Untitled

IMG_20130417_172125

Title : Untitle [One Shot]

Author : ingridhea

Cast :

• Song Joo Hee a.k.a Alice  [Hello Venus]

• Kim Himchan [B.A.P]

• Jung Daehyun [B.A.P]

Genre : Sad

This fiction was already posted on the other fanbase with different casts. Happy reading!^^

~ ~ ~ ~ ~

* Joohee pov *

Aku menangis lagi di sini, sendiri. Entah apa yang membawaku untuk berada di tempat ini setelah hampir 4 tahun kulupakan. Gedung yang sama, ruangan yang sama dan semuanya yang nyaris belum ada perubahan kecuali warna terang cat-nya. Aku berdiri di tengah-tengah sebuah taman. Ya, taman yang penuh kenangan. Taman di mana aku bertemu sekaligus berpisah dengan dia.

Dia? Siapa dia?

Dia adalah orang yang sudah merubah hidup dan cara pikirku. Dia yang selalu bisa membuatku semangat untuk berangkat sekolah setiap hari. Dia yang selalu mencoba untuk tetap tersenyum, meski dia tahu bahwa jalan yang dia tempuh sangat singkat. Bahkan terlalu singkat untuk anak seusianya, dulu.

Sekarang, aku sudah 20 tahun. Namun, kenangan itu tak pernah mau menghilang dari ingatanku. Aku masih ingat dengan jelas apa yang dia nyatakan padaku waktu itu.

“Kau mau jadi kekasihku?” Wajah yang polos menatap mataku, yakin. Dia mengatakan hal itu dengan malu-malu.

Aku mengangguk setuju. Dan selanjutnya banyak kejutan-kejutan yang terjadi dalam hidupku. Dia adalah warna putih yang kucari setelah sekian lama aku selalu merasa bahwa hidupku adalah gelap.

Sejak Appa memilih untuk tinggal bersama seorang Ahjuma hingga rela untuk menyakiti Eomma. Sejak saat itu, aku selalu merasa kesepian.

Lagi-lagi, aku teringat dengan apa yang dia katakan padaku di kantin Art School ini.

“Lebih baik seperti ini, mereka berpisah demi kebaikan kalian. Dari pada setiap hari harus melihat pertengkaran yang tak sepantasnya untukmu. Ara?” Dia menyentuh tanganku di depan teman-temanku. Aku tersenyum.

Aku memang selalu merasa nyaman berada dekat dengan dia. Bahkan, banyak teman dari kami yang mengatakan bahwa aku dan dia adalah titisan dari Hera dan Zeus yang sesungguhnya.

Tapi mereka tidak pernah tahu, bahwa aku pernah bertengkar hebat dengan dia.

Mianhae, tadi aku harus pergi ke Rumah Sakit dulu.” Alasannya.

“Bohong! Memangnya siapa yang sedang sakit? Aku lelah menunggumu terlalu lama di sini. Aku mau pulang saja.”

Tanpa memberi kesempatan dia untuk bicara, aku langsung pergi meninggalkan dia sendirian di sana.

Dan hampir 2 minggu pertengkaran kami bertahan hanya karena masalah sepele. Waktu.

Pernah dia meminta maaf, tapi aku mengabaikannya.

Suatu hari, dua orang temannya menemuiku. Masih dengan seragam sekolah yang kupakai saat aku duduk di taman ini usai jam pelajaran.

“Apa ini?” tanyaku menerima sepucuk surat yang diberikan salah satu dari mereka.

“Baca saja, dia bilang itu untukmu,” jawab yang salah seorang lagi. Lalu mereka pergi.

Aku langsung membuka amplop berwarna pink itu.

‘Mianhae, karena tidak menemuimu untuk beberapa hari ini, aku memang salah sudah terlambat waktu itu. Sampai membuatmu marah, tapi aku tidak pernah berniat untuk sengaja melakukannya.

Aku menyayangimu. Jika nanti aku harus pergi, kumohon agar kau selalu merasa bahwa aku ada di sampingmu. Karena aku benar-benar sangat menyayangimu. Lusa, kita bertemu di taman sekolah.’

Kim Himchan.’

Aku tidak mengerti apa yang dia maksud dengan kata-kata, “aku harus pergi.” Sampai saat lusa aku menemuinya.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Kita berpisah, ya. Mulai sekarang kita jalani masing-masing yang memang harus kita jalani. Terima kasih, karena kau sudah membuatku merasa berbeda dengan aku yang dulu. Aku tidak akan pernah melupakanmu, Joohee,” tutupnya.

Aku tidak berkomentar apapun. Bahkan hanya sekedar untuk mengatakan, “iya” atau “tidak”. Ataupun menanyakan sebabnya. Yang kutahu, aku sudah kehilangan bagian terpenting dalam hidupku.

Dia yang selalu bilang kalau aku pasti bisa menghadapi hidup ini. Dia yang selalu bilang kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan, dia yang selalu bilang bahwa aku adalah yang teristimewa.

Aku kembali menikmati masa kesepianku. Aku tidak pernah bertemu dengan dia lagi sejak dia memilih untuk meninggalkanku.

