KICK OFF : Foul!

KICK OFF:

Foul!

 FOUL

 

By :

Sunshine_Beat

 |Friendship/Sport/Romance/Drama/Commedy|

|PG 15 | Series |

 

Casts :

Yoon Hye Ra [OC],

Lee Howon / Hoya [Infinite]

Yoon Doo Joon [Beast],

Cha Seungwon, Lee Chaerin [OC]

Previous parts (just click) >> [1] KICK OFF : Dream Team [2] KICK OFF : El Classico [3] KICK OFF : The Special One [4] KICK OFF : Physical Trainer [5] KICK OFF : Paramedic [6] KICK OFF : Playmaker [7]KICK OFF : You’ll Never Walk Alone 1 [8] KICK OFF : Offensive [9] KICK OFF : You’ll Never Walk Alone 2 [10] KICK OFF : Defensive [11] KICK OFF : Flying Dutchman [12] KICK OFF : Derby [13] KICK OFF : Club’s Photographer

kick off

Seorang gadis manis berperawakan tinggi sedang yang mengenakan white t-shirt dengan kemeja purple terbuka dan celana jeans pendek selutut, masih tampak asyik membidikkan kamera digitalnya ke arah objek. Tas ransel berukuran sedang, berwarna ungu tampak dipunggungnya.

Kacamata close up bersemu ungu menghiasi rambut panjang tergerainya. Senyumnya mengembang di antara lesung pipit kecil di samping bibir mungilnya.

Dia berjalan disekitar  Pantai Gimnyeong. Langkahnya nampak ringan dan santai.

“Yoon Hyera! Hari ini kau benar-benar bebas! Tak ada yang bisa mengganggumu lagi!”

Hyera tersenyum manis sambil memandangi smartphonenya yang sudah dimatikan sejak tadi.

Dia terus melangkah sambil mencipratkan gulungan tenang air dengan kakinya. Dari kejauhan dia melihat seorang namja sedang telentang di atas sebuah papan selancar. Beberapa saat kemudian namja itu sudah berjongkok lalu berdiri bersamaan dengan mengalunnya gelombang ombak yang tampak menari-nari indah.

Wow, kapan lagi aku bisa cuci mata seperti ini. Rasanya melihat namja-namja aneh di PFC sudah cukup membuatku hampir gila.”

Gadis manis yang menampakkan lesung pipitnya saat sedang tersenyum itu, mulai membayangkan satu persatu wajah Tim PFC yang menurutnya tampan tapi memiliki sifat-sifat yang aneh.

Ya! Kadang setiap orang memang harus memiliki keanehannya masing-masing. Setidaknya, itu akan membuat orang lain sulit untuk melupakan kita.”

Dia menurunkan kacamatanya dan kembali menikmati refreshing-nya.

~~

[Hyera pov.]

Aku terduduk di tepi pantai, di atas pasir putih. Menatap lurus lautan biru yang membentang di hadapanku, menikmati hembusan angin pantai sore ini. Memandang takjub semburat jingga yang mulai menyapa sang waktu, karena senja sebentar lagi menyingsing. Sesekali kumainkan kamera digitalku, sekedar melihat-lihat hasil jepretanku tadi.

“Kau di sini?” suara seorang namja membuatku  menghentikan aktifitasku dan mendongakkan wajahku. Seseorang dengan kacamata surfing di atas kepalanya kini tengah berdiri tepat di sampingku.

Aku terpaku sesaat, dia meletakkan surfboard nya dan ikut duduk di sampigku. Seperti baru saja melihat bintang jatuh dari langit. Aku benar-benar tak mempercayai ini.

“Lee Howon…”

Ucapku pelan namun kuyakin dia dapat mendengar kata-kataku dengan jelas. Kutatap lekat-lekat wajahnya sekali lagi. Hingga kudapati seulas senyuman menawan terlukis di sudut bibirnya.

“Aku rasa itu tak mungkin kau. Dia tak mungkin tersenyum pada gadis ini.”

Kuhela nafas pelan, berusaha menepis penglihatanku detik ini. Aku kembali menyibukkan diriku dengan kameraku. Tapi namja ini malah merebut kameraku dan mengutak-atiknya. Aku terperanjat, menyadari bahwa ini memang nyata. Ya, Lee Howon ada di sini. Namja aneh dan menyebalkan ini, kini benar-benar ada di dekatku.

“Dasar yeoja, selalu narsis seperti tak akan pernah mengalami jalan-jalan lagi.”

Aku melebarkan mataku, menatap tajam namja yang sedang bermain dengan kameraku.

“Kau! Kau, benar-benar Lee Howon namja menyebalkan itu? Hah? Betapa buruknya  nasibku harus bertemu dengan namja ini,” sekarang aku yakin bahwa namja di sampingku ini memanglah Lee Howon. Namja yang selalu membuat darahku mendidih tiap kali perang mulut kami dimulai. Dunia sempit sekali, sampai aku harus bertemu dengannya di saat seperti ini. Ya Tuhan, tak bisakah aku sedikit merasakan ketenangan?

Aku berusaha mengambil kameraku lagi darinya. Tapi selalu gagal. Kamera itu kini disembunyikannya di balik punggungnya. Aku tak mau kalah dan tetap memperjuangkan milikku. Namja ini benar-benar ingin mempermainkanku. Tawa kecilnya bahkan telah menghiasi wajah seperti pandanya itu.

Ya! Kembalikan kameraku!”

