Law of Natures 1 : The Court

  Law of Natures :   

The Court    

The Court Poster copy

By :

  Chelsea and thecuties   

|Crime/Mystery/Action/Thriller/Romance/Drama/Comedy | PG 17 | Series |

Casts :

Lee Jongsuk, Kim Woobin, Lee Soohyuk

 [OC] : Jo Hwanmi, Jo Hwanbi, Jun Yoojin

 Jung Daeryong (Tasty), Jung Soryong (Tasty)

Jo Sungha, Yoon Yoseon

Cameo :

Lee Minho (1993), Joo Sangwook.

(OC) : Bae Heejo, Han Junhee, Choi Inmin, Go Eunsoo

ﬓ The Court ﬓ

Jum’at, 18 Oktober 2013 03.15 pm

Suasana ruangan sidang terasa semakin panas saja menjelang putusan hakim, air conditioner yang terpasang seolah tidak ada artinya sama sekali. Sidang ini menyorot perhatian publik mengingat seorang public figure didakwa atas sebuah tuduhan.

“Terdakwa Lee Minho, sebelum saya memutuskan hasil sidang, apakah terdakwa mengakui tuduhan dari korban?”

Lee Minho seorang aktor muda yang saat ini namanya sedang naik daun, menarik napas berkali-kali sambil meremas kedua tangannya sampai memutih. Dia benar-benar berada diujung tanduk. Karir dan masa depannya menjadi taruhan.

Jo Hwanbi yang menjadi pengacara dari aktor muda itu, tahu benar kalau client-nya ini sedang panik. Hwanbi mengulurkan tangannya kemudian menggenggam tangan Minho, aktor muda itu menoleh dan Hwanbi tersenyum menenangkan. “Jangan menyerah, aku ada di sini untuk membelamu,” ucap Hwanbi.

Minho balas tersenyum kemudian dia bangkit dari duduknya. “Saya mengakui kalau saya bersalah, dan saya menyesal telah melakukan perbuatan tersebut pada korban.”

Ucapan dari client-nya tadi kontan membuat mata Hwanbi yang berbingkai eyeliner membesar sempurna. Dia sama sekali tidak menyangka kalau client-nya akan mengakui perbuatan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya. Sidang ini merupakan sidang terakhir dan juga sidang penentuan, bagaimana bisa client­-nya ini menyerah begitu saja?

Hwanbi menoleh ke arah meja yang tidak jauh dari tempatnya duduk, meja di mana korban dan juga Baek Heejo, pengacaranya duduk. Baek Heejo yang sejak lama merupakan musuh bebuyutan Hwanbi tersenyum mengejek pada Hwanbi. Kalau tidak mengingat saat ini dia sedang ada di persidangan, sudah bisa dipastikan Hwanbi akan melemparkan heelsnya ke arah Baek Heejo.

Di meja seberang, di tempat para jaksa penuntut duduk, Hwanbi bisa melihat lelaki tampan berbibir tebal ikut tersenyum padanya.

“Karena terdakwa telah mengaku bersalah, maka saya akan memutuskan kalau terdakwa akan dihukum kurungan selama satu tahun, denda sebesar satu won, dan setelah selesai menjalani hukuman kurungan, terdakwa diwajibkan untuk bekerja sosial selama enam bulan,” setelah mengatakan putusannya, hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali, menandakan sidang kasus pelecehan seksual ini ditutup.

Semua orang bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Lee Minho, client Hwanbi.

“Lee Minho-ssi, kenapa kau mengakui hal yang tidak kau lakukan, huh?” cecar Hwanbi.

Minho tersenyum kecil. “Aku tidak punya pilihan lain, Jo Byeon. Kau ingat sendiri saat sidang pertama aku sudah sangat terpojok,” ujar Minho dengan wajah pasrah. Pikiran artis muda itu kembali ke saat beberapa jam sebelum sidang putusan ini berlangsung.

Flashback

Minho sedang duduk di ruang tunggu khusus terdakwa saat seorang lelaki tampan dan berbibir tebal menghampirinya. Minho mengenali kalau lelaki itu adalah Lee Jongsuk, jaksa muda yang menangani kasusnya.

Annyeonghaseyo, Geomsanim,” Minho bangkit dari duduknya dan membungkukan badan memberi hormat pada Jongsuk.

Annyeonghaseyo, Lee Minho-ssi,” balas Jongsuk dengan senyum andalannya yang mampu melumpuhkan banyak hati wanita.

“Apakah kau masih berkeras mengatakan kalau kau tidak bersalah, Minho-ssi?” tanya Jongsuk saat sudah duduk di hadapan Minho.

Geuromyeon, aku benar-benar tidak melakukan pelecehan yang telah dituduhkan, mereka sengaja menjebakku,” jawab Minho dengan wajah yakin.

“Kau punya buktinya?” tanya Jongsuk dengan mata memicing sedangkan Minho tergelagap. Memang bukti yang dia miliki sangat minim, hasil CCTV yang ada tidak cukup membuktikan kalau dia tidak bersalah.

“Minho-ssi, apa kau mau mendengarkan saran dariku?” Jongsuk mencondongkan tubuhnya mendekati Minho. “Lebih baik kau mengakui saja kesalahan ini dan mengatakan kau menyesal, maka bisa aku pastikan majelis hakim akan mengurangi hukumanmu.”

Minho terdiam. Terjadi peperangan di antara hati dan pikirannya.

“Kalau kau mengaku, kau hanya akan dihukum selama satu tahun, setelah itu kau bebas dan bisa kembali menjalani aktifitas keartisanmu, tapi kalau kau berkeras tidak mengaku dan hukum memutuskanmu bersalah, maka masa hukumanmu akan mencapai maksimal tuntutan,” Jongsuk berusaha merayu Minho agar mau merubah pemikirannya.

Aktor muda itu kembali terdiam. Batinnya bergolak. Kalau dia terus berkeras menyangkal, maka hukumannya akan lebih lama, dan sudah bisa dipastikan karirnya akan hancur, tapi kalau dia mengakui dan menyesal seperti yang dikatakan oleh Lee Jongsuk, besar kemungkinannya dia bisa kembali ke dunia keartisan.

Well, semua pilihan ada ditanganmu, Minho-ssi. Aku hanya berusaha membuka pikiranmu saja,” setelah selesai mengucapkan kata-kata itu, Jongsuk bangkit dari duduknya. “Sampai jumpa di persidangan, Minho-ssi,” kemudian jaksa tampan itu melengang keluar dari ruang khusus terdakwa.

Flashback end

“Tapi, bagaimana bisa dalam waktu beberapa jam kau merubah pemikiranmu?” Hwanbi masih tidak bisa menerima keputusan client-nya begitu saja. Pasti sudah ada yang memanipulasi pemikiran client-nya ini, dan Hwanbi yakin betul, kalau hanya ada satu orang yang bisa melakukan hal ini. Siapa lagi kalau bukan Lee Jongsuk. Jaksa berbibir tebal itu pasti sudah memanipulasi pikiran Minho, sehingga dia bisa memenangkan kasus ini.

“Lee Jongsuk! Awas kau!” geram Hwanbi dalam hati. Dia tidak mengira kalau sahabatnya sejak kuliah dulu, berani melakukan ini padanya.

Jeongmal gomapsumnida, Jo Byeonsa. Selama ini kau sudah mau membelaku, walaupun kau terpaksa kalah di persidangan ini, aku tahu benar, kalau kau adalah pengacara yang hebat,” Minho menyalami Hwanbi sebelum akhirnya pergi bersama petugas pengadilan.

“Jadi hanya ini kemampuanmu, Jo Byeon?”

Sindiran khas yang Hwanbi kenali berasal dari mulut beracun musuh bebuyutannya Baek Heejo, membuat hati dan kepala Hwanbi memanas. Hwanbi meniup kencang poninya, kemudian berbalik menghadapi Baek Heejo yang sudah berdiri di depan mejanya. Hwanbi menatap tajam Heejo, sedangkan pengacara berwajah boros itu masih tetap memamerkan senyuman mengejek. Hari ini pengacara berambut lurus tak terawat itu mengenakan blouse berwarna green spring yang sangat menyala dengan kulit Heejo yang gelap. Hwanbi sampai mengira kalau Heejo terlalu lama tanning sehingga warna kulitnya lebih gelap dari Hyorin member Sistar. Sepasang boots berwarna hijau menghiasi kaki Heejo yang pendek.

“Jo Hwanbi Byeonsanim yang intelek dan berpendidikan, kalah dalam persidangan seperti ini, benar-benar memalukan! Lebih baik kau berhenti saja menjadi pengacara untuk kasus kriminal, masa untuk kasus ringan seperti ini saja kau kalah? Mungkin kau lebih cocok menjadi pengacara untuk kasus perceraian atau akan lebih baik lagi kalau kau berhenti berkarir di bidang hukum,” sindir Heejo lengkap dengan tatapan mencela.

Hwanbi meremas erat tangannya. Ingin rasanya dia mencakar wajah Heejo dengan kuku-kukunya yang baru saja dia manicure dua hari lalu. Tapi, Hwanbi menahan semuanya karena dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Hwanbi berdeham sebelum akhirnya berkata, “Untuk kasus ini aku memang kalah, tapi akan aku buktikan kalau di persidangan-persidangan lainnya aku akan menang darimu, Baek Byeon,” setelah itu Hwanbi mengambil tas dan berkas-berkasnya, sebelum meninggalkan Heejo, Hwanbi sengaja menyibakkan rambutnya ke arah pengacara bermulut menyebalkan itu. Dia tidak ingin berlama-lama berada dalam ruangan yang sama dengan musuh bebuyutannya tadi, karena saat ini dia harus segera mengejar Lee Jongsuk, sahabat sekaligus jaksa untuk kasus pelecehan ini. Dia harus membuat perhitungan dengan jaksa bermulut tebal itu, seenaknya saja dia membuat client-nya mengakui kesalahan yang tidak pernah dilakukannya sama sekali.

Sesampainya di kantor kejaksaan yang ada di kawasan Gongdeok-dong, Mapo-gu, Hwanbi langsung memarkirkan white mini cooper-nya dan bergegas memasuki kantor kejaksaan menuju ruang kerja Lee Jongsuk.

