Law of Natures 2 : Sweet Defendant 1

  Law of Natures:  

Sweet Defendant 1 

  LoN Sweet Defendant 1 Poster

By :

  Christie Sue,Chelsea and thecuties   

|Crime/Mystery/Romance/Drama/Comedy| PG 17 | Series |

Casts :

Lee Jongsuk, Lee Soohyuk, Kim Woobin

 [OC] : Jun Yoojin, Jo Hwanbi, Jo Hwanmi

 Jun Kwangryul, Jo Sungha, Jung In-gi

Kang Minhyuk (CN Blue), Lee Jihoon, Lee Yikyung

Previous Part :

The Court |

♫ Law of Natures 2.♫

Han Gang

Selasa, 27 Januari 1998, 10.35 pm

Seorang namja berusia di pertengahan tigapuluhan memanggul tubuh lemas seorang yeoja yang berusia sekitar enam belas tahun. Sang yeoja tampak pingsan. Namja itu menurunkannya di tepi sungai. Ia menarik nafas karena sebentar lagi tugasnya akan selesai. Ia tersenyum menatap yeoja yang masih belum sadar dari pingsan itu.

“Ketika mereka menemukan tubuhmu, obat bius yang ada di tubuhmu sudah tidak dapat terdeteksi. Gumawo karena telah membiarkanku menikmati tubuhmu, Daph,” tukas pria itu sambil melepaskan sepatu sneaker putih yang dipakai yeoja itu.

Lalu diangkatnya tubuh yeoja itu dan dilemparkannya ke dalam sungai Han.

Ia terkekeh menyaksikan tubuh yeoja itu tenggelam sebelum ia masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.

Sinsu-dong, Mapo-gu,

Minggu, 20 Oktober, 06.40 am,

Matahari hampir terbit saat seorang Ahjumma membuka pintu sebuah apartemen untuk melakukan tugasnya. Ini hari Minggu dan Ahjumma itu biasa membersihkan apartemen milik Joo Sangwook, CEO Buenos Entertainment. CEO Joo tidak tinggal di sana, tapi sesekali dia mengunjungi apartemen yang dulu dibeli bersama mantan kekasihnya, Jun Yoojin.

Ahjumma itu memasuki living room dan dia cukup terkejut melihat Sangwook tertidur di sofa. Ada sebotol wine yang baru habis 1/4nya dan dua gelas di meja, yang satu kosong, yang satu masih isi.

Mungkinkah tuan Joo kembali bersama yeoja itu?’ guman perempuan berumur 48 itu.

Dia menatap sejenak lelaki yang masih memakai kemeja warna beige dan celana cokelat. Di sofa kecil, Ahjumma itu melihat jas milik Sangwook. Dia tidak berani membangunkan Sangwook dan memulai pekerjaannya. Setengah jam kemudian, dia mendengar ponsel Sangwook berdering. Tampaknya sebuah panggilan penting karena ponsel itu berdering lagi setelah berhenti. Awalnya Ahjumma itu mau mengabaikan, tapi deringan ketiga terdengar setelah dua kali diabaikan.

♫ Law of Natures 2.♫

07.41 am KST

“Minhyuk-ah, bagaimana dengan CCTV?” tanya Kim Woobin yang masih mengenakan setelan jogging-nya, training dan jaket.Detektif dari kepolisian distrik Mapo itu saat ini berada di dalam apartemen Joo Sangwook.

“Sudah ada, kita bisa ke sana sekarang, Sunbaenim,” jawab Kang Minhyuk, polisi junior di tim Woobin.

Lee Jihoon, detektif lain, sedang mengambil sidik jari yang ada di botol wineyang tinggal setengahnya dan  dua gelas yang terdapat di meja. Sementara Lee Yikyung, rekannya, memotret tubuh Joo Sangwook yang sudah tak bernyawa. Ahjumma pengurus rumah masih dimintai keterangan oleh officer lain. Seorang lelaki bertubuh tinggi yang mengenakan kemeja hitam dan celana jeans tampak mencatat hasil data-data penemuannya di sebuah aplikasi memo melalui smartphone-nya. Lelaki itu bernama Lee Soohyuk, seorang detektif dari kantor kejaksaan.

Kim Woobin, Kang Minhyuk dan Kepala Polisi bernama Jung In Gi sedang melihat adegan yang terekam CCTV. Mereka melihat Joo Sangwook masuk jam 07.52 pm. Sangwook memakai formal suit dan membawa ransel yang sepertinya berisi laptop. Seorang yeoja memasuki apartemen jam 08.27 pm membawa tas jinjing besar. Yeoja itu keluar jam 8.41 pm. Setelah gambar yeoja itu diperbesar, mereka melihat jelas wajahnya. Yeoja itu tampak terburu-buru, cemas dan takut.

“Temukan segera identitas perempuan itu,” ucap Jung In Gi.

Lee Jihoon memasuki ruangan itu dan dia melaporkan catatan keterangan yang dia dapat dari Ahjumma pengurus rumah.

Ahjumma itu berkata, hanya seorang yeoja yang pernah berkunjung ke sana. Dia seorang penulis,” ucap Jihoon. “Apartemen ini dibeli Joo Sangwook atas nama Jun Yoojin.”

“Jun Yoojin? Penulis?” tanya In Gi.

♫ Law of Natures 2.♫

Mapo Police Station, Seogyo dong

Minggu, 20 Oktober 2013 12.38 PM KST

49743_2853.jpg_M400

Lee Soohyuk masuk ke ruangan di sebelah ruangan interogasi mengikuti Lee Jongsuk yang sudah berada di sana. Jongsuk berdiri menatap kaca satu arah di mana Jun Yoojin sang tersangka ditanyai oleh Kim Woobin. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya sementara tangan yang lain memegangi bibirnya. Soohyuk berdiri di sisi kanannya memperhatikan yeoja yang bernama Jun Yoojin. Sekilas ia tampak ketakutan karena Kim Woobin menanyainya dengan suara agak mengintimidasi. Wajah Yoojin tampak letih, matanya sama sekali tidak bersemangat, rambutnya agak berantakan. Soohyuk mengerutkan keningnya, menarik nafas panjang. Wanita itu, Jun Yoojin, seorang penulis drama. Soohyuk selalu mengikuti semua drama yang ditulisnya. Soohyuk ingat bagaimana ia mulai menjadi fans dari seorang penulis bernama Jun Yoojin ini.

 

Yonsei University, Februari 2008,

Yonsei_University_Yonhee_Hall

Soohyuk mengacak rambut Hwanbi ketika gadis teman kuliahnya itu menuruni tangga di kampus mereka dengan terburu-buru. Hwanbi meringis menoleh pada sahabatnya itu.

Hya, apa yang kau lakukan, Soohyuk-ah?” tanyanya marah sambil merapikan rambutnya kembali.

Eodiga? Kau terburu-buru ke luar dari kelas tadi,” tanya Soohyuk sambil menjejeri langkah Hwanbi. Bukan masalah baginya untuk menjejeri langkah Hwanbi karena kakinya yang panjang. Ia juga sengaja menghalangi langkah Hwanbi.

“Menjauh, Soohyuk-ah. Aku ada janji dengan temanku,” tukas Hwanbi sambil mendorong pria berwajah unik itu.

Namjachingu?” goda pria berwajah unik ini.

Hwanbi menggeleng.

Aniya. Chingu!”

Chingu?”

Hwanbi mengangkat tangannya, melambai pada seseorang di bawah tangga. Soohyuk ikut menoleh ke arah bawah. Hwanbi segera berlari menuruni tangga menemui seorang yeoja berambut pendek yang mengenakan mini black dress hitam dengan potongan sederhana, sepatu boots sebetis dan berkacamata hitam. Ketika Hwanbi berdiri di sampingnya, Soohyuk berkesempatan melihat wajah yeoja itu karena ia menurunkan kacamata hitamnya. Yeoja itu berambut sebahu, lurus, dansedikitberantakan dengan mata lebar dan bibir indah dengan belahan. Yeoja itu tersenyum pada Hwanbi. Soohyuk tanpa sadar ikut tersenyum karena mengira yeoja itu tersenyum padanya.

Eonni! Bogosipda!”

Na do! Bogosipda Hwanbi-ya!”

“Aku senang sekali Eonni mengajakku makan siang. Kita makan apa? Aish, aku lapar sekali, rasanya aku bisa menghabiskan beberapa piring makan siang!”

Kajja, kita makan makanan Jepang,” ajak yeoja itu sambil mengamit lengan Hwanbi dengan akrab.

Eonni dari dulu memang paling suka makanan Jepang.”

Kedua gadis itu meninggalkan kawasan jurusan hukum di Yonsei University. Sementara Soohyuk masih menatap punggung yeoja berpakaian hitam itu.

Beberapa hari kemudian, Soohyuk berusaha memancing informasi mengenai gadis berambut pendek itu dari mulut Hwanbi, namun Soohyuk melakukannya tanpa kentara. Dari mulut Hwanbi sendiri, Soohyuk tahu kalau gadis itu bernama Jun Yoojin seorang penulis skrip. Soohyuk mulai mencari drama yang ditulis oleh Yoojin, mendapatkan semua berita terbaru darinya serta mengikuti akun resminya di me2day. Hwanbi memang tidak mengenalkan Yoojin padanya tapi Soohyuk merasa ia sudah mengenal sosok Yoojin dari drama-drama yang diikutinya.

20 Oktober 2013, 12.45 PM KST

Soohyuk masih menatap Jun Yoojin dari kaca satu arah sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku belakang celana jeans yang dikenakannya malam itu. Benar-benar ia sulit menerima kenyataan kalau yang ditangkap atas kasus pembunuhan ini adalah Jun Yoojin.

“Hasil olah TKP, anting yang kau temukan itu miliknya, bukan?” tanya Jongsuk tanpa mengalihkan perhatiannya dari Yoojin. Dalam helaan nafasnya, Soohyuk mengangguk.

Mata Soohyuk mengikuti gerakan Kim Hyeongsa yang sekarang bergerak ke arah Yoojin dan duduk di atas meja, lalu Woobin mencondongkan badannya ke arah Yoojin. Yoojin juga mencondongkan badannya ke belakang karena gerakan Woobin yang mengintimidasinya.

“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk membubuhkan racun itu?” tanyanya dengan suara keras. Matanya juga menatap galak kepada Yoojin. Soohyuk mengepalkan tangannya. Ia dapat merasakan ketakutan dalam diri Yoojin menjawab pertanyaan Woobin.

Sebagai penyidik yang bekerja untuk kejaksaan selama beberapa tahun, pemandangan di depan matanya itu sebenarnya adalah hal yang sudah sering ia saksikan. Namun, karena sang tersangka adalah Jun Yoojin, ia merasa agak aneh. Di satu pihak, sebagai penyidik, ia harus melakukan tugasnya untuk menangkap tersangka, namun di pihak lain ia ingin Yoojin bisa membebaskan diri. Soohyuk seolah melihat drama dalam keadaan live.

