Faith (Sequel of Expectation)

FAITH

faith

By:

Kuruta Winn

[Life/General/PG 15/Ficlet]


Cast :

Kim Myungsoo [Infinite]

 Son Na Eun [Apink], Bae Soo Ji [Miss A Suzy]

 

Hanya pemikiran sesaat. Mungkin ada beberapa yang tidak sepaham dengan kalimat di FF ini karena kalimat-kalimat di bawah adalah hasil perdebatan pelajaran Agama waktu bangku SMA dulu. Namanya juga FF, so enjoy. No Bash | No Plagiat.

Request dari Chelsea Eonni.

©©©©© FAITH©©©©©

 

Semilir angin yang berhembus dari arah selatan sungai yang terbentuk akibat pertemuan sungai Namhan dan sungai Bukhan membuat beberapa helai rambut manusia yang berjalan melintasi area tersebut mengelayut-layut.

Nampak sepasang anak manusia sedang memadu kasih di bawah rindangnya pohon dari kelas pinopsida ini.

“Akan lebih baik jika kau memperkenalkanku kepada Appamu,” ucap seorang yeoja dengan balutan busana musim semi. Pandangan matanya menyiratkan sebuah pengharapan yang telah lama ditunggu.

Namja yang ia ajak bicara tampak berpikir keras untuk mejawab pertanyaan yeoja tersebut, “Tidak semudah itu. Kau tahu sendiri bahwa Appaku itu adalah penganut Buddha setia. Sedangkan kau hingga kini belum menetapkan keprcayaanmu.”

“Jangan kau jadikan itu sebagai alasan untuk kelangsungan hubungan kita,” bantah yeoja dengan tinggi 168 cm itu.

Namja tersbut hanya mendengus kesal mendengar pernyataan singkat, “Bagaimana bisa kau tidak mempercayai adanya Tuhan, Na Eun-ah?”

Son Na Eun, yeoja yang telah menjalin kasih sejak tamat dari bangku sekolah menengah ini sudah gerah dengan perjalanan kasih yang tak berujung ini.

“Jika Tuhan-lah yang mematikan dan menghidupkanku, maka kalau dalam 15 detik ini aku ingin mati ternyata tidak mati juga, berarti Tuhan memang tidak ada,” ucapnya santai tanpa mempedulikan tatapan nanar si namja.

Si namja lebih memilih tersenyum mendengar pemikiran-pemikiran bodoh itu. Kepercayaan merupakan salah satu faktor yang berperan besar dalam menjalani bahterah rumah tangga di kemudian hari, tapi si namja juga tidak sanggup melepas pujuan hatinya begitu saja. Salah satu cara adalah meyakinkan si yeoja untuk merubah keyakinannya.

“Rajin-rajinlah kau memperlajari kitab suci, karena kau akan mengetahui dimana letak pemikiran bodohmu itu. Sekarang bisakah kau menjelaskan padaku bagaimana langit dan bumi dipisah padahal mereka dulu satu padu, Na Eun-ah?” sahut si namja yang berbalut mantel abu-abu.

Na Eun masih tetap dengan pendiriannya dan ia tetap mengeluarkan pendapatnya, “Menyandingkan kitab suci dengan sains adalah sebuah kesalahan pertama penganut agama yang ingin memperkuat keyakinannya pada Tuhan dan agamanya, Myungsoo-ya.”

“Memilah-milah beberapa fenomena alam dan kemudian mencocok-cocokkannya dengan beberapa ayat di kitab suci untuk membuktikan bahwa kitab suci itu adalah benar, adalah tindakan yang paling menggelikan. Tindakan frustasi orang beragama yang takut kitab sucinya ketahuan tidak akurat,” jawab Na Eun enteng.

Myungsoo mengepalkan tangannya menahan amarah yang sudah memuncak. Bagaimana pun juga perdebatan ini harus ia kuasai agar merubah batu keras yang ada di kepala Song Na Eun.

“Sains yang aku ajukan tadi sudah teruji dengan kasat mata para astronot. Perputaran bumi, pergerakan matahari, dan lain-lain. Bahkan itu tidak bisa dibantah oleh scenario ilmiah apapun dan kapanpun,” jawab Myungsoo.

Na Eun tertawa kecil mendengar penuturan Myungsoo, “Jika kau menyandingkan agama dengan sains yang penuh dengan skeptitisme, keraguan dan falsifikasi itu sama saja dengan kau meragukan agama yang telah kau yakini.”

“Jika kau membicarakan tentang itu, maka kita kembali lagi ke filsafat ilmu. Bagaimana bedanya ilmu dan pengetahuan serta dimana fungsi filsafat,” sahut Myungsoo mengisyrakat ekspresi kemenangan.

“Aku hanya menegaskan sebelum kita bebrbicara lebih jauh lagi. Atheis bukanlah orang tanpa etika dan moral, hanya saja atheisme tidak mendasarkan pada moralitas dan etikanya pada ajaran Tuhan, melainkan pada akal budi manusia,” Na Eun memberikan tatapan mata yang tajam pada Myungsoo.

Myungsoo dan terkekeh mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang yeoja, “Kau pikir akal budi manusia siapa yang membentuk? Terbentuk sendirikah?”

Kringgg…Kringg…Kringg

Sebuah panggilan masuk terteran di layar ponsel berukuran 146,85 x 82,95 x 9,65mm itu.

Jamkanman, Oppa. Eomma menelponku,” sahut Na Eun kemudian beranjak dari tempat bangku panjang berwarna coklat yang ia tempati tadi bersama Myungsoo.

