I Hate You When…

I Hate You When…

IHYW Poster copy

By :

The Cuties

Romance/Drama/Comedy |PG 17 | One-Shot

Casts :

Yoon Doojoon (Beast), Lee Yoori (OC), Lee Chaerin (OC), and Kang Minhwa (OC)

Disclaimer : Yoon Doojoon  belongs to himself, Cube Entertainment, his family and GOD, but the story belonging to me. his character which I wrote is mine. Copy-paste my story is NOT ALLOWED without my permission. And this story already post at wattpad with other cast.

∞ώ I Hate You When ώ∞

“Yoori-ya, apakah kau sudah memikirkannya masak-masak?”

“Iya, Onnie benar sudah memikirkannya?”

“Hmmm…” sahut Yoori pelan.

“Dan Onnie yakin?”

Seems like that…”

“Tapi, Yoori-ya. Kamu coba pikir lagi deh. Kamu kan bisa omongin baik-baik sama Doojoon, Coba kalian datang ke konsultan perkawinan deh. Kamu mau aku bantu cariin? Kalau tidak salah, teman Alice Aunty ada tuh yang…” Chaerin, sahabat dekat Yoori mencoba membantu. Tapi Yoori yang diajak bicara hanya diam. Tatapannya kosong sambil tangannya mengaduk-aduk minuman di depannya tanpa selera.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Sore itu, di sebuah café yang jadi favorit tiga sahabat Yoori, Chaerin dan Minhwa sejak berseragam putih abu-abu terjadi sesuatu. Satu short message 36 karakter yang dikirim ke grup pemanggil ‘TheEditor’ cukup membuat Chaerin dan Minhwa tergopoh-gopoh dengan muka kusut kelelahan.

Chaerin setengah berlari datang dengan membawa setumpuk berkas ditangan kiri dan iPad ditangan kanannya. Lee Chaerin adalah seorang chief fashion editor di salah satu redaksi majalah fashion besar di Seoul. Chaerin adalah tipikal orang yang tegas, straight, dewasa, dan sudah bisa dipastikan paling stylish.

Demi dilihatnya Yoori tertunduk lesu di meja sudut café dan bukannya di meja favorit mereka di depan mini stage café, tahulah Chaerin something bad happened to Yoori. Yoori yang manja, keras kepala tapi setia sedang layu di sana.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Minhwa yang sore itu kebetulan sedang ‘terjebak’ di ruang kelasnya gelisah.

<theeditor, need you. Sekarang. Kafékita! -message from Yoori Onnie>

Sms pendek dari Yoori yang tidak biasanya itu kontan membuat si ibu dosen saklek, namun ceroboh ini gelisah. Matanya selalu tertuju ke pintu keluar ruang kelas di lantai tujuh universitas tempatnya mengajar. Pikirannya pun fokus kepada Yoori yang nun jauh di sana sedang tertunduk lemas, sendirian. Sebenarnya Minhwa lebih muda dua tahun dibandingkan Yoori dan Chaerin. Namun, karena hobi menulisnya, Minhwa berkenalan dengan Yoori dan Chaerin yang punya hobi serupa. Dan sampai sekarang mereka bersahabat.

‘Ada apa nih? Duh Gusti, Doremon ke mana sie nie ahh… Kalau tahu akan seperti ini, mungkin aku tidak akan menolak ajaran ilmu kanuragan dari Eyang Kakung dulu. Mana tahu kan sekarang bisa berguna untuk menghilang,’ Batin Minhwa gelisah. Minhwa memang bukan orang Korea tulen. Ayahnya memang orang Korea, sedangkan ibunya adalah orang Indonesia tepatnya Jawa, yang masih memegang pemahaman Jawa kuno.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Chaerin datang dua puluh menit setelah sms Yoori dibacanya. Seoul di sore hari memang luar biasa macetnya. Semua orang berlomba untuk meninggalkan rutinitasnya, berharap lelah akibat bekerja seharian akan terlupakan dengan kepulangan mereka.

