KICK OFF : The Special One

Banpo-DSC_0656-picsay.jpg

KICK OFF : THE SPECIAL ONE

By : Christie Sue

(Friendship/Sport/Romance/Drama/Comedy/PG 17/Series)

Cast :

Cha Seung Won

Lee Chae Rin [OC]

Uhm Tae Wong

Lee Jeehoon

Shin Sekyung

Lee Seungyu

Kim Hae Sook (Lee Chae Rin and Jeehoon’s mother)

Cameo : Park Ha Sun

Previous part > KICK OFF : Dream Team | KICK OFF : El Classico

Part yang merupakan bagian ketiga. Tentang sebuah pertemuan tak disangka.

***

Cha Seungwon POV

Ini yang ke berapa dalam seminggu ini, tiga? Aku lelah. Aku sungguh lelah dengan semua ini.

Dan awal dari mimpi buruk ini adalah karena DJ, Yoon Doojun, saengku yang sama bengalnya denganku.

Bagaimana ia bisa membujukku untuk mengikuti kemauan Madame dan mengatakan, datang saja, temui yeoja itu supaya Eomma mama senang. Selanjutnya waktu Eomma mama tanya, katakan tidak cocok. Sampai ia bosan mengatur pertemuanmu.

Huft.

Hal yang pertama kulakukan setelah kencan ini adalah menemui DJ untuk mencukur jambul trade marknya.

Yeoja

Mengapa para orang tua selalu kuatir jika anak laki-lakinya belum juga menikah di usianya yang sudah kepala tiga.

Sebenarnya aku sudah 35 tahun. Dan aku belum menikah. Tapi itu bukan salahku! Aku namja normal. Aku juga bukan namja tanpa dosa. Aku pernah punya skandal dengan beberapa yeoja, tentu saja juga bukan yeoja dari kalangan baik-baik sewaktu aku masih berada di Munich. Bahkan beberapa dari mereka sudah memiliki suami atau kekasih. Karena itu aku tidak sudi mengikatkan diriku dengan yeoja dalam suatu pernikahan jika akhirnya pernikahan kami harus seperti itu, diwarnai dengan perselingkuhan.

Aku belum bisa membayangkan diriku terikat dalam suatu hubungan di mana aku harus setia pada seorang yeoja. Terutama kalau yeoja itu tampak membosankan seperti yeoja di hadapanku ini.

Park Ha Sun sebenarnya cukup menarik. Menurut Madame, ia pernah menuntut ilmu bisnis di London. Kalau menurut DJ, orang tuanya adalah kenalan lama keluarga kami. Tapi seperti kebanyakan yeoja dari keluarga kalangan kami, ia membosankan, sopan dan penuh tata krama.

Selama lima belas tahun, hidupku diatur oleh segala kesopanan yang diterapkan oleh Madame, aku sudah muak. Pemberontakanku terjadi saat aku berusia dua belas tahun, aku masuk klub sepak bola remaja. Madame hampir mengusirku dari rumah namun karena aku cerdas dan memperoleh bea siswa sekolah, Madame membiarkanku tetap main sepak bola. Ia tidak tahu kalau aku benar-benar serius dalam sepak bola.

Saat usiaku enam belas tahun, aku berangkat sendiri ke Jerman, menemui keluarga nenekku, almarhum Abojiku adalah blasteran Jerman dan Korea. Kuputuskan untuk tinggal di Munich agar aku bisa memulai karir sepak bola di Jerman. Madame naik pitam. Ia bahkan mengultimatum kalau ia tidak akan menampungku lagi jika aku akan tetap ingin main sepak bola. Aku tak mengindahkannya.

Jalanku memang agak berat karena walaupun aku memiliki Aboji blasteran Jerman tapi aku tetap warga Korea, dan Korea sendiri masih belum begitu maju dalam sepak bola.

Namun usaha dan kerja kerasku tidak sia-sia, dua tahun kemudian aku bermain untuk liga divisi dua di Liga Jerman. Dan setahun kemudian aku pindah ke divisi satu dan main untuk Augsburg. Lalu sejak itu aku terus bermain untuk Liga Jerman, juga pernah melalang Prancis  sebelum kembali ke Jerman.

Pada usiaku ke dua puluh tujuh aku kembali ke Korea untuk menyelesaikan wajib militerku. Setelah itu aku kembali lagi ke Jerman. Sambil bermain untuk Hamburg, aku mengambil sekolah kepelatihan. Aku harus mulai memikirkan masa depanku setelah karir sebagai pemainku habis.

Keputusanku tepat karena setelah aku memutuskan berhenti di saat karirku bersinar, aku mendapat kepercayaan melatih di klub kecil sampai akhirnya menjadi asisten timnas Jerman U-21.

Beberapa minggu yang lalu, aku dihubungi pemilik klub. Ia telah membeli sebuah klub sepak bola dan ingin aku membentuk sebuah tim. Ia rela mengucurkan dana tak terbatas untuk mewujudkan impiannya menjadi kampium musim mendatang. Klub ini hampir bangkrut sebelumnya.

Bagiku ini adalah tantangan.

Dan aku kembali.

Seoul.

Namun kembalinya aku membuat Madame mulai merengek-rengek agar aku mau segera menikah. Paling tidak aku bersedia menemui beberapa calon yang dipilihnya. Ia menyodorkan beberapa foto yang bahkan tak pernah kulirik. Sehingga akhirnya aku menyetujui untuk mengikuti acara perjodohan karena bujukan si jambul Don Juan.

Ini memalukan sebenarnya…

Aku Cha Seungwon, aku bisa saja menikah saat ini juga dengan yeoja mana pun. Aku mungkin hanya perlu menunjuk salah satu yeoja dan bilang, hei kamu, ayo kita menikah dan mereka akan menjawab, I will.

Ahk, kacau!

Makan malam ini membosankan seperti biasanya. Tanpa kata-kata yang berarti, aku dan pasanganku hanya menikmati makan malam dalam hening.

Sama saja dengan perselingkuhanku dengan yeoja-yeoja lain. Tidak ada kata-kata. Aku butuh, kau butuh, lalu yah, terjadilah.

“Kau suka makanannya?” tanyaku pada pasanganku.

Ne, gumapseumnida.”

Aku mendehem.

Selalu seperti ini, basa-basi yang tidak perlu. Membosankan….

“Uhm Tae Wong ssi, aku sama sekali tidak tertarik padamu. Aku hanya bosan dikejar-kejar oleh Eomma dengan pertanyaan kapan aku akan menikah?”

Kudengar suara seorang yeoja yang duduk di belakangku.

Aku tersenyum samar. Rupanya yeoja juga mengalaminya. Keingintahuanku membuatku melirik ke cermin besar di hadapanku, tepat di dinding di belakang Park Ha Sun duduk. Bayangan seorang yeoja dengan rambut coklat sedikit berombak diikat ekor kuda dengan tulang bahu sejajar, duduk membelakangiku, di hadapannya duduk seorang namja tampan yang memiliki mata sayu dan berhidung mancung. Aku bisa melihat wajah namjanya dengan jelas dari cermin.

Arasseo Lee Chaerin ssi. Aku juga sedang dikejar oleh orang tuaku. Kau tenanglah dulu. Dengarkan aku.”

“Aku tidak mau menikah.” tukas yeoja itu.