Tanpa mengetuknya terlebih dahulu, Hwanbi langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja Lee Jongsuk yang membuat semua staff Jongsuk terkejut. Seorang gadis berwajah kucal dengan rambut yang lepek mengangkat wajahnya dan menatap sinis pada Hwanbi. Gadis itu duduk di sebuah meja yang sering Hwanbi sebut ‘Pojok Hello Kitty’, karena semua barang yang ada di meja sana mengandung semua pernak-pernik Hello Kitty. Mulai dari pulpen, tempat alat tulis, pelapis komputer, mouse, alas mouse dan masih banyak lagi barang berbau Hello Kitty lainnya. Bahkan kali ini ada sweater Hello Kitty berwarna merah muda tersampir di belakang tempat duduk gadis itu.

“Matamu akan rusak kalau terus menatap sinis padaku, Junhee-ssi,” sindir Hwanbi santai, sedangkan Han Junhee si sekretaris hanya mendengus kencang.

“Di mana, Lee Jongsuk? Aku harus membuat perhitungan dengannya,” ucap Hwanbi berapi-api.

Lee Soohyuk, sahabat Hwanbi saat kuliah sekaligus penyidik yang bekerja untuk Jongsuk bangkit dari duduknya dan menghampiri Hwanbi. “Saat ini Lee Geom sedang tidak ada di ruangannya, tadi dia menghubungiku, kalau sebelum kembali ke sini, dia ingin minum kopi sebentar di Hollys Coffee yang ada di seberang kejaksaan,” beritahu penyidik berwajah unik tersebut.

Hwanbi mengalihkan pandangannya pada Junhee yang sejak tadi menatap Soohyuk dengan tatapan memuja. “Han Junhee-ssi, kenapa kau menatapa Soohyuk seperti itu? Apa kau menyukainya?” sindir Hwanbi, sedangkan Junhee tergelagap.

Get real, Junhee-ssi! Sahabatku terlalu bagus untukmu!” ucap Hwanbi masih dengan nada sinis. Entah kenapa, dia tidak pernah bisa beramah-tamah dengan makhluk berlabel Han Junhee ini. Dan sepertinya rasa tidak suka Junhee padanya jauh lebih besar.

Hwanbi meniup poninya kesal, sia-sia sudah dia datang ke tempat ini. Tanpa banyak bicara, Hwanbi bergegas meninggalkan ruang kerja Jongsuk dan menuju Hollys Coffee yang ada di seberang kantor kejaksaan.

04.00 pm

Saat tiba di Hollys Coffee, Hwanbi melihat sosok Jongsuk duduk di sebuah meja dekat jendela besar yang tidak jauh dari pintu masuk. Hwanbi melangkah cepat menghampiri Jongsuk dengan rasa kesal yang menggunung.

“Donald! Aku tidak menyangka kalau kau tidak hanya pandai merayu wanita, ternyata kau juga pandai merubah pikiran terdakwa demi memenangkan kasus ini, huh!” Hwanbi langsung menumpahkan kekesalannya tanpa mempedulikan sekitarnya.

Hya! Aku hanya membantunya untuk meringankan hukuman. Kalau dia tetap tidak mau mengaku, dia akan menerima hukuman yang lebih berat dari yang sudah diputuskan oleh hakim tadi,” balas Jongsuk tidak kalah sengit.

“Tapi, dia itu seorang artis, dan saat ini karirnya baru saja menanjak, karirnya bisa hancur karena ini semua! Kau benar-benar keterlaluan! Apa kau sama sekali tidak memikirkan masa depannya, huh?! Lagipula, kenapa kau tidak pernah mau mengalah dariku? Kita sudah lima kali bertemu di persidangan, dan ini sudah ketiga kalinya kau mengalahkanku? Apa kau puas sudah mengalahkanku?” cecar Hwanbi.

“Kalah ataupun menang, kau sudah mendapat bayaran yang mahal, kan?” ucap Jongsuk santai.

Mwo?! Lee Jongsuk, nappeun nom!” Hwanbi menendang tulang kering Jongsuk, kemudian menjambak rambutnya tanpa ampun.

Hya! Appo!” pekik Jongsuk. Tapi Hwanbi tidak menghiraukannya. Setelah dirasa cukup membuat Jongsuk kesakitan, Hwanbi melepaskan tangannya dari rambut Jongsuk, sebelum pergi Hwanbi sempat berkata, “Ah iya, kalau kau punya waktu luang, jangan lupa mampir ke toko kosmetik dan belikan produk skincare untuk sekretarismu itu, sungguh memalukan, seorang Lee Jongsuk memiliki sekretaris yang kucal dan berambut lepek,” setelah itu Hwanbi langsung pergi meninggalkan sahabatnya yang menyebalkan itu.

Begitu sosok Hwanbi menghilang, seorang lelaki bermata tajam yang kebetulan duduk di hadapan Jongsuk tertawa terbahak-bahak karena kejadian tadi.

“Berhenti menertawakanku, Woobin-ah!” Jongsuk melempar gumpalan tissue pada lelaki bernama lengkap Kim Woobin yang tidak bisa berhenti menertawakannya.

Nugu?” tanya Woobin disela-sela tawanya. Dia ingat betul kalau beberapa waktu yang lalu pernah bertemu dengan gadis tadi di sini. Tetapi, saat itu Woobin tidak sempat menanyakan namanya. Setelah mengambil id-cardnya yang jatuh, Woobin meninggalkan gadis itu.

“Jo Hwanbi, sahabatku saat kuliah dulu, sekaligus pengacara yang baru saja aku kalahkan di persidangan,” jawab Jongsuk sambil menyesap latte-nya.

“Tadinya aku kira dia salah satu mantan kekasihmu yang tidak rela kau putuskan,” ucap Woobin santai.

“Aku lebih baik mati daripada menjadi kekasihnya,” gerutu Jongsuk.

Waeyo? Aku lihat dia cukup cantik dan menarik untuk kau jadikan kekasih.”

“Bukannya kau sudah melihatnya sendiri, dia kalau sudah berbicara seperti tidak mengenal tanda baca saja, dia juga seperti bom waktu yang bisa meledak tanpa tahu tempat, aku bisa malu kalau dia menjadi kekasihku.”

Woobin kembali tertawa kencang. Saat pertama kali bertemu dulu, gadis itu tampak tidak banyak bicara, Woobin sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu adalah sahabat Jongsuk. Dunia memang sempit. “Bukannya kau sama saja? Kau juga banyak bicara seperti wanita,” kata Woobin setelah berhasil meredakan tawanya.

Jongsuk mendengus. Dia dan Hwanbi memang sama-sama cerewet, mungkin karena hal itu juga, mereka bisa bersahabat sampai sekarang. Walaupun persahabatan mereka lebih seperti kucing dan anjing yang sering adu argument tanpa ada yang mau mengalah, tetapi dia dan Hwanbi tidak pernah berhenti menjalin tali persahabatan yang sudah lama terjalin.

“Tapi menurutku, ada baiknya kau meminta maaf padanya, Jongsuk-ah,” Woobin memberi saran sambil menyesap espressonya pelan.

Mwo? Minta maaf? Untuk apa? Aku tidak bersalah,” tolak Jongsuk.

“Kata-kata terakhirmu yang mengatakan kalau kalah atau menang dia tetap mendapat bayaran, itu terdengar cukup keterlaluan, Jongsuk-ah. Bagaimanapun juga, wajar kalau dia ingin memenangkan kasus tadi, karena itu sudah menjadi tuntutan dari pekerjaannya,” Woobin berusaha menasehati Jongsuk.

“Woobin-ah, jangan mengatakan kalau kau tertarik padanya?” tanya Jongsuk dengan mata memicing.

Wae? Tidak boleh, kah? Dia cantik dan sepertinya terlihat pintar,” ucap Woobin santai. Padahal dia hanya bercanda. Luka masa lalunya masih belum sembuh, dia tidak mungkin menjalin hubungan dengan gadis lain..

“Dia memang cantik dan pintar, tetapi dia jauh lebih berisik jika dibandingkan dengan burung kakaktua,” gerutu Jongsuk yang membuat Woobin kembali terkekeh.

“Kau akan meminta maaf padanya, kan?” tanya Woobin saat tawanya sudah reda.

Jongsuk menarik napas panjang dan menghembuskannya cepat. “Baiklah baiklah, nanti sepulang kerja aku akan mampir ke rumahnya dan meminta maaf karena sudah membuatnya kesal seperti tadi,” ucap Jongsuk mengalah. Woobin tersenyum. Dia tahu, sahabatnya ini pasti akan mendengarkan nasehat darinya.

“Setelah ini kau akan ke mana?” tanya Jongsuk sambil menyulut rokoknya dengan pematik.

“Kembali ke kantor, aku harus membuat laporan hasil penyidikan tentang kasus pencurian di Queen Butik.”

“Ah, kasus yang aku serahkan pada Ahn Geomsa,” Jongsuk menyebut salah satu nama rekan kerjanya yang dijawab anggukan oleh Woobin.

“Kau sengaja menyerahkan kasusnya pada jaksa lain karena tidak tahan dengan pemiliknya yang cerewet itu, kan?” tebak Woobin.

Ne, majjayo. Aku tidak suka dengan Kwon Heemi si pemilik butik yang cerewet itu. Seenaknya saja dia mengatakan kalau aku seperti anak-anak,” gerutu Jongsuk.

Masih terekam jelas dalam ingatannya, bagaimana tanggapan Kwon Heemi saat melihat Jongsuk datang untuk mengintrogasinya. Wanita itu dengan santainya mengatakan kalau dia kira jaksa yang akan datang adalah pria dewasa. Dan wanita itu menganggapnya bocah ingusan.

“Aku rela disebut bebek karena bibirku yang seksi ini, tapi dia seenaknya saja mengatakan kalau aku bocah ingusan! Benar-benar wanita yang menyebalkan!” Jongsuk kembali menggerutu sedangkan Woobin terkekeh pelan.

“Kau sendiri?” tanya Woobin disela kekehannya.

“Sama sepertimu,” Jongsuk menghembuskan asap rokok yang baru dihisapnya. “Aku harus mempelajari beberapa berkas baru untuk persidangan selanjutnya.”

