphne  tapi dia memperingatkan Seojin bahwa itu hal berbahaya. Tanpa sepengetahuannya, Seojin pergi ke Seoul. Dia mendapat informasi bahwa Daphne berada di distrik Nowon, di utara kota Seoul, di rumah kecil milik Omar Choi. Seojin sempat melihat Daphne diseret keluar oleh beberapa preman dan memotretnya. Seojin mau mengejar tapi kehilangan jejak di daerah distrik Dongdaemun. Saat baru tiba di kota Yongin keesokan siangnya, Seojin melihat berita Daphne  ditemukan tewas di sungai Han. Dia diduga bunuh diri dengan meloncat ke sungai Han karena meninggalkan pesan di buku diary-nya.

Seojin menulis berita tentang penculikan yang dialami Daphne dan isu pelecehan seksual yang dialaminya. Dia juga memasukan foto-foto Daphne malam itu.

“Sebelum meninggal, ayahmu berpesan padaku untuk tutup mulut dan memohon membesarkanmu,” ucap Kilkang sambil menunduk. “Mianhae, Jongsuk-ah. Aku bersalah sudah membertahukan tentang aktris itu dan ayahmu harus menerima nasib buruk karenanya.”

Abeoji, apa maksudmu kecelakaan yang dialami ayahku adalah kesengajaan?” tanya Jongsuk. Dilihatnya Kilkang mengangguk lemah. “Bagaimana bisa?”

“Itu perbuatan anak buah Omar Choi yang juga sebelumnya datang mengancamku. Karena itu aku memasukan nama Lee Namsun dalam daftar pencarian orang hilang agar mereka tak mengetahui keberadaanmu. Aku khawatir mereka akan mencelakaimu juga,” jelas Kilkang. “Aku meminta bantuan pejabat kota yang pernah menerima bantuanku untuk mengganti identitasmu. Sejak kita pindah ke kota ini, kau menjadi Lee Jongsuk, anak angkatku yang aku adopsi dari panti asuhan di sini.”

Jongsuk menunduk lesu. Airmatanya menggenang dan dia meremas celananya.

Mianhae Jongsuk-ah, maksudku, Namsun­-ah,” ucap Kilkang lirih.

daph

     ♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Gangnam-gu,Cheongdam-dong, Senin, 21 Oktober 2013 07.23pm,

            Jongsuk turun dari mobilnya. Dia tak berharap bertemu Diego Choi, kakak dari pembunuh ayahnya. Ahn Kilkang yang membawanya pindah ke Gyeongju dan orang-orang Omar berkali-kali mengunjunginya. Ahn Kilkang kini mengelola resort di kawasan pantai kota Gyeongju. Dulu Jongsuk mengambil jurusan hukum karena murni ketertarikannya dengan dunia hukum. Tapi sejak mengetahui fakta tentang kematian ayahnya, Jongsuk ingin menjadi jaksa untuk menangkap Omar Choi.

            “Eoseo eosipseyo! Welcome!” ucap pelayan mengatakan selamat datang dalam dua bahasa, Korea dan Latin. [Welcome diucap ‘welkome’ dalam bahasa Latin]

            Jongsuk tersenyum tipis pada pelayan yang mengenakan kemeja motif belang biru putih dan rok mini hitam. Kostum itu mengingatkan Jongsuk pada jersey timnas Argentina. Lelaki dengan tinggi 186 itu menunjukan kartu identitasnya sebagai jaksa.

            “Saya Lee Jongsuk dari kejaksaan wilayah Seoul Barat. Saya ingin memeriksa catatan pembelian sebuah merk wine dalam sepekan,” ucapnya to the point.

            Pelayan itu mengantar Jongsuk ke ruangan managernya. Lalu dia menanyakan data pembelian Chteau Lafite Rothschild Pauillac 1996 dalam sepekan.

            20 menit kemudian, Jongsuk kembali memasuki mobilnya dan membuka buku memo kecil. Jongsuk mendapat tiga nama yang membeli wine merk itu dan memotret foto mereka dari CCTV. Pertama, seorang perempuan berumur kisaran 50. Lalu seorang pria berumur 30 lebih. Pelayan juga mengatakan putri pemilik Tango yang tak lain adalah Evita Choi, datang ke toko hari Jum’at dan mengambil wine merk Chteau Lafite Rothschild Pauillac 1996.

            Jongsuk mengirimkan dua foto pelanggan Tango dan nomor polisi mobil kedua pelanggan itu pada detektif Yoon yang bekerja di kantor kejaksaan yang sama. Jongsuk menghubungi detektif itu melalui ponselnya.

            “Penyidik Yoon, aku butuh bantuanmu mencari dua orang ini,” ucap Jongsuk. “Ye, kamsahamnida.”

            Lelaki itu kemudian menghubungi seorang aktris di Buenos Entertainment untuk meminta nomor ponsel Evita Choi. Setelah itu dia menghubungi Evita tapi diterima oleh managernya. Aktris itu sedang acara syuting talk show di sebuah stasiun TV. Dia akan menghubungi Jongsuk 90 menit lagi. Jongsuk pun melajukan mobilnya.   

                 ♫ LoN 4 : Prosecutor♫

08.07 pm KST

            Lee Jongsuk menikmati makan malamnya di sebuah restoran Korea di kawasan Cheongdam-dong. Dia memakan kalguksu dan mandu. Sup itu menghangatkan tubuhnya yang diterpa cuaca yang mulai dingin. Jongsuk sudah mendapat informasi dari penyidik Yoon tentang dua pelanggan Tango yang membeli wine Chteau Lafite Rothschild Pauillac 1996. Pertama, Jang Mihee, seorang Profesor yang tinggal di distrik Gwangjin dan Yun Jonghwa, seorang arsitek yang tinggal di distrik Seongpa. Selesai makan 10 menit kemudian, Jongsuk meninggalkan restoran menuju distrik Gwangjin.

            Jongsuk menemukan rumah Profesor Jang Mihee tapi putra sang profesor berkata ibunya masih berada di Irlandia untuk menghadiri seminar. Jang Mihee berangkat hari Jum’at dan membawa wine yang dibelinya dari Tango. Bahkan pemuda itu menghubungi ibunya melalui video chat. Profesor Jang menunjukan botol wine yang masih menyisakan 3/4 isinya. Jongsuk pun pamit dan mengucapkan terima kasih atas bantuan informasinya. Lalu jaksa muda itu melajukan mobilnya menuju rumah Yun Jonghwa di sebuah gedung apartemen dekat taman Songpanaru distrik Seongpa. Setelah menempuh 25 menit perjalanan, New K7 hitam milik Jongsuk memasuki area parkir gedung apartemen tersebut.

     ♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Mapo-gu, 09.45 pm KST

            Penjaga kasir itu memasukan satu cup sweet potato latte panas dan honey baguette bowl ke dalam paperbag lalu memberikannya pada Jongsuk.

            “Kamsahamnida,” ucap Jongsuk.

            “Oppa,” panggil penjaga kasir berambut panjang lurus itu. “Apa malam ini lembur?”

            Jongsuk tersenyum tipis, “Eoh,” jawabnya. Lalu dia melambaikan tangan dan keluar dari Hollys Coffee House itu.

            Lima menit kemudian, lelaki bertubuh tinggi itu memasuki kantornya yang sudah sepi. Ini sudah lebih dari 90 menit dan Evita Choi belum menghubunginya. Jongsuk melihat amplop kecil warna cabinet yang ditaruh detektif Yoon. Dia pun menyalakn laptop dan menancapkan flash disc dari amplop itu.

            Detektif Yoon membantunya mendapatkan rekaman CCTV dari cafe di Seonyudo. Jongsuk memutarnya dan melihat Jung Soryong masuk lebih dulu dan tak lama kemudian Yoojin masuk. Beberapa menit kemudian, kembaran Soryong masuk. Soryong keluar dan Yoojin duduk berdua dengan Daeryong. Rekaman terakhir menampilkan Yoojin mengendari mobilnya dengan ekspresi panik. Jongsuk menggigit bagian atas bibir bawahnya sambil membuka dasi. Jongsuk melirik arloji dan dia merasa kesal karena keponakan pemilik Buenos Ent itu belum menghubunginya.

            “Aissh!” umpat lelaki itu lalu menyesap latte dan memakan baguette.

            Dia membuka sebuah folder data yang beberapa hari lalu diberikan Woobin dalam sebuah flash disc. Woobin memberikan beberapa data hasil penyelidikan terhadap Buenos Ent. Jongsuk membuka beberapa file hasil screen capture percakapan seorang intel polisi yang menyamar dengan seorang pengurus bandar judi. Woobin berkata, dia mencurigai seorang artis Buenos menjadi bandar judi ilegal MotoGP yang sudah beroperasi sejak race pertama MotoGP tahun ini. Woobin tinggal menunggu waktu tepat untuk melakukan inspeksi dan menangkap si bandar judi ilegal yang beroperasi secara online itu.

            Lalu Jongsuk membuka satu folder berisi rekaman percakapan di dalam sebuah kamar hotel. Dia sudah mendengarkannya tapi mau memutar ulang. Seorang artis Buenos bercakap-cakap dengan seorang lelaki umur lewat 50 dan tampaknya mereka melakukan hubungan seksual. Tapi percakapan itu belum menunjukan bahwa si selebriti melakukan pelayanan plus itu karena managemennya. Lee Soohyuk pernah menyelidik dugaan bahwa Buenos sering mengirim artis-artisnya untuk melayani beberapa pejabat dan sponsor. Selain itu, Soohyuk juga menyelidiki eksploitasi remaja di bawah umur yang dilakukan agensi itu pada artis muda dan trainee mereka.

            Jongsuk menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi dan dia meraih cup putih dengan logo merah di tengahnya itu. Dia menyesap lattenya pelan.

            ‘Kenapa sulit sekali menangkap bajingan gila bernama Omar Choi itu?’ guman lelaki itu sambil meraih bungkus rokok dan lighter. Dia menyalakan rokok lalu menyesapnya pelan. Ponselnya berdering dan dia menjawab panggilan tanpa membuka flip cover.

            “Yoboseyo!”

            “Apa ini Lee Jongsuk Geomsanim?” tanya seorang perempuan.

            “Ye. Dengan siapa saya bicara?” tanya Jongsuk.

            “Evita Choi,” jawab perempuan itu.

            Jongsuk langsung menekan opsi rekam. “Ye, Miss Choi. Maaf mengganggu kesibukan Anda. Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal tentang kasus kematian tunangan Anda.”

            “Ya, silahkan. Saya juga berharap tersangka dijebloskan ke penjara secepatnya. Saya tidak tenang karena dia berkeliaran bebas meski menyandang status tahanan kota.”

            Jongsuk menyeringai mendengar ungkapan barusan. “Mullon. Bisa kita mulai?”

            “Etiam placerat,” jawabnya dalam bahasa Latin dengan logat kental. (Ya, silahkan)

            “Ini tentang wine yang ditemukan di TKP. Saya memeriksa ke toko milik ayah Anda. Dalam rekaman CCTV, Anda tampak mengambil wine dengan merk sama satu malam sebelum kejadian.”

            “Ah itu. Ye, saya mampir ke Tango untuk mengambil Chteau Lafite Rothschild Pauillac 1996 untuk paman. Dari sana, saya mengunjungi paman dan memberikannya.”

            Tak lama kemudian, lelaki itu menaruh smartphone-nya di atas meja dan dia menghela napas panjang.

            ‘Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akan menemui bajingan itu besok,’ gumannya.

            Jongsuk memilih melanjutkan membaca data-data penyelidikan tentang Buenos Entertainment. Dia menghabiskan malam untuk berselancar di dunia maya, mencari data-data pendukung penyelidikannya. Dia menghabiskan latte, baguette, dan beberapa batang rokok sampai tertidur sekitar jam 3.

♫ LoN 4 : Prosecutor♫

IMG-20131118-WA0020

Mapo-gu, Seoul Western Public Prosecutor Office,

Selasa, 22 Oktober 2013 07.53am

            Han Junhee membuka pintu ruangan Jongsuk setelah beberapa kali mengetuknya tapi tidak mendapat respon. Dia melihat Jongsuk tertidur di sofa dan laptopnya yang mati belum ditutup.

            “Geomsanim,” panggil gadis tembem berambut sepunggung itu hati-hati. Dia tahu Jongsuk akan mengerikan saat marah. Gadis yang mengenakan sweater pink yang membalut kemeja pink-nya dan celana jeans itu menepuk pelan lengan Jongsuk. “Geomsanim!”

            Junhee langsung menegakan tubuhnya melihat Jongsuk membuka mata.

            “Hya! Kau baru saja menyentuhku?” tanya Jongsuk.

            “Josungeo,” ucap Junhee sambil cemberut. “Ups! Joseonghaeyo.”

