Law of Natures 3 : Sweet Defendant 2

  Law of Natures:  

Sweet Defendant 2 

  LoN Sweet Defendant 2 Poster

By :

  Christie Sue feat thecuties   

|Crime/Mystery/Romance/Drama/Comedy| PG 17 | Series |

Casts :

Lee Jongsuk, Lee Soohyuk, Kim Woobin

 [OC] : Jun Yoojin, Jo Hwanbi, Jo Hwanmi

 Jung Daeryong (Tasty), Jung Soryong (Tasty)

Kang Minhyuk (CN Blue), Lee Jihoon, Lee Yikyung

Cameo :

Kim Namgil

(OC) : Han Junhee, Choi Inmin

Previous Part :

The Court | Sweet Defendant 1 |

♫ Law of Natures 3.♫

Mapo Police Station, Seogyo-dong, Mapo-gu,

Senin, 21 Oktober 2013, 11.11 am KST

Siang itu Woobin bermaksud untuk merokok di halaman kantornya, saat seorang wanita berusia lebih dari tiga puluh tahun, menerobos masuk ke ruangannya dengan wajah kesal. Woobin tahu benar kalau wanita ini adalah Choi Inmin, atau yang biasa dipanggil dengan nama Evita Choi tunangan dari Joo Sangwook.

Hya! Apa kau tidak bisa bekerja dengan benar, huh? Kenapa sampai sekarang si pembunuh itu bebas berkeliaran?! Apa kau akan bertanggung jawab kalau dia kembali membunuh seseorang?” sembur Inmin tanpa ampun.

Woobin menggenggam erat tangannya dan menarik nafas panjang. Dia tidak boleh terpancing dengan wanita ini. Dia harus menghadapinya dengan kepala dingin.

Cheosonghamnida, Mrs. Choi, kami sudah…”

Mwo? Mrs? Hya, aku belum menikah, dan aku masih muda, kau harus memanggilku dengan sebutan Miss atau Agassi,” Inmin memotong perkataan Woobin.

Woobin kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya cepat. Wanita tua ini benar-benar menguji kesabarannya.

“Baiklah, Choi Inmin Agassi…”

Mwo? Apa kau tidak memiliki televisi? Kau seharusnya memanggilku dengan nama Evita, bukan Inmin,” lagi-lagi Inmin memotong perkataan Woobin.

Woobin mengeram pelan. Sekali lagi wanita tua ini memotong perkataannya, akan dia pastikan wanita ini akan menyesal.

Okay, Evita Agassi,” Woobin bisa melihat wanita itu tersenyum, atau mungkin lebih bisa dikatakan kalau wanita itu menyeringai dan membuat wajahnya semakin menakutkan saja.

“Kami sedang melakukan penyelidikan, walaupun kami tidak memenjarakan Jun Yoojin, dia mempunyai kewajiban untuk melapor kemari setiap harinya, jadi saya bisa menjamin kalau Jun Yoojin tidak akan lari dari kasus ini. Anda tidak perlu khawatir,” jelas Woobin.

Choi Inmin kembali menyeringai. “Baiklah kalau begitu,” ucapnya sambil mengibaskan rambutnya. “Kali ini aku mempercayai perkataanmu, kalau sampai kasus ini tidak bisa terselesaikan, atau si pembunuh barulah, maka aku pastikan jabatanmu hilang.”

Woobin mendengus. Wanita tua ini sudah berani mengancamnya, karena wanita ini merasa memiliki kekuasaan. Selain seorang artis, paman dari wanita tua ini adalah pemilik dari agensi artis terkenal di Korea. Dasar wanita tua menyebalkan. “Ne, anda tidak perlu khawatir, saya akan melakukan penyelidikan dengan sebaik-baiknya, lagipula kasus ini sudah dilimpahkan ke pihak kejaksaan.”

“Bagus sekali, kalau begitu aku pergi dulu,” ucapnya dengan dagu yang terangkat cukup tinggi, Choi Inmin melangkah dengan angkuhnya keluar dari ruangan Woobin.

Aigo~ Bagaimana bisa korban memiliki tunangan yang menyeramkan seperti itu?” gerutu Kang Minhyuk, junior Woobin yang kebetulan duduk di sebelah meja kerjanya.

“Apa Sunbae ingat kata-katanya saat kita mengintrogasinya?” tanya Minhyuk.

“Aku yakin sekali kalau wanita itu membunuh Sangwook Oppa karena dia iri padaku, dia tidak ingin aku memiliki Sangwook Oppa, maka dia membunuhnya. Dasar jalang!” Minhyuk menirukan gaya bicara Choi Inmin lengkap dengan mimik wajahnya yang membuat Woobin tergelak.

“Woobin-ah, apa itu artinya kau sudah lepas tangan dari kasus ini?” tanya Lee Jihoon salah satu detektif rekan kerja Woobin.

“Tidak juga, tetapi aku sudah menyerahkan semua temuan pada kejaksaan,” jawab Woobin santai.

“Omong-omong, apakah Sunbae ingat Kwon Heemi?” celetuk Minhyuk.

“Kwon Heemi pemilik Queen Butik yang waktu itu kerampokan?” Lee Yikyung junior Jihoon ikut menimpali.

Eoh,” balas Minhyuk sambil menganggukan kepalanya. “Beberapa hari yang lalu aku melihat dia berjalan bersama temannya di depan kantor kita ini, lalu saat melihat Woobin Sunbae, temannya itu mengatakan kalau Woobin Sunbae sangat keren. Dan si wajah bulat itu berkata dengan galaknya ‘That guy is mine!’. Heol! Apa Sunbae begitu murahannya?” Minhyuk menceritakan kejadian yang dia lihat beberapa hari yang lalu, lengkap dengan gaya Kwon Heemi. Jihoon, dan Yikyung tergelak. Sedangkan Woobin menaikkan satu alisnya. Dia tidak suka dengan perkataan Kwon Heemi tersebut. Sejak awal bertemu, Woobin tahu wanita itu menaruh hati padanya. Tapi, Woobin malas menanggapinya.

“Sudahlah, jangan membicarakan wanita itu lagi,” ucap Woobin sambil melangkah keluar.

Sunbaenim, Eoddie ga?” tanya Minhyuk.

“Merokok,” jawab Woobin.

Saat berada di halaman luar kantornya, Woobin mengangkap sosok Jo Hwanbi pengacara Jun Yoojin sedang berjalan cepat menuju sebuah mobil. Gadis itu mengenakan kemeja serut berwarna baby blue yang dia padukan dengan skirt sebatas lutut berwarna khaki.

“Apa yang sedang Jo Byeon lakukan di sini? Apakah dia sedang menyamar untuk mendapatkan informasi?” gumam Woobin pelan.

♫ Law of Natures 3.♫

Seoul Western Public Prosecutor Office,

Gongdeok-dong, Mapo-gu, 03.20 pm KST

Jongsuk, Soohyuk, dan Hwanbi duduk bersama di sofa panjang yang ada di ruang kerja Jongsuk. Setelah selesai di introgasi, Yoojin pamit pergi untuk menemui sutrada, sedangkan Hwanbi bertahan di sana untuk mendiskusikan kasus ini dengan Jongsuk dan Soohyuk.

“Aku yakin, Yoojin Eonni bukan pembunuhnya,” ucap Hwanbi sambil menompang kakinya.

“Ada sidik jarinya di botol wine beracun itu, Duffy,” balas Jongsuk. Lelaki berbibir tebal itu bermaksud mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, yang langsung disambut delikan oleh Hwanbi.

“Kalau tidak salah, racun yang ada di dalam wine itu arsenik, kan?” tanya Hwanbi.

Eoh, terdapat kandungan arsenik dalam wine yang diminum korban,” giliran Soohyuk yang membuka mulut.

“Bukannya arsenik akan mengendap saat bercampur dengan air dingin? Dan arsenik akan bereaksi dalam tubuh setelah 30 menit,” gumam Hwanbi. “Tidak mungkin Yoojin Eonni yang memasukkan arsenik tersebut ke dalam wine, karena tadi kalian dengar sendiri, kalau wine itu sudah ada di dalam apartemen Joo Isa,” Hwanbi menambahkan pendapatnya.

“Bisa saja wine itu Yoojin yang membawanya, karena CCTV menangkap saat datang, Yoojin membawa tas besar,” kata Jongsuk.

Hwanbi menarik nafas panjang. “Yoojin Eonni tidak mungkin membawa wine tersebut, karena dia tidak tahu tentang wine. Lagipula, pembunuhan seperti ini terlalu sempurna untuk seorang Jun Yoojin yang ceroboh dan teledor.”

“Karena dia ceroboh, makanya dia lupa menghapus sidik jarinya di botol wine tersebut,” ucap Jongsuk penuh kemenangan.

“Dan kasus pembunuhan ini seperti drama yang baru berakhir bulan lalu, kalau tidak salah Yoojin yang menulisnya,” celetukan Soohyuk tadi membuat Jongsuk dan Hwanbi menoleh secara bersamaan.

“Kau menonton drama yang ditulis Yoojin Eonni?” tanya Hwanbi dengan mata membesar tidak percaya.

Soohyuk mengusap tengkuknya. “Hanya di saat sedang memiliki waktu luang saja,” jawabnya asal.

Hwanbi menatap Soohyuk dengan mata memicing. Dia mencium ada yang aneh dari gelagat sahabatnya ini.

Mendapat tatapan penuh kecurigaan membuat Soohyuk memutar otak, dia harus segera pergi dari tempat itu, sebelum pengacara cerewet ini menanyainya macam-macam. “Lee Geom, bukannya kita harus ke TKP untuk memeriksa paper bag yang tadi dikatakan oleh Jun Yoojin?” ujar Soohyuk pada Jongsuk.

“Ah, iya. Kita lanjutkan diskusinya lain kali saja, Duffy. Saat ini, kami harus pergi memeriksa TKP,” Jongsuk bangkit dari duduknya dan menyambar jasnya dari gantungan.

“Sampai nanti, Jo Byeon,” Soohyuk melambai pada Hwanbi dan bergegas menyusul Jongsuk yang sudah pergi lebih dulu. Sedangkan Hwanbi hanya bisa termenung sendirian di ruang kerja Jongsuk. Kasus ini benar-benar memusingkan.

♫ Law of Natures 3.♫

Seoul Western Public Prosecutor Office

Selasa,22 Oktober 2013, 10.45 AM KST.

“Bagaimana penyelidikanmu?” tanya Lee Jongsuk ketika melihat Soohyuk masuk kantor.Soohyuk membuka jaket kulitnya dan menyampirkannya ke kursi sebelum menjawab pertanyaan Jongsuk.

“Mantan pacarnya punya tunangan yang terpukul dengan kematian tunangannya. Sang tunangan memaki-makinya lalu mengusirnya,” tukas Soohyuk sambil menyalakan laptopnya. Jongsuk mengangguk.

“Tentu saja. Wanita itu membunuh tunangannya. Ada alasan mengapa mereka putus?” tanya Jongsuk sambil bersandar duduk di meja Soohyuk. Tangannya terlipat di depan dada.

“Klise! Korban dijodohkan dengan putri seorang direktur, yang sekarang jadi tunangannya,” jawab Soohyuk. Jongsuk tampak berpikir sambil memegangi bibirnya.

“Dendam ditinggalkan,” gumamnya pada diri sendiri.  Lalu ia meninggalkan meja Soohyuk, berjalan ke ruangannya sambil terus berpikir. Ia mengambil marker dan menuliskan nama Joo Sangwook di kaca yang menjadi pembatas di ruangannya. Lalu ia menuliskan nama Jun Yoojin di samping nama Joo Sangwook. Ia duduk di meja sambil terus memperhatikan kedua nama itu sambil terus berpikir. Kemudian ia menambahkan nama Daeryong dan Soryeong. Ia juga menambahkan nama yang muncul terus di kepalanya, Choi Inmin, sang artis yang juga keponakan pemilik Tango Wine house.

Jongsuk, jaksa penuntut muda itu masih berpikir ketika Penyidik Lee masuk ke ruangannya dan ikut duduk di meja memperhatikan tulisan di whiteboard itu.

“Hanya ada sidik jarinya di botol wine. Hasil rekaman CCTV memperlihatkan kalau hanya Jun Yoojin yang masuk ke apartemen. Jun Yoojin tetap berkeras kalau korban mengatakan akan pergi jauh.”

Soohyuk menghela nafas.

“Bukankah itu bisa berarti korban bunuh diri?” tanya Penyidik Lee dengan suara ditekan.

“Mengapa kau gusar?” tanya Jongsuk.

Penyidik Lee mengusap tengkuknya.

Ani, geunyang, mungkin saja korban benar-benar bunuh diri,” alasan Soohyuk. Jongsuk memicingkan matanya melirik kaca yang ditulisi nama-nama orang yang berkaitan dengan kasus ini.

“Ikuti terus tersangka, siapa tahu ia menunjukkan gelagat mencurigakan,” pesan Jongsuk. Soohyuk melirik Jongsuk dengan tatapan malas.