MianhamnidaHyeonsanim, bolehkah aku merokok sambil menunggu pengacaraku tiba?” tanya Yoojin sambil melirik rokok milik Woobin yang terletak di meja. Meskipun ia berusaha tenang dan tetap tidak mau menjawab satu pun pertanyaan dari Kim Woobin tetap saja Soohyuk merasakan nada gemetar dalam suaranya.

“Ternyata dia perokok juga,” tukas Jongsuk sambil memperhatikan Yoojin. Tetapi anehnya sewaktu olah TKP, ia dan Soohyuk sama sekali tidak menemukan puntung rokok di rumah korban.

Smoker?” tanya Woobin.

Ne, sambil menunggu pengacaraku,” jawab Yoojin.

Sebenarnya aku sudah berhenti dua tahun lalu, tetapi sekarang aku benar-benar butuh rokok untuk menenangkan pikiranku.

“Tapi sekarang aku tidak punya rokok,” tukas Yoojin.

Woobin mendorong kotak rokok beserta lighternya. Yoojin mengucapkan terima kasih dan mengambil sebatang dan menyelipkannya ke bibirnya. Namun ketika ia menghidupkan lighternya sama sekali tak mau menyala karena tangannya gemetar. Ruangan pengap, meskipun memiliki pendingin ruangan, namun tetap saja ruangan ini memiliki bau penjahat yang menempel.

Yoojin masih mencoba menghidupkan lighternya lagi, namun tetap gagal. Ketiga kali, tetap tak mau hidup.

Nappeun!”

Woobin berdiri mendekat tapi justru aura yang dingin itu membuat Yoojin makin ketakutan sampai ia menjatuhkan lighternya.

Mian, mian,” ucapnya gugup. Woobin memungut lighter itu lalu membantu menghidupkannya.

Uljima, Yoojin.

“Aku hanya membantu,” tukas Woobin dengan suara rendah sedingin es. Suara itu terasa bagai siraman di kepala Yoojin.

“Mungkin Woobin mau menekan supaya dia mengakui perbuatannya sekarang,” tukas Jongsuk di ruangan sebelah namun sebelum ia bergerak, seorang petugas mengetuk pintu dan masuk. Baik Jongsuk maupun Soohyuk menoleh ke arah petugas polisi yang memakai pakaian bebas itu.

“Kim Hyeongsa,pengacaranya sudah tiba,” beritahu polisijunior bernama Kang Minkyuk itu.

Jongsuk tersenyum sinis lalu melirik Soohyuk.

“Duffy datang!”

Seorang wanita berambut panjang berombak yang sudah sangat diingat oleh Jongsuk dan Soohyuk menerobos masuk ruangan interogasi. Jongsuk tersenyum karena ia sudah menduga Hwanbi akan menjadi pengacara Jun Yoojin karena mengetahui hubungan keluarga mereka. Yoojin melihat kedatangan pengacaranya langsung berdiri walaupun tangannya masih saja gemetar.

“Hwanbi ya, a-aku tidak membunuh Sangwook Oppa,” gumam Yoojin lirih. Hwanbi mengangguk. Lalu ia beralih pada Kim Woobin.

Annyeong Kim Hyeongsa, sepertinya kita berjodoh,” sapa Hwanbi pada Kim Woobin yang tampak terkejut dengan kehadiran Hwanbi di tempat ini.

“Jo Hwanbi-ssi? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Woobin retoris.Dan Woobin merasa itu pertanyaan bodoh. Dia lupa kalau Jongsuk pernah mengatakan sahabatnya ini seorang pengacara.

“Bukannya tadi rekan kerjamu sudah memberitahukan, kalau aku adalah pengacara dari Jun Yoojin, kenapa kau masih bertanya,Kim Hyeongsa?” Hwanbi lalu menghempaskan bokongnya di kursi yang ada di sebelah Yoojin.

Hwanbi bisa melihat keadaan Yoojin jauh dari kata baik, rambut berantakan, wajah kuyu, dan dari mata Yoojin, Hwanbi bisa menangkap ketakutan yang besar. Hwanbi bahkan melihat kalau Yoojin merokok lagi. Diraih tangan Yoojin yang memegang batang rokok dan dibuangnya puntung rokok itu ke asbak di meja. Lalu ia menggenggam tangan Yoojin memberi semangat sekaligus menyatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.

“Baiklah, karena sekarang pengacaramu sudah ada di sini, jadi kau akan membuka mulutmu, kan?” tanya Woobin dengan pandangan mengintimidasi pada Yoojin.

Yoojin hanya berkata bahwa dia tidak membawa wine dan tidak membunuh Sangwook, lalu menolak untuk menjawab pertanyaan apapun sampai pengacaranya datang.

“A-aku tidak melakukannya, Hwanbi-ya,” bisik Yoojin yang sayangnya terdengar oleh Woobin.

“Anda tidak melakukannya, tapi kenapa kami menemukan sidik jarimu di botol wine beracun tersebut, heh?!” bentak Woobin yang sukses membuat Hwanbi dan Yoojin terlonjak.“Anda datang membawa tas besar dan di dalamnya ada wine itu, kan?”

“Kim Hyeongsa! Apa kau tidak bisa memelankan suaramu?” protes Hwanbi sambil mengusap dadanya.

Kim Woobin mendengus. Dia benar-benar frustasi. Semenjak digiring ke kantor polisi dan proses introgasi dimulai, Jun Yoojin sang tersangka kasus pembunuhan  CEO Joo Sangwook, sama sekali tidak mau membuka mulutnya, dan saat pengacaranya datang, wanita itu tetap menyangkal perbuataannya. Woobin merasa kasus ini akan berjalan sangat lama.

“Apakah kalian menemukan bukti yang kuat, sehingga bisa menuduh client-ku?” tanya Hwanbi.

“Tentu saja,” jawab Woobin masih dengan suara beratnya yang mampu membuat jantung Hwanbi bekerja dua kali lebih giat memompa darah ke seluruh tubuhnya. Dalam hati Hwanbi hanya bisa merutuki dirinya yang telah dengan polosnya jatuh hati pada detektif berwajah tirus yang ada di hadapannya kali ini.

“Tersangka adalah orang terakhir yang ditemui dan dihubungioleh korban. Kami menemukan sidik jari tersangka di botol wine beracun yang korban minum. Hasil uji forensik menyatakan korban meninggal karenaarsenik yang terdapat dalam wine.Tersangka muncul di rekaman CCTV masuk pada jam 08.27 selang setengah jam setelah korban masuk. Tersangka keluar pada jam 08.41 dengan ekspresi cemas,” Woobin membeberkan bukti hasil olah TKP tadi siang.

“Aku mendapat panggilan telepon dari seorang teman,” ungkap Yoojin.

“Siapa?” tanya Woobin.

“Sung Hyesang,” jawab Yoojin. “Aku pergi ke Insa-dong karena dia berkata ada masalah serius. Tapi aku tak bertemu dengannya.  Ponselnya tidak aktif. Lalu aku pergi ke apartemennya di Apgeujong. Tapi dia juga tidak ada di sana dan aku pulang.”

“Siapa Sung Hyesang?” tanya Woobin.

“Penyayi Aurora Entertainment,” jawab Hwanbi. “Sahabat Jun Yoojin-ssi.”

Woobin melirik Minhyuk dan mengangguk kecil lalu Minhyuk keluar. Detektif itu mengangkat alis dan masih memasang tampang dinginnya. “Apa tujuan Anda menemui korban?”

“Karena dia menghubungiku. Dia pamit mau pergi dan kata-katanya seperti orang putus asa,” jawab Yoojin.

“Jadi, Anda mau mengatakan korban tewas bunuh diri?” todong Woobin dengan tatapan tajam yang menyeramkan.

Mwo? Bunuh diri? Kenapa Sangwook Oppa harus bunuh diri?” ungkap Yoojin emosional.

Hwanbi mengangkat wajahnya dan menatap mata detektif Kim yang sipit namun tajam tersebut. Saat matanya bertemu dengan mata detektif Kim, Hwanbi merasa dirinya tersedot ke dalam sebuah pusaran tak berujung. Cepat, Hwanbi mengalihkan pandangannya.

Sial! Kenapa harus dia yang menjadi detektif kasus ini? Aku benar-benar tidak bisa menatap matanya yang menghanyutkan itu? Apalagi suaranya yang berat itu, sukses mengacaukan sistem kerja otakku!” gerutu Hwanbi dalam hati.

Eonni, siapa yang melakukan panggilan telepon? Eonni atau Joo Isa?” tanya Hwanbi.

Oppa yang menghubungiku, Hwanbi-ya,” jawab Yoojin lemas.

Hwanbi berdeham membasahi tenggorokannya yang mengering. “Begini Kim Hyeongsa, aku rasa bukti-bukti tersebut masih belum terlalu kuat untuk menyeret client-ku masuk ke dalam penjara,” ucap Hwanbi dengan suara yang dia buat setenang mungkin. “Kalau client-ku memang berniat membunuh korban, bukahkah dia harus menghubungi lebih dulu. Dalam kronologisnya, korban menghubungi Yoojin-ssi.  Seperti yang Anda katakan, ada kemungkinan korban mencoba bunuh diri.”

Saat ini dia harus mengesampingkan masalah hatinya, dia harus profesional. Ada client yang membutuhkan bantuannya, terlebih lagi yang menjadi client-nya kali ini bukan orang asing, tetapi melainkan Jun Yoojin. Wanita yang dekat dengan keluarganya, bahkan sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.

“Sidik jari tersangka…”

Yoojin memotong perkataan Woobin, “Aku memang menuangkan wine itu dan belum sempat meminumnya karena menerima telepon Sung Hyesang.” Mata Yoojin tampak membening oleh lapisan air mata. Dia masih sangat terkejut.

“Aku meminta penangguhan penahanan untuk client-ku ini,” ujar Hwanbi tiba-tiba  yang membuat mata sipit Woobin melebar.

Mworagoyo? Penangguhan penahanan? Ibayo, Jo Byeon, bukti-bukti yang aku sebutkan tadi cukup untuk menyeretnya masuk penjara,” kata Woobin tidak terima. “Kalau harus melakukan penangguhan, kita harus menunggu Sung Hyesang untuk memberikan kesaksian.”

“Aku tahu, tapi kau lihat sendiri, saat ini keadaan client-ku sedang tidak baik. Dia masih shock, aku rasa percuma saja kau menahannya, dia pasti tidak bisa kau introgasi,” ucap Hwanbi tenang.

Kang Minhyuk kembali masuk untuk memberitahukan sesuatu. “Kim Hyeongsa, kami baru menghubungi Sung Hyesang.”

