Sagwa Agasshi

SAGWA AGASSHI

SA

By :

 Chelsea

| Saeguk/Romance | PG 15 |  One shot |

Starring:

Song Joongki

Moon Chaewon as Eunhwa Gongju

Kim Hyunwoo

[Deep Rooted Tree, Pasta, Mubank MC 2011]

 

Claime :

Pernah dipublish School of Fanfiction tahun lalu.

Dipost di Wattpad pribadi author

This fiction is very important in improving my writting skill 😉

Some Joseon facts are real and some others are fiction.

ѼѼѼѼѼѼѼѼѼ

 

Jeonju5-246x370

Sinar putih mentari pagi menembus langit dan menghangatkan kota Hanyang. Rakyat ibu kota Joseon itu beraktivitas penuh energi.

          Di halaman belakang markas naegeumbu (kejaksaan), seorang pemuda tampan dengan pakaian militer sedang latihan beladiri. Raut wajahnya tampak serius, tatapannya setajam ujung pedang. Dia Song Joongki, seorang tentara naegeumbu berpangkat kapten. Saking konsentrasinya berlatih, dia tak sadar ada orang sedang memperhatikannya. Orang itu mendekat dan melemparkan ranting kepada Joongki.

Joongki menoleh seketika, merasakan benda melayang siap mengenai kepalanya. Dengan tangkas, Joongki mengayun pedang dan memotong ranting sampai jatuh. Lalu Dia mengarahkan pedang lurus ke pemuda yang berdiri sekitar tiga meter di depannya. Pemuda itu Kim Hyunwoo, sahabatnya.

          “Pagi yang indah, Kapten Song!”  sapa Hyunwoo sambil tertawa.

tree-cast-hyunwoo-sungsammoon3-400x600

          Joongki menurunkan pedang dan ikut tertawa. “Apa yang membuat cendekiawan muda Kim Hyunwoo menemuiku pagi ini?”

          Hyunwoo merebut pedang dan memainkannya. “Kebetulan saja lewat menuju balai penelitian,” jawabnya. “Tadi aku membaca pengumuman besar.”

          “Pengumuman apa?” tanya Joongki.

          “Akan diadakan pemilihan suami Eunhwa Gongju,” (Puteri) jawab Hyunwoo.

          “Puteri yang baru kembali beberapa bulan itu?” janya Joongki.

          “Ye,” jawab Hyunwoo.

          Eunhwa adalah anak ketiga raja dari ratunya yang belum lama kembali dari Gyeongju. Eunhwa menderita sakit parah saat berumur 12 tahun. Gosip tak sedap beredar di masyarakat bahwa sang puteri mengalami kelainan sehingga diasingkan. Bahkan dikabarkan, seluruh kulit tubuhnya membusuk.

          Hyunwoo bercanda, “Apa ada pemuda bangsawan yang mau menikahinya?”

          Joongki tersenyum saja. “Pemilihan akan tetap dilakukan. Pasti Gongju akan mendapat pria yang baik.”

          “Apa ayahmu akan mendaftarkanmu sebagai calon Uibin?” (Suami puteri) goda Hyunwoo.

          Joongki menoleh dan menyambut ekspresi Hyunwoo dengan tawa. “Kau kemari demi mencari tahu apa aku akan didaftarkan sebagai uibin?”

          Hyunwoo menepuk bahu Joongki, “Ah, lupakan saja puteri yang tidak diketahui wajahnya itu. Besok adalah perayaan ke-26 pavilium bunga. Kau pasti bertugas.”

          Tawa Joongki perlahan redup mendengar event tahunan itu. “Ye. Aku membawa pasukanku membantu penjagaan.”

 

          Menjelang akhir musim semi sekitar bulan Mei saat bunga bermekaran indah, di ibukota diadakan perayaan Hwajeon (Pavilium bunga). Hwajeon adalah sebuah pavilium yang dikelilingi taman bunga yang sangat luas. Hwajeon diresmikan dengan festival bunga. Saat pavilium itu didirikan 26 tahun lalu, perempuan dari berbagai kelas berlomba memamerkan tanaman berbunga yang mereka tanam sampai membentuk taman yang sangat luas. Tradisi itu terus berulang setiap musim semi. Keluarga kerajaan memilih kebun bunga paling indah dan pemiliknya akan diberikan hadiah.