“Ah, tadi Woobin menghubungi ponselmu. Dia bilang yang menerima seorang yeoja. Kau tinggalkan di mana ponselmu?” tanya Jongsuk. Soohyuk merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel S4 navynya. Tapi ketika ia membuka flip covernya, wallpapernya tampak asing. Ada 6 namja di sana.

Soohyuk mengacak rambutnya. Ini bukan ponselnya. Lalu di mana ponselnya?

Jangan-jangan.

Soohyuk buru-buru meninggalkan Jongsuk yang masih menatap tempelan dan coretan di kaca itu. Ia langsung menghubungi ponselnya sendiri. Dan benar saja dugaannya kalau ponselnya ternyata tertukar dengan milik Jun Yoojin.

Ia tersenyum kecil karena ia baru saja menemukan alasan untuk bertemu dengan Yoojin lagi padahal mereka baru saja bertemu satu jam sebelumnya.

♫ Law of Natures 3.♫

Hollys Coffee, Mapo Gu.

11.35 PM KST.

Jun Yoojin masuk ke Hollys Coffee yang letaknya di seberang kantor kejaksaan. Soohyuk menghubunginya lewat ponselnya dan mengatakan akan mengembalikan ponselnya. Soohyuk menunjuk coffe shop di sebelah minimart ini.

Ia terus berpikir bagaimana bisa ponselnya sampai tertukar. Dengan gusar digeleng-gelengkan kepalanya. Sang kasir, seorang yeoja berusia di atas tiga puluh tahun meliriknya dengan jengkel. Tidak sabar menunggu Yoojin menyebutkan pesanannya. Yoojin masih tersenyum sendiri ketika sang kasir mulai mendehem dan meliriknya dengan tajam.

“Apa pesananmu, Eonni?”

Yoojin mengerutkan keningnya. Diliriknya sang kasir yang memanggilnya dengan panggilan Eonni. Wanita yang memang lebih tua darinya, Yoojin yakin itu. Rambutnya panjang lurus dicat cokelat terang, memakai pakaian seragam pegawai coffee shop dengan satu ukuran lebih kecil sehingga kancing-kancing bajunya seolah minta dilepaskan dari lubangnya.
image

“Pesananmu Eonni?” ulangnya dengan nada agak tinggi.

Galak!

Yoojin menyipitkan matanya menatap kasir itu.

“Americano,” jawabnya. Sang kasir galak mendengus sebelum menyiapkan pesanan Yoojin. Lalu ia menghitung pesanan Yoojin dengan mesin hitung. Yoojin segera membayar dan buru-buru mencari tempat duduk menghindari tatapan galak dari kasir itu.

Yoojin memilik tempat duduk di luar, area merokok, selain karena akan lebih mudah melihat kehadiran penyidik Lee, ia juga bisa menunggu sambil merokok. Ia mengeluarkan sekotak rokok dari tote bag birunya setelah menyampirkan jaket hitamnya ke sandaran kursi. Lalu mengambil sebatang rokok dan menyelipkannya di bibirnya. Namun ia tidak bisa menemukan lighter di dalam tasnya. Ia mencoba merogoh saku cardigan pendeknya namun tetap saja ia tidak menemukan lighter.

Tiba-tiba seseorang menyulutkan lighter. Yoojin mendekatkan ujung rokoknya, ketika mengucapkan terima kasih ia baru mengangkat kepalanya menatap orang itu. Dan entah kenapa perutnya seperti sedang ditinju ketika menatap ke dalam kedalaman mata milik Penyidik Lee.

Annyeong,” sapanya.

“Penyidik Lee. Kau bawa ponselku?” tanyanya sambil berdiri. Ia sadar suaranya sedikit bergetar.

Ne,” jawab Soohyuk dengan deep voicenya. Bibir tipisnya melengkung ke atas menarik tulang pipinya yang tirus. Jun Yoojin tidak yakin apakah itu senyuman atau bukan.

Mian, ini salahku,” tukas Yoojin. Soohyuk mendekati mejanya dan  mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya yang berwarna cokelat. Yoojin menerimanya dan mengembalikan ponsel Soohyuk juga.

“Ternyata selain memiliki selera mobil yang sama, kita juga memiliki selera ponsel yang sama,” tukas Soohyuk. Yoojin meringis.

“Soohyuk Oppa!”

Oppa?

Yoojin berjengit mendengar Penyidik Lee dipanggil Oppa oleh wanita genit itu.

Berapa sih usianya?

Soohyuk menoleh ketika ia mendengar suara seorang yeoja memanggilnya. Yoojin ikut menoleh ke arah suara manja itu. Dan ia mendelik karena kasir yang sebelumnya melayaninya dengan galak itulah yang menyapa Soohyuk.

“Soohee-ya,” balas Soohyuk. Yoojin hampir tersedak.

Penyidik vampir cukup akrab dengan kasir sok seksi itu, pikirnya.

Kasir yang dipanggil Soohee itu mendekat. Yoojin tahu ekor mata sang kasir melirik bekas rokok yang ditinggalkannya di asbak rokok di mejanya. Kasir itu mendengus jengkel. Lagi-lagi Yoojin hanya meringis.

Oppa sudah pesan kopi?” tanyanya dengan suara dibuat-buat. Yoojin menghembuskan nafas lalu menelan ludah. Perutnya langsung merasa tak enak. Dalam hatinya ia menyalahkan kopi yang diminumnya tadi.

Yoojin mendengus lalu ia menghidupkan musik di notenya dan memasang earphonenya kembali karena merasa sebal dengan Soohee dan juga sebal kepada Soohyuk yang lebih memilih mengobrol dengan Soohee dan mengabaikannya.

Ia memutuskan untuk kembali menulis  apa yang dilihatnya di seberang, yaitu gedung kejaksaan. Tangannya mulai kembali mengetik.

Pria berwajah unik itu berjalan ke arahnya. Dengan mata berbentuk seperti mata pisau, hidung mancung, tulang pipi tinggi serta dengan tinggi yang di atas rata-rata membuat para yeoja yang duduk di coffe shop itu melirik ke arah pria berwajah unik itu.

Ketika ia bersuara, suaranya rendah dan dalam meninggalkan kesan yang mendalam  bagi orang mendengarnya. Jenis suara yang tidak mudah dilupakan orang.

Yoojin berpikir lagi. Ia merasa sosok yang sedang ditulisnya itu sangat familiar. Ia menatap lurus pada Penyidik Lee yang sedang bicara dengan Soohee. Soohee cekikikan tapi Yoojin sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena suara musik dari notenya. Dilepaskannya kedua earphone dan memandang Soohyuk intens. Ditatap oleh Yoojin membuat Soohyuk sadar dan ia pun balas menatap Yoojin.

“Penyidik Lee, bisakah kau membantuku?” tanya Yoojin lirih. Soohyuk tidak menjawab tapi juga tidak menolak. Yoojin tahu kalau Soohyuk bersedia dari caranya menatap Yoojin.

“Ucapkan banmal sebuah nama dengan nada khasmu, jebal,” pinta Yoojin.

Soohyuk menautkan alisnya, tidak mengerti apa yang diminta Yoojin namun hanya satu nama yang terlintas di benaknya sekarang.

“Yoojin-ah,” gumam Soohyuk. Jantung Yoojin seolah berhenti mendetak saat itu juga. Suara itu benar-benar membekukan raganya. Ia bahkan tak bisa berkedip menatap Soohyuk yang juga sedang menatapnya.

Oppa, rasanya sekarang Woobin Oppa jarang muncul,” tukas Soohee membuyarkan kontak mata antara mereka.

“Ah ne, dia cukup sibuk,” tukas Soohyuk. Yoojin mengerjap matanya berusaha untuk kembali pada akal sehatnya.

Ia sadar kalau ia tidak akan bisa mengetik skripnya lagi karena kehadiran Soohyuk dan suaranya yang menggetarkan kalbu itu. Segera ia menyimpan bungkus rokok yang sebelumnya ada di meja ke dalam tasnya dan bangkit.

Keurom,” ujarnya. Ia mengangguk pada Soohyuk.

Gumapseummnida penyidik Lee. Mian karena telah merepotkanmu,” tukasnya buru-buru ingin pergi dari tempat itu. Sebelum ia muntah menyaksikan kelakuan kasir genit itu. Ia segera melangkah.

Jamkanman,” tukas Soohyuk. Yoojin menghentikan langkahnya dan menoleh pada pria itu.

“Aku menyimpan nomorku di ponselmu di angka cepat 1. Kalau kau ingat sesuatu tentang malam itu, kau bisa menghubungiku,” lanjutnya.

Bukankah aku seharusnya menghubungi pengacaraku, Penyidik Lee?

Tapi karena sebal dengan kelakuan sang kasir yang terus bergelayut di lengan Soohyuk, Yoojin hanya mengangguk lalu membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Soohyuk tanpa menoleh lagi.

Monjeo kalgeo Penyidik Lee.”

Jo sim,” balas Soohyuk lembut. Yoojin berusaha biasa saja mendengar suara itu. Tapi tetap saja perutnya bergolak.

Soohyuk masih menatap punggung wanita itu, lalu mendesah dan melirik kursi yang baru saja ditinggalkannya. Ia baru sadar kalau Yoojin meninggalkan jaketnya.

Tanpa menunggu lagi ia segera bangkit dan menyusul Yoojin untuk mengembalikan jaket itu dan mengabaikan panggilan Soohee meskipun ia tidak tahu tujuan Yoojin tapi ia melihat Yoojin tadi menyeberangi jalan jadi ia juga menyeberang jalan dan berusaha mencari sosok itu.

Soohyuk sampai di perempatan jalan ketika melihat sosok Yoojin sedang menyeberang jalan namun ketika Soohyuk ingin menyeberang, lampu hijau untuk pejalan kaki sudah padam. Yoojin sudah sampai di seberang sementara ia berada di sisi jalan lainnya.

“Jun Yoojin ssi!” panggilnya. Yoojin masih terus berjalan.

Soohyuk mengeluarkan ponselnya menghubungi nomor telepon Yoojin. Dari tempatnya berdiri ia menyaksikan Yoojin merogoh tasnya namun ia tidak menemukan ponselnya. Lalu ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan S-4nya.

Yeoboseoyo,” sapanya.

“Yoojin ssi, berbaliklah,” tukas Soohyuk lembut. Yoojin melihat ke kanan kirinya lalu berbalik. Tanpa kesulitan ia menemukan sosok dengan kaki panjang sedang menggenggam telepon dan berdiri di seberang jalan sambil menatapnya. Meskipun jarak memisahkan mereka namun Yoojin bisa merasakan hangatnya mata Soohyuk yang terarah langsung menusuk ke jantungnya.

“Kau melupakan jaketmu,” tukas Soohyuk, nyaris berupa bisikan yang lembut.

Eoh,” balas Yoojin lirih. Mereka masih terus bertatapan sampai lampu hijau bagi pejalan kaki menyala.

“Tetaplah di sana, aku akan ke tempatmu, Yoojin ssi,” tukas Soohyuk lagi. Yoojin mengangguk tetapi tidak ada yang menutup ponsel. Soohyuk melangkah cepat menyeberang jalan dan sampai ke hadapan Yoojin. Barulah mereka sama-sama menutup teleponnya.

“Kau meninggalkan jaketmu di cafe.”

Yoojin harus mendongak untuk bisa menatap wajah unik milik Soohyuk. Soohyuk tidak bisa dikatakan tampan tapi ia memiliki raut wajah yang tidak lazim. Sebagai penulis skrip drama, Yoojin sering melihat wajah tampan namun tidak ada satu pun yang meiliki wajah unik seperti Soohyuk. Matanya meruncing seperti ujung mata pisau, hidung mancung yang agak terlalu panjang, tulang pipi yang tinggi dan bibir atas yang tipis namun bibir bawah tebal memiliki belahan di bagian tengahnya.

“Aku sering lupa meninggalkan barang-barangku di mana saja,” ujar Yoojin lirih. Soohyuk mengangguk.

Nan ara,” ucapnya. Bibirnya bergerak naik ke atas sehingga tulang pipinya juga ikut naik dan Yoojin masih ragu  apa itu senyuman atau bukan.

Soohyuk menyerahkan jaket itu dan Yoojin menerimanya.

Gumapseumnida, Penyidik Lee,” ucapnya. Harusnya setelah mengucapkan terima kasih, ia mengucapkan selamat tinggal sampai jumpa lagi namun ia tidak dapat mengatakannya. Kakinya juga tidak mau bergerak seinci pun.

“Yoojin ssi mau ke mana? Biar kuantar,” tukas Soohyuk menawarkan diri. Yoojin mengangguk kikuk.

A-ani, aku hanya janji makan siang dengan teman. Tempatnya tidak jauh dari sini,” tukas Yoojin.

Eoh.”

Yoojin berbalik. Ia yakin kalau ia tidak berbalik maka sedetik pun ia tidak dapat memalingkan wajahnya dari wajah unik itu. Suara beratnya terus berdengung di telinganya.

Aku pasti sudah tidak waras.

