Complexity [Part 2]

Complexity Poster

COMPLEXITY [Part 2]

 ansicangel

Drama, Family, Romance | PG-17 | Chapter

Cast    :

Song Nun-ah (OC)

Kang Minhwa (OC)

Song Joongki

Kim Junghoon

Jang Geunsuk

Byun Baekhyun (EXO-K) as Kang Baekhyun

Park Chanyeol (EXO-K) as Kang Chanyeol

complexity

Kang Minhwa berjalan hilir-mudik dengan gelisah. Sesekali menghentakan kakinya sembari melihat layar smartphone-nya yang masih belum ada perubahan. Giginya bergemeretak nyaring saking tak sabarnya menunggu telepon atau pesan balasan dari Nun-ah. Sudah hampir 2 hari ini adiknya belum pulang ke rumah.

Minhwa sangat cemas karena belum ada kabar dari Nun-ah, kecuali sebuah pesan yang gadis itu kirimkan padanya saat kemarin malam yang menuliskan bahwa, ia ingin pergi ke suatu tempat dan agar jangan mengkhawatirkannya. Bagaimana Minhwa tidak khawatir jika Nun-ah bersikap seenaknya, tanpa memberitahu kemana ia pergi. Setidaknya gadis itu mengatakannya, sehingga Minhwa dapat mengurangi perasaan cemasnya yang berlarut-larut.

Ia sudah menghubungi siapa pun yang mengenal Nun-ah, termasuk kekasihnya Kim Junghoon. Namun sayang, lelaki itu pun tak mengetahui keberadaannya. Sebenarnya ingin sekali ia memakinya karena tak tahu-menahu soal kekasihnya sendiri.

Sementara itu dua remaja yang duduk di hadapannya hanya memberikan tatapan bosan ke arahnya. Kemudian mereka bertukar pandang dengan tatapan bingung.

Noona, tolong menyingkirlah.” ujar salah satu dari mereka karena Minhwa menghalangi pandangan mereka dari layar televisi.

“Hentikan sikap konyolmu itu, Noona. Kau mengganggu kami,” lanjut satunya sarkatis.

“Oh, aku tak bisa melihat Naruto memakai jurusnya untuk menyerang Pain.” keluhnya kesal lalu mengerling ke arah saudaranya, “Hyunie, ada apa dengan Noona kita? Dia tidak gila ‘kan?”

Molla, Yeolie.” sahut saudaranya, “Mungkin dia sedang stress. Kau tahu penyakit apa yang menyerang setiap calon mempelai wanita?”

“Dia akan bersikap aneh,” lanjut Hyunie setelah melihat saudaranya menggelengkan wajahnya, “Mungkin dia sedang berpikir ulang untuk menikah dengan Joongki Hyung atau tidak,”

“Ah, kupikir juga begitu. Bukankah ini pertanda bagus bagi Nunie Noona? Dia ‘kan tak menyukai Joongki Hyung,” ujar remaja yang dipanggil Yeolie.

“Huh! Kalau mereka batal menikah, apa kau mau kehilangan semua barang-barang yang diberikan Joongki Hyung pada kita? iPhone 5, Nintendo Wii U, Samsung Galaxi Note 10.1, …”

Andwae!!” seru Yeolie ketakutan.

“Maka dari itu, kita harus mendukung Joongki Hyung.”

“Huum, aku mengerti, Hyunie.” ujar Yeolie sambil menganggukkan wajahnya, “Tapi, bagaimana dengan nasib Nunie Noona? Dia tidak pergi untuk bunuh diri ‘kan karena tak menyutujuinya?”

Di sisi lain Minhwa sudah melayangkan tatapan tajamnya kepada mereka yang tampak tak menyadarinya.

Yakk! Baekhyun, Chanyeol! Apa yang kalian bicarakan? Jangan berbicara sembarangan!” bentak Minhwa kasar.

“Oh, kupikir Noona tak mendengarkan kami. Wow, Noona daebak.” kata Baekhyun dengan wajah kagum yang dibuat-buat.

Minhwa memutar bola matanya bosan. Adik kembarnya yang terlahir tak identik itu memang menyebalkan. Ia tak habis pikir mengapa ia mempunyai adik seperti mereka.

“Cukup. Bukan saatnya kalian membicarakan ini,” ujarnya menahan emosi, “Sekarang berpikirlah, dimana Noona kalian.”

Noona kami ada di sini,” sahut Chanyeol dengan wajah tak berdosa.

“Bukan aku, maksudku kakak kalian yang satu lagi” kata Minhwa dongkol.

“Oh, Nunie Noona.” kata si kembar serempak.

“Kalau soal itu kami tak tahu,” lanjut Baekhyun.

Omo! Kalian ini benar-benar…”

“Bukankah tadi Noona berkata pada kami untuk berpikir dimana Nunie Noona?” potong  Chanyeol, “Dan kami sama sekali tak tahu dia berada dimana. Kami sama sekali tak bisa berpikir karena sekarang Noona telah mengganggu kesenangan kami,”

Minhwa mendecakkan lidahnya sedangkan matanya mendelik ke arah televisi. Matanya membelalak saat melihat adegan Naruto sedang bertransformasi menjadi Kyubi berekor 9.

Yakk! Kalian sudah menonton bagian itu puluhan kali!” serunya kesal.