“Aku hanya melihat sebentar!” teriaknya tapi tak ingin kuhiraukan. Kudekatkan tubuhku merapat disisinya. Kulingkarkan lenganku di tubuhnya, berusaha meraih kameraku. Tapi, keseimbanganku goyah dan tubuhku terjungkal jatuh tepat di dada bidang yang nampak lebih memukau. Aku baru sadar, bahwa dia hanya memakai boardshort dan tak memakai atasan.   Mata kami tanpa sadar saling bertemu pada sorot yang sama. Ada degupan cepat yang seolah menjadi irama nada di dalam jantungku.

Melihat cahaya terang di dalam bola mata ini, membuat darahku berdesir pelan. Ada sebuah rasa yang tak kumengerti maksudnya. Aku segera tersadar dan lekas menarik tubuhku menjauhinya. Kurapikan poniku yang tidak berantakan. Suasana ini membuatku canggung.

“Tubuhmu berat juga.”

Aku menoleh lagi ke arahnya, dikembalikannya kameraku. Kulihat dia berdiri dan berbalik meninggalkanku yang terpaku menatap punggungnya.

“Kenapa dia tampak begitu keren dengan tubuh atletisnya itu,” aku menepuk-nepuk pipiku dan mengalihkan pandanganku ke langit yang semakin redup.

~~

Senja telah menampakkan dirinya. Langit luas yang membentang seolah menampilkan lukisan indah, yang tak sanggup dijangkau sebuah sentuhan nyata. Semburat jingga hadir memberi warna ketenangan di hati yang memandangnya. Sang waktu berganti di antara siang dan malam.

Tak ingin kehilangan kesempatan berharga ini, segera kubidik sketsa alam di hadapanku.

“Kau suka sunset, Miss Purple?”

Suara itu terdengar lagi di telingaku. Tanpa menoleh pun, aku tahu siapa yang sedang bicara padaku ini.

Ne. Kenapa kau bisa kemari? Bukankah yang lain di Jungmun?” Aku menjawab tanpa mengalihkan perhatianku dari panorama indah yang sedang kupotret.

Agh, aku hanya ingin santai sejenak tanpa ada yang mengganggu. Tapi sialnya, sekarang malah harus bertemu dengan gadis curang di sini.”

Mwo! Apa maksudmu dengan gadis curang? Siapa yang kau maksud?” K tolehkan wajahku menghadapnya langsung. Tanpa sadar, nada datarku tadi kini sudah agak meninggi mendengar ucapannya barusan. Kenapa namja ini selalu merusak suasana. Tak bisakah dia mengerti sedikit saja keadaan disekitarnya.

“Kau sengaja melupakan ide gilamu sendiri? Kau bahkan kabur di saat dance kita belum benar-benar usai. Payah,” dia menggerutu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

Kata-kataku tertahan sebentar, teringat kejadian malam itu. Saat penyakitku kambuh dan tanpa permisi aku meninggalkan acara yang kubuat sendiri.

Kuatur nafasku sejenak, mencari alasan yang tepat agar dia tak menganggapku sebagai pengecut, yang lari dan tak bertanggung jawab.

Ehm, mianhae, aku ada perlu waktu itu. Ya! Baiklah. Kita anggap Yoon Hyera mengalah karena kasihan jika sampai seorang Lee Howon, Winger of PFC dikalahkannya.”

Kukibaskan tanganku dan terduduk. Rasanya aku tak ingin membahas hal ini sekarang. Aku tak berani melihat wajahnya lama-lama. Tak ingin dia membaca apa yang kupikirkan kini.

“Kau benar-benar tak mau mengakui kekalahanmu? Menyakitkan sekali. Aku bahkan tak ingin hadiah apapun, tapi tak bisakah kau lebih sopan sedikit?”

Aku tak bergeming. Walaupu hatiku merasa bersalah, tapi dia memang benar. Aku bukanlah type orang yang gampang mengakui kesalahanku di depan seorang namja. Terkecuali dengan kedua Oppaku.

Hening, hanya terdengar suara deburan lirih ombak. Sang surya sudah terlelap di sisi lain belahan bumi. Senja hadir membawa sejuta perasaan kagum pada sang hari.

Kutolehkan pandanganku sejenak ke sampingku. Senyumku perlahan mengembang. Masih sebuah senyuman yang tak kupahami maknanya. Hanya saja, ada sedikit getaran hangat di jiwaku.

~~

[Author POV]

Mereka masih menikmati khayalan indah mereka.  Berdekatan namun terasa jauh. Bertemu tiba-tiba tapi seperti sudah lama. Perasaaan berdebar saat berdampingan tapi selalu  ditangkis. Jantung berdetak lebih cepat saat bersama tapi diacuhkan.

Mereka yang merasakannya mungkin lebih sering tak menyadarinya. Tapi bukankah Tuhan selalu punya rencana tak terduga untuk takdir kita?

~~

“Aku tak ingin punya hutang pada orang lain. Sekarang katakan apa yang kau inginkan? Yoon Hyera sangat jarang mengatakan ini pada orang lain, jadi pergunakanlah dengan baik,” gadis manis itu berdiri dan bersiul ringan menikmati setiap sisi waktu yang mungkin tak akan lama lagi baginya.

Really?”

Ye! Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran.”

Howon berdiri dan tersenyum penuh kemenangan. Sesaat waktu terasa berhenti ketika tanpa sadar tatapan mata mereka berada pada satu tujuan yang sama. Howon menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Tapi pikirannya tiba-tiba mulai tampak kacau. Hyera membalikkan badannya dan lagi-lagi dia seperti sedang menahan sesuatu yang meronta di hatinya.