            Jongsuk mencibir sambil bangkit. “Maksudmu joseonghaeyo? Ucapkan yang benar. Tapi itu tidak sopan. Ucapkan ’Joseonghamnida’. Aku ini atasanmu. Memangnya berapa nilai pelajaran bahasamu selama sekolah dan kuliah.”

            Junhee menunduk mendengar ledekan Jongsuk.

            “Ada apa?” tanya lelaki itu.

            “Jo Byeon tadi kemari dan dia berkata menunggu Anda di taman,” ucap Junhee.

            “Hwanbi?” tanya Jongsuk sambil mengerutkan kening. “Ah, komawo. Kau boleh keluar.”

            Jongsuk memeriksa ponsel dan dia tidak mendapat pesan dari Hwanbi. Pengacara itu pasti mengirim pesan setiap mau bertemu. Dia pun pergi ke toilet untuk cuci muka dan gosok gigi.  

            Jongsuk melihat seorang gadis berenampilan British style duduk di bangku taman. Dia tampak membaca news melalui smartphone yang punya lensa kamera besar di bagian belakangnya. Jongsuk pun mendekati gadis yang memakai rok ala Scottish selutut motif kotak warna merah dan sweater turtle neck warna hitam. Rambut cokelatany dibiarkan tergerai dan sebuah bando warna hitam membuatnya tampak manis.

            “Annyeong!” sapa Jongsuk santai lalu duduk di sampingnya.

            “Kau mengangetkanku, Lee Geomsa,” ucap gadis itu.

            Jongsuk meliriknya dan melihat Hwanbi memegang cup berisi susu panas. Aroma vanilla membuat Jongsuk tergoda dan dia segera merebut cup itu tanpa permisi. Gadis itu terkejut.

            “Kau tidur di sini, Lee Geom?” tanya gadis itu melihat kemeja Jongsuk cukup kusut dan aroma rokok menempel kuat.

            “Eoh. Ada perlu apa? Tidak biasanya kau menemuiku tanpa mengirim pesan,” cecar Jongsuk.

            “Aku mau menanyakan kasus Yoojin eonni tapi juru tulismu langsung masuk memanggilmu,” jawab gadis itu cuek tak peduli Jongsuk menganggapnya Hwanbi.

            Jongsuk menaikan sebelah alis. “Apa yang mau kau tanyakan?” tanyanya lalu menguap panjang. Dia menyesap lagi vanilla milk panas itu.

            Gadis itu menganga menatap Jongsuk. Menurutnya, Jongsuk sangat keren tapi dia tidak menyangka melihat Jongsuk menguap dengan cuek di depannya. Dia pun tersenyum kecil mengingat Jongsuk merebut susu tanpa permisi.

            “Aku mau ke Buneos Entertainment setelah ini,” ucap Jongsuk sambil mengacak rambut belakangnya.

            Gadis yang dia kira Hwanbi itu nyengir geli. “Bisakah aku ikut?” tanya Hwanmi membuat Jongsuk menoleh.

Show me the meaning of being lonely…

            Keduanya mendengar lagu Backstreet Boys dan Hwanmi melihat potongan intro MV lagu Show me the Meaning di layar ponselnya.

            “Excuse me,” ucap Hwanmi pada Jongsuk sebelum menjawab panggilan.

            Jongsuk menganga seketika. Dia melihat dengan jelas ponsel yang dipegang Hwanmi, Galaxy S4 Zoom yang punya lensa kamera besar di belakangnya. Itu bukan ponsel Hwanbi. Lalu ringtone. Dia ingat si Duffy Hwanbi menggunakan video tone Spice Girls tapi ini Backstreet Boys. Jongsuk pun sadar siapa gadis yang duduk di sampingnya itu. Seharusnya dia tahu dari awal karena Hwanbi biasa menghubunginya terlebih dulu. Dia merasa harus menghilang secepatnya mengingat apa yang dilakukannya tadi, merebut cup dan  menguap. Dia mencium aroma kamejanya yang pekat oleh asap rokok. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Jongsuk, bertepatan saat Hwanmi mengakhiri pembicaraannya.

[“Choi Sajang baru tiba di kantor Buenos. Dia ada meeting pagi jam 9.30 nanti. Datanglah sebelum itu.”]

            Jongsuk menoleh pada Hwanmi. “Aku akan berangkat ke kantor Buenos sekarang. Tapi aku harus mandi dulu. Bagaimana kalau aku memberimu informasi dalam perjalanan ke sana?”

            “Ye, silahkan. Aku akan menunggumu,” ucap Hwanmi sambil tersenyum tipis.

            Jongsuk tampak memaksakan sebuah senyuman kaku lalu dia pergi.

            Dia merutuki dirinya sepanjang jalan ke gedung kantornya. Dia belum pernah merasa mati gaya seperti itu di depan seorang yeoja. Begitu masuk ke kantornya, dia segera menghampiri Han Junhee.

            “Han Junhee! Kenapa kau berkata dia Jo Byeon?” bentak Jongsuk membuat Junhee yang sedang memakan ramyeon tersedak.

            Junhee segera meneguk air mineral. “Dia memang Jo Byeon kan?” tanya Junhee tidak mengerti.

            “Aissh!” Jongsuk melenggos ke dalam ruang kerjanya. Tak lama kemudian dia keluar sambil membawa peralatan mandi.

            “Wae? Kenapa Lee Geom marah?” tanya Junhee bingung.

           

            Telinga Hwanmi dicocoki headset dan dia mendengarkan lagu. Baru tiga lagu yang diputar musci player ponselnya sambil menunggu Jongsuk. Angin pagi musim gugur mengantarkan aroma wangi ke indera penciuman Hwanmi. Gadis itu menoleh ke sumber parfum dan melihat Jongsuk mendekat. Dia sudah ganti pakaian dan wajahnya tampak fresh.

            “Kajja!” ajak Jongsuk.

            Hwanmi pun mencabut headset dan memasukannya bersama ponsel ke dalam tas. Dia berjalan bersama Jongsuk menuju New K7 yang sudah ada di depan gedung.

Mianhae,” ucap Jongsuk setelah beberapa saat mobilnya melaju. “Tadi aku kira kau Hwanbi.”

 “Gwaenchana,” tanggap Hwanmi datar.

♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Gangnam-gu,Cheongdam-dong, 08.50 am KST

Hwanmi duduk di dalam mobil Jongsuk yang diparkir di dekat taman tak jauh dari gedung Buenos. Gadis itu merapikan tulisannya melalui aplikasi office di tabletnya sementara Jongsuk sudah memasuki gedung beberapa menit lalu.