“Bagaimana?” tanya Woobin dengan suara rendahnya. Mata Yoojin sedikit berbinar menanti jawaban Minhyuk.

Polisi junior bertampang cute itu melirik Yoojin sekilas. “Sung Hyesang-ssi  berkata dia tidak menghubungi tersangka.”

Mworago?” Yoojin melonjak. “Dia benar-benar menghubungiku, Hwanbi-ya!”

Arasseo. Mereka bisa memeriksa daftar panggilan ponsel Eonni. Benar kan, Kim Hyeongsa?”

Woobin melirik Minhyuk yang masih berdiri di sampingnya.

“Nomor yang menghubungi tersangka dari telepon umum. Dan kami sudah memeriksa CCTV tempat itu,” jelas Minhyuk. “Seorang wanita memakai jaket tebal dan topi. Rambut tergerai menutupi wajahnya.”

“Mungkin itu memang Hyesang,” tukas Yoojin.

“Tenanglah, Eonniya,” ucap Hwanbi lalu menoleh pada Woobin. “Kim Hyeongsa, keadaan client-ku tidak terlalu baik. Bagaimana, apa aku bisa mengajukan penangguhan penyelidikan dan membawanya pulang?”

Woobin menatap Jun Yoojin. Apa yang dikatakan oleh pengacaranya memang benar. Wajah Yoojin terlihat sangat letih dan emosi. Tatapan matanya juga tidak bersemangat, jika dia tetap memasukkan Yoojin ke dalam penjara, Woobin tidak yakin wanita itu akan mengakui tuduhannya.

“Kim Hyeongsa tidak perlu takut dia akan melarikan diri, aku akan menjamin kalau client-ku tidak akan meninggalkan Seoul,” tambah Hwanbi saat melihat perubahan wajah Woobin. “Kalau perlu, aku akan meminta Kepala Polisi Seoul untuk mengizinkan penangguhan.” Hwanbi akan menggunakan jabatan ayahnya untuk hal ini.

“Baiklah, kita bicarakan dengan kepala polisi,” putus Woobin. “Tapi, kalau Jo Byeonsa mendapat izin, tersangka Jun Yoojin diwajibkan datang ke kantor polisi setiap hari untuk melapor, kita anggap saja dia sebagai tahanan kota.”

Hwanbi tersenyum penuh kemenangan. Dia tahu kalau detektif Kim akan menyetujui permintaannya. Dan Hwanbi bisa memanfaatkan moment ini untuk mencari bukti yang bisa membebaskan Yoojin dari semua tuduhan ini. Kim Woobin dan Kang Minhyuk keluar dari ruangan itu untuk menemui kepala polisi yang berdiri di dekat Lee Jongsuk.

“Chief Jo baru saja menghubungiku,” ucap Jung In-gi, kepala kepolisian distrik Mapo.

Ye?” tanya Woobin cukup terkejut.

“Kita akan memberinya status tahanan kota,” jawab kepala Jung. “Dan segera buat laporan. Besok kita serahkan kasus ini ke kejaksaan,” lanjut Jung In Gi lalu melangkah bersama Lee Yikyung dan Lee Jihoon meninggalkan Woobin.

Woobin menghampiri Jongsuk. “Kau tampak sangat bersemangat pada kasus ini, Lee Geom.”

Jongsuk tertawa kecil. Dia menepuk bahu Woobin. “Ne, berikan saja semua temuan kalian padaku.”

Kim Woobin kembali masuk ke ruang introgasi dan mengatakan pemberian status tahanan kota dan kasusnya akan resmi diserahkan ke kejaksaan mulai besok.

“Hwanbi-ya,” bisik Yoojin lemah.

Ne, Eonniya.”

Yoojin menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya, ia ragu untuk mengatakannya namun keinginannya untuk memastikan kalau Joo Sangwook sudah mati begitu mendesak. Yoojin sulit percaya kalau pria yang kemarin baru saja ditemuinya sudah menjadi mayat.

“Bisakah aku meminta ijin untuk melihat mayat Sangwook Oppa?” tanya Yoojin. Kim Woobin menaikkan sebelah alisnya. Begitu juga Lee Jongsuk yang tidak terlihat oleh Yoojin. Jaksa muda tampan itu memberi kode pada Soohyuk supaya mendekat.

Wae, Eonni?” tanya Hwanbi. Yoojin menelan ludah. Air matanya hampir meleleh tapi ia berusaha menahan diri.

“Aku hanya ingin memastikan bahwa yang mati adalah Sangwook Oppa,” tukasnya.

Kim Woobin tersenyum dingin.

“Kau boleh memastikan kalau korban adalah Joo Sangwook, keundae…”

Hwanbi menengadah menatap Kim Woobin yang sekarang berdiri untuk melanjutkan kata-katanya.

“Petugas kami yang akan menemanimu,” lanjutnya.

Andwae? Mengapa aku tidak boleh menemaninya? Aku pengacaranya! Kim Hyeongsa tidak boleh mengintimidasinya!” tukas pengacara muda itu. Yoojin menggenggam tangan Hwanbi dengan lembut sambil mengangguk yakin.

Dwaesso, Hwanbi-ya. Biarkan aku melihat mayatnya. Aku harus yakin kalau korban adalah Sangwook Oppa,” bisik Yoojin yakin. Hwanbi menatap ke dalam kedalaman mata Yoojin. Yoojin mengangguk.

Di ruangan sebelah Jongsuk memberi perintah kepada Soohyuk, “Temani dia.”

♫ Law of Natures 2.♫

Jun Yoojin pergi bersama Kim Woobin, Lee Jihoon, Lee Yikyung, dan Kang Minhyuk. Lee Soohyuk mengikuti dari belakang. Sementara itu, Jo Hwanbi menunggu surat keputusan resmi dari kepala Jung. Dia juga akan memberikan pernyataan pada beberapa wartawan yang menunggu di luar kantor.

Hwanbi menyeret Jongsuk, “Apa kau akan mengambil kasus ini?”

Wae?” tanya Jongsuk ketus.

Dahaengnida,” ungkap Hwanbi lega. “Yoojin Eonni bukan pembunuh. Aku harap kau gunakan kemampuanmu untuk mengungkap kasus ini. Menurutku korban bunuh diri.”

Jongsuk menyeringai lalu berdecak. “Kita lihat saja saat aku mengintrogasi tersangka.”

“Janji! Kau jangan membuat Yoojin Eonni stres seperti tadi,” pinta Hwanbi.

“Untuk apa aku mau membuat kesepakatan dengan pengacara tersangka?” candanya dengan tampang meledek.

Hwanbi melotot. “Kalau berani mempersulit Yoojin Eonni, aku pastikan bibirmu bertambah tebal setelah kutinju.”

Jongsuk tekekeh dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku. “Kau baru saja mengancam seorang jaksa Republik Korea, Jo Byeon.”

Aissh.” Hwanbi membuang muka lalu pergi.

♫ Law of Natures 2.♫

Yoojin melangkah pelan ke dalam ruangan dingin itu. Ia gentar, seumur hidup ia belum pernah masuk ke dalam kamar mayat. Saat usianya sepuluh tahun, ia kehilangan sang ibu karena kecelakaan lalu lintas, namun pada saat itu ia tidak harus masuk ke kamar mayat untuk memastikan kalau yang terbujur kaku itu adalah ibu kandungnya.

Yoojin menggigil karena dua hal, pertama karena suhu di  kamar mayat ini, kedua karena ketakutannya. Ia takut membayangkan wajah Joo Sangwook dalam bentuk mayat. Ia belum bisa membayangkan mayat dan belum siap ketika salah seorang petugas dalam kamar mayat itu membuka penutup yang menutupi wajah mayat. Yoojin mengangkat kepalanya, menelan ludah hanya untuk menambah keberaniannya menatap tubuh yang terbujur kaku itu. Tangannya terkepal, kedinginan. Ketika matanya menyapu wajah Sangwook, kakinya kontan lemas.  Yoojin syok, ia jatuh. Wajah Sangwook membiru dengan bibir menghitam membuatnya benar-benar terpukul.

Seseorang di belakangnya yang tidak ia sadari kehadirannya sebelumnya menahan tubuhnya tidak sampai terjatuh. Yoojin terbatuk, hampir muntah namun ia berusaha menahannya dengan menutup mulutnya.

Neo, gwaenchana?” bisik suara berat itu.

Lagi-lagi Yoojin berusaha untuk tidak sampai muntah.

Kajja, kuantar kau keluar,” bisik suara itu sambil merangkul Yoojin dan membimbingnya keluar dari kamar mayat.

♫ Law of Natures 2.♫

Nogosandong,  08.00 pm KST

Jun Kwangryul, ayah Jun Yoojin baru tiba di rumah keluarga Kepala Polisi Jo, namun Yoojin sudah tertidur di kamar milik Hwanbi. Atas usul Hwanmi, Yoojin diberi obat tidur karena mereka yakin Yoojin pasti merasa syok. Jun Kwangryul tidak bisa berbicara dengan putrinya, ia harus menunggu sampai besok pagi. Ayah si kembar mengajaknya ke ruang kerjanya dan mereka berdua berbicara di sana ditemani secangkir teh yang telah disiapkan oleh Yoon Yoseon ibu si kembar.

Jun Kwangryul, seorang politikus yang akan mencalonkan diri sebagai walikota Mokpo itu tampak lelah dan syok menerima berita kalau putri tunggalnya dituduh melakukan pembunuhan berencana.

IMG_20131118_1

“Kau pasti syok mendengar berita itu, Kwangryul-ah,” tukas Jo Sungha sambil menuangkan teh ke dalam cangkir milik Kwangryul. Kwangryul menghela nafas berat.

“Aku baru saja rapat dengan para rekan politikku ketika aku menerima berita itu. Aku bahkan tidak bisa menemaninya ketika ia berada di kantor polisi untuk ditanyai. Uri Yoojin berkata padaku sewaktu di telepon, Abeoji, tolong aku,” tukas Kwangryul tampak sangat menyesal. Jo Sungha mengerti  perasaan temannya ini, ia akan merasakan hal yang sama dengan Kwangryul jika putrinya dituduh sebagai pembunuh.

Uri Yoojin pasti sangat ketakutan,” tambahnya lagi. Sungha menghela nafas berat.

“Hwanbi langsung pergi begitu menerima telepon dari Yoojin kalau ia berada di kantor polisi,” jawab Jo Sungha berusaha membesarkan hati Kwangryul.

“Aku benar-benar bukan ayah yang baik, Sungha-ya,” tukas Jun Kwangryul lemah.

“Kwangryul-ah, jangan bicara begitu. Kami tahu kalau Yoojin sangat menghormatimu dan ia sangat menyayangimu.”

“Seandainya saja dulu ibunya tidak pergi secepat itu. Ini juga salahku karena tidak bisa menjaga Yoojin Eomma dengan baik. Kecelakaan itu terjadi karena aku,” tukas Kwangryul.