Aku masih mengawasi dari cermin. Aku masih belum bisa melihat wajah yeoja itu. Ia memakai atasan sutra berwarna putih dengan hiasan manik di bahunya.

“Aku juga malas mengikuti segala kencan yang diatur orang tuaku. Kau juga pastinya.”

Ne, ini benar-benar membuang tenaga dan waktuku padahal aku ada janji dengan klien tadinya.”

Wah, yeoja ini sombong juga. Kalau aku jadi namja itu, akan kutinggalkan dia begitu saja.

Aku tetap menyimak percakapan mereka karena Park Ha Sun, pasanganku tampaknya sedang menikmati makan malamnya tanpa mau diusik dengan percakapan ringan.

“Kita buat kesepakatan. Akan kukatakan pada orang tuaku kalau aku cocok denganmu.”

Andwae!”

“Kita tidak perlu berkencan dengan orang lain lagi. Aku juga sudah muak dengan semua ini.”

Yeoja itu diam,nampaknya sedang memikirkan usul dari namja tampan itu.

“Kalau mereka memaksa kita menikah, otthokhe?”

“Kita ulur waktu, bila sampai terdesak, kita baru katakan kita tidak cocok. Bagaimana? Kau tidak perlu membuang energi dan waktu untuk bertemu namja lain lagi.”

Hm… Boleh juga caranya itu!

Kulirik Park Ha Sun yang sedang memotong steak di piringnya sambil kubayangkan wajahnya jika aku mengusulkan hal itu. Aku bergidik. Rasanya tidak semua yeoja mau menerima ide namja di belakangku.

Kualihkan pandanganku kembali ke cermin. Entah mengapa aku ingin mendengar jawaban yeoja yang wajahnya masih belum terlihat. Aku mulai menggambar wajahnya dalam imajinasiku.

Namja tampan yang bernama Uhm Tae Wong itu usia mungkin sekitar tiga puluhan, mengusulkan kesepakatan kencan dengan seorang yeoja karena muak dengan kencan yang diatur orang tuanya. Jadi, yeoja di depannya menerima atau tidak?

Entah mengapa aku merasa jantungku berdegup kencang menunggu jawaban dari yeoja ini seolah aku adalah namja di depannya.

Othe?”

Yeoja itu menghembuskan nafasnya.

“Kau tidak suka makanan di sini?” tanyaku pada Park Ha Sun.

Ne, aku setuju.”

Ani. Aku suka.”

***

Lee Chaerin POV

Uhm Tae Wong mengulurkan tangannya menjabat tanganku sebagai tanda kesepakatan kami.

Tak lupa ia tersenyum memamerkan giginya yang rapi.

Gumapseumnida, partner.” tukasnya padaku.

“Kau bukan partnerku.” balasku sengit membuatnya terkekeh.

“Kalau aku bertemu dengan yeoja yang pantas kujadikan istri….”

“Kesepakatan kita batal.” jawabku cepat. Aku juga tak berharap kesepakatan kami bertahan untuk waktu yang lama. Eommaku pasti akan mendesakku untuk menikah.

“Senang mengenalmu, Lee Byeonsa…”

Aku tertawa.

“Kau tahu…. Mungkin aku bisa menyukaimu jika diberi kesempatan tidak bertemu di situasi seperti ini.” guraunya.

“Maksudmu kau ingin kesepakatan ini berlangsung selamanya? Kau gila!”

Aku berdiri.

“Aku hanya bercanda, mengapa kau mau pergi?” tanya Uhm Tae Wong merasa bersalah.

“Aku mau ke toilet. Kau kira aku begitu gampang tersinggung. Permisi.”

Aku lalu meninggalkan Uhm Tae Wong. Aku masih menyaksikan ia memamerkan senyum menawannya.

Jebal, mengapa aku kebal dengan senyum itu ya? Padahal meskipun senyumnya Nampak sinis tapi ia benar-benar menawan.

Kulewati meja di mana duduk seorang namja dan yeoja. Si namja nampak tenang menikmati segelas anggur dan yeojanya dengan gaya elegan sedang memotong steak di piringnya.

Aku sempat mencuri pandang melalui cermin itu, si namja memiliki wajah yang unik. Matanya tajam laksana elang, alisnya lebat sampai menyatu membentuk garis, hidungnya mancung seperti pahatan pematung Yunani, bibirnya tampak cemberut dihiasi kumis tipis yang sedikit berantakan. Dan rambutnya…Ehem… Aku menyukai rambutnya. Rambut hitam legam dan tebal, tersisir rapi ke belakang. Argh!

Deg!

Si namja mengangkat kepalanya. Menatap lurus pada suatu titik di depannya.

Ah, dia pasti menatap yeoja di depannya. Dalam satu detik, aku bisa menjabarkan yeoja di depannya cantik tanpa cela. Wajahnya seperti peri dalam negeri dongeng, kulit wajahnya putih bersinar, gerak-geriknya anggun tanpa cela. Ya, singkat kata, luar biasa. Pasangan yang serasi.

Kelihatannya mereka memang pasangan kekasih yang menikmati makan malam romantis. Sungguh pasangan yang tenang, berbeda dengan aku dan Uhm Tae Wong.

Sesampainya di toilet, kulihat bayanganku di cermin. Bayangan seorang yeoja berusia tiga puluh tahun, sukses dan tanpa pacar.

Aku tidak kuatir. Eomma yang kuatir.

Aku akan jadi perawan tua, katanya. Padahal aku juga tidak ingin menikah. Buat apa?

Karirku bagus, pernikahan hanya menghalangi pekerjaanku. Hehe.

Aku meringis.

Eomma, Eomma, padahal Eomma sudah punya cucu dari Jeehoon, uri saeng yang lebih muda dua tahun dariku. Seorang cucu laki-laki yang gagah seperti almarhum uri Appa.

Huft!

Mungkin bagi Eomma mengurus satu cucu masih kurang. Ia masih punya banyak waktu lebih untuk mengurus cucu lainnya. Ya, harusnya ia mengutarakan itu pada Jeehoon. Uri saeng itu berprofesi sebagai pilot dan istrinya Shin Sekyung, seorang pramugari salah satu perusahaan penerbangan terbesar di Korea, jadi anak tunggalnya yang kebanyakan ditinggal, dititipkan pada Eomma.

Harusnya aku juga lebih tegas menjelaskan keenggananku untuk berkeluarga kepada Eomma daripada aku harus terus menerus mengikuti perjodohan seperti ini. Memusingkan dan memuakkan.

Tapi untunglah sekarang ada Uhm Tae Wong. Paling tidak ia mengerti situasi dan kondisi kami dan membuat kesepakatan pacaran. Aku akan aman untuk beberapa bulan ke depan. Sekarang aku bisa fokus pada pekerjaanku.

Kutepuk pipiku berkali-kali di wajah lalu tersenyum melihat pantulanku di cermin membayangkan wajah Eomma yang bahagia jika kukatakan aku dan Uhm Tae Wong saling cocok. Eomma pasti akan menyebarkan berita ini kepada para tetangga.

Huft!

Untunglah… Aku tidak tinggal bersama Eomma lagi sejak saeng pilotku menikah. Aku tinggal di apartemen sendirian. I’m free yeoja.