Dia keluar dari sekolah.

Aku tidak tahu jalan seperti apa yang Tuhan pilihkan untukku. Yang jelas, aku benar-benar seutuhnya kehilangan dia. Himchan.

Dan, pada 13 hari setelah kepergiannya. Tiba-tiba orang tua Himchan menemuiku di rumah.

Mianhae, karena sudah merepotkanmu,” ucap beliau saat menawariku untuk ikut mereka ke sebuah Rumah Sakit. Aku menyetujuinya.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Aigoo! Apakah itu dia? Apa dia Himchan-ku yang dulu?

Aku nyaris tidak mengenalinya. Ternyata Rumah Sakit ini yang menyembunyikan Himchan dariku.

Dia terbaring tak berdaya di ranjang dengan selang-selang infuse yang menancap dibeberapa bagian tubuhnya. Kini, Himchan sangat kurus. Dia koma.

“Himchan sakit apa, Ahjumma?” tanyaku yang tidak berani menatap wajah beliau.

“Kanker… Kanker paru-paru, Joohee-ya.” Mata Ahjumma memerah.

“Tapi Himchan tidak pernah cerita pada saya,” kali ini aku melihat ke arah beliau.

“Tidak ada yang tahu tentang penyakitnya. Kecuali keluarga kami. Himchan terlahir berbeda dengan anak-anak yang lain. Dengan kondisi kesehatan seperti itu, dia tahu jika hidupnya adalah percuma. Dia melakukan hal apapun yang dilarang Dokter untukknya. Termasuk merokok.”

Ahjumma berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Tapi saat bertemu denganmu, Himchan menjadi anak yang manis. Penurut dan mudah tersenyum. Setiap hari, dia menceritakanmu kepada Ahjumma. Himchan sangat menyayangimu, Joohee. Dia takut membuatmu marah dan dia benci melihatmu menangis.”

Tes…

Air mata beliau jatuh, begitu juga aku.

Aku langsung tahu alasannya kenapa Himchan mengakhiri hubungan kami.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Sejak hari itu aku jadi sering mengunjungi Rumah Sakit. Meski Himchan tidak mengetahuinya, tapi aku yakin dia mendengar apa yang kubicarakan padanya. Kata Dokter, berkomunikasi adalah salah satu cara untuk tetap membuat Himchan merasa hidup dalam koma.

Sejam, sehari, seminggu, sampai sebulan berlalu, akhirnya takdir menentukan. Kematian mengambil Himchan dariku.

Aku menangis saat upacara pemakaman dilakukan. Tidak pernah menyangka jika dia akan pergi secepat ini. Hujan gerimis waktu itu mengingatkanku pada sebuah senyum yang menghiasi hari-hariku.

Aku harus merelakan Himchan pergi untuk selamanya. Memang dia tidak akan pernah kembali lagi untukku, tapi aku akan selalu merasakan kehadirannya di sampingku. Seperti yang dia minta dalam tulisan suratnya dulu.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Joohee?” panggil seseorang.

Aku langsung menyeka airmataku dengan tangan. Berharap dia tidak tahu.

“Ini…” Orang itu memberikan sapu tangannya untukku.

Gomawo,” aku menerimanya.

“Satu jam lagi acara dimulai. Kita harus pergi sekarang.”

Dia memberitahuku. Ya, inilah aku. Aku yang sudah 20 tahun. Dan, dia adalah Daehyun. Jung Daehyun, calon tunanganku. Dia mengantarku ke taman sekolahan ini karena aku yang memintanya, untuk yang terakhir kali.

Daehyun namja yang baik. Dia mengerti masa lalu cinta pertamaku dan dia mau memahaminya. Daehyun mengijinkanku untuk terus mengingat Himchan.

Ada masa di mana aku bisa terbang tinggi setinggi-tingginya. Itu adalah saat indah ketika aku bersama Himchan dulu.

Dan ada kalanya aku jatuh ke dalam jurang yang dalam sedalam-dalamnya. Itu adalah saat aku menyadari bahwa hidup ini masih harus tetap berjalan meski tanpa Himchan.

Untuk saat ini dan entah sampai kapanpun, aku hanya akan memikirkan Daehyun. Dan melihat kenyataan bahwa Daehyun-lah yang selalu ada di sampingku dalam situasi apapun.

Terima kasih atas cinta yang luar biasa yang dulu pernah kau berikan untukku. Kim Himchan.

[The End]

Advertisements

12 thoughts on “Untitled

  1. Hiks hiks hiks kenapa ath smua ff yg aq baca smua’y sad dan nguras airmata 😦

    Terkadang qt perlu sekali2 menengok k’belakang karna tanpa qt sadari bahwa akan da orang yg lebih menyayangi qt #ehm ehm 😀

  2. Hari ini aku membaca dua ff nyesek. Ditambah postinganku sendiri jadilah malam galau. Ini ff kedua mu yang kubaca. Aku masih ingat komenku di ff pertama kalau kamu punya gaya sendiri. Ini buktinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s