Dengan riasan wajahnya yang masih terlihat sangat rapi, dilihatnya Yoori sahabatnya tertunduk. Chaerin langsung duduk dalam diam di depan Yoori sambil memandang lembut wajah sahabat terkasihnya. Wajah Yoori kuyu, bibirnya pucat, kering dan mengatup rapat. Matanya nampak lelah, layu, dan juga berkantung. Gaun cantik selutut warna biru muda nampak semakin cantik dibadan Yoori. Dimanapun dan kapanpun, Yoori memang selalu mempesona, tidak kalah dengan Chaerin. Tapi ada pengecualian untuk hari ini. Mata Yoori yang biasanya memancar indah saat ini seperti kehilangan cahayanya.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Lima belas menit kemudian Minhwa datang dengan polahnya yang selalu tergesa-gesa. Minhwa menghentikan kelasnya begitu saja, setelah salah satu mahasiswanya selesai melakukan presentasi. Dengan mengandalkan salah satu mahasiswa yang menaruh hati padanya, sampailah Minhwa di depan cafe dengan selamat dan… Sedikit kacau. Helm masih menempel dikepalanya sampai di depan meja Yoori dan Chaerin. Yoori dan Chaerin tercengang. Itupun tidak disadarinya seandainya seorang waiter muda tidak mencolek bahunya, tersenyum canggung antara memegang teguh sopan santun dan ingin tertawa, menunjuk ke kepala Minhwa dan kemudian menunjuk ke arah luar café, kepada seorang anak muda yang sumringah memamerkan senyumnya yang termanis. Sigh

Dan itupun belum selesai. Sesaat setelah pantatnya menempel mesra kursi café, giliran seorang waitress menyodorkan sepasang sepatu high heels branded cantik berwarna coklat dengan senyum terlalu manis ke depan meja mereka. Mata Chaerin melirik ke bawah meja memandang kaki telanjang Minhwa lalu memandang Yoori yang memandang pasrah pada Minhwa. Yoori menghela nafas. Chaerin melotot sambil geleng-geleng. Minhwa, meringis pelan…

“Pegel Onnie, susah jalan…” ujarnya dalam bahasa Indonesia yang untungnya dimengerti oleh Chaerin dan Yoori.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Yoori sudah menikah dengan DJ – panggilan dari Yoon Doojoon, hampir satu tahun. Setelah sebelumnya menjalani proses pacaran long distance selama sembilan tahun. Doojoon sekolah dan melanjutkan kuliah hingga S2 di Iowa. Setelah lulus pun Doojoon bekerja di perusahaan di Belanda selama hampir dua tahun. Mereka jarang bertemu. Pacaran ala mereka adalah chat, telepon dan email.

Doojoon pulang ke Korea karena diminta ayahnya mengelola perusahaan mereka di Jeju. Jadi, lagi-lagi, sekalipun mereka berada dalam satu negara, mereka tetap jarang bertemu. Tapi, biarpun jarang bertemu, tidak berarti hubungan mereka suram dan tidak harmonis. Putus sambung mereka selama sembilan tahun pacaran bisa dihitung dengan sebelah tangan saja. They are such a perfect couple ever. Yoori yang manja, klop karena Doojoon yang amat dewasa. Yoori yang keras kepala, seiya dengan Doojoon yang sabar. Yoori yang amat setia, Yoori yang suka membahas, Yoori yang banyak bertanya, Yoori yang perfectionist, Yoori yang ini dan itu benar-benar sejalan dengan Doojoon yang open-minded dan mature. So balance at all.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Perjalanan kesetiaan cinta mereka benar-benar teruji oleh jarak dan waktu. Yoori yang cantik mempesona dengan kulit kuning, bola mata bundar kecoklatan, tinggi semampai dan cerdas, sedikitpun tidak berpaling dari Doojoon yang terpisah jarak ribuan kilometer selama sembilan tahun.

Begitupun Doojoon yang atlet taekwondo dan pemain sepak bola. Badan atletis dengan kulit putih bersih, mata mungil dan suara berat. Doojoon yang talkative, dewasa, sabar dan tidak tegaan, benar-benar memuja Yoori si cinta pertamanya.

Yoori dan Doojoon adalah teman sekelas di sebuah tempat kursus waktu mereka hampir lulus SMP dulu. Sekolah Yoori dan Doojoon ada di satu komplek sekolah yang sama. Yoori adalah sepupu sahabatnya Doojoon. Doojoon yang tampan, Doojoon yang perfect sebagai ABG pasti mempesona semua perempuan, termasuk Yoori. Dan dari tempat kursus itulah cinta mereka tercatat oleh takdir.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Tapi sekarang, di café yang seperti jadi rumah ketiga mereka setelah tentunya rumah orangtua dan kamar Minhwa, Yoori tiba-tiba menyampaikan berita mengejutkan. Yoori menggugat cerai Doojoon! Terbayang jelas dalam ingatan Chaerin dan Minhwa bagaimana selama ini mereka keukeuh mempertahankan hubungan mereka, bagaimana sembilan bulan lalu Doojoon melamar Yoori di atas pesawat saat mereka berempat berlibur ke Raja Ampat. Yoori yang nampak anggun saat pernikahan mereka delapan bulan lewat, dengan gaun sederhana klasik warna broken white yang benar-benar mengagumkan. Doojoon yang menangis sesegukan sesaat setelah ikrar diucapkan, dan sekarang…