“Baiklah, temani aku berkeliling malam ini. Kajja!” Tanpa mau mendengar jawabannya, dengan cepat Howon meraih jemari-jemari gadis yang masih tampak kikuk itu dan menggenggamnya erat. Namja yang sudah mengenakan pakaian lengkapnya, t-shirt putih dengan black jacket dan celana jeans panjang itu  menarik tangan Hyera dan mengajaknya berkeliling. Gadis ini hanya bisa terdiam tanpa mampu melontarkan sepatah katapun.

‘Aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya’ bisiknya pelan pada hatinya sendiri.

Tangannya terasa begitu hangat, sejak ada jemari lain yang terasa melengkapinya.

~~

Mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Mengayunkannya ke depan dan ke belakang bersamaan.

♫♬♪♩♭♪     ♫♬♪♩♭♪

Well, you done done me and you bet I felt it

I tried to be chill but your so hot that I melted

I fell right through the cracks, now I’m tryin to get back

Before the cool done run out I’ll be givin it my best test

And nothin’s gonna stop me but divine intervention

I reckon it’s again my turn to win some or learn some

♫♬♪♩♭♪     ♫♬♪♩♭♪

Howon tanpa sadar menyanyikan sebuah lagu milik Jason Miraz dengan nada sedikit mellow.  Hyera merasa ada kelopak bunga sakura yang saat ini berhamburan mengelilingi mereka. Peri-peri kecil bersayap putih beterbangan mengitari mereka. Suara merdu Howon seolah menyihirnya untuk masuk pada dunia penuh imajinasi. Wajah namja yang memiliki alis tebal berkharisma ini nampak seperti memantulkan sebuah cahaya kemilau.

Wae, kau menyukai suara namja aneh sepertiku?” Howon yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Hyera, melepaskan haedphone yang sejak tadi dikenakannya. Dia mulai menggoda gadis bermata sipit saat tersenyum, kini terlihat berusaha menyembunyikan kegugupannya. Hyera refleks melepaskan genggaman tangan keduanya. Sebuah senyuman kecil tiba-tiba menghiasi wajah canggung mereka.

~~

Mereka mengunjungi sebuah goa di dekat pantai itu. Goa yang masuk dalam salah satu warisan dunia, yang juga termasuk World Heritage dari UNESCO. Salah satu goa terkenal di Jeju yang terbentuk dari endapan lava gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi.

Hyera menatap langit-langit goa yang terlihat memantulkan cahaya warna-warni dari stalaktif dan stalagmit yang dimiliki goa tersebut. Dinding goa yang terlihat berwarna coklat tua menambah kesan tersendiri di matanya.

Sayangnya hari sudah menjelang gelap. Mereka tidak bisa dengan jelas melihat sisi dalam goa tersebut hanya dengan senternya.

Gadis yang menyukai warna ungu itu merasa sedikit ngeri begitu melihat beberapa kelelawar beterbangan di sekitar langit-langit goa.

Tanpa sadar lengannya sudah melingkar di lengan Howon. Namja tampan yang kini terlihat lebih sering menebar senyumannya malah tampak sedikit senang dengan hal itu.

~~

Selanjutnya, mereka berdua melenggangkan langkahnya berkeliling di sebuah pemukiman penduduk, di Desa Seongeub yang masih kental dengan nuansa tradisionalnya.  Atap rumah-rumah penduduk masih terbuat dari jerami. Dinding rumah pun masih terbuat dari batu.

Keduanya tampak asyik melihat-lihat pasar tradisional di sana. Mereka menepi saat melihat ada seorang Ahjussi yang menjajakkan produk tradisionalnya. Ada ramuan obat, seperti madu juga bubuk tulang kuda. Gadis manis yang sedikit tertarik dengan sebuah ramuan yang diberi nama ‘Bubuk Tulang Kuda’ itu mencoba bertanya pada Ahjussi penjualnya.

Ahjussi, ramuan ini untuk apa?”

Agh, itu salah satu ramuaan terkenal di sini. Dipercaya mampu menurunkan berat badan dan melenyapkan adiksi rokok. Sepertinya namjachingu-mu ini perlu meminumnya, Agassi.”

Dia menoleh ke arah Howon yang menunjukkan tampang kesalnya.  Diamatinya tubuh namja ini dengan seksama. Dari atas hingga kaki.

Ya! Kau memang harus mencobanya. Agh, lihatlah tubuhmu terlihat sedikit gemuk. Bukankah itu akan mengganggu kecepatan berlarimu.”

Howon melotot mendengar ucapan santai itu. Di tariknya rambut panjang hitam kecoklatan, yang kini di ikat model menyamping. Gadis itu meringis kesakitan dan balas menatap namja cute itu dengan pandangan memburu.

Dengan cepat Howon menangkupkan kedua tangannya di depan poni menyampingnya.

“Kau mengincar poni badaiku ini. Aigo! Itu tak akan terjadi lagi, Miss Purple.”

Namja ini tetap keukuh melindungi poninya dari incaran gadis yang wajahnya sudah berubah merah padam itu. Dia mundur beberapa langkah masih sambil menutupi poninya dengan kedua tangannya. Hyera menggertakkan giginya sesaat dan menghentakkan kakinya sekilas. Raut wajah kesal benar-benar menyelimutinya.