 

Lee Jongsuk duduk di sofa warna hitam di dalam ruangan besar bernuansa hitam putih. Jaksa yang mengenakan kemeja biru muda dan suit abu tua itu merasa jantungnya berdebar tidak nyaman. Dia akan menemui pembunuh kedua orang tuanya dan hatinya seperti memanas.

Joseonghamnida membuatmu menunggu.”

Jongsuk menoleh ke belakang, mendapati seornag pria yang sangat dia kenal melalui media massa dan internet. Jongsuk berdiri dan membungkuk pada pria yang punya tulang pipi menonjol itu.

Annyeong haseyo, Choi Sajang. Maaf mengganggu kesibukan Anda,” ucap Jongsuk.

Omar Choi tertawa. “Ut recte. Sit sedem habent!” ucap Omar dalam bahasa latin sambil duduk. (Tidak apa-apa. Silahkan duduk)

Jongsuk pun duduk. Sekretaris Omar menyajikan secangkir vanilla latte.

“Aku dengar Lee Geom menyukai latte,” ucap Omar membuat Jongsuk berusaha tersenyum sewajarnya.

“Saya tidak menyangka Anda tahu banyak tentang saya, kamsahamnida.” Jongsuk tersenyum kecil lalu menyesap sedikit latte-nya.

“Beberapa artis kami yang Anda kenal pernah bercerita,” tanggap Omar.

Jongsuk pun menjelaskan maksud kedatangannya pada lelaki yang memakai coat putih tebal selutut dan syal motif merak itu.

Geurae, Evita mengirimku wine itu. Dia berkata itu wine kesukaan mendiang tunangannya. Aku belum sempat meminumnya waktu itu. Aku baru meminumnya tadi malam saat meningat Joo Sangwook,” jelas Omar sambil menoleh ke arah jam 4. Jongsuk mengikuti arah tatapannya,  ke sebuah meja kecil berisi mangkuk kristal ukuran besar yang menyimpan es balok dan botol wine.

Lelaki yang sudah melewati setengah abad umurnya itu pun bercerita tentang Joo Sangwook. Dia sangat menyesali kematian CEO-nya itu. Tapi tak lama kemudian dia berkata harus segera bersiap.

Mianhamnida. Sebentar lagi ada rapat persiapan terakhir launching album terbaru  Girls’ Barbie.”

“Silahkan, Sajangnim,” tanggap Jongsuk.

Lalu Omar mengantar Jongsuk keluar dari ruangan pribadinya sampai ke depan lift.

“Lain kali kalau butuh bantuanku tentang kasus CEO Joo, jangan ragu untuk menghubungiku,” ucap Omar sambil menyerhakan sehelai kartu nama.

Ne, gomapseumnida, Choi Sajang,” ucap Jongsuk sambil membungkuk sopan.

 

Seorang gadis bertubuh kurus dengan rambut bergelombang panjang mau menekan tombol lift di lantai dasar. Gadis berwajah kecil itu memasuki lift bersama dua temannya yang asyik mengomentari foto selca seorang aktor. Saat pintu lift tertutup, gadis itu melihat Jongsuk melangkah seperti keluar dari lift sebelah.

“Bukankah itu Lee Jongsuk Geomsa?”

“Mana?” tanya Kim Hyeseon.

Geumanhae Yena-ya,” ucap seorang gadis lain yang punya rambut sebahu. “Manager kita sudah menunggu. Sebentar lagi meeting dengan Sajangnim akan dimulai.

Gadis berwajah kecil yang dipanggil Yena itu hanya bisa cemberut.

 

Seorang gadis lain yang juga lewat di depan lift mendengar perkataan Yena tadi. Dia mengejar Lee Jongsuk. Jongsuk berjalan cepat dan dia mendengar seseorang memanggilnya.

Geomsanim!”

Jongsuk menghentikan langkah tepat di depan pintu masuk gedung. “Ye?” tanyanya pada seorang perempuan dengan rambut diikat ekor kuda.

Perempuan itu membungkuk. “Joseonghamnida. Apa benar Anda Lee Jongsuk Geomsa yang menangani kasus kematian CEO Joo?” tanyanya

Ye,” jawab Jongsuk pada perempuan berpakaian rapi itu.

“Oh ternyata benar. Saya melihat Anda di televisi kemarin. Bang Minah imnida. Aku sekretaris Joo Isa,” ucap gadis itu. “Apa Anda masih menyelidiki kasus kematian atasanku?”

Ye, Bang biseo. Aku kemari karena ada hal yang ingin kutanyakan pada Choi Sajang,” jelas Jongsuk. Dia seperti membaca pikiran Minah melalui tatapan gadis itu. Jongsuk menebak Minah ingin menyampaikan sesuatu.

“Kalau ada yang bisa saya bantu, saya akan memberi Anda informasi yang dibutuhkan. Tapi ada yang harus segera saya kerjakan saat ini,” sesal Minah.

Jongsuk pun mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengambil selembar kartu namanya. “Hubungi saja aku saat kau punya waktu luang.”

Kamsahamnida, Geomsanim!” ucap gadis yang mengenakan trench coat hijau muda dipadu blus dan boots hitam. “Begini, sekarang saja Anda tanyakan membutuhkan informasi apa. Nanti saya akan mengirim pesan.”

Kamsahamnida atas pertolonganmu, Bang Biseo. Hmm, Anda bisa menceritakan apa yang dilakukan CEO Joo di hari Sabtu atau sebelumnya,” tanggap Jongsuk.

Minah tersenyum kecil. “Ne, nanti saya sampaikan melalui pesan. Saya sangat sedih karena Joo Isa benar-benar pergi selamanya setelah berpamitan.”

Ye?” tanya Jongsuk dengan kening berkerut.

“Andai dia masih hidup, hari Senin kemarin dia mulai bertugas di Buneos cabang Jepang. Jadi dia sudah berpamitan pada stafnya.”

Jongsuk memicingkan mata. Tapi sayang Minah harus buru-buru masuk.

Mianhamnida. Saya sedikit terlambat. Nanti saya ketik dan kirim melalui pesan singkat atau e-mail. Kamsahamnida, Geomsanim!” pamit gadis itu sambil membungkuk.

 

Tak lama kemudian, Jongsuk memasuki mobilnya. Dia duduk di kursi kemudi dan Hwanmi mengasongkan satu cup Chamomile tea. “Bagaimana pertemuannya? Cha!” ucapnya datar.

Kamsahamnida,” ucap Jongsuk sambil menerima teh hangat itu. Dia menyesapnya dan terkekeh. “Ah, ini minuman kesukaan Hwanbi. Sepertinya mood-ku hancur setelah bertemu si maniak itu.”

