Complexity [Part 1]

Complexity Poster

COMPLEXITY

By ansicangel

Drama, Family | PG-15 | Chapter

Cast    :

Song Nun-ah (OC)

Kang Minhwa (OC)

Song Joongki

Kim Junghoon

Jang Geunsuk

p.s: Hati-hati karena ada settingan waktu yang berubah-ubah ^^

′Apa yang akan kau lakukan jika kau menjadi diriku? Mempunyai kehidupan kompleks yang memusingkan. Mencintai pria 10 tahun lebih tua, mempunyai kakak perempuan berbeda orang tua, sepasang adik laki-laki kembar yang super jahil, dan seorang musuh besar yang menjerat hati kakakku.′

송눈아  

complexity

Bagi seorang Song Nun-ah mencintai Kim Junghoon, pria yang berusia satu dekade di atasnya yang berprofesi sebagai desaigner gaun pengantin, tak membuatnya risau dan kepalanya pening. Sikapnya yang dewasa selalu membuatnya nyaman, lupakan sedikit sifatnya yang kadang seenaknya. Yang terpenting dari sebuah hubungan adalah mereka saling memahami perasaan masing-masing. Itu sudah cukup, bukan?

Sedangkan adik kembarnya yang memang terlahir sebagai biang usil dan kekacauan, Chanyeol dan Baekhyun, sebenarnya adalah masalah yang mudah untuk ditangani. Asalkan ia dapat mengambil sesuatu yang dapat membuat mereka skak mat, tak berkutik. Dan ia cukup berbakat untuk hal itu.

Namun, berbeda dengan halnya Kang Minhwa, kakak perempuannya. Mereka ditakdirkan memiliki darah yang berbeda. Ibu Nun-ah dan ayah Minhwa menikah kala gadis itu berusia 8 tahun. Ayah kandung Nun-ah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, sementara ibu Minhwa bercerai dari ayahnya dan memilih tinggal di Jakarta.

Mereka tumbuh bersama sejak saat itu. Terlebih lagi umur mereka cukup berdekatan –hanya berbeda setahun. Tidur sekamar, bersekolah di tempat yang sama membuat mereka sangat dekat. Bahkan mereka mempunyai hobi yang sama, sama-sama menyukai dunia memotret.

Ia pikir mereka akan menggeluti pekerjaan yang sama mengingat kesenangan mereka yang kembar. Namun, siapa yang menyangka itu membuat mereka sangat jauh berbeda. Minhwa amat mencintai dunia tulis-menulis –ia seorang editor di sebuah penerbit buku. Sementara Nun-ah –ia tak tahu menyebut dirinya apa- mungkin salah masuk jurusan atau mungkin sejenis itu.

Berawal dari keisengan semata mengikuti sebuah kontes mendesain perhiasan yang diadakan sebuah perusahaan perhiasan di sekolahnya, ia meraih peringkat pertama. Dari sana semua keluarganya membujuknya –termasuk Minhwa- untuk mengambil jurusan Jewelry Design di perguruan tinggi.

Dan di sinilah ia sekarang. Duduk terpekur memandangi buku gambarnya yang masih putih polos. Sama sekali belum tersentuh. Tangannya mencengkeram kuat sebuah pensil panjang, sesekali membenturkan ujungnya ke atas kertas. Berusaha mencari inspirasi, otaknya buntu saat ini.

“Dasar pria gila! Seenaknya saja menyuruhku. Tak tanggung-tanggung deadline bulan depan. Cih! Apa-apan itu seenaknya memutuskan. Dasar pria menyebalkan!” erangnya kesal sembari menenggelamkan kepalanya di atas meja kerjanya.

“Tak baik memaki seseorang seperti itu, apalagi dia akan menjadi kakak iparmu.” ujar seseorang tiba-tiba.

“Laki-laki seperti dia tak pantas menjadi kakak iparku,” rengut Nun-ah.

Nun-ah mendongakkan wajahnya dan seketika menatap seorang pria tampan dengan pakaian yang kasual dan rapi. Rambut hitamnya terjuntai halus di kepalanya sementara wajahnya yang putih mulus tanpa cela membuat siapa pun betah untuk menatapnya berlama-lama. Siapa yang menduga bahwa dibalik wajah yang masih terlihat baby face ia sudah berumur 35 tahun.