~~

Sekantung plastik putih mengayun di depan wajah namja yang sedikit geram dengan tingkah kekanakan gadis yang membelikannya ramuan obat. Namja itu terus mengomel karena tak tahan.

“Ayolah, terima ini. Minumlah yang teratur agar berat badanmu sedikit berkurang,” tampang aegyo yang dibuat-buat Hyera sepertinya membuat namja itu mengalah dan akhirnya meraih pemberiannya.

Hyera tertawa riang dan berputar ala tuan putri dalam dongeng di hadapan Howon yang mendengus kesal.

Thank you, Mr. Stranger,” ucapnya masih dengan gaya anggun ala tuan putrinya.

Namja ini memalingkan wajahnya ke sudut lain. Dalam hatinya dia ingin tertawa melihat tingkah gadis di hadapannya. Tapi dia harus berusaha menahannya, agar tampang coolnya tidak lenyap hanya karena perangai gadis manis dengan tatapan terangnya itu.

~~

♫♬♪♩♭♪   ♫♬♪♩♭♪

I used to think that I could not go on

And life was nothing but an awful song

But now I know the meaning of true love

I’m leaning on the everlasting arms

If I can see it, then I can do it

If I just believe it, there’s nothing to it

♫♬♪♩♭♪   ♫♬♪♩♭♪

Hyera menyenandungkan sebuah lagu yang didengarnya dari earphone ungunya. Kali ini, Howon yang nampak terpana dengan ekspresi menenangkan di wajah yeoja yang tiba-tiba datang dalam hidupnya, dan seolah mengubah hari biasanya menjadi begitu luar biasa.

Hyera yang menyadari tatapan menyejukkan itu melepaskan earphonenya dan berjalan mendahului Howon dengan senyum mengembang di pipinya.

Dipasangnya kembali earphonenya dan kembali bernyanyi kecil sembari menari-nari disela langkah ringannya.

♫♬♪♩♭♪   ♫♬♪♩♭♪

I believe I can fly

I believe I can touch the sky

I think about it every night and day

spread my wings and fly away

I believe i can soar

I see me running through that open door

I believe I can fly (I can fly)

I believe I can fly (I can fly)

I believe I can fly (I can fly)

♫♬♪♩♭♪   ♫♬♪♩♭♪

~~

Mereka kembali ke Pantai Gimnyeong. Kembali menikmati suasana malam penuh bintang di depan tenda yang mereka sewa. Hyera terduduk di atas sebuah batang kayu, sementara Howon masih sibuk menyalakan api unggun.

Begitu api unggun menyala, Howon bergegas menghampiri Hyera dan duduk di sampingnya. Mereka melihat ribuan kerlipan bintang menggantung di langit luas. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.

Sebuah bintang berkilat nampak seperti memanjang dan dengan cepat terlihat seperti jatuh menghampiri bumi.

Ya! Bukankah itu bintang jatuh! Kajja, kita  make a wish,” namja  yang tiba-tiba menunjuk ke arah benda bersinar itu segera mengatupkan kedua tangannya seperti sedang berdo’a. Matanya terpejam sesaat.

Agh, apa kau masih percaya dengan hal konyol seperti itu. Kau ini namja atau bukan? Aigo,”

Gadis yang sedang memainkan batang kayu di atas api unggun itu, menatap sinis ke arah namja yang masih menikmati kegiatannya dan tak memperdulikan ucapannya barusan.

Sebentar dia tampak celingak-celinguk tak jelas. dan tanpa menunggu lama, kelopak matanya sudah mengatup bersamaan dengan kedua tangannya yang sudah berpose seperti kuncup bunga.

Howon membuka matanya sebentar dan melirik kilat yeoja di sampingnya.

Babo yeoja,” umpatnya dibarengi sebuah senyuman penuh makna.

~~

“Kau yakin tak ingin kembali ke resort malam ini? Bagaimana jika yang lain mencari?” Howon sedikit panik, tapi Hyera acuh tak acuh dan malah sibuk memakan marsmelownya.

“Jika kau ingin kembali lebih dulu, dipersilahkan. Tapi biarkan gadis ini menikmati hidupnya, yang benar-benar indah ini sejenak,” jawabnya disela kunyahannya. Namja yang terlihat kikuk itu hanya menarik nafasnya pelan melihat ekspresi seorang gadis yang di panggilnya dengan sebutan ‘Miss Purple‘.

‘Apa kau pikir aku setega itu meninggalkan seorang yeoja yang kukenal sepertimu, sendirian di sini. Ini bahkan sudah malam,’ bisik hatinya lirih.

~~

Setelah menutup tendanya,

Howon duduk menekuk lututnya di sebelah Hyera yang sudah terlelap. Dia tak berhenti memandang wajah tenang dengan mata tertutup itu. Dia menyingkirkan sedikit poni yang menghalangi kening gadis itu.

“Kau tahu apa yang kuharapkan tadi? Aku berharap dapat melihat senyuman di wajahmu selalu,” gumamnya lirih.

Dia menundukkan wajahnya, mendekatkan dirinya ke wajah Hyera yang sudah terbang ke alam mimpi. Dia mendaratkan sebuah kecupan manis di kening gadis itu.