“Itu urusan kami mau menontonnya berulang kali. Kami sama sekali tak bosan,” sahut Baekhyun cuek.

“Dasar adik kurang ajar! Apa itu yang diajarkan Eomma dan Appa pada kalian?!” kata Minhwa berusaha bersabar menghadapi mereka.

Chanyeol menggeleng wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya, memasang wajah sepolos mungkin. “Eomma dan Appa mengajarkan kami untuk menjadi anak yang manis, tetapi kadang kami tak dapat mengendalikan diri untuk berbuat sesuatu hal pada orang lain.”

Minhwa mendengus, “Tindakan kalian itu sudah dikatakan sangat sering dilakukan dan keterlaluan. Eomma selalu memberitahuku tentang kenakalan kalian di sekolah. Aku heran mengapa kalian tidak dikeluarkan,”

Noona melupakan satu hal bahwa kami ini termasuk murid terpintar di sekolah,” kata Baekhyun santai.

Memang diakui oleh Minhwa, adik-adiknya yang terkenal jahil dan seenaknya itu merupakan murid jenius di sekolahnya. Ia mendesah, pasrah menghadapi kenakalan kedua adiknya tersebut. Baekhyun dan Chanyeol lahir hanya berbeda 12 menit. Kenakalan mereka pun sebenarnya tidak seekstrim kenalakan bocah-bocah SMA lainnya yang suka membolos atau balapan liar.

Mereka hanya saling goda dan berbuat iseng. Namun, kadang keisengan mereka membuat Minhwa jantungan karena pernah ada salah seorang guru mengundurkan diri karena mereka. Ia benar-benar tak tahu perbuatan apa yang dilakukan si kembar sampai seperti itu. Satu-satunya orang yang dapat mengendalikan mereka hanya Nun-ah. Dan kini gadis itu menghilang entah ke mana.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk di smartphone-nya. Dengan rasa yang bergemuruh, ia membukanya dengan cepat. Sedikit kecewa melihat bukan Nun-ah yang mengirimnya, melainkan Joongki.

I miss you, my dear. Let’s have lunch.’

Seulas senyum tersungging di wajah Minhwa. Setidaknya ia dapat melupakan sedikit rasa khawatir yang terus berkecokol di hatinya karena memikirkan Nun-ah.

“Oh, Hyunie sepertinya Noona senang sekali menerima pesan.” ujar Chanyeol setelah Minhwa bergegas menuju kamarnya. Rupanya sedari tadi ia terus memperhatikan Minhwa.

“Yeah, aku berani bertaruh itu pasti dari Joongki Hyung.” sahut Baekhyun santai sambil melanjutkan kembali keasyikannya menonton video.

“Huum, lalu bagaimana Nunie Noona?” tanya kembarannya dengan raut wajah khawatir, “Eomma dan Appa sedang pergi ke Hong Kong saat ini, mereka tak akan tahu ‘kan?”

Baekhyun yang menyadari ketakutan adik kembarnya mengingat sikap orang tuanya yang relatif berlebihan terutama ibunya, hanya menepuk pundak Chanyeol. Mereka bersyukur orang tua mereka sedang tak ada di rumah. Mereka tak dapat membayangkan kemarahan ibu mereka jika mengetahuinya.

“Tenanglah, mereka tak akan tahu jika kita memberitahunya. Kita mengenal Nunie Noona, dia tidak akan bertindak bodoh. Aku yakin hari ini ia pulang,” kata Baekhyun menenangkan yang dibalas anggukan Chanyeol.

Di balik sikap mereka yang menyebalkan kepada orang lain, ternyata mereka bersikap bijak dan serius jika sedang berdua.

complexity

“Jadi, dia belum pulang?”

Minhwa mengangguk lemah, “Dia bahkan menonaktifkan ponselnya sekarang. Eothokke?”

Joongki memamerkan senyumnya dan meraih tangan Minhwa, berusaha memberikan ketenangan pada gadis itu. “Jangan risau. Mungkin saat ini ia sedang berada di suatu tempat. Lagi pula Nun-ah sudah dewasa, ia dapat menjaga dirinya.” ujarnya.

“Kuharap demikian. Semoga saja ia berada di Gwangju,” desah Minhwa.

Joongki merengkuh tubuh Minhwa lembut dan membawa dalam dekapannya. Minhwa mencoba untuk merelakskan dirinya dengan menghirup aroma tubuh calon suaminya itu. Sesekali tangannya bergerak melingkari lengan Joongki yang berotot. Dapat ia dengar suara detak jantung pria itu beraturan, membuat ia semakin tenang.

Oppa, apa Nun-ah bersikap seperti itu karena ia marah padaku?” kata Minhwa lirih dengan nada menyesal.

Alis Joongki bertaut, “Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Hanya saja selama ini ia tak menyukai hubungan kita. Aku tahu itu, sudah sering ia melarang keras supaya aku tak menerimamu, tetapi aku tak menggubrisnya.” tutur Minhwa sembari melesakkan wajahnya ke dalam ceruk leher Joongki mencari kehangatan.

“Itu karena kau mencintaiku,” ujar Joongki yakin.

Ia tersenyum mendengar Minhwa mendengus.

Ne, karena aku mencintaimu dan aku tak ingin berpisah denganmu.” kata gadis itu sembari mengeratkan pelukannya.