Ye?” tanya Hwanmi bingung. “Siapa si maniak?”

Jongsuk terkekeh. “Bukan apa-apa. Omar Choi berkata Evita memang memeberinya wine itu dan masih tersisa. Aku melihat sendiri. Sekarang kau mau ke mana?”

“Ke kantor,” jawab Hwanmi sambil mengetik cepat.

“Aku antar sekalian kembali ke kantorku,” ucap Jongsuk.

Eoh, kamsahamnida,” jawab Hwanmi tanpa menoleh. Dia masih mengetik dan menyesap Jeju orange tea-nya yang hangat. Tapi dia memikirkan ucapan Jongsuk tadi.

‘Mungkinkah Lee Geom menyebut Omar Choi ‘Si Maniak’? Apa gosip kalau dia seorang pedofil benar?’ guman gadis itu.

Saat mobil baru beberapa meter melaju, Jongsuk melirik Hwanmi sekilas.  

“Tadi aku bertemu sekretaris Joo Sangwook,” ucap Jongsuk lalu menoleh ke depan.

“Apa yang dia katakan?” tanya Hwanmi.

“Sayang sekali dia tampak terburu-buru. Dia akan menghubungiku, menceritakan apa yang dilakukan Joo Sangwook hari itu. Tadi hanya sempat berkata kalau sebelumnya korban sudah berpamitan karena akan segera pindah ke cabang Buenos di Jepang,” jelas Jongsuk cukup panjang.

Hwanmi kembali sibuk mengetik. “Kalau Lee Geom tidak keberatan, aku ingin tahu informasi selanjutnya dari sekretaris itu,” ucap Hwanmi.

Jongsuk mengangguk sambil tersenyum. Pikirannya mengingat pernyataan Yoojin bahwa Sangwook berkata mau pergi jauh. Jongsuk semakin yakin pada kesimpulannya tentang kasus itu. Bahwa Sangwook memang dibunuh.

Meski mata Hwamni kembali menatap tabletnya, dia sempat melihat senyuman manis Jongsuk tadi. Hwanbi menyebutnya Donald Duck karena bibir lelaki itu tebal dan membentuk kurva. Ada belahan di bibir bawahnya. Sepasang bibir tebal itu itu menggariskan senyum menawan tadi. Hwanmi menepis bayangan senyuman Jongsuk tadi dan dia mau menyimpan dokumen word.

Mobil berhenti karena lampu merah. Jongsuk melirik Hwanmi sekilas dan dia melihat kening gadis itu berkerut. Jongsuk melihat telunjuk Hwanmi menekan-nekan layar tablet itu.

Wae?” tanya Jongsuk.

“Ah ini. Tiba-tiba tidak merespon.”

“Sudah tersimpan?”

Ne. Tapi ini seperti hang.”

Jongsuk mendekatkan tubuhnya dan dia menggerakan tangan kirinya ke tablet di pangkuan Hwanmi. “Biar aku lihat,” ucapnya sambil memegang tablet.

Jongsuk memegang tablet 7” itu dengan kedua tangannya dan posisi tablet tetap ada di depan Hwanmi. Gadis itu merasa lengan kirinya menempel dengan lengan kanan Jongsuk. Dia juga cukup terkejut menyadari pipi mereka berdekatan. Dia bisa melihat wajah Jongsuk dari jarak yang sangat dekat.

“Ini memang hang,” ucap Jongsuk dengan suara rendah yang terdengar menggema di telinga kiri Hwanmi. “Eh, tapi aku bisa restart,” ucap Jongsuk dan kali ini Hwanmi menoleh ke layar tabletnya.

“Mungkin terlalu banyak aplikasi yang hidup.”

Hwanmi menoleh pelan setelah suara barusan kembali menggema di telinga kirinya, membuat kulit lehernya terasa dibelai. Jongsuk belum beranjak, lengan mereka masih menempel, dibatasi pakaian.

Eoh. Ini barang lama. Jadi tidak heran kalau mengalami hang.”

Jonsuk menatap Hwanmi dan tersenyum tipis. “Ganti saja dengan produk baru.”

Hwanmi sedikit kaku dengan jarak yang begitu dekat itu. Dia bisa setiap inchi wajah lelaki itu. Sepasang alis tebal yang memayungi mata kecilnya termasuk tahi lalat kecil di bawah mata kanan Jongsuk yang membuatnya tampak manis. Aroma parfum Jongsuk yang maskulin namun lembut menguasai indera penciuman Hwanmi, seolah mengalahkan parfum yang dipakainya. Deru mesin membuat Jongsuk menoleh ke depan, lampu hijau sudah menyala dan Hwanmi bisa bernapas lega setelah Jongsuk kembali duduk tegak di kursinya. Gadis itu kembali menatap tabletnya yang baru menampilkan logo merk.

   ‘Omo! Kenapa dengan jantungku?’ guman Hwanmi. Dia masih syok dengan posisi tadi. Jantungnya tak pernah berdetak tidak jelas seperti tadi setelah berpisah dengan Dennis. Hwanmi seolah menjaga jarak dari lelaki manapun karena hatinya mampu bisa melepaskan Dennis.

‘Oppa, what are you doing?’ gumannya dengan perasaan perih. Irama tidak jelas dari detakan jantungnya tadi membuat dia teringat Dennis, satu-satunya lelaki yang mampu membuat jantungnya berdebar tak biasa.

Jongsuk menoleh sekilas. Dilihatnya Hwanmi menunggu layar tablet menampilkan home screen wallpaper. ‘Dia benar-benar beda dengan Duffy. Yang satu ini irit senyum dan bicara.’

     ♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Han river, Dongjak-gu 09.40 am KST

Sebelum sampai di kantor Hwanmi di distrik Dongjak, Jongsuk menepikan mobilnya di pinggir sungai tak jauh dari jembatan Dongjak. Hwanmi bertanya tentang Omar Choi yang sangat terkenal di Jepang.

Jongsuk dan Hwanmi duduk di sebuah bangku pinggir sungai dan Jongsuk menceritakan siapa Omar Choi.

“Ibu Omar Choi adalah seorang perempuan berkebangsaan Agentina,” ucap Jongsuk.

“Jadi dia blesteran?”

Jongsuk tertawa. “Bukan. Keluarga ibu Omar adalah imigran asal Korea dan ibu Omar menyandang status kewarganegaraan Argentina. Kau pernah dengar nama lengkap Omar?”