♫♬♪♩♭♪   ♫♬♪♩♭♪

Haessari naerineun sa-i mada

Hyin gureum heureuneun sa-i mada

Barami seuchineun sa-i mada ni-ga bityeo

♫♬♪♩♭♪   ♫♬♪♩♭♪

Sebuah lagu, Infinite ‘Last Summer’ berdering tiba- tiba dari ponsel . Hyera menggeliatkan tubuhnya dan mengucek kedua matanya. Namja dengan pipi yang sudah merona merah itu merasa bingung dengan apa yang dilakukannya barusan. Dia bergegas mengangkat wajahnya dan berpura-pura akan tidur.

Hyera bangkit dan mencari ponselnya. Dia menemukan ponselnya tertindih tubuhnya sendiri.

Agh. Pantas saja menyala lagi, sepertinya tadi tertekan,” diamatinya sebuah nama yang tertera di layar smartphone ungunya.

Omo! Dujooni Oppa! Apa yang harus ku lakukan sekarang!” Wajahnya memucat menyadari siapa yang menghubunginya. Dia teringat bahwa dia tidak meminta izin dulu tadi. Karena  jika itu dilakukannya, Oppanya tak akan mungkin membiarkannya pergi sendiri.

Howon hanya terpaku melihat tingkah Hyera yang seperti cacing kepanasan.

Dengan berat dan enggan Ia  menekan layar ‘answer‘ dan berbicara dengan nada cepat.

Oppa, mianhae. Aku akan kembali dengan keadaan baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkanku. Dan bersenang-senanglah.”

Klik

Segera dimatikannya panggilan itu dan langsung menonaktifkan ponselnya lagi. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Oppanya besok karena ulahnya.

Dia melihat ke arah Howon yang masih melongo. Tak lama, ia langsung kembali pasang posisi tidurnya dan memunggungi namja yang masih terheran.

“Ponsel itu benar-benar mengganggu!” umpat Howon sambil mengatur posisi tidurnya dengan geram.

~~

Di tempat lain seorang namja tampan dengan jambul yang biasa disebut adiknya dengan sebutan jambul Namsan Tower kebanggaannya, menatap ponselnya dengan kesal.

“Kau benar-benar cari masalah, Hyera-ya! Oppa akan memberimu pelajaran nanti!” gerutunya sambil membanting tubuhnya di atas sofa panjang kamar bernuansa putih tulang.

~~

[Hyera pov.]

Aku tak bisa kembali memejamkan kelopak mataku. Pikiranku melayang jauh pada sosok duo Oppa tersayangku. Yang kusadari, Oppa tertuaku adalah namja yang tegas dan berpendirian kuat. Jika sampai kami tak kembali sesuai jamnya, namja yang bersamaku ini pasti akan mendapatkan masalah. Lalu, Oppa keduaku. Aku bahkan tak sanggup lagi mengingat sudah berapa kali kubuat masalah. Membuat Dujoon Oppa mengkhawatirkan keadaanku.

Kubalikkan badanku menghadap Lee Howon yang masih terjaga. Aku bangkit dan menatap tegas ke bola mata beningnya.

Wae? Kau tak bisa tidur lagi? Bukankah tadi tidurmu bahkan sangat lelap.”

“Kita kembali ke resort sekarang!” Tanpa menunggu balasannya lagi, aku segera berdiri dan beranjak keluar tenda.

Mwo! Apa kau bilang! Ya!” Dia berteriak mendengar ucapanku yang tak ingin mendapatkan bantahan ataupun pertanyaan apapun darinya. Tapi, toh akhirnya dia mengikutiku juga.

Setelah kami membereskan tenda dan mengembalikan pada Ahjumma yang menyewakan, kami segera bergegas kembali menuju resort.

Pikiranku sangat berantakan. Beberapa kemungkinan yang bisa terjadi mulai mengelabui akal sehatku. Entahlah, kenapa tiba-tiba aku juga jadi sangat mengkhawatirkannya. Aku tak ingin dia dihukum lagi hanya karena yeoja keras kepala dan seenaknya sendiri sepertiku.

Kuhela nafas berat sambil terus menikmati pemandangan malam Jeju dari balik jendela taksi. Mataku melihat sebuah wajah sedang menatapku sendu di pantulan kaca taksi. Lee Howon sedang memperhatikanku. Lalu, kenapa hatiku merasa di hujam ribuan panah Amor, melihatnnya memandangku dengan tatapan meneduhkannya itu.

Are you okey?” suaranya lirih hampir tak terdengar, sangat berbeda dari biasanya.

Ne. Gwaenchana,” jawabku singkat tanpa menoleh ke arahnya.

“Kau takut aku di hukum atau takut dimarahi Oppa-mu?”

Aku terperanjat mendengar pertanyaannya. Apa dia punya indra keenam yang bisa menembus pikiran orang lain. Kenapa pertanyaannya justru adalah sebuah kebenaran yang mengacaukan otakku kini.

Wae? Kau tak terlihat seperti seorang Yoon Hyera yang selalu berisik,” ungkapnya. Seperti ada sebuah kata yang ingin dia sampaikan lewat matanya selain kalimat barusan. Ada sebuah kehangatan di wajahnya. Tapi aku tak berani menerkanya. Lee Howon hanya seorang namja yang mungkin harus merasa perduli dengan orang-orang disekelilingnya.

Aku masih membisu dan menundukkan wajahku. Kurasakan ada telapak tangan hangat membelai rambutku. Disandarkannya kepalaku dengan hati-hati di pundaknya. Sekali lagi, aku merasa hatiku semakin tak terarah. Getaran listrik seolah menjalar diseluruh tubuhku. Tak mampu berkutik dengan perlakuan tiba-tiba seperti ini.