Kim Junghoon mengernyitkan keningnya dalam melihat tampang gadis muda yang berada di hadapannya itu. Ujung bibirnya melengkung membentuk seulas senyuman.

Yakk! Jangan memandangku terlalu lama, bisa-bisa dosis cintamu akan semakin bertambah padaku.” godanya.

Semburat merah segera menjalar ke pipi Nun-ah.

Aisshh!” desisnya sambil menundukkan wajahnya menahan malu dipergoki seperti itu.

Oppa!” rengeknya manja.

Ne?”

Junghoon melanjutkan pekerjaannya kembali, melihat-lihat beberapa hasil foto yang baru saja sampai di tangannya.

“Apakah aku salah menentang pernikahan mereka?” tanya Nun-ah putus asa.

Detik kemudian Junghoon menatap gadis itu kembali dengan mendesah pelan. Ia sangat tahu bagaimana perasaan Nun-ah saat ini. Hubungannya selama 2 tahun terakhir ini membuatnya hafal di luar kepala. Bagaimana tidak hafal kalau dia terus mengoceh setiap waktu apa yang dirasakannya. Mulai dari keluarga, kesenangannya, bahkan kebenciannya terhadap calon kakak iparnya sendiri.

“Song Joongki adalah pria yang baik dan Minhwa akan bahagia jika bersamanya,” ujarnya pelan.

Nun-ah mengerlingkan matanya kesal, ia tak suka kalau kekasihnya itu membela laki-laki itu. Ia pun bangkit dari duduknya dengan meremas jemarinya hingga memutih. Junghoon sebenarnya tak ingin mengakui, tetapi ia benci melihat air muka gadis itu berubah keras.

“Kenapa semua orang membelanya? Eomma, Appa, si kembar, bahkan Oppa juga. Apa kelebihannya sehingga kalian bersimpati padanya?” katanya menuntut.

Junghoon memijat tengkuknya, ia lelah berdebat masalah ini. “Nunie-ya, kita sudah sering membicarakan hal ini, bukan?”

Oppa tak bisa merasakan apa yang ku rasa saat ini. Bagaimana perasaanmu jika kakakmu dihamili oleh seorang pria brengsek?” dengus Nun-ah kesal.

Perlu beberapa saat bagi Junghoon mencerna kalimat itu. Matanya membesar sempurna. “Minhwa hamil? Dengan Joongki?”

“Bagaimana bisa? Jangan mengada-ada,” lanjutnya tak percaya.

Nun-ah tersenyum getir, “Bahkan Oppa pun tak mempercayaiku. Alasan apa yang tepat jika sepasang kekasih terburu-buru menikah?”

Nun-ah menyambar tasnya yang berada di atas meja kerjanya dan mulai beranjak.

Yakk! Kau mau pergi kemana?” teriak Junghoon, “Pekerjaanmu belum selesai,”

“Aku akan menyelesaikannya nanti dan jangan ajak aku berbicara,” sahut Nun-ah tanpa menoleh sedikit pun pada pria itu.

Aigoo! Anak itu kapan bersikap dewasa? Kenapa susah sekali menghilangkan sifat sister complex-nya yang sudah menjamur daging?” desah Junghoon.

“Ckck. Yakk! Hyung, sepertinya kau harus bersabar dengan pacar kecilmu itu.” kata seorang pemuda tampan yang sedari tadi memperhatikan mereka yang diselingi tawa.

“Apa maksudmu, Geunsuk-ah?” tanya Junghoon dengan raut wajah bingung.

“Kau harus bersabar menghadapinya, Hyung. Dari hubungan kalian yang kulihat selama ini sepertinya kau kalah pamor ketimbang Minhwa,” ujar Geunsuk sambil menyeruput kopinya lalu terkekeh pelan.

“Apa kau percaya apa yang ia katakan barusan?” Junghoon tak menggubris perkataan asistennya itu. Otaknya kini berputar memikirkan mereka.