♫ Law of Natures 3.♫

Seoul Western Public Prosecutor Office, Mapo-gu, 04.50 PM KST.

Soohyuk membuat laporan lengkap tentang temuannya pada kasus Joo Sangwook. Ini memang bukan pekerjaannya tetapi ia tidak suka menyerahkan pekerjaan ini pada Han Junhee, sekretaris di kantor kejaksaan. Soohyuk tidak suka pengetikan Junhee yang sering kacau balau dan daripada Jongsuk harus memintanya melakukan pengecekan ulang, lebih baik ia melakukannya sendiri.

Soohyuk baru saja mengklik tombol cetak ketika seseorang menyapanya.

Annyeong, Soohyuk ah!”

Soohyuk menoleh. Jo Hwanbi, teman kuliahnya berdiri di depan pintu kantor bersama Jun Yoojin, kliennya. Soohyuk tersenyum. Ia tidak mengerti mengapa ia begitu gampang tersenyum akhir-akhir ini. Walau ia sadar kalau senyumannya hanya berbentuk garis tipis di bibirnya.

Annyeong, Hwanbi ya,” balas Soohyuk mengatur suaranya.

Yoojin  masih tampak lelah seperti tadi pagi, mengangguk kikuk pada Soohyuk dan memaksa seulas senyum pada Junhee yang mejanya ada di sebelah meja Soohyuk.

Jo Hwanbi mengamit lengan Yoojin mendekati Soohyuk.

“Aku ingin menemui Lee Geomsa,” tukas Hwanbi pada Soohyuk. Soohyuk mengangguk tetapi ekor matanya melirik Yoojin.

“Aku ingin bertanya padanya mengapa ia menugaskanmu mengikuti klienku.”

Eoh,” jawab Soohyuk pendek. Yoojin bersikap seolah pembicaraan ini tidak ada hubungannya dengan dirinya, ia menjauh, duduk di sofa yang ada di kantor itu.

“Mencariku?” tanya Jongsuk yang tiba-tiba muncul. Dengan santai ia ikut duduk di sofa bersama Yoojin sambil memperhatikan Yoojin. Hwanbi ikut duduk sedangkan Soohyuk tetap menyelesaikan pekerjaannya mencetak berkas.

“Mengapa kau menugaskan Soohyuk mengikuti Yoojin?” ucap Hwanbi tinggi. Jongsuk mendengus. Bau asap rokok memenuhi hidung Hwanbi meskipun jarak mereka tidak sedekat itu. Jongsuk pasti baru saja merokok. Pria tinggi itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa.

“Dia dituduh melakukan pembunuhan. Tidak ada yang aneh jika aku menugaskan seseorang mengikutinya,” tukasnya. Lalu ia menyilangkan kakinya dan melipat tangannya, fokus menatap Yoojin. Kali ini Yoojin tidak takut karena ditemani oleh Hwanbi. Jongsuk tidak membuatnya takut, yang membuatnya trauma adalah Kim Woobin, detektif polisi itu.

“Korban adalah mantan pacarmu?”

Ne,” aku Yoojin. Saat itu Soohyuk sudah selesai mencetak, ia meletakkan berkas yang dicetaknya ke meja dan ikut bergabung dalam pembicaraan itu. Ia duduk di sofa yang satunya lagi.

“Kau menerima telepon dari korban ketika kau bersama dengan salah satu mantanmu?”

Yoojin tertegun.

“Aku sudah menjawab pertanyaan ini sebelumnya, Geomsanim,” ceplosnya. Soohyuk hampir saja menepuk jidatnya mendengar jawaban itu.

“Ada berapa mantan pacarmu?” tanya Soohyuk tanpa bertele-tele lagi. Yoojin menoleh menatap Soohyuk yang arah duduknya ada di sisi kanannya. Namun Yoojin tampaknya sedang berpikir, mengingat-ingat ada berapa mantan pacarnya.

“Ada berapa mantan pacar yang sudah jadi mayat?” tanya Soohyuk tanpa menutupi rasa kesalnya. Yoojin marah mendengar pertanyaan ini. Ia bangkit dan melotot pada Soohyuk.

Ada apa dengan penyidik ini? Bukankah tadi siang ia bersikap ramah?

Kau mau jadi salah satunya?” tanya Yoojin sedatar mungkin.

Soohyuk ikut berdiri. Meski Yoojin dengan tinggi 167cm tetap saja ia harus mendongak untuk menatap Soohyuk yang tingginya mencapai 184 cm. Meski memakai sepatu boots bertumit tetap ia kalah tinggi. Tapi ia tetap saja mendongak  menantang namja itu. Namja dengan wajah aneh, alis tebal menaungi matanya yang berbentuk mata pisau, hidung panjang, bibir tipis dan telinga yang terlalu lebar. Yoojin beranggapan kalau wajahnya yang licin dan berkulit putih ini lebih mirip vampir daripada manusia normal.

Soohyuk dan Yoojin masih saling bertatapan dengan marah ketika Jongsuk mendehem. Mereka lupa kalau Jongsuk dan Hwanbi sedang memperhatikan mereka dengan rasa heran. Juga Junhee yang bengong. Hwanbi menarik tangan Yoojin agar duduk kembali namun baik Yoojin dan Soohyuk tetap saling menatap.

Aneh, pikir Hwanbi.

Mengapa Soohyuk bisa bersikap seperti ini?

Jongsuk akhirnya bangkit dan menengahi mereka.

“Soohyuk, tolong belikan aku kopi,” perintah Jongsuk. Soohyuk menyipitkan matanya menatap bosnya dengan sebal.

“Kau baru minum kopi,” tolak Soohyuk sambil berjalan kembali ke mejanya dan pura-pura sibuk dengan berkasnya.

“Tadi latte, sekarang belikan americano,” tukas Jongsuk.

“Suruh Junhee saja,” tukas Soohyuk tanpa menoleh ke Junhee yang ada di meja di pojok sebelah kanan Soohyuk. Junhee langsung bangkit dan siap pergi sambil menyambar dompet Hello Kitty berwarna merah mudanya.

Dwaesso, aku mau merokok. Kau mau ikut, Yoojin ssi?” tanyanya. Hwanbi melotot pada Jongsuk. Ia tahu kalau Jongsuk adalah perokok berat, sedangkan Yoojin sebenarnya juga sudah berhenti merokok. Namun sewaktu interogasi pertama di kantor polisi membuatnya gemetar, Yoojin kembali merokok.

Yoojin mengerjapkan matanya, memutuskan kontak mata antara dirinya dan pria dengan garis rahang tegas itu.

Ne, kajja, Lee Geomsa,” ujarnya menyanggupi. Hwanbi makin melotot. Jongsuk melangkah ke luar dari ruangan diikuti oleh Yoojin. Namun Soohyuk sempat menyindir, “Menemukan partner, Lee Geomsa?

Baik Jongsuk dan Yoojin tidak memperdulikannya.

Jamkanman, aku ikut!” teriak Soohyuk. Jongsuk menoleh.

“Tinggallah, aku perlu kau mempelajari berkas yang tadi kuberikan padamu,” tukasnya cuek. Soohyuk makin kesal padanya. Ia juga perokok jadi mengapa Jongsuk tidak mengajaknya tetapi malah mengajak Yoojin.

Di lain pihak Hwanbi juga kesal pada Soohyuk. Ia merasa Jongsuk sengaja membawa Yoojin untuk diinterogasi, ajakan merokok hanya alasannya untuk menjauhkan Hwanbi dari kliennya. Karena itu Hwanbi marah Soohyuk. Dengan tatapan marah ditatapnya sahabatnya itu.

“Ini gara-gara kau!”

“Memangnya apa yang kulakukan?” raungnya putus asa. Tetap saja dengan suara berat. Hwanbi sedang berpikir untuk menendang kaki Soohyuk seperti yang sering dilakukannya  lagi ketika Junhee, yeoja canggung kantor kejaksaan itu menawarkan kopi padanya.

Gumawo, Junhee ssi. Aku tidak minum kopi,” tolak Hwanbi.

Hwanbi mengecek email masuk di ponselnya, menunggu Yoojin kembali. Ia telah berjanji kalau akan mengantar Yoojin yang akan ke pesta reuni bersama teman-teman sekolahnya. Setelah itu ia masih harus kembali ke kantor. Hwanbi masih mengecek emailnya ketika ponselnya berdering dan di layarnya terpampang nama Yang Yoseob, asistennya. Ia mengusap icon terima dan berbicara dengan suara formal. Yoseob menyampaikan kalau Jo Jeongseok sedang berada di kantornya dan meminta untuk segera bertemu. Hwanbi menjawab kalau ia akan segera kembali ke kantor. Lalu menutup teleponnya. Namun ia tercenung, Yoojin belum kembali. Ia segera menghubungi ponsel Yoojin. Terdengar bunyi video tone Dorawa lagu 2PM dari dalam tote bag warna biru dongker milik Yoojin yang diletakkan Yoojin di sofa. Hwanbi menghela nafas sambil memutuskan panggilannya. Ia lalu menghubungi Jongsuk namun Jongsuk juga tidak mengangkat teleponnya. Hwanbi putus asa. Ia harus segera berangkat menemui Jo Jeongseok, pria itu tidak mungkin mengunjunginya kalau tidak ada yang mendesak.

Hwanbi lalu menoleh ke arah Soohyuk dan dalam kepalanya muncul ide bagus.

“Soohyuk ah,” sapanya lembut. Ia bersuara lembut karena ia ingin minta pertolongan Soohyuk dan tidak berharap  Soohyuk menolaknya.

Soohyuk menoleh padanya.

“Aku harus segera kembali ke kantor, karena ada yang ingin bertemu denganku. Ehm, bisakah kau membantuku untuk mengantarkan Yoojin? Tadi aku berjanji untuk mengantar Eonni…”

Ne, araseo!” jawab Soohyuk cepat. Entah mengapa Hwanbi merasa kalau ini terlalu gampang. Soohyuk bahkan tidak bertanya apa-apa lagi. Tapi Hwanbi mengabaikan hal-hal seperti ini. Ia menyimpan ponselnya ke dalam tas merk Coachnya dan pamit pada Soohyuk dan Junhee.

Baru sekitar lima menit kemudian setelah Hwanbi pergi, Jongsuk kembali dengan Yoojin membawa bau asap rokok yang menyebar dalam ruangan kejaksaan. Junhee sampai harus terbatuk-batuk ketika mereka baru melangkah masuk.

Jongsuk merasa heran karena tidak melihat Hwanbi sedangkan Yoojin duduk di sofa dan menyilangkan kakinya.

“Hwanbi odinte?” tanya Jongsuk pada Soohyuk.

“Sudah pergi. Katanya ada orang yang menunggunya di kantor,” jawab Soohyuk. Yoojin berbalik, menoleh pada Soohyuk karena meja Soohyuk ada di belakang sofa yang didudukinya.

Ye? Padahal ia berjanji mengantarku,” tukasnya.

“Dan ia menyerahkan janjinya padamu kepadaku, Agassi,”  sahut Soohyuk manis. Yoojin bangkit sambil menenteng tote bagnya.

Kachi kha! Aku tidak mau terlambat ke pesta reuni dengan teman-temanku,” tukasnya. Soohyuk juga berdiri dan menyambar jaket hitamnya dan segera memakainya.

Gumawo rokoknya Lee Geomsa. Na galke!” pamitnya pada Lee Jongsuk. Lalu ia berjalan di depan sementara Soohyuk di belakang. Soohyuk tersenyum samar memperhatikan siluet di depannya. Rambut berantakan tetapi bisa tetap menarik.

“Eh!”

Soohyuk tertegun.

Noda?

Soohyuk berusaha memastikan noda apa itu. Namun ia tetap yakin kalau itu…

Soohyuk melangkah cepat dan menghalangi jalan Yoojin sebelum mereka benar-benar ke luar. Yoojin merasa aneh karena pria itu menghalangi jalannya. Soohyuk membuka jaketnya dan melingkarkannya di pinggang Yoojin.

Andwae!”

Jongsuk dan Junhee juga ikut heran dengan tindakan Soohyuk. Kulit wajah Soohyuk yang biasanya putih jadi merah dalam sekejap. Ia menunjuk bagian belakang rok abu-abu Yoojin. Yoojin masih bingung dengan tindakan penyidik ini.

Ye?”

Soohyuk mendekat, ingin berbisik di telinga Yoojin namun Yoojin mundur jadi terpaksa Soohyuk berkata, “Kau mens.”

Jongsuk ngakak. Suaranya membahana di seluruh ruangan kantor. Bahkan rasanya orang yang lewat koridor akan mendengar suara tertawanya. Yoojin juga sangat malu dan panik.

Eotthokhe? Eotthoke?” tanya Yoojin masih panik malah Soohyuk yang bertanya padanya, “Kau punya pembalut?”

Yoojin menggeleng. Jongsuk masih ngakak tapi langsung berhenti karena diplototi oleh Soohyuk. Lalu Soohyuk beralih pada Junhee yang juga bengong menatap perempuan aneh itu.