Selama ini Yoori tidak pernah sebersit pun menampakkan gejala bermasalah dalam pernikahan mereka. Yoori dan Doojoon pun pasti terkaget-kaget dengan fase hidup mereka ini.

Chaerin mungkin sama kagetnya dengan Minhwa, hanya saja mungkin Minhwa lebih ekspresif cenderung demonstratif dalam menyampaikan keterkejutannya. Tapi efeknya, semua karyawan café dan pengunjung yang kebetulan ramai terlonjak kaget dan memandang heran ke arah mereka bertiga. Chaerin lagi-lagi melotot, menunduk malu sambil tangannya mencubit lengan Minhwa di sampingnya dengan gemas. Yoori menutup wajahnya dengan satu tangan sambil menundukkan kepalanya. Tangan satunya sibuk memijat keningnya yang tiba-tiba bertambah pening. Minhwa, sesaat setelah berdiri, menggebrak meja dan berteriak kencang, cuma meringis kesakitan sambil menutup mulutnya…

“Aku… Aku sudah mengajukan…”

Onnie mau mengajukan resign dari kantor? Kenapa tidak dari dulu-dulu? Kan sudah aku bilangin jug…” Minhwa mengerem bicaranya karena Yoori menggeleng pelan tapi tegas.

“Hah, bukan? Lalu apa? Mengajukan lamaran kerja? Mengajukan… Emm, mengajukan tawaran? Tapi tawaran apa? Ngomong dong Onnie…” cerocos Minhwa sambil menepuk pelan tangan Yoori yang duduk di seberang bangkunya.

“Heh, Kang Minhwa! Sampai nenek-nenek berubah jadi muda kembali juga, Yoori mana bisa bicara, kalau kamu ngomongnya sudah seperti tidak belajar titik koma!” sahut Chaerin ketus.

“…….”

“…….”

“…….”

“…….”

“Tuh kan, Aku sudah diam, Yoori Onnie sama sekali tidak bicara!” Minhwa menggerutu.

“Yoori-ya, kamu kenapa?” Chaerin pelan bertanya.

“Hmmpph, iya Onnie. Lee Yoori Onnie sahabatku, kasihku, sayangku, cintaku seluas samudra, setinggi langit di angkasa, tell us, ono opo?” Minhwa melembut. – note Minhwa terkadang suka mencampur bahasa yang digunakannya. Mulai dari bahasa Korea, Indonesia, ataupun bahasa Jawa. Minhwa mengenggam tangan Yoori. Yoori semakin menunduk. Chaerin yang tidak tega, pindah duduk ke samping Yoori dan memeluknya dalam dekapan. Bahu Yoori berguncang pelan dalam dekapan Chaerin. Tangan Minhwa erat digenggam Yoori, Minhwa semakin menggenggam tangan Yoori, berharap bisa menghisap sakitnya Yoori untuknya saja.

“Yoori-ya, keluarkan semuanya kalau memang kamu merasa berat. Kadang, menangis itu perlu untuk meringankan sesak di dada, Darl…” kata Chaerin lembut sambil mengelus kepala Yoori. Bahu Yoori tambah berguncang. Tangan Yoori sekarang ada dalam dekapan Minhwa, diletakkan di dadanya sambil dielus penuh simpati.

“Yoori Onnie…” Minhwa tercekat, tidak bisa berkomentar.

Mianhae Chaerin Onnie, Minhwa-ya, aku sudah membuat kalian kerepotan seperti ini. Saat ini aku tidak tahu harus cerita kepada siapa lagi. Kedua orang tuaku sedang pergi ke acara wisuda Hyera di Paris…”

“Yoori-ya, di dalam persahabatan itu tidak ada yang namanya merepotkan atau direpotkan,” ujar Chaerin.