Kurapikan kemeja sutra dan rok pensil selututku sebelum kutinggalkan toilet, kembali ke mejaku.

Aku melewati meja pasangan itu lagi. Meja yang betul-betul sepi dari suara. Entah mengapa aku curiga kalau mereka bisa mencuri dengar pembicaraan tentang kesepakatanku dan Uhm Tae Wong dari meja mereka.

Huft!

Si namja tanpa kuduga mengangkat kepalanya, menoleh padaku. Matanya tajam seperti menusuk ke jantungku. Apa ini? Bibirnya cemberut sehingga kumisnya yang tampak berantakan seperti membentuk sudut.

Bibirku tertarik membentuk seulas senyum.

Aku tidak mengerti mengapa aku melakukannya. Aku bahkan tidak kenal siapa namja ini.

Omoni!

Ini benar-benar memalukan. Ia bahkan tidak membalas senyumanku.

***

Cha Seungwon POV

Ia tersenyum padaku?

Jeongmalyo?

Kutarik bibirku membentuk senyum menggoda. Tapi….

Ia sudah berlalu.

Hanya wangi parfumnya khas antara aroma jahe dan jeruk mandarin tertinggal di indera penciumanku.

Jahe memang melambangkan sesuatu yang panas kan? Seperti yeoja itu yang kuyakini meski penampilannya nampak kaku dengan atasan putih dan rok lurus di bawah lutut, aku yakin, ia panas di dalam.

Aigo!

Apa yang sedang kupikirkan?

Bagaimana aku bisa sampai berpikir demikian? Sepertinya aku perlu berolah raga lebih sering. Beberapa hari ini karena mengurus kepindahahanku, aku lupa menggunakan fasilitas hotel untuk berolah raga. Aku mulai berpikir, yeoja mana yang harus kutelepon setelah kencan ini berakhir. Apa aku masih punya kenalan yeoja di Korea?

Oh, apa aku masih harus mengantar yeoja ini pulang? Ah, semoga saja tidak.

“Uhm Tae Wong ssi…”

“Sebaiknya kau mulai belajar memanggilku Oppa.”

Tak kusangka, aku masih juga menguping. Meskipun suara musik lembut dari restoran ini seolah-olah berusaha mencegahku melakukan perbuatan ini.

“Jangan terlalu memaksa, Uhm Tae Wong ssi, aku sama sekali tak terbiasa dengan panggilan seperti itu.” jawab yeoja itu. Aku menyembunyikan senyum. Entah mengapa aku merasa menang dan aku sendiri tidak mengerti aku menang dari siapa.

“Terserah padamu. Tapi itu berguna untuk kesepakatan kita.”

Dia bohong.

Dia sedang merayumu, Schöne Dame (Pretty Woman)

“Akan kucoba.”

Shiro!

Kukepalkan tangan kiriku yang berada di bawah meja. Sementara pikiranku sedang bergumul, meminta telingaku untuk tidak mendengarkan percakapan mereka lagi.

Oppa.”

Ye?”

Gumapseumnida atas makan malamnya.”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Sebenarnya aku mengerti kalau aku tampak membosankan.” tukas Park Ha Sun sambil tersenyum.

Ye?” Aku kebingungan dengan apa yang dikatakannya.

“Aku tahu kau terpaksa kencan denganku. Ya, paling tidak kau yang paling jujur. Biasanya di setiap pertemuan seperti ini, para namja demi menyenangkan orang tuanya akan pura-pura tertarik padaku. Tapi kau tidak.” tukas Park Ha Sun jujur.

“Kau tahu Park Ha Sun ssi, jika kita tidak bertemu dalam situasi seperti ini, kita mungkin akan bisa jadi pasangan.”

Terdengar suara cekikikan di belakangku. Yang jelas bukan suara namja. Apa ia sedang menertawakanku?

Pabo!

Ia mendengar percakapanku. Kata-kataku yang kucontek dari namja yang bersamanya.

Omoni!

Semoga ia bukan menertawakanku.

“Uhm Tae Wong ssi, aku ada janji. Aku pergi dulu.”

Si namja tertegun.

“Aku bayar bagianku sendiri.” tukas si yeoja. Khas wanita karir yang selalu berpikir kalau di setiap kencan harus bayar masing-masing. Argh!

“Tidak perlu, Lee Chaerin Byeonsa. Siapkan saja kartu kreditmu di kencan yang akan datang karena aku akan memilih tempat yang lebih bagus dari ini.”

Arasseo!” jawab  itu menganggupi.

Ternyata Park Ha Sun juga berdiri. Sebagai namja yang pernah tinggal lama di Eropa aku terbiasa dengan kebiasaan berlaku gentle kepada yeoja. Aku ikut bangkit.

Gumapseumnida. Jal isseoyo.”

“Kuantar?”

Park Ha Sun tersenyum sopan sambil mengibaskan tangannya.

“Tidak perlu. Gumapseumnida.”

Lagi-lagi penuh basa-basi. Hm… Tapi aku bersyukur karena terbebas dari kewajiban untuk mengantarkannya.

Park Ha Sun melangkah meninggalkanku. Aku langsung meminta pelayan mengambil tagihanku.

“Kau sudah tahu nomor ponselku?” tanya namja di belakangku.

“Kurasa Eomma tahu.”

“Ponselmu?”

Ye?”

“Kemarikan ponselmu.”

“Nih…”

Kulirik dari cermin, si namja sedang memencet ponsel yang diserahkan Schöne Dame. Mungkin ia sedang memasukkan nomor ponselnya di ponsel milik Schöne Dame . Lalu namja itu mengembalikan ponsel itu padanya.

Pelayan mendatangi mejaku dan aku menandatangani slip kartu kredit namun indera pendengaranku masih menguping pembicaraan mereka. Pelayan itu memgucapkan terima kasih ketika aku memberikan tip padanya. Tapi aku masih belum mau beranjak dari tempat itu.

“Nomor satu?”

Andwae! Mengapa harus nomor satu?” protes Schöne Dame.

“Ingat! Sekarang aku orang nomor satu bagimu.” jawab namja itu sambil tersenyum.

Aku mulai was-was kalau senyum itu bisa melemahkan hati Schöne Dame.

Dwaesso, aku tidak ingin ribut denganmu.”

Schöne Dame itu berdiri, namja juga ikut berdiri.

“Permisi Uhm Tae Wong, aku masih ada janji.”

“Janji? Maksudmu kencan? Wow, dalam satu malam!”

“Uhm Tae Wong ssi, aku rasa itu bukan urusanmu!”

Aku tersenyum sinis. Benar-benar semaunya yeoja ini.

Ia menjinjing tas kerjanya yang tampak berat di bahunya.

Jal isseyo.”

Namja itu mengangguk dan Schöne Dame  itu pun melangkah meninggalkan restoran mewah ini.

Aku berdiri mengabaikan otakku yang memerintahkan aku tetap tenang, kuikuti kata hatiku untuk mengikuti Schöne Dame  itu.

Apa yang kulakukan dengan mengikutinya?

Apa saja? Ajak saja dia kenalan, berikan nomor ponsel, ajak dia kencan, apa pun itu. Jangan sampai ia lepas!

Setidaknya aku bersyukur kalau letak restoran mewah ini di lantai dasar sebuah hotel ternama, jadi aku tidak perlu menunggu lift atau menuruni tangga.