Woobin meletakan sebuah flash disc di samping cup Jongsuk. “Aku tak mendapat informasi berarti. Ini hanya rencana jadwal lengkap Buenos Entertainment dalam sebulan.”

Gamsahamnida,” ucap Jongsuk dengan senyum kecilnya.

“Bagaimana dengan Senator Go?” tanya Woobin dengan suara sepelan mungkin.

Woobin membantu sebuah penyelidikan rahasia yang dilakukan Jongsuk.

Jongsuk mengeluarkan seringai dingin dengan tatapan berenergi. “Dia belum melakukan sesuatu yang menguntungkanku,” jawab Jongsuk bertepatan dengan bergetarnya smartphone miliknya yang tadi dia letakkan di atas meja. Jongsuk melirik dan melihat nama Lee Soohyuk muncul di sana.

Ne, penyidik Lee? Ah, baiklah, aku kembali ke kantor sekarang,” setelah itu Jongsuk memutuskan pembicaraannya dan mematikan rokoknya yang baru habis setengah.

“Sepertinya aku harus kembali ke kantor sekarang, kau mau aku antar?” tanya Jongsuk sambil memasukkan smartphone beserta rokok dan pematik ke dalam saku jasnya.

“Tidak perlu,” tolak Woobin halus.

“Baiklah, sampai jumpa lagi, detektif Kim,” Jongsuk menyalami Woobin dan pergi meninggalkan sahabatnya sendiri.

ﬓ The Court ﬓ

07.47 pm

Malam itu, sepulangnya dari kantor kejaksaan, Jongsuk memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah hanok besar yang berada di kawasan Nogosan-dong. Sesuai dengan yang tadi siang dia sepakati dengan Woobin. Saat ini Jongsuk sudah berada di depan rumah Hwanbi, sahabatnya saat kuliah dulu, untuk meminta maaf atas perkataannya yang cukup keterlaluan siang tadi.

Jongsuk mengetuk pintu dan tak lama seorang wanita paruh baya yang Jongsuk kenali sebagai Song Ahjumma pengurus rumah tangga di rumah Hwanbi membukakan pintu untuknya.

Annyeonghaseyo, Ahjumma,” sapa Jongsuk. “Apa Hwanbi ada di rumah?”

Annyeonghaseyo, Lee Geomsa,” balas Song Ahjumma. “Hwanbi Agassi sedang memasak, anda bisa menemuinya di dapur.”

Kening Jongsuk berkerut dalam. Seingatnya Hwanbi hanya rajin membersihkan rumah, tetapi dia bukan domestic Goddess yang sering menghabiskan waktunya di dapur. Si Duffy paling lemah untuk urusan memasak, bahkan untuk sekedar memasak ramen saja, gadis itu pasti tidak bisa melakukannya. Walaupun diliputi rasa heran, Jongsuk tetap melangkahkan kakinya menuju dapur.

Saat tiba di dapur, Jongsuk bisa melihat sosok Hwanbi sedang sibuk dengan loyang yang mengepulkan asap tipis. Aroma manis gula bercampur lime yang mengugah selera merasuki indera penciuman Jongsuk. Ini benar-benar sebuah kejadian langka. Tanpa sepengetahuannya, Jo Hwanbi, si pengacara cerewet ini bisa memasak.

“Wah, ternyata kau bisa memasak juga, ya Duffy,” ucap Jongsuk sambil menghampiri gadis yang menyanggul semua rambutnya membentuk cepolan. Saat ini dia tengah mengeluarkan cake dari loyang. Bukannya membalas ucapan Jongsuk, gadis itu malah meletakkan cakenya di atas piring lebar.

“Duffy, mianhae. Aku tahu apa yang aku lakukan pada client­-mu memang tidak benar, tetapi aku melakukannya semata-mata hanya untuk meringankan hukumannya saja,” ucap Jongsuk. “Aku juga meminta maaf untuk perkataanku siang tadi di Hollys Coffee, aku sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu.”

Gadis itu bergeming seolah tidak mendengar perkataan Jongsuk.

Sepertinya gadis ini benar-benar marah padaku,” gumam Jongsuk dalam hati.

“Apa kalah dalam persidangan tadi membuatmu stres sampai keajaiban datang dan membuatmu bisa memasak?” pancing Jongsuk tapi gadis itu tak bereaksi sedikitpun.

Jongsuk pun sadar metodenya salah. “Mianhae. Barusan aku hanya bercanda.”

Tanpa pikir panjang Jongsuk langsung mengeluarkan jurus andalannya untuk merayu Hwanbi kalau sedang marah, jurus aegyo. Semarah apapun Hwanbi padanya, kalau Jongsuk sudah berpose aegyo, Hwanbi pasti akan tertawa dan berhenti marah padanya.

“Ayolah, Hwanbi-ya, bicara dan maafkan aku, eoh?” ucap Jongsuk.

Lalu dia mengepalkan kedua yangan dan menaruhnya di samping kedua pipinya. Jongsuk menggoyangkan tangannya dan memasang tampang se-cute mungkin. Dia mencoba mengeluarkan pose bbuingbbuing untuk memancing reaksi gadis itu. Sosok Hwanbi bereaksi, gadis itu menoleh dan menatap sinis Jongsuk sesaat sebelum akhirnya kembali sibuk menabur gula halus ke atas cakenya.

Jongsuk merasa aneh dengan kejadian ini. Dia ingat betul, terakhir kali dia melakukan gaya bbuing-bbuing seperti tadi, Hwanbi langsung menjambak rambutnya sambil tertawa, tetapi saat ini gadis itu hanya menatapanya sinis. Apa Hwanbi benar-benar marah padanya? Apa tadi siang dia sudah sangat keterlaluan? Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di benak Jongsuk.

Hya, Jo Hwanbi! Berhenti mengacuhkanku seperti ini, aku benar-benar minta maaf,” Jongsuk mencubit kedua pipi Hwanbi dengan gemas. Gadis itu melotot saat kedua pipinya dicubit.

“Apa yang kau lakukan di sini, Jongsuk-ah?”

Sebuah pertanyaan yang meluncur dari mulut seseorang membuat Jongsuk menolehkan kepalanya dan betapa terkejutnya dia saat mendapati sosok yang mirip dengan Hwanbi berdiri di depan pintu masuk ke dapur. Kalau gadis yang ada di depan pintu itu adalah Hwanbi, lalu siapa gadis yang ada di hadapannya saat ini?

“Kenapa kau ada dua, Hwanbi-ya?” tanya Jongsuk sambil menepuk pipinya. Jongsuk merasa dia tengah berhalusinasi.

“Kami kembar,” kedua gadis berwajah serupa itu menjawab bersamaan.

Mwo?” pekik Jongsuk.

“Dia itu Jo Hwanmi, kakakku,” jawab Hwanbi sambil melangkah mendekati Jongsuk dan Hwanmi. Mendengar itu Jongsuk hanya bisa menganga tidak percaya.

“Boleh aku minta cake-nya?” tanya Hwanbi sambil duduk di salah kursi tinggi yang ada di dapur.

Eoh, aku sudah menyimpankan bagianmu di kulkas,” jawab gadis dengan ambut cepol yang berdiri di dekat Jongsuk itu. Dia berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan lime meringue cake untuk Hwanbi.

“Oh, iya, sampaikan salamku untuk Lee Junki, ya,” ucap Hwanbi sambil menyendok lime meringue­-nya.

“Dia akan menikah bulan depan,” jawab Hwanmi sambil melepas celemeknya.

“Jo Hwanbi, apa kau memasang cermin di dapur dan bicara pada bayanganmu?” tanya Jongsuk masih dengan wajah tidak percaya.

Hwanbi dan Hwanmi menoleh bersamaan dan menatap Jongsuk dengan sinis. Jongsuk sadar kalau perkataannya salah hanya bisa menyengir.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan kalau kau punya kembaran? Lebih tepatnya kau tak pernah mengatakan kau punya saudara,” tanya Jongsuk.

“Apa kau pernah bertanya padaku sebelumnya?” Hwanbi balas bertanya.

Hya! Aku yang bertanya terlebih dahulu! Kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?” omel Jongsuk.

Hwanbi tahu benar kalau Jongsuk tidak suka bila ada orang yang menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi. Gadis itu terkekeh, sedangkan gadis yang ada di samping Jongsuk hanya diam dengan wajah dingin tampak tidak berminat dengan pembicaraannya bersama Hwanbi. Gadis itu malah pergi meninggalkan Jongsuk dan Hwanbi berdua di dapur.

“Kenapa saat kuliah dulu aku tidak pernah bertemu dengan kembaranmu? Padahal aku cukup sering datang ke rumahmu ini,” Jongsuk sama sekali tidak habis pikir, bagaimana dia bisa tidak mengetahui kalau sahabatnya ini kembar. Padahal dulu saat dia dan Hwanbi masih kuliah, dia sering berkunjung ke rumah Hwanbi untuk mengerjakan tugas.

“Hwanmi baru kembali ke Seoul dua minggu yang lalu,” jawab Hwanbi. “Sejak masuk SMA sampai kuliah, dia tinggal di Aomori bersama Halmeoni,” tambah Hwanbi. Sekilas terdengar nada kesal di suara Hwanbi. Kalau mengingat kejadian saat mereka akan masuk SMA, entah kenapa Hwanbi merasa kesal pada Hwanmi yang lebih memilih menemani nenek mereka di Aomori daripada menemani dirinya di Seoul.

Sejak lahir sampai akan masuk SMA, Hwanmi dan Hwanbi tidak pernah berpisah. Walaupun mereka terkadang sering bertengkar, tetapi mereka sangat dekat dan saling memahami satu sama lain. Dan kebersamaan mereka terpaksa berakhir karena Hwanmi memutuskan untuk menemani nenek mereka yang tinggal sendirian di Aomori. Saat itu Hwanbi menangis dan menahan tangan Hwanmi agar tidak meninggalkannya, tetapi Hwanmi yang berpendirian keras, malah melepaskan tangan Hwanbi dan tetap meninggalkan Hwanbi di Seoul bersama kedua orang tua mereka.