‘Hidupku mungkin tak lama lagi. Aku hanya tak ingin terus menyusahkan orang-orang disekelilingku. Setidaknya, saat Tuhan memanggilku kembali, aku akan meninggalkan kenangan terbaik yang kumiliki,’ batinku pedih.

Kelopak mataku mengatup. Panas, ingin mengalirkan butiran bening tapi rasanya tertahan. Hanya hatiku yang beberapa menit lalu diliputi rasa kacau, detik ini menjadi sedikit damai.

‘Lee Howon, gomawo sudah memelukku seperti ini,’ bisikku dalam hati.

~~

[Author POV]

Mereka sampai di resort. Hyera berjalan dengan lesu dan tanpa semangat. Sedangkan Howon melangkah santai berusaha menyembunyikan kepanikannya, karena pulang agak terlambat. Dia mengangkat lengannya dan melihat jam berapa sekarang. Dia memasukkan kedua tangannya kembali ke saku celananya sambil menyiapkan energi untuk menghadapi Hitler, yang tak pernah mengabaikan tendensi jika ada pemainnya melakukan pelanggaran atau tak mentaati peraturan PFC. Terlambat sekitar 30 menit, membuatnya sedikit berpikir. Bukan dirinya sendiri yang saat ini dipikirkannya, tapi gadis yang berjalan bersamanya lebih membuatnya tampak cemas.

Howon menghentikan langkahnya sejenak dan menahan lengan Hyera.

“Kau masuklah dulu, aku ada sesuatu yang harus kukerjakan,” gadis itu mengangguk singkat dan melanjutkan langkahnya.

“Hei, Miss Purple!” Panggilnya membuat tapak Hyera terhenti dan menoleh.

Ye?”

“Istirahatlah dengan baik dan mimpilah yang indah.”

~~

Sekitar sepuluh menit setelah Hyera masuk resort, dia akhirnya menyusul masuk. Tapi seperti dugaannya. Dia melihat sosok namja sangar dengan kumis terlihat tak teratur duduk di sofa lobby. Namja sangar itu duduk tenang dengan kaki kanan menyilang di atas kaki kirinya. Dia  menarik nafasnya pelan dan mengatur ketegangannya.

“Kau tahu ini pukul berapa?” Namja dengan suara beratnya yang khas itu bertanya dengan nada datar, namun tetap terdengar tegas. Pandangannya tajam mengintimidasi. Raut wajahnya menggambarkan ia tak suka pemainnya melakukan pelanggaran.

“10.45 P.M,” Howon menjawab dengan mantap, walaupun hatinya sedikit gentar setiap kali melihat tatapan tajam dari Manajer clubnya ini.

“Kau dilarang pulang kampung, dan harus membersihkan dorm.”

Dia mendelik mendengar hal itu. Dalam hatinya bergumam kesal,

‘Ini hukuman atau siksaan, Sir!’

~~

Hyera merebahkan badannya di sofa kamar. Dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Dia tahu Eunhwa, sang PR PFC pasti sedang mandi. Dinyalakannya smartphone-nya dan mencari sebuah nama di menu kontak. Ia berniat mengirim pesan untuk Oppanya.

Cha Seungwon, Oppa pertamanya mungkin sudah sedikit tenang karena tadi sempat bertemu dengan adiknya di lobby. Walaupun ada beberapa omelan singkat yang harus diterimanya karena pergi tanpa izin dan kembali terlambat.

Tapi Dujoon, Oppa keduanya pasti masih tak bisa berpikiran tenang karena belum tahu dia sudah kembali dan baik-baik saja.

Hyera mulai mengetik pesannya dan mengirimnya.

To : Dj Oppa ❤

Oppa, apa sudah tidur? Aku sudah berada di kamar sekarang. Jika masih terjaga, lekaslah istirahat. Aku menyayangimu, Oppa. ❤

Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi. Sebuah lagu Infinite lagi-lagi terdengar. Dihembuskannya nafasnya yang berat dan dengan gusar ia mengangkat panggilan itu.

Ya! Kau hampir saja membuat Oppamu ini sakit jantung, karena mengkhawatirkanmu! Oppa akan memberimu pelajaran nanti!…..” Suara seorang namja terdengar keras dari seberang sana. Gadis itu menjauhkan ponselnya sebentar dari telinganya dan mendekatkannya lagi.

Oppa! Aku menyayangimu. Mianhae. Selamat malam dan mimpilah yang indah. Agh, see you Oppaku tersayang. Saranghae.”

Klik

Hyera mematikan panggilannya dan menonaktifkan ponselnya.

Di lain tempat Dujoon tampak geram karena kebiasaan buruk adiknya, memutus telepon disaat pembicaraannya belum selesai.

Agh! Memikirkan nae yeodongsaeng satu ini, benar-benar bisa membuatku stress!” umpatnya kesal.

~~

“Kau sudah pulang, Hyera-ya? Oppamu mencemaskanmu. Darimana saja kau?” Ryu  Eunhwa memberondong Hyera yang tampak lelah dengan pertanyaannya.

Eonni. Kenapa sekarang penyakit Dujooni Oppa menular ke Eonni? Bisakah Eonni bertanya satu per satu?” Dia mengerucutkan bibirnya yang disambut decakan Eunhwa.

“Baiklah, segera bersihkan dirimu dan istirahatlah. Apa kau sudah makan malam?”

Eunhwa duduk di tepi tempat tidur empuk berseprai putih tulang sambil menggulung rambutnya yang basah dengan handuk birunya.