Di luar gedung, aku melihat sosok Schöne Dame  itu. Hujan gerimis di luar. Ia tampak ragu berjalan. Kelihatannya ia tidak membawa payung atau jas hujan.

Otthokhe?

Kulepaskan jaket kulit asliku buatan tangan penjahit dari Itali tanpa ragu. Ini akan cukup melindungi kepalanya. Aku melangkah mendekatinya.

Kulihat ia menarik nafas lalu tersenyum sendiri dan mulai melangkah dalam gerimis, sama sekali tak peduli dengan tatanan rambutnya yang akan rusak oleh hujan, juga riasan wajahnya yang akan luntur. Ah, baru kusadari, wajahnya tanpa riasan, selain bibir merah basah itu, itu memakai lip balm atau alami?

Kupakai kembali jaket kulitku, mengikutinya. Rambutku sudah mulai basah oleh gerimis. Tapi sungguh aku menikmati setiap kegembiraan yang terpancar di wajahnya.

Sungguhkah ia begitu menyukai hujan? Raut wajahnya memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Ia menikmati setiap tetesan air yang jatuh di wajahnya, tangannya. Ia bahkan melangkah dengan pelan. Sungguh kontras dengan orang-orang di sekitarnya yang berlari-lari karena takut kebasahan.

Kurapatkan jaketku, hujan ini berteman dengan angin malam yang dingin namun aku tetap kukuh untuk mengikutinya dan menjaga jarak amanku dengannya. Aku penasaran dengan apa yang akan dilakukannya setelah ini.

I remember noticing you

No one knew that I was looking at you

Kept a disguise, for fear inside

you didn’t feel it too

Couldn’t tell you what it was you did

Your presence made a standing still in time

Taken by your stare, I said a prayer

Someday you’ll be mine

Well someone was watching, someone was listening

someone answered me

Now that I found you I can’t live without you

Baby, oh baby

Chorus:

I’m always dreaming of you

You’re on my mind, everywhere I go

And baby don’t you know

Just what my world’s been going through

I try to stop my thoughts, but that would be a lie

And I can’t deny it’s true

I’m always dreaming of you

Nothing seems to matter anymore

Everyone I meet is not you (no one compares to you)

Life’s not the same

I don’t complain, now that love feels true

Well someone was watching, someone was listening

someone answered me

Now that I found you I can’t live without you

Baby, oh baby

chorus

I’m always dreaming of you

You’re on my mind, everywhere I go

And baby don’t you know

Just what my world’s been going through

I try to stop my thoughts, but that would be a lie

And I can’t deny it’s true

I’m always dreaming of you

I’m always dreaming of you

I’m always dreaming of you

I’m always dreaming of you

***

Cha Seung Won POV

Hujan telah berhenti, Schöne Dame  itu berhenti di depan sebuah rumah bergaya tradisional, hanok. Ia mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah sebelum mengetuk pintu. Aku memperhatikannya dalam jarak yang tidak begitu dekat.

Eomma.”

Seorang bocah laki-laki yang berusia kira-kira lima tahun membuka pintu dan langsung disambut oleh pelukan Schöne Dame. Schöne Dame  itu tersenyum. Kelihatannya ia sangat bahagia.

Eomma?

Eomma!

Eomma

Ia punya anak!

Oh shiro!

Aku terhenyak, mundur beberapa langkah sampai bersandar ke tembok pagar rumah.

Schöne Dame  memiliki anak!

Kenyataan ini menghantamku, ketertarikanku padanya dimulai bahkan sebelum aku melihat wajahnya namun sekarang kenyataan ia memiliki seorang anak menghantam diriku.

Aku mengantukkan kepalaku beberapa kali ke tembok.

Menyerahlah Seungwon. Kadang-kadang kenyataan tak seindah harapan.

Kurapatkan jaket kulitku kembali dan memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Kutarik nafas, menoleh sekali lagi pada Schöne Dame  yang sedang berbicara pelan dengan bocah laki-lakinya.

Auf wiedersehen, Schöne Dame… (Selamat tinggal, Wanita Cantik)

Aku pun melangkah meninggalkan tempat itu tanpa menunggu lebih lama lagi.

Lee Chaerin POV

Eomma.

Kupeluk anak laki-laki yang berdiri menyambutku di depan pintu rumah Eomma. Untunglah hujannya sudah berhenti.

Eomma basah!”

Aku tertawa. Salahmu Seungyu. Siapa suruh kau menyambutku sementara keadaanku basah begini? Namja tampan ini selalu membuatku ingin pulang ke rumah Eomma meskipun setiap pulang, aku selalu dibrondong pertanyaan tentang namja chingu oleh Eomma.

“Aku bukan Eommamu. Panggil aku Gomo.” bisikku di telinga bocah tampan itu sambil menggelitik lehernya.

Seungyu terkekeh geli.

“Seungyu suka memanggil Gomo dengan Eomma.”

Ne, Gomo mau tanya mengapa Seungyu suka memanggil Gomo, Eomma?” tanyaku sambil membelai rambutnya yang hitam persis saengku.

Seungyu menghela nafas persis gaya saengku Jeehoon.

“Kalau Gomo Seungyu panggil Eomma kan berarti Gomo punya anak dan Gomo ngak perlu mendengar Haramoni mengoceh soal namja chingu kepada Gomo.”

Aku tertawa mendengar penjelasan bocah imut ini. Kupeluk dia.

Eomma.

Ini benar-benar sudah dalam tahap menguatirkan. Bahkan bocah usia empat tahun saja bisa menguatirkan pembicaraan Eomma. Aku harus menghentikan ini agar Seungyu tidak berpikir yang bukan-bukan.

“Seungyu, nugu?” tanya Eomma dari dalam membuatku sadar kalau kami masih berada di luar.

Eomma, Haramoni.” jawab Seungyu sambil mengandeng tanganku masukke rumah. Eomma melihat kedatanganku dan tersenyum kecut pada Seungyu.

Gomo bukan Eomma. Eommamu sedang bertugas. Dan mengapa kalian berdua bisa basah seperti itu?”

Eomma mulai mengomel tapi ia tetap menyiapkan handuk kering untukku dan membantu Seungyu berganti pakaian.

“Bagaimana kencanmu?” tanya Eomma tanpa menunggu lebih lama lagi. Aku hanya mengangguk.

“Apa maksud anggukanmu?”

“Maksudku, kami cocok.” jawabku pendek.

“Lee Chaerin, bicara yang jelas. Usiamu tidak muda lagi.”

Eomma mulai lagi. Aku menghela nafas, merasa lelah.

Eomma sudahlah, biarkan Noona memiliki hidupnya sendiri.”

Aku tersenyum mendengar suara itu. Uri saeng yang paling tampan muncul.

Appa.”

Anyeong little pilot! Apa kau nakal hari ini?” tanya Jeehoon sambil memeluk Seungyu dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Seungyu cekikikan.

“Lebih tinggi lagi, Appa.” sorak Seungyu semangat.

“Di mana Sekyung?” tanyaku ketika Jeehoon menurunkan Seungyu.

“Jadwal kami tidak sama. Besok baru ia tiba.”

“Oh.”

“Kau kehujanan Noona?” tanya adik kesayanganku ini.