Eoh,” jawab Hwanmi. “Omar Hernan Choi. Cukup geli mengingat dia tak ada tampang Latin.”

Jongsuk terkekeh lagi. “Dia juga punya nama Korea, Choi Ilwoo. Kakaknya pemilik Tango wine house, bernama Diego Gabriel Choi. Nama Koreanya Choi Eungsoo. Diego punya anak, aktris  bernama Evita Gabriella Choi, nama Koreanya Choi Inmin.”

Hwanmi meledakan tawa seketika. Dia tertawa cukup lama sampai matanya berair.

Wae?” tanya Jongsuk yang juga ingin tertawa.

“Itu, nama mereka lucu sekali,” jawab Hwanmi lalu tertawa lagi.

Jongsuk ikut tertawa. “Aku juga tertawa saat pertama mengetahui itu.”

Lelaki itu menatap Hwanmi yang masih tertawa. “Apa anak Omar bernama Esteban Choi?” canda Hwanmi.

“Bukan. Tapi Rivaldo Choi,” jawab Jongsuk.

Jeongmal?” tanya Hwanmi tidak percaya tapi Jongsuk mengangguk sambil mengikik. Hwanmi kembali tertawa. “Jangan bilang kalau keluarga itu maniak bola.”

“Sepertinya fans berat Argentina,” jawab Jongsuk sambil terkekeh. “Buenos sudah menyiapkan sebuah film bertema bola. Judulnya Batigol.”

Hwanmi kembali larut dalam tawa renyahnya. Kali ini Jongsuk juga tertawa lepas. Mata Hwanmi kembali berair.

Eomma! Perutku sakit!” keluh Hwanmi tapi masih tertawa.

Geumanhae!” ucap Jongsuk. “Aku tak bisa membayangkan bagaimana cerita film yang dibintangi semua artis Buenos itu.”

“Kapan filmnya rilis?” tanya Hwanmi.

Jongsuk mengangkat bahu. “Mungkin setelah Girls’ Barbie selesai promo album baru meraka.”

“Aku tertarik menonton. Tapi takut tertawa dan membuat keributan.”

Jongsuk tergelak mendengarnya.

♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

Seoul Western Public Prosecutor Office, Mapo-gu

03.12 pm KST

       Jongsuk mengetuk pintu ruangan kepala Jaksa lalu masuk. Jeong Donghwan duduk di sofa kecil dan seorang wanita berpakian resmi duduk di sofa panjang. Jongsuk tentu mengenal wajahnya, foto perempuan berumur 40+ itu menempel di white board di kamar Jongsuk, dia adalah Go Eunsoo. Jongsuk menyapanya dengan sopan lalu kepala jaksa Jeong mempersilahkannya duduk.

       “Senator Go datang kemari untuk menanyakan kasus Joo Sangwook yang kau tangani,” ucap kepala Jaksa yang selalu tampak kalem dan berwibawa itu.

Gomapseumnida atas perhatian Senator Go tentang kasus ini,” ucap Jongsuk.

Perempuan yang itu menatap sinis Jongsuk meski dia berusaha tersenyum ramah. “Lee Geomsa, saya hanya menyampaikan opini publik karena status tersangka. Tersangka mendapat status tahanan kota. Itu cukup meresahkan masyarakat.”

Jongsuk tersenyum tenang. “Terima kasih, Senator Go. Saya mengerti apa yang Anda sampaikan adalah pandangan masyarakat terutama kalangan selebriti. Mengingat tersangka dan korban sama-sama bekerja di dunia entertainment. Hajiman, saya masih melakukan penyelidikan dan tersangka mendapat pengawalan resmi. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir.”

Jongsuk menatap tajam perempuan yang mengatakan opini-opininya pada kepala jaksa Jeong. Jongsuk sudah tahu apa yang mau dikatakannya dan siapa di balik kedatangannya. Perempuan ini akan meminta penahanan Yoojin dan menggelar sidang secepatnya. Tidak ketinggalan kritik pada kinerja Jongsuk dalam menangani kasus ini.

Pikiran Jongsuk melayang pada white board di kamarnya, di mana foto Go Eunsoo menempel di dekat foto Omar Choi, Diego Choi dan seorang lelaki lain. Di dalam rak di bawah white board itu, Jongsuk menyimpan data profil keempatnya.

Go Eunsoo, lahir di Busan dengan nama Go Eunmin. Waktu SMP, dia bekerja di sebuah bar sebagai pembersih toilet. Eunmin kuliah berkat bantuan Diego Choi dan sejak itu dia mengganti namanya jadi Go Eunsoo. Kepribadian Eunsoo perlahan berubah dan dia mendirikan sekolah seni, Jinju art school. Sekolah itu menyediakan banyak program beasiswa bagi siswa berprestasi dan siswa kurang mampu. Hampir semuaTrainee dan artis Buenos bersekolah di sana. Pada pemilu lalu, perempuan itu berhasil terpilih sebagai senator dari wilayah Seoul Barat berkat dukungan para artis dan fans Buenos. Tapi latar belakang perempuan itu sudah dipalsukan dan publik tidak tahu masa lalunya.

45 menit kemudian, Go Eunsoo sudah berada di pinggir sungai sekitar Ichon Hangang Park. Dia keluar dari Optima SX silvernya dan masuk ke dalam Audi hitam yang nangkring di samping kanannya. Seorang lelaki yang tak lain adalah Omar Choi duduk di kursi kemudi.

“Siapa bocah itu?” tanya Eunsoo. “Dia cukup pandai berbicara sampai aku ingin merobek bibir tebalnya.”

Omar tersenyum sinis sambil menatap sungai di depannya. “Lee Jongsuk, aku dengar dia tumbuh di sebuah panti asuhan kota Gyeongju lalu diadopsi Ahn Kilkang sewaktu pindah ke kota itu.”

Senator Go tertawa dengan suara melengking. “Aigoo. Aku tak menyangka seorang mantan kepala preman membersarkan seorang jaksa.”

Omar Choi menyeringai. “Hati-hati. Dia orang Jo Sungha.”

Ye?” Go Eunsoo terbelalak. “Jadi dia hanya boneka yang dikendalikan bajingan Jo Sungha?”

Itulah kepribadian asli Go Eunsoo, gemar mengomentari sesuatu secara kasar.

Hajiman, apa sebenarnya ini ulah Anda?” tanya Eunsoo.

“Maksudmu?”

“Kematian Joo Sangwook, apa Anda memang merencanakannya untuk menjebak anak kerabat Jo Sungha?”