“Junhee ssi, kau punya pembalut?”

Junhee meringis dan menggeleng.

Omoni! Perempuan mana yang melupakan tanggal tamu bulanannya sendiri?  Pikir Soohyuk sambil meringis.

Ia hampir memukul kepalanya sendiri dengan kelakuan ceroboh yeoja ini.

“Kita beli di minimart di seberang kantor, lalu aku akan mengantarmu…”

“Aku tidak bisa pergi ke menemui teman-temanku dengan baju ini,” potong Yoojin.

“Kuantar kau ganti baju lalu mengantarmu ke reuni,” lanjut Soohyuk.

Yaa, Soohyuk ah. Kukira kau penyidik bukan supir!” protes Jongsuk tapi tetap saja ia menahan tawanya. Soohyuk memberinya tatapan horor. Lalu segera mengajak Yoojin keluar dari kantor kejaksaan.

Soohyuk melangkah dengan cepat bersama yeoja ceroboh itu menyeberang jalan dan masuk ke minimart yang letaknya tepat di sebelah Hollys Coffee. Yoojin mengikutinya dari belakang. Soohyuk mencari-cari rak pembalut wanita dan akhirnya ia menemukannya dekat dengan rak obat-obatan. Dengan mengabaikan rasa malunya terhadap orang-orang di sekelilingnya yang memperhatikan namja berada di depan rak pembalut. Tangannya terulur menjangkau salah satu pembalut tanpa memperhatikan merknya dan menarik tangan Yoojin untuk segera membayar ke kasir. Tapi Yoojin tidak bergerak.

Waeyo?”

Yoojin menunjuk kepada salah satu pembalut yang ada di rak. Pembalut dengan packing merah.

napkin

“Aku biasanya memakai wangi ginseng dan bersayap,” gumam Yoojin tanpa rasa bersalah. Soohyuk memejamkan matanya, menelan ludah dan menarik nafas panjang berusaha menahan diri untuk tidak mencekik perempuan ceroboh dan teledor ini.

Bertahun-tahun menonton dramanya, ternyata beginilah dia! Ceroboh, slebor!

Soohyuk mengembalikan pembalut yang ada  di tangannya lalu menyambar pembalut berpacking merah dengan wangi ginseng dan bersayap seperti yang diinginkan Yoojin. Lalu ia melangkah ke kasir diikuti oleh Yoojin. Soohyuk sudah menelan rasa malunya ketika sang kasir terus-terusan tersenyum sambil menghitung belanjaan. Ia yakin kalau kasir itu tahu kalau ia  adalah seorang pegawaai di kantor kejaksaan karena ia sering berbelanja di sini, dan pastinya mereka akan bergosip. Soohyuk memijit-mijit kepalanya yang pusing tiba-tiba. Selama karirnya di kantor kejaksaan, ia tidak pernah menyesali pilihannya sewaktu menolak menjadi pengacara dan menerima pekerjaan sebagai penyidik. Namun sekarang karena yeoja slebor yang ada di sampingnya ini, ia menyesal tidak menjadi pengacara saja. Malang nasibnya karena bertemu dengan si ceroboh ini.

Soohyuk mengeluarkan dompetnya dari sakunya ketika kasir selesai mencetak resi, ia menyambar pembalut yang sudah berada di dalam plastik dan segera berjalan ke luar. Yoojin tidak bergerak. Soohyuk berhenti dan menoleh.

Dia belum puas mempermalukanku.

“Aku perlu ke toilet. Serahkan pembalutnya padaku.”

Soohyuk memejamkan matanya dan menyodorkan bungkusan itu sambil menahan geram dalam dadanya.

♫ Law of Natures 3.♫

Itaewon, 06.07 PM KST.

Soohyuk duduk di sofa itu setelah sebelumnya berusaha menyingkirkan pakaian kotor terlebih dahulu. Lalu ia duduk santai sambil menunggu Yoojin selesai berganti pakaian dan saat itulah ada pemberitahuan pesan masuk di dalam ponselnya. Dari Lee Jongsuk. Tanpa ragu ia mengusap layar S-4nya dan membaca pesan masuk itu.

Ikuti dia ke reuni. Cari informasi sebanyak mungkin dari teman-temannya.

Soohyuk menutup flip covernya. Antara ingin menggeram namun juga ingin tersenyum

Yang membuatnya geram adalah ia masih harus menemani yeoja ceroboh itu. Namun di balik kecerobohannya, yang membuatnya ingin tersenyum adalah ia suka menemukan alasan untuk terus menemaninya dengan alasan diperintah oleh atasan.

“Aku siap!” suara Yoojin membahana sebelum sosoknya muncul dari toilet. Soohyuk segera berdiri. Yoojin sudah berdiri di hadapannya. Kali ini ia mengganti dress putihnya dengan dress  berwarna hitam, ia menambahkan shocking hitam. Penampilannya ini justru mengingatkan pria itu akan pertemuannya yang tak disengaja beberapa tahun lalu di kampusnya ketika Yoojin menemui Hwanbi.

Beberapa detik Soohyuk menatap yeoja itu. Bibir tipisnya melengkung, tersenyum tipis.

“Soohyun ssi!”

Kening Soohyuk berkerut.

“Itu bukan namaku. Itu nama aktor!”

“Ah, Eun Hyuk ssi,” ralat Yoojin. Soohyuk menggeram.

“Itu nama anggota boyband!” tukasnya dengan suaranya yang rendah. Yoojin menyipitkan matanya, menduga kalau pria berwajah aneh ini memang sengaja membuatnya naik darah.

“Kalau begitu kupanggil Penyidik Vampir saja,” tukasnya dengan nada mengejek.

Yha!”

Yoojin menjulurkan lidahnya kemudian cepat-cepat berjalan ke luar. Soohyuk segera mengikutinya.

Yoojin sama sekali tidak menyangka kalau Soohyuk akan mengikutinya ke pesta reuni teman-teman sekelasnya yang diadakan di villa milik salah satu teman Yoojin di daerah Myeongdong. Ia menyangka Soohyuk hanya akan mengantarkannya lalu meninggalkannya di sana. Rencananya ia akan pulang naik taksi jika acaranya telah selesai. Awalnya pun sebenarnya ia enggan hadir namun Sung Hyesang, temannya memaksanya hadir dan mengancam akan memutuskan hubungan pertemanan kalau Yoojin sampai tidak datang.

Sebenarnya baik Hyesang dan Yoojin sama-sama bersekolah di Mokpo. Sewaktu kuliah, ia dan Hyesang pindah ke Seoul dan berkenalan dengan Jung Jinhye, gadis tomboy yang malam ini menjadi tuan rumah pesta itu. Jadi mereka bertiga telah berteman selama bertahun-tahun.

Jung Jinhye begitu melihat kehadiran Yoojin, langsung menyambutnya. Yoojin masih belum sadar kalau Soohyuk ada di belakangnya.

“Yoojin ah!” sapa yeoja berambut pendek dan berpenampilan tomboy. Meskipun penampilannya bak namja dengan mengenakan celana panjang kulit dipadu dengan kemeja hitam tapi tetap saja wajahnya tampak ramah menyambut Yoojin.

“Hyesang bilang kau tidak akan datang karena kasus itu dan ia harus mengancammu untuk membuatmu datang. Tapi aku yakin kau pasti tidak akan mengecewakan kami,” tukas yeoja itu.  Yoojin tersenyum. Kalau ia tersenyum, matanya bulatnya menjadi segaris.

“Kau datang sendiri?” Jinhye menoleh ke sana-sini dan matanya berhenti pada sosok namja berkaki panjang dengan wajah unik di belakang Yoojin.

Nuguya? Namjachingu?” tanya Jinhye. Yoojin berkedip beberapa kali sebelum menoleh. Ia terkejut mendapati Soohyuk ada di belakangnya. Ia mendekati namja itu yang seakan nyaman berada di sana.

“Mengapa kau mengikutiku?” bisiknya tertahan. Soohyuk tersenyum tipis.

“Perintah atasan,” jawabnya. Yoojin menggertakkan giginya tapi ia tidak berbuat apa-apa karena Jinhye sudah berdiri di antara mereka.

Soohyuk berusaha bersikap ramah dengan mengangguk padanya.

Annyeonghaseyo, Jung Jinhye imnida,” sapa Jinhye dengan senyum ramah.

Annyeonghaseyo, Lee Soohyuk imnida,” balas Soohyuk.

“Lee Soohyuk nuguya, Yoojin ah?” pancing Jinhye sambil melirik Soohyuk, menilai dari penampila pria itu.

Namjachingu,” jawab suara rendah itu membuat Yoojin menganga.

Chukhulae!

Yha, Sung Hyesang!” panggil Jinhye. Seorang yeoja yang sedang berbicara dengan tamu-tamu lain menoleh ke arah Jinhye. Ketika matanya melihat sosok Yoojin, yeoja itu langsung tersenyum dan meninggalkan tamu-tamu itu menuju ke tempat Yoojin berada.

“Yoojin ah!”

Yeoja itu langsung mengamit lengan Yoojin dengan akrabnya.

“Hyesang ah! Yoojin datang dengan pacarnya. Apakah ini yang kau maksud aktor muda itu?” tanya Jinhye pada Hyesang. Hyesang baru menyadari ada sosok lain di antara mereka bertiga. Sementara Soohyuk terus mengingat di mana ia pernah mendengar nama Sung Hyesang.

Hyesang tampak bingung dan menatap Yoojin. Dengan ekor matanya Soohyuk dapat menilai kalau Hyesang adalah seorang artis.

“Kau punya pacar baru lagi?” tanya Hyesang heran.

Soohyuk meringis mendengar pertanyaan itu.

Mantan pacarnya yang mana lagi?

“Benarkah dia pacarmu?” tanya Hyesang berbisik. Ia sulit percaya kalau Yoojin memiliki pacar seperti Soohyuk. Soohyuk dengan wajah aneh berbeda dengan tipe yang biasa dipacari oleh Yoojin sejak sekolah.

“Aku pacarnya,” tegas Soohyuk sambil merangkul bahu Yoojin sehingga mendekat dengannya. Hyesang terpaksa tertawa sedangkan Yoojin sudah sangat ingin menendang namja kurang ajar yang mengaku sebagai pacarnya.

“Jinhye!” panggil seorang tamu. Yoojin agak lupa siapa namja yang memanggil Jinhye itu. Apa mereka dulu sekelas. Jinhye adalah orang yang supel sehingga ia selalu punya banyak teman baik teman sekelas maupun yang berbeda kelas.

“Aku tinggal dulu. Anggap saja rumah sendiri. Kajja, Hyesang, ikut aku,” ajak Jinhye sambil mengamit lengan Hyesang meninggalkan Soohyuk dan Yoojin.

Yoojin segera menepis tangan Soohyuk dengan kesal. Ia berkacak pinggang dan melotot menatap namja itu.

Chukhulae? Mengapa kau mengaku sebagai namjachinguku?” tanyanya sebal.

Soohyuk malah mendekat dan berbisik, “Kau ingin semua orang tahu bagaimana hubungan kita? Bagaimana kita saling kenal?”

Yoojin terdiam oleh pertanyaan itu, ia juga terintimidasi karena Soohyuk berdiri  begitu dekat dengan dirinya. Bahkan Yoojin dapat merasakan hembusan nafas Soohyuk di wajahnya. Wajahnya memanas, entah mengapa kepalanya jadi berkunang-kunang mendengar suara khas itu.

“Kalau tidak bisa, sebaiknya kau terima saja, Jun Yoojin ssi,” bisiknya lagi. Setelah berkata seperti itu Soohyuk menjauh. Bibir tipisnya melengkung. Yoojin bingung apakah lengkungan di bibirnya itu dapat diartikan senyuman atau seringai?

“Kau mau minum, Yoojin ah?”

Yoojin tahu kalau namja itu sengaja memanggil namanya dengan akrab. Ia pasti sengaja ingin membuat Yoojin kesal. Dan Yoojin hanya bisa menggigit bibirnya sendiri menahan geram.

Selama pesta berlangsung, Soohyuk berusaha berbaur mencari informasi yang berhubungan dengan Yoojin selama masih sekolah. Soohyuk berusaha bertanya dengan cara sealami mungkin, sebagai seorang pacar yang penasaran dengan masa sekolah kekasihnya namun tetap saja sebagai teman Yoojin yang sangat mengenal Yoojin, Hyesang merasa curiga. Ia terus mengikuti Soohyuk. Soohyuk bukan tidak menyadari hal itu. Insting sebagai penyidik telah memberitahukannya. Dan akhirnya ia tahu siapa Hyesang yang namanya begitu familiar. Dia adalah teman yang akan ditemui Yoojin di malam Joo Sangwook terbunuh. Hyesang sempat ditanyai sebagai saksi namun yang melakukannya adalah orang dari kantor kepolisian bukan dirinya.

poolparty

“Benarkah kau pacarnya?” tanya Hyesang sewaktu Soohyuk duduk di samping kolam sambil memperhatikan Yoojin yang sedang dikerumuni beberapa teman-temannya. Ia mendapatkan satu kenyataan kalau Jun Yoojin adalah seorang pelajar yang sangat populer.