“Ia pasti lupa membawa payung. Selalu lupa, lupa ini, lupa itu, lupa berteman, lupa berkencan dan lupa usia.”

That’s it!

Pembicaraan tahap kedua.

Dwaesso Eomma.”

“Jeehoon jangan membela Noonamu. Sebentar lagi ia akan jadi perawan tua dan semua tetangga akan menertawakan aku.”

Eomma,”

Eomma. Aku tidak yakin kalau Noona terlahir sebagai perawan tua. Noona hanya belum bertemu dengan pasangannya. Kalau pun Noona tidak menemukannya, itu bukan salah Noona. Salahkan para namja yang tidak bisa melihat kelebihannya.” tukas Jeehoon.

Kutatap adikku dengan sejuta perasaan namun Jeehoon menatap lurus pada Eomma dan tidak menatapku. Aku ingin memeluknya dan mengucapkan terima kasih.

“Kau dan Appamu selalu saja membelanya. Makanya ia jadi manja.” omel Eomma jengkel.

Jeehoon mengedipkan sebelah matanya padaku. Kubalas dengan senyuman samar.

Lalu Eomma menggandeng tangan Seungyu.

“Ucapkan selamat malam pada Appa dan Gomo, lalu kita pergi tidur.”

Seungyu mendengarkannya.

“Selamat malam Appa, Gomo.”

“Selamat malam Seungyu ah..”

Aku mencium pipi bocah tampan itu.

Gumawo, Jeehoon ah.”

Jeehoon tersenyum, senyum yang manis, mirip senyum Appa. Menurut Eomma senyum inilah yang meruntuhkan hati Eomma. Jeehoon memang mirip Appa, sedangkan aku mirip Eomma. Aku tidak cantik, tidak anggun, cerewet dan perfeksionis persis Eomma. Bedanya Eomma beruntung menemukan namja yang mencintai dan aku tidak!

“Jangan pedulikan ucapan Eomma, Noona. Ini hidupmu, berbahagialah.” ucap Jeehoon sambil menepuk bahuku. Aku tersenyum.

***

Cha Seung Won POV

Aku berjalan dengan langkah gontai sambil memikirkan kebodohanku. Aku mengejar bayangan Schöne Dame  lalu aku dikecewakan. Aku berharap terlalu banyak.

Ne, paling tidak aku belum sempat mengajaknya kenalan atau memberikan nomor ponselku kepadanya.

Raut wajah cantik yang menipu.

Sebagian besar namja selalu tertipu oleh wajah, penampilan luar. Ketika memutuskan untuk memulai suatu hubungan, namja awalnya melihat wajah, lalu ketika pernikahan sudah berjalan sepuluh tahun ke atas, ketika kecantikan sudah memudar, maka perasaan juga hilang dengan sendirinya. Itu sebabnya ada perselingkuhan.

Aku bukannya tidak percaya pada cinta. Melihat usia perkawinan Madame dengan Prof. Yoon, ayah tiriku setelah Madame ditinggal mati Aboji dan selama bertahun-tahun aku melihat betapa Prof. Yoon mencintai Madame dan menganggapku seperti anaknya sendiri, mau tak mau aku percaya akan adanya cinta.

Hajiman,

Aku tak percaya kalau aku bisa menemukannya. Apalagi usiaku tidak muda lagi.

Aku tidak butuh hubungan. Aku hanya perlu selingan.

Dwaesso, aku akan tolak kalau Madame memperlihatkan foto-foto yeoja lagi. Sudah cukup yang kulakukan untuknya. Aku tidak bisa bersikap manis pada yeoja-yeoja golongan atas putri kenalan Madame. Aku bahkan tak bisa mengingat salah satu wajah mereka jika aku bertemu kembali dengan mereka secara tak sengaja di jalan. Huh!

Tenang Seungwon.

Setiap orang tua yang memiliki anak di atas usia pernikahan tapi belum menikah pasti akan bersikap seperti Madame. Bukankah tadi kau juga mendengar Schöne Dame juga mengalami hal itu?

Schöne Dame?

Dia mengalami hal itu?

Omoni!

Aku berhenti melangkah, kubuka simpul syal coklat yang terlalu erat mengikat leherku sehingga aku merasa seperti dicekik.

Dia juga dipaksa mengikuti perjodohan.

Aku mengerutkan keningku sambil memegangi daguku yang kasar.

Dia punya anak laki-laki, buat apa ia mengikuti perjodohan?

Kusentuh keningku dan memijat-mijat kepalaku yang tiba-tiba pusing.

Kesepakatan itu. Sial!

Bukankah mereka sepakat untuk pura-pura pacaran? Dumme menschen!

Cha Seungwon dumme menshen!

Aku berbalik, berlari kencang menuju rumah itu kembali. Kuharap masih memiliki kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh.

Tunggu aku Schöne Dame.

Jangan sampai kau menghilang dari hadapanku sebelum kita berkenalan.

***

Lee Chae Rin POV

Jal isseoyo Jeehoon.”

Kulambaikan tanganku tanpa menoleh kepada Jeehoon.

“Hati-hati Noona!”

Aku tidak juga menoleh hanya mengangkat tanganku tinggi-tinggi dan melambai.

Noona… Somewhere there’s someone who dreams of your smile!” teriaknya.

Aku tertawa dan mengangguk, menyukai perkataan Jeehoon namun juga tidak yakin akan kebenarannya. Sudah bertahun-tahun lamanya aku membuang keinginanku untuk berkeluarga, aku bukannya trauma, hanya merasa pesimis aku akan menemukan namja yang bisa kucintai. Kalau ia tidak sesuai harapanku maka semuanya akan sia-sia. Itu sebabnya banyak perselingkuhan dalam pernikahan kan? Sebagai pengacara, aku tahu persis kalau  persentase pasangan yang bercerai karena perselingkuhan itu jumlahnya cukup signifikan.

Tapi Jeehoon dan Sekyung berbeda. Mereka berdua bagai yin dan yang saling melengkapi. Kadang-kadang dalam seminggu karena ketatnya jadwal penerbangan, mereka hanya sempat bertemu satu hari tapi itu sama sekali tidak mengurangi cinta mereka.

Itu karena Sekyung adalah type yeoja yang bisa dicintai. Berbeda denganku. Aku perfeksionis yang bisa menjadi musuh namja. Waktu kuliah di jurusan hukum, para namja tidak menyukaiku yang frontal. Ketika magang di kantor pengacara, aku juga tidak disukai karena sifat bossyku. Di sidang para lawan membenciku karena aku tak kenal kompromi.

Huft!

Bicara soal pekerjaan, rasanya aku bisa bernafas lega. Aku akan pindah kantor. Sebelumnya aku adalah tim pengacara seorang pebisnis Jerman tapi sekarang ia ingin aku menjadi pengacara sebuah klub yang baru saja dibelinya. Hanya ada aku. Bukan dalam sebuah tim pengacara lagi.

Ini benar-benar merupakan kebanggaan tersendiri bagiku.

Aku tersenyum puas sebelum berbelok di persimpangan jalan, berharap dapat menyetop taksi di sana. Apakah masih ada taksi yang lewat pada jam segini.

Tak apa!