Saat itu Hwanbi membenci neneknya dan dia juga kesal dengan Hwanmi. Tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama, setelah beradaptasi selama satu bulan, akhirnya Hwanbi menerima keputusan Hwanmi tersebut. Dua minggu yang lalu, setelah nenek mereka meninggal, Hwanmi memutuskan untuk kembali ke Seoul dan bekerja menjadi seorang jurnalis di sebuah koran terbesar di Seoul.

Jongsuk berhalangan hadir saat acara pemakaman nenek Hwanbi, sehingga dia tidak mengetahui tentang Hwanbi yang memiliki kembaran.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hwanbi membuyarkan lamunan Jongsuk.

“Meminta maaf,” jawab Jongsuk.

Hwanbi terkekeh. Selama dia bersahabat dengan Jongsuk, lelaki tampan yang memiliki tatapan tajam dan bibir tebal ini, jarang sekali mau minta maaf terlebih dulu. Ini merupakan sebuah keajaiban, seorang Lee Jongsuk mau meminta maaf terlebih dulu. “Siapa yang sudah menyuruhmu, eoh?” tanya Hwanbi disela-sela kekehannya.

“Kim Woobin,” jawab Jongsuk sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Hwanbi mengerutkan keningnya. Dia seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya, tetapi dia tidak ingat di mana. “Kim Woobin, nugu?”

“Kim Woobin, detektif di kantor kepolisian distrik Mapo, dia itu sahabatku saat SMA, dan tadi ketika kau datang mengomeliku di Hollys Coffee, Woobin sedang duduk di hadapanku,” jelas Jongsuk sambil menyendok lime meringue yang terlihat begitu menggoda seleranya.

Hwanbi mengerucutkan mulutnya, dia berusaha mengingat kejadian siang tadi saat di Hollys Coffee. Setelah mengingat beberapa saat, dia baru menyadari, kalau tadi saat dia mengomeli Jongsuk, memang ada seorang lelaki berperawakan tinggi sedang duduk di hadapan Jongsuk. “Eigomonina!” pekik Hwanbi sambil menutup mulutnya. “Bagaimana bisa aku tidak menyadari kehadirannya?” tanya Hwanbi lebih pada dirinya sendiri.

Jongsuk terkekeh. “Karena kau tidak pernah menyadari sekitar kalau sudah marah,” ucap Jongsung yang disambut cibiran oleh Hwanbi. Bertepatan saat Jongsuk akan membuka mulutnya, Hwanmi muncul kembali di dapur. Saat ini, gadis itu sudah menggunakan sweater rajutan berwarna cream yang membalut tees, rok panjang yang lebar, dan rambut cokelat gelapnya tergerai.

Eonni sudah mau berangkat?” tanya Hwanbi pada Hwanmi yang sudah berdiri di dekatnya dan Jongsuk.

Eoh,” jawab Hwanmi singkat sambil mengambil kotak berisi lime meringue yang baru saja dibuatnya tadi.

“Kalau mau menggunakan si bantat, aku menaruh kuncinya di laci kedua drawer console yang ada di belakang sofa living room,” beritahu Hwanbi.

“Tidak perlu, aku pergi menggunakan taksi saja,” tolak Hwanmi halus.

Hya, Donald! Bukannya kau datang ke sini untuk meminta maaf dariku?” tanya Hwanbi yang dijawab anggukan oleh Jongsuk.

“Kalau begitu, antarkan kakakku ke Hangang Park, maka aku akan memaafkanmu,” ucap Hwanbi.

“Tidak perlu, Hwanbi-ya. Aku bisa pergi menggunakan taksi, tidak usah merepotkan tamumu ini,” tolak Hwanmi lagi.

Gwaenchana, Eonniya. Biarkan si Donald ini yang mengantarmu, lagipula dia sudah mau pulang, benarkan, Jongsuk-ah?” Hwanbi menatap Jongsuk tajam.

Jongsuk yang tahu arti tatapan itu mau tidak mau menyetujuinya. Kalau dia ingin Hwanbi memaafkannya, dia harus menuruti kemauannya. “Ne, aku sudah mau pulang,” jawab Jongsuk yang membuat Hwanbi menyunggingkan senyuman kemenangan.

“Biar saya yang mengantarkan anda,” ucap Jongsuk dengan formal. Sejak insiden salah cubit tadi, Jongsuk merasa salah tingkah dengan saudara kembar Hwanbi.

“Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu, katakan pada Appa kalau aku akan pulang sedikit terlambat,” pesan Hwanmi.

Ne, Eonni.”

“Duffy, na galkae,” pamit Jongsuk.

Ne, jal gatawa,” ucap Hwanbi sambil melambai pada Jongsuk dan Hwanmi.

Sambil menyetir, Jongsuk sesekali melirik gadis yang duduk di sampingnya itu. Benar-benar mirip Hwanbi tapi Jongsuk mungkin belum menemukan kadar cerewet yang sama.

“Ehm! Hwanbi tak pernah bercerita tentangmu,” ucap Jongsuk membuat gadis itu menoleh.

“Tapi dia sering menceritakanmu,” tanggap Hwanmi santai.

Jeongmal?” tanya Jongsuk tidak percaya.

“Tadi saja saat pulang dia tak berhenti ngomel memaki ‘Si Bebek’,” jawab Hwanmi

“Oh, kau tau panggilan itu?” Jongsuk terkekeh. “Hwanbi bilang kau mau bertemu beberapa teman SMP, benar?”

Eoh,” jawab Hwanmi. “Han Boreum juga ada di sana,” lanjutnya acuh.

Mwo?” Jongsuk terkejut. Hwanmi menyebut nama mantan pacarnya. “Jangan bilang si Duffy bercerita tentang aku dan Boreum?”

“Sayangnya iya,” tanggap Hwanmi.

Jongsuk menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak heran kalau Hwanbi sampai menceritakan affair-nya dengan teman SMP Hwanmi. Kalau Hwanbi banyak bercerita tentang dirinya, dia heran kenapa sahabatnya itu tak pernah menceritakan Hwanmi.

“Kenapa Hwanbi tak pernah menceritakanmu?”

Gadis itu menoleh dengan tatapan datar. “Molla. Jongsuk-ssi bisa bertanya nanti.”

“Apa Hwanmi-ssi juga seorang pengacara atau dosen seperti Yoon Eommonim?” tanya Jongsuk.

Hwanmi tersenyum tipis, senyum pertamanya yang Jongsuk lihat meski hanya melalui sudut matanya. “Pekerjaanku berbeda dengan Appa, Eomma atau Hwanbi. Tapi tak jauh dari dunia hukum. Aku seorang jurnalis untuk majalah Criminal.”

Ye?” Jongsuk sedikit terkejut. Saat ini kata jurnalis kriminal membuat setitik paru-parunya terasa perih. Dia tersenyum kaku. “Kau suka dunia jurnalis?”

Eoh,” jawab Hwanmi singkat.

“Tapi kenapa memilih bidang kriminal?” tanya Jongsuk ragu.

“Aku hanya tertarik dengan hukum dan kriminal,” jelas Hwanmi.

Jongsuk mengatur napas sejenak untuk mengusir perasaan yang dia tidak harapkan hinggap saat bersama orang lain. “Tapi pekerjaan itu sedikit berbahaya.”

“Berbahaya bagaimana? Selama aku menjalani pekerjaan ini di Jepang, aku tak menemui bahaya,” ungkap Hwanmi. “Lagi pula aku bukan penakut.”

Mendengar kalimat terakhir itu mau tidak mau membuat Jongsuk terkekeh. “Wah, kau sedikit berbeda dengan Hwanbi yang sangat penakut.”

Hwanmi tersenyum kecil mengingat saudaranya yang memang cukup penakut.

Sesampainya di Mangwon Hangang park, Jongsuk memohon agar mengantar Hwanmi sampai bertemu teman-temannya. Dia berkata sudah lama tidak menyapa Han Boreum. Hwanmi mengajak beberapa teman SMPnya berkumpul di sebuah kawasan tepian sungai. mereka menyewa tikar, duduk sambil berbincang dan minum. Jongsuk dan seorang gadis duduk di atas rumput tak jauh dari kumpulan itu.

“Bagaimana pekerjaanmu, Geomsanim?” tanya gadis cantik dengan tahi lalat di ujung hidungnya.

Jongsuk tersenyum kecil. “Sangat melelahkan. Bagaimana denganmu, Biseonim?” tanyanya dengan tatapan playful.

“Sangat melelahkan juga,” jawab gadis bernama Han Boreum lalu tertawa bersama Jongsuk.

Han Boreum bekerja sebagai sekretaris pribadi senator muda bernama Go Eunsoo. Jongsuk pun menanyakan kegiatan sang senator akhir-akhir ini.         Tak sampai setengah jam, Jongsuk pamit pulang meski teman-teman Hwanmi mengajaknya bergabung untuk menikmati barbeque.

“Hwanmi-ssi, maaf aku hanya mengantarmu sampai di sini. Jalga!”

Ne, Lee Geom. Gamsahamnida,” ucap Hwanmi.

ﬓ The Court ﬓ

Sabtu, 19 Oktober, 03.30 pm

Hwanbi menatap kantor polisi yang ada di hadapannya. Menurut informasi yang kemarin dia dapatkan dari Jongsuk, Kim Woobin adalah detektif di kantor polisi ini. Entah kenapa, Hwanbi merasa dia harus berterima kasih pada Woobin, karena lelaki itu telah membuat si menyebalkan Lee Jongsuk meminta maaf terlebih dulu padanya. Hwanbi juga ingin meminta maaf atas perbuatan tidak sopannya kemarin, karena tidak mempedulikan keberadaan Woobin di hadapan Jongsuk.

Dengan mantap, Hwanbi keluar dari white mini cooper-nya dan berjalan masuk ke dalam kantor polisi yang ada di depannya. Hwanbi bertanya pada salah satu petugas yang ada di sana mengenai keberadaan Kim Woobin, dan petugas itu menunjuk ke arah meja di mana seorang lelaki bertubuh sangat tinggi sedang berbicara pada salah satu petugas yang dengan patuhnya mencatat apa yang sedang dikatakan oleh lelaki tersebut.