Soohyuk melirik Hyesang yang terus mengikutinya ke mana pun dan akhirnya ia benar-benar bertanya pada Soohyuk.

“Mengapa kau bertanya seperti itu? Bukankah sudah kukatakan tadi?”

“Kau sama sekali berbeda dengan tipenya. Kau yang mendekatinya?” tuduh Hyesang. Soohyuk menyeringai. Ia duduk sambil menselonjorkan kakinya yang panjang.

“Seperti apa tipenya?”

Hyesang akhirnya duduk di kursi malas di kolam sambil ikut memperhatikan Yoojin.

“Pokoknya bukan dirimu,” jawab Hyesang ketus. Soohyuk menyeringai. Ia tahu ini saatnya memancing Sung Hyesang tentang masa lalu Yoojin.

“Ah mantan pacarnya yang aktor muda itu siapa namanya? Aku lupa,” pancing Soohyuk.

“Lee Seunghyo. Dia pendatang baru, pernah main di drama yang ditulis oleh Yoojin,” tukas Hyesang. Soohyuk segera mengingat nama itu dalam benaknya.

“Dia lebih muda dari Yoojin,” tambah Hyesang. Soohyuk mengangguk-angguk.

“Lalu yang sebelumnya, sebelum aktor muda itu yang namanya…”

“Maksudmu Kim Namgil atau Jang Hyuk?”

Michyesseo? Lee Seunghyo, Kim Namgil, Jang Hyuk?

“Sebelum aktor muda itu, Kim Namgil?” tanya Soohyuk menjaga nada suaranya tetap tenang.

“Dia polisi cyber. Mereka putus karena Namgil terlalu sibuk,” tukas Hyesang. Sampai detik ini, ia masih belum menyadari kalau Soohyuk sedang mengorek keterangan darinya.

Ne, mullon,” jawab Soohyuk pura-pura. Ia mencari cara lagi untuk bertanya dengan nama yang satunya.

“Aku tidak tahu bagaimana ia putus dengan Jang Hyuk. Kau tahu, Hyesang ssi?” pancing Soohyuk.

“Kau tahu semua mantannya?” tanya Hyesang heran. Soohyuk sama sekali tidak tersenyum. Ia mengangguk, meyakinkan.

Molla, yang kutahu, dialah yang memutuskan hubungan. Selalu dia yang pergi,” kilah Hyesang. Lalu ia melirik Soohyuk dan mencibir.

“Jadi jangan heran jika nanti ia memutuskanmu. Pastikan kau kuat!” tukas Hyesang sambil bangkit.

Hwaiting!” pesannya sebelum meninggalkan Soohyuk yang masih berpikir dengan kening berkerut.

Soohyuk menghitung dengan jarinya.

“Lee Seunghyo, Kim Namgil, Jang Hyuk ditambah kembar Daeryeong dan Soryeong dan korban. Semuanya ada…”

Wajah Soohyuk menggambar perasaan syok yang mendalam.

Yoojin datang menghampiri Hyesang dan duduk di kursi malas di kaki Hyesang yang menjolorkan kakinya. Yoojin berusaha membuat Hyesang menurukan kakinya namun Hyesang tidak mau. Yoojin terpaksa harus bangkit dan berbagi kursi dengan Soohyuk. Ia makin cemberut karena ketika Jinhye datang, Hyesang menurunkan kakinya dan berbagi kursi dengan Jinhye.

“Kau sudah tahu betapa berantakannya yeoja ini?” serang Hyesang. Yoojin tersenyum lemah. Soohyuk mengangguk.

“Kau tahu? Kau tahu apartemennya seperti baru habis dibom?” ulang Hyesang. Lagi-lagi Soohyuk mengangguk. Jinhye ngakak.

“Apa kau temanku?” tanya Yoojin sebal. Hyesang nyengir.

Chingu ya, Yoojin ah. Kami berdua akan tetap menjadi temanmu di saat suka maupun duka,” cerocos Hyesang.

“Bahkan di saat kau putus dengan pacar-pacarmu,” tambah Jinhye. Yoojin benar-benar merasa sebal dengan kedua sahabatnya malam ini. Ia dibuat tak berkutik di depan Soohyuk sedang Soohyuk hanya santai saja menanggapi hal itu.

Yoojin melihat seorang pelayan Jinhye datang membawa minuman beralkohol, Yoojin bangkit dan mengambil segelas.

“Hey, kau tak bisa minum,” sindir Hyesang juga ikut mengambil dua gelas. Satu gelas diberikan kepada Jinhye. Yoojin memandang Hyesang dengan tatapan mengejek.

“Kita lihat saja siapa yang mabuk,” ejek Yoojin. Hyesang dan Jinhye cengengesan. Mereka tahu meskipun Yoojin perokok dan pengunjung tetap klub, ia bukanlah peminum yang hebat. Tapi ia tetap memaksa gelas yang kedua ketika pelayan menawarkan minuman lagi. Gelas ketiga ia mulai mengoceh dan menyandarkan kepalanya pada bahu Soohyuk.

“Dia tidak kuat minum,” tukas Soohyuk memancing tetapi tidak kentara oleh keduanya.

Ne, dia memang tidak kuat minum. Tapi ia selalu mengaku dia lebih kuat minum dari kami,” ujar Hyesang cekikikan.

“Dia mabuk meski hanya minum wine,” tukas Jinhye.

“Dan dia selalu lupa ia mabuk bila sadar keesokan harinya. Ia kira ia pulang sendiri padahal kamilah yang mengantarnya,” tambah Jinhye.

Itulah Jun Yoojin! Teledor, ceroboh, cuek, dan manis.

Kajja, Yoojin ah, kuantar pulang. Kuantar dia pulang,” kata Soohyuk kepada dua teman Yoojin. Hyesang dan Jinhye mengangguk merasa ringan karena  tugas mengantar Yoojin dapat diserahkan kepada Soohyuk sekarang. Soohyuk memapah gadis yang sudah mabuk itu namun Yoojin masih sempat berkata, “Aku masih mau minum dengan kedua orang ini.”

“Pulanglah, kau bukan tandingan kami,” tukas Hyesang sambil menepuk bahu Yoojin.

“Jaga dia,” pesan Jinhye pada Soohyuk. Soohyuk hanya mengedik lalu memapah Yoojin meninggalkan tempat pesta.

Soohyuk mengantarkan Yoojin sampai ke apartemennya, tangannya memeluk pinggang ramping Yoojin dengan posesif. Yoojin masih bisa berjalan sendiri meskipun sempoyongan.

“Soohyuk ssi, hiks!”

Di saat mabuk, ia tahu namaku.

Soohyuk menekan lantai 35 letak apartemen Yoojin ketika pintu lift tertutup.

“K-kau sengaja mengikutiku, eoh? Hi hi hi,” gumam Yoojin sambil cekikikan. Soohyuk tidak menjawab. Ia hanya menatap yeoja itu dengan kepala terkulai di bahu Soohyuk sama seperti saat ia tertidur saat menonton film klasik kegemarannya.

“Soohyuk, ssi, kenapa kau tidak menjawab? Hiks!”

Eoh!”

Yoojin mendongak menatap Soohyuk. Tapi matanya sulit terbuka.

“Kau suka padaku, Soohyuk ssi?”

Soohyuk menatap yeoja di hadapannya itu yang meskipun memakai boots tumit tinggi tetap saja ia kelihatan mungil di hadapan Soohyuk.

“Perlukah aku menjawab itu, Yoojin-ah?”

Yoojin tertawa.

“Penyidik Lee kau sedang berkelit,” tukasnya. Kakinya tidak berdiri dengan kuat, ia sempoyongan dan hampir jatuh kalau saja Soohyuk tidak menangkap pinggangnya dan memeluknya dengan erat.

“Soohyuk ssi, mengapa baumu sangat enak?”

Soohyuk tersenyum namun Yoojin tidak bisa melihatnya karena kepalanya bersandar di bahu Soohyuk.

Ting!

Pintu lift terbuka. Soohyuk mendongak. Mereka sudah sampai di lantai 35.

“Sudah sampai, kajja,” desis Soohyuk sambil memapah Yoojin ke luar. Yoojin tetap bersandar pada Soohyuk sambil berjalan sempoyongan ke luar dari lift dan Soohyuk membimbingnya menuju apartemen 3512.

“Sudah sampai? Hiks!”

Yoojin melepaskan pelukan Soohyuk di pinggangnya. Ia menekan angka tapi tetap saja nomornya salah. Sampai ketiga kalinya nomor pinnya tetap salah. Yoojin mulai frustasi.

Eotthokhe?”

Pabo! Ceroboh, teledor! Mana ada yeoja seperti ini?

“Biar kulakukan,” tukas Soohyuk. Yoojin cekikikan lalu berbalik menghadap ke pada Soohyuk.

“Kau tahu nomor pin apartemenku, Soohyuk ssi?” tanyanya dibarengi cekukan. Soohyuk mengangguk.

Tentu saja! Aku tahu nomor pin apartemenmu saat kau menekan pinnya sewaktu aku mengantarmu pulang kemarin malam.

“Buka pintunya,” pinta Yoojin. Soohyuk menatap mata yang setengah terpenjam itu.

Mengapa ia tetap tampak manis sekaligus memprovokasi?

“Akan kulakukan. Tapi tidak gratis,” balas Soohyuk.

Yoojin memukul tubuh Soohyuk.

Palli, palli, kakiku lelah memakai sepatu ini,” pintanya dengan nada memohon.

“Mengapa masih suka memakainya kalau menyiksa?”

Yoojin cemberut. Bibirnya sangat menggoda Soohyuk, merah muda, ranum dan memiliki belahan di tengahnya. Terlalu menggoda.

Yoojin menggeleng.

“Kau pasti tidak tahu. Hi hi hi. Kau sok tahu!”

Soohyuk mengulurkan tangannya menekan angka 1102. Ia tahu arti nomor itu karena ia mencari tahu hal-hal yang berhubungan dengan Yoojin sewaktu Yoojin menjadi tersangka kasus pembunuhan Joo Sangwook. 1102 adalah hari ulang tahun Jun Kwangryul, abeojinya Yoojin.

Pin diterima, pintu terbuka.

Yoojin cekikikan dan menatap Soohyuk lagi. Kali ini Soohyuk tersenyum lebar penuh kemenangan. Mata Yoojin melebar dan sayu menyaksikan senyum itu. Senyum yang menghias wajah unik dengan mata berbentuk pisau dan bertulang pipi tinggi.

“Penyidik Vampir, sebelumnya kupikir kau lupa bagaimana cara tersenyum,” desahnya lambat. Soohyuk masih menatapnya dengan lembut.

Yoojin memberanikan dirinya mengangkat tangannya meskipun kakinya gemetar, menyentuh bibir Soohyuk. Tangannya dingin dan kaku tapi Soohyuk sama sekali tidak mencegahnya. Sebaliknya mata Soohyuk menatap wajah Yoojin dengan intens. Perhatian Yoojin tertuju pada bibir Soohyuk. Ia menelan ludah. Mendekat sambil berjinjit, bibirnya menyentuh bibir Soohyuk yang hangat. Soohyuk melotot. Tidak menyangka kalau Yoojin akan menciumnya. Ia berusaha untuk tetap kembali ke akal sehatnya. Tapi bibir Yoojin jauh lebih memabukkan dari minuman beralkohol yang baru saja diminumnya dari klub dan lebih kuat dari pada akal sehatnya sendiri.

Tanpa memikirkan konsekuensi lagi, Soohyuk menyerah pada godaan itu. Ia menarik pinggang Yoojin agar lebih merapat ke tubuhnya. Ia bahkan menarik tangannya Yoojin agar memeluk bahunya agar Yoojin lebih mudah menciumnya. Bibir Yoojin rasanya manis, semanis juga selembut yogurt yang ada di menu di Hollys Coffee.

Yoojin yang menghentikan ciuman itu karena kehabisan nafas juga karena kelelahan berjinjit karena tingginya tubuh Soohyuk.

Tapi Yoojin cekikikan.

“Kau harus sering tersenyum, Penyidik Vampir,” tukasnya. Lalu ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Soohyuk. Soohyuk tersenyum. Lalu ia memapah Yoojin di punggungnya dan membawanya masuk ke dalam apartemen.

♫ Law of Natures 3.♫

Itaewon, D+4, Rabu 23 Oktober 2013, 02.00 AM KST.

Video Call.

“Soohyuk meletakkan S4nya di depan televisi sambil menunggu orang yang dihubunginya mengangkat teleponnya. Ia memastikan kalau jaraknya cukup jauh dari tempat tidur Yoojin supaya gadis itu tidak terbangun karena mendengar suaranya.

Yeoboseoyo!”

Yeoboseoyo, mianhamnida. Lee Soohyuk imnida dari kantor kejaksaan Mapo,” ujar Soohyuk memperkenalkan diri pada pria bermata teduh di seberang.