“Kwangryul-ah, bukan kau yang menyebabkan kecelakaan itu. Supir truk itu mabuk dan menabrak mobil Yoojin Eomma,” bantahJo Sungha keras.

“Tapi seandainya aku punya cukup waktu untuk menemaninya saat itu, aku tidak perlu kehilangan dua nyawa sekaligus, Yoojin Eomma dan calon bayi kami.”

Mata Jun Kwangryul menerawang jauh mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu. Kejadian yang sudah lama namun tetap menghantuinya. Kecelakaan yang merengut nyawa istrinya, saat itu Yoojin baru berusia sepuluh tahun.

Kwangryul menarik nafas lelah. Lalu ia mengangkat kepalanya dan menatap sahabat lamanya.

“Maukah kau berjanji padaku satu hal, Kepala Polisi Jo?” tanyanya dengan nada memohon.

“Katakan saja, jangan sungkan,” balas Jo Sungha.

Jun Kwangryul menarik nafas berat sebelum berkata.

“Sebenarnya aku ingin ia kembali ke Mokpo agar aku bisa tetap menjaga selama kasus ini dalam proses,” tukas Kwangryul.

“Kwangryul-ah, ini tidak bisa. Kasus ini ditangani oleh Kejaksaan Seoul,” ujar Sungha.

“Kenapa secepat itu?” tanya Kwangryul.

Jo Sungha menjelaskan kalau dia meminta kepolisan Mapo untuk segera diserahkan pada jaksa. Kasus ini mengundang reaksi publik mengingat Buenos Entertainment dikenal sebagai salah satu agensi besar di Korea yang menaungi beberapa penyanyi dan aktor aktris terkenal. Buenos punya senator Go Eunsoo yang sangat dekat dengan kalangan entertaiment. Go Eunsoo tak akan tinggal diam mengingat sebagian besar pemilihnya adalah selebriti dan penggemar mereka.

“Karena itu aku meminta kepadamu agar kau bisa menjaga putriku ketika aku tidak berada di sisinya. Ia mungkin membutuhkan dukungan orang tua seperti kalian sementara aku…”

“Kwangryul-ah, kau tahu kalau kami selalu menganggap Yoojin sebagai putri kami sendiri,” balas Kepala Polisi sambil tersenyum. Jun Kwangryul agak tenang meskipun hatinya masih gundah karena adanya kasus ini.

♫ Law of Natures 2.♫

Senin, 21 Oktober 2013, 07.00 am KST

Ketika Yoojin terbangun keesokan paginya, ia menyadari kalau kamar yang ditempatinya adalah kamar milik Hwanbi. Hwanbi duduk di meja rias sambil menunggui Yoojin.

“Hwanbi-ya,” panggil Yoojin lirih.

Eonni sudah bangun, dahaengida,” tukasnya. Lalu Hwanbi bangkit dari duduknya dan duduk di sisi tempat tidur.

Eonni, gwaenchana? Samchon kemarin datang dan Eonni sudah tidur,” tukas Hwanbi sambil menggenggam tangan Yoojin yang dingin. Mata Yoojin yang masih tampak mengantuk bersinar begitu mendengar ayahnya datang.

Abeoji?”

Ia berusaha bangkit.

Samchon sedang bersama Appa. Sebaiknya Eonni mandi dulu sebelum bertemu Samchon,” saran Hwanbi. Yoojin mengangguk.

Eonni bisa pakai bajuku. Ukuran kita tidak jauh beda,” tukas Hwanbi. Lagi-lagi Yoojin mengangguk.

“Hwanbi-ya, aku ingin pergi ke pemakaman Sangwook Oppa nanti,” tukas Yoojin ragu-ragu. Hwanbi mengangguk.

“Hwanmi Eonni dan aku akan mengantarmu,” janji Hwanbi. Yoojin mencoba tersenyum tapi tidak bisa. Lalu ia segera bangkit dan menuju kamar mandi.

Ia mandi dengan cepat, memakai baju kemeja bermotif garis-garis kecil  dipadu dengan celana skinny jeans milik Hwanbi. Ia langsung menemui Jun Kwangryul yang menurut Hwanbi saat itu sedang ada di taman bersama dengan Kepala Polisi Jo sedang menikmati sarapan.

Saat ditemui di taman belakang tempat Kepala Polisi Jo sering berlatih dengan kendo, Kwangryul sedang berdiskusi dengan Kepala Polisi Jo. Melihat sosok  Abeoji yang sangat disayanginya, Yoojin tidak mampu memanggilnya. Sebagai putri dari seorang politisi yang kemudian dituduh melakukan pembunuhan, ia merasa sangat malu.

Kepala polisi Jo menyadari kehadiran dari putri sahabatnya, memberi kode pada Jun Kwangryul  sehingga pria itu menoleh. Kwangryul tersenyum pada putrinya.

“Yoojin, apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah!” panggil Kwangryul. Yoojin memberanikan diri untuk maju mendekati Kwangryul sambil menggigit bibirnya.

Kepala Polisi Jo juga tersenyum padanya, kelihatannya mereka berdua sengaja ingin memberikan kenyamanan pada Yoojin setelah kasus kemarin malam.

“Sudah sarapan Yoojin-ah?” tanya Kepala Polisi Jo. Yoojin menggeleng. Kepala Polisi Jo bangkit dari duduknya.

“Aku akan meminta Hwanmi mengantarkan sarapan untukmu,” tukasnya sambil meninggalkan Yoojin agar ia dan ayahnya bebas berbicara. Yoojin hanya menggumankan kata terima kasih dengan suara yang tidak jelas.

Abeoji, joseonghamnida.”

Mianhae, Yoojin-ah.”

“Mengapa Abeoji meminta maaf padaku?” tanya Yoojin sedih. Kwangryul menepuk-nepuk tangan putri tunggalnya.

“Ini semua karena aku bukan Abeoji yang baik,” tukasnya. Yoojin menatap ayahnya dengan perasaan pilu.

Abeoji…”

“Aku tidak membunuhnya Abeoji. Mian karena membuat Abeoji dalam posisi yang sulit,” tukas Yoojin lirih. Ia sangat menyesal mengapa dirinya harus terlibat dalam masalah ini. Tanpa dijelaskan Kwangryul, ia percaya ayahnya pasti akan ditekan dari pihak lawan politiknya.Namun di luar dugaan Yoojin, sang ayah malah tersenyum tenang.

“Bukan masalah, Yoojin-ah. Abeoji yakin kita akan bisa melewati semua ini,” tukas Kwangryul tenang.

“Aku tidak bersalah, Abeoji,” tukas Yoojin. Selama interogasi Yoojin sudah mengatakan  hal ini, namun karena merasa takut berada di ruangan itu, dan juga dalam tekanan sang detektif, kata-katanya kemarin malam terasa tidak meyakinkan.

Mullon imnida. Abeoji tahu, Yoojin-ah,” tukas Kwangryul tegas. Yoojin langsung bangkit dan memeluk  Kwangryul. Air mata Yoojin merebak dan ia terisak dalam pelukan Kwangryul.

Mian, Yoojin-ah karena Abeoji tidak bisa melindungimu. Mian, karena Abeoji kau harus kehilangan Eomma dan juga adikmu. Abeoji bukan ayah yang baik,” tukas Kwangryul berulang kali meminta maaf. Yoojin menggeleng kuat-kuat.

Abeoji, aku tidak pernah menyesal menjadi putrimu. Meskipun aku bisa kembali pada saat di mana saat aku belum lahir, aku akan tetap memilih Abeoji sebagai ayahku.”

Yoojin terisak.

Beberapa meter dari tempat itu, Hwanbi juga terisak. Hwanmi yang diminta Kepala Polisi Jo mengantarkan sarapan untuk Yoojin memalingkan wajahnya agar sang adik tidak melihat air matanya.

“Aku yakin kalau Eonni tidak akan pernah sanggup membunuh,” tukas Hwanbi dalam isakannya. Hwanmi mengusap hidungnya yang berair.

“Adalah tugasmu untuk meyakinkan Lee Geomsa agar tidak menuntut Yoojin Eonni,” tukas gadis itu.

“Hm, bagaimana kalau Eonni membantuku meyakinkannya?”

Hwanmi menjitak kepala adiknya.

Eonni, appo!”

♫ Law of Natures 2.♫

 09.35am KST

Soohyuk terkejut bukan main saat melihat sosok Jo Hwanbi, sahabatnya saat kuliah dulu, menjadi dua orang. Soohyuk memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya. Dia ingat betul, semalam dia tidak mabuk, jadi tidak mungkin kalau dia berhalusinasi.

“Soohyuk-ah, apa yang kau lakukan di sini?”

Sebuah pertanyaan diikuti tepukan di lengannya, membuat Soohyuk membuka matanya. Saat ini, dua orang gadis berwajah serupa sudah berdiri di hadapannya.

“Hwanbi-ya?” Soohyuk menunjuk bergantian pada kedua gadis berwajah seperti Hwanbi.

Menangkap kebingungan yang terpeta jelas di wajah Soohyuk, Hwanbi terkekeh. “Kau pasti terkejut, kan?” tanya Hwanbi dan Soohyuk mengangguk.

“Dia ini saudara kembarku, Jo Hwanmi,” ucap Hwanbi sambil menunjuk gadis yang mengenakan black mini dress dengan rambut diikat ponytail yang ada di belakangnya.

“Kenapa aku tidak pernah tahu kalau kau kembar?” tanya Soohyuk dengan wajah protes.

“Karena selama ini, Hwanmi tinggal di Aomori. Dia baru kembali ke Seoul, dua minggu yang lalu,” jawab Hwanbi santai. “Eonni, dia ini temanku saat kuliah dulu, sama seperti Lee Jongsuk, namanya Lee Soohyuk,” Hwanbi mengenalkan Hwanmi pada Soohyuk.

Annyeonghaseyo,” Hwanmi menganggukkan kepalanya pada Soohyuk.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Hwanbi kembali mengulangi pertanyaannya yang belum sempat Soohyuk jawab.

“Ah, tugas,” jawab Soohyuk ringan.

“Tugas?” Hwanbi menatap Soohyuk dengan penasaran.

“Karenamu meminta penundaan penahanan untuk tersangka, maka Lee Geomsa memerintahkanku untuk mengawasinya,” Soohyuk mengacak poni Hwanbi.

Ish! Dasar Donald menyebalkan!” gerutu Hwanbi sambil menghentakkan kakinya yang dilapisi heels sepuluh senti dengan kesal. Sedangkan Hwanmi saudara kembarnya hanya terkekeh pelan.

♫ Law of Natures 2.♫

 

09.45 am KST.