Annyeonghaseyo, apakah benar anda Kim Woobin Hyeonsanim?” tanya Hwanbi menyela pembicaraan serius yang tengah terjadi. Lelaki tinggi yang sedang berdiri membelakangi Hwanbi menoleh. Karena tubuh lelaki itu sangat tinggi, Hwanbi terpaksa harus mendongakan kepalanya agar bisa melihat dengan jelas wajah lawan bicaranya.

Saat itu juga, Hwanbi kembali merasakan ada yang sudah menekan tombol pause pada remote kehidupannya. Lelaki ini adalah lelaki yang dia temui beberapa hari yang lalu di Hollys Coffee. Hwanbi ingat betul. Garis rahangnya yang tegas, matanya yang tajam, alis tebal yang menjorok ke batang hidungnya, keningnya yang tertutup poni, dan dagunya yang seperti pria-pria Eropa, masih tergambar jelas dalam benaknya. Bagaimana bisa lelaki ini adalah sahabat Jongsuk? Dunia benar-benar sempit.

“Kau?” Woobin menunjuk Hwanbi. Sepertinya lelaki ini mengenalinya.

Ne, aku adalah gadis yang kemarin mengomeli Lee Jongsuk di Hollys Coffee dekat pengadilan. Namaku Jo Hwanbi,” Hwanbi mengenalkan dirinya. Sebenarnya Hwanbi ingin mengatakan kalau sebelumnya mereka pernah bertemu di tempat yang sama, tetapi Hwanbi mengurungkan niatnya, karena kejadian itu berlalu dengan sangat cepat. Woobin pasti tidak akan mengingatnya.

“Ah, iya, Jongsuk sudah memberitahuku namamu,” ucap Woobin dengan suara beratnya yang mampu membuat kepala Hwanbi berdenyut dan bulu di seluruh tubuhnya meremang.

“Ada apa mencariku?”

“Aku ingin mengucapkan terima kasih sekaligus maaf padamu,” ucap Hwanbi dengan senyum terbaiknya.

“Terima kasih? Maaf? Untuk apa?” tanya Woobin dengan satu alis terangkat.

“Terima kasih karena sudah menyuruh Jongsuk meminta maaf padaku, dan juga maaf karena kemarin aku tidak menghiraukan keberadaanmu saat mengomeli Jongsuk,” jawab Hwanbi masih dengan senyum andalannya.

“Ah, itu bukan apa-apa, aku tahu kau kemarin sedang kesal, wajar kalau kau tidak melihatku,” ucap Woobin sambil mengibaskan sebelah tangannya, menandakan hal tersebut bukanlah hal yang penting.

Eigomonina… Bagaimana bisa dia begitu menarik?” gerutu Hwanbi dalam hati. Woobin benar-benar tipe idealnya. Bagaimana rasanya kalau lelaki ini menjadi kekasihnya?

“Apa kau mencariku hanya untuk mengatakan hal tadi?” pertanyaan Woobin berhasil menarik Hwanbi kembali menapak bumi.

N-ne,” gagap Hwanbi. Sial! Kenapa aku selalu salah tingkah seperti ini? gerutu Hwanbi dalam hati.

Merasa keadaannya tidak begitu baik, Hwanbi memutuskan untuk segera pergi dari sini. Dia tidak berani membayangkan hal bodoh apa yang akan terjadi kalau dia semakin lama berada di dekat Woobin. “Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu, annyeonghigeseyo, Kim Hyeongsa,” Hwanbi buru-buru pergi meninggalkan kantor Woobin.

Saat sudah berada di luar kantor polisi, Hwanbi menyambar smartphone-nya dan jemarinya yang lentik dengan lincah mengetik sebuah pesan untuk Jongsuk.

Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju kantormu, ada yang perlu aku bicarakan denganmu ASAP.”

Setelah memastikan tidak ada yang salah, Hwanbi menyentuh ikon send dan pesan untuk Jongsuk langsung terkirim. Tidak lama berselang, ada sebuah pesan balasan dari Jongsuk.

Kita bertemu di Hollys Coffee, aku menunggumu di sini.”

Jemari Hwanbi yang lentik kembali menari di atas layar smartphonenya mengetik balasan untuk Jongsuk. Setelah mengirim balasan, Hwanbi lalu melangkahkan kakinya menuju white mini cooper-nya dan melajukan si bantat menuju Hollys Coffee, coffee shop langganan Jongsuk.

ﬓ The Court ﬓ

04.15 pm

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang Kim Woobin?” tanya Hwanbi saat dia sudah duduk bersama Jongsuk di Hollys Coffee.

“Untuk apa aku memberitahumu soal teman nongkrongku? Lagipula apa kau pernah bertanya?” Jongsuk balas bertanya.

Hwanbi mendengus kencang. sepertinya Jongsuk ingin membalasnya. Kemarin dia juga melakukan hal yang serupa padanya saat Jongsuk bertanya mengenai kembarannya.

“Apa kau menyukai Woobin?” tebak Jongsuk tepat sasaran.

Hwanbi meringis kecil. “Well, he is totally my type, tubuh tinggi atletis, dan bersuara berat.”

“Tapi menurutku wajahnya aneh,” ucap Jongsuk sambil menyesap lattenya.

“Menurutku malah wajahnya unik, matanya tajam, dagunya seperti pria Eropa, rahangnya yang tegas, aku menyukainya,” balas Hwanbi sedangkan Jongsuk hanya geleng-geleng kepala. Sahabatnya ini memang mudah sekali jatuh cinta pada lelaki bertubuh tinggi dan bersuara berat.

“Tapi kenapa kau tidak menyukai penyidik Lee? Bukannya penyidik Lee juga bertubuh tinggi dan bersuara berat?” tanya Jongsuk. Seingatnya Lee Soohyuk penyidiknya memiliki kriteria ideal Hwanbi.

“Aku tidak merasakan hatiku berdesir saat bersama penyidik Lee, berbeda dengan detektif Kim Woobin,” jawab Hwanbi santai. “Lagipula Soohyuk adalah sahabatku, dan kalau aku menyukainya itu sama saja incest.”

Jongsuk tergelak. “Hwanbi-ya, bagaimana kalau kau mengenalkanku pada teman pengacaramu yang cantik? Dan sebagai balasannya aku akan mengenalkanmu pada Woobin.”

Shireo!” tolak Hwanbi keras. “Kau ini playboy, aku tidak mau kau membuatku malu.”

Jongsuk tertawa. Hwanbi sampai hafal nama perempuan yang pernah berkencan dengan sahabatnya itu.  Kalau bukan anak konglomerat, pasti pegawai perusahaan besar, selebriti juga pernah. Jongsuk bukan lelaki komersil, tapi Hwanbi tidak tahu jelas kenapa selera Jongsuk cukup tinggi dengan lebih menyukai anak konglomerat dan pegawai perusahaan besar.

“Kalau begitu bagaimana dengan saudara kembarmu?” Jongsuk mencoba untuk memancing Hwanbi agar mau mendekatkannya dengan Hwanmi. Sebenarnya Jongsuk hanya ingin bergurau dengan Hwanbi.

Hwanbi yang sedang menyesap green teanya tersedak. “Kalau kau berani, coba dekati sendiri. Aku jamin dia akan menolakmu.”

“Kalau kau tidak mau mengenalkanku dengan temanmu, jangan harap aku akan mendekatkanmu dengan Woobin,” ucap Jongsuk dengan wajah mengancam.

“Tanpa bantuanmu, aku bisa mendekati Woobin sendiri,” balas Hwanbi ringan.

“Kalau kau bisa membuat Woobin melirikmu dalam waktu satu bulan, aku akan topless sprint di pinggir sungai Han,” Jongsuk mulai bertaruh. Karena dia yakin, Woobin sahabatnya tidak akan melirik Hwanbi.

Call!” Hwanbi menyetujui taruhan dari Jongsuk tadi. “Dan kalau kau bisa membuat Hwanmi menyukaimu, minimal membuat dia move on dalam waktu satu bulan, aku akan libur menggunakan high heels selama seminggu.”

Deal!” Jongsuk mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Hwanbi. Semenjak kuliah dulu, mereka berdua sering bertaruh, dan kali ini mereka berdua kembali bertaruh konyol.

Jamkan, kau bilang move on?”

Hwanbi tersenyum tipis lalu menyesap green tea sebelum menjawab pertanyaan Jongsuk. “Sepanjang hidupnya Hwanmi hanya menyukai seorang namja di dunia ini. Dia juga hanya pernah pacaran dengan lelaki itu. Sudah dua tahun mereka putus, Hwanmi masih belum mengencani lelaki manapun.”

Jongsuk terkekeh. “Hya! Kenapa kalian begitu berbeda? Yang satu mudah jatuh cinta, yang satu susah jatuh cinta.”

“Biarpun aku mudah jatuh cinta, tapi aku hanya memiliki tiga orang mantan kekasih,” protes Hwanbi.

“Memang benar, tetapi teman kencanmu tidak terhitung, Duffy,” gurau Jongsuk.

“Memangnya yeoja yang kau kencani sejak kuliah bisa dihitung, huh?” balas Hwanbi.

Jongsuk hanya terkekeh. “Memangnya pria seperti apa yang membuat saudaramu buta?”

“Pernah dengar Dennis Oppa?”

Jongsuk mengangkat alis. “Maksudmu Dennis O’neil?”

Majja,” jawab Hwanbi sambil mengangguk.

Jongsuk tertawa kecil. “Wah, selera saudaramu cukup tinggi.”

Jongsuk mengenal nama Dennis Joseph O’neil, lelaki tampan setinggi Woobin yang punya darah campuran Amerika-Korea. Hwanbi mengenal Dennis sejak remaja karena lelaki itu cukup dekat dengan saudara sepupu Hwanbi yang juga kembar, Jung Daeryong dan Jung Soryong.

“Bukankah dia sudah lama kembali ke Amerika?”

Eoh. Sejak itu mereka putus. Sebenarnya dia mengajak Hwanmi menikah tapi Hwanmi tak bisa meninggalkan Harmeoni. Dennis Oppa juga harus kembali ke Amerika karena terikat pekerjaan,” jelas Hwanbi panjang lebar.

“Woah, cukup menantang.”

Hwanbi memicingkan mata, “Kau tak percaya diri untuk mendekati Hwanmi?” ledeknya.

Jongsuk tertawa. “Jangan panggil aku Lee Jongsuk kalau nyaliku menciut karena kisah dramatis itu.”