Nde, Eonni. Aku sudah makan tadi. Ngomong-ngomong apa Dujooni Oppa menemani Eonni tadi?” Wajah gadis yang tadinya tampak lesu itu kini sedikit mulai bersemangat. Eunhwa hanya membalasnya dengan senyuman simpul.

~~

Setelah acara di Jeju selesai, semua pemain diberikan waktu istirahat dan sekedar menengok keluarga di kampung halamannya. Hyera baru saja selesai berbelanja barang-barang barunya yang akan digunakannya untuk mendekorasi ulang ruang kerjanya di PFC.

Dia membuka pintu ruangannya dan mulai memikirkan sesuatu yang sudah dicanangkannya beberapa waktu lalu. Cat warna ungu muda akan menghiasi dinding ruangan. Dia mulai menyingkirkan meja kerjanya sedikit menengah, agar tak terkena cipratan cat. Dilingkisnya kemeja ungu yang dikenakannya. Topi ungu menutupi bagian atas rambutnya.

Ruang kerjanya tidak terlalu luas, sehingga dalam waktu sehari saja sudah bisa selesai dicat. Dia mulai mengepel lantai dan membersihkan sedikit cat yang menetes ke keramik di bawahnya. Selesai mengepel, Ia menata kembali meja kursinya yang tidak teratur.

Agh, akhirnya selesai juga. Besok begitu cat ini kering, tinggal memasang wajah-wajah tampan nan mempesona ini di sana,” gadis yang lengannya terkena sedikt noda cat itu berbicara sendiri sambil menunjuk dinding ruangan, yang sudah dipenuhi warna ungu muda.

Diambilnya sebuah paper box berukuran agak besar. Ia meraih gulungan-gulungan kertas berukuran agak lebar dan membukanya satu per satu.

~~

[Hyera pov.]

“Ini paman Beckam dan paman Lampard. Yang ini my golden boy, Thomas Muller. Agh, ini Prince Poldi. Lalu this is, Taylor Latner sang srigala tampan dan Robert Patinson sang vampire dengan senyuman menawannya, di sampingnya my sistha Kristen Stewart.”

Kupandangi satu per satu poster digenggamanku dan tersenyum senang membayangkan wajah-wajah memikat ini, akan menemani hari-hariku di ruangan yang sebelumnya tampak membosankan.

“Sebaiknya aku merubah gaya rambutku seperti Bella Culen. Bukankah dia mirip denganku?” Kuamati gambar di poster sambil kubelai rambut lurusku.

“Apa bagusnya model rambut seperti itu? Seleramu benar-benar payah,” suara seseorang mendadak memenuhi ruangan kedap suara ini dan membuatku shock.

“Kau? Bukankah kau harusnya juga pulang kampung?” Aku semakin terkejut menyadari siapa yang datang.

“Aku dapat hadiah kusus dari Hitler. Tak boleh pulang dan harus membersihkan dorm. Itu tidak terlalu buruk.”

Namja dengan casual t-shirt dan celana pendeknya ini merebut salah satu poster dari tanganku.

“Kau ini tak bisa memilih mana namja keren dan mana namja pas-pasan.”

Ya! Lee Howon! Kau bilang apa barusan!”

Tanpa berpikir panjang lagi, langsung kutarik poni menyampingnya.

“Hei! Appo!” Dia menghindar tapi aku tak akan melepaskan namja yang sudah menghina paman jauhku barusan. Kukejar dia yang berlari keluar ruangan dan menuju lapangan.

“Kau berani mengatai pamanku lagi! Akan kuacak-acak poni badaimu itu! Ya! Jangan lari lagi!” teriakku sambil terus mengejarnya.

Ye? Itu kenyataan. Aku bahkan jauh lebih tampan dan keren dari wajah-wajah babo mereka!”

Mulutku mengangga mendengar teriakannya. Kuacungkan sapu di tanganku dan terus mengikutinya dengan langkah cepatku.

“Kau cari mati, Lee Howon!” ancamku dengan tatapan membunuhku.

~~

Hari berikutnya, dorm masih tampak sepi. Aku  sengaja datang bukan hanya untuk memasang poster-posterku di dinding yang kurasa pasti sudah kering catnya. Tapi juga untuk membantu Lee Howon menjalankan tendensi yang diberikan Oppaku.

“Aku rasa, hidup Oppa mungkin hanya untuk menghukum pemain-pemainnya. Kuharap Oppa bisa segera menjadi sepasang sayap untuk Ibu peri. Setidaknya, ia tak perlu lagi kembali melakukan kencan buta tak jelas,” aku terkekeh pelan membayangkan pikiran nakalku barusan.

“Hei! Miss Purple, kenapa masih di sana? Come here, banyak pekerjaan menanti.”

Kudengar teriakannya dari sisi lapangan. Aku hanya berdecak pelan dan berlari menghampiri namja yang sudah siap dengan alat pel dan seember airnya itu.

I’m coming, Mr. Stranger!” teriakku sambil berlari menghampiri namja dengan kaos kebesarannya yang tersenyum penuh arti di  seberang sana.

~~

‘Aku rasa, ini akan jadi tendensi yang paling indah. I like this FOUL!’ batin Howon senang.

~~

NOTE :

Foul » Pelanggaran

Ost. :

– Jasson Miras I’m You’rs

– R. Kelly I Believe I can Fly

Kamsahamnida sudah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca KICK OFF the series.