“Namun, aku tahu perasaan Nun-ah, ia akan bersikap baik-baik saja di hadapan kita, tapi sangat berbeda jika di belakang kita. Aku bingung. Aku berdiri di antara kalian. Kalian berdua adalah orang-orang yang kucintai dan aku sedih melihat kalian tidak akur,” ungkap Minhwa dengan tersendat.

Joongki mengusap punggung Minhwa dengan penuh perasaan. Ia sendiri pun bingung, apa yang mesti ia lakukan untuk merebut hati Nun-ah agar menerimanya sebagai kakak iparnya. Ia sudah melakukan apa pun, tetapi tetap saja hasilnya nihil. Gadis itu sungguh keras kepala.

Ia sangat tahu jika Nun-ah membencinya. Ia akui ia pernah berganti-ganti pacar. Baginya itu adalah sikap yang wajar untuk seorang pria. Bukankah ia harus mencari wanita terbaik yang akan menjadi calon ibu dari anak-anaknya kelak? Ia tak mau bersikap gegabah menilai setiap calon pendampingnya, ia akan mencermati setiap wanita yang berada di sisinya. Sedikit pemilih, tentu saja, tapi ia bukan seorang playboy yang hanya mencari kesenangan sesaat.

Dan ketika ia bertemu dengan Minhwa pertama kali di pesta ulang tahun sepupunya, ia merasa Minhwa seperti wanita lainnya. Cenderung pintar, sopan, dan cantik. Siapa laki-laki yang tak menyukai Minhwa? Hanya memandangnya sekilas, ia sudah mengetahui banyak pasang mata yang menatap gadis itu dengan sorotan kagum. Namun, ia tak dapat mengobrol banyak karena saat itu mereka sama-sama memiliki kekasih.

Setelah setahun dari pertemuan itu, mereka bertemu kembali di hotel tempat ia bekerja. Ada sesuatu yang ia lihat berbeda dari diri Minhwa setelah mereka bercengkerama. Gadis itu terlihat lebih matang dari sebelumnya. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Setelah berbincang dan sering bertemu, ia mengajak gadis itu berkencan. Mereka pun memutuskan untuk berpacaran setelah melakukan beberapa kali penjajakan.

Oh, he loves her so much and he wants to do anything for her happiness.

Termasuk mengejar restu Nun-ah. Minhwa pasti sedih jika mereka menikah tanpa restu adiknya itu, ia akan merasa bersalah. Dan Joongki sama sekali tak ingin calon istrinya terbayang-bayang perasaan seperti itu. Ia bertekad.

Joongki semakin mengeratkan rangkulannya dan mencium kening Minhwa sekilas, seolah-olah memberitahunya kalau semua akan baik-baik saja.

complexity

Terdengar suara pintu berderit pelan yang dibuka secara perlahan, kemudian disusul langkah-langkah kaki. Nun-ah memandangi isi rumah yang sepi, mengernyit heran ketika tak mendapati siapa pun di sana. Orang tuanya memang sedang pergi ke Hong Kong, tapi biarpun mereka pergi rumah tak akan sesepi ini jika ada duo biang kerok, Chanyeol dan Baekhyun. Biasanya mereka akan melakukan hal konyol yang membuat geleng-geleng kepala.

Namun, sepertinya ia tak menemukan tanda-tanda keberadaan mereka. Ia sama sekali tak yakin jika adik kembarnya pergi, karena mobil ayahnya masih bertengger manis di dalam bagasi. Ia pula tak menemukan sosok kakaknya, kini ia berasumsi kalau kakak tersayangnya sedang pergi. Langkahnya berhenti saat memasuki kamar si kembar. Napasnya terdengar lega saat melihat mereka sedang meringkuk bersama di atas karpet menghadap televisi.

“Kebiasaan yang buruk,” gumam Nun-ah sambil mematikan layar televisi yang menampilkan kata Game Over. Mereka akan tertidur setelah kelelahan bermain.

Setelah menyelimuti mereka, Nun-ah beranjak menuju kamarnya. Usai membersihkan dirinya dan berganti pakaian, ia memutuskan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Dahinya berkerut dalam ketika melihat kondisi dapur yang berantakan. Ia tak akan bisa makan jika keadaan dapur yang bagai kapal terbang pecah. Dengan telaten ia pun mulai membersihkannya.

Nun-ah melirik jam dinding sekali lagi lalu mendesah. Hampir pukul sepuluh malam, tetapi Minhwa tak kunjung pulang.

“Kenapa lama sekali? Apa yang dilakukan pria gila itu pada Eonni?” sungutnya.

Tak perlu berpikir panjang dengan siapa Minhwa pergi. Ia sudah mempunyai firasat jika kakaknya pergi bersama Joongki.

“Kalau dia tak membawanya pulang, kupastikan besok ia akan terbaring di rumah sakit.” katanya ketus sambil mengaduk-aduk mie ramennya dengan ganas.

Ini gila. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi Minhwa sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Yang dilakukan Nun-ah saat ini adalah berjalan mondar-mandir di depan pintu rumahnya dengan sesekali matanya mengerling ke arah gerbang. Ia cemas setengah mati. Ia akan benar-benar melakukan hal tersebut pada Joongki jika Minhwa tak pulang.