“Iya Onnie. Sahabat itu kapan pun di mana pun, seven days, twenty four hours will be right here to listen and care each other, iya kan? Dulu waktu aku ada masalah sama si Namu menyebalkan itu juga, aku langsung menghubungi Onnie berdua, kan?” tambah Minhwa yang disambut anggukan oleh Chaerin dan Yoori. Minhwa lalu mengulurkan tangannya membantu menyusut maskara Yoori yang luntur dan meninggalkan bekas menghitam di sepanjang pipi Yoori yang mulus.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Anytime kamu mau cerita, kami siap menjadi pendengar, Darl,” kata Chaerin bersamaan dengan datangnya pesanan mereka. Jus strawberry, jus semangka, jus apel, dan senampan besar French fries mengepul mengganggu konsentrasi Minhwa yang seharusnya ikut sumbang suara.

Duh Gusti, kentang-kentang goreng ini benar-benar berhasil merusak konsentrasi gue, kalau bukan karena sopan santun, udah gue comotin satu-satu deh kalian,’ batin Minhwa sambil menelan ludah. Matanya terus menatap ke arah di mana senampan penuh berisi kentang goreng yang gendut-gendut itu berada.

“Dimakan saja, Minhwa-ya. Tidak perlu pura-pura menjaga sopan santun deh,” kata Yoori sambil tersenyum kecil.

Heh? Sejak kapan Yoori Onnie bisa membaca pikiran orang?’  batin Minhwa lagi dengan kening yang mengernyit pelan.

“Dasar bodoh! Kita ini sudah kenal lama, pikiran kamu itu selalu bisa terbaca, Minhwa-ya. Semuanya tertulis jelas di kening kamu!” sahut Chaerin sambil menunjuk kening Minhwa. Mendengar itu Minhwa hanya bisa menyengir dan Yoori kembali tersenyum walau masih terlihat senyumnya tidak seindah biasanya.

“Aku sudah mengajukan gugatan cerai pada Doojoon kemarin,” kata Yoori tiba-tiba. Pelan dan setengah berbisik, tapi cukup menohok indera pendengaran juga hati Chaerin dan Minhwa yang duduk tepat di depan dan sampingnya.

Chaerin yang sedang menyesap jus apelnya sedikit tersedak karena kaget. Dan lebih kaget lagi karena sepersekian detik kemudian Minhwa yang mulutnya tengah mengunyah pelan kentang goreng melakukan empat hal sekaligus secara bersamaan; berdiri, menggebrak meja, menyemburkan potongan kentang goreng dari mulutnya dan berteriak.

What?!”

“…..”

“…..”

Tak lama terdengar bisik-bisik dari para pengunjung café. Chaerin langsung melotot dan Yoori hanya mampu menunduk. Minhwa selalu saja begitu ekspresif.

Sorry,” gumam Minhwa pelan dan kembali duduk di kursinya.

“Yoori-ya, apakah kau sudah memikirkannya masak-masak?”

“Iya, Onnie benar sudah memikirkannya?”

“Hmmm…” sahut Yoori pelan.

“Dan Onnie yakin?”

Seems like that…”

“Tapi, Yoori-ya. Kamu coba pikir lagi deh. Kamu kan bisa omongin baik-baik  sama Doojoon, Coba kalian datang ke konsultan perkawinan deh. Kamu mau aku bantu cariin? Kalau tidak salah, teman Alice Aunty ada tuh yang…” Chaerin, sahabat dekat Yoori mencoba membantu. Tapi Yoori yang diajak bicara hanya diam. Tatapannya kosong sambil tangannya mengaduk-aduk minuman di depannya tanpa selera.

Onnie tidak sedang bercanda dan ingin membuat kami terkena serangan jantung, kan?” selidik Minhwa curiga. Pertanyaan dari Minhwa itu adalah wajar, karena semenjak Yoori menikah, wanita itu jarang curhat lagi dengan Chaerin dan Minhwa. Tidak seperti saat dia masih single dulu. Dan hal itu membuat Chaerin dan Minhwa berpikir yang pernikahan Yoori dan Doojoon berjalan lancar dan amat bahagia.

Yoori menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Minhwa tadi. “Aku… Sudah tidak bisa menahannya lagi.”

“Kamu kenapa tidak pernah cerita-cerita pada kami? Kalau pun kami tidak bisa bantu, at least kami bisa memberi support moril untuk kamu,” Chaerin buka suara.

“Iya, Onnie tega sekali. Tidak menganggap kita sama sekali. Kami berdua ini sahabat Onnie, kan?” protes Minhwa.