Tidak lupa saya ucapkan,

‘thanks for spirits and some inspiration’

^_^

Mianhae part. kali ini kacau. 😥

Saya sudah berusaha memperbaikinya. 😥

¤~~~~~~~~~~¤ Sunshine_beat ¤~~~~~~~~~~¤

Advertisements

20 thoughts on “KICK OFF : Foul!

  1. pasangan aneh, sama2 suka tp g mau ngakuin, tp jdinya lucu.
    dasar gadis nakal, bikin oppadeul khawatir aj.
    hyerin sakit apa sh sebenarnya?

  2. Kasian Howon ga bisa pulang kampung 😀
    tapi asik juga kan hukumannya dibantu Hyera :3

    aku penasaran banget sama penyakitnya Hyera…..sepertinya sangat parah 😦

  3. akhrnya mrk ngedate juga……

    miss purple julukan yang indah pas buat hyera….

    hyera brntng punya dua oppa yang sayang sama dia

  4. Ya. Saya juga tidak melihat ada yang salah. Kalau kamu nyaman dengan POV, just do it. Itu akan menjadi perbedaan kamu.

    Kekuatan kamu justru di sana.

    Sama dengan Chelsea, saya rasa kamu perlu mengeksplorasi karakter Mr Stranger ini.

    Tatapan matanya itu. uhhh.

    1. nde eonni,,ke depannya akn saya prbaiki lgi,,

      slalu blenk tiap mmbayangkan sosok Howon di sini
      #tarik nafas dalam2

  5. Kyaa Miss Purple…
    Sempet heran kenapa ini harus didelete. Gak ada yang salah. Gak jelek. Aku udah taruh di draft dan merangkak karena sinyal butu, eh minta dihapus TT_TT
    Bagus dan mulai ada titik terang soal ganbaran ke depan hubungan Hyewon gimana.
    Karakter Hyera makin kuat. Childish tapi tetep punya sisi mandiri.
    Sarannya, Howon harus lebih dieksplor lagi ya.

    Forza

    1. #nangis dipojokkan

      ttep aja saya msih mrasa kacau banget gtu eonni,,

      blom bisa memperkuat sosok Howon
      #tepuk jidat

      tpi ke depannya akn saya prbaiki lgi eonni,,

      ^_^

  6. Ohayo Gozaimatzu Miss Purple^^

    Kalau ngebayangin sosok kamu di sini aku ngerasa ngelihat bocah ceria yang menyenangkan. Cara kencan yang unik.

    Hwaiting Lee Howoon[Jadi inget “itu”]

    Ganbatte

    1. ye,,inget apa tuuhh,,

      Hyera biarpn childist tpi ttep bsa mandiri,,

      hehe

      #peluk Lee Howon erat2

  7. Ahhh, kencan yang indah antara Howon dan Hye Raa ..

    Kao berantem gini, inget jaman sekolah dulu #berasa tua ..

    Hwaiting 🙂

    1. waduh mang jadul banget nii scane,,

      :D:b

      tpi gpp yg pntng jln2nya ma Howon.

      waahh pnya pngalaman kyak gtu jga tho eonni,,

      hehe

  8. Kemaren juga dah sempet liat tapi belum sempett baca.. hehehe

    Aduh-aduh.. jadi envy euy bisa jalan berduaan.. Mna Howon mulai punya rasa…

    Kasihan Howon gak bisa pulkam gara2 dapet hukuman dari Hitler weleh2, itu ja telat 45 menit, klo semaleman dikasih hukuman apa ya?? *bayangin sendiri*
    Tapi kayaknya dia bersyukur tuhh krna ada Hyera yang bantuin hihi…

    Masih tetep sama2 narsis hihi…

    Oke, lanjut part selanjutnya… ^^

    LOVE

    1. jrang2 jga bsa jln2 brduaan aja ma Howon. jdi harus dipergunakan dgn baik dehh ksempatannya.
      #modus

      hukuman akan indah pda wktunya,,#plakk

      :D:b

      love too eonni,,

  9. Hallo Exclusive.
    Kemarin udah baca sampe habis, pas mau komen malah error. ternyata ehh ternyata….
    belum bisa komen apa-apa karena belom ada bayangan hahahaa
    yang penting adegannya jangan buru-buru dikasih happy hahah

    1. hehe iya kmarin ada sedikit problem jdi trpaksa di daur ulang dlu,,

      buru2 gak yaahh,,trgantung mood daahh,, saya suka gak jlas soalnya,,hehe

  10. FF yang kemarin sudah terposting, tapi karena ada beberapa kesalahan maka dihapus dulu, sekarang kembali tayang….

    Cie… cie gimana rasanya jatoh di atas dadanya Howon yang ngga pake baju?

    Jalan-jalan ke gua terus berakhir dengan kemping dipinggir pantai, what a lovely date, simple tapi ngena deh. Untung aja, Hyera ngajak Howon balik, kebayang kalau mereka berdua pulang pagi, bisa-bisa Howon disiksa dikursi listrik sama Hitler hahahahaha

    Hyera-ya, I really envy with you, punya dua abang yang super duper keren, terus ada namja manis macem Howon yang sepertinya menaruh hati padamu. Cepetan ke dokter, dan berobat sampe sembuh hehehehe

    1. nde eonni mian kmaren bkin repot,,#kacau

      gak bisa diungkapin dgn kata2 gmana rasanya.

      hehe

      aku jstru gak bsa bayangin gmana serunya bner2 pnya duo oppa sekeren seungwon n dujoon oppa

      :D:b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s