Ne..” bisik Myunsoo.

©©©©© FAITH©©©©©

 

Na Eun hanya terduduk lemas di sofa berwarna cream yang terletak di ruang televisi rumahnya. Ia memegangi kepalanya setelah mendengarkan penuturan dari Eommanya.

“Bagaimana? Kau mau ikut Eomma?” tanya wanita paruh baya dengan penampilan elegan disertai tutur kata baik yang keluar dari mulutnya.

Na Eun memandang sekilas wajah Eommanya. Wanita yang selama ini menjadi panutannya dalam menjalani hidup, termasuk pilihannya menjadi seorang atheis.

“Mengapa tiba-tiba Eomma berubah pikiran? Selama ini kau menanamkan kepercayaan itu padaku tapi justru kini kau yang meruntuhkan kepercayaan yang selama ini kau agungkan,” sahut Na Eun.

“Seseorang telah menyadarkan Eommamu ini dari pemikiran-pemikiran bodoh yang selama ini bersarang di memori otakku ini. Dan ini juga pengumuman untukmu bahwa aku akan menikah lagi dengan seorang duda beranak satu,” sahut Na Eun Eomma sambil menggengam tangan putri satu-satunya itu.

Na Eun hanya menggeleng mendengar ucapan sang Eomma, “Aku akan melakukan apapun untukmu, kau adalah arah bagi kehidupanku.”

Tak lama kemudian Na Eun mengetik beberapa pesan ke Myungsoo.

To: Myungsoo
Aku akan mengikutimu. Kini aku sedang pergi menuju Vihara untuk berlatih Trisarana Gatha. Segera kenalkan aku kepada Appamu agar kita cepat menikah.

Tak lama berselang Myungsoo membuka layar ponselnya, tersirat dari wajahnya bahwa pencapaian yang selama ini ia nantikan telah berhasil.

To: Na Eun
Aku berlindung pada Buddha, Aku berlindung pada Dhamma dan aku berlindung pada Sangha. Aku menunggumu, Na Eun-ah.

©©©©© FAITH©©©©©

 

Tiba pada saat yang dinanti. Sebuah hari dimana hidup manusia dapat berubah dalam satu ucapan. Myungsoo dan Appanya pergi ke daerah Ilsan. Berangkat dengan menggunakan mobil warna silver bermerk Infiniti M37S.

Eoddiseo?” tanya Myungsoo sambil mengemudikan mobilnya menyusuri ruas jalan tol.

Nampak raut wajah ceria yang tidak pernah ditampilkan Appanya selama 10 tahun terakhir ini, “Aku akan mengenalkan Eomma baru padamu, Myungsoo-ya.”

“Aku juga akan memperkenalkan calon istriku,” celetuk Myungsoo sambil tersenyum.

Myungsoo Appa tertawa mendengar perkataan anaknya, “Jeongmal?”

Ne!” teriak Myungsoo sambil tertawa dan melirik sekilas sang Appa tercinta yang telah menjadi orang tua tunggal yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

“Apakah itu Bae Soo Ji?” selidik Myungsoo Appa.

Myungsoo hanya terkekeh mendegar perkataan Appanya, “Dia masih belum terlalu dewasa cara pikirnya.”

“Lalu?” tanya Myungsoo Appa penasaran.

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam. Mereka tiba disebuah rumah bergaya tradisional yang cukup megah. Setibanya disana mereka disuguhi berbagai macam minuman oleh para pelayan.

“Perkenalkan ini putraku, Kim Myungsoo,” Myungsoo Appa memperkenalkan putranya ke hadapan wanita paruh baya yang sebentar lagi menjadi calon istrinya.

“Tampan sekali putramu. Sebentar lagi putriku tiba, ia sedang berkunjung ke Vihara,” sahut wanita paruh baya itu sambil meminum tehnya.

Seorang wanita muda berjalan menuju ruang makan yang berada di tengah-tengah rumahnya. Ia segera member salam dengan menundukkan badan 90 derajat.

“Perkenalkan ini putriku, Son Na Eun,” ucap wanita paruh baya sambil tersenyum bahagia. Tanpa ia sadari bahwa senyuman itu merupakan tangisan bagi sepasang anak manusia.

END.

©©©©© EXPECTATION ©©©©©

 

Advertisements

8 thoughts on “Faith (Sequel of Expectation)

  1. Aq pernah baca sama persis kayaknya penulisnya sama
    tapi aq lupa bacanya dimana
    bagus bisa jadi insfirasi
    🙂

  2. Aku suka setiap percakapan yang kamu sungguhkan selalu berbobot dan berisi. Bahkan setiap isi percakap memiliki banyak makna yang kamu gabungan dengan alam dan ajaran agama. I like it

  3. Jujur, aku sedikit kurang begitu paham dengan percakapan Na eun dan Myungsoo #pletak

    Aku mau nagih lanjutannya #plak
    Kayaknya seru kalo di lanjut

    1. Karena ini pemakain gaya bahasa sastra lama. Kalau pernah belajar Bahasa Indonesia tentang Sastra di SMP pasti ngerti maknanya.

      Lanjutkan saja sesuai pemikiran anda. Author juga kan, pasti diksinya lebih baik daripada saya. Pemakaian gaya bahasa anda seperti lebih mudah dipahami reader.

  4. Kalau jodoh itu takdir dan takdir adalah pilihan, Naeun ga bisa jadi pilihan Myungsoo, bukan takdirnya dan bukan jodoh 😥
    Gwænchana

    I always love the way you narrate the story.
    I want to read all of your stories
    But I haven’t read it 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s