Sewaktu Yoojin bersiap untuk pergi ke pemakaman Joo Sangwook, di ruang tamu rumah keluarga Jo, ia mengalami sakit kepala mendadak karena melihat kehadiran seorang pria asing. Yoojin menduga kalau pria ini pastilah orang dari kepolisian dilihat dari gayanya.

Penyidik Lee mengangguk pada Yoojin begitu menyadari kehadiran yeoja itu. Yoojin menaikkan alisnya menatap pria itu.

Mianhamnida Jun Yoojin-ssi, aku ada di sini karena perintah atasan untuk mengawal Anda,” jawab penyidik Lee dengan suara beratnya. Yoojin menghembuskan nafasnya dengan berat. Hwanbi menepuk bahunya.

“Anggap saja ia tidak ada,” bisiknya.

“Hanya formalitas. Kami berdua bersamamu,” tambah Hwanmi. Yoojin menghembuskan nafasnya lagi dengan berat. Walaupun kesal karena harus dikawal, ia tetap harus menerimanya karena ia memang tahanan kota.

Dengan berat hati akhirnya Yoojin bisa menerima kalau penyidik Lee yang akan mengantar mereka. Berempat mereka menaiki mobil sport keluaran Kia milik Penyidik Lee, si kembar duduk di belakang dan mau tak mau Yoojin yang harus duduk bersama si muka kaku itu.

“Kalau tidak keberatan, aku ingin mendengar musik dari ponselku. Beritahu aku kalau sudah tiba,” tukas Yoojin sambil memasang earphone di telinganya tanpa menunggu jawaban dari siapa pun. Ia terlalu lelah untuk berbicara jadi ia tidak berharap ada seorang pun yang mengajaknya berbicara selama perjalanan.

Yoojin memejamkan matanya. Ia berusaha mengingat segala sesuatu tentang malam itu, malam terakhir Sangwook hidup. Ia sudah mengulangi memori itu ratusan kali. Sangwook meneleponnya. Saat itu ia bersama dengan Jung Daeryong sepupu Hwanbi dan Hwanmi. Memori itu terus berulang. Awalnya Yoojin menolak menemui Sangwook. Hubungan mereka telah berakhir dan Sangwook sudah memiliki tunangan yang adalah seorang artis. Tapi Sangwook memaksanya dan mengatakan kalau ia ingin membicarakan masalah skrip drama dengan Yoojin. Yoojin akhirnya meninggalkan si kembar dan pergi ke apartemen milik Sangwook, apartemen yang dibeli Sangwook ketika mereka berdua masih pacaran.

Sesampai di apartemen yang tidak ditinggali oleh Sangwook itu, Yoojin sadar kalau Sangwook tampak kacau. Pria itu mengatakan akan pergi jauh. Yoojin baru saja membuka botol wine ketika Yoojin menerima telepon dari Sung Hyesang, sahabatnya dan Hyesang memintanya untuk datang ke apartemennya. Hyesang mengatakan ini penting dan ia benar-benar memohon agar Yoojin datang. Yoojin yang merupakan teman yang baik tidak tega dan menyanggupi namun ia juga sebenarnya tidak tega meninggalkan Sangwook yang dilihat dari wajahnya cukup lelah. Tapi ia pikir, Sangwook bukan lagi urusannya, ia menuangkan wine untuk Sangwook kemudian pamit.

Jam 11 pagi Yoojin dijemput ke kantor polisi untuk ditanyai. Yoojin bahkan belum sadar kalau Joo Sangwook sudah menjadi mayat.  Di kantor polisi, ia ditanyai oleh detektif  yang gemar menakut-nakutinya. Yoojin belum pernah dibentak seumur hidupnya namun dia hari itu ia benar-benar harus menerima bentakan.

Dan yang paling membuatnya sedih adalah ketika ia minta ke kamar mayat untuk memastikan kalau mayat itu adalah Joo Sangwook, orang yang pernah dekat dengannya. Detektif itu mengijinkannya. Ia masuk ke ruangan dingin itu, para petugas membuka kain penutup wajah mayat dan nafas Yoojin sesak. Joo Sangwook benar-benar sudah terbujur kaku.  Yoojin jatuh dan hampir muntah. Seseorang di belakangnya menahan tubuhnya agar tidak sampai terjatuh ke lantai. Dan ia tidak ingat lagi siapa itu.

Ireona, kita sudah sampai,” bisik suara berat di telinganya.

Yoojin mengerjapkan matanya yang menghangat. Ia menangis. Ia masih menangis dalam mimpi.

Tangan kekar itu menyodorkan tisu ke arahnya. Yoojin menerimanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menghapus air matanya, menelan ludah dan mencoba untuk tabah.

Gwaenchana?” tanya pria itu lagi. Yoojin tidak juga menjawab namun ia hanya mengangguk. Hwanbi dan Hwanbi sudah turun dari mobil. Penyidik Lee membantu membuka sabuk pengaman Yoojin.

“Turunlah,” perintahnya berupa gumaman. Yoojin mengangguk lalu membuka pintu mobil dan turun menyusul si kembar. Penyidik Lee berjalan di belakangnya.

Rumah duka itu tampak banyak pelayat. Banyak pekerja dalam industri film karena Joo Sangwook adalah seorang CEO Buenos Entertainment. Semua artis dan staf agensi besar itu ada di sana.  Penyidik Lee masih menjaga jarak ketika Yoojin berada di depan peti mati dan menatap foto Joo Sangwook. Yoojin tidak menangis lagi, air matanya sudah kering karena keluar terus sewaktu ia tidur.

Selamat jalan Sangwook Oppa.

“Buat apa kau datang?” teriak seorang perempuan histeris.

Si kembar berdiri menghalangi jalan Inmin kuatir kalau tunangan Sangwook itu akan menerkam Yoojin. Gadis itu tetap kelihatan anggun dan cantik seperti terakhir Yoojin bertemu dengannya pada pesta pertunangannya dengan Sangwook. Hanya saja sekarang wajahnya kelihatan sedih, matanya membengkak.Yeoja itu bernama Choi Inmin, aktris sekaligus keponakan presdir Buenos Ent. Dia juga dikenal dengan nama Evita Choi.

“Dia datang untuk memberi penghormatan terakhir,” jawab Hwanbi lugas.

“Untuk memastikan kalau korbannya mati. Sekarang kau bahagia? Aku tidak bisa mendapatkan dia? Kau juga kan?” raung Evita Choi alias Inmin.

Hya! Dia bukan pembunuh!” balas Hwanbi.

Inmin tertawa histeris.“Kha! Kha! Sangwook Oppa tidak akan tenang melihatmu di sini!” usir Inmin.  Yoojin mematung, tidak bisa membela diri, tidak juga bergerak, ia hanya memandang foto Sangwook dengan tatapan kosong.

Tangan Penyidik Lee menarik lengannya dengan posesif.

“Kita pergi saja, kajja,” bisiknya. Hwanmi tampak setuju diikuti oleh kembarannya. Lee Soohyuk segera membimbing Yoojin keluar dari tempat itu.

Yoojin masih diam ketika Lee Soohyuk membantunya duduk di mobil dan memasang sabuk pengaman. Ia hanya terisak tertahan ketika mobil melaju. Hwanmi menepuk bahunya untuk memberinya kekuatan.

♫ Law of Natures 2.♫

Seoul Western Public Prosecutor Office,

Gongdeok-dong, Mapo-gu, 01.39 pm KST

IMG-20131118-WA0020

Lee Jongsuk masuk ke ruangan introgasi yang gelap itu. Jun Yoojin sudah duduk bersama Jo Hwanbi. Jongsuk duduk berhadapan dengan Yoojin dan menyalakan laptopnya yang diset dalam keadaan stand by. Lee Soohyuk duduk di dekat Jongsuk. Han Junhee masuk membawa sebuah nampan berisi empat cangkir minuman. Dia menaruh cangkir itu di meja. Jo Hwanbi melirik sinis pada juru tulis yang memakai sweater Hello Kitty warna pink dan kacamata itu.

“Kita mulai introgasinya. Anda punya hak tidak menjawab tapi sebaiknya menjelaskan sedetail mungkin untuk mempermudah penyelidikan,” ucap Jongsuk diakhiri segaris senyum tipis.

Senyuman ramah itu sedikit membuat Yoojin nyaman tapi tidak bagi Hwanbi dan Soohyuk yang cukup mengenal Jongsuk. Jaksa muda itu memang selalu ramah pada tersangka walau pada preman berwajah menyeramkan.

“Hubungan dengan korban?” tanya lelaki yang memakai kemeja putih, dasi nuansa kuning dan celana beige tua. Bagian lengan kemejanya tampak digulung.

“Mantan pacar,” jawab Yoojin tenang. Junhee baru saja keluar dan menutup pintu saat itu.

“Kapan mulai berhubungan, kapan berakhir dan alasannya?” lanjut Jongsuk lagi-lagi denan senyum tipis dan tatapan menenangkannya.

Yoojin menghela napas. “Kami putus tahun lalu setelah menajalani hubungan selama setahun karena sudah merasa tidak cocok.”

“Ada alasan lain?” tanya Jongsuk.

Tatapan Yoojin menyiratkan keraguan. Hwanbi mengangguk kecil, menandakan dia meminta Yoojin menjawab jujur.

“Dia mengakhiri hubungan karena dijodohkan dengan Evita Choi,” ucapnya.

Soohyuk tersenyum aneh, dilihatnya Jongsuk mengetik dengan cepat.

“Alasan Anda datang ke apartemen korban?”

“Sangwook oppa berkata mau pergi jauh. Nada bicaranya terdengar frustasi dan aku mencemaskannya. Aku datang ke sana dan dia menyiapkan wine,” jelas Yoojin.

Jongsuk menggigit bagian atas bibir bawahnya. “Bukan Anda yang membawa wine itu?”

“Bukan,” jawab Yoojin tegas.

Jongsuk menaikan sebelah alis. “Dalam rekaman CCTV, Anda membawa tas besar. Anda tidak membawa wine kan?”

Hwanbi menyela, “Aku juga melihat rekaman CCTV, korban membawa ransel. Selain berisi laptop yang ditemukan di TKP, dia juga mungkin membawa wine.”

Jongsuk menggigit lagi bagian atas bibir bawahnya, gerakan refleks ketika dia berpikir keras. Jongsuk menatap Yoojin seksama, “Apa yang dikatakan korban waktu menghubungi Anda dan tolong ceritakan apa yang kalian lakukan dan bicarakan di sana,” jelas Jongsuk pelan dengan nada santai. “Atau Anda bisa mulai sebelum datang ke apartemen korban.”

Yoojin pun menjelaskan. Malam itu dia bertemu Jung Soryong di Seonyudo. Soryong mengajak makan malam. Tapi kemudian Daeryong datang. Soryong memberikan dua tiket cruising dan dinner di kapal pesiar. Yoojin menerima panggilan dari Sangwook saat berjalan di atas jembatan Seonyu. Dia langsung pergi meninggalkan Daeryong. Yoojin terus bercerita tanpa ragu sampai alasan dia meninggalkan apartemen.