Di balik taruhan iseng itu, Hwanbi sedikit berharap kalau Hwanmi benar-benar membuka hatinya untuk lelaki lain walaupun untuk si jaksa playboy itu. Kalau Jongsuk berani macam-macam, Hwanbi tak akan tinggal diam.

By the way, Hwanmi itu seorang jurnalis majalah Criminal, kan?” tanya Jongsuk direspon anggukan Hwanbi. Jongsuk merasa napasnya sedikit berat. “Apa kau tak merasa itu pekerjaan berbahaya? Dia kan bisa terlibat dengan penjahat. Kalau hanya pencuri kelas teri tidak masalah, kalau penjahat besar bagaimana?”

Hwanbi memutar bola matanya lalu menatap Jongsuk. Dia tidak aneh dengan kalimat panjang yang sering keluar dari mulut lelaki itu kalau ingin mengetahui sesuatu atau mengungkapkan pendapat. “Dia sudah bekerja di bidang itu di Jepang selama hampir dua tahun. Lagi pula dia tak pernah mengejar penjahat sepertimu dan Soohyuk.”

“Bukan begitu. Kau bujuk saja dia agar tidak menulis berita tentang kejahatan orang-orang besar. Atau kalau dia menemukan bukti suatu kejahatan, sebaiknya managemen majalah itu yang melapor,” ungkap Jongsuk membuat Hwanbi memicingkan mata menatapnya. “Wae?”

“Donald, apa kau memang menyukai Hwanmi sampai mengkhawatirkannya seperti itu?” tanya Hwanbi. Dia agak heran kenapa Jongsuk mengkhawatirkan Hwanmi seperti itu.

Jongsuk menyadari apa yang tadi dia ungkapkan secara spontan membuat Hwanbi salah faham. Dia pun memasang senyum aneh agar Hwanbi tidak curiga. “Aku tidak sepertimu yang mudah jatuh cinta. Karena dia saudaramu, aku sedikit khawatir. That’s all.”

Hwanbi melihat sahabatnya itu menyesap latte-nya dengan santai. Tapi gadis itu sempat menangkap tatapan gamang Jongsuk walau itu sangat singkat.

ﬓ The Court ﬓ

 07.35 pm

Seorang perempuan berjalan menghentakan bootsnya menaiki tangga sebuah cafe di Seonyudo, pulau kecil di daerah barat sungai Han. Tubuh semampainya dibalut skinny pants warna ivory dan trench coat hitam. Dia melihat sosok lelaki yang dikenalnya duduk di meja pinggir taman.

Lelaki berkaki panjang itu menoleh, menyadari seseorang berjalan ke arahnya. Dia melempar senyum manis dan berdiri menyambutnya.

Have a seat, Yoojin Noona,” ucap lelaki bertubuh tinggi dan atletis itu sambil menunjuk kursi.

Perempuan itu duduk di kursi itu dan dia melihat lelaki yang berwajah cukup tampan itu memanggil pelayan. Dia bertanya Yoojin mau memesan apa.

“Kau sedang tidak sibuk, Soryong-ah?” tanya gadis bernama Jun Yoojin itu bergitu si pelayan pergi.

Lelaki yang dipanggil Soryong itu tertawa kecil. “Kenapa Noona yakin kalau aku Soryong? Bisa saja aku Daeryong,” ucap Soryong menyebut saudara kembarnya.

Perempuan berambut lurus melewati bahu itu menyeringai. “Kau Jung Soryong. Aku akan tetap tahu walau kau menyamar menjadi saudaramu beberapa kali.”

Soryong tertawa. Lelaki berbibir seksi yang punya tatapan teduh itu menatap Yoojin intens. “Tapi Noona tak pernah mengatakan hal itu waktu kita kencan beberapa kali. Apa Noona memang mau menganggapku Daeryong?”

Mworago? Kau tetap Soryong dan Daeryong tetap Daeryong.”

“Ah ara. Karena Noona merindukan Daeryong yang sangat sibuk, jadi tak pernah menganggapku sebagai diriku,” goda Soryong.

Yoojin menatapnya tajam. “Sebenarnya kenapa kau mendadak memintaku bertemu di sini? Dan bagaimana kau tahu nomor baruku?”

“Hwanbi,” jawab Soryong. “Ah, entah Hwanmi. Pokoknya salah satu dari mereka.”

Soryong sengaja pura-pura bingung siapa yang memberinya nomor ponsel Yoojin. Dia khawatir Yoojin akan memarahi sepupunya itu. Lelaki yang dikenal sebagai atlit renang itu melirik arlojinya.

Noona, boleh aku bertanya? Andai dulu saat kau patah hati karena kekasihmu tunangan dengan aktris itu, aku menghiburmu dengan mengajarimu renang, apa Noona mau menjadi pacarku?”

Yoojin mendengus kencang. “Pertanyaan macam apa itu, Soryong-ah?”

Pikiran Yoojin melayang pada kejadian satu setengah tahun lalu saat dia tiba-tiba diputuskan pacarnya yang seorang sutradara. Lelaki itu bertunangan dengan Choi Inmin, aktris sekaligus keponakan pemilik agensi tempat mantan pacarnya bekerja. Yoojin patah hati tapi Daeryong berusaha menghiburnya. Sepupu si kembar Jo yang berprofesi sebagai racer Formula 2 itu mengajak Yoojin belajar menyetir di malam pesta pertunangan itu. Yoojin tertidur karena kelelahan dan dia terbangun di kamar Hwanbi pagi harinya. Sejak itu, Daeryong sering menyempatkan waktu untuk mengajar Yoojin menyetir. Meski Yoojin akhirnya belajar sendiri saat Daeryong sibuk dengan balapannya.

Noona!” Soryong melambaikan tangannya. “Apa perlu berpikir lama untuk menjawab pertanyaan tadi? Atau ganti saja. Apa kau menyukai kami berdua?”

Micheosseo?” tukas Yoojin sambil melotot.

Soryong terkekeh. “Kalau itu berat, Noona tidak perlu jawab. Hanya saja Noona harus tahu satu hal. Eh, maksudku dua hal.”

Yoojin mengernyitkan alis. “Bicara yang jelas, Little D!” pinta Yoojin lalu menyesap minumannya.

“Daeryong menyukai Noona sejak remaja. Tapi dia enggan mendekati Noona yang digemari banyak pria,” jelas Soryong pelan. “Dia baru ada kesempatan mendekati Noona saat itu. Dia gila setiap tidak bisa menyempatkan waktu untuk berkencan bersama Noona. Aku pikir Noona bisa mati kesepian kalau terus berpacaran dengan Daeryong. Jadi aku mulai berperan sebagai dirinya.”

Yoojin tertawa kecil. “Sekali dua kali menyamar, membuatmu ketagihan, eoh? Aku hitung kita berkencan tujuh kali.”

Soryong juga tertawa. “Noona boleh percaya atau tidak kalau aku juga menyukai Noona yang sama sekali bukan tipeku.” Lelaki itu mendapat tatapan tajam Yoojin. “Ehm, maksudku, aku suka yeoja yang cute dan tidak berantakan.”

Yoojin tersenyum tipis. “Lalu?”

“Lalu, Noona juga harus tahu sesuatu. Daeryong mengajak Noona berpisah bukan karena kesibukannya. Tapi dia tahu penyamaranku.”

Mwo?” Yoojin terbelalak. Gadis itu tidak pernah bicara pada siapapun tentang Soryong bahkan pada Hwanbi. Dia baru bercerita pada Hwanbi beberapa bulan setelah mereka putus.

Mianhae, aku membuat hubungan kalian berantakan. Karena itu, aku ingin menebus dosaku.”

Yoojin menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua lengan di dada. “Apa yang mau kau lakukan, Jung Soryong?”

Soryong melihat ke belakang Yoojin. Dia tersenyum tipis. ‘Tepat sekali,’ gumannya. Dia melihat sosok seorang lelaki bertubuh tinggi yang punya wajah sama persis dengannya.

“Apa kau memintaku datang kemari untuk pamer gadismu yang baru, Little D?”

Yoojin menoleh ke belakang. Dia mendapati sosok lelaki berpenampilan British style dengan jeans, kemeja dan  jas. Lelaki itu menatap Yoojin.

“Yoojin Noona?

Soryong menarik lengan saudaranya untuk duduk di depan Yoojin. “Duduklah, Daeryong-ah,” ucapnya santai. Lalu dia mengeluarkan dua lembar tiket dan menaruhnya di meja. “Semoga kalian menikmati cruising-nya.” Soryong menepuk bahu Daeryong dan berpamitan pada Yoojin.

image

Daeryong dan Yoojin sama-sama menyeringai menatap Soryong melangkah menuju pintu keluar. Daeryong mengambil tiket itu dan membacanya. Tanpa sepengetahuannya, Soryong mengatur kencan untuk mereka. Berlayar malam hari di sungai Han dan menikmati dinner di sana. Benar-benar rencana kencan romantis.

ﬓ The Court ﬓ

07.33 pm

Lee Jongsuk baru sampai di dalam apartemennya di kawasan Hapjeongdong. Dia melirik jam dinding. Jongsuk bermaksud makan malam setelah mandi. Dia memeriksa setiap sudut living room dan memastikan barang-barangnya tidak bergeser sesenti pun. Lalu dia beranjak ke pintu balkon dan juga memperhatian setiap jengkal dinding dan lantai. Setelah memastikan tak ada yang berubah, dia kembali masuk dan mengunci pintu balkon. Dia pun masuk ke dalam kamarnya sambil membuka dasi.

Sepuluh menit kemudian, lelaki itu keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi pinggang sampai lutut. Dengan rambut yang masih basah, dia menatap dinding kamarnya yang dilapisi rak buku. Jongsuk mendekati dinding itu dan mendorong rak buku tersebut. Matanya memicing seiring tatapannya yang tampak serius. Di balik rak buku yang bisa berputar, dia menaruh sebuah white board berisi beberapa foto, kertas-kertas dan tulisan-tulisan tangannya. Jongsuk menatap foto seorang lelaki berumur sekitar 67 bersama lelaki lain yang berumur sekitar 60. Desiran jantungnya terasa panas. Matanya beralih pada foto pria lain dengan kisaran umur mendekati 60 dan seorang perempuan berusia lewat 40. Di sana juga ada beberapa foto dua orang yeoja yang tampak sangat akrab.