Yoori terdiam. “Aku… Aku malu…” desis Yoori.

“Hah? Malu? Sejak kapan di antara kita ada kata malu?” ujar Minhwa. “Dengar, ya Onnieku sayang, aib Onnie, aibku, dan aib Chaerin Onnie, kita semua sudah tahu dan ibaratnya semua kartu AS kita sudah terbentang di meja, so malu untuk apa lagi?” tambah Minhwa berapi-api.

Mendengar perkataan Minhwa tadi, Chaerin hanya diam mencoba menghirup oksigen pelan. Yoori menyesap jus semangkanya setengah hati. Sedangkan Minhwa kembali mengambil potongan kentang goreng dan mengunyahnya pelan tanpa suara. Mereka bertiga sibuk dengan pikiran masing-masing sehingga menciptakan keheningan selama lebih dari lima menit.

“Kamu bertengkar dengan Doojoon?”

“Tidak.”

“Doojoon kasar?”

“Tidak.”

“Mertua Onnie ikut campur?”

Yoori menggeleng. “Mertuaku baik dan perhatian padaku.”

“Doojoon pelit, ya macem si Namu?”

“Tidak.”

He cheats on you?”

I don’t think so.”

“Emm… Atau Doojoon jorok? Doojoon jarang mandi? Doojoon tidak suka sikat gigi? Doojoon suka kentut sembarangan? Apaan dong Onnie?” cecar Minhwa. Yoori tertawa pelan sambil menyesap jusnya lagi yang membuat Minhwa semakin gemas karena penasaran.

“Doojoon punya bad habits yang Onnie tidak suka? Ah, kalau itu tidak mungkin, karena Doojoon itu too perfect,” kata Minhwa mengomentari pernyataannya sendiri.

“Iya lah, mana mungkin seperti itu, kalau misalnya benar, that’s a really cheap reason at all, sama sekali tidak masuk akal,” timpal Chaerin.

Yoori hanya diam tanpa komentar. Kata-kata kedua sahabatnya itu sangat menohok indera pendengarannya dan membuatnya benar-benar bingung.

Girls, kalau misalnya aku mengatakan alasan yang sebenarnya, kalian janji tidak akan menertawakan aku, ya?” ujar Yoori sebelum mengutarakan alasannya menggugat cerai Doojoon.

“Nah, yang seperti ini nie, yang aku tidak suka, belum apa-apa sudah ada syaratnya,” cerocos Minhwa. Chaerin lalu memelototi Minhwa dan membuat wanita itu bungkam.

“Kita janji tidak akan menertawakan alasanmu kok, Darl. So, apa alasan kamu?” tanya Chaerin sambil merangkul bahu Yoori memberi semangat.

“Doojoon… Doojoon… Doojoon…”

Infertil?” tebak Minhwa yang sukses membuat Chaerin melemparkan gumpalan tissue kepadanya.

Hya!” tegur Chaerin. Minhwa hanya meringis kecil.

“Doojoon kenapa, Darl?” tanya Chaerin lembut.

“Doojoon kalau tidur mendengkur,” jawab Yoori dengan suara pelan nyaris berbisik.

Chaerin tersentak. Sedangkan Minhwa berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa dan menunjukkan ekspresi datar. Dia tidak ingin mendapatkan lemparan tissue lagi dari Chaerin. Kalau hanya gumpalan tissue memang bukan masalah, tapi lain halnya kalau kali ini Chaerin melemparnya dengan piring. Itu benar-benar memalukan.

Yoori memandangin kedua sahabatnya secara bergantian. Menunggu reaksi dari Chaerin dan Minhwa. “Sound so silly, right?”

Minhwa mengangguk sambil tetap menahan tawa yang akan meledak, sedangkan Chaerin kembali menyesap minumannya. Ini benar-benar diluar dugaannya.

“Aku kira Doojoon itu tuan sempurna. Tanpa cela. Ternyata…”

“Mungkin saja Doojoon terlalu lelah bekerja, makanya dia tidur mendengur,” ujar Chaerin. Yoori menggeleng.

“Sejak kami menikah sampai sekarang, kalau tidur Doojoon selalu mendengkur. Awalnya aku berusaha untuk menahannya, tapi tidak untuk sekarang,” kata Yoori sambil mengaduk-aduk minumannya.

“Kalian berdua pasti tahu, aku tidak bisa mendengar suara berisik saat sedang tidur, kan?”