“Aku mendapat panggilan telepon dari Sung Hyesang dan segera pergi menemuinya di Insa-dong. Tapi dia tak ada di sana dan aku pergi ke apartemennya di Apgeujong.”

Jongsuk menatap Hwanbi, “Jo Byeon, di mana kembar Jung sekarang?”

“Ah itu. Mereka dalam perjalanan ke Amerika. Daeryong ada race tanggal 27 di sirkuit Sebring Florida,” jawab Hwanbi. “Dan Soryong ikut bersamanya karena dia sedang free.Mereka terbang jam 10 tadi.”

“Nanti hubungi mereka, aku perlu menanyakan beberapa hal pada mereka,” ucap Jongsuk.

Ne, Lee Geom,” ucap Hwanbi senang. Dia yakin dua sepupunya pasti akan membantu Yoojin. “Ah, bagaimana dengan Sung Hyesang. Dia menyangkal menghubungi Yoojin eonni.”

“Aku sudah menemuinya,” jawab Jongsuk pendek. “Kita bicarakan Sung Hyesang nanti.” Jongsuk kembali menatap Yoojin. “Apa Anda tidak memiliki dendam terhadap korban? Atau perasaan sakit hati?”

“Tentu saja tidak,” tegas Yoojin.

Keundae, tadi Anda bilang hubungan berakhir karena pihak lain.”

Hwanbi menatap Jongsuk tajam, “Apa si Donald sengaja memutar?” Hwanbi berkata, “Tentu saja semua orang akan patah hati saat kekasihnya bertunangan dengan orang lain.”

Jongsuk tersenyum tipis. “Hasil laporan penyelidikan polisi mencatat dugaan bahwa Jun Yoojin-ssi membunuh korban karena dendam sakit hati.”

Aniyo, sudah kukatakan, aku tidak membunuhnya,” tegas Yoojin. “Aku memang sakit hati tapi itu sudah lama.”

Client-ku berpacaran dengan sepupuku setelah putus dengan korban. Bahkan dia berpacaran lagi dengan lelaki lain setelah putus dengan sepupuku. Jadi dia tidak menyimpan sakit hati dalam waktu lama, Lee Geom,” tambah Hwanbi.

“Bisa saja semua orang berpacaran padahal belum melupakan mantan kekasihnya,” ucap Jongsuk dengan nada santai.

“Sebaiknya lanjutkan rencana pertanyaan Anda, Geomsanim,” ucap Soohyuk dengan senyum tenang tapi membuat Jongsuk mendelik.

Jongsuk menyilang kedua tangan dan menatap Yoojin. “Anda berkata mengeluarkan wine itu dari paperbag. Apa ada tulisan di paperbag itu?”

Ne,” jawab Yoojin berapi-api. “Paperbag warna hitam dari Tango wine house.”

Jongsuk memicingkan mata. “Tapi. Polisi tak menemukan paperbag itu,” ucap Jongsuk.

“Mungkin CEO Joo membuangnya, aku tak tahu. Tapi aku yakin melihatnya,” ungkap Yoojin.

“Apa tak ada orang lain yang masuk ke apartemen itu?” tanya Hwanbi pada Jongsuk dan Soohyuk.

“Sayangnya tidak ada,” jawab Soohyuk dengan suara beratnya.

“Sudah memeriksa tong sampah atau tempat lain?” tanya Hwanbi lagi.

Jongsuk melirik Soohyuk. Lelaki yang punya mata lebih lebar dari Jongsuk itu menatap Yoojin. “Seharusnya Yoojin-ssi mengatakannya kemarin, tentang paperbag itu.”

Yoojin mendelik. “Aku tidak ingat, Penyidik Lee. Aku terlalu gugup dan terkejut.”

See? Paperbag itu hilang, menurutmu kenapa Lee Geomsa?” tanya Hwanbi.

“Keberadaan paperbag belum tentu benar,” ucap Jongsuk santai.

“Aku benar-benar mengeluarkan wine  merk Chteau Lafite Rothschild Pauillac 1996 kesukaan Oppa dan menuangkannya ke dalam dua gelas yang ada di meja. Aku belum meminumnya karena Oppa mendekatiku dan mencengkram tanganku,” jelas Yoojin berapi-api.

Introgasi yang dilakukan Jongsuk berjalan cukup lama.Jongsuk pun menjelaskan kalau Sung Hyesang mengubah pernyataannya kepada polisi kemarin. Dia mengaku menghubungi Yoojin tapi tidak mengatakannya pada polisi karena terkejut. Selain itu, Hyesang tidak bisa menceritakan kenapa dia menghubungi Yoojin. Tapi penyanyi muda itu sudah menjelaskannya pada Jongsuk asal kerahasiannya dijamin. Malam itu ponselnya hilang dan dia menemukan memo di dalam tasnya. Si pencuri ponsel mengancam akan menyebarkan foto Hyesang dengan seorang aktor satu agensinya. Sebelum Yoojin datang, si aktor sudah membereskan di pencuri. Yoojin sudah tahu hal itu. Dalam perjalanan  ke kantor jaksa, dia dihubungi Hyesang yang meminta maaf atas pernyataan bohong kemarin.

Setelah hampir 90 menit, Yoojin dan Hwanbi meninggalkan kantor Jongsuk. Jaksa muda itu keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri Soohyuk.

“Bersiap ikut aku ke TKP, Soohyuk-ah,” ucap Jongsuk.

Sepeninggalan Jongsuk dan Soohyuk, Han Junhee mengirim pesan singkat pada seseorang. Tak lama kemudian dia menerima panggilan telepon.

Ne, Sajangnim. Lee Geomsa akan pergi ke apartemen Joo Isa.”

“….”

“Selanjutnya ke toko wine milik kakak Anda.” Junhee terbelalak mendengar apa yang dikatakan lawan bicaranya, “Tiket VIP fan signing C-clown? Jeongmal kamsahamnida!” Han Junhee meloncat-loncat kegirangan.

♫ Law of Natures 2.♫

Itaewon, Yeongsan-gu, 08.22 pm KST

Jun Yoojin melirik spion ke sekian kalinya. Dia merasa diikuti seseorang. Tadi siang dia meminta Hwanmi mengantarkan mobilnya ke kantor kejaksaan supaya ia bisa menggunakan mobilnya untuk menemui sutradara untuk membicarakan skrip drama yang akan ditulisnya setelah interogasi. Namun sang sutradara mengatakan kalau pihak mereka akan menunda pelaksaan syuting drama itu. Yoojin terpaksa harus menelan pil pahit.

Begitulah hidup, setelah ia menjadi tersangka kasus pembunuhan maka pekerjaannya hilang. Ia jobless.

Kembali Yoojin melirik spion sambil menarik nafas. Ia yakin kalau mobil hitam di belakangnya memang mengikutinya.

Apakah pembunuh itu yang mengikutiku?  pikir Yoojin kalut.

Haruskah ia berhadapan langsung dengan sang pembunuh? Ia sangat ingin tahu mengapa Joo Sangwook diracun sampai mati. Paling tidak kalau sang pembunuh membunuhnya di tempat ini maka ia bisa tahu wajah sang pembunuh.

Yoojin menggertakkan giginya geram. Hanya orang pengecut yang meracun orang sampai mati.

Sial!

Yoojin memutar stir memotong jalan si pengendara di belakangnya lalu menginjak rem mobilnya dalam-dalam. Mobil itu berhenti tiba-tiba di jalanan yang lumayan sepi dengan posisi menghadang mobil penguntit berwarna hitam.  Yoojin langsung ke luar dari mobil dan mendekati si pengemudi dengan perasaan was-was. Gentar iya tapi juga ia ingin menonjok si penguntit.

Pabo! Harusnya tadi aku bawa senjata! Kenapa malah tas yang kubawa?

Tapi Yoojin tidak bisa mundur lagi. Ia kuatir kalau ia berbalik, si penguntit bisa menariknya dari belakang dan langsung membunuhnya.

“KELUAR!!!” hardik Yoojin. Suaranya keras dan dingin. Ia sendiri tak menyangka kalau suaranya bisa seperti itu.

Pintu mobil terbuka, Yoojin menelan ludah.

Kaki panjang terbungkus celana jeans warna hitam itu turun dari mobil.

Namja?

Yoojin masih bengong menatap kaki panjang itu ketika sosok yang mengikutinya itu berdiri di depannya. Yoojin hanya sampai sedadanya. Dengan sekuat tenaga Yoojin memukul kepala si penguntit sebelum Yoojin melihat wajahnya. Si penguntit berteriak namun seiring itu, seluruh isi tas Yoojin berhamburan keluar.

Sial!

Namun dengan tas kosong itu Yoojin tetap menghantam sosok itu.

“Stop!!!”

Yoojin tetap memukul dengan membabi buta. Sosok yang berbentuk namja itu menangkap tangan Yoojin sehingga membuat Yoojin menghentikan pukulannya tapi Yoojin meronta.

Hya!!! Kau memukul abdi masyarakat! Ini aku penyidik Lee Soohyuk!”

Yoojin terkejut dan berhenti meronta.

Yoojin menganga. Pria ini ternyata penyidik yang pernah mengantarkannya ke pemakaman Joo Sangwook.

Habislah aku! Aku dituduh membunuh lalu sekarang menyerang seorang penyidik.

“Mengapa kau mengikutiku? Kukira aku sedang diincar pembunuh,” teriak Yoojin kesal sambil berjongkok memunguti barang-barangnya yang tercecer di aspal. Tasnya ia letakkan begitu saja di aspal.

Di luar dugaan penyidik Lee ikut berjongkok dan membantu memunguti barang-barang Yoojin. Kunci laci, dompet, ponsel, stocking, usb, nano spray, tisu, sisir dan masih banyak lagi.

Kamsahamnida…” tukas Yoojin ketika penyidik Lee menyerahkan barang terakhir yang ia pungut berupa permen mint. Pria itu hanya mengangguk kaku dan membantu Yoojin berdiri.

Keunde,”

Yoojin menengadah menatap namja bertubuh tinggi itu. Ia benar-benar sangat tinggi. Dan Yoojin jadi merasa kerdil di hadapannya. Pria itu memiliki alis yang lebat dan hampir bersambung memayungi matanya yang membentuk ujung mata pisau, hidungnya mancung dan terlalu panjang untuk ukuran wajahnya, bibirnya tipis dan melengkung sempurna.

“Mengapa kau mengikuti aku, Penyidik Lee?” tanya Yoojin kesal sambil memegangi dadanya yang baru terasa sakit karena ketakutan.

“Tugas,” jawabnya pendek.

“Tapi kau menakuti aku!” geram Yoojin.