 

          Joongki mengunjungi Hwajeon saat sunset. Dia memimpin tentara naegeumbu yang akan bertugas menjaga perayaan besok. Joongki berjalan mendekati sebuah pohon apel. Dia memandang bunga putihnya yang bermekaran. Joongki teringat gadis kecil yang menanam pohon itu.

 

          Awal musim semi tujuh tahun lalu, Joongki bolos sekolah dan mengunjungi Hwajeon. Dia bertemu seorang gadis berumur sepuluh tahun sedang memindahkan pohon kecil dari pot ke tanah.

          “Agasshi, bunga apa yang akan kau tanam?” tanya Joongki.

          Gadis kecil itu menoleh, “Aku menanam pohon apel, Orabuni.” (oppa di zaman Joseon)

          “Kenapa apel? Orang lain menanam tumbuhan berbunga,” tanya Joongki.

          Gadis itu tersenyum riang. “Apel juga berbunga. Tapi pohonku tak akan berbunga untuk musim semi ini.”

          “Jadi, untuk apa kau menanamnya?” tanya Joongki.

          “Aku akan melihat pohon ini setiap tahun perayaan Hwajeon. Dia akan tumbuh besar dan tinggi sampai berbunga banyak,” jawab gadis ceria itu.

          Setahun berikutnya, Joongki datang bersama keluarganya ke perayaan tahunan Hwajeon. Dia bertemu dengan gadis itu lagi.

          “Bagaimana pohon apelmu?” tanya Joongki.

          “Masih kecil, Orabuni.”

          “Apa kau masih akan menunggunya tumbuh besar sampai berbunga banyak?” tanya Joongki.

          “Ye,” jawabnya. “Aku ingin melihatnya besar dan berbunga banyak. Aku akan selalu datang setiap tahun.”

          “Kalau begitu, bisakah kita bertemu setiap tahun di sini?” pinta Joongki.

          Gadis kecil itu senang. Kemudian mereka berjanji akan bertemu setiap perayaan Hwajeon.

           Saat belum lama berpisah, Joongki menemukan norigae (aksesoris perempuan, digantung pada pita atasan hanbok). Joongki mencari gadis itu untuk mengembalikan norigaenya, tapi dia tak dapat menemukannya.

Di perayaan Hwajeon tahun berikutnya, Joongki menunggu gadis itu di dekat pohon apel. Tapi dia malah menerima surat yang diantar seorang pelayan. Lipatan kertas itu berisi tulisan Hanja yang rapi seperti ditulis gadis bangsawan terpelajar.

         

Angin musim semi telah lama kembali.

Apa ia membawa Orabuni ke Hwajeon?

Seorang gadis kecil tak bisa keluar menghirup wangi angin itu.

Karena tubuhnya lemah oleh rasa sakit.

Ketakutan pun hinggap, merasa tak akan pernah lagi melihat pohonnya dan bertemu Orabuni.

Andaikan ketakutannya menjelma, ia memohon agar pohonnya tumbuh tinggi dan berbunga indah.

 Seperti Orabuni yang akan menjadi pemuda tampan.

 

          Joongki tak pernah bertemu dengan gadis apelnya di tahun-tahun berikutnya. Sekarang, dia tersenyum menatap bunga apel yang bermekaran indah.

          “Nona apel, di mana kau sekarang?” guman Joongki sambil menyentuh batang pohon. “Pohonmu memiliki bunga yang indah. Kalau kau ada di surga, lihatlah ia sebentar,” lanjutnya dengan suara parau. 

ѼѼѼ

         

Keluarga raja bersiap berangkat ke Hwajeon untuk membuka perayaan. Pelayan dan pengawal menunggu perintah untuk berangkat. Semua keluarga raja masih menunggu Eunhwa, anak ketiga ratu yang berumur 17.

          Seorang dayang  melaporkan sesuatu. “Gongju Mama sudah pergi dan meninggalkan surat untuk Cheona.” (Tuan Puteri)

          Raja membacanya lalu mengatakan kepada ratu dan semua keluarganya bahwa Eunhwa sudah berangkat lebih dulu ke pavilium bunga.

          Ratu marah dan menggerutu. “Cheona (Baginda), tampaknya Gongju akan mengulangi kelakuan kecilnya.”

Waktu kecil, Eunhwa sering kabur dari istana saat festival bunga. Raja hanya tertawa menanggapinya.