Terdengar suara deru mobil yang cukup dikenalnya. Nun-ah berjalan cepat menghampirinya, ingin sekali ia melabrak pemuda itu. Namun, seketika ia menghentikan langkahnya. Ia tak boleh bertindak bodoh dan gegabah. Dengan setengah berlari ia kembali masuk ke dalam rumah. Entah apa yang ingin dilakukannya.

complexity

Di dalam sebuah mobil Audi hitam, Joongki melihat keadaan rumah yang terlihat lenggang.

“Adik kembarmu sepertinya sudah tidur,” ujar Joongki.

Minhwa mengikuti arah pandang kekasihnya lalu mengangguk, “Sepertinya begitu jika mereka kelelahan bermain.”

Joongki membantu Minhwa melepas seatbelt-nya. Wangi rambut Minhwa terkuar sampai indera penciuman Joongki. Oh, God ia baru beberapa jam memeluknya dan sekarang ia ingin memeluk tubuhnya lagi. Dengan gerakan perlahan tetapi pasti, ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Minhwa, membuat gadis itu sedikit berjengit.

Joongki memejamkan matanya perlahan, menghirup dalam-dalam aroma parfum yang menguar dari tubuh Minhwa, membuat gadis itu merinding atas apa yang ia lakukan. Ia menyukai aroma tubuh Minhwa. Entah sejak kapan itu terjadi.

What’s goin’ on?” tanya Minhwa sambil menepuk pundak Joongki lembut.

Nothing, just wanna embrace you.” ujar Joongki dengan tersenyum.

Minhwa melepas pelukan Joongki, menatap manik matanya yang sekelam malam. Jantungnya selalu berdesir setiap kali menatap matanya, berpacu cepat dengan waktu bahkan sering kali berdetak tak karuan. Menyesal karena kadang tak sesuai dengan apa yang ada di otaknya. Ia menahan sekuat hati agar rona merah tak menjalar ke pipinya.

Saranghae,” bisik Minhwa pelan.

Dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Joongki, mengunci bibir pemuda itu dalam sebuah ciuman. Minhwa bisa merasakan tubuh Joongki tersentak karena sentuhan tersebut. Ia bisa merasakan hembusan napas Joongki berhenti selama beberapa saat. Dengan ragu, ia menjauhkan wajahnya, memperbesar jarak di antara mereka.

Ia tidak yakin apakah Joongki menyukai apa yang ia lakukan. Namun, ketika merasakan tarikan pada bagian tengkuknya lalu diikuti dengan sentuhan lembut pada bibirnya, Minhwa tahu kalau pikirannya salah. Dan tidak perlu waktu lama bagi Minhwa untuk membalas ciuman yang diberikan Joongki padanya.

Wajah memerah dan napas yang memburu dari Minhwa adalah hal pertama yang dilihat Joongki saat membuka matanya. Kedua iris gelapnya terpaku ke arah gadis yang duduk di depannya sebelum tertuju kepada bibir Minhwa yang membengkak, menyapukan ujung ibu jarinya pada bibir itu.

Ia bisa merasakan tubuh Minhwa tersentak dengan kedua mata yang otomatis terbuka. Joongki tidak tahu apa yang ada di pikirannya sebelum menyadari kalau ia telah kembali membungkam bibir Minhwa dalam sebuah ciuman. Memagut bibir satu sama lain sampai tidak ada satu pun di antara mereka yang ingat bagaimana caranya bernapas.

Bibir itu lembut. Ya, sama seperti yang ia rasakan saat dirinya mencium Minhwa. Sama seperti ciuman-ciuman yang mereka lakukan sebelum ini. Namun bedanya, saat ini Minhwa adalah orang yang terlebih dahulu berinisiatif untuk menciumnya.

Kedua bibir yang saling bertaut itu perlahan terlepas ketika Joongki menarik wajahnya menjauh. Kedua kelopak mata Minhwa yang setengah terpejam menatap pemuda tersebut sambil memberikan seulas senyum hangatnya. Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang melihat kejadian itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Nun-ah menjatuhkan dua kantung besar berwarna hitam di depan pintu gerbang. Mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara kedua matanya mengerjap beberapa kali menahan laju air mata yang berjejalan ingin keluar. Rasa terkejut tercetak jelas di wajahnya dan ia pun berusaha untuk mengendalikan dirinya.

Tak ingin bertindak konyol dengan memastikan secara langsung apakah Minhwa pulang bersama Joongki, karena tak ingin dianggap adik yang protektif, ia mengambil 2 kantong besar sampah rumah tangga di dapur sebagai alibinya untuk mengecek Eonni-nya itu. Namun, pemandangan yang membuatnya sakit mata menyambutnya ketika membuka gerbang. Seakan-akan tak terjadi apapun, Nun-ah mengambilnya dan dengan gerakan tenang berjalan menuju tong sampah.

Ia sengaja membantingnya sehingga menimbulkan suara yang berdebum nyaring untuk menarik perhatian mereka. Terbukti kedua orang yang berada di dalam mobil sontak kaget melihatnya. Nun-ah pura-pura tak mengacuhkannya dan melengos pergi.

“Nunie,” suara Minhwa tersendat.

Dengan segera ia membuka pintu mobil, tetapi sebuah tangan hangat nan kokoh menahannya membuat Minhwa mengalihkan perhatiannya kembali pada Joongki yang sempat terabaikan olehnya.