“Soal Minhwa hamil? Well, aku tak ingin ikut campur. Mereka sudah dewasa dan bukankah mereka akan segera menikah?” sahut Geusuk bijak.

Junghoon mengusap wajahnya kasar. Separuh hatinya membenarkan ucapan pemuda itu, tetapi disisi lain tidak. Ia bisa mengerti apa yang dirasakan Nun-ah. Gadis itu pasti merasa kecewa. Ia amat menyayangi Minhwa dan akan melakukan hal apa pun untuknya. Semua serba memusingkan.

“Kadang aku cemburu pada Minhwa, kenapa adiknya itu selalu mengkhawatirkannya.” keluh Junghoon pelan.

“Nikmati saja penderitaanmu, Hyung.”

Usai berkata demikian, Geunsuk segera menghilang sebelum Junghoon sempat melemparnya dengan sebuah asbak.

complexity

Stasiun adalah tempat yang dituju Nun-ah pertama kali. Tempat yang selalu dijadikan tempat pelariannya. Matanya terbuka perlahan, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Sedangkan kaki kirinya disilangkan ke atas kaki kanannya, sementara itu tangannya memegang sekaleng soft drink. Beberapa kali ia melihat kereta datang dan pergi. Ia diam, sama sekali tak beranjak.

Nun-ah menghelakan nafasnya. Ia suka menyendiri, tetapi caranya menyendiri adalah berada di keramaian. Di tempat ramai, ia merasakan dua hal sekaligus. Ia tidak merasa sendiri karena banyak orang di sekitarnya, tetapi juga merasa sendiri karena tidak ada satu pun diantara mereka yang memperdulikannya. Ia menikmati suasana itu.

Matanya menangkap sepasang kekasih yang berjalan secara beriringan sambil bergandeng tangan mesra. Ia melenguh pelan karena mereka mengingatkannya dengan hubungan kakaknya dengan Song Joongki.

Ia akui sosok Joongki sangat tampan dan seorang pria baik. Namun, entah mengapa ia belum bisa menerima hubungan mereka yang sebentar lagi akan menjadi pasangan suami-istri itu. Joongki yang ia kenal sebagai sepupu Jang Geunsuk –asisten Junghoon yang juga teman SMA Minhwa- merupakan seorang Manager sebuah hotel berbintang enam di Seoul. Mereka berkenalan pertama kali di pesta ulang tahun Geunsuk yang ke-21.

Awalnya, Nun-ah tak mempermasalahkannya karena waktu itu mereka memiliki pasangan masing-masing. Joongki pun tampak tak memperdulikan Minhwa. Ketenangannya buyar saat mereka sama-sama sendiri dan dipertemukan kembali di hotel pemuda itu. Saat itu Minhwa sedang bertugas menemani seorang penulis terkenal melakukan fans meeting yang diadakan di sana.

Bukan tanpa alasan mengapa Nun-ah begitu tak menyukai pria itu. Salahkan saja sepak terjangnya selama ini sebagai seorang player yang suka memainkan hati para gadis. Tak tangung-tanggung ia mempunyai rekor 17 kali berpacaran. Nun-ah bukan gadis bodoh, ia akan mengorek-ngorek informasi pada setiap laki-laki yang mendekati Minhwa.

Nun-ah pun tak tahu mengapa ia sebegitu protective-nya kepada Minhwa. Ia sadar itu tak baik. Ia hanya trauma mendapati kakaknya menangis di pojok kamar karena mengetahui pacarnya selingkuh di belakangnya. Ada perasaan tak rela jika Minhwa disakiti. Rasanya sakit dan pedih. Biar pun mereka bukan saudara kandung, tetapi Nun-ah dapat memahami apa yang dirasakan Minhwa.

Walaupun ia merasakan perasaan Minhwa sangat kuat terhadap Joongki dan begitu pun sebaliknya, ia tetap merasa takut. Takut jika Joongki menyakiti Minhwa. Takut jika Joongki membawa kakaknya pergi jauh darinya. Ia terlalu takut. Ia ingin –kalau bisa- memisahkan mereka, tetapi itu benar-benar tak mungkin setelah mengetahui kondisi kakaknya kini. Ia terlambat.