ѼѼѼ

 

apple-tree-blossom

Eunhwa Gongju tiba di depan gerbang Hwajeon bersama Seori, pelayan pribadinya. Eunhwa tidak memakai hanbok puteri. Dia hanya memakai hanbok seperti gadis bangsawan dari bahan sutera yang indah bernuansa kuning. Mereka berjalan memasuki area taman yang sudah dipenuhi pengunjung. Para wanita pemilik kebun sedang sibuk menata bunga.

          Seori khawatir. “Gongju Mama, aku mohon kembalilah.”

          Eunhwa menanggapinya dengan santai. “Kalau kau takut, kembali saja sendiri. Aku tetap di sini.”

          Seori terpaksa mengikuti Eunhwa berjalan menuju suatu tempat di taman itu. Eunhwa mencari pohon apel, tak jauh dari bangunan utama pavilium. Dia pun menemukan satu-satunya pohon apel ditumbuhi bunga-bunga cantik berwarna putih. Eunhwa berdiri di depan pohon itu dan tersenyum bahagia. Dia melangkah lebih dekat dan menyentuh batangnya.

          “Seori-ya, pohonku masih ada,” ungkapnya bahagia.

          “Aku pikir Gongju-mama sudah melupakannya,” komentar Seori.

          “Tidak. Aku tak pernah melupakannya dan melupakan dia…” Eunhwa menengadah mengagumi bunga-bunga yang bermekaran.

          Seori ikut memperhatikan. “Gongju-mama, benda apa itu?” tunjuknya pada salah satu celah cabang. Mereka melihat bungkusan kecil dari kain sutera biru.

          “Seori-ya, tolong ambil,” pinta Eunhwa.

          Seori mengambilnya lalu menyerahkan pada Eunhwa. Kain sutera warna azzuri membungkus lipatan kertas dan norigae kecil berwarna kuning motif kupu-kupu. Eunhwa membuka lipatan kertas. Ternyata sebuah surat yang ditulis dengan huruf Hanja.

         

Nona apel, ada di mana sekarang?

Angin musim semi selalu membawaku ke sini.

Lima tahun lalu, aku menunggu Nona apel tapi ia tak datang.

Dan tak pernah kembali.

Aku ingin mengembalikan norigaenya yang dulu jatuh.

Kalau dia ada di surga, aku harap dia  melihat pohonnya sudah besar dan  berbunga indah.

norigae (5)0

Eunhwa menggenggam erat surat dan norigaenya sambil menebarkan pandangannya ke sekitar. Dia mencari sosok seorang namja. Tapi di antara mereka yang hilir mudik, tidak ada yang menoleh pada pohonnya.

          “Seori-ah, orabuni itu menaruhnya di pohonku. Dia tidak melupakanku. Apa yang harus kulakukan? Aku ingin menemuinya.” Perasaan Eunhwa mendadak membuncah. Dia merasa terharu sekaligus bahagia. Kerinduannya pun menyeruak.

          “Gongju Mama, sebentar lagi rombongan istana datang,” Seori mengingatkan.

          Eunhwa tidak peduli. Dia diam dan berusaha mengingat wajah orabuni yang umurnya tiga tahun lebih tua itu. Dulu mereka berjanji akan bertemu setiap tahun. Tapi Eunhwa sakit parah dan terpaksa dirawat di Kyongju, demi meredam isu tak sedap di ibukota yang mengatakan dirinya menderita penyakit berbahaya. Seori mengingatkan Eunhwa agar tidak menunggu orabuni itu. Bagaimanapun, Eunhwa akan segera menikah.

Orabuni adalah cinta pertamaku, Seori-ya. Biarkan aku melihatnya walau sekali,” tegas Eunhwa.

 

Jauh di atas sebuah menara penjaga, Song Joongki terpaku menatap Eunhwa sedang memegang bungkusan yang tadi dia taruh di celah cabang pohon. Dia tak percaya ada gadis mendekati pohon itu dan mengambil bungkusannya. Joongki ingin memastikan apakah Eunhwa si nona apel yang selalu dia tunggu.

 

Joongki sampai di depan pohon apel tapi dia tak menemukan Eunhwa. Dia bertanya kepada nyonya yang mengurus kebun bunga di sekitar sana. “Nyonya, apa Anda melihat seorang gadis memakai hanbok kuning bersama pelayannya di sini?”

“Baru saja pergi ke arah sana dikawal dua orang polisi,jawab si nyonya sambil menunjuk suatu arah.

Joongki segera berlari dan mencari sosok gadis dengan hanbok nuansa kuning. Tiba-tiba, seorang anak buahnya melapor.