Oppa,”

Joongki tersenyum manis, “Jangan terlalu keras padanya. Dia baru saja tiba,”

Minhwa mengangguk mengerti, “Arraseo. Jaljayo, Oppa.”

Jalja,” balas Joongki sembari menepuk puncak kepala Minhwa halus.

“Kang Minhwa-ssi, nado saranghae.” lanjutnya membuat Minhwa merona.

Setelah memastikan Joongki meninggalkannya, Minhwa bergegas masuk ke dalam rumahnya menyusul Nun-ah. Dan ia menemukannya di dapur sedang membuka kulkas.

“Nunie-ya, kau pergi kemana saja selama ini? Kau tahu, kau membuatku khawatir.” tanya Minhwa tanpa tedeng aling-aling. Ingin rasanya ia memarahi adiknya, tetapi perkataan Joongki tadi menyadarkannya.

Nun-ah tak kunjung menjawab, ia memilih menghabiskan segelas penuh air mineral dengan sekali tenggak, membuat Minhwa menunggu beberapa detik.

“Aku pergi ke Gwangju. Kemarin adalah hari kematian Appa. Aku dan Halmeoni mengunjungi pemakamannya sepanjang hari. Mian aku tak sempat mengabari Eonni dan sudah membuat Eonni cemas.” jawabnya kemudian.

Minhwa terperangah, tak percaya mendengarnya. Bola matanya bergerak cepat, mencoba mengingat. Ia tersadar jika kemarin memang hari kematian Appa Nun-ah.

“Ah, mian aku lupa kalau kemarin adalah hari kematian Song Ahjussi.” sesal Minhwa.

Gwaenchanha. Baiklah, sudah malam. Eonni beristirahatlah, lagi pula aku ingin tidur. Tubuhku lelah sekali, rasanya ingin remuk.” ujar Nun-ah kemudian berlalu.

Yakk! Aku belum selesai berbicara denganmu,” seru Minhwa kesal karena sejak tadi tak dihiraukan oleh Nun-ah.

“Kita bisa melanjutkannya besok. Good night, Eonni.” sahut Nun-ah tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.

Minhwa memijit pangkal hidungnya sambil menghelakan napasnya. Ia yakin Nun-ah marah padanya karena melihat ia dan Joongki berciuman tadi. Sungguh ia tak mengerti akan sikap adiknya yang satu itu. Ia tak mungkin selamanya hidup sendiri ‘kan? Seharusnya Nun-ah mengerti keadaannya. Seharusnya Nun-ah mengetahui perasaannya.

Ya, seharusnya Nun-ah dapat membuka kedua matanya lebar-lebar setelah melihat kejadian barusan. Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan padanya kalau mereka saling mencintai dan membutuhkan? Tetapi, Nun-ah memutuskan menolaknya, menulikan pendengarannya, dan menutup matanya.

“Kapan kau mengerti, Nunie-ya?” gumamnya sedih.

Nun-ah memandang punggung Minhwa dengan tatapan sayu di ujung tangga. Rupanya ia belum beranjak ke kamarnya sejak tadi. Ia menarik napasnya susah payah, entah mengapa napasnya terasa sesak dan jantungnya sakit seperti sesuatu yang tajam menghujamnya. Tangannya mencengkeram kuat pegangan tangga, menyalurkan rasa amarahnya. Bukan pada Joongki atau Minhwa melainkan pada dirinya sendiri, ia menyalahkan dirinya yang tak kunjung rela memberikan kakaknya pada Joongki.

Ia tahu jika Minhwa mencintai Joongki, tetapi ia tak tahu apa yang membuatnya tak kunjung merestui mereka. Ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikirannya yang sampai saat ini masih ia cari tahu.

complexity

“Kang Nun-ah!”

Nun-ah memutar bola matanya sambil menghentikan pekerjaannya. Menatap tajam Jang Geunsuk yang balas menatap dengan cengiran khasnya.

“Jangan panggil aku dengan nama itu karena aku sudah menanggalkannya sejak umurku 17 tahun!” ujar Nun-ah lalu melanjutkan kembali pekerjaannya, menggambar.

Geunsuk masih tersenyum, ia cukup mengetahui seluk-beluk keluarga Nun-ah dan Minhwa yang terbilang tidak biasa. Setahunya setelah ibu Nun-ah dan ayah Minhwa menikah, Nun-ah dimasukkan ke dalam kartu keluarga dengan nama Kang. Namun, saat ia masuk kuliah ia memutuskan untuk kembali menyandang nama mendiang ayah kandungnya.

“Bukankah Minhwa bilang kalau itu juga namamu? Song Nun-ah, Song Joongki, kenapa nama kalian sama? Mungkin saja kalian bersaudara. Apakah kau juga berpikiran sama sepertiku?”

Nun-ah tersenyum simpul, “Banyak orang yang bermarga Song, Oppa.”

Jinjja?”

“Kalau kau tak percaya, kau bisa mengeceknya sendiri di kantor pusat kependudukan.” jawab Nun-ah asal.

Geunsuk mengangguk paham, “Ah, kenapa aku tak berpikir sampai ke sana? Aku mungkin saja menemukan secuil informasi tentang kalian. Bukankah begitu, Nun-ah-ya?”

Saat Nun-ah akan membuka mulutnya, Junghoon telah datang dan langsung memukul kepala Geunsuk. Tak tanggung-tanggung ia memukulnya dengan album foto yang lumayan tebal.