Puing-puing ingatannya tersusun secara acak, menari-nari di benaknya.

 _________

Nun-ah berjalan menelusuri koridor kantor kakaknya. Senyumnya sedari tadi tersungging di wajahnya. Tangan kanannya menenteng dua kantong plastik besar yang berisi makanan. Ia berniat mengajak Minhwa makan siang bersama. Sungguh ia tak sabar untuk segera menemui kakaknya itu dan menceritakan hal yang membahagiakan bagi dirinya karena ia akan pergi ke Osaka untuk menghadiri sebuah pameran perhiasan di sana.

Langkahnya tiba-tiba berhenti ketika mendengar sayup-sayup suara Minhwa di depan pintu ruangannya.

“Kau harus bertanggung jawab, Song Joongki-ssi.”

Eonni,” bisik Nun-ah heran. Dari nada bicaranya, Nun-ah menyimpulkan bahwa Minhwa sedang marah dengan pria itu.

Yakk! Aku tak mau melakukannya dan tak akan pernah,” terdengar suara Joongki dengan nada kesal.

“Jangan menjadi orang yang pengecut!” sembur Minhwa, “Kalau kau laki-laki, kau harus bertanggung jawab apa yang sudah kau perbuat. Ini sudah 2 bulan.”

Aissh! Kenapa para wanita begitu mengesalkan?”

“Kau harus melakukannya. Kalau tidak, dengan terpaksa akan ku laporkan masalah ini kepada orang tuamu.”

Yakk! Jangan bawa-bawa orang tuaku ke dalam masalah ini,”

“Harus. Jika tak ingin ku bocorkan masalah ini, maka bertanggung jawablah.”

Aisshh!”

Nun-ah menatap nyalang. Kakinya tiba-tiba terasa lemas. Mencoba mengambil langkah mundur tetapi entah mengapa kakinya sangat berat untuk digerakkan. Tangannya yang bebas meraih dinding dan memegangnya agar tak oleng. Nafasnya terdengar memburu. Pikiran-pikiran jelek bergelayut di benaknya.

Omo! Ini gila!” bisiknya tak menyangka, “Apa maksud mereka? Eonni tak mungkin hamil ‘kan?”

Seketika setetes air turun dari pelupuk matanya. Menggeleng. Tak percaya. Hatinya terasa sakit kali ini seakan-akan ada seseorang yang merenggut jantungmu. Kekecewaan tercetak jelas di wajahnya. Sosok kakak yang dibangga-banggakannya, yang selalu disayanginya telah berbuat sesuatu yang berada di luar nalarnya.

‘Ini pasti bohong. Mereka tak mungkin melakukannya sebelum menikah. Mereka sudah berjanji padaku tidak akan melakukan hal-hal aneh,’ pikirnya. Tapi sekarang? Sungguh ia tak ingin menangis.

Tiba-tiba ponselnya mendadak bergetar, tanda sebuah panggilan masuk membuatnya tersentak.

Yeoboseyo,” ujarnya tercekat.

“Nunie-ya, kau ada dimana sekarang?” terdengar suara Junghoon di seberang line, “Bisakah kau datang ke Battered Sole restaurant sekarang? Park Minji ingin bertemu dengan kita karena mendengar kita akan pergi ke Osaka besok. Ia memajukan pertemuannya menjadi hari ini,”

Ne,” sahut Nun-ah patuh menahan isakan tangisnya.

Sejenak ia memandang bingung antara pintu ruangan Minhwa dan ponselnya. Mengumpat pelan, ia memutuskan berjalan memasuki lift. Sudah beberapa kali ia mengusap air matanya, tapi tetap saja air matanya menganak sungai.

Eonni, itu tak benar ‘kan?” rapalnya terus menerus sambil terisak.

 _________

Nun-ah berjalan memasuki gerbang rumahnya sembari menyeret kopernya. Lelah dan tubuhnya terasa lengket, ia ingin cepat-cepat berendam di air panas. Perjalanannya di Osaka begitu melelahkan baginya.