“Kau ingin menanyakan kasus Yoojin Noona?” tanya namja di layar tanpa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Jung Daeryong ssi, aku dengar kalau kembaranmu sedang bersamamu. Bisakah kalian berdua mendengar pertanyaanku secara bersama-sama?” tanya Soohyuk. Pria dalam layar itu memanggil seseorang di belakangnya. Tak berapa lama dua sosok yang mirip ada di layar Soohyuk. Dua orang yang benar-benar mirip satu dengan yang lainnya sehingga Soohyuk harus berpikir apa yang menjadi pembeda kedua orang ini.

Naneun Jung Soryong imnida.”

“Soohyuk memperlihatkan foto Yoojin ke layar sambil bertanya,”Kalian kenal yeoja dalam foto ini?”

“Yoojin Noona,” jawab keduanya bersamaan.

“Lalu Soohyuk memperlihatkan foto Joo Sangwook.

“Kalau yang ini?”

“Joo Isanim,” jawab Daeryong.

“Aku menghubungi kalian berdua berhubung dengan kasus yang sedang kami tangani. Ijinkan aku menanyakan beberapa pertanyaan sekedar formalitas,” tukas Soohyuk.

“Bagaimana keadaan Noona ?”

“Siapa yang sedang bersama Jun Yoojin pada tanggal 19 Oktober 2013 jam 8.20 malam.”

“Aku,” jawab Daeryong.

“Jadi kau melihat ada orang yang menghubungi Yoojin pada jam itu?”

Daeryong mengangguk.

“Seseorang menyuruhnya datang dan ia pergi meninggalkanku,” jawab Daeryong.

“Aku harus kembali. Aku mau bertemu Noona secepatnya.”

Soohyuk mengangkat foto Joo Sangwook lagi.

“Orang ini ditemukan tewas karena racun. Yoojin adalah orang yang terakhir melihatnya dalam keadaan hidup,” jawab Soohyuk.

Noona Eotthokhe?” tanya salah seorang kembar yang memiliki gigi yang rapi. Soohyuk mulai tahu yang menjadi pembeda dari kedua kembar ini.

“Aku dengar salah satu dari kalian adalah mantannya. Jung Daeryong atau Soryeong?”

Aku,” jawab keduanya.

Mwo?” Soohyuk merasa keduanya ikut menjawab.

“Yang mana?” tanya Soohyuk meninggi.

Kami berdua mantannya.”

Kau bukan. Kau menyamar diriku.”

Aku juga kencan dengannya.”

Soohyuk menghela nafas berat.

Yoojin benar-benar kencan dengan dua orang ini.

“Yoojin tahu kau menyamar menjadi Hyungmu saat kencan dengannya?” tanya Soohyuk tak dapat menahan diri.

Ne, dia tahu,” jawab Soryong. Soohyuk menhembuskan nafas berat. Kepalanya seperti dihantam palu.

Eh, bukankah itu seperti apartemen Yoojin Noona, Hyung?”

Daeryong ikut menatap layar.

Ne, tidak salah. Kau ada di tempat Yoojin Noona. Bagaimana keadaannya? Bisakah kami bicara dengannya?” tanya Daeryong. Soohyuk memandang ke arah belakang ke tempat tidur Yoojin sebelum menjawab Daeryong.

“Sudah tidur.”

Mengapa kau ada di sana malam-malam?” tanya Soryong curiga. Soohyuk mendengus.

“Menurutmu kenapa?”

Yaa, jangan sentuh Noona!”

Lagi-lagi Soohyuk mendengus.

Terlambat! Dia sudah menciumku.

Soohyuk penasaran dengan kedua kembar ini dan otaknya dipenuhi berbagai macam pertanyaan tentang Yoojin.

“Mengapa kalian menyukai Yoojin?”

Kedua pria di layar itu saling menatap dengan heran.

“Jawab! Pertanyaan formalitas!” bentak Soohyuk tidak sabar. Ia merasa Yoojin bergerak dan  ia sadar kalau suaranya terlalu kuat.

Yoojin Noona sembrono, cantik, dan cute,” jawab Daeryong.

Soryong mendehem.

Ia cute, berantakan, seksi.”

Yoojin ceroboh, teledor, pelupa, cute, seksi dan lucu. Dan ia membuat orang di sisinya nyaman dengan kesederhanaannya.

Ia juga sering bertindak spontan seperti menciumku.

Soohyuk kepanasan padahal ia sudah mensetting pendingin ruangan itu ke angka paling rendah. Dibukanya dua buah kancing kemejanya yang paling atas. Ia mengangkat kepalanya menatap kedua orang  di layar itu bergantian.

“Jun Yoojin pernah menciummu?”

Yaa, pertanyaan macam apa itu?”

Mana ada pertanyaan seperti itu dalam proses interogasi para saksi!” tambah kembar yang satunya lagi.

Aku tidak mau jawab! Aku tidak perlu menjawab pertanyaan semacam itu!”

Ne, Hyung. Aku akan membicarakan ini dengan Hwanbi!”

Soohyuk terkekeh. Meskipun keduanya tidak mau menjawab namun instingnya sebagai penyidik mengatakan  kalau jawaban dari pertanyaannya barusan adalah, tidak.

Soohyuk tersenyum lebar.

“Selamat pagi, eh, siang di sana. Dan terima kasih atas jawaban atas pertanyaan ini.”

♫ Law of Natures 3.♫

02.25 KST.

Video tone Hwanbi.

Hwanbi mencobe membuka matanya sambil tangannya menggapai ponselnya yang biasa ia letakkan di nakas sebelah tempat tidur.

“Sial, siapa yang menelepon jam segini?” gerutunya.

Ia mengusap layar terima.

Yeobseoyo.”

Little B, tadi seorang mengaku penyidik menghubungiku dan menanyakan beberapa pertanyaan. Dia gila! Dan dia ada di apartemen Yoojin Noona.

Hwanbi melihat layar ponselnya. Nama Big D ada di screen.

Eoh, Big D, jangan kuatir. Soohyuk itu temanku. Besok aku akan menemuinya. Jalga,” Hwanbi menutup sambungan telepon meskipun Daeryong masih mengomel. Hwanbi terlelap lagi.

♫ Law of Natures 3.♫

Itaewon, 07.00 AM KST.

Yoojin terbangun oleh suara alarm dari S4nya dengan kepala berat seolah dihantam oleh palu. Ia memukul kepalanya dengan tangannya lalu mematikan alarm. Ia heran, ia tidak pernah mensetting alarm di ponselnya dan heran mengapa alarmnya bisa berbunyi. Selesai mematikan alarm, ia meletakkan ponselnya ke samping nakas yang ada di sisi ranjang. Sewaktu meletakkan ponsel, ia menemukan kertas memo di atas nakas.

Mian, aku menset alarm ponsel. Ingat harus melapor ke kantor polisi jam 10. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kuharap kau suka.

Yoojin berusaha mengingat siapa yang membawanya pulang kemarin malam. Hyesang atau Jinhye. Dia menguap, ingin menarik selimut lagi tapi ponselnya menampilkan video tone 2PM.

Dengan sebal ia meraih ponsel itu.

Yeoboseoyo, aku baru bangun, jangan ganggu aku!”

Eonni! Jangan lupa melapor ke kantor polisi. Jam 10. Aku tidak bisa mengantarmu. Aku ada janji dengan Donald Duck dan Soohyuk,” cerocos Hwanbi di seberang sana.

Ara! Ara! Hoam! Aku mau mandi dulu, kalge!”

“Jangan telat.”

Kalge!”

Yoojin menutup ponselnya dan melemparkannya ke ranjang. Ia kembali ke toilet sambil berpikir kalau sepertinya ia melupakan sesuatu. Ia mengambil sikat gigi dan mulai menyikat giginya.

Apa yang kulupakan? ? Skrip dramaku? Bukan itu .

Yoojin berkumur-kumur.

Aku ke pesta, minum dengan Hyesang dan Jinhye lalu mereka mabuk.

Ia mencuci wajahnya dan menepuk-nepukkan air ke wajahnya.

Akhirnya aku ketiduran dan tidak jadi menulis skrip. Ini gara-gara Hyesang dan Jinhye. Argh! Nappeun yeoja!

Sudah tahu tidak kuat minum, mengapa masih mengajakku minum juga?

♫ Law of Natures 3.♫

 Hollys Coffee, Mapo Gu, 07.50 AM KST.

Hwanbi bergegas menuju Hollys Coffee begitu Jongsuk menghubunginya. Jaksa itu menanyakan kesediaan Hwanbi untuk mendengarkan rekaman interogasi yang diperoleh Soohyuk dari kembar Jung yang merupakan saksi yang akan dihadirkan oleh Hwanbi di persidangan.

Sepatu peep toe Hwanbi berbunyi nyaring di lantai karena ketidaksabaran Hwanbi ingin segera menemui jaksa itu. Hwanbi bisa melihat sosok Jongsuk duduk di area merokok sambil membelakanginya. Hwanbi langsung menyapanya.

“Donald Duck!”

Bahu Jongsuk langsung turun mendengar panggilan itu. Dengan enggan ia menoleh ke arah Hwanbi dengan perasaan sebal.

“Jangan panggil aku Donald Duck!” protesnya. Hwanbi terkekeh.

Siapa yang peduli?

Matanya mencari sosok Soohyuk ke sana ke mari.

“Soohyuk odinte?” tanya Hwanbi. Soohyuk memberi kode ke arah kasir. Hwanbi melirik ke arah yang ditunjuk Jongsuk dan melihat kasir genit itu sedang menyentuh lengan Soohyuk. Hwanbi menggertakkan giginya.

“Kalau kau bersikap begitu, aku akan mengira kau suka Soohyuk,” sindir Jongsuk seenaknya. Hwanbi menghembuskan nafasnya, meniup rambut berponinya.

“Bukankah sudah kukatakan padamu kalau menyukai Soohyuk rasanya seperti inses?” tukas Hwanbi sambil merengut. Jongsuk terkekeh.

Tak lama kemudian Soohyuk dapat melepaskan diri dari Soohee dan bergabung bersama mereka. Soohyuk mengeluarkan recorder dalam saku jaketnya dan memutar ke tombol play.

Hwanbi tertawa terbahak-bahak sambil memukul lengan Jongsuk yang ada di sampingnya. Jongsuk segera menekan tombol pause. Matanya melotot pada Soohyuk.

Wae?” tanya Soohyuk tanpa perasaan bersalah. Hwanbi masih tertawa.

“Apa semua pertanyaan ini ada hubungannya dengan kasus Jun Yoojin? Soohyuk-ah, mengapa kau peduli dengan kencan Yoojin? Ha ha ha.”

Jongsuk menyipitkan matanya dan menekan tombol play lagi. Namun lagi-lagi pertanyaan yang ada di recorder itu tak ada hubungannya dengan kasus Jun Yoojin.

Hwanbi masih tertawa sambil mendengarkan rekaman itu. Soohyuk menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

Pantas saja dini hari Daeryong menghubunginya dan melaporkan kalau ada penyidik gila yang menanyainya soal Yoojin ternyata Soohyuk benar-benar menanyakan pertanyaan yang tidak ada hubungannya.

Lee Soohyuk peduli pada Yoojin karena ia menyukainya, Hwanbi yakin itu. Tapi tentu saja hal ini tidak akan mudah bagi Soohyuk, posisinya sebagai penyidik kasus ini akan membuatnya dalam posisi yang sulit apalagi tekanan dari pihak Jongsuk yang juga adalah atasannya.

“Soohyuk ah, mari kita makan siang bersama nanti siang,” ajak Hwanbi sambil tersenyum lebar.

Yaa, mengapa aku tidak diajak?” protes Jongsuk cemberut.

“Ini antara aku dan Soohyuk,” jawab Hwanbi cuek.

♫ Law of Natures 3.♫

10.04 AM

Soohyuk masuk ke Hollys Coffee setelah mengenali sosok yang baru duduk di coffeeshop itu adalah Kim Namgil orang yang dihubunginya lewat telepon dan membuat janji temu dengannya. Soohyuk sudah menyelidiki latar belakang Kim Namgil sebelum untuk memastikan kalau dialah orang yang dimaksud Hyesang, mantan pacar Yoojin yang berprofesi sebagai polisi cyber.

Annyeonghaseyo, Lee Soohyuk imnida. Saya penyidik dari kejaksaan yang tadi menelepon Anda, ” sapa Soohyuk memperkenalkan diri ketika sudah berdiri di depan meja tempat Kim Namgil duduk. Pria itu berdiri.

Annyeonghaseyo, Kim Namgil imnida,” balasnya. Tinggi sama dengan Soohyuk, berwajah nakal dengan mata kelam dan gigi yang tersusun rapi.

Kim Namgil mempersilahkan Soohyuk untuk duduk dan Soohyuk mengucapkan terima kasih.

“Saya menghubungi Anda berhubung dengan kasus yang kami tangani,” tukas Soohyuk. Namgil masih menunggu lanjutan dari cerita Soohyuk. Karena ayah Yoojin adalah seorang calon walikota maka pihak kejaksaan harus hati-hati menangani kasus ini dan Jongsuk mengaku kalau ia menerima tekanan dari partai politik yang bersaing mendapatkan kursi walikota.