Jongsuk melihat foto ketiga pria itu dengan tatapan tajam. Mata sipitnya memicing dan napasnya terasa berat. “Aku tak bisa hidup tenang dan juga tak akan mati sampai menangkap kalian,” guman lelaki itu.

ﬓ The Court ﬓ

07.55 pm

Yoojin berjalan bersama Daeryong menyebrangi Seonyugyo yang juga dikenal dengan sebutan Rainbow Bridge, jembatan yang hanya digunakan pejalan kaki untuk menyebaring sungai Han agar sampai ke pulau Seonyu. Cahaya dari jembatan yang melengkung bagai busur panah itu memantul di sungai. Di malam cerah itu, banyak pengunjung menikmati waktu santai di sekitar sana. Yatch akan berlayar jam 8.20 dan mereka akan sampai di kapal sebelum jam itu.

Ponsel Yoojin berdering. Dia mengeluarkan smartphone dan membuka flip cover warna navy. Yoojin menatap layar yang memperlihatkan potongan sebuah MV di bagian chorus.

I norael deutgo dorawa, I norael deutgo dorawa, I norael deutgo dorawa

Eodie itdeun nuguwa itdeun,
Jalmotaesseuni dorawa, huhoehanikka dorawa, I norael deutgo dorawa
Eodie itdeun nuguwa itdeunjiome back when you hear this song



Daeryong tidak sengaja melihat video ringtone dari sebuah MV 2PM berjudul I norael deutgo dorawa itu karena Yoojin menatap ponselnya cukup lama. Yeoja itu tampak terkejut. Daeryong tak melihat nama kontak si pemanggil. Tapi Yoojin sangat mengenali nomor itu.

“Tidak dijawab, Noona?”

Yoojin tersentak dan dia sadar sudah terpaku cukup lama sampai video MV itu berputar lagi pada awal chorus. “Ah ye, jamsiman.”

Yoojin pun menepi di pinggiran jembatan dan menggeser icon jawab.

Yeoboseyo!” sapanya setelah terlebih dulu mengatur napas.

Daeryong berdiri sekitar dua meter dari Yoojin.

Mwora?” Yoojin terkejut. “Oppa mau pergi ke mana?”

“Pergi jauh dari sini. Aku menghubungimu untuk mengucapkan salam perpisahan,” ucap seorang lelaki dengan suara rendah dan berat.

Yoojin memegang keningnya. Ini terlalu tiba-tiba. Dia baru saja bertemu salah satu mantan pacarnya dan akan menikmati makan malam romantis di atas pesiar. Kini dia berbicara dengan mantannya yang lain, Joo Sangwook, yang sudah bertunangan dengan seorang aktris.

Beberapa saat kemudian, Yoojin menghampiri Daeryong.

“Daeryong-ah, mianhae. Aku harus pergi,” sesal Yoojin.

Daeryong melihat kepanikan di wajah Yoojin. “Ada apa? Noona mau pergi ke mana?”

Yoojin bingung bagaimana menjawabnya. “Ada urusan darurat. Nanti aku menghubungimu. Na galkhae.”

Noona!”

Yoojin mengabaikan panggilan Daeryong. Lelaki bertubuh tinggi itu pun hanya bisa tersenyum kecil. Dia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan.

“Soryong-ah, Yoojin Noona kabur. Tampaknya dia tak mau berkencan denganku. Terima kasih atas usahamu,” ungkap Daeryong.

“Kau di mana?”

“Masih di Seonyugyo. Sebaiknya kita pergi main billiard saja,” ucap Daeryong.

Setelah mengakhiri percakapannya, Daeryong memberikan dua tiket itu pada sepasang remaja yang bergandengan mesra. Mereka heran sekaligus senang mendapat tiket itu.

Yoojin mengemudikan Sportage hitamnya cukup kencang. Dari nada bicara Sangwook, dia tahu kalau mantannya itu ada masalah berat. Sangwook terdengar putus asa. Gadis itu mengingat kembali percakapannya tadi.

Keundae, kenapa Oppa harus pergi dari sini?” tanya Yoojin.

Yoojin bisa mendengar lelaki itu menarik napas berat. “Sebenarnya aku tidak tahan, Yoojin-ah. Aku bisa gila kalau terus berada di sini. Kau tahu aku ada di mana? Di apartemen yang dulu aku beli, kau memilihnya.”

“Kapan Oppa akan pergi?” tanya Yoojin bingung.

“Malam ini juga.”

08.27 PM

Yoojin menekan bel di pinggir pintu apartemen nomor 87 itu. Tak sampai satu menit, pintu itu dibuka. Yoojin mendapati sosok mantan pacarnya yang berproesi sebagai CEO sebuah tallent agency itu.

Good eve, Yoojin-ah. Oraemani. Masuklah!” ucap namja yang mengenakan kemeja hitam dan celana abu tua itu.

Perasaan Yoojin berdebar memasuki apartemen yang tidak Sangwook tinggali itu. Apartemen yang mereka beli bersama sebulan sebelum mereka berpisah. Sangwook berencana pindah ke sana setelah menikahi Yoojin.

Lima menit berlalu dan keduanya membisu duduk di sofa living room.

Oppa sudah berencana mau minum wine di sini?” tanya Yoojin saat melihat sebuah paperbag berisi red wine dan dua gelas wine yang sudah berisi es balok.

Lelaki yang tampak manly itu tersenyum tipis tapi dia tetap tak bisa menyembunyikan pikirannya yang kacau. “Tadinya aku ingin minum sendiri tapi kau datang. Jadi aku siapkan gelas lain.”

Keureom, aku akan menuangkannya,” ucap gadis itu.

Ne, kamsahamnida,” tanggap Sangwook.

Yoojin pun mengeluarkan botol wine itu dari paperbag hitam. Gadis itu meringis membaca tulisan putih ‘Tango’, nama sebuah toko wine yang cukup Yoojin kenal, dan di sana juga tertulis Chteau Lafite Rothschild Pauillac 1996, sebuah nama wine mahal kesukaan Sangwook. Dia membuka tutup botol dan menuangkannya pada dua gelas kosong itu. Perempuan itu sadar kalau Sangwook sedang menatapnya. Namja itu bergeser dan duduk lebih dekat di samping Yoojin. Dia langsung mencengkarm pergelangan tangan kanan Yoojin.

“Yoojin-ah, bogoshippo,” ucap Sangwook dengan tatapan serius.

Yoojin tersenyum kaku. “Oppa, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Oppa…”

Sangwook memeluk Yoojin seketika, gadis itu tersentak. Yoojin bisa merasakan pelukan erat itu sangat emosional.

Oppa…” panggil Yoojin.

Sangwook menarik diri dan kini dia menatao Yoojin dengan jarak yang sangat dekat dengan tatapan yang menunjukan luapan emosi tak terbendung. Dia mendekatkan wajahnya. Yoojin terkejut dengan gerakan lambat lelaki itu dan dia terpaku meski tahu maksud Sangwook, tentu untuk mencium bibirnya. Bibir mereka nyaris bertemu.

I norael deutgo dorawa, I norael deutgo dorawa, I norael deutgo dorawa

Yoojin mendorong Sangwook dan meraih ponselnya dari dalam tasnya. Sebuah nomor tak dikenal tapi Yoojin merasa ini alasan tepat untuk menghindari ciuman Sangwook.

“Jawab saja,” sesal Sangwook.

Yoojin hanya mengangguk pelan dan dia menjawab panggilan itu. “Yeoboseyo!”

“Yoojin-ah. I really need your help. Can you please come here?”

Yoojin mengenal siapa yang memanggilnya, suara seorang gadis yang sangat dia kenal. “Waeyo? Kau di mana?”

“…”

Ne. Wait for a moment please. I’ll be there. Tenanglah, ara?”

Sangwook menatap Yoojin yang langsung berdiri.

Mianhamnida, Oppa. Aku harus segera pergi,” ucap Yoojin. Dia membungkuk dan segera pergi tanpa menunggu respon Sangwook.

Lelaki itu menyeringai dan membanting tubuhnya ke sandaran sofa. “Dia masih sama.”

ﬓ The Court ﬓ

Minggu, 20 Oktober, 12.00 pm

Jo Sungha sedang duduk bersama dengan Yoon Yoseon istrinya, dan juga kedua putri kembarnya Jo Hwanmi dan Jo Hwanbi di living room sambil menonton acara siaran berita. Jo Hwanmi duduk di atas karpet sambil mengetik dengan laptopnya yang diletakkan di atas coffee table. Sedangkan Jo Hwanbi merebahkan kepalanya dipangkuan Yoon Yoseon.

Jo Sungha menunggu berita sekaligus panggilan telepon. Dua jam lalu dia mendapat berita dari anak buahnya kalau CEO Buenos Entertaiment ditemukan tewas. Mereka menatap layar LED yang menampilkan seorang pembaca berita membacakan sebuah berita penting.

“Breaking news, tadi pagi tepat pukul 07.00 KST, Joo Sangwook isanim, CEO Buenos Entertainment, ditemukan tewas di apartemennya yang berada di kawasan Seongsam-dong. Polisi masih menyelidiki penyebab dari kematiannya, dan dugaan sementara adalah Jo Sangwook melakukan bunuh diri…

Sebagai kepala kantor kepolisian kota Seoul, dia harus mengetahui perkembangan berita kasus itu.

“Bukankah dia mantan pacar Yoojin?” tanya Yoon Yoseon.

Mwo?” Hwanbi dan Hwanmi langsung duduk tegak menatap TV lebih serius.

 

Jo Sungha baru ingat kalau Joo Sangwook memang mantan pacar Jun Yoojin, sahabat Hwanbi. Hwanmi segera menyambar ponsel untuk menghubungi rekan kerjanya tentang kejadian itu.  Sungha bangkit dari duduknya, bermaksud menghubungi anak buahnya untuk menanyakan informasi lebih lanjut. Di saat yang sama, Smartphone milik Hwanbi berbunyi. Hwanbi melirik layar smartphone-nya dan melihat nama Jun Yoojin Eonni muncul di sana.