Alisnya bertaut heran melihat beberapa mobil yang sama sekali tak dikenalnya bertengger manis di halaman rumah yang luas. Suara riuh rendah terdengar saat ia membuka pintu rumahnya. Ia terlonjak kaget ketika seseorang tiba-tiba datang dan memeluknya.

Eonni!” serunya, “Waeyo?”

“Nunie-ya, akhirnya kau pulang juga. Kami sudah menunggumu sejak tadi,” sahut Minhwa setelah melepas pelukannya sambil memberikan seulas senyum yang cantik.

“Joongki Oppa melamarku,” ucapnya kemudian terdengar sumringah.

Ne?”

“Dia melamarku kemarin. Sekarang orang tua kita sedang berbincang dengan orang tuanya,” ujar Minhwa sambil membantu membawa koper adiknya.

Nun-ah terpaku sejenak sebelum mengerjapkan kelopak matanya. Berusaha tersenyum walaupun pahit. Ia mencoba menekan perasaan yang menggelegak tak suka dengan kabar yang baru saja disampaikan oleh gadis itu. Dengan langkah terseret dan tatapan kosong ia berjalan menaiki tangga . Dapat ia lihat di ruang tengah orang tua mereka sedang bercengkerama asyik disertai gelak tawa, tanpa memedulikan kehadirannya.

Ia menatap benci kepada pemuda yang telah merebut satu-satunya kakak dari sisinya. Joongki tersenyum canggung ke arahnya. Jelas-jelas ia mengetahui seberapa benci Nun-ah pada dirinya, tapi ia tetap menerjang. Menulikan pendengarannya setiap kali Nun-ah menyerukan untuk menjauhi Minhwa.

Nun-ah mengusap keningnya. Apakah ia harus menyerah?

“Jenius. Ia melamar saat aku tak ada,” gumamnya.

“Kau bicara apa?” tanya Minhwa tanpa menyadari tatapan cemas Joongki pada mereka.

Aniyo,” geleng Nun-ah dengan cengiran lebar.

“Apakah Eonni merasa mual-mual, muntah atau pusing?” tanyanya mengalihkan pembicaraannya.

“Sejauh ini tidak sama sekali. Namun, kadang aku merasa migraine atau sakit perut karena merasa lapar.” ungkap Minhwa disertai tawa.

Ia menepuk kepala Nun-ah dengan lembut, “Aigoo! Kenapa adikku sangat perhatian sekali? Khawatir, eoh?”

Nun-ah mendecih pelan, “Salahkan dirimu yang bertubuh kecil,”

Yakk! Aku tak kecil!” sahut Minhwa tak terima lalu mengejar Nun-ah yang sudah menghilang.

 _________

“Apa yang kau perbuat pada Eonni-ku, Joongki-ssi?” tanya Nun-ah tanpa tedeng aling-aling saat melihat sosok pemuda itu memasuki tempat kerjanya yang sepi.

“Apa maksudmu?” kata Joongki balik bertanya dengan bingung.

“Jangan kira aku tak tahu apa yang telah kau perbuat padanya,” ujar gadis itu sinis.

Joongki terdiam sejenak, kesal. “Aku benar-benar tak tahu, Nun-ah-ya. Tolonglah, jangan bermain teka-teki denganku.”

“Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu kali ini. Menggunakan cara picik untuk dapat menikahinya. Setelah ini kau akan membawanya pergi seperti janjimu, ‘kan?” kata Nun-ah emosi.

Yakk! Berbicaralah yang jelas!” bentak Joongki tak sabar.

“Kau menghamili Minhwa Eonni,”

Penyataan Nun-ah membuat Joongki bungkam, tak memberikan respon. Hening. Pemuda itu membuang nafasnya kasar melalui mulut lalu tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai. Nun-ah mengernyitkan dahinya melihat reaksi Joongki, heran.

“Itu. Ani. Kau dapat dari mana berita itu?” tanyanya tersengal saking syoknya.

“Kau tak perlu tahu aku tahu dari mana. Jadi, apakah itu benar?” desak Nun-ah.

Joongki memamerkan senyumannya yang manis, yang menurut Nun-ah membuat Minhwa terpesona ke dalam jerat lelaki tersebut.