“Anda kenal dengan yeoja ini?” tanya Soohyuk sambil mengeluarkan selembar foto dari sakunya. Namgil menerima foto itu. Foto Jun Yoojin. Namgil terkejut namun ia mengangguk.

“Anda kenal Joo Sangwook?” tanya Soohyuk. Namgil berpikir kemudian menggeleng.

“Aku melihat berita kalau orang ini ditemukan tewas di apartemennya. Jun Yoojin benar-benar menjadi tersangka utama?” tanya Namgil langsung.

Aku menyukai gaya bicaranya yang langsung menuju sasaran.

“Anda tidak kenal Joo Sangwook secara pribadi?” tanya Soohyuk menyelidik. Mungkin saja polisi ini menipunya. Namun dengan tegas dan tanpa berkedip Namgil menggeleng.

“Anda tahu apa hubungan Jun Yoojin dengan Joo Sangwook?” tanya Soohyuk. Lagi-lagi polisi itu menggeleng.

Soohyuk menangkup kedua tangannya di depan bibirnya sambil menghela nafas.

“Jun Yoojin berada di tempat kejadian perkara?”

Lagi-lagi pertanyaan langsung.

Ne, sidik jarinya ditemukan di botol wine yang sudah diracuni. Jun Yoojin menjadi satu-satunya orang yang dicurigai karena tidak ditemukan sidik jari lain di tkp,” tukas Soohyuk.

Namgil ikut menghela nafas.

“Yoojin mengaku kalau ia menemui korban sebelumnya namun ia pergi sebelum meminum winenya karena panggilan telepon yang memintanya menemuinya. Yoojin tidak punya alibi,” tukas Soohyuk lemah.

“Yoojin tidak sanggup membunuh orang,” sahut Namgil.

“Bahkan dengan racun? Kim Namgil ssi, sebelumnya aku bertanya padamu apa kau tahu hubungan antara korban dan Yoojin? Kau jawab tidak. Sekarang kuberi tahu kalau mereka berdua adalah…”

“Mantan kekasih?” potong Namgil tenang.

“Kau bilang kau tidak tahu,” tukas Soohyuk. Namgil menyeringai.

“Aku hanya menduganya. Benar mantan kekasih?” tanya Namgil. Soohyuk merasa sekarang Namgil yang menjadi penyidik. Namgil menyesap cangkir kopinya.

“Tidak ada saksi atau bukti yang bisa meringankannya?” tanya Namgil sambil meletakkan cangkirnya. Soohyuk menggeleng.

“Korban hanya menemui Yoojin malam itu. Bukti rekaman dari CCTV menunjuk pada Jun Yoojin,” tukas Soohyuk.

Namgil menghela nafas dan mengusap keningnya. Bila dibandingkan dengan si kembar, Soohyuk lebih suka menanyai Namgil karena mencari informasi dari Namgil malah seperti terasa sedang bertukar pikiran.

“Tidak ada bukti lain selain botol wine?” tanya Namgil. Soohyuk menggangguk lemah.

“Bukti yang malah memberatkan Yoojin,  anting yang tertinggal di rumah korban,” tukas Soohyuk.

Namgil mendengus.

“Ceroboh selalu menjatuhkan anting ke mana-mana. Bisa saja itu terjatuh sebelum malam itu,” sahutnya.

“Apa ia sering menjatuhkan anting di tempatmu juga?” tanya Soohyuk pedas. Namgil menatap Soohyuk dingin, seolah ia bisa membunuh Soohyuk hanya dengan tatapannya.

“Kau tahu itu bukan pertanyaan yang membantu,” sindirnya tak kalah pedas. Soohyuk menyeringai tajam. Ia rasa semua pertanyaan telah selesai dijawab. Saatnya untuk membuat laporan kepada Lee Jongsuk.

Soohyuk segera berdiri. Namgil juga berdiri.

Kamsahamnida atas waktumu,” tukasnya.

Cheonma. Kuharap kasus ini segera selesai dan Yoojin dapat dibebaskan dari tuduhan,” balas Namgil. Soohyuk mengangguk. Lalu ia berbalik dan melangkah namun baru dua langkah ia kembali lagi.

“Ada satu pertanyaan yang harus kutanyakan padamu,” tukasnya serius.

Ye?”

“Mengapa kau putus dengannya?”

Namgil menyeringai dingin.

“Kurasa itu bukan urusanmu!” semburnya. Soohyuk tersenyum tipis lalu berbalik.

“Kau tahu Penyidik Lee?”

Soohyuk menoleh, mengira akan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

“Kau adalah penyidik terburuk yang pernah kutemui karena kau sama sekali tidak bisa menyembunyikan apa yang kau rasakan,” kata-kata Namgil menusuk jantung Soohyuk sampai pria berkaki panjang itu tidak bisa membalas.

Namgil tersenyum dingin, kini ia melangkah meninggalkan Soohyuk yang bengong menatapnya.

“Kalau kau menyukainya, katakan padanya dengan jelas. Jun Yoojin wanita bebal yang tidak mengerti tanda-tanda tanpa kata-kata,” pesan Namgil sebelum ia meninggalkan coffeeshop itu.

♫ Law of Natures 3.♫

Seoul Western Public Prosecutor Office, Gongdeok-dong, Mapo-gu,  12.33 pm KST

Suara benturan heels sepuluh senti dengan lantai marmer, menggema di sebuah lorong yang ada di lantai lima gedung kejaksaan di daerah Seoul. Jo Hwanbi si pemilik heels tersebut melangkah santai sambil menenteng paper bag berisi ice tea dan donat. Rok chiffon-nya berayun seiring langkahnya. Hwanbi membenarkan poninya sesaat sebelum dia membuka pintu sebuah ruangan yang memiliki tulisan besar ‘LEE JONGSUK GEOMSA’.

Annyeonghaseyo,” sapa Hwanbi sambil melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke dalam ruangan tersebut. Han Junhee si gadis kucal yang tidak pernah ramah pada Hwanbi langsung menatap Hwanbi dengan galaknya.

Aigo, apa kau tidak takut saraf matamu rusak karena selalu menatap sinis padaku, Junhee-ssi?” sindir Hwanbi, yang dibalas dengusan kencang oleh Junhee.

Cha! Aku memberikanmu minuman dan donat, fyi donat itu berbentuk kepala Hello Kitty, pasti kau menyukainya,” Hwanbi meletakkan paper bag yang tadi dibawanya di meja Junhee. Tadi sebelum ke kantor Jongsuk, Hwanbi menyempatkan diri mampir ke café Hello Kitty yang ada di daerah Hongdae dan membelikan donat itu untuk Junhee.

hellokitty donut

Bukannya mengucapkan terima kasih, Junhee malah menatap sinis paper bag pemberian Hwanbi tadi.

“’Gomapsuminda, Jo Byeon’. Apakah kau tidak mendapatkan pelajaran etika saat sekolah dulu, Junhee-ssi?” sindir Hwanbi lagi yang kembali dijawab dengusan kencang. Junhee selalu bersikap sinis pada Hwanbi kalau kedua sahabatnya sedang tidak ada di tempat. Andai ada Jongsuk atau Soohyuk, Junhee pasti tidak akan berani melakukan itu pada Hwanbi.

“Hwanbi-ya?”

Sebuah sapaan yang meluncur dari seorang lelaki membuat Hwanbi menolehkan kepalanya dan dia mendapati lelaki berwajah unik sudah berdiri di belakangnya.

“Soohyuk-ah,” Hwanbi melambaikan tangannya bersemangat. “Aku mencarimu.”

“Mencariku? Untuk apa?” tanya Soohyuk dengan suara beratnya.

“Kau lupa? Bukannya tadi aku mengatakan kalau kita akan makan siang bersama?” ucap Hwanbi lengkap dengan cengiran khasnya. “Lagipula aku ingin mendiskusikan beberapa hal denganmu,” tambahnya.

Mwondae?” tanya Soohyuk penasaran.

“Aku akan menceritakannya saat kita sudah berdua, aku tidak mau dia mendengarnya,” ujar Hwanbi sambil melirik Junhee yang sejak tadi mencuri dengar pembicaraannya dengan Soohyuk. “Kajja!” tanpa menunggu jawaban dari Soohyuk, Hwanbi sudah menyisipkan tangannya di lengan Soohyuk. “Berhenti menatap Soohyuk dengan pandangan memuja seperti itu, Junhee-ssi. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju kau bersama Soohyuk,” ucap Hwanbi dengan sinis. Kemudian dia membawa Soohyuk ke luar dari ruangan.

 

Pro Ganjang Gejang, Gangnam-gu, 01.01 pm KST

pro

“Apa yang ingin kau diskusikan denganku?” tanya Soohyuk saat mereka berdua sudah duduk di Pro Ganjang Gejang sebuah restoran masakan Korea yang ada di daerah Gangnam. Kebetulan Hwanbi sedang ingin makan yangnyeom gejang.

“Apa kau mengenal detektif yang menangani kasus Yoojin Eonni?”

“Maksudmu Kim Woobin Hyeongsa?” Soohyuk menyuap yeonpotang (sup gurita)-nya.

Eoh, apa kau mengenalnya?”

“Dia sahabat Jongsuk saat SMA dulu, dan saat aku bekerja menjadi penyidik, kami bertiga sering pergi bersama,” kalau tidak berada di kejaksaan, Soohyuk biasa memanggil Jongsuk tanpa embel-embel Geomsa di belakang namanya.

“Seberapa sering kau pergi dengannya?” Hwanbi memulai misinya mengumpulkan informasi mengenai detektif berkaki panjang dan suara berat yang telah membuatnya jatuh hati sejak pertama bertemu.

“Cukup sering, wae?”

“Jadi kau tahu apa yang dia suka dan sering lakukan?” tanya Hwanbi dengan wajah penasaran.

“Kau menyukainya, Jo Hwanbi Byeonsanim?” Soohyuk menatap Hwanbi dengan tatapan menyelidik.

Hwanbi meringis. “Kau benar-benar mengenaliku, Soohyuk-ah.”

Soohyuk tergelak. Dia sudah bisa menduga kalau Hwanbi akan menyukai Woobin. Sahabatnya sejak kuliah ini memang menyukai lelaki berkaki panjang, terbukti dari beberapa kali dia berkencan dengan pilot atau model runway.

“Kenapa kau tidak bertanya pada Jongsuk saja? Mereka sudah bersahabat sejak SMA, Jongsuk pasti memiliki lebih banyak informasi mengenainya daripadaku.”

Hwanbi mendengus. “Si Donald tidak mau memberitahuku, karena aku tidak mau mengenalkannya dengan salah satu teman pengacaraku,” ucap Hwanbi sambil mengerucutkan bibirnya.

Soohyuk kembali tergelak. Jongsuk selalu saja membuat Hwanbi kesal, tetapi walaupun seperti itu, mereka berdua tidak pernah berhenti bersahabat.

“Jadi, apa kau mau memberitahuku, apa yang sering dilakukan oleh Woobin?” tanya Hwanbi.

“Mengejar penjahat,” jawab Soohyuk santai.

Hya! Kau bercanda denganku?” Hwanbi melempar Soohyuk dengan gumpalan tissue. Soohyuk kembali terkekeh. Dia dan Jongsuk memang senang menggoda Hwanbi, karena gadis ini sangat mudah marah dan sangat ekspresif.

“Setiap hari rabu malam aku dan Woobin biasa berenang di Lotte City Hotel. Selain itu setiap akhir pekan, kalau kami tidak sibuk, kami akan bermain billyard, wall climbing atau hanya menongkrong di café,” beritahu Soohyuk. Sedangkan Hwanbi menyimak dan menyimpan informasi itu di benaknya.

Tto?” tanya Hwanbi lagi.

Tto? Aku tidak tahu lagi, memangnya kau kira aku pengasuhnya, huh?”

Hwanbi mendengus pelan, sepertinya ada yang harus dia lakukan agar Soohyuk mau membuka mulutnya. “Soohyuk-ah, bagaimana kalau kita melakukan pertukaran informasi?” Hwanbi mencoba membujuk Soohyuk.

“Pertukaran informasi?”

“Aku akan memberitahumu tentang dirty little secret Yoojin Eonni, dan kau beritahu aku jadwal Woobin,” ucap Hwanbi dengan suara sarat konspirasi. Dia yakin kalau Soohyuk akan setuju, karena menurut hipotesisnya, Soohyuk menyukai Yoojin.

Soohyuk terdiam cukup lama. Dia tidak mengerti kenapa Hwanbi mengatakan hal ini padanya? Apa Hwanbi mengetahui kalau dia memiliki perasaan khusus pada Yoojin?

“Aku mengenalmu Soohyuk-ah, kau pasti memiliki perasaan khusus pada Yoojin Eonni?” tebak Hwanbi tepat sasaran. Soohyuk tergelagap. Ternyata si cerewet ini tahu juga mengenai perasaannya.