Ne, Eonni?”

“Hwanbi-ya, aku berada dalam masalah, bisakah kau sekarang datang ke kantor polisi Mapo?” terdengar suara Yoojin yang panik.

Bagai disengat lebah, Hwanbi bangkit dari duduknya. “Eonni tunggu di sana, dan jangan mengatakan apapun sampai aku datang,” Hwanbi langsung memutuskan pembicaraannya dengan Yoojin dan menghambur menuju kamarnya.

Hya, Jo Hwanbi! Kau mau ke mana?” tegur Yoon Yoseon.

Najuge, Eomma. Na galke!” Hwanbi berlari keluar dari rumahnya.

ﬓ To be Continued ﬓ

Advertisements

23 thoughts on “Law of Natures 1 : The Court

  1. konfliknya rada berat, msti tenang bacanya,
    klo g, psti g bakal bingung dan g ngerti jlan ceritanya.
    tp menarik……hehehe

  2. Annyeong Eonnideul ^^
    Jeongmal mianhae baru nongol *silakan timpuk saya* #hiks
    Akhirnya saya bisa baca project ff baru eonnideul

    This is good idea. FF roman campur crime. Jujur, saya rada bingung dengan FF yang berbau crime. Apalagi tentang pembunuhan *toeng* saya nyerah hehehehe
    Tapi, suer dech pengen banget bisa nulis FF genre beginian. Kayaknya harus banyak baca cerita tentang pembunuhan. *nyontek Ghoso Aoyama*

    Tapi cast-nya saya suka banget. Kim Woobin nya keren, Lee Jungsuk yang imut, Lee Soohyuk yang walaupun udah sering liat, masih asing hehehe
    Si kembar Hwanbi dan Hwanmi. Serupa tapi tak sama. Hwanbi cenderung ceplas-ceplos . Hwanmi kebalikannya lebih pendiem. Kalo Jun Yoojin masih belum tahu karakternya di sini seperti apa.

    Cerita tentang si kembar, mengingatkan saya pada cerita manga milik Bisco Hatori hehe. Tapi mereka cenderung bersifat eviil hehehe

    Rada kaget karena Inmin Ahjumma ikutan nongol di sini. tapi, kayaknya dia rada mudaan dari pada yang di KO wkwkwk 😀

    Karakternya banyak, jadi bacanya harus pelan-pelan —> ini kelemahan saya #hiks

    o.O apa yang terjadi dengan Sangwook? Pembunuhan kah atau bunuh diri? Well, harus baca next chapter nih..

    Ok, next, next Eonnideul

    LOVE

  3. That’s great idea with great casts !
    Yoojin Jun unnie thanks 4 informing me about this blog.
    I just know about lee jongsuk 😦
    FF ini tidak monoton, alur sangat baik

    What the hell? Yoojin Jun unnie kemungkinan besar akan mnjd tersangka pembunuhan jo sang wook?

    I love your job & I will keep reading this FF

  4. Waahhhhh Inii heheeeEpepp DAEBBAAAKK Bngtt..

    Pemain CAST nya Banyaakk Bngt, Makannya Supya gakk Lupa Nae Catet Di buku beserta statusnya sbg siap di situ..

    Jongsuk trnyta gkk twu klu Hwanbi shabatnya Pnya saudara kembar Yg mirip bngt sama dia..

    luccuu bngt pas jongsuk salahh orang.. ampe di cubit cubit pipinyaa hwanmi.. hahhaahaa

    mereka sahabatan bner bnerr luccuu.. DONALD and DUFFY 🙂

    yuunniikkk 😀

    DAEBBBBAAAKKKK THHHOOOUUURRRRRR 🙂

  5. Thank’s sebelumnya buat eon chelsea yang udah inbox in aku alamat ff ini ..

    Ini ff series baru ya? Whoa, setelah KO tamat, series baru dengan cerita berbeda muncul ..

    Sangat berbeda dengan KO? Sebenernya saya sama sekali gk terlalu tahu soal bola dan sekarang soal pembunuhan ..

    Tapi berkat eonni2 exclusive saya jadi tahu segala hal yang saya gk tahu ..
    Dari membaca ini, saya suka dengan cara penggambaran tokoh dan juga latar ceritanya ..

    Saya benar2 menyukai semuanya .. Ada si kembar Jo yang lucu sebenarnya .. Soryoung dan Daeryoung ..

    Saya gk tahu harus komen apalagi, ini benar2 menarik, saya suka ..

    1. Annyeong Winda.
      Nice always seeing you here.
      Soal KO, saya udah pernah bilang kalau komen-komen kamu jadi inspirasi karakter PSR 😉
      Iya crime jadi genre baru buat kami
      Semoga FF ini bisa dinikmati banyak orang

      Kamsahamnida

  6. Hello the Cuties and Chelsea!

    Finally done with our new project! Thank God!
    Saya sempet down tapi kita melewati semua itu. Part 1, setelah beberapa drabble pengenalan, wajar kalau semua bilang membingungkan karena baru awal. Pengalaman kita kalau di awal memang begitu.

    Itu Hijo baru-baru awal sudah menebar kebencian. Hedeh! Dan Hwanbi yang beruntung bisa deket sama dua namja sejak kuliah cieeee. Boleh dong satu buat saya. Terserah yang mana. *digetok.

    Ya, karena ini kasus, bacanya harus diulang-ulang. Dan setuju seperti yang Kuruta bilang, yang duduk di pojok itu memang sengaja diletakkan di sono meskipun ia berusaha memakai barang-barang cute tapi lepek tetep aja lepek wkwkwkwkwkw.

    Kerjaan semua keren, pengacara, jaksa, polisi, penyidik wohoooo. Benar-benar beda dengan KO. Saya melihat ada genre komedi di sini.

    Karena saya orang yang baca pertama walau tidak diberi penanda, saya tahu mana yang ditulis oleh Chelsea mana yang the cuties wkwkwkwkw. Perasaan yang sama waktu saya baca kolaborasi kalian berdua di Amortentia.

    1. Annyeong Eonni
      Sepintas ini tampak lebih simple dari KO
      Tapi ini lebih berat 😦 coz KO itu tentang dunia yang kita gemari sejak lama.
      Sedangkan crime, kita tidak menyenangi crime. kekkeke
      Well, keep supporting each others
      Kamsahamnida, Eonni.
      Tapi jangan bahas Amortentia yang cuti puanjaaang #ngumpet

  7. Case opened!
    KO tamat, kasus pembunuhan dibuka. 2 series disini lain daripada yang lain.

    Penggambaran karakter Jongsuk disini merupakan orang yang dengan pikiran panjang. Saya paham mengapa ia mengambil jalan agar terdakwa memilih jalan yang ia usulkan.

    Tadinya saya agak bingung dengan para anak kembar disini. Setelah dibaca hingga akhir baru saya paham karakter masing.

    Yoojin ini sepertinya disini jadi orang yang dikambinghitamkan. Banyak motif tersembunyi disini. Apa ada hubungannya dengan pekerjaan Yoojin? Aatau ada hubungannya dengan foto-foto yang Jongsuk lihat? Hmm

    Kematian Sangwook di part ini belum bisa dikategorikan bunuh diri atau pembunuhan terencana. Dugaan kuat saya pembunuhan terencana tapi hasil forensik belum dikemukakan di part ini jadi dugaan masih 50%.

    Semoga di part selanjutnya menjelaskan tentang keadaan Sangwook saat ditemukan tewas dan hasil forensik yang membuat reader menebak-nebak tentang kasus ini.

    Saya membayangkan orang bersemayam di “pojok Hello Kitty” itu raut wajahnya seperti apa. Pasti benar-benar freak orangnya. Kata pojok disana seperti menyiratkan bahwa orang itu memang harus diletakkan di pojok ruangan agar tidak mengganggu pemandangan.

    Setelah ini, apakah waktunya Hollys Coffee team merapat? Hha

    1. Annyeong my nice sista 😉
      Kita lagi mencoba genre crime
      Kalo kamu kan udah ga asing sama genre crime and mystery
      Hollys Coffee team lebih sedikit dari Paradise FC dan Suwon Bluewings tapi saya ngaku ini tantangannya lebih berat 😦

      I always like the way you review a fiction. Kamu menuliskan apa yang membekas di kepala dan kamu fahami. Seperti biasa, kadang komenmu bikin kita ngakak (di sini soal makhluk mojokertensis)
      Saya masih inget waktu baca komen kamu tentang plan hadiah Inmin. Kamu nulis Inmin masuk kotak dan tadaaa!! 😀

      Thanks alot

  8. Waktu aku baca soal jung suk yang bilang “kalo mengaku hukuman lbh ringan” itu jd inget scene di “I hear Your voice” dan itu bnran dpt feelnya eonnie-ya!
    Brasan jong suk bnran geomsa,

    Hello ada apa sm sang wook? Knpa tau2 bunuh diri? Wah ini psti jebakan, soalnya yoojin dtg sebelum sang wook tewas, tau2 sang wook tewas orang akan mikir itu semua perbuatan yoojin.

  9. Ada apa s’benernya ma Jongsuk,stlah tau Hwanmi kerja’y d’koran kriminal,mencurigakan? Aaaaish,entah k’beruntunga atw k’rugian bwt Yoojin stlah pergi ninggalin Sangwook.. Hadeuuuh agak bingung terlalu bnyak orang jadi’y kurang fokus baca’y uga…

    1. Dear Rinie,
      Iya nih ini lebih serius dari KO.
      Jadinya agak membingungkan tapi castnya lebih dikit dari KO koq
      secara ya itu satu tim bola dengan staf dan officialnya plus tim lain.
      Kamsahamnida

  10. Wah mendekati TBC itu menegangkan. Secara saat malam kejadian Yoojin sempat ke apartemen itu. Otomatis sidik jarinya pasti ada di sana. Palli eon lanjut!!

    Itu Jongsung songong bilang muka Wobin aneh wkwkkw.

    Pas adegan Hwanbi jambak Jongsuk itu senyum2 gaje, secara ternyata Woobin ada disitu dan menyaksikan.

    Aduuuh itu Min Ho Oppa diawal sudah membuatku ketar ketir. Eh ada ahjumma imnim pula di sini wkwkwk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s