“Kalau begitu aku pun tak bisa memberitahumu. Kau bisa menanyakan sendiri pada Minhwa,” ucapnya misterius.

Mwo?” kata Nun-ah tak terima.

Joongki melambaikan tangannya sembari tersenyum, “Ah, tujuanku datang kemari memang berniat menemuimu, tetapi aku tak menyangka diinterogasi olehmu. Sepertinya aku salah memilih waktu,”

Nun-ah merutuki kebodohannya, lupa menanyakan tujuan kedatangan pria itu. Ia menyalahkan dirinya yang langsung tersulut api kemarahan ketika melihat Joongki datang. Dimana tata kramanya yang selalu diajarkan Eomma-nya selama ini.

“Jadi apa keperluanmu kemari?” tandas gadis itu.

“Hanya ingin memesan cincin pernikahan padamu,” jawab Joongki santai, “Ah, kau pasti tahu Minhwa seperti apa ‘kan? Jadi kupercayakan itu padamu,”

Joongki kembali melanjutkan ketika tak ada tanda-tanda sanggahan dari Nun-ah, “Dan pastikan aku akan mengambil pesananku bulan depan,”

Perlu beberapa detik bagi Nun-ah mencerna ucapan pria itu, “Yakk! Jangan seenaknya!”

“Bukankah itu pekerjaanmu? Aku bisa saja melaporkan hal ini pada kekasihmu yang keriput itu, kalau pegawainya bersikap tak menyenangkan pada pelanggan.” ancam Joongki pelan namun penuh dengan nada sarat intimidasi.

Nun-ah menghelakan nafasnya. Ia benci ini. Dan apa-apan pria itu mengatai pacarnya keriput. Hei, ia masih sangat tampan, jerit Nun-ah dalam hati.

Joongki tersenyum kemenangan melihat gadis itu terdiam, tanpa perlawanan. Ia pun berpamitan untuk pergi. Nun-ah mengangkat sebelah alisnya saat melihat pria itu menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya kembali menghadap gadis itu.

“Hm, mulailah berlatih memanggilku dengan sebutan Hyeongbu (kakak ipar), Cheoje (adik ipar).” ujarnya sebelum berlalu meninggalkan Nun-ah dengan wajah merah seperti kepiting rebus menahan amarah.

Nun-ah mendesis tak percaya.

 _________

Nun-ah memejamkan matanya mencoba meredam perasaannya sendiri. Sekarang semuanya sudah terlambat. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali jika ingin Minhwa bahagia. Bimbang. Kalau ia memisahkan mereka sama saja ia menghancurkan hati kakaknya. Ia tak ingin menjadi orang yang kejam bagi Minhwa.

Nun-ah menghempaskan punggungnya ke kursi. Mendesah kuat. Ini amat sinting, pikirnya.

Sesungguhnya yang paling dibencinya adalah perhatian Minhwa yang teralihkan darinya. Minhwa selalu memenuhi apa saja kebutuhannya. Sebenarnya setelah bersama dengan pemuda itu pun ia masih bersikap sama dengan Nun-ah. Tetapi, Nun-ah tak suka. Ia merasa diduakan oleh kakaknya. Egois, eoh?

Selama ini mereka selalu berdua. Setiap kali ada pengaganggu yang hadir di tengah-tengah mereka, dengan cepat Nun-ah membasminya. Joongki memang bukan pria pertama yang dicintai Minhwa. Ada dua pria yang mengisi hatinya sebelum Joongki, tetapi karena mereka menyakiti hati kakaknya, Nun-ah mulai membentengi Minhwa.

Ia menolehkan wajahnya ketika mendengar suara yang menarik perhatiannya. Ujung bibirnya melengkung ketika melihat segerombolan anak-anak TK berbaju kuning cerah berjalan memasuki peron. Mereka menunggu sebuah kereta, sementara seorang guru sedang memberikan pengarahan pada mereka.

Melihat mereka membuat pikirannya kembali melayang. Senyumnya pun pudar.

 _________

“Kang Nun-ah! Apa benar kau adik dari Kang Minhwa sunbae?”