Aku bisa berjalan sampai di apartemenku. Bukankah aku sering berjalan setiap pagi dari apartemen sampai ke kantor, itu sebabnya aku enggan membeli mobil. Aku suka berjalan sambil berpikir tentang kasusku. Kadang-kadang berjalan kaki membuatku berpikir lebih baik. Dan aku selalu menyiapkan sneakerku kapan saja di tasku. Terkecuali hari ini. Sneaker kutinggalkan di apartemen karena kupikir malam ini aku tidak membutuhkannya karena ada janji kencan. Mana mungkin aku kencan dengan memakai sepatu sneaker?

Tap tap tap!

Suara langkah kaki berlari mendekatiku.

Sial!

Mengapa aku ketakutan dengan suara langkah kaki itu mendekatiku?

Aku harus lekas meninggalkan tempat ini. Segera! Palli!

Sial! Sepatuku! Aku butuh sneaker!

Tap tap tap!

Makin dekat!

Sekarang aku dapat melihat sosok samar itu.

Tinggi, sangar dan tampan.

Dia…

Namja di restoran itu.

Mendekati tempatku berdiri. Matanya tertuju padaku. Dan aku tak bisa bergerak. Dihipnotis oleh tajamnya matanya.

Ia makin dekat!

Otthokhe?

Kakiku lemas.

Cha Seungwon POV

Dia di sana, di stasiun bus. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada dia. Dan ia menyadari kehadiranku. Aku tahu itu. Aku bisa membaca hatinya terpampang di matanya.

Kami saling mengenal meskipun kami belum pernah bertemu sebelumnya.

Aku berlari makin mendekat.

Tap tap tap!

Suara sepatu kulit asliku bersuara.

Ia masih membeku menatapku ketika aku sampai di hadapannya.

Wie geht es dir!”

BUKK!!!

Tas yang dijinjing di bahunya terjatuh. Tapi tak ia hiraukan.

Lalu kutarik ia dalam pelukanku dan kuraih bibirnya dengan bibirku. Rasanya sudah terlalu lama aku menunggu saat ini. Bahwa seluruh hidupku selama tiga puluh lima tahun, aku selalu menantikan momen ini.

Schöne Dame  juga membalas ciumanku. Panas! Ia begitu panas. Dan ia siap untukku.

Ia berjinjit agar bisa sejajar denganku. Tangannya bertumpu di bahuku. Tanganku melingkar di pinggangnya yang ramping.

Lidahku menerobos masuk ke mulutnya, merasakan setiap mili di dalamnya. Ia begitu manis, begitu pas denganku. Ia membuatku menyala, terbakar di setiap tarikan nafasku. Aku tahu ia kehabisan nafas karena tindakanku karena aku juga sama, keberadaannya saja telah menghirup seluruh oksigen di sekitar kami. Dan aku menginginkannya.

Sekarang juga!

Cha Seungwon POV

Bukan hotel bintang lima, tapi inilah yang terdekat. Tergesa-gesa kugandeng tangannya. Kurasakan tangannya gemetar dalam genggamanku.

“Dingin?” bisikku.

Ia menggeleng.

Sabarlah… Sebentar lagi aku akan membuatmu terbakar.

Lift pertama datang, kami melewatkannya karena penuh.

Lift kedua terbuka, tidak begitu penuh. Aku menoleh pada Schöne Dame. Ia juga sedang menatapku dengan ragu.

Aku mulai cemas, apakah ia akan mundur sekarang.

Pintu lift tertutup. Kini kami menunggu lift yang ketiga.

Aku berharap liftnya benar-benar kosong, lift hanya milik kami berdua.

Lift ketiga tiba dan benar-benar kosong. Kubimbing lengan Schöne Dame  masuk. Bukan membimbing, aku menariknya masuk. Sejak kapan aku menjadi tidak sabaran?

Begitu pintu lift tertutup, kurapatkan tubuhku kepadanya.

“Kameranya.” bisiknya dengan suara rendah sambil menunjuk kamera di belakangku. Suara rendahnya itu begitu seksi kedengarannya. Dan tampaknya bukan hanya aku yang seang menahan diri.

Ne, aku baru sadar bahwa aku hampir saja melupakannya dan mengajaknya bercinta di sini. Pabo!

Kudaratkan kecupan ringan di bibirnya sebagai gantinya padahal aku benar-benar sudah tidak sabar menahan hasratku yang terpendam sejak di restoran.

“Lantai berapa?” tanyaku seperti orang linglung. Ia merogoh saku jaketku.

“Delapan belas.” jawabnya ketika menemukan kunci kamar. Aku menekan angka delapan belas.

***

Lee Chaerin POV

Ketika namja tampan itu membuka pintu kamar dengan kunci magnetis, perasaanku tidak karuan. Aku gentar. Aku takut. Tapi aku juga penasaran dan hanya mengikuti kata hatiku. Aku tidak ingin mundur sekarang dan aku tidak sudi.

Namja ini bukanlah pria penyabar, bahkan sebelum pintu otomatis tertutup, ia sudah menarikku dalam pelukannya. Tubuhnya panas, sepertinya aku akan terbakar bersamanya.

Bibirnya menyusuri bibirku dan menggodaku. Kumisnya yang berantakan menggesek kulit wajahku. Aku harus menengadah agar bisa sejajar dengannya. Aroma bergamot memenuhi aroma penciumanku. Aku menyukai aroma ini, begitu maskulin.

Yeppo…” bisiknya di telingaku sambil membuka kancing kemejaku dengan tidak sabar. Suaranya khas, suara rendah menahan hasrat.

Ia berhasil membuka kancing kemeja terakhirku dan matanya tertuju ke dadaku yang tertutup bra hitam. Aku malu dengan tatapannya. Aku tahu dadanya memiliki ukuran yang kebih oenuh dibandingkan dengan yeoja lain, itu sebabnya aku selalu memakai pakaian yang lebih besar dari ukuranku.

Kubalikkan tubuhku membelakanginya. Tapi ia menahanku.

Waeyo?”

“Aku…”

Ia memegangi daguku dan mencium bibirku dengan ganas. Tangannya melingkar di punggungku dan mulai membuka kaitan bra hitamku. Tanpa banyak kesulitan braku terlepas dan ia menarik braku hingga lepas. Lalu bibirnya meluncur ke leherku, menggesekkan kumisnya di kulitku dan mengigitnya hingga meninggalkan bekas ciuman.

Tanganku bergerak membuka resleting jaketnya. Ia pasti akan terbakar jika tidak segera melepasnya. Jaketnya terlepas. Ia membuka simpul syal di lehernya sambil terus mencium leherku.

“Kau manis sekali…” bisiknya dengan suara rendah yang seksi.

“Kau juga.” balasku. Ia tertawa sambil mengangkat kepalanya.

“Tidak ada yang berani mengatakan aku manis.” jawabnya. Bibirnya tampak cemberut. Ia selalu kelihatan menarik dengan bibir seperti itu. Aku menciumnya dengan ringan.

“Kau mau membantuku melepaskan bajuku?” tanyanya di antara ciuman. Nafasnya memburu.

“Ah ne. Dengan senang hati.” jawabku riang sambil melucuti kemejanya. Ketika kemejanya terlepas, tubuhnya terekspos dan ia… benar-benar sangat mempesona. Mataku tak bisa lepas dari tubuhnya. Dadanya penuh, perutnya rata dan ototnya terbentuk six pack. Ada tatto di lengan kanannya berbentuk malaikat kecil. He is wonderful.