Chaerin dan Minhwa mengangguk. Yoori memang tipikal orang yang mudah terganggu tidurnya. Sekali saja wanita itu mendengarkan suara, maka dia akan terbangun dan sulit untuk tertidur kembali.

“Karena masalah ini, aku jadi sulit berkonsentrasi saat bekerja, dan aku juga mulai terkena penyakit vertigo,” keluh Yoori.

“Kamu sudah coba membicarakan ini pada Doojoon?” tanya Chaerin hati-hati.

“Sudah,” jawab Yoori cepat. “Tapi tetap saja tidak ada perubahan.”

Minhwa menghirup nafas dalam dan menghembuskannya cepat. “Ternyata pernyataan nobody’s perfect itu benar, ya,” gumam Minhwa pelan.

“Tapi, Darl. Aku rasa pernikahan kamu sama Doojoon masih bisa diselamatkan kok, jangan langsung menyerah dengan keadaan seperti ini,” Chaerin memberikan pendapat.

“Benar kata Chaerin Onnie, pernikahan kalian berdua terlalu berharga. Masa, hanya karena Doojoon yang suka mendengkur, kalian berdua harus berpisah? Ini benar-benar tidak masuk akal, Yoori Onnie sayang,” giliran Minhwa yang bersuara.

Yoori terdiam memikirkan semua yang dikatakan oleh sahabat-sahabatnya.

Inget perjalanan cinta kalian selama sembilan tahun kemarin, hubungan long distance yang cukup menguras emosi, tapi kalian berdua berhasil melaluinya juga, kan? Aku yakin untuk masalah ini kalian pasti bisa melaluinya juga,” nasehat Chaerin. Lee Chaerin memang selalu menjadi yang paling dewasa di antara Yoori dan Minhwa.

“Banyak cara untuk menghilangkan kebiasaan mendengkur,” kata Minhwa sambil merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan iPadnya. Tak lama dia sudah sibuk mengetik sesuatu di sana.

“Ini,” Minhwa menyerahkan iPadnya pada Yoori. “Aku mau setelah membaca itu, Onnie merubah pemikiran Onnie dan segera mencabut berkas gugatan cerai yang Onnie ajukan.”

“Apa kata dunia, kalau misalnya saat sidang perceraian Onnie dan Doojoon dilakukan, lalu hakim menanyakan alasan kenapa Onnie menggugat cerai Doojoon, dan Onnie menjawab ‘Saya menggugat cerai suami saya karena dia suka mendengkur’. Oh God! Aku yakin pasti semua yang ada di ruang sidang akan menertawakan alasan Onnie itu,” tambah Minhwa yang membuat Doojoon dan Yoori tertawa.

So, kamu mau mempertimbangkannya lagi, kan Darl?” tanya Chaerin.

Yoori tersenyum dan mengangguk. “Thanks, ya Girls. Tanpa kalian, aku pasti akan menjadi bahan bulan-bulanan di persidangan nanti,” ujar Yoori sambil mengenggam erat tangan Chaerin dan Minhwa.

That’s what friend are for, right?” ujar Minhwa yang langsung disambut tawa dari Yoori dan Chaerin.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Keesokan harinya, setelah obrolan sore yang cukup panjang dengan Chaerin dan Minhwa, Yoori memutuskan untuk mengunjungi kantor pengacaranya. Dia ingin mencabut semua berkas gugatan cerainya pada Doojoon.

‘That’s a really cheap reason at all, sama sekali tidak masuk akal.’

Pernyataan Chaerin kemarin sore kembali terlintas dibenak Yoori. Ya, sahabatnya itu memang benar. Alasan menggugat cerai hanya karena kekurangan pasangan kita itu benar-benar alasan yang murahan. Dan Yoori tidak ingin perjalanan cintanya dengan Doojoon berakhir hanya karena alasan itu.

∞ώ I Hate You When ώ∞

Doojoon berdiri tegak di dekat jendela besar ruang kerjanya yang berada di lantai sepuluh gedung pencakar langit. Dia memandang ke luar jendela dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Dia sedang menikmati pemandangan kota Seoul sambil memikirkan  masalah tentang istri tercintanya yang mengajukan gugatan cerai.

Doojoon benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Yoori wanita yang sangat dia puja dan dicintainya, mengajukan gugatan cerai? Apakah perasaan Yoori sudah berubah? Tapi kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak mereka pacaran dulu?