“Kalian sama sekali tak mirip. Jangan-jangan berita kalau kalian bukan saudara kandung benar, ya?”

“Itu….”

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua didorong sampai punggungnya membentur tembok oleh dua orang anak perempuan yang belum ia kenal. Kotak bekal yang ia bawa terjatuh dan isinya berhamburan keluar.

Nun-ah menggigit bibirnya sambil memandangi kotak makan siangnya. Bekal kesukaan yang sudah ia nantikan hancur berantakan. Ia mengingat bagaimana harus membujuk ibunya selama 5 hari untuk membuatkannya. Ugh, sepertinya ia tak bisa makan siang hari ini. Dan sepertinya juga ia harus dapat menahan lapar sampai pulang nanti.

“Jangan mentang-mentang kau adiknya, kau berbuat seenaknya.” bentak salah satu dari mereka yang bertubuh besar.

Nun-ah sama sekali tak mengerti apa kesalahannya sampai kedua orang tersebut berbuat demikian padanya. Ia merasa tak pernah berbuat apa-apa yang mengganggu mereka.

“Maaf,” kata Nun-ah sambil menundukkan wajahnya.

“Untuk apa meminta maaf? Kau sama sekali tak berbuat salah,” kata seseorang tiba-tiba sambil berjalan menghampiri mereka.

Semuanya menoleh. Nun-ah makin mencengkeram rok seragamnya begitu melihat Minhwa datang.

Eonni,” ujarnya pelan.

“Kalian berdua akan kuadukan pada Seonsaengnim kalau kalian mengganggu adikku lagi. Kalian dengar itu?!” seru Minhwa pada kedua orang itu.

“Ah, ne Sunbae.” sahut mereka takut lalu pergi.

Gumawo,” ucap Nun-ah senang kemudian membereskan kotak bekalnya.

Minhwa menatapnya kemudian membantunya. “Ini harus dibuang,” ujarnya melihat kondisi bekal yang sudah tak layak.

Nun-ah menggeleng, “Tapi, aku belum makan. Tadi pagi juga aku belum sempat sarapan,”

Minhwa mendesis. Tanpa mengatakan sepatah kata ia menarik lengan Nun-ah dan membawanya ke suatu tempat. Mereka duduk di halaman belakang sekolah tepat di bawah pohon pinus yang rindang. Nun-ah terdiam memandang bekal milik Minhwa.

“Tunggu apa lagi? Makanlah!” suruh Minhwa.

Eonni tak keberatan aku ikut makan bersama dengan Eonni?” tanya Nun-ah takut-takut sesekali mengerling ke arahnya.

“Apakah aku setega itu melihat adikku belum makan seharian?” tandas Minhwa gemas.

Hati Nun-ah mencelos. Adik? Minhwa menyebutnya adik? Ia tak bermimpi’kan? Meskipun ia sudah dua kali mendengar Minhwa mengucapkannya, ia masih tak mempercayainya.

Minhwa tersentak saat mendengar suara isakan yang meluncur dari bibir mungil Nun-ah.

Yakk! Kenapa kau menangis?” tanya Minhwa heran.

“Aku kira Eonni tak mau mempunyai adik sepertiku. Eonni selalu diam jika aku mengajak berbicara. Aku takut Eonni membenciku,” jawab Nun-ah dalam tangisnya.

Minhwa tak menduga Nun-ah akan mengatakan hal demikian. Ia akui ia masih belum dapat menerima pernikahan ayahnya dengan ibu Nun-ah, tapi ia sama sekali tak membenci mereka. Ia hanya belum bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya.

Eonni sama sekali tak membencimu. Eonni hanya merasa aneh. Kau pasti merasakannya juga ‘kan? Awalnya aku merasakan sendirian, tetapi sekarang kau dan Eomma hadir. Semuanya terasa berbeda dan aneh, tetapi aku menyukai keanehan itu.” celoteh Minhwa.

“Mulai sekarang kita adalah kakak-adik. Jadi, jangan berpikiran seperti itu lagi, ne. Sekarang makanlah,” lanjutnya lembut.

Tangis Nun-ah berhenti. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, lucu.