“Kau suka?” bisiknya di telingaku, sangat menggoda.

“Ne, aku suka.”

I’m yours…” godanya lagi. Lalu ia melepaskan celananya, aku hanya memperhatikannya, ia tanpa canggung melepaskan pakaiannya tanpa sisa. Dan aku benar-benar tercengang melihatnya dalam keadaan begitu. Ia masih memiliki tatto di belakang pinggul dan pergelangan kaki kirinya berbentuk matahari atau semacam itu.

Ia menarikku mendekat ke tubuh polosnya. Dadaku yang telanjang bersentuhan dengan kulitnya. Aku memberinya kecupan ringan. Tangannya bergerak melepaskan rok pensilku. Rok itu jatuh ke bawah kakiku. Ah, aku mulai berdenyut pada bagian inti.

Jamkanman…”

Ia berlutut di hadapanku, bibirnya menyapu perutku dan mengigitnya. Ah, untung saja, aku gemar berolah raga jadi perutku rata, padahal usiaku sudah tiga puluh.

Tangan kasar namja itu mulai menurunkan stockingku dengan pelan dan mencium bagian-bagian yang terlepas dari stocking.

Lalu ia menurunkan underwearku, sekarang aku benar-benar polos.

Namja itu menggendongku ke tempat tidur sambil memangut bibirku.

“Apa kau tampan sejak kecil?” tanyaku sambil memainkan rambutnya. Ia tersenyum kecil. Senyumnya itu tetap membuat bibirnya seperti sedang cemberut.

Ne, aku tampan sejak kecil.” bisiknya dengan nada percaya diri sambil membuka kuncir rambutku. Sekarang rambutku tergerai lepas begitu saja. Lalu ia merebahkan tubuhku di tempat tidur. Aku mendesah pelan ketika ia mulai mencium leherku, lalu pelan-pelan turun lebih ke bawah.

“Ehm…” desahnya sambil mengangkat kepalanya menatapku dengan tatapan sayu.

Mian… Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi.”

Tangan kekarnya membelai wajahku dengan lembut. Lalu ia menyatukan tubuhnya denganku, sedikit tergesa-gesa namun tetap lembut. Aku melenguh. Apa ia akan tahu? Aku ketakutan…

Ia berhenti.

Menatapku ngeri…

Otthokhe?

Cha Seungwon POV

Blut?

Noda darah?

Oh!

Wie?

Kutatap matanya. Schöne Dame  juga sedang menatapku. Tangannya mencengkram lenganku.

Terlambat untuk berhenti kan sekarang?

Aku menyeringai. Dan ia tersenyum padaku ketika aku melanjutkan pekerjaanku.

***

Aku terbangun ketika sinar matahari menerobos tirai jendela yang tidak tertutup sempurna. Kubuka mata perlahan.

Odinte?

Ini bukan kamarku.

Argh!

Kuangkat kepalaku dengan paksa. Melihat sekelilingku.

Hotel! Ini kamar hotel!

Schöne Dame?

Odinte?

Aku bangkit dari tempat tidur, mencari sosok yeoja yang bercinta semalaman denganku. Di mana dia?

Schöne Dame…” panggilku pelan sambil berjalan ke kamar mandi. Kubuka pintunya. Kosong.

Schöne Dame…”

Ia tidak ada di sini?

Benarkan ia bersamaku kemarin malam?

Kuacak rambutku sambil menghela nafas.

Kami bahkan belum berkenalan secara resmi meskipun aku sudah tahu namanya dan pekerjaannya.

Tidak ada tanda kalau ia berada di sini semalaman selain bekas ciumannya di tubuhku dan harum wangi jahe bercampur jeruk mandarin yang melengkat di tubuhku.

Dengan marah kuambil pakaianku yang berserakan di lantai dan menuju kamar mandi.

Aku akan menemukanmu Schöne Dame. Lee Chae Rin Byeonsa. Bagaimana pun caranya.

***

Cha Seung Won POV

Yeobseoyo!”

“Kau sudah baca proposalnya?” tanya Kim Minjong, sahabat dan orang yang akan menjandi asistenku di klub yang akan kulatih.

“Ani. Aku hanya mau memintamu mencari seseorang.”

“Lupakan. Cari detektif saja.”

“Kim Minjong!”

Minjong terkekeh di telepon.

Yeoja?”

Ne.”

Gwenchana? Kau terlibat sampai suaminya menuntutmu?”

Yaa, kau mau mati?”

“Kau namja brengsek, Cha Seungwon. Aku asistenmu bukan pembantumu. Sebaiknya kau segera menikahi salah satu pilihan Nyonya Song supaya kau tidak menyusahkanku lagi.”

“Kau sama brengseknya, itu sebabnya kau berteman denganku!” desisku. Ia tertawa.

Semasa di kamp militer, siapa yang tidak tahu kebengalan kami.

“Apa yang terjadi?” tanyanya lunak. Aku mendehem.

“Lee Chaerin. Ia pengacara. Tolong cari tahu tentang dia.”

Kim Minjong terbatuk-batuk. Kukira pasti ia sedang tak sehat.

Gwenchana?”

Yaa, Cha Seungwon brengsek! Saranku, kau baca dulu proposal itu sebelum meneleponku.”

Lalu ia membanting teleponnya.

Yeobseoyo…”

Sial!

Akan kupotong feenya bulan ini, umpatku di dalam hati sambil meletakkan gagang telepon ke tempatnya.

Proposal.

Apalagi? Bukankah aku sudah menulis dengan jelas siapa yang akan kubuang dan siapa yang akan bertahan? Bahkan aku sudah membuat rencana pembelian. Menyebalkan!

Baiklah! Akan kubaca, kalau itu menyenangkan hati si Brengsek Kim. Biar ia mau membantuku mencari pengacara itu.

Kubuka lembar pertama.

Mengapa Kim Minjong harus mempersulit diriku dengan membaca berlembar-lembar kertas sialan ini?

Bla bla bla…

Kartu nama itu distaples di atas lembar pertama. Kubaca dan aku menganga, bengong.

Lee Chae Rin Byeonsa. Pengacara tim Paradise.

***

Lee Chae Rin POV

“Lee Byeonsa, ada yang ingin menemuimu.”

Saat ini aku sedang naik ke kursi dan membereskan berkas-berkas di lemari paling atas karena besok aku akan pindah kantor. Aku sama sekali tak menoleh pada  asistenku tim pengacara.

“Aku sibuk dan tidak bisa menerima tamu.” jawabku dingin. Aku tidak suka diganggu bila sedang sibuk.

Asisten itu mendehem. Ada yang tidak beres.

Aku menoleh  dan mataku terpaku pada sosok raksasa di belakangnya.

Namja berambut rapi, bertampang sangat yang paling tampan yang pernah kulihat.

Mian Noona, Tuan ini memaksa untuk menemuimu.” tukas asisten  itu serba salah.

Aku mengangguk.

Kamsahamnida. Kau boleh tinggalkan kami.” tukasku. Ia mengangguk dan meninggalkan kami. Tak lupa ia menutup pintu ruanganku.

Nonna, aku akan pulang, jangan lupa mengunci pintu kantor ya jika kau sudah selesai.” pesannya. Aku hanya bisa mengangguk karena perhatianku tertuju pada namja itu.