Naeri (tuan), dua polisi disekap. Saat sadar, mereka memakai baju biasa. Ada penyusup memakai baju mereka. Komandan polisi minta bantuan Anda untuk menjaga, rombongan kerajaan sudah tiba.”

Joongki merasa kebetulan, gadis itu juga dikawal dua polisi. “Kau ambil alih tugasku. Aku akan menyelidiki sesuatu.” Instingnya bekerja lebih cepat dari logikanya.

Joongki terus mencari Eunhwa. Setelah bertanya entah berapa kali, dia kehilangan jejak di sekitar gerbang belakang.

ѼѼѼ

 

Joongki sedang menunggangi kuda. Tadi penjaga gerbang mengatakan ada dua polisi pergi dengan kereta kuda berisi barang. Joongki mengejar kereta itu.

 

Di dalam kereta, Eunhwa dan Seori meronta mencoba melepaskan ikatan tangan mereka dan mulut mereka dililit kain. Setelah cukup lama, kereta pun berhenti. Dua polisi menyeret Eunhwa dan Seori dan menjatuhkan keduanya ke tanah. Mereka menodongkan pedang dan kompak mengayunkannya menuju tubuh dua gadis itu.

Eunhwa dan Seori menutup mata saat pedang siap menebas tubuh mereka.

“Aaa!” Tiba-tiba seseorang mengeluh kesakitan.

Eunhwa melihat seorang polisi tersungkur dengan pisau menancap di dada. Seorang lagi menatap Joongki yang  turun dari kuda dan mendekati mereka.

Polisi palsu menodongkan pedang ke leher Eunhwa.“Kalau berani mendekat, aku bunuh dia, ancam orang itu. “Jatuhkan pedangmu.”

Joongki meletakan pedangnya di tanah pelan-pelan. Saat pedangnya ditaruh di tanah, dia menegakan badan perlahan sambil memperhatikan pria itu. Joongki segera menarik lengan pria itu dan mendorong Eunhwa menjauh. Joongki memukul pria itu sampai jatuh dan merebut pedangnya. Joongki sempat melukainya agar tidak melawan.

“Siapa kalian? Lancang sekali sudah menyamar dan menculik,” hardik Joongki.

Belum mendapat jawaban, beberapa panah meluncur di sekitar mereka. Penjahat yang terluka itu tertawa. “Kalian akan mati,” ucapnya. Jauh di balik tikungan, empat orang pria mengendarai kuda mendekat.

“Cepat lari!” ajak Joongki. Dia berlari ke dalam hutan bersama Eunhwa dan Seori.

Para penjahat mengejar. Seori tertembak panah dalam pengejaran. Dia meminta Joongki menyelamatkan Eunhwa. Seori  menjatuhkan diri ke jurang untuk bersembunyi.

Joongki menarik tangan Eunhwa dan membawanya lari lebih cepat. Mereka terus berlari sampai tiba di tebing menuju sungai.

Joongki menoleh ke belakang lalu berkata, “Ayo loncat,” ajaknya tanpa menunggu tanggapan Eunhwa.

 

Mereka terbawa arus dengan saling berpegangan erat. Joongki membawa Eunhwa menepi dan diam di gua. Mereka duduk berhadapan dengan tubuh basah. Keduanya saling menatap merasa saling mengenal. Eunhwa memperhatikan Joongki, merasa begitu familiar dengan caranya menarik senyuman dan menatap sesuatu. Juga sorot mata yang membiaskan kecerdasan pemiliknya. Joongki juga memastikan bahwa gadis dengan senyuman anggun itu adalah Nona apelnya.

Setelah agak lama, Eunhwa bertanya dengan ragu, “Orabuni, kau kah itu?”

Joongki menatap Eunhwa penuh haru. “Apa benar kau si Nona apel?”

Eunhwa tersenyum dan menunjukan bungkusan norigae dan surat Joongki yang basah.

Joongki tersenyum bahagia dan ingin menanyakan banyak hal. “Kenapa kau tak pernah datang? Aku kira…”

Mianhamnida. Aku sakit parah dan harus pindah dari ibukota.” Eunhwa menjelaskan alasannya tidak menepati janji untuk bertemu setiap perayaan Hwajeon. Joongki memaafkannya dan senang Eunhwa sudah sehat. “Orabuni, boleh aku tahu namamu dan jabatanmu?” Eunhwa tentu tahu Joongki seorang tentara.