Appo, Hyung!” pekik Geusuk sambil meringis dan mengusap-usap kepalanya, “Aissh! Kepalaku sangat berharga, Hyung tak boleh memukulnya.”

“Kalau kau masih menyayangi kepalamu, hentikan ocehanmu yang omong kosong itu. Kembalilah bekerja sebelum aku benar-benar memotong gajimu!” ancam Junghoon yang dibalas oleh desisan Geunsuk.

Geunsuk pergi menuju ke ruangannya dengan menggumam tak jelas, sedangkan Nun-ah mengusap dengan gerakan ke atas hidung dan keningnya, sedikit terhasut perkataan Geunsuk padanya. Tanpa ia sadari Junghoon berjalan mendekatinya.

“Apa yang kau lakukan saat tak bersamaku?” tanya Junghoon penasaran dengan nada menuntut.

Demi Tuhan ia khawatir setengah mati saat Minhwa menghubunginya dan menanyakan keberadaan kekasihnya itu. Ia sama sekali tak mengetahui apapun, Nun-ah tak menghubunginya atau pun mengiriminya pesan.

“Pergi ke Gwangju tanpa memberitahu siapa pun. Apa yang kau pikirkan Song Nun-ah?” lanjut Junghoon.

Nun-ah dapat merasakan nada bicara Junghoon amat dingin. Ia tahu pria itu marah, itu dapat didengar saat ia menyebut namanya secara lengkap. Ini memang salahnya, membuat semua orang cemas. Ia meletakkan buku gambar serta pensilnya di atas meja, lalu mendongakkan kepalanya.  Nun-ah sedikit terkejut mendapati Junghoon menatap tajam ke arahnya.

Ia tak mengerti maksud dari ekspresi yang ditunjukkan Junghoon padanya, membuat ia menautkan alis. Ia ingin bertanya, tetapi ketika ia akan membuka mulutnya, ia merasakan tarikan yang cukup kuat pada lengan kirinya. Sehingga ia tak bisa mencegah dirinya untuk tidak berdiri di hadapan Junghoon atau pun mengindar dari kungkungan lengan kokoh pria tersebut. Ia pula tak bisa mengelak saat Junghoon memerangkap bibirnya.

Nun-ah merasakan tekanan pada sisi wajah dan lehernya, bahkan ia tak sempat menghirup udara. Gadis itu meremas kemeja yang dikenakan Junghoon saat paru-parunya meminta untuk dibebaskan. Ia tak mengerti mengapa Junghoon menciumnya seperti ini. Ciumannya tidak lembut, Nun-ah menyadarinya, atau tidak seperti biasa. Terkesan emosional dan brutal, Nun-ah tak tahu apa yang menyebabkan Junghoon bertindak seperti itu.

“Ada apa denganmu, Oppa?” Nun-ah berseru ketika Junghoon melepaskan pagutannya.

Ia meringis pelan saat Junghoon mencengkeram lehernya, membawa wajahnya mendekat ke wajah pria itu. Dapat ia rasakan deru napas Junghoon mengenai bibirnya.

“Kau tak bermaksud berselingkuh di belakangku ‘kan, chagiya? Kau tak bertemu dengan seseorang dan melupakan keberadaanku ‘kan?” desis Junghoon.

Nun-ah menggeleng takut. Kekasihnya yang terbilang cukup posesif itu sangat menyeramkan jika cemburu. Ia merutuki kebodohannya karena lupa dengan sikap Junghoon yang satu itu, ia akan cemburu kala Nun-ah pergi dan tak memberinya kabar.

Oppa bisa bertanya pada Halmeoni,”

Junghoon mengangkat sebelah alisnya, “Really?”

Nun-ah mengangguk, “Gomennasai.”

Junghoon terenyum kemudian meraup bibirnya kembali. Kini lebih lembut dan dalam dari sebelumnya.

complexity

Nun-ah membongkar isi lemarinya dengan kalut. Wajahnya tampak memucat, jelas ada yang mengganggu pikirannya saat ini. Ia yakin sekali kalau dulu ia pernah mempunyai sebuah boneka kecil yang berwarna putih yang pernah ia buat sebagai tugas kesenian saat ia berada di bangku kelas tiga sekolah dasar.

Sebetulnya itu bukan boneka yang bagus, ia sendiri tak dapat mengkatagorikan jenis boneka apa itu. Bentuknya seperti bintang, bukan seekor bintang laut atau pun manusia. Awalnya ia ingin membuat boneka salju, tetapi harapannya melenceng karena salju mempunyai bentuk bintang enam, bukan lima. Karena terlanjur membuat kesalahan, ia menambahkannya dengan menjahit mata, hidung, dan bibir yang melengkung membentuk senyuman di bonekanya.

Karena tak sesuai dengan apa yang diinginkannya pula, ia memutuskan untuk tidak mengumpulkannya dan memilih untuk mengganti yang lebih bagus. Seingatnya ia menyimpannya dan tak pernah membuangnya. Namun, yang menjadi pertanyaannya di manakah boneka tersebut? Mengapa bonekanya begitu mirip dengan gantungan kunci boneka milik Joongki?

flashback

Nun-ah meletakkan dua cangkir kopi di atas meja yang ditempati Junghoon dan Geunsuk berdiskusi. Itu adalah pekerjaan sampingan Nun-ah selain menjadi seorang jewelry design di perusahaan yang Junghoon pimpin. Mereka ingin Nun-ah yang bertugas khusus membuat kopi, karena kopi yang ia buat selalu membuat mereka ketagihan.