∞ώ I Hate You When ώ∞

Siang itu setelah selesai mengunjungi pengacaranya, Yoori memutuskan untuk mengunjungi kantor suaminya. Sudah lama dia tidak makan siang bersama dengan suaminya itu.

Saat ini dia sudah berada di dalam lift yang akan membawanya menuju lantai sepuluh. Saat pintu lift terbuka, Yoori langsung melangkah ke luar dan mendapati sekretaris Doojoon sedang sibuk dengan komputer yang ada di hadapannya.

“Siang, Miss Oh,” sapa Yoori.

Wanita yang sedang sibuk menatap komputer itu lalu mengangkat wajahnya. Dan sebuah senyuman ramah langsung dia berikan pada Yoori. “Selamat siang, Nyonya,” balas sekretaris Doojoon. “Apakah Nyonya ingin menemui Sajangnim?”

“Apakah dia ada di ruangannya?” tanya Yoori dan sekretaris Doojoon mengangguk sebagai jawaban. Yoori tersenyum kecil dan langsung berjalan masuk ke ruang kerja suaminya.

Jantung Yoori berdentam senang saat mendapati Doojoon sedang berdiri membelakanginya sambil menatap ke luar. Diam-diam dia melangkah, menjaga agar stilettonya tidak menimbulkan suara, lalu berjinjit dan menutup mata Doojoon dengan kedua tangannya.

“Astaga!” seru Doojoon terkejut. Dia meraba-raba tangan yang menutup matanya.

“Ayo tebak!” Yoori berbisik riang tanpa mampu menahan kekehan. Sungguh menyenangkan bisa mengerjai pria yang sangat dicintainya itu.

Doojoon membuka tangan yang menutup kedua matanya dan berbalik. Sebuah senyuman langsung menghiasi wajah tampannya saat mendapati Yoori di sana. “Yoori-ya?”

“Tentu saja ini aku, memangnya kau mengira aku siapa?” tanya Yoori pura-pura kesal.

“Ke… Kenapa kau bisa ada di sini? Bukan kah kau sedang marah denganku?” tanya Doojoon yang membuat Yoori terkekeh.

“Aku? Marah padamu? Itu tidak mungkin,” Yoori mengalungkan tangannya di leher Doojoon.

“Ta… Tapi kemarin kau kan mengajukan gugatan cerai padaku, dan itu artinya kau marah padaku,” ujar Doojoon sambil menatap Yoori dengan wajah tidak mengerti.

Yoori kembali terkekeh. Dia lalu melepaskan tangannya dari leher Doojoon dan meraih tasnya yang tadi dia letakkan di atas meja kerja Doojoon. “Aku membatalkan semua gugatnya,” Yoori mengeluarkan berkas perceraian dari dalam tasnya dan merobek berkas itu tepat di depan wajah Doojoon.

Doojoon menatap Yoori dengan tidak percaya. Apakah ini semua nyata? Ini bukan mimpi, kan?

Pertanyaan-pertanyaan itu musnah, saat Doojoon merasakan Yoori mengecup pipinya lembut. “Aku tidak akan menggugatmu hanya karena alasan murahan itu, DJ Sayang,” ujarnya.

Sebuah perasaan lega langsung membanjiri Doojoon. Akhirnya semua yang ditakutkannya tidak terjadi. Yoori sudah mencabut gugatannya. Tanpa banyak bicara Doojoon lalu menarik Yoori dalam pelukannya. “Gomawo, Honey. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi mengekspresikan kelegaan ini,” ujar Doojoon sambil menenggelamkan tubuh mungil Yoori dalam pelukannya.

“Kamu tahu tidak, saat tadi kamu datang menutup kedua mataku, aku mengira ada makhluk halus yang sedang menggodaku,” bisik Doojoon tepat ditelinga Yoori.

Buru-buru Yoori melepaskan pelukannya dan menatap Doojoon. “Oh, kamu lebih suka digodain makhluk halus?” tanya Yoori dengan suara bernada menggoda.

Doojoon menggeleng. “Lebih suka kamu,” ujarnya sambil kembali melingkarkan tangannya dipinggang Yoori.

“Masa?” Yoori pura-pura marah.

“Tentu saja. Karena kamu bisa digigit,” Doojoon menggigiti rahang Yoori, mengirimkan jutaan semut yang menjalari sekujur tubuh Yoori.