Joongki terkekeh. “Song Joongki, salah satu kapten naegeumbu. Namamu siapa, Nona apel?”

Eunhwa mendadak murung. “Mianhamnida. Aku tidak bisa memberitahu namaku sekarang. Akan kuberitahu nanti.”

Mereka sebenarnya saling merindukan sehingga larut dalam perbincangan. Sampai tiba-tiba kepala Joongki dipukul dari belakang sampai pingsan. “Orabuni!” teriak Eunhwa.

“Anda baik-baik saja, Gongju Mama?” tanya seorang tentara, pengawal pribadi Raja yang ditugaskan mencari Eunhwa.

Eunhwa marah dan mengatakan bahwa Joongki sudah menolongnya. Eunhwa khawatir Joongki terluka. Pengawal itu memastikan Joongki hanya pingsan dan mengatakan situasi di luar sudah aman. Seori sendiri ditemukan tentara pengawal lain dan hanya mengalami luka memar di lengan.

ѼѼѼ

 

Dua pekan kemudiaan

          Song Joongki yang tidak tahu didaftarkan sebagai calon Uibin, dikejutkan dengan pengumuman bahwa dirinya terpilih untuk menikahi puteri Eunhwa. Meski terus ingat si Nona apel, dia tak bisa menolak demi kehormatan keluarganya.

Saat ini dia sedang melangsungkan upacara pernikahannya. Joongki terkejut ketika melihat pengantin perempuannya, puteri Eunhwa yang tak lain adalah nona apelnya.

 

          Joongki dan Eunhwa duduk berhadapan di dalam kamar Joongki dan saling menatap.

Mianhamnida, tak pernah memberitahu identitasku,” ucap Eunhwa. “Maafkan aku juga, karena Naeri terpaksa menikahiku, puteri yang dikenal memiliki penyakit dan jelek.” Eunhwa menunduk.

Joongki meraih tangan kanan Eunhwa dan mengangkat wajah istrinya itu. Joongki menatapnya lembut dan tersenyum. “Gongju adalah yang terindah bagiku. Aku adalah namja paling bahagia karena memilikimu,” ucapnya lembut lalu mengecup kening Eunhwa pelan. Eunhwa membalas senyum lembutnya. Lalu Joongki memeluk Eunhwa dalam dekapan yang hangat.

          ѼѼѼ

         

Advertisements

11 thoughts on “Sagwa Agasshi

  1. Ya ampun keren banget ffnya eon >_<
    bahasa, alur dan penggambaran karakternya semua DAEBAK !!!!!!!!
    SUKA PAKE BANGET !
    Heheini ff saeguk yang menginspirasi aku banget yang pengen buat ff saeguk juga. Berkat eonni, aku jadi nambah ilmu dengan sapaan korea yang emang aku cari buat ff aku. Sekali lagi makasih ya eon ^^v

  2. Ya ampun keren banget ffnya eon >_<
    bahasa, alur dan penggambaran karakternya semua DAEBAK !!!!!!!!
    SUKA PAKE BANGET !
    Heheini ff saeguk yang menginspirasi aku banget yang pengen buat ff saeguk juga. Berkat eonni, aku jadi nambah ilmu dengan sapaan korea yang emang aku cari buat ff aku. Sekali lagi makasih ya eon ^^

  3. Baru sadar kalau saya belum komen di sini.

    Saya buta sejarah Korea. Tapi latar di ff ini membuat saya bisa melihat latarnya langsung.

    Bener kata Nunung seperti permen manisnya. ㅎㅎㅎㅎ

    Joongki memang gambaran yang pas untuk castnya.

  4. FF yang membuat salah satu juri di SOFF jatuh hati, ide cerita yang jarang diambil, saya pribadi belum pernah mencoba menulis dengan setting jaman Joseon seperti ini.

    Istilah-istilah dan setting jaman Joseon yang dituliskan di sini, berhasil membuat saya merasuk ke dalam ceritanya. Good job, Onnieya ^^

  5. Idenya bagus jarang ditemukan di ff manapun. Yang bikin aku speechless, bahasa koreanya lengkap bgt dan menggunakan istilah2 asing zaman Joseon. Pokoknya settingnya dpt bgt deh. Lanjutkan! Daebak 😉

    1. Annyeong Shaldaa 🙂
      terima kasih udah berkunjung dan baca.
      Idenya sederhana aja koq.
      waktu itu dipatok beberapa keywords wajib, jadi muncul ide seperti ini.

      sekali lagi, makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s