Chiffon Indigo Violet Marriage & Jewelry tidak seperti butik gaun pengantin dan toko perhiasaan pada umumnya yang terletak di kawasan pertokoan seperti di Dongdaemun, Cheondamdong, atau Myeongdong. Melainkan berada di kawasan perumahan elit yang tak jauh dari pusat keramaian kota dekat Gangnam.

Di sana hanya ada beberapa pegawai saja dan bekerja sesuai permintaan pesanan. Walaupun hanya bekerja sesuai pesanan saja, mereka dikatakan tidak dapat bekerja santai karena sudah dipastian sekitar 5-10 orang datang untuk memesan setiap bulannya.

Nun-ah mengambil posisi duduk di tengah-tengah mereka. Matanya menatap kertas, tangannya sibuk mencoret-coret membentuk sebuah gambar sebuah kalung, sementara telinganya mendengarkan apa yang dikatakan oleh dua lelaki yang sedang serius berbicara.

“Hmm, ternyata gaun pengantin Minhwa masih kurang banyak, ya? Padahal tinggal 3 minggu,” ujar Geunsuk sembari menggaruk kepalanya.

“Begitulah. Penjahitan manik-manik di bagian dada tinggal sedikit lagi,” sahut Junghoon tenang.

Ye, tapi kita juga harus menjahit manik-manik di bagian bawah gaunnya.” kata Geunsuk sambil menyeruput kopinya.

“Kita belum mengapa-apakan bagian itu,” lanjutnya sembari melihat ke arah gaun panjang yang masih polos yang dipajang di sebuah torso, “Dan kita juga belum memasang kancing di bagian belakang.”

Junghoon tersenyum, “Tenang. Kita pasti bisa menyelesaikannya tepat waktu, Geunsuk-ah.”

Geunsuk mengangguk.

Nun-ah ikut memperhatikan gaun Minhwa yang baru setengah jadi, ia sudah dapat membayangkan akan menjadi seperti apa gaun pernikahan kakaknya nanti. Yang pasti akan sangat indah.

“Oh, Hyung apakah kau mengenal seorang wartawan yang bernama Kim Janghoon? Aku bertemu dengannya tadi. Ia berkata kalau kalian saling kenal, ia ingin mewawancaraimu suatu hari nanti.” oceh Geunsuk.

“Kim Janghoon? Ah, dia teman Samchon-ku.” kata Junghoon.

Jinjja? Ah, tadi dia memberiku kartu namanya. Chakammanyo,” Geunsuk merogoh isi kantong celananya dan mengeluarkan semua isinya dan menaruhnya di atas meja.

Nun-ah terpaku saat melihat sebuah gantungan kunci boneka yang berwarna putih yang seperti tak asing lagi baginya.

“Ah, ini dia.” seru Geunsuk sambil menyerahkan sebuah kartu nama pada Junghoon.

Tanpa Geunsuk dan Junghoon sadari Nun-ah memegang boneka tersebut beserta kuncinya.

“Geunsuk Oppa, apakah ini kepunyaanmu?” tanya gadis itu.

Geunsuk mengernyit lalu menggeleng, “Ani. Itu kepunyaan Joongki Hyung. Semalam aku menginap di apartementnya, aku belum sempat mengembalikannya karena pagi-pagi sekali ia sudah berangkat bekerja.”

Wae?” tanyanya penasaran.

Nun-ah tersenyum, “Kupikir ini lucu.”

flashback end

complexity

Nun-ah tersenyum senang ketika akhirnya ia menemukan sebuah album foto lawas yang berada di paling bawah almarinya. Mungkin ia bisa menemukan sebuah petunjuk tentang keberadaan bonekanya yang menghilang.

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali kalau penglihatannya tidak buram. Ia melihat dengan jelas kalau dirinya yang saat itu berumur 8 tahun sedang memegang beberapa boneka hasil buatannya yang akan dikumpulkan pada gurunya, termasuk boneka yang mirip dengan gantungan kunci milik Joongki.

Mengapa keduanya bisa mirip? Apakah kebetulan? Apakah gantungan kunci itu benar milik Joongki? Mungkin saja Geunsuk berbohong padanya. Tetapi, kalau itu benar milik Nun-ah bagaimana bisa sampai ke tangan Joongki? Apakah Joongki mengambilnya? Tetapi, ia sudah tak menemukannya lagi semenjak ia kelas 5 SD. Apakah-

Aissh! Nun-ah benci berspekulasi dalam ketidakjelasan yang pasti. Ia mengusap wajahnya kasar. Damn! Ia benci ini. Ia membuka lembar demi lembar foto sampai akhirnya ia menemukan foto dirinya bersama dengan seorang anak remaja laki-laki manis yang berada di sebuah kebun bunga matahari. Tampak olehnya, dirinya dan anak lelaki tersebut tersenyum gembira.

“Siapa anak ini? Kenapa aku tak mengenalnya? Apakah dia temanku dulu?” tanyanya pada diri sendiri mencoba menggali memorinya, tetapi ia tak kunjung mengingatnya.