“Jadi, bolehkan aku meminjam buku yang berada di rak kamar kita?” tanyanya meminta izin.

Sejak kedatangannya di rumah barunya, ia ingin sekali bisa membaca buku milik Minhwa yang tampak menarik baginya. Namun, ia mengurungkan niatnya melihat sikap Minhwa yang dingin terhadapnya.

Minhwa mengangguk sambil memakan sepotong telur gulung.

“Semuanya?” tanya Nun-ah memastikan lagi.

Minhwa tertawa renyah sebelum mengangguk lagi, “Kau boleh membaca semuanya,”

Nun-ah tersenyum senang. Ternyata doanya yang ia panjatkan sebelum tidur terkabul. Membuat Minhwa mau menganggapnya sebagai adik.

_________

Hari sudah malam. Stasiun pun mulai sepi. Namun, Nun-ah tetap tak bergeming di tempatnya. Ia masih enggan beranjak dari sana. Ia tidak khawatir dirinya akan dirampok oleh sekelompok berandalan. Ia sangat ahli menggunakan jurus karatenya. Namun, ia membenci suasana yang mulai sepi ini.

Ia merogoh smartphone-nya di dalam saku jaketnya. Mengetik sebuah pesan yang ia kirimkan pada Minhwa. Dan dengan perlahan ia mulai berjalan meninggalkan stasiun.

complexity

—To Be Continued—

Advertisements

About ansicangel

I'm extraordinary girl. Like listening music, reading, and watching movie. Cassie, ELF_Cloud&Angel_ Inspirit 송눈아..^^

7 thoughts on “Complexity [Part 1]

  1. Kyaa klupaan komen di sindang.
    Well, d fb I said that nunah overprotect sama minhwa
    I know it’s because love tapi ada sisi selfishnya
    Persis kaya sepupu gee yg mewek waktu onni-nya merit
    Ga mau ditinggal gitu

    😀 lebih penasaran sama kisah JH oppa sama nunah

    1. Chelsea Eonni ^^

      Hahaha It doesn’t matter kok Eon 🙂
      Nun-ah emang over banget kekekeke.. Yup, Sica setuju Eon.. dia sayang banget ma kakaknya mpe gak mau kenapa2 termasuk nikah hahaha sistercomplex, euy 😀

      o.O Sica kirain cuma Minhwa ma Joongki aja yang bikin penasaran, tapi juga Junghoon ma Nun-ah hehehe..

      Tunggu chapter depan, ya Eon 😉

      Thnak you atas RCL-nya Eonni
      *deep bow*

      LOVE

  2. Judul complexity sesuai banget deh, karena memang cerita ini kompleks banget, kebayang gimana perasaan Nun-ah yang tahu kakaknya mau nikah gara-gara hamil dulu, tapi itu cuman prasangka aja, kan? Ngga beneran hamil, kan?

    Okay ditunggu lanjutannya aja deh ^^

    1. Nana Eonni..

      Jujur, awalnya rada pusing nentuin judulnya hehehe *curcol*.
      Hahaha Nun-ah nangis kejer tuh pas tahu berita itu, pengen mutilasi Ki rasanya *Oops* ^^v
      Jawabannya nunggu chapter depan ja, ya Eon hihihihi*ketawa ala mak lampir*

      Thank you Eonni atas komentarnya 😉
      *deep bow*

      LOVE

  3. Hallo~~~
    Bener-bener complicated bacanya, banyak intriknya. Berasa nonton drakor.
    Btw, yang jadi Song Nun-ah itu artis ya? Kayak pernah liat dia maen di drama apa gitu #abaikan

    .Plum.

    1. Hi, Plum ^^

      Sorry, I’m late for replying your comment *bow*
      Gara2 keseringan nonton drama, jadilah begini hehehehe.. complicated tapi masih tergolong ringan kok *weeh*

      Song Nun-ah tuh nama Korea saya hehehe ^^v. Rada tersanjung juga dikira artis wkwkwkwk. Kalo gambar posternya diambil dari foto ulzzang hihihihi

      Thank you for reading and giving RCL
      *deep bow*

      LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s