So? Mau bertukar denganku, Soohyuk-ah?” Hwanbi mengulangi tawarannya dengan wajah menggoda.

Okay, beritahu aku apa dirty little secret Yoojin yang kau ketahui?” Soohyuk akhirnya setuju dengan tawaran Hwanbi.

Hwanbi tersenyum penuh kemenangan. “Yoojin Eonni menyukai lelaki berkaki panjang,” beritahu Hwanbi.

Mworago? Kaki panjang?”

Eoh, kau teliti saja mantan-mantan kekasih Yoojin Eonni,” kata Hwanbi. “Ah iya, dia juga lelaki yang memiliki abs,” tambahnya.

Soohyuk hanya diam, tapi dalam benaknya sudah tercatat, kalau mulai sekarang dia harus mengikuti jejak Woobin pergi ke tempat kebugaran untuk fitness.

“Jadwal Woobin?” Hwanbi menadahkan tangannya.

“Senin dan Jumat dia melatih taekwondo di Sinsu-dong, Selasa dan Kamis dia fitness di Hongdae,” beritahu Soohyuk. Sedangkan Hwanbi dengan cekatan mencatatnya dalam ingatan.

“Satu hal yang perlu kau ketahui tentang Woobin,” ucap Soohyuk sambil menyesap minumannya.

Mwondae?” tanya Hwanbi penasaran.

“Dia sangat dingin terhadap wanita, dan dia juga sulit tersenyum pada lawan jenis. Jadi aku harap kau memiliki mental yang kuat untuk mendekatinya,” beritahu Soohyuk. Tadinya dia bermaksud memberitahukan Hwanbi mengenai masalah Woobin yang masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya, tetapi Soohyuk mengurungkan niatnya tersebut. Karena dia berharap Hwanbi yang cerewet bisa meluluhkan hati Woobin.

♫ To be Continued♫

Advertisements

25 thoughts on “Law of Natures 3 : Sweet Defendant 2

  1. sepertinya ini kasus yang sangat panjang, bahkan hyesang gk bisa dicurigai *menurutku 😀 .. Sepertinya emang sulit membedakan ketika soohyuk tersenyum dan tidak .. Saling menguntungkan satu sama lain, sukalah sama sifat hwanbi yang dengan gampangnya dia menunjukan kalau dia menyukai woobin ke soohyuk .. Biasanya di FF lain si wanita bakal nyimpen perasaan nya itu dan lebih memilih mengagumi sosok yang disukain nya tanpa harus ada orang yang tahu. Semoga acara bentuk abs mu sukses soohyuk-ssi .. Di awal pas FF ini keluar , aku kurang tertarik karena konflik nya yang kurang menegangkan menurutku. Jujur aku lebih suka FF tentang pembunuhan, atau psyco ketimbang FF romance. Tapi setelah baca dan memahami konfliknya, aku malah tertarik buat baca FF ini lebih lanjut.. good joblah buat dirimu eonni *pelukeonni 😀

  2. Lagi tergila-gila ama Woobin :v wkwkwk
    ah, kenapa dimanapun dia selalu punya karisma? bahkan di ff :3

    Part ini lebih ke sweet momen Yoojin ama soohyuk ye?
    xiixiixixix
    ngakak pas scene mens
    mamposss bgt! salah stu hal yg memalukan itu, M tembus di depan laki :v

    Ane bisa nangkep sipat Yoojin. Di awal” kirain dia cwek ‘mengerikan’ dg rokok, bebas dsb. Tpi ternyata, dia polos (walau byk mantan) wkwk
    dan soohyuk, no koment :3 dia penyidik yg sedang jatuh cinta hoakkakaaa

    Dan hwanbi -_- knp dia suka woobin T.T dia terlalu berkarisma dan menggoda
    Dan pelaku, siapa pelakunya -_-?
    ngmng” ini ampe berapa Word? 😮

    dan ane curiga ama temen” si Yoojin, ama inmin *bener kagak tuh nama*, atu jgn” yg bunuh itu Jongsuk *hemeeh -_-* #Abaikan

    1. Berapa words? Biasanya tembus 9 ribu ㅎㅎㅎㅎ
      Soal mens itu ide Chelsea. Yoojin perokok waktu lagi miskin ide. Dia dah stop tapi balik lagi karena takut waktu du ruang interogasi bersama Kim Hyeongsa. Soohyuk, he just falling in love with bad girl.
      Gumawo dah singgah

  3. aduwh….. aduwh…………
    aku salah nulis komentar…. kim woobin itu detektif bukan penyidik…… mianhae eonni..
    aduwh.. jadi malu…^^

  4. pertanyaan soohyuk bener2 bikin ngakak……. ngga ada kaitanya sama kasus yoojin
    mending soohyuk oppa langsung tanya aja sama yoojin….. nih couple bener2 kocak….

    jo hwanbi sudah memulai misinya untuk mendekati penyidik kim…. wkwkw…
    tapi kayanya harus ektra sabar cz penyidik kim menurut aku kelewat dingin di tmbh lagi dia blm bisa nglupain mantannya…..

  5. wah hwanbi penasaran ma woobin,
    sedangkan soohyuk jg mulai kepo msalah yoojin,
    bakal ad dua pasang kekssih nich klo berjlan lancar sh.

  6. lol yoojin gila mantannya ampe ngantri kayak gituh wkwkw
    soohyuk ketiban rejeki nomplok dapet kissue dari yoojin yaach walaupun dalam keadaan yang enggak sadar sisch tapi kan tetep rasanya sama
    wkwkwkwkw
    pengen ngakak liat kelakuan soohyuk masa penyidik nanya nya aneh aneh kayak gituh hadeuuuuu faktor L
    siiip ide bagus Duffy tukar informasi :p
    over all keren
    mian baru smpt coment thor

  7. Hallo, author.
    Oke, pertama yang mau saya komentarin itu si mantan kekasih korban. Tingkahnya yang benar-benar artis ‘masa kini’ itu bikin naik darah, turun feses. I think, arwah tunangannya selalu menderita ketika tunangannya campur tangan.
    Kedua, Sung Hye Sang disini gaul dan cempreng wkwkwk dan OMG! Sayakah pemilik Villa tempat Reuni itu? Wkwkwk
    Ketiga, Soohyuk. Yang saya pikirkan ketika membaca karakter dia adalah ‘berpacaran dengan seorang yang lebih tua merupakan tantangan tersendiri’ hahahaha
    Keempat, Junhee. Si maniak Hello Kitty ini. Saya yakin ketika ia meninggal, warisan yang ia tinggalkan adalah, “tolong ketika saya wafat, peti mati saya berbentuk Hello Kity.” Tokoh Junhee disini lebih cocok jadi bahan hinaan wkwkwk
    Kelima, mantan pacar Yoojin. Semua punya karakter masing-masing. Playgirl juga sih sebenanrnya. Tapi yang jadi mantannya karakter kuat semua. Sosok Yoojin disini menurut saya bukan tipe yang ‘dengan siapa saja oke,” tapi tipe yang benar-benar menyeleksi seseorang ketika berhubungan dengannya. Semacam kualifikasi hha
    Keenam, menurut saya adegan pembunuhan yang diterapkan si pelaku ke korban itu memakai skrip yang ditulis oleh Yoojin dan memanfaatkan keteledoran Yoojin di setiap kondisi agar ia menjadi tersangka. Kasus yang benar-benar harus ekstra teliti apalagi membunuh dengan arsenik (jadi ingat rooftop prince).
    Oke, saya lanjut next part dulu ahahhaha

  8. Wkwkwkwkkk..ngakak 😀 Soohyuk perhatian bgt sampe nahan malu demi beliin Yoojin pembalut :3

    Hwanbi sama Soohyuk simbiosis mutualisme..saling menguntungkan :D:D:D:D

  9. Bwwahhhaaaaaa SEOHYUK bneerr bnerr daahh..

    nae ampe sakit perut thour karna tingkah SEOHYUK yg kaya anak kecil.. hahhaaa

    ini special SEO-JIN yaa ! AKU sukkaaaa Couple ini.. tapii SEOHYUK SOO SWEEETT

    MOMENT SEOHYUK: ketika dia mao beli pembalut,trus ngaku pacarnya Yoojin,Nebully Hyesang dngan pertanyaan bodoh, truus mengintrogasi si NAMJA KEMBAR yg ujungnya gak PENTING dan mmbuat si Kembar JENGKEL, truss DIA terlihat sangat bodoh Di mata NAMGIL.

    SEOHYUK MAO BIKIN ABS 😀

    waakkakakakakk

    DAEBBAAAKKK

  10. Aigoo, soohyuk jd calon suami siaga belilut(?) Siap antar jaga beli pembalut wkwkwk.

    Pertanyaan mcm apa itu? “Apa dia pernah menciummu?” Wkwkwk ga ada dlm index penyidik -_-

  11. Typo itu biasa, kkee .. Masih penasaran dengan pembunuh Joo Sangwook .. Tetap dengan karakter para exclusive PF, selalu membuat readers seakan berada di TKP nya .. Good Job eonni

    1. Tak bisa lepas dari typos. ㅎㅎㅎ senewen sendiri. Yang bikin berada di tkp itu author Chelsea dan kadang2 curiga kalau dia pernah ke Korea Selatan. Ambigu JSW dibunuh atau bunuh diri karena yang tahu pasti kejadian pasti hanya korban yg tak bisa dimintai keterangan

  12. aigo nih gadis ceroboh amat smpe nembus nda ingat tgl dtng bln,,,penyidik lee mau aja di printh ngikutin yoojin,,,yoojin mntnnya bnyak ama dri stu mantannya kyak nya blm ada yg dicium nih,,,brntung dong penyidik lee blm jd pcrnya udh dpt kiss dr yoojin,,,hwanbi pnter yah bs memanfaatkan penyidik lee brtukar info,,,huffffffff critanya seru abis

  13. kekekeke
    soohyuk ga tengil dan kocak kaya sungyeol tapi kelakuan dia n sifat yoojin tuh bkin ngakak
    wih itu visualisasi kasir Hollys doyan pamer cleavage? heol!
    YJ bisa jadi teman nongkrong baru trio long legs tuh, sama2 smoker ㅎㅎㅎ
    duo tasty diselidik masalah privacy
    suka karakter namgil. main tembak si vampir 😀
    Hwabi lagi nyusun strategi buat approaching Woobin
    Tapi punya saingan ya, si bulat Kwon HeeMi
    ngikik baca komen Rinie. inmin aka evita frontal.

    1. Yoojin bengong pas ada yang manggil Soohyuk Oppa adalah kasir dengan baju anak2 yg lebih pantes dipanggil ahjumma olehnya. ㅎㅎㅎㅎ

      Makasih suka Namgil. Kalo liat muka Namgil yang terbayang karakternya lugas dan to the point. Soohyuk langsung didor tepat di sasarannya. Unni nulis Namgil karena Unni suka dia dan karakternya ngak kalah dengan Soohyuk meski hanya cameo. Gumawo.

  14. Aigo #tepukjidat
    pengen aq sumpal tuch mulut’y Inmin…
    Yoonjin bener2 ceroboh masa tgl mens’y lupa #plaak dan Soohyuk bener2 gokil masa blg’y mens gak elit pisan… dan pembalut #hadeuuuh
    Wow,mereka berciuman. Yoonjin sadar gak ea?
    Bener2 ff nie d’luar prediksi aq dan makin penasaran za,d’otakku da tanya besar cpa yg bunuh Sangwook???? #aaargh

  15. Cs Onnie,

    Ya ampun tragedi tembus dan ngga inget tanggal datang bulan itu bener-bener deh ya, konyol banget hehehehe emangnya ngga berasa sakit ya perutnya Yoojin? wkwkwkwkwkwk salut banget sama Soohyuk, yang rela ke mini market beliin pembalut buat Yoojin, mana sempet-sempetnya Yoojin bilang dia biasa pake yang mana wkwkwkwkw kocak

    Status Yoojin lemah banget, biar Hwanbi pengacaranya yakin Yoojin ngga bersalah, tapi banyak bukti yang memberatkan Yoojin

    Soal Yoojin yang nyium Soohyuk, siapa lagi yang bisa disalahin selain alkohol wkwkwkwk dalam pengaruh alkohol Yoojin bisa main sosor aja hehehehehehe

    Hwanbi yang udah tahu kartunya Soohyuk, sama kayak Soohyuk, jadi mereka mengadakan pertukaran informasi deh hehehehe

    Eh sumpah ya, itu penghuni pojok pink, manner-nya kagak ada banget, udah mending dikasih donat, bukannya bilang terima kasih malah ngedengus, huh!

    Ayo ayo next part Onnie ^^

    1. Soohyuk nyesel jadi penyidik karena satu kasus tembus ini. Meski pun begitu dia sadar dia banyak tersenyum karena Yoojin yang dia idolakan sejak dulu meski dia baru tahu Yoojin ceroboh setelah berhubungan dengan kasus ini. Mana video chat nanya yang ngak ada hubungannya. Gimana Hwanbi ngak langsung pegang kartu as

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s