Ia mengeluarkannya dari dalam album, terlihat ia mengenakan pakaian yang berwarna biru sedang membawa sebuah tas. Matanya terbelalak sempurna saat menemukan boneka yang sama menggantung di salah satu restleting tasnya. Tanpa sengaja album dan fotonya terjatuh dari tangannya.

Tersadar apa yang dilakukannya, Nun-ah segera memungutnya. Lagi-lagi tatapannya terpaku saat melihat sebuah tulisan di balik foto tersebut. Ia mengenal kalau itu adalah tulisannya sewaktu kecil.

“Musim panas di Daejeon bersama Ki Oppa,” ejanya.

complexity

Nun-ah menatap nyalang ke arah halaman rumah. Tak ia pedulikan bagaimana berisiknya Baekhyun dan Chanyeol yang sedang bermain kasti bersama anjing Siberian Husky milik mereka. Pikirannya semenjak tadi melayang memikirkan siapa sosok Ki Oppa. Setahunya, ia tak pernah mempunyai teman yang bernama Ki. Ia pula merasa tak mempunyai sesuatu urusan di Daejeon.

Ini sangat aneh, menurutnya. Ia menghelakan nafasnya pelan, sekali lagi memandangi foto itu. Mengapa ia lupa dengan ingatannya sendiri? Dering ponselnya membuyarkan semua lamunannya.

Ye, Oppa.”

“Nunie-ya, bisakah kau pergi ke pabrik sekarang? Aku ingin kau mengecek pesanan Lee Minah dan Shin Gaeul. Selain itu pula kau bisa mengecek pesanan Joongki,” ujar Junghoon.

“Sekarang hari Minggu, apakah tak apa-apa jika aku ke sana?” tanya gadis itu heran.

Gwaenchanha. Aku sudah menghubungi Park Ahjussi. Ia yang akan menemanimu selama kau berada di sana, kau tak perlu cemas.” jawab Junghoon.

Ne,”

“Hm, setelah ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, jadi jangan lupa hubungi aku kalau kau sudah selesai. Arraseo?”

Nun-ah tersenyum, “Ye, Oppa.”

Saranghae,”

Nado,”

Setelah memutuskan teleponnya, Nun-ah menyelipkan foto itu di buku sketsa gambarnya dan menutupnya. Kemudian menaruhnya di atas buffet dekat dapur dan segera bergegas menuju kamarnya.

complexity

Minhwa sedang sibuk membuat apple pancake kesukaan adik-adiknya, sementara Eomma-nya sedang memotong daging sapi untuk membuat makan siang. Di sisi lain Baekhyun dan Chanyeol berlari-lari sepanjang koridor rumah semabri tertawa, menertawakan hal-hal yang lucu bagi mereka.

Baekhyun mendorong Chanyeol. Tidak cukup keras, tetapi menyebabkan dirinya menyenggol sebuah buffet dan menjatuhkan buku sketsa gambar milik Nun-ah. Chanyeol menghentikan gerakannya kemudian mengambil benda itu.

“Kenapa Nunie Noona menaruhnya di sini? Tak biasanya,”

“Mungkin dia lupa atau terburu-buru,” sahut Baekhyun.

Chanyeol membuka-bukanya, tanpa tahu ada sebuah foto jatuh dari selipan kertas. Baekhyun yang menyadarinya segera memungutnya.

“Foto siapa ini?” tanyanya heran.

“Bukankah itu foto Nunie Noona saat masih kecil? Tapi, dia bersama siapa? Apa kau mengenalnya, Hyunie?” kata Chanyeol balik bertanya.

Ani,”

Mereka pun berinisiatif menanyakannya pada Minhwa. Wajahnya yang terkejut terpancar jelas saat Minhwa menerima foto tersebut, membuat si kembar saling tukar pandang tak mengerti.

Noona mengenali orang yang bersama Nunie Noona?” tanya Baekhyun memastikan.

Minhwa hanya terdiam kaku, lidahnya pun mendadak kelu. Entah mengapa saat ini ia merasa dunianya berhenti berputar. Minhwa mencoba menelan ludahnya dengan susah payah.

‘Apa hubungan Nunie dengan Joongki Oppa?’ katanya dalam hati.

complexity

To Be Continued

Advertisements

About ansicangel

I'm extraordinary girl. Like listening music, reading, and watching movie. Cassie, ELF_Cloud&Angel_ Inspirit 송눈아..^^

4 thoughts on “Complexity [Part 2]

    1. Haha…jeongmal mianhae,eonni 🙂
      Klo ga da tbc ntr bosen lg hihi..
      Sica mnta maaf ya,eon bru bs bls skrg. Maklum orang sibuk#sokbangetdah
      Ya,tnggu ja ya eon. Harap bersabar. Hehehe

      Thank you so much, eonni atas komentarnya^^
      LOVE

      Thank you so much yaa eonni komentarnya ^^
      LOVE

    2. Haha…jeongmal mianhae,eonni 🙂
      Klo ga da tbc ntr bosen lg hihi..
      Sica mnta maaf ya,eon bru bs bls skrg. Maklum orang sibuk#sokbangetdah
      Ya,tnggu ja ya eon. Harap bersabar. Hehehe

      Thank you so much, eonni atas komentarnya^^
      LOVE

      Thank you so much yaa eonni komentarnya ^^
      LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s