       Omar terbahak-bahak. “Untuk apa aku melakukan hal yang mencolok seperti itu. Aku tak ada urusan dengan Joo Sangwook atau tersangka.”

       “Aku dengar kemarin jaksa itu mencari Evita. Apa keponakan Anda terlibat?”

       “Yeoja ini! Sudah kukatakan, aku tidak terlibat,” bentak Omar.

       “Saya tadi menanyakan keponakan Anda,” ulang Eunsoo.

       “Evita juga tidak terlibat. Jaga mulut tajammu, Go Eunmin!”

       Eunsoo murung karena Omar menyebut nama aslinya. “Keureom, aku pamit saja kalau tak ada lagi yang dibicarakan,” ucapnya sambil mendelik.

       “Silahkan.”

Eunsoo hendak membuka pintu tapi dia teringat sesuatu. “Ah, saya lupa, Sajangnim. Mr. Kazuya menanyakan Shim Yena.”

Omar mendelik. “Kenapa dengan Yena? Kapan Mr. Kazuya menghubungimu?”

Eunsoo tertawa renyah. “Dia bilang setelah promosi album terbaru Girls’ Barbie, dia ingin berlibur dengan Yena.”

Omar mendengus. “Seorang rekan bisnisku sudah memesan Yena.”

“Apa Anda bisa menolak Mr. Kazuya?” tanya Eunsoo sinis lalu dia keluar.

Mr. Kazuya adalah rekan Diego dan Omar Choi. Lelaki itu tinggal di Jepang dan punya perusahaan internasional. Foto lelaki dengan nama panggilan Mr. Kazuya ada di white board Jongsuk. Jaksa itu mengenal nama Mr. Kazuya saat mengumpulkam informasi tentang Buneos Ent. Mr. Kazuya adalah donatur keluarga Choi. Berkat dia, Omar punya perusahaan agensi besar dan Diego punya toko wine sekaligus perusahaan distributor wine. Mr. Kazuya juga yang mendanai Jinju art school milik Go Eunsoo termasuk kampanye pada pemilu lalu. Jongsuk sudah mempelajari tentang bisnis imigran asal Korea yang menjadi warga negara Jepang itu. Dia menyeludupkan perhiasan, nakoba, senjata, dan lain-lain.

     ♫ LoN 4 : Prosecutor♫

 

06.53 pm KST,

       Jongsuk membuka pintu mobilnya dan dia mendengar nada notifikasi di ponselnya. Dia duduk lalu membuka flip warna kuning yang membalut ponselnya. Dia menerima sebuah email dari Bang Minah.      

          Sepekan sebelum kejadian, CEO Joo sudah memberitahu stafnya bahwa dia akan dipindahkan ke cabang Jepang. Sabtu siang, kami makan bersama di restoran daging panggang. Dia memberitahu kami saat itu. Kalau dia akan berangkat ke Jepang Minggu pagi. Selesai makan, dia kembali ke kantor untuk mengambil laptop. Aku sempat menyusul ke tempat parkir karena menemukan sebuah kotak berisi gelang. Saat itu aku melihatnya baru selesai bicara dengan Han Soobyung. Aku memberikan kotak gelang itu dan melihat paperbag Tango di kursi kanan. Dia hanya mengucapkan terima kasih dan mengucapkan selamat berpisah.

          Mianhamnida, Geomsanim. Saat ini dan beberapa hari ke depan, aku ditugaskan mengawasi distribusi album baru Girls’ Barbie. Tapi besok siang sepertinya aku punya waktu luang. Kalau Anda ingin bertanya lebih banyak, saya bisa mendatangi kantor Anda.

 

       “Han Soobyung?” tanya Jongsuk.

 

       15 menit kemudian Jongsuk sampai di apartemennya di Hapjeong-dong. Dia segera memasuki kamarnya dan mendorong sebuah rak buku untuk masuk ke ruangan kecilnya. Jongsuk menatap white board di mana foto Diego dan Omar Choi dipajang dekat foto Go Eunsoo dan Mr. Kazuya. Jongsuk menatap foto dua orang perempuan. Yang satu bertubuh kurus dan satu lagi montok. Si kurus tak lain Evita Choi, keponakan Omar sekaligus anak Diego. Jongsuk menatap perempuan di sebelah Evita, Han Soobyung, sahabat dekat Evita yang punya tubuh montok. Soobyung adalah penulis skrip drama dan film. Dia menulis beberapa film panas yang laku keras di Jepang. Di Korea, drama terakhirnya diproduksi Buenos tapi rating-nya rendah.

Whiteboard JS

 ♫ LoN 4 : Prosecutor♫

TO BE CONTINUED

Advertisements

25 thoughts on “Law of Natures 4 : PROSECUTOR (1)

  1. perlahan-lahan kasus ini bakal terkuak siapa pembunuh aslinya, sempet curiga dengan Evita, dan Omar Choi. Hwanmi sepertinya mulai menyukai Joongsuk, .. Hahahaha 😀 sempet ketwa sendiri pas tau nama2 asli keluarga Choi .. Astaga, tragis juga kisah hidup mu Jongsuk-ssi, ada yah orang macem Omar, yang ngejual artisnya sendiri .. Pas denger nama omar yang terlintas di pikiran ku dia orang arab loh eon 😀

    1. Iya, Omar identik Arabic. Berhubung direktur Buenos ini penggila bola Tango, jadi ambil Omar.
      Jongsuk kayanya belum dapet peran senang2
      makanya dibikin gini. hehe
      kamsahamnida

  2. pertama pengen ketawa dulu ah pas baca kelakuannya jongsuk maen seenaknya ajah ngambil kopi sama nguap depan hwanmi
    hahahaha akhirnya ngibrit deh mati gaya kkk

    semakin tegang yach dan semakin terungkap masa lalu tokoh “nya dan pastinya MENDEBARKAN seruuuuuuu aahhhhh aslinya nich gak bosen baca malah pengen lagi dan lagi