“Anda tak bisa menyalahkan aku, eoh? Anda dicurigai membunuh seseorang,” jawabnya lagi. Yoojin menarik nafas panjang sambil menghitung untung rugi ribut dengan namja berkulit putih ini. Sampai akhirnya pada helaan kelima ia memutuskan bahwa tidak ada gunanya ia ribut dengan orang ini. Lalu ia berbalik arah menuju ke mobilnya yang melintang di depan mobil Kia Sportage hitam milik pria ini. Yoojin baru sadar kalau mobil mereka sejenis dengan warna yang sama pula.

Yoojin mengulurkan tangan membuka pintu mobilnya.

Clek!

Wajah Yoojin memucat. Beberapa kali ia mencoba membuka pintu mobilnya tetapi pintunya terkunci dan sialnya ia meninggalkan kuncinya di dalam. Dengan putus asa Yoojin melihat ke arah dalam, tempat kuncinya tertinggal.

Eotthoke?

Yoojin mengacak-acak rambutnya. Ia melihat ke arah kanan kiri melihat apakah ada taksi melintas di tempat ini dan mengukur berapa jauh apartemennya dari sini.

Sialnya tidak ada taksi atau kendaraan lain di tempat ini selain mobilnya dan mobil si penyidik.

Waeyo?” tanya penyidik yang sekarang berdiri di belakangnya.

Yoojin menarik nafas.

“Aku meninggalkan kunci mobilku di dalam. Bisakah Anda mengantarkanku pulang?” tanya Yoojin lemah. Ia merasa kecil kemungkinan penyidik ini mau mengantarnya mengingat ia telah memukul pria ini tadi.  Tapi ini semua juga karena kesalahannya sehingga ia bisa seteledor ini dan paling tidak pria itu harus bertanggung jawab.

Kajja, kuantar kau pulang,” tukasnya dengan suaranya yang berat.

♫ Law of Natures 2.♫

09.32 pm KST

Soohyuk belum meninggalkan apartemen Yoojin meskipun yeoja itu sudah terlelap di tempat tidurnya. Ia bahkan lupa kalau Soohyuk masih di sana saking lelahnya. Mungkin karena tekanan dari pihak tunangan korban Joo Sangwook sewaktu di rumah duka dan karena beban mental di ruang interogasi, Yoojin langsung tumbang begitu melihat tempat tidur nyaman.

Soohyuk memperhatikan Yoojin yang terlelap dengan posisi menyamping. Diulurkan tangannya menyapukan anak rambut yang menutupi wajah yeoja itu. Ia sama sekali tidak menunjukkan dirinya lemah sewaktu di ruang interogasi bersama Jongsuk padahal pertanyaan-pertanyaan dari Jongsuk cukup berbelit dan menguras emosinya. Beberapa kali ia bahkan berteriak pada Jaksa itu.

Soohyuk tersenyum dan bergumam,”Selamat malam.”

Soohyuk melangkah meninggalkan tempat tidur Yoojin, apartemen milik Yoojin itu hanya memiliki satu ruangan tanpa pembatas dinding. Satu-satunya ruangan tertutup hanyalah toilet.

Soohyuk mengedarkan seluruh pandangannya ke semua sudut apartemen milik Yoojin. Berantakan. Sofa di apartemen ini bukan tampak seperti sofa lagi tapi adalah tumpukan baju bekas. Soohyuk bahkan tidak tahu harus duduk di mana. Dress, kaus kaki, jaket, celana jeans, sepatu boots bahkan bra aneka warna. Soohyuk menutup wajahnya.

Soohyuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari mesin cuci. Mesin cuci ada di depan toilet.

Kondisi apartemen yang tak berbeda jauh dengan isi tas, pikir Soohyuk.

Saatnya bersih-bersih!

Soohyuk mulai memilah-milah pakaian yang berserakan di sofa untuk dimasukkan ke mesin cuci dan sambil terus berpikir mengapa ada yeoja semalas ini. Piring-piring kotor ada di bak cuci piring, tidak ada cangkir atau gelas yang bisa dipakai bahkan di dalam kulkas besar tidak ada makanan yang bisa dimakan. Bagaimana Jun Yoojin bisa hidup seperti itu? Satu-satunya tempat yang bersih adalah meja kerjanya karena ia harus bekerja mengetik skrip di sana. Soohyuk melihat sebuah pigura foto di atas meja kerja itu. Foto Yoojin bersama seorang pria. Soohyuk sudah menyelidiki latar belakang Jun Yoojin dan ia tahu kalau yang bersamanya adalah appanya, Jun Kwangryul yang juga dalah seorang calon walikota.  Jun Kwangryul sedang tersenyum dan meskipun pria itu sudah berusia sekitar lima puluh tahun, ia tetap kelihatan tampan dan gagah. Senyumnya berwibawa dan menunjukkan betapa ia bangga dan sayang pada putrinya semata wayang, putri yang sudah kehilangan sosok ibu sejak usia delapan tahun.  Sementara Yoojin yang di dalam foto itu berdiri dan memegang bahu appanya rambutnya  panjang, mengenakan dress berwarna hijau dan anting berbentuk daun, wajahnya seperti appanya tersenyum bahagia seolah ia tidak pernah kekurangan kasih sayang seorang ibu.

Foto itu tertanggal 19 Oktober 2012, setahun yang lalu.

Soohyuk mengulurkan tangannya menyentuh wajah Yoojin di dalam foto itu.

Tersenyumlah Jun Yoojin ssi.

Namun seolah ada yang mengingatkannya kalau ia tidak boleh terpengaruh dengan keadaan terdakwa, ia cepat-cepat menggeleng.

Ketika ia selesai membereskan rumah perempuan pemalas itu, perutnya terasa lapar, namun karena ia tahu tidak ada yang bisa dimakan, ia berniat mencari makanan. Tapi tetap ia tidak tega meninggalkan Yoojin sendirian meskipun ia sedang dalam pengaruh obat tidur, akhirnya ia memesan pizza ukuran besar dan makan sendiri sambil mengingat agar besok ia membeli beberapa bahan makanan untuk mengisi kulkas Yoojin.

Dasar perempuan sembrono!

Pikiran Soohyuk mundur ke beberapa tahun silam. Pada seorang yeoja yang sama sembrononya dengan Yoojin. Seorang yeoja  yang paling disayanginya.

Soohyuk menggeleng. Berusaha mencegah pikirannya kembali pada peristiwa itu lagi. Pristiwa yang membuatnya remuk.

♫ Law of Natures 2.♫

Selasa, 22 Oktober 2013, 07.10 am KST.

Yoojin terbangun ketika hidungnya mencium wangi pasta yang menggoda. Perutnya berteriak minta diisi sementara matanya enggan terbuka.

Ireona, aku tahu kau pasti lapar,” bisik suara berat itu. Harum nafas mint begitu dekat dengan indera penciumannya.

Perlahan-lahan Yoojin memaksa membuka kelopak matanya. Ia bermimpi melihat Joo Sangwook dalam tidurnya dan berharap itu benar-benar nyata. Namun ketika sosok di depannya makin jelas, sosok itu sama sekali bukan Joo Sangwook, melainkan wajah unik berkulit putih dengan alis lebat menaungi matanya yang sendu.

“Selamat pagi. Bagaimana tidurmu?” sapanya dengan suara berat.

Yoojin terlalu lemah untuk membalas. Tersenyum saja sulit.

Ireona. Aku sebenarnya tidak tega membangunkanmu tapi kau wajib lapor jam sepuluh pagi. Kajja!”

Yoojin berusaha bangkit dan menegakkan tubuhnya. Lemas tapi ia tidak ingin kelihatan tidak berdaya.

Gwaenchana?” tanya namja itu lagi.

Ne,” jawab Yoojin lemas.

“Kau bisa bangkit?” tanyanya kuatir.

Jangan kuatirkan aku.

Sang penyidik itu akhirnya mengulurkan tangannya karena merasa iba dengan Yoojin. Ia membimbing Yoojin menuju kamar mandi.

“Panggil saja jika kau butuh sesuatu. Aku ada di luar,” pesannya. Yoojin mengangguk.

Tidak lama setelah itu Yoojin duduk di meja makan menikmati pasta masakan dari Soohyuk yang rasanya memang enak. Soohyuk bilang ia keluar membeli beberapa bahan makanan dan peralatan dapur serta sandal rumah. Yoojin hanya bengong karena ia sadar bahwa keadaan rumahnya sekarang berbeda sebelumnya. Sekarang rumahnya lebih rapi dan bersih. Pakaian kotor yang bertumpuk di sofa sudah tidak ada. Piring kotor sudah dicuci dan tersusun di lemari. Yoojin yang biasanya minum dari cangkir bekas kopi juga menemukan sepasang cangkir baru bergambar bibir dan yang lainnya bergambar kumis. Yang bergambar bibir bertuliskan kata Mrs sedangkan yang berkumis bertuliskan kata Mr.

IMG-20131118-WA0021

“Aku baru membelinya tadi pagi. Dahaenghida, aku menemukan kunci rumahmu di tumpukan pakaian. Kalau tidak, aku tidak akan bisa masuk lagi ketika aku membeli barang-barang,” aku Soohyuk. Yoojin menyipitkan matanya. Kekuatannya sudah pulih sekitar 60 persen setelah menyantap sarapan lezat.

“Kenapa kau beli dua cangkir?”

Soohyuk angkat bahu sambil menjawab dengan suara yang khas, “Karena aku akan sering minum di sini.”

Hya! Uhuk!” Suara protes Yoojin terhalang oleh batukan.

♫ Law of Natures 2.♫

 09.16 am KST

“Di mana kunci mobilku?” tanya Yoojin sambil merogoh ke sisi sofa kanan dan kiri.

“Aku tidak menemukan kunci mobil ketika aku membereskan pakaian kotormu. Hanya kunci rumah,” jawab Soohyuk.

“Biasanya aku menaruh kunci mobilku di sofa!”

“Sofa bukan tempat menaruh kunci. Sofa untuk duduk,” balas Soohyuk masih bersabar.

Keunde, biasanya ada di sini. Bagaimana aku bisa ke kantor polisi jika aku tidak menemukan kunciku?” tanya Yoojin gusar.

“Tenanglah, aku akan mengantarmu,” jawab Soohyuk.

“Tapi aku tetap perlu mobilku. Aku perlu pergi menemui temanku,” tukas Yoojin panik. Soohyuk menarik nafas panjang.

“Sudah kukatakan aku akan mengantarmu.”

“Kantor polisi dan menemui temanku?”

Ne.”

Jun Yoojin, kau memerasku!

Kajja! Jangan sampai terlambat melapor!”

Yoojin berbalik, menyambar tasnya yang diletakkan di meja dan melepaskan sandal rumahnya yang juga baru saja dibeli oleh Soohyuk untuk memakai sepatu.