“Ah, cukkhae atas pengangkatan dirimu sebagai pengacara klub sepak bola, Noona.” tukas asisten itu sebelum menutup pintu. Dan lagi-lagi kubalas dengan anggukan karena aku masih terpaku menatap namja tampan yang menjadi tamuku itu.

Namja itu mendekatiku.

“Kau mau terus berdiri di atas, Lee Byeonsa?” tanyanya dengan suara khasnya sambil mengulurkan tangannya membantuku menuruni kursi.

“Oh.. Eh..”

Tanganku gemetar menyambutnya. Pipiku memerah membayangkan kejadian malam itu di hotel. Bagaimana percintaan semalam itu terjadi sekali dalam seumur hidupku? Aku bahkan tidak membayangkan kami akan bertemu lagi.

Otthokhe?

Wie geht es Ihnen, Lee Byeonsa (Apa kabar)?” tanyanya begitu aku turun dari kursi. Sekarang tangannya melingkar di pinggangku.

Neo...”

Tanpa aba-aba ia langsung menunduk mencium bibirku. Ia masih panas seperti sebelumnya.

Advertisements

30 thoughts on “KICK OFF : The Special One

  1. akh,,,aq seenang!!!!ini mengobati rinduku pada gadis fivety prcent,,,dan our familly,,,,hahhhhh,,,,aq merindukan kalian,,,admin CS,,sexy sekyung,bella,chelsea lee,,

  2. Akhirnya Baca Juga ^^

    Waaaahh, Special One Bner-Bner Menarik dan Romantis ^^ Ada Sdkit Unsur Yadongnya 😀 Untung Nae Udah 20 thn. :p

    Lucu Pas Cha Nguping Percakapan Chaerin 😀 orang nya Kepo Nih *CSW :p *

    Apa lg Pas Bagian Ngikutin Chaerin Sampe Rumah, Pas Ponakannya Manggil EOMMA ke Chaerin, Si Cha Sampe Mkir Keras Gitu dan Jedotin (?) Palanya Berkali-Kali, Koccak Bngetd 😀

    DAEBBAK UNNIE ^^

    SUKSES yah, Untuk Smua Epepnya ^^

    Gomawo 🙂

  3. Annyeong eoni…. mian baru komen….
    ga tau msti komen apa ceritanya bnr2 bagus…. CSW baru ktmu udah lngsung cium2 aja aduwh… kayanya mrk sama2 cinta pd pdngn prtma.. smg hbngn mrk bisa lnjt mnrt aku mrka psngn yang serasi….
    good job bwt CS eonni…..

  4. aduuuh parah nich CSW n’ chaerin baru ketemu dah bikin geraah apalagi pertemuan selanjutnya bisa” kebakaraan

    siapin air takut ikut kebakar
    hehehe

  5. chapter enceh ternyata. suka permainan kata author yang intinya cinta itu nggak butuh banyak kata, kayak seungwon sama chaerin yang langsung melakukan ‘itu’ padahal nggak ada dialog khusus.

    1. I called it, love at the first sight.

      Cha Seungwon type frontal seperti Chelsea bilang. Hahaha.

      Tak perlu banyak dialog untuk menggambarkan dia.

      Kamsahamnida sudah baca ff kami.

      Tetap ikuti ya.

  6. Hallo author.
    Panas sekali adegan disini. Saya dapat membayangkan situasi ketika mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing2, dan itu sangat menarik. Tidak banyak dialog yang terjadi tapi kesan yang ditinggalkan setiap tokoh sangat kuat.

    1. Tadinya ff ini sembunyi terus di wattpad. Ngak ada ide buat lanjut. Hehehe. Tiba-tiba diajak nulis bareng dan ide-ide bermunculan dengan sendirinya.

      Kamsahamnida buat the Exclusive karena mengajak saya bergabung dan memberi saya banyak saran.

      Kamsahamnida Khinatsu yang selalu membaca tulisan saya baik di page, wattpad dan di blog.

  7. Wusshhhh… saya butuh blower wkwkwk…

    Well, gak tahu harus comment apaan, Eonni hehe…
    Kisah cinta yang kalo saya boleh katakan aneh bin ajaib.. hehe.. Baru ketemuan di resto, sma2 kencan yang diatur ma mami-mami mereka..

    Love at first sight, sama2 tertarik tanpa saling kenal dlu and langsung ja nih hahaha.. secara gak langsung mereka dah punya hubungan tuh, hehe.. Berharap gak cuma one night stand doank hehe *yadong*

    Ok, Eonni lanjut… ^^

    LOVE

  8. Kyaaa CSW mau cukur jambul Doojun, andwae!
    akan kucukur kumisnya 😉

    It’s nice….
    bener2 fokus ke personal affair 😉

    palli the next.
    ga sabar sama kehidupan klub.

    seperti kata nana, LCR tipe yeoja zaman sekarang 😉 yg kadang menakutkan di mata namja. tapi CSW lebih menakutkan #plak

    NC? Wihihi justru yg gak ekpilist gini yg lebih berasa.
    meskipun cast cocoknya frontal 😉

  9. Wow..speechless
    Ga tau mesti komen apa…suka bgt sm part ini,bukan hanya krn scene NC nya tp keseluruhan ceritanya menarik bgt dan bikin sport jantung.
    scene NC nya jg ga berlebihan tp buatku itu sangat romantis..

    Jadi penasaran gmn kelanjutan hubungan Lee byeonsa dan Coach CSW
    Kisah cinta Yg unik…

    kajja d lanjut eonn…

  10. woow,,kipas mana kipas#tarik Hoya oppa buat kipasin

    eonni,, aku suka NC yg kyak gni,,ktimbang yg neko2 tpi gak jelas,,

    kkkkkkkkkk
    😀

    permulaan yg panas,,ckck

    #curi obat kuat dri Dj oppa

    :p

  11. W.O.W Bener2 ea Seung won hot2 summer baru k’temu udh cium2 aje mana d’jlan lg #ckckckck pasangan sulit d’mengerti 😀 aneh’y Chae rin uga mau. apakah jatuh cinta pandangan pertama(?)

    Bener2 completed cerita’y s’akan2 qt merasakan’y. Apalg pas bagian d’halte trus d’ajak k’hotel yaa ampun “one more night”…

    Tp koq gak da TBC’y nya, i2 yg mengganggu 😀

  12. Eothokke .. Eothokke??
    Ada adegan NC.nya .. #wueh ..

    God job eonni, NCnya gk terlalu vulgar buat usiaku(?) ..

    Like this dah ..

  13. Annyeonghaseyo CS Onnie,

    LCR wanita jaman sekarang banget deh, tiga puluh tahun, sukses, tapi tanpa pacar. Biasanya yang yang kayak begitu gara-gara wanitanya udah merasa mampu tanpa pria hahahaha

    CSW itu lagi blind date sempet aja nguping pembicaraan orang lain hehehehehehe

    Dan… Kenapa part ini begitu ‘hot’? Baru kenal itu… Aduh… Aduh… Aduh… Ambil kipas hahahahahaha

    Apa yang kira-kira bakal terjadi sama CSW dan LCR selanjutnya? Apalagi ternyata mereka kerja di tempat yang sama hehehehehe penasaran tingkat dewa :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s