Yoori tertawa oleh rasa geli, dan desiran darahnya bertambah cepat saat mendapati bibir Doojoon tengah menggoda cekungan lehernya.

“DJ, ini masih di kantormu.”

“Biarkan saja,” jawab Doojoon sambil tetap menghujani Yoori dengan ciuman-ciumannya.

“Dasar!” suara Yoori berubah serak. Dia benar-benar meleleh karena perlakuan suaminya ini. Yoori terpaksa memegang erat lengan Doojoon agar tidak terjatuh karena lemas.

I love you, Yoori-ya. I do love you,” bisik Doojoon sebelum mengunci bibir Yoori dengan bibirnya.

∞ώ The End ώ∞

Advertisements

About thecuties

Ordinary girl... My 1st boyfriend is chocolate and my 2nd one is ice cream... I love reading, writing, and dreaming... Why I like dreaming? Because when you dreaming, you will get something that impossible to be possible... ;)

13 thoughts on “I Hate You When…

  1. Minhwa-ya…,
    saya udah komen.
    Koq ilang ya?
    TT_TT

    Ini persembahan pertama Minhwa buat saya.
    Thank you so much, it’s an honour for me.
    I love this both the previous one or the later.
    But I think this one having a bigger taste than the previous. It’s not because I already lost my taste to the cast in it. But when you gave the character to YDJ, it almost real 😉 (blepotan banget nih ngomong, lagi makan pisang #plak)

    this is an awesome comedy romance

  2. Weleh-weleh, eon.. Dadi Mbak Minhwa blasteran wong Jowo ta? Kulo ana rencange hohoho.. *bahasa planetnya keluar*

    Niki kocak bin geleng2 kepala.. Mbak Yoori gugat cerai dikirain Mas DJ selingkuh atau apa gitu, ternyata oh ternyata cuma ngorok doank *toeng weng wengwengweng* #musikDoraemon

    Yo, wis lah sing penting ra sido pegatan.. yen pegatan Mas DJ kaleh kulo mawon, tak tompo lahir bathin *loh??* #kumat *Mbak Yoori bawa pentungan*

    Waduh, ngerti gak Eon.. ini bahasa jadi campur-bawur gini #abaikan
    Kalo gak ngerti bisa diterjemahkan ke Mbah Google, yaa wkwkwk…

    Mbak Minhwa, itu kalo kaki pegel high heel-nya boleh dilempar ke aku hahaha…

    LOVE

    1. Annyeong Sica,

      Mian for late reply, dan saya bingung dengan bahasa Jawa yang Sica gunakan hahahhaha

      Ya, Minhwa itu blasteran Korea-Jawa, jadi kalau ngomong campur sari hahahahaha

      Alesan konyol yang bikin orang-orang sakit perut hehehehe

      Yoori dan DJ ngga jadi cerai, soalnya Yoori sayang banget sama DJ hahahahaha

      FYI, saya minta Ayah saya untuk translate komentar ini hahahahah

      Yakin Sica mau high heelsnya Minhwa? Tinggi dan runcing loh gkgkgkgk

      Makasih banyak sayang untuk komentarnya ^^

  3. HahahahaxD ..
    Udah jantungan ajah pas baca awalnya ..
    Tapi ternyata gegara ngorok toh ..
    Eonni .. Eonni ..

    1. Annyeong Winda,

      Mian for late reply dan sudah membuat jantungan..

      Alesan konyol untuk menggugat cerai hahahahah

      Terima kasih banyak untuk komentarnya ^^

  4. Wkwkwkwkwk Eyang s***r k’tinggalan eonnie
    #plaaak

    Hahahahaha mengebayangin suasana sidang pasti riweuh gegara mendengkur…

    Andai i2 terjadi nyata pasti persahabatanku msh t2p berjalan sampe skg…
    #Curcool

  5. huahahaahahuahahahaha

    aigooo…aigooo. yoori mau cerai karena DJ mendengkur ??
    TERLALU..

    minhwa hebooh bangeet dirimuu aduuh bikin maluuu *tutup muka*
    kocaaak banget nich ff bikin sakit peruut 🙂

    1. Annyeong Nunung Onnie,

      Mianhae for late reply *deep bow*

      Itu alesannya sepele banget dan sebenernya ide cerita ini berasal dari temen kerja saya

      Sedikit banyak sifat Minhwa di sini adalah sifat saya hehehehehe

      Terima kasih banyak Nunung Onnie untuk komentarnya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s