Soohyuk baru sadar blus pink dengan kancing depan yang dikenakan Yoojin itu kancingnya tidak benar. Yoojin mengancing kancing kedua dengan lubang kancing ketiga dan begitu juga seterusnya.

Jamkanman!”

Ye?”

Yoojin bengong. Salah satu kakinya sudah mengenakan sepatu boots hitam semata kaki.

“Kancingmu tidak benar,” beritahu Soohyuk sambil menunjuk kemeja Yoojin. Yoojin menunduk memperhatikan pakaiannya. Tanpa malu ia membuka kancingnya dan membenarkan letaknya.

Omoni! Dia ini benar-benar yeoja atau bukan?

Soohyuk memperhatikan Yoojin dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah wanita ini adalah makhluk asing dari planet luar. Bahkan ia tidak sadar kaus kakinya berbeda sebelah. Ini benar-benar di luar dugaannya. Selama ini ia selalu mengira kalau Jun Yoojin seorang penulis skrip drama adalah wanita yang luar biasa. Tapi nyatanya ia adalah wanita ceroboh dan sembrono.

Omoni!

Tapi sudahlah, pikir Soohyuk. Ia melirik arlojinya. Sudah tidak tidak sempat lagi mengganti kaus kaki. Jadi ia putuskan tidak usah memberitahu masalah sepele itu pada Yoojin.

“Siap!” tukas Yoojin sambil memasukkan tangan kanannya di saku jaket. Matanya melotot, tangannya menyentuh sesuatu. Dan ketika ia menarik ke luar ternyata…

“Kuncinya ada di sini,” tukasnya sambil nyengir.

Soohyuk benar-benar ingin mencekik leher Yoojin. Tapi sekarang ia hanya bisa ikut tersenyum sambil menarik lengan yeoja itu ke luar dari apartemennya. Ia tetap akan mengantar Yoojin ke kantor polisi untuk memastikan kalau Yoojin tidak akan melakukan hal-hal ceroboh yang bisa menghalanginya sampai ke kantor polisi.

“Masuklah, lapor saja seperti biasa,” pesan Soohyuk ketika mereka sampai ke kantor polisi distrik Mapo. Yoojin berpura-pura bersikap pemberani. Ini pertama kali ia melapor ke kantor polisi tanpa didampingi Jo Hwanbi pengacaranya.Yoojin menelan ludahnya dan turun dari mobil milik penyidik Lee. Penyidik Lee mengangguk padanya.

“Aku akan menyusul segera setelah aku mendapat parkir,” tukasnya. Yoojin menggeleng yakin.

Gwaenchana. Aku bisa melakukan ini,” balasnya yakin.

Yoojin melangkah dengan pasti menuju kantor polisi, kantor polisi tempat ia pernah ditanyai soal pembunuhan terhadap Joo Sangwook. Sebenarnya kakinya goyah tapi ia tidak ingin dianggap pengecut oleh penyidik Lee.

Ini hanya kantor polisi.

Lima langkah lagi.

Jangan kuatir.

Tiga langkah lagi.

Baiklah, aku tidak sanggup.

Yoojin berbalik arah. Soohyuk melihat dari kaca spionnya dan langsung memarkirkan mobilnya secara sembarangan lalu turun dari mobil, menyongsong Yoojin yang tampak ketakutan.

Waeyo?” tanyanya. Yoojin menarik nafas panjang melirik kantor polisi lalu melangkah lagi. Soohyuk mengikutinya dari belakang.

Annyeonghaseyo, Hyeongsanim, saya Jun Yoojin ingin melapor.”

Soohyuk tersenyum karena ia yakin Yoojin dapat melakukannya dengan baik.

♫ To be Continued♫

Advertisements

30 thoughts on “Law of Natures 2 : Sweet Defendant 1

  1. aduhh soohyuk-ssi perhatian nya dirimu, jadi curiga sama Junhee, jangan2 dia juga terlibat dalam pembunuhan ini .. Aku Yakinlah dirimu bukan pembunuh Yoojin-ssi .. Ternyata soohyuk bisa juga bersih2 rumah, lain kali rumahku juga dibersihin yah oppa *digaplok wkwkwk 😀 .. Mungkin aja dengan sifat Yoojin yang sembrono si soohyuk malah jatuh hati sama Yoojin *ciyeciye 😀 .. Oh ya, disini Kim Woobin jarang keluar, yang lebih mendominasi Yoojin *jelaslahdiapemerannya 😀

  2. Hallo, author.
    Baru sempat singgah kesini hahaha mian
    Ini berarti part 2, ya?
    Penjabaran lokasi ditemukan mayat dan kondisi mayat terasa seperti kita berada di TKP.
    Kalau menurut saya, alur ketika sebuah cerita dikatakan bergenre misteri, pembunuhan yang diselingi dengan romance yang bener ya seperti ini. Memacu seseorang untuk berpikir tentang waktu, lokasi, tokoh yang terlibat, dan motif pelaku hahaha
    Karakter WooBin cocok banget ketika dia ‘gebrak meja’, karakter yang keras tapi tegas.
    Lanjut part berikutnya dulu.

  3. Felt like watching a drama story about the murder 😀 sy sangat penasaran sama sii pembunuh. What was the reason till he or she killed jo sang wook?

    Soohyuk suka yoojin? Sy suka karakter yoojin yg pemalas tp membuat siapa sj penasaran dengan dia.

  4. penasaran sama sii pembunuh Sangwook.. apa dia mati bunuh diri..

    kasian yoojin harus jadi sasaranya..

    kkyyyyaaaaa seohyukk so sweett bngttt.. dia pansnya yoojin ternyata..

    cangkir nya baguusss MR and MRS..

    luccuu pas bagian hwanbi mong sama Woobin yg Hwanbi bilang klu gak salahh “Kita bertemu lg, sepertinya kita jodoh” kurang lebih kaya gitu lahh..

    waaahhh perlu di curigain nihh si HELLO KITTY (han jun Hee) .. -_-

    Hwanbi Benci bngt sama si HELLO KITTY 😀

    FIGHTING THOUR \^.^/

    DAAEEBBAAAKKKK

  5. Yoojin sembrono bgt, ada Bra di sofa -_- knpa ga buka mata aja mas Soohyuk? Wkwkwk.

    Soohyuk fans yg mungkin lama2 akan jatuh cinta sm yoojin. Terlihat dr tindak tanduk tingkah laku gerak gerik (semuanya ajee)

    Siapakan pembunuh Joo sang wook? Kita nantikan hanya di silet(?)

    1. Kadang kala saya pikir saya juga punya sikap semberono seperti Yoojin. Soohyuk bahkan sudah tersenyum pada pertemuan pertama mereka padahal Yoojin tak menyadari kehadirannya.

  6. ngerasa kek nonton drama” misteri 😀
    siape jadi yg bunuh -_- jdi ikut nimbang” deh ah
    Woobin pas naekin alis, bikin ngakak bayanginnya hhhhaaa
    kenape kagak naekin kumis *kagak ada woy* wwkwkwk

    ciyee soo hyuk suka ama yoojin :v
    dia laki siaga curingju (?) ye siap antar jaga, cuci piring dan baju hhhhhahahaa

  7. crtanya bgus bngt bhsnya mdh di phmi,,,jd pnsrn siapa pmbunuhnya dan ada motif apa smpe2 yoojin jd trsngka atau mngkin ini jebakan utk ayahnya yoojin yg mau nyalonin jd walkot,adu nih penyidik calon suami yg baik,,,mau ngbresin bj2,pring kotor,,,pkoknya ceritanya seru abis dahhhhh

  8. aduh,,,br part 2 aja udh menegangkan,,,pnasran siapa yg ngebunuh,,,atau jng2 pesaing bpnya si yoojin scra bpnya kan mau nyalonin sbg wli kota,,and penyidik lee dia baik jg mau ngebersihin bju2 yg berserakan,cln suami idaman ini ,,,,lanjut deh jng lm2

  9. Aaaaah cerita yang lumayan berat
    hadeeuuuh
    menegangkan otak diajak untuk ikut menjadi detektif juga nich
    kereeeen author

    yoojin wanita ceroboh dan soohyuk laki” yg perfect kayaknya yg masih terkenang dengan masa lalu
    *ehem*
    kayaknya kalo gak salah tebak nich dalang dari ini kalo bukan tunangannya ya selingkuhanuanganya deh soalnya ini emang pembunuhan bukan bunuh diri
    yaaa dari pada jadi so tau ditunggu dech lanjunya
    makasih inbox’a
    🙂

    1. Coba hal baru nih. Berhubung kita dah pernah coba genre sport, comedy, romance knp sekarang gak crime, action, thriller tapi ada bumbu romance juga. Makasih dah ninggalin jejak

    2. annyeong Unni.
      makasih baca fiksi kita
      kekeke. kucing mungkin ada hubungan sama dalang.
      kamsahamnida (Chelsea males ganti akun)

  10. Komen juga ah.

    @Chelsea. Saya ngakak waktu dikirim ke saya pas bagian. “Lebih baik lanjutkan rencana pertanyaanmu Geomsanim.” ㅎㅎㅎㅎ

    thecuties, saya tunggu kabar lanjutan orang yang menekan tombol pause dalam remote kehidupanku. ㅎㅎㅎㅎ

  11. Wuaaah makin penasaran nie cpa pembunuh Sangwook… Junhee(?) seperti’y da sangkutpaut’y ma pembunuh i2.. Iiiidh,choi inmin ikut2 eksis wae… Hahahah gak k’bayang Yoojin tampil ceroboh d’dpan Soohyuk.. Gomawo for eomma udh d’inboxin #hug

  12. Tadi sih udah baca sekilas tapi tiba2 baterai low berat #plak malah curhat .. Ceritanya semakin menegangkan .. Di awal sampai tegang, se olah2 emang Yoojin pelakunya .. Berasa nonton detective conan sama manga2 Jepang soal detective kesukaan aku pas kecil .. Benar2 bahasa yang rapi dan tidak terlalu terburu2 .. Seperti sangat mengenal inti dari ceritanya, jadinya aku gk perlu mikir lama2 buat paham situasinya ..

    Tapi di akhir menggelikan, Soohyuk jadi manis dan ada sisi lain Yoojin yang unik ..

    Like this .. Aku suka, lanjutkan eonni2 ku 🙂

    1. Ngak berani menyamakan dengan manga. Di sini kami bertiga masih belajar. Hukum, kriminal.

      Setiap orang memiliki sisi lain dalam dirinya termasuk Yoojin. Ini membuat Soohyuk rada syok

      1. Iya sih eon, aku juga gk menyamakan ini dengan manga, tapi sebagian besar kan genre2 kayak gini ini adanya di manga2 Jepang. dan jarang, bahkan gk pernah fanfiction nge bahas soal genre ini. genre baru yang bagus ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s