    1. annyeong Eonni.
      Mian telat bales.
      sama kaya komen di bawah.
      kayanya udah komen ini tapi shit network error menggagalkannya n saya gak cek lagi 😦
      Kekeke, ane juga ngakak itu bayangin adegn mati gaya

      kamsahamnida Unni 🙂

  3. Hallo, author.
    Pertama, Evita Choi. Tiap saya baca nama dia, teringat akan penyanyi Indo si Evitamala wkwkwk dan setelah baca part ini sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dari si Evitamala ini.
    Kedua, saya sudah menduga kalau kecelakaan itu disengaja. Karena timing pas saat Seojin mendapat berita. Disini posisi Jongsuk menurut saya bisa menyedihkan dan mengungtungkan. Pertama, Ahn Kilkang hanya memanfaatkan Jongsung dengan sedikit membumbui cerita kematian orangtuanya. Kedua, Ahn Kilkang berkata yang sebenarnya.
    Ketiga, untuk adegan skinshipnya saya tidak perlu berkomentar banyak. Ini salah satu kelibihannya ahahha
    Keempat, keluarga si Evitamala ini terkesan tidak tahu malu ya wkwkwk harusnya ketika keluarganya menamai diri mereka dengan nama pesepakbola, cocokin dulu sama wajah, kan lucu jadinya, muka asia, nama latin hahha keluarga hina ini #mian
    Kelima, apa mungkin Soobyung ini ada semacam iri dengan Yoojin karena kalah saing? Bisa jadi dia ikut campur tangan dalam kasus ini.
    Ahhhhh, saya menunggu Kazuya. Biar semua jelas. Fighting Holly and The Genk hahah

    1. Kyaaaaa
      perasaan dulu ngepost komen deh
      Huft!
      Seperti biasa, Win selalu kasih long review, so thank U very much
      kyahahaa. Berasa blesteran gitu makanya pasang nama2 Latinos
      kamsahamnida

  4. Goo Eunsoo, Han Soobyung, Choi inmin, dan juru tulis Jongsuk semua berkarakter sama “BURUK” , dan 3 dr 4 orang itu mempunyai mulut busuk.

    Saya msh penasaran kira2 siapa pembunuh JSW, krn smpe skrg blm ada pencerahan untuk menebak sang pembunuh.

    Untuk keterangan2 waktu membuat saya agak bingung bin keder eon, krn terlalu banyak perpindahan tempat dan waktu, blm lg di tmbh flashback. Walaupun di tulis dgn sangat jelas, ttap bingung jd harus dibaca berulang bru bs ngerti

    1. Annyeong Dear Wol 🙂
      Soal karakter, terinspirasi dari kalimat2 yang sering dilontarkan orang-oran tertentu. Kekeke. Khusus Han Soobyung, belum ngolah penokohannya kaya gimana di part ini.

      Soal banyaknya ganti scene, itu sesuai kebutuhan aja karena saya mau nulis penyelidikan secara langsung, tidak melalui narasi singkat.
      Kamsahamnida buat long reviewnya.
      Di part selanjutnya, adegan flashback ditandai warna arm.

  5. makin seru,,,pntaan bhs jg rapi,,,jd pnnasaran siapa pmbunuhnya,apa mungkin evita choi?rpnya jongsok ank angkt and yg ngebunuh orng tuanya si choi,,,orng gnteng jg pnya sisi kejelekannya jg,,,di part ini bnyk nama2 bru jd susah ngigetnya

    1. Annyeong Avie 🙂
      Makasih ya pujiannya. Tulisanku kurang rapi lho 😦
      Evita? Maybe yes, maybe no. kekeke.
      Iya. Saya bikin penokohan Jongsuk seperti itu. Manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan.
      Kamsahamnida

  6. MAKIN DAEBBAK dan SERRUUU

    aku bner bner penasaran dah sama pembunuh SANG WOOK, SUMPAH dahh -,-v

    moment special PELACAKAN sama JONG-MI 🙂

    Jong-Mi soo sweett dahh pas moment di mobil.. hehehe

    EVITHA CHOI nyebelliinn bngttt.. >…<

  7. Onnieya,
    Sebenernya tadi udah komen tapi ngga bisa aja ㅠㅠ

    Well, saya suka banget sama cerita ini, seolah saya lagi menyaksikan drama detektif gitu, dan penggunaan waktu membuat kita sebagai reader sedikit jeli, diperlukan konsentrasi dan kecerdasan agar tidak bingung dengan alurnya

    Rasain aja itu penghuni pojok pink kena omel Jongsuk, lagian kagak sopan banget sama atasan

    Ih itu senator Go, jabatan aja boleh tinggi, tapi mulutnya lebih jelek dari orang yang ngga pernah sekolah, tapi dimaklumi sie, kan dulunya kerja pembersih toilet

    Lanjutkan Onnie ^^

  8. Entah kenapa saya lebih suka karekter Jo Hwanbi,,
    banyak omong,cerewet dan mudah marah.

    Tapi saya benar2 cemburu sama Jo Hwanmi.

  9. Hadeuuuh semakin rumit,semakin susah d’tebak…

    Jongsuk gak ngira kalo i2 Hwanmi….
    Cia cia cia Hwanmi udh mulai deg deg ser nie,bakalan da yg menang taruhan nie #lirikJongsuk
    Hahahaha Batigol seperti apa film’y ea…

    1. annyeong Rin 😀
      maklum bangun tidur gitu trus ketemu salah satu Jo twins
      jadi Jongsuk kurang perhatiin 😀

      Batigol itu julukan salah satu mantan bintang Argentina.

      waduh jadi rumit ya? 😉

      kamsahamnida

  10. Di awal saya tak membca waktunya jadi pas membcanya saya sedikit bingung ,tapi pas d baca sekali lagi saya ngerti kalau lee namsun adalah lee jong suk dan saya juga semakin curiga jika evita choi yang membunuh jsw .

  11. Ini benar2 rapi dengan urutan kejadian dengan sedikit typo. Abaikan. Bahkan part loncat ke masa lalu pun bisa dipahami. Aku suka gaya cuek Hwanmi yang bertolak belakang dengan kembarannya. Aku suka gaya Lee Geom yang memarahi si kucing hallo kitok karena ngak punya manner. Memalukan punya juru tulis di kejaksaan tapi ngak punya sopan santun. Ucapkan yang benar. Tapi itu tidak sopan. Ucapkan ’Joseonghamnida’ ㅎㅎㅎㅎ Senator Go mengingatkan saya akan seseorang yang hanya berkomentar positif untuk orang2 seperti Kel Choi dan negatif untuk Jo Sungha. Aku punya keinginan untuk merobek mulutnya. Lanjut Pals!

    1. Hello Unni…

      Well, Jo Hwanmi yang cuek tapi Jongsuk malu sendiri ㅎㅎㅎ
      Atasan mana yang ga kesel ketika bawahannya bicara ga sopan 😛

      Ini si emak mulut kotor, ada koq orang seperti ini di dunia. Mulut kotornya lancar banget kalo udah nyindir dan mengomentari sesuatu. wkwkwkw

      Kamsahamnida udah